AKHMAD FERINDRA MAULANA
Kelompok 166 KKM Mandiri Baranova melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan menitikberatkan pada edukasi anti bullying dan kenakalan remaja, penguatan ekonomi digital melalui QRIS, serta penguatan amaliah keagamaan. Sosialisasi anti bullying dilakukan sebagai langkah preventif untuk membangun lingkungan sosial yang aman dan kondusif bagi anak-anak dan remaja. Edukasi disampaikan secara komunikatif agar mudah dipahami oleh siswa. Di bidang ekonomi, pendampingan penggunaan QRIS diberikan kepada pedagang kecil sebagai upaya meningkatkan efisiensi transaksi dan kesiapan masyarakat menghadapi ekonomi digital. Amaliah keagamaan menjadi bagian penting dalam kegiatan pengabdian ini, sebagai upaya membangun karakter masyarakat yang berlandaskan nilai moral dan spiritual.
QITHFIRUL AZIS
Sosialisasi bullying di SDN Karanganyar 01, Poncokusumo, Kabupaten Malang, merupakan salah satu program kerja yang diinisiasi oleh kami dari Kelompok KKM 116 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang bertempat di Dusun Baran, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Kegiatan ini kami rancang sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus respons atas realitas sosial yang masih menunjukkan adanya praktik perundungan di lingkungan sekolah dasar. Sebagai mahasiswa yang sedang melaksanakan KKM, kami merasa memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk turut berkontribusi dalam menciptakan ruang belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Dalam pelaksanaannya, kami melakukan sosialisasi dengan pendekatan yang komunikatif dan mudah dipahami oleh siswa. Perundungan sering kali dianggap sebagai bagian dari proses tumbuh kembang atau sekadar candaan antarteman. Namun tanpa disadari, tindakan tersebut dapat menimbulkan dampak psikologis jangka panjang, seperti rasa rendah diri, kecemasan, bahkan trauma yang memengaruhi perkembangan sosial dan akademik anak. Oleh karena itu, penting bagi siswa untuk memahami batas antara bercanda dan menyakiti. Materi yang kami sampaikan tidak hanya berfokus pada definisi dan bentuk-bentuk bullying, tetapi juga dampaknya bagi korban maupun pelaku serta langkah pencegahannya. Selain penyampaian materi, kami juga mengadakan sesi konseling kelompok dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam sesi ini, anak-anak diberi ruang untuk berbagi cerita dan pengalaman secara lebih personal, sehingga mereka belajar mengungkapkan perasaan sekaligus mendengarkan teman dengan empati. Sebagai penutup, kami menghadirkan sesi “Pohon Bercerita”, yaitu kegiatan menuliskan pengalaman atau pesan terkait bullying pada selembar kertas yang kemudian ditempel hingga membentuk simbol pohon. Kegiatan reflektif ini menjadi media sederhana namun bermakna untuk menanamkan empati sejak dini. Melalui sosialisasi ini, kami berharap dapat mendorong terbentuknya budaya sekolah yang lebih ramah, saling menghargai, dan mendukung tumbuh kembang anak secara sehat, baik secara akademik maupun emosional.
MEIRINA AMARA KHOIRUNNISA
https://www.kompasiana.com/alfirayyazahidah7725/697cb2d034777c463535cc63/gau l-asik-tanpa-toxic-sosialisasi-anti-bullying-di-kelas-ix-mts-hidayatul-mubtadi-in-tasik madu-oleh-kkm-kelompok-120-uin-malang
NAZALUNA SANIA ZAHRO
Desa Balesari merupakan desa yang memiliki kekayaan nilai kebersamaan, kearifan lokal, serta semangat gotong royong yang masih terjaga dalam kehidupan masyarakatnya. Kondisi sosial yang partisipatif serta kuatnya ikatan sosial antarwarga menjadikan Desa Balesari sebagai lokasi yang relevan bagi pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Reguler Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya dimaknai sebagai pemenuhan kewajiban akademik, melainkan sebagai bentuk nyata pengabdian perguruan tinggi dalam menjalin sinergi dengan masyarakat desa melalui pendekatan yang edukatif, partisipatif, dan kontekstual. Pelaksanaan KKM Reguler di Desa Balesari melibatkan Kelompok 114 dan Kelompok 115 yang ditempatkan di dua wilayah dusun berbeda. Kelompok 114 melaksanakan kegiatan pengabdian di Dusun Segelan, Sidomulyo, sementara Kelompok 115 ditempatkan di Dusun Krajan. Penempatan ini bertujuan untuk mendekatkan mahasiswa dengan realitas sosial masyarakat secara langsung, sehingga program yang dirancang dapat disesuaikan dengan potensi, kebutuhan, serta permasalahan di masing-masing wilayah. Dalam konteks ini, mahasiswa hadir sebagai mitra masyarakat yang belajar bersama, mendengarkan aspirasi warga, serta berperan aktif dalam proses pemberdayaan, bukan sebagai pihak yang bersifat instruktif. Secara konseptual, Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Reguler merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini dirancang sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di bangku perkuliahan dengan realitas kehidupan sosial masyarakat. Melalui KKM Reguler, mahasiswa didorong untuk mengaktualisasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki agar memberikan manfaat nyata, sekaligus mengembangkan kepekaan sosial, empati, kemampuan komunikasi, serta kerja sama lintas disiplin. Selaras dengan tujuan tersebut, pelaksanaan KKM Reguler di Desa Balesari diarahkan pada upaya pengabdian dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dengan menekankan partisipasi aktif warga dalam setiap tahapan kegiatan. Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berperan sebagai agen perubahan sosial yang berupaya mendorong peningkatan kesadaran masyarakat dalam bidang pendidikan, ketahanan keluarga, kesehatan, serta penguatan nilai sosial dan keagamaan yang moderat. Pengabdian yang dilakukan tidak bersifat satu arah, melainkan mengedepankan kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga setempat sebagai subjek utama pembangunan sosial. Dengan demikian, KKM Reguler menjadi ruang pembelajaran dua arah yang mempertemukan ilmu dari kampus dengan kearifan lokal masyarakat Desa Balesari. Melalui pendekatan partisipatif dan pemberdayaan, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat, sekaligus menjadi pengalaman pengabdian yang bermakna bagi mahasiswa dalam membangun tanggung jawab sosial, kepemimpinan, serta komitmen terhadap pembangunan masyarakat desa secara berkelanjutan. Kegiatan pembukaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Reguler Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang di Desa Balesari dilaksanakan pada Senin, 29 Desember 2025 bertempat di Balai Desa Balesari. Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan persiapan acara yang dilakukan oleh seluruh anggota kelompok KKM, meliputi penataan tempat, perlengkapan acara, serta koordinasi panitia guna memastikan kegiatan berjalan dengan tertib dan lancar. Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Balesari, perangkat desa, dosen pembimbing lapangan, tokoh masyarakat serta mahasiswa KKM Reguler Kelompok 114 dan 115, sebagai penanda resmi dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa di Desa Balesari. Acara resmi dimulai pada pukul 09.30 WIB dengan pembukaan oleh pembawa acara, Mahardika Putra Sumarsono dan Karina Aning Ramadani. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Muhammad Zaqi T, yang menghadirkan suasana khidmat, serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin oleh Nazaluna Sania Zahro sebagai wujud nasionalisme dan kebersamaan seluruh peserta yang hadir. Memasuki sesi sambutan, acara diawali oleh Ketua KKM Reguler Kelompok 114, Muhamad Taufik Hidayat, dan dilanjutkan oleh Ketua KKM Reguler Kelompok 115, Padil Hasyim Ali. Keduanya menyampaikan kesiapan mahasiswa untuk melaksanakan program pengabdian serta harapan terjalinnya kerja sama yang baik dengan masyarakat Desa Balesari. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh perwakilan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yakni Bapak Dr. Musleh Harry, S.H., M.Hum., yang menekankan pentingnya etika, tanggung jawab, dan peran mahasiswa sebagai pendamping masyarakat selama pelaksanaan KKM. Dalam sambutannya, Dr. Musleh Harry menyampaikan harapannya agar masyarakat Desa Balesari dapat menerima kehadiran mahasiswa KKM dengan terbuka. Ia juga berpesan agar masyarakat tidak segan untuk memberikan teguran dan masukan apabila terdapat kekeliruan selama mahasiswa melaksanakan kegiatan. "Mahasiswa kami datang dengan bekal ilmu yang terbatas dan juga untuk belajar bersama masyarakat. Apabila dalam pelaksanaannya terdapat kekurangan, jangan sepenuhnya menyalahkan mahasiswa, melainkan menjadi tanggung jawab kami sebagai pembimbing. Insyaallah, kami berkomitmen bahwa mahasiswa KKM Reguler ini tidak akan mengecewakan," ujarnya. Puncak sambutan disampaikan oleh Kepala Desa Balesari yang diwakilkan oleh Bapak Muhibullah, S.Pd.I. selaku Sekretaris Desa Balesari, yang secara resmi menerima mahasiswa KKM Reguler Kelompok 114 dan 115. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan selamat datang serta harapan agar mahasiswa dapat berkontribusi secara aktif melalui program-program yang bermanfaat bagi masyarakat Desa Balesari. Ia juga menegaskan dukungan penuh dari pemerintah desa terhadap pelaksanaan KKM Reguler. "Kami dari pihak desa siap membantu dan mendukung keberlangsungan kegiatan KKM ini apabila mahasiswa membutuhkan bantuan. Kami juga berharap kehadiran mahasiswa dapat menjadi inspirasi bagi para remaja di Desa Balesari untuk terus melanjutkan pendidikan dan menuntut ilmu setinggi-tingginya," ujarnya. Pada kesempatan tersebut, dilakukan penyematan kartu identitas (ID Card) kepada perwakilan peserta KKM yang diwakili oleh masing-masing ketua kelompok, sebagai simbol diterimanya mahasiswa KKM Reguler oleh pemerintah desa. Sebagai tanda resmi dimulainya kegiatan KKM Reguler, dilakukan simbolis pembukaan melalui pemotongan pita dan serah terima peserta KKM oleh perwakilan pemerintah desa bersama Dosen Pembimