ARIANI TRI WAHYUNI
KKM UIN Malang bersama Kelompok 70 dan 140 pada (22/01) mengunjungi Gunung Kawi, yang terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi ziarah yang sarat makna bagi banyak peziarah dari berbagai daerah. Di kawasan ini terdapat kompleks pesarean yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Eyang Jugo (Kyai Zakaria II) dan Raden Mas Iman Soedjono, dua tokoh yang dihormati karena peran mereka dalam penyebaran ajaran kebaikan dan perjuangan melawan penjajahan. "Eyang Jugo merupakan seorang ulama besar menurut pihak pesarean Gunung Kawi. Data autentik bahwa beliau adalah seorang ulama berupa padepokan yang saat ini digunakan sebagai tempat singgah oleh para pengunjung. Dusun Pijiombo merupakan salah satu dusun terlama yang ada di Desa Wonosari sejak sebelum merdeka dan Dusun Kampung Baru merupakan dusun terbaru". Tutur Pak Subur Retno. Pesarean Gunung Kawi bukan sekadar tempat bersejarah, tetapi juga menjadi simbol spiritualitas bagi masyarakat. Banyak peziarah datang dengan niat untuk mendoakan leluhur serta memohon ketenangan batin. Kehadiran pesarean ini mencerminkan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh para tokoh yang dimakamkan di sana, seperti ketulusan, kejujuran, dan perjuangan untuk kebaikan. Ziarah ke Pesarean Gunung Kawi sering dilakukan oleh mereka yang ingin mendapatkan inspirasi spiritual, refleksi diri, serta ketenangan hati. Banyak pengunjung yang membawa serta keluarga untuk berdoa dan menghormati sejarah yang tertanam di tempat ini. Di area pesarean, pengunjung dapat mengikuti berbagai kegiatan yang bernuansa religius, seperti tahlil, doa bersama, dan pembacaan ayat suci. Selain itu, banyak yang datang untuk menimba hikmah dari kisah-kisah perjuangan Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soedjono. Setiap tanggal tertentu, seperti malam Jumat Legi, kawasan ini menjadi lebih ramai oleh para peziarah yang datang dengan niat suci. Selain nilai spiritualnya, Gunung Kawi juga menawarkan keindahan alam yang menenangkan. Dengan udara yang sejuk dan suasana yang asri, peziarah dapat merasakan kedamaian yang jarang ditemui di perkotaan. Kawasan ini juga memiliki berbagai fasilitas pendukung seperti penginapan, rumah makan, dan area peristirahatan bagi para pengunjung. Dengan nilai sejarah, spiritualitas, dan keindahan alamnya, Pesarean Gunung Kawi tetap menjadi destinasi ziarah yang bermakna bagi masyarakat. Tempat ini mengajarkan bahwa perjalanan spiritual dapat dilakukan dengan hati yang tulus dan niat yang baik, serta menjadi pengingat akan pentingnya menghormati leluhur dan sejarah yang telah membentuk kehidupan kita saat ini. Kenyataannya tidak ada hal-hal seperti pesugihan di Desa ini karena mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. link kompasiana: https://www.kompasiana.com/ariani6871/679cb1cfed6415411d694892/pesarean-gunung-kawi-destinasi-ziarah-penuh-sejarah-dan-spiritualitas
NURPUAN AULIA EKA JULIANTY
Wonosari, 22 Januari 2025 – Upaya mencegah pernikahan dini terus dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui seminar bertajuk "Mimpi Dulu, Nikah Nanti" yang diadakan di SMPN Wonosari. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memberikan pemahaman kepada siswa kelas 9 tentang pentingnya pendidikan dan kesiapan diri sejak dini sebelum memutuskan untuk menikah Seminar ini menghadirkan Kak Lia, Duta Pelajar Kreatif 2024, sebagai pemateri utama. Dengan pengalaman dan dedikasinya dalam bidang pendidikan serta pengembangan remaja, Kak Lia memberikan materi yang menggugah tentang pentingnya meraih mimpi dan memprioritaskan pendidikan sebelum menikah. Acara ini dimoderatori oleh Kak Zahra, mahasiswa KKM UIN Malang, yang turut membangun suasana diskusi yang interaktif dan menyenangkan. Dalam paparannya, Kak Lia menekankan bahwa pernikahan dini sering kali menjadi penghalang bagi remaja untuk mewujudkan potensi terbaik mereka. “Setiap dari kalian memiliki mimpi besar. Jangan biarkan keputusan terburu-buru seperti pernikahan dini menghalangi kalian untuk meraihnya. Pendidikan adalah kunci utama untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik,” ujar Kak Lia dengan semangat. Seminar ini juga diisi dengan sesi diskusi interaktif, di mana siswa diberikan kesempatan untuk bertanya dan berbagi pendapat. Dari 210 peserta yang hadir, tiga siswa berani mengajukan pertanyaan menarik, seperti cara membagi fokus antara pendidikan dan persiapan hidup mandiri, hingga pandangan tentang pernikahan usia matang. Sebagai apresiasi, mereka masing-masing mendapatkan hadiah dari panitia.Salah satu siswa yang bertanya, Bima, mengatakan bahwa seminar ini membuka wawasannya tentang pentingnya memiliki visi hidup. “Saya jadi lebih paham kenapa pendidikan itu penting. Saya ingin fokus belajar dulu sebelum memikirkan menikah,” ujarnya. Kepala SMPN Wonosari, Moh. Munif, S.Pd.,M.M.Pd, menyambut baik kegiatan ini. “Kami sangat berterima kasih kepada pemateri dan mahasiswa KKM UIN Malang yang telah menyelenggarakan acara ini. Edukasi seperti ini sangat penting untuk menanamkan pola pikir yang sehat kepada siswa,” tuturnya. Melalui seminar ini, diharapkan siswa SMPN Wonosari dapat memahami pentingnya mempersiapkan masa depan dengan baik, meraih mimpi mereka terlebih dahulu, dan memprioritaskan pendidikan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Link Kompasiana: https://www.kompasiana.com/kkm62066/679f973ded6415068120d5d3/mencegah-pernikahan-dini-seminar-mimpi-dulu-nikah-nanti-di-smpn-wonosari
FARADILLA NAIMATUS SHOLEKHA
Mahasiswa-mahasiswi KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang "Gana Asfelic" membangun langkah bersama untuk menyapa kebahagiaan di Dusun Krajan, Desa Dengkol, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang telah melaksanakan kegiatan gotong royong membersiakan "Mbung Pelangi", pada Senin (23/12/2024). Keterlibatan Kuliah Kerja Mahasiswa kelompok 182 "Gana Asfelic" di kegiatan ini sangatlah diperlukan untuk mengembangkan wisata yang baru didirikan agar semakin dikenal oleh khalayak umum. Salah satu cara yang digunakan, yakni dengan melakukan gotong royong guna memperhatikan kebersihan lingkungan dan merawat fasilitas yang ada di taman "Mbung Pelangi". Mbung Pelangi merupakan tempat wisata berupa bendungan yang dibuat dengan tujuan untuk menampung air saat musim hujan dan akan digunakan saat musih kemarau tiba. Dengan pemandangan sawah dan pepohonan disekitarnya, tidak hanya itu disana juga terdapat kafe yang biasanya digunakan masyarakat untuk berkumpul dan duduk bersantai. Saat ini, Mbung Pelangi sedang dalam tahap proses pembangunan dengan membuat spot foto dan tambak ikan mujair yang terbuat dari bambu. Kegiatan gotong royong ini dilaksanakan sebagai bentuk menjalin kedekatan yang memberikan banyak manfaat, baik bagi anggota kelompok KKM maupun masyarakat sekitar Dusun Krajan. Dengan demikian, kegiatan ini diharap dapat mengingatkan masyarakat sekitar Dusun Krajan akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar dengan memanfaatkan sumber daya lingkungan yang ada. Penulis: Faradilla Nimatus Sholekha, Muhammad Jabbar Dzikrullah
KENNISA JANU ZAHRA
Pada hari Senin, tanggal 23 Desember 2024, Desa Ngadirejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, menjadi saksi dari pelaksanaan acara kesenian tradisional Bantengan yang bertujuan untuk melestarikan budaya lokal dan mempererat hubungan sosial antarwarga. Acara ini dimulai pada pukul 21.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 03.00 WIB, dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga setempat yang menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pertunjukan ini. Kesenian Bantengan merupakan warisan budaya yang kaya akan sejarah dan makna mendalam bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Malang. Dalam pertunjukan ini, seniman lokal menampilkan atraksi tradisional yang menggambarkan keberanian, spiritualitas, dan harmoni antara manusia dan alam. Setiap atraksi diiringi oleh musik tradisional gamelan yang semakin memperkuat suasana sakral dan estetika pertunjukan.Kesenian Bantengan memiliki akar sejarah yang dalam, diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Singhasari. Pada masa itu, kesenian ini berfungsi religius dan digunakan dalam upacara-upacara tertentu serta ritual adat. Selama masa kolonial Belanda, kesenian ini mulai berkembang dengan adanya tokoh seperti Mbah Siran yang menciptakan topeng bantengan dari tanduk banteng. Kini, Bantengan telah menyebar luas ke berbagai daerah di Jawa Timur seperti Mojokerto, Malang, Batu, Lumajang, Kediri, dan Pasuruan. Pertunjukan Bantengan melibatkan dua orang pemain yang mengenakan kostum banteng besar lengkap dengan hiasan kepala tanduk. Mereka diiringi oleh kelompok musik tradisional yang memainkan alat-alat seperti kendang, gong, dan saron. Setiap pertunjukan biasanya diawali dengan ritual atau doa untuk memohon perlindungan dari roh jahat dan agar para pemain diberkati. Pementasan Bantengan terdiri dari tiga tahap utama: ritual nyuguh atau sandingan, pementasan (karak'an) hingga kesurupan (ndadi), dan nyuwuk yang merupakan proses memulangkan arwah leluhur ke tempat asalnya. Melalui tahapan-tahapan ini, penonton tidak hanya disuguhkan hiburan tetapi juga diajak untuk merenungkan makna yang terkandung dalam setiap gerakan dan lagu yang dinyanyikan. Kesenian Bantengan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya melestarikan warisan budaya. Dalam setiap pertunjukannya, Bantengan menyampaikan pesan moral tentang persatuan, keberanian, serta pengorbanan untuk kepentingan bersama.Acara ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Selain sebagai hiburan malam hari, kesenian Bantengan juga menjadi wadah bagi warga untuk berkumpul dan menjalin silaturahmi. Masyarakat merasa bangga dapat menyaksikan pertunjukan yang melibatkan unsur-unsur budaya mereka sendiri. Melalui kegiatan ini, generasi muda diajak untuk lebih mengenal dan menghargai budaya lokal mereka serta memahami pentingnya menjaga warisan tersebut agar tetap hidup di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.Dengan demikian, acara kesenian Bantengan di Desa Ngadirejo bukan hanya sekadar pertunjukan seni tetapi juga merupakan upaya kolektif masyarakat untuk menjaga identitas budaya mereka dan meneruskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang. Dokumentasi resmi dari kegiatan ini akan menjadi dasar dalam pelaporan kegiatan serta upaya pelestarian budaya di masa mendatang. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus dilaksanakan secara rutin agar kesenian tradisional seperti Bantengan tetap hidup dan berkembang dalam masyarakat serta dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.
