Thumbnail
1 year ago
Sosialisasi Digitalisasi UMKM: Mahasiswa UIN Malang Dorong Pemanfaatan Media Sosial

HUSNUL KHATIMAH

Di era globalisasi yang semakin maju saat ini, masyarakat dituntut untuk menguasai teknologi agar dapat mengikuti perkembangan zaman. Teknologi tidak hanya menjadi alat komunikasi dan hiburan, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dengan memanfaatkan teknologi, pelaku UMKM dapat melakukan pemasaran secara online, yang memungkinkan mereka menjangkau target pasar yang lebih luas tanpa batasan geografis. Pemasaran online melalui platform seperti media sosial, marketplace, dan situs web membantu UMKM memperkenalkan produk mereka kepada konsumen, baik di tingkat lokal maupun internasional, dengan cara yang lebih efisien dan hemat biaya. Mahasiswa KKM Kelompok 10 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang berhasil menggadakan kegiatan sosialisasi digitalisasi UMKM melalui media sosial dengan tema Sosialisasi Digitalisasi UMKM: Meraih Peluang di Era Digital dilaksanakan di Balai Desa Ngebruk dengan dihadiri oleh ibu-ibu PKK dan ibu kepala desa Ngebruk (15/0l/25).  Acara ini berjalan dengan baik dan lancar serta mendapat antusiasme dari para pelaku UMKM. Acara ini juga diisi oleh mahasiswa KKN kelompok 10 sebagai pembicara digital marketing, yaitu Arif Rahman Adjulian dan Syaifah Putri Diah Ambari  mahasiswa Manajamen Uin Maulana Malik Ibrahim Malang Angkatan 22. Kegiatan sosialisasi ini memanfaatkan media sosial TikTok sebagai platform utama untuk mempromosikan produk unggulan yang dihasilkan oleh ibu-ibu PKK, yaitu produk sari jahe dan temulawak. Sosialisasi ini juga memberi pemahaman terhadap pelaku UMKM dari ibu-ibu PKK terkait pentingnya strategi pemasaran secara digital serta pemakaian platform Tik Tok sebagai media branding serta perluasan pemasaran produk secara online. Para peserta terlihat dari partisipasi aktif sekitar 25 ibu-ibu PKK yang hadir dalam kegiatan tersebut, menunjukkan tingginya minat dan penerimaan mereka terhadap program ini. Selama sosialisasi, ibu-ibu PKK tidak hanya mengikuti kegiatan dengan penuh semangat, tetapi juga memberikan masukan berharga terkait logo dan desain kemasan produk. Salah satu masukan yang diberikan adalah, “Desain kemasan sudah sangat bagus dan menarik, tetapi kami menyarankan agar ukuran tulisan diperbesar dan warna yang digunakan lebih mencolok agar terlihat lebih menonjol.” Melalui kegiatan ini, ibu-ibu PKK tidak hanya belajar tentang pemanfaatan media sosial TikTok sebagai alat promosi, tetapi juga berkontribusi aktif dalam pengembangan produk mereka. Semangat yang ditunjukkan membuktikan bahwa digitalisasi dalam pemasaran memiliki potensi besar untuk mendukung pemberdayaan ekonomi lokal sekaligus meningkatkan daya tarik produk UMKM. Kegiatan ini juga dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam kepada peserta mengenai berbagai platform media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung bisnis dan promosi. Ibu-ibu PKK tidak hanya diajak mengenal fitur-fitur dari platform tersebut, tetapi juga dibekali wawasan tentang bagaimana mengembangkan strategi pemasaran digital yang efektif dan menciptakan konten yang kreatif serta relevan dengan target audiens, serta bagaimana memanfaatkan live dan juga tiktokshop. Kegiatan ini menjadi langkah awal yang signifikan dalam membantu pelaku usaha, khususnya UMKM, memanfaatkan potensi besar dunia digital untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.  

Thumbnail
1 year ago
Mengangkat Pekerja Kreatif Lokal Selobekiti: Harapan Baru dari Adhikari Dwidasa

HIDAYATUR RAHMAN

Selobekiti, sebuah dusun kecil dengan potensi besar pada kerajinan anyaman bambu, kini menjadi sorotan berkat upaya Adhikari Dwidasa yang berkomitmen mengangkat nama para pekerja kreatif lokal. Dengan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, para pengrajin di desa ini menawarkan berbagai produk unik berbasis kearifan lokal yang khas. Pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 4 dan 5 Januari 2025, Adhikari Dwidasa berkesampatan untuk mengunjungi dua pengrajin lokal yang terkenal dan telah sukses di pasaran, bu Malika dan pak Win. Dalam kunjungan tersebut, para peserta diajak untuk melihat langsung proses produksi kerajinan bambu, berbagi ilmu dan tips, serta berdiskusi dengan para pengrajin mengenai tantangan dan peluang bisnis yang ada. Bu Malika merupakan salah satu pengrajin senior yang telah meneruskan usaha kerajinan ini selama beberapa keturunan. Beliau memproduksi berbagai macam kerajinan tangan berbahan bambu, seperti tempe, tedok, piring, topi, dan kipas. Semua proses pengerjaan dilakukan secara manual dengan metode tradisional. Bahan baku utama kerajinan Bu Malika adalah bambu jenis pring apus yang dibeli dari Jatisari, Kecamatan Ngajum, dengan kisaran harga Rp15.000 per batang. Dari satu batang bambu, dapat dihasilkan 30-40 produk kerajinan. Pembuatan kerajinan bambu dilakukan dalam berbagai tahapan seperti pemotongan bambu, pemotongan, penghalusan, pengeringan, penganyaman, dan yang terakhir finishing. Untuk pembuatan 1 kerajinan tangan, hanya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari, tergantung jenis kerajinan tangan yang diproduksi. Sementara itu, untuk proses pengeringan sendiri memerlukan waktu selama satu hari saat cuaca cerah, namun jika hujan, pengeringan dilakukan dengan memanggang. Produk Bu Malika sering menjadi favorit pelanggan terutama tempe, tedok, dan capil. Selain itu, ia kerap mengikuti lomba kerajinan dan pernah meraih juara pertama tingkat kabupaten. Untuk saat ini, bu Malika hanya memanfaatkan pemasaran secara offline dan dipromosikan dari mulut ke mulut. “Kami memasarkan produk secara langsung ke berbagai daerah, seperti ke pesarean Gunung Kawi, Malang, Cirebon, hingga Kalimantan.”, ujarnya. “Banyak pelanggan datang langsung ke sini,” ujar Bu Malika. Dengan produk yang dihargai antara tiga ribu rupiah hingga dua puluh lima ribu rupiah, bu Malika bisa mencapai omset hingga empat juta rupiah per bulannya. Sementara itu, pengrajin kedua, Pak Win, merupakan salah satu pengrajin yang cukup sukses dan terkenal di dusun Selobekiti. Beliau memulai usahanya pada tahun 2021 yang mana, beliau hanya memfokuskan usaha kerajinan tangan pada pembuatan besek. Berbeda dengan Bu Malika, Pak Win memanfaatkan platform digital, yaitu Shopee yang telah dirintisnya selama kurang lebih tiga tahun, untuk memasarkan produknya. Dengan akun bernama abidzar083, toko onlinenya telah meraih rating 4.7 dari para pelanggannya. Ia telah mengembangkan sistem penjualan berbasis pre-order karena kerajinan besek cukup rentan jika diamkan dalam waktu yang lama. “Minimal pembelian empat produk dan maksimal dua puluh produk per pesanan. Penjualan kami meningkat terutama dalam dua tahun terakhir,” jelas Pak Win. Besek produksi Pak Win dapat dipesan dengan berbagai ukuran dan warna sesuai permintaan pelanggan. Proses pembuatan kerajinan besek pak Win juga memiliki langkah yang hampir sama dengan kerjinan bu Malika. Hanya saja, sebelum tahap finishing, terdapat tahap pewarnaan pada produk apa pun. Proses pewarnaan ini dilakukan dengan mencelupkan produk secara menyeluruh ke dalam panci yang berisi air panas dan telah dicampur dengan pewarna Wantex. Jenis pewarnaan ini aman digunakan untuk menjamin makanan sudah benar-benar kering. Proses pengeringan pada pewarnaan itu sendiri hanya memerlukan waktu sekitar 1-2 jam di musim panas, namun saat musim hujan memakan waktu hingga dua hari. Untuk memenuhi pesanan yang masuk, pak Win juga bekerja sama dengan pengrajin lain, seperti Ibu Ida dengan pembagian keuntungan dengan perhitungan persen yang telah ditentukan oleh pak Win. Selama usaha ini berjalan, Pak Win telah melayani beberapa klien besar, seperti Ms. Glow dan Djoragan 99, bahkan produknya dikirim hingga ke Luar Kota seperti Jakarta, Lumajang, dan Nganjuk. Beliau juga telah melayani bebrapa konsumen luar negeri dari Selangor, Malaysia. Dengan harga besek yang dipatok mulai lima ribu rupiah hingga lima belas ribu rupiah, beliau pernah mencapai omset sebesar Rp9 juta per tahun, dengan sistem pembagian keuntungan berdasarkan tahap produksi: 40% untuk produk yang masih perlu pembersihan serabut dan 25% untuk produk yang sudah bersih. Upaya Adhikari Dwidasa untuk mempromosikan kerajinan lokal Selobekiti berhasil membuka peluang ekonomi bagi para pengrajin. Dengan kombinasi pemasaran tradisional dan digital, produk mereka mampu bersaing di pasar yang lebih luas. “Kami ingin produk Selobekiti dikenal lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan semangat inovasi, kami yakin dusun ini dapat menjadi pusat kerajinan yang mendunia,” ujar ketua Adhikari Dwidasa, Rizqi Diana Putra.

Thumbnail
1 year ago
Cegah Stunting dengan Pola Asuh Tepat dan Gizi Seimbang: Sosialisasi Parenting di Desa Sumberpetung

FIRZA ARYA PUTRA SUCAHYO

Stunting masih menjadi permasalahan serius dalam tumbuh kembang anak di Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Untuk mengatasi hal ini, mahasiswa KKM Desa Sumberpetung mengadakan Sosialisasi Stunting dan Parenting pada Senin, 13 Januari 2025, di Balai Dusun Banduarjo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Mengusung tema "Cegah Stunting Melalui Pengasuhan Tepat dan Pemenuhan Gizi Seimbang", acara ini dihadiri oleh 37 peserta serta 11 tamu undangan, termasuk Kepala Desa Sumberpetung, Hamim Ahmad, S.Ag, beserta jajaran perangkat desa lainnya.   Acara dimulai pukul 09.30 WIB setelah kegiatan Posyandu, diawali dengan pembukaan oleh MC Juhiran Rizqi Mawani dan Muhammad Fatih Rabbani. Sambutan dari Kepala Desa Sumberpetung berlangsung hingga pukul 09.45 WIB, memberikan gambaran umum pentingnya pengasuhan yang tepat untuk mencegah stunting. Sesi pertama dimulai dengan materi Parenting oleh Ibu Yully Astutik, S.Tr.Keb, yang menekankan pentingnya pola asuh yang baik dalam perkembangan anak. Sesi ini berlangsung selama 20 menit, diikuti oleh materi tentang Stunting yang disampaikan oleh Ayu Candra Hermawati, AMd. Gz, seorang ahli gizi, yang menjelaskan faktor penyebab dan cara pencegahan stunting secara komprehensif. Tidak hanya sekadar teori, acara ini juga menghadirkan sesi praktik pembuatan MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang sehat dan bergizi. Pada pukul 10.29 WIB, pemateri bersama perwakilan peserta memperagakan cara membuat MPASI yang memenuhi standar gizi seimbang. Hasil dari praktik ini pun dibagikan kepada peserta sosialisasi agar mereka bisa memahami langsung bagaimana menyusun menu bergizi bagi anak-anak mereka.   Untuk meningkatkan partisipasi, panitia juga mengadakan sesi kuis interaktif pada pukul 10.51 WIB. MC mengajukan 10 pertanyaan seputar materi yang telah disampaikan, dan peserta yang berhasil menjawab dengan benar mendapatkan doorprize menarik. Kuis ini tidak hanya menambah keseruan acara, tetapi juga memastikan bahwa materi yang disampaikan benar-benar dipahami oleh peserta. Acara ditutup pada pukul 11.05 WIB dengan harapan besar bahwa para peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi tentang pola asuh yang tepat serta pemenuhan gizi seimbang sejak masa kehamilan hingga masa pertumbuhan anak menjadi kunci utama dalam menekan angka stunting di daerah tersebut.   Melalui sosialisasi ini, diharapkan kesadaran masyarakat semakin meningkat dalam memberikan pola asuh yang baik serta memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka. Dengan pemahaman yang lebih baik, tidak ada lagi anak yang mengalami stunting hanya karena kurangnya informasi tentang pengasuhan dan gizi seimbang. Langkah kecil ini diharapkan dapat membawa perubahan besar dalam mewujudkan generasi yang lebih sehat dan cerdas di Desa Sumberpetung.  Semoga edukasi seperti ini terus berlanjut, demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih baik!  

Thumbnail
1 year ago
Sosialisasi Digitalisasi UMKM: Mahasiswa UIN Malang Dorong Pemanfaatan Media Sosial

NOVIA FITRI RADITA

Di era globalisasi yang semakin maju saat ini, masyarakat dituntut untuk menguasai teknologi agar dapat mengikuti perkembangan zaman. Teknologi tidak hanya menjadi alat komunikasi dan hiburan, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dengan memanfaatkan teknologi, pelaku UMKM dapat melakukan pemasaran secara online, yang memungkinkan mereka menjangkau target pasar yang lebih luas tanpa batasan geografis. Pemasaran online melalui platform seperti media sosial, marketplace, dan situs web membantu UMKM memperkenalkan produk mereka kepada konsumen, baik di tingkat lokal maupun internasional, dengan cara yang lebih efisien dan hemat biaya. Mahasiswa KKM Kelompok 10 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang berhasil menggadakan kegiatan sosialisasi digitalisasi UMKM melalui media sosial dengan tema Sosialisasi Digitalisasi UMKM: Meraih Peluang di Era Digital dilaksanakan di Balai Desa Ngebruk dengan dihadiri oleh ibu-ibu PKK dan ibu kepala desa Ngebruk (15/0l/25).  Acara ini berjalan dengan baik dan lancar serta mendapat antusiasme dari para pelaku UMKM. Acara ini juga diisi oleh mahasiswa KKN kelompok 10 sebagai pembicara digital marketing, yaitu Arif Rahman Adjulian dan Syaifah Putri Diah Ambari  mahasiswa Manajamen Uin Maulana Malik Ibrahim Malang Angkatan 22. Kegiatan sosialisasi ini memanfaatkan media sosial TikTok sebagai platform utama untuk mempromosikan produk unggulan yang dihasilkan oleh ibu-ibu PKK, yaitu produk sari jahe dan temulawak. Sosialisasi ini juga memberi pemahaman terhadap pelaku UMKM dari ibu-ibu PKK terkait pentingnya strategi pemasaran secara digital serta pemakaian platform Tik Tok sebagai media branding serta perluasan pemasaran produk secara online. Para peserta terlihat dari partisipasi aktif sekitar 25 ibu-ibu PKK yang hadir dalam kegiatan tersebut, menunjukkan tingginya minat dan penerimaan mereka terhadap program ini. Selama sosialisasi, ibu-ibu PKK tidak hanya mengikuti kegiatan dengan penuh semangat, tetapi juga memberikan masukan berharga terkait logo dan desain kemasan produk. Salah satu masukan yang diberikan adalah, “Desain kemasan sudah sangat bagus dan menarik, tetapi kami menyarankan agar ukuran tulisan diperbesar dan warna yang digunakan lebih mencolok agar terlihat lebih menonjol.” Melalui kegiatan ini, ibu-ibu PKK tidak hanya belajar tentang pemanfaatan media sosial TikTok sebagai alat promosi, tetapi juga berkontribusi aktif dalam pengembangan produk mereka. Semangat yang ditunjukkan membuktikan bahwa digitalisasi dalam pemasaran memiliki potensi besar untuk mendukung pemberdayaan ekonomi lokal sekaligus meningkatkan daya tarik produk UMKM. Kegiatan ini juga dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam kepada peserta mengenai berbagai platform media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung bisnis dan promosi. Ibu-ibu PKK tidak hanya diajak mengenal fitur-fitur dari platform tersebut, tetapi juga dibekali wawasan tentang bagaimana mengembangkan strategi pemasaran digital yang efektif dan menciptakan konten yang kreatif serta relevan dengan target audiens, serta bagaimana memanfaatkan live dan juga tiktokshop. Kegiatan ini menjadi langkah awal yang signifikan dalam membantu pelaku usaha, khususnya UMKM, memanfaatkan potensi besar dunia digital untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.  

Thumbnail
1 year ago
Membangun Generasi Sehat dan Berkarakter: Sosialisasi Hidup Sehat dan Pencegahan Pergaulan Bebas oleh KKM UIN Malang untuk generasi muda

SYIFA AULIA

Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah dasar, akan pentingnya pola hidup sehat dan bahaya pergaulan bebas, tim Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kelompok 120 mengadakan kegiatan sosialisasi “hidup sehat dan pencegahan pergaulan bebas” yang bertujuan memberikan edukasi serta pemahaman yang lebih dalam mengenai dua aspek penting dalam kehidupan mereka. Kegiatan ini berlangsung di SDN 01 Sidoluhur, Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang, pada 18 Januari 2025. Anak-anak kelas 6 SD merupakan fase transisi menuju remaja, di mana mereka mulai menghadapi berbagai tantangan dalam pergaulan dan kebiasaan hidup sehari-hari. Kurangnya pemahaman mengenai pola hidup sehat dan bahaya pergaulan bebas dapat berdampak pada tumbuh kembang mereka. Oleh karena itu, kami kelompok KKM 120 merasa perlu untuk memberikan edukasi yang sesuai dengan usia mereka agar lebih siap menghadapi tantangan di masa mendatang. Kegiatan sosialisasi ini dihadiri oleh seluruh anak kelas 6 SDN 01 Sidoluhur. Kegiatan ini terbagi menjadi 2 sesi. Dalam sesi pertama, kami menjelaskan tentang pentingnya beretika, menjaga etika dalam pergaulan, menghindari pengaruh buruk dari lingkungan sekitar serta pentingnya memilih teman yang baik. Dalam sesi ini kami juga menjelaskan tentang bullying, mulai dari dampak negatif bullying hingga cara mencegah bullying. Dalam sesi kedua kami menjelaskan pentingnya menerapkan pola hidup sehat yang bisa dimulai dari hal kecil contoh mencuci tangan, mengurangi konsumsi gula dan makan makanan bergizi. Agar sosialisasi lebih menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak, kami menggunakan berbagai metode, seperti penjelasan materi menggunakan power point dengan animasi yang menarik hingga pemutaran vidio contoh penerapan hidup sehat. Di akhir kegiatan, kami membagikan susu gratis sebagai upaya contoh penerapan pola hidup sehat. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak nyata dalam kehidupan anak-anak, khususnya dalam membangun kebiasaan hidup sehat dan pergaulan yang positif. Dengan adanya edukasi ini, diharapkan mereka dapat lebih bijak dalam menjaga kesehatan dan memilih lingkungan pergaulan yang baik, sehingga dapat tumbuh menjadi generasi yang berkualitas bagi bangsa dan negara.  

Thumbnail
1 year ago
Mengangkat Pekerja Kreatif Lokal Selobekiti: Harapan Baru dari Adhikari Dwidasa

MUHAMMAD HAIDAR MUKHOFY

Selobekiti, sebuah dusun kecil dengan potensi besar pada kerajinan anyaman bambu, kini menjadi sorotan berkat upaya Adhikari Dwidasa yang berkomitmen mengangkat nama para pekerja kreatif lokal. Dengan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, para pengrajin di desa ini menawarkan berbagai produk unik berbasis kearifan lokal yang khas. Pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 4 dan 5 Januari 2025, Adhikari Dwidasa berkesampatan untuk mengunjungi dua pengrajin lokal yang terkenal dan telah sukses di pasaran, bu Malika dan pak Win. Dalam kunjungan tersebut, para peserta diajak untuk melihat langsung proses produksi kerajinan bambu, berbagi ilmu dan tips, serta berdiskusi dengan para pengrajin mengenai tantangan dan peluang bisnis yang ada. Bu Malika merupakan salah satu pengrajin senior yang telah meneruskan usaha kerajinan ini selama beberapa keturunan. Beliau memproduksi berbagai macam kerajinan tangan berbahan bambu, seperti tempe, tedok, piring, topi, dan kipas. Semua proses pengerjaan dilakukan secara manual dengan metode tradisional. Bahan baku utama kerajinan Bu Malika adalah bambu jenis pring apus yang dibeli dari Jatisari, Kecamatan Ngajum, dengan kisaran harga Rp15.000 per batang. Dari satu batang bambu, dapat dihasilkan 30-40 produk kerajinan. Pembuatan kerajinan bambu dilakukan dalam berbagai tahapan seperti pemotongan bambu, pemotongan, penghalusan, pengeringan, penganyaman, dan yang terakhir finishing. Untuk pembuatan 1 kerajinan tangan, hanya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari, tergantung jenis kerajinan tangan yang diproduksi. Sementara itu, untuk proses pengeringan sendiri memerlukan waktu selama satu hari saat cuaca cerah, namun jika hujan, pengeringan dilakukan dengan memanggang. Produk Bu Malika sering menjadi favorit pelanggan terutama tempe, tedok, dan capil. Selain itu, ia kerap mengikuti lomba kerajinan dan pernah meraih juara pertama tingkat kabupaten. Untuk saat ini, bu Malika hanya memanfaatkan pemasaran secara offline dan dipromosikan dari mulut ke mulut. “Kami memasarkan produk secara langsung ke berbagai daerah, seperti ke pesarean Gunung Kawi, Malang, Cirebon, hingga Kalimantan.”, ujarnya. “Banyak pelanggan datang langsung ke sini,” ujar Bu Malika. Dengan produk yang dihargai antara tiga ribu rupiah hingga dua puluh lima ribu rupiah, bu Malika bisa mencapai omset hingga empat juta rupiah per bulannya. Sementara itu, pengrajin kedua, Pak Win, merupakan salah satu pengrajin yang cukup sukses dan terkenal di dusun Selobekiti. Beliau memulai usahanya pada tahun 2021 yang mana, beliau hanya memfokuskan usaha kerajinan tangan pada pembuatan besek. Berbeda dengan Bu Malika, Pak Win memanfaatkan platform digital, yaitu Shopee yang telah dirintisnya selama kurang lebih tiga tahun, untuk memasarkan produknya. Dengan akun bernama abidzar083, toko onlinenya telah meraih rating 4.7 dari para pelanggannya. Ia telah mengembangkan sistem penjualan berbasis pre-order karena kerajinan besek cukup rentan jika diamkan dalam waktu yang lama. “Minimal pembelian empat produk dan maksimal dua puluh produk per pesanan. Penjualan kami meningkat terutama dalam dua tahun terakhir,” jelas Pak Win. Besek produksi Pak Win dapat dipesan dengan berbagai ukuran dan warna sesuai permintaan pelanggan. Proses pembuatan kerajinan besek pak Win juga memiliki langkah yang hampir sama dengan kerjinan bu Malika. Hanya saja, sebelum tahap finishing, terdapat tahap pewarnaan pada produk apa pun. Proses pewarnaan ini dilakukan dengan mencelupkan produk secara menyeluruh ke dalam panci yang berisi air panas dan telah dicampur dengan pewarna Wantex. Jenis pewarnaan ini aman digunakan untuk menjamin makanan sudah benar-benar kering. Proses pengeringan pada pewarnaan itu sendiri hanya memerlukan waktu sekitar 1-2 jam di musim panas, namun saat musim hujan memakan waktu hingga dua hari. Untuk memenuhi pesanan yang masuk, pak Win juga bekerja sama dengan pengrajin lain, seperti Ibu Ida dengan pembagian keuntungan dengan perhitungan persen yang telah ditentukan oleh pak Win. Selama usaha ini berjalan, Pak Win telah melayani beberapa klien besar, seperti Ms. Glow dan Djoragan 99, bahkan produknya dikirim hingga ke Luar Kota seperti Jakarta, Lumajang, dan Nganjuk. Beliau juga telah melayani bebrapa konsumen luar negeri dari Selangor, Malaysia. Dengan harga besek yang dipatok mulai lima ribu rupiah hingga lima belas ribu rupiah, beliau pernah mencapai omset sebesar Rp9 juta per tahun, dengan sistem pembagian keuntungan berdasarkan tahap produksi: 40% untuk produk yang masih perlu pembersihan serabut dan 25% untuk produk yang sudah bersih. Upaya Adhikari Dwidasa untuk mempromosikan kerajinan lokal Selobekiti berhasil membuka peluang ekonomi bagi para pengrajin. Dengan kombinasi pemasaran tradisional dan digital, produk mereka mampu bersaing di pasar yang lebih luas. “Kami ingin produk Selobekiti dikenal lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan semangat inovasi, kami yakin dusun ini dapat menjadi pusat kerajinan yang mendunia,” ujar ketua Adhikari Dwidasa, Rizqi Diana Putra.