JASIREHA AL MURSAHA
Acara ini diselenggarakan pada tanggal 18 Januari 2025, bekerja sama dengan Pemdes, BPD, LPMD, LINMAS, Babin Kamtibmas, Babinsa, dan Pokdarwis. Inisiator acara ini adalah Babinsa Poncokusumo, Bapak Aldio, yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan antar lembaga desa. Beliau mengajak Kelompok KKM 84 UIN Malang “Arkadia” untuk berpartisipasi dalam acara outbound ini, baik dalam menyumbangkan ide permainan maupun dalam menertibkan peserta. Cuaca pagi yang cerah sangat mendukung jalannya acara. Kegiatan pertama dimulai pada pukul 07.00 WIB yang diisi dengan jalan santai yang diikuti oleh semua peserta. Rute dimulai dari balai desa Poncokusumo menuju Ledok Ombo. Dengan penuh semangat, semua peserta ,mengikuti kegiatan ini dan sampai di Ledok Ombo dengan selamat. Bantuan dari kelompok posyandu juga berpartisipasi dalam pemeriksaan kesehatan tiap peserta. Anggota Pokdarwis dan tim KKM 84 UIN Malang bertindak sebagai pembawa acara dan menyajikan permainan yang seru, sehingga peserta semakin antusias untuk berkompetisi. Acara ini juga diisi oleh PPB dari LINMAS serta pembekalan ilmu bela diri dari Babinsa untuk LINMAS. Permainan yang diadakan disini melibatkan permainan kelompok, para peserta diinstruksikan untuk membuat kelompok dengan adil oleh POKDARWIS beserta ketua kelompok yang telah ditentukan. Permainan yang melibatkan kerja sama antar kelompok menciptakan suasana kekeluargaan di antara peserta. Salah satu permainan yang paling bermakna adalah membuat segitiga dari 12 stik yang disediakan. Setiap kelompok diberikan 12 stik dengan panjang yang sama dan diinstruksikan untuk membuat 6 segitiga sama sisi lalu membuat 5 segitiga dengan memindahkan hanya 2 stik dari segitiga yang telah dibuat dan seterusnya hingga menjadi hanya 2 segitiga yang tersisa. Meskipun tampak sederhana, permainan ini memerlukan pemikiran kritis dan kolaborasi dari setiap anggota kelompok. Di akhir acara outbound, diadakan pernyataan penutup oleh perwakilan Pokdarwis yang menjelaskan makna dari permainan terakhir. “Enam segitiga di awal merupakan gambaran segitiga kecil yang teratur, kemudian diubah dengan memindahkan dua stik, sehingga membentuk segitiga yang lebih sedikit jumlahnya. Dengan demikian, dihasilkan dua segitiga sama sisi yang besar, mencerminkan lembaga-lembaga desa dan masyarakat Poncokusumo yang bersatu. Segitiga di akhir menunjukkan bahwa semua ini bergabung membentuk pondasi yang kuat dan kokoh, tak tergoyahkan meski mengalami gangguan dari luar,” ungkap perwakilan Pokdarwis. “Proses memindahkan dua stik dengan kerja keras seluruh anggota menggambarkan bahwa perjalanan mencapai sesuatu lebih berharga daripada hasilnya. Pembangunan pondasi kekeluargaan antar lembaga dan masyarakat desa tidak dapat dicapai dalam semalam, melainkan melalui berbagai percobaan dan kegagalan yang menguatkan pondasi tersebut,” tambahnya. Acara ini juga menjadi kesempatan bagi lembaga-lembaga desa untuk menyuarakan pendapat mereka mengenai pelaksanaan outbound dan keberlanjutan acara ini kedepannya untuk menjaga kebersamaan dan tali persaudaraan. Semua lembaga merasa diuntungkan oleh acara ini, tidak hanya untuk mempererat hubungan, tetapi juga memberikan peluang bagi Pokdarwis untuk mempromosikan potensi wisata desa Poncokusumo, yang sebelumnya kurang mendapat perhatian dari pemerintah desa. Dengan dukungan dari perangkat desa, potensi ini dapat dipertimbangkan secara serius untuk menjadi daya tarik wisata yang kompetitif. Kehadiran KKM 84 UIN Malang membuat acara semakin meriah dengan permainan yang menyenangkan, di mana anggota KKN merasa diterima dengan hangat oleh masyarakat desa Poncokusumo. Sesuai dengan jargon Pokdarwis, “Datang sebagai tamu, pulang sebagai saudara. ” Harapan semua lembaga desa poncokusumo pada acara ini tetap berlanjut meski tanpa Kelompok KKN 84 UIN Malang dan bapak Aldio, Babinsa Poncokusumo yang bisa saja dipindah tugaskan ke desa lain.
TALITHA NAHDA AMILIA
Malang, 26 Januari 2025 - Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 184 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar sosialisasi parenting bersama wali murid KB At-Taqwa. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman orang tua tentang peran mereka dalam mendukung perkembangan anak di masa emas, yakni usia 0-12 tahun. Acara yang berlangsung di Balai Desa Langlang ini menghadirkan pemateri dari dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Malang, Ibu Ratna Nulinnaja, M.Pd.I. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa masa keemasan merupakan masa emas dalam perkembangan anak yang sangat mempengaruhi kecerdasan, emosi, dan kepribadian mereka di masa depan. Menurut Ibu Ratna, perkembangan otak anak pada usia 0-6 tahun mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Oleh karena itu, orang tua harus berperan aktif dalam menstimulasi anak melalui interaksi yang berkualitas. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan kasih sayang, mendukung eksplorasi anak, serta menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembangnya. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa masa keemasan terbagi dalam beberapa tahap perkembangan: • Masa Bayi (0-3 tahun): Anak mulai mengenali lingkungan sekitarnya, membutuhkan perhatian penuh dari orang tua, serta diberikan stimulasi sensorik dan motorik. • Masa Prasekolah (4-6 tahun): Anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir, daya ingat, dan interaksi sosial. • Masa Sekolah Dasar (7-12 tahun): Fokus utama pada pengembangan intelektual, kontrol emosi, dan kemandirian. Dalam sosialisasi ini, Ibu Ratna juga membagikan berbagai strategi bagi orang tua agar dapat mendukung perkembangan anak secara optimal. Beberapa di antaranya adalah: 1. Komunikasi yang Efektif - Orang tua perlu mendengarkan dan memahami kebutuhan anak serta membangun hubungan positif melalui komunikasi terbuka. 2. Edukasi dan Stimulasi - Menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan seperti membaca buku, bermain edukatif, serta mengajarkan disiplin dan tanggung jawab sejak dini. 3. Dukungan Emosional - Memberikan pujian yang tulus, mengajarkan anak mengelola emosi, serta menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang. 4. Pembatasan Teknologi - Membatasi penggunaan gawai dan lebih banyak melibatkan anak dalam aktivitas fisik maupun interaksi sosial langsung. 5. Menjadi Teladan - Orang tua harus menjadi contoh dalam menunjukkan nilai-nilai positif, seperti kejujuran, empati, dan kerja keras. Sosialisasi ini mendapat respon positif dari para wali murid yang hadir. Mereka mengapresiasi materi yang disampaikan serta berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk mendukung pendidikan dan perkembangan anak sejak usia dini. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan para orang tua dapat lebih memahami pentingnya peran mereka dalam membentuk karakter dan potensi anak sejak dini, sehingga dapat mencetak generasi yang cerdas, berakhlak, dan mandiri.
AZZA SHOFIA RAHMADA
Dusun Rekesan, yang terletak di Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, menyimpan keindahan alami yang memikat. Dikelilingi pesawahan hijau yang asri dan udara sejuk khas pedesaan, dusun ini menjadi tempat yang penuh kehangatan dan nilai-nilai kebersamaan. Pada tanggal 28 Januari 2025, warga bersama Mahasiswa kelompok KKM 176 bergotong royong mempersiapkan acara peringatan Isro' Mi'roj sekaligus "Gebyar Anak Sholeh." Acara ini tidak hanya menjadi momen spiritual untuk mengenang perjalanan agung Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi yang mempererat hubungan warga. Persiapan acara dilakukan dengan penuh semangat dan kekompakan. Dalam foto terlihat para ibu dan mahasiswi KKM 176 duduk melingkar di atas karpet, bekerja bersama melipat dan merakit kotak kardus untuk kebutuhan acara. Aktivitas sederhana ini memancarkan nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong yang kental. Tangan-tangan mereka yang cekatan dan senyuman yang menghiasi wajah mereka menjadi bukti nyata bahwa kerja sama dapat menciptakan suasana yang harmonis. Selama proses persiapan, keramahan warga Dusun Rekesan begitu terasa. Percakapan ringan yang diselingi canda tawa membuat suasana semakin akrab. Sementara itu, di sudut ruangan, nampan berisi teh hangat menjadi pelengkap sederhana namun bermakna. Nampan tersebut bukan hanya lambang perhatian, tetapi juga simbol kuatnya rasa peduli yang terus terjaga di antara masyarakat. Suasana seperti ini menunjukkan bahwa gotong royong tidak hanya soal menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga membangun kebersamaan yang menghangatkan hati. Acara peringatan Isro' Mi'roj ini menjadi puncak dari rangkaian kegiatan KKM di Dusun Rekesan. Selain menjadi momen refleksi spiritual, acara ini juga diramaikan dengan "Gebyar Anak Sholeh," di mana anak-anak dusun dengan penuh antusias mengikuti berbagai lomba yang telah disiapkan. Momen pengumuman pemenang lomba semakin menambah keceriaan, diiringi sorak-sorai dan tepuk tangan dari warga. Keterlibatan anak-anak dalam acara ini juga menjadi wujud nyata pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai keislaman. Kesuksesan acara ini tidak terlepas dari kerja keras warga dan mahasiswa KKM 176 yang bekerja sama dengan sepenuh hati. Semangat gotong royong yang mereka tunjukkan mencerminkan nilai-nilai luhur Islam, seperti persatuan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama. Semua dilakukan dengan penuh keikhlasan, tanpa pamrih, demi menciptakan keberkahan dan kebahagiaan bagi seluruh peserta acara. Dusun Rekesan memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah komunitas kecil mampu menunjukkan solidaritas yang besar. Kehidupan di dusun ini yang dipenuhi rasa kekeluargaan menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai persaudaraan dapat terus hidup dan berkembang. Acara peringatan Isro' Mi'roj dan penutupan kegiatan KKM ini bukan hanya meninggalkan kenangan indah, tetapi juga jejak spiritual dan sosial yang mendalam bagi semua yang terlibat. Semangat gotong royong yang terus dipelihara oleh warga Dusun Rekesan membuktikan bahwa kebersamaan adalah kunci utama dalam menciptakan harmoni, keberkahan, dan kesejahteraan bersama. Melalui acara seperti ini, nilai-nilai Ukhuwah Islamiyah dapat terus diwariskan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
UMMI NADIROH
Pada 15 Januari 2025, kegiatan rutin Posyandu Lansia dan Balita sukses digelar di Balai Dusun Drigu, Desa Poncokusomo. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB dan dihadiri oleh warga dengan antusias, termasuk ibu-ibu yang membawa anak-anak balitanya serta lansia yang memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan. Program posyandu bertujuan untuk mencegah masalah kesehatan sejak dini. Bagi balita, kegiatan ini menjadi sarana untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan mereka, sedangkan untuk lansia, posyandu berperan dalam menjaga kesehatan fisik dengan pemeriksaan rutin. Posyandu juga berfungsi sebagai tempat edukasi. Para ibu mendapatkan informasi tentang nutrisi seimbang, imunisasi, dan pencegahan stunting, sementara lansia memperoleh bimbingan mengenai pola makan sehat, aktivitas fisik yang sesuai, dan manajemen penyakit kronis seperti hipertensi serta diabetes. Salah satu bidan di dusun drigu desa poncokusomo, ibu Novi, menyampaikan apresiasinya kepada para kader dan tenaga kesehatan yang terlibat. " kegiatan ini sangat bermanfaat bagi warga kami, terutama dalam mendeteksi dini penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes", ujarnya. Acara dimulai dengan pendaftaran peserta. Kader posyandu mencatat data kehadiran anak dan lansia, dilanjutkan dengan penimbangan berat badan serta pengukuran tinggi badan balita. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan status gizi anak sesuai standar kesehatan. Setelah itu, anak-anak menerima suplemen vitamin A dan imunisasi. Untuk para lansia, tersedia layanan cek tekanan darah dan gula darah guna memantau kondisi mereka. Dalam sesi konsultasi kesehatan, tenaga medis dari Puskesmas Poncokusomo menyampaikan materi tentang pentingnya ASI eksklusif dan cara membuat MPASI bergizi. Lansia pun diberi motivasi untuk menjaga kebugaran dan kesehatan mental. Keberhasilan posyandu tidak terlepas dari peran aktif kader yang menjadi penggerak di tingkat desa. Mereka tak hanya membantu pelaksanaan teknis tetapi juga memberikan edukasi kesehatan kepada warga. Partisipasi pemerintah desa dan dukungan fasilitas kesehatan dari Puskesmas turut berkontribusi pada kelancaran kegiatan ini. Posyandu adalah bagian penting dari sistem kesehatan berbasis komunitas. Program ini membantu menurunkan angka kematian ibu dan anak serta meningkatkan kesejahteraan lansia. Lebih dari itu, kegiatan posyandu mempererat ikatan sosial melalui kerja sama dan kepedulian antarwarga. Harapannya Dengan terlaksananya kegiatan posyandu secara rutin, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan terus meningkat. Partisipasi aktif warga menjadi indikator bahwa posyandu memenuhi kebutuhan mereka. Diperlukan komitmen berkelanjutan dari kader, pemerintah, dan tenaga kesehatan agar program ini terus berjalan optimal.
FAJAR ASNIF MASHUDI
Malang, 26 Januari 2025 - Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 184 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar sosialisasi parenting bersama wali murid KB At-Taqwa. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman orang tua tentang peran mereka dalam mendukung perkembangan anak di masa emas, yakni usia 0-12 tahun. Acara yang berlangsung di Balai Desa Langlang ini menghadirkan pemateri dari dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Malang, Ibu Ratna Nulinnaja, M.Pd.I. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa masa keemasan merupakan masa emas dalam perkembangan anak yang sangat mempengaruhi kecerdasan, emosi, dan kepribadian mereka di masa depan. Menurut Ibu Ratna, perkembangan otak anak pada usia 0-6 tahun mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Oleh karena itu, orang tua harus berperan aktif dalam menstimulasi anak melalui interaksi yang berkualitas. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan kasih sayang, mendukung eksplorasi anak, serta menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembangnya. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa masa keemasan terbagi dalam beberapa tahap perkembangan: • Masa Bayi (0-3 tahun): Anak mulai mengenali lingkungan sekitarnya, membutuhkan perhatian penuh dari orang tua, serta diberikan stimulasi sensorik dan motorik. • Masa Prasekolah (4-6 tahun): Anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir, daya ingat, dan interaksi sosial. • Masa Sekolah Dasar (7-12 tahun): Fokus utama pada pengembangan intelektual, kontrol emosi, dan kemandirian. Dalam sosialisasi ini, Ibu Ratna juga membagikan berbagai strategi bagi orang tua agar dapat mendukung perkembangan anak secara optimal. Beberapa di antaranya adalah: 1. Komunikasi yang Efektif - Orang tua perlu mendengarkan dan memahami kebutuhan anak serta membangun hubungan positif melalui komunikasi terbuka. 2. Edukasi dan Stimulasi - Menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan seperti membaca buku, bermain edukatif, serta mengajarkan disiplin dan tanggung jawab sejak dini. 3. Dukungan Emosional - Memberikan pujian yang tulus, mengajarkan anak mengelola emosi, serta menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang. 4. Pembatasan Teknologi - Membatasi penggunaan gawai dan lebih banyak melibatkan anak dalam aktivitas fisik maupun interaksi sosial langsung. 5. Menjadi Teladan - Orang tua harus menjadi contoh dalam menunjukkan nilai-nilai positif, seperti kejujuran, empati, dan kerja keras. Sosialisasi ini mendapat respon positif dari para wali murid yang hadir. Mereka mengapresiasi materi yang disampaikan serta berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk mendukung pendidikan dan perkembangan anak sejak usia dini. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan para orang tua dapat lebih memahami pentingnya peran mereka dalam membentuk karakter dan potensi anak sejak dini, sehingga dapat mencetak generasi yang cerdas, berakhlak, dan mandiri.
ZULFATUNNI`MAH
Kenongo, (26/12/2024) -- Dalam upaya pengembangan potensi wisata alam di Desa Kenongo, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang bersama Kepala Desa Kenongo melakukan survei lokasi untuk rencana pembangunan area wisata camping ground. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja mahasiswa KKM untuk mendukung pengembangan desa berbasis pariwisata. Survei dilakukan di salah satu kawasan yang memiliki pemandangan alam indah dan strategis untuk dijadikan area camping ground. Kepala Desa Kenongo, Bapak Sugiarto, menyampaikan bahwa rencana pembangunan wisata ini sebenarnya telah lama dirancang oleh pemerintah desa, namun hingga kini belum terealisasi. "Wisata camping ground ini adalah salah satu potensi besar yang bisa mengangkat perekonomian warga. Kami sudah lama memiliki rencana ini, tetapi masih membutuhkan bantuan dari berbagai pihak, termasuk mahasiswa yang memiliki wawasan dan ide-ide segar," ungkap Kepala Desa. Mahasiswa KKM UIN Malang diberi kesempatan untuk membantu mendesain konsep pembangunan wisata tersebut, mulai dari tata letak fasilitas hingga ide promosi yang berkelanjutan. Mereka juga diminta memberikan masukan mengenai bagaimana area ini bisa menjadi destinasi wisata yang menarik tanpa merusak ekosistem alam yang ada. Kami sangat senang bisa terlibat dalam proyek ini. Selain mendukung program desa, ini juga menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk belajar langsung tentang pengembangan wisata berbasis masyarakat," ujar salah satu mahasiswa KKM. Survei ini diakhiri dengan foto bersama antara mahasiswa, perangkat desa Kenongo. Keterlibatan mahasiswa KKM diharapkan dapat mempercepat terwujudnya wisata camping ground di Desa Kenongo, sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya kolaborasi ini, Desa Kenongo optimis bahwa wisata camping ground dapat segera menjadi salah satu daya tarik utama di wilayah tersebut.