SRI WULANDARI
Dalam rangka meningkatkan kesadaran dan pemahaman orang tua mengenai pentingnya pola asuh Islami dalam membentuk karakter anak, Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 113 Amurwabhumi UIN Malang di Desa Gunungrejo mengadakan Seminar Parenting berjudul "Membangun Karakter Anak Melalui Pola Asuh Islami". Seminar ini dilakukan dengan tujuan dapat menjadi wadah bagi para orang tua untuk mendapatkan wawasan dan strategi mendidik anak dengan nilai-nilai Islam. Seminar ini diadakan di MI Al Maarif 11 Gunungrejo dengan mengahadirkan sekitar 75 wali murid kelas 5 dan perwakilan wali murid seluruh kelas sebagai audiens. Kegiatan seminar ini juga mengundang pemateri, yaitu Bapak Benny Afwadzi M. Hum yang merupakan dosen UIN Malik Ibrahim Malang, dan di pandu Muhammad Nur Faqih Al Fauzani selaku moderator yang merupakan mahasiswa anggota KKM Desa Gunung Rejo. Bapak Benny menyampaikan materi mengenai pentingnya pola asuh Islami dalam membentuk karakter anak yang berakhlak mulia. Beliau juga menekankan bahwa pola asuh berbasis nilai-nilai Islam dapat membentuk anak yang mandiri, bertanggung jawab, dan berperilaku baik dalam kehidupan sehari-hari. Acara ini dilaksanakan pada hari Kamis, 23 Januari 2024 yang dimulai pukul 09.00 WIB dan selesai pada pukul 11.30 WIB. Saat acara berlangsung, wali murid sangat antusias dalam mendengarkan materi yang disampaikan. Selain itu, wali murid juga turut aktif berpatisipasi dalam sesi diskusi dan tanya jawab, membahas berbagai tantangan dalam mendidik anak di era modern ini. Aspek penting dari materi yang disampaikan adalah orang tua memiliki peran besar dalam mendidik dan membangun anak yang beriman dan berakhlak mulia. Pola asuh Islami menjadi kunci utama dalam membentuk karakter anak sejak dini. Islam juga telah mengatur dengan jelas bahwa orang tua berkewajiban dalam mendidik anak, baik dalam aspek spiritual, moral, maupun pendidikan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip yang diajarkan dalam Islam, orang tua dapat membimbing anak agar tumbuh menjadi individu yang berkarakter dan bermoral, serta memiliki bekal untuk menghadapi kehidupan dunia dan akhirat. Melalui seminar ini, diharapkan semoga dapat memberikan wawasan dan manfaat bagi para wali murid dalam mendidik anak-anak mereka sesuai dengan ajaran Islam.
ALI MURTADHO
Anggota kuliah kerja mahasiswa (KKM) kelompok 182 "Gana Asfelic", mengadakan lomba untuk anak-anak pada tanggal (31/12/2024) acara ini digelar di dusun Krajan, desa Dengkol, kecamatan Singosari, Malang, hal ini diupayakan untuk mengurangi anak-anak dalam bermain gadget, seperti game online. Kegiatan ini merupakan program kerja pertama dari kelompok KKM 182 "Gana Asfelic", acara dimulai dari pukul 08.30-11.00 WIB, acara dimulai dari pembacaan basmalah dan Al-fatihah kemudian dilanjutkan sambutan dari perangkat desa Dengkol seperti, kepala desa, sekretaris desa, dan kepala dusun Krajan. Ada kata-kata dari kepala desa Dengkol Agus Afandi yaitu "Tetap semangat dengan niat yang baik maka akan menghasilkan buah yang terbaik" Selanjutnya perlombaan dimulai dari lomba karet kemudian disusul dengan lomba balon, selanjutnya ada lomba memasukkan paku kedalam botol, anak-anak yang dijaring oleh kelompok KKM 182 yang berusia dari 5-10 tahun, untuk masing-masing lomba ada penanggung jawab yang telah dibagi. Yang bertugas membacakan peraturan lomba serta memberikan praktek bagaimana cara melakukan lomba-lomba tersebut. Pada masing-masing lomba nanti diberi 2 juara yaitu juara 1 dan 2, yang nantinya akan diberi hadiah oleh panitia lomba, setelah semua lomba memperoleh anak-anak juaranya kemudian acara ditutup dengan pemberian hadiah kepada sang juara, selanjutnya sesi foto bersama dengan semua panitia penyelenggara lomba, diharap dari digelarnya program kerja yang pertama ini kelompok KKM 182 dapat mempererat hubungan antara Anggota KKM dengan anak-anak juga dengan masyarakat setempat, juga diharapkan kehadiran anggota KKM 182 bisa memberi manfaat untuk dusun Krajan desa Dengkol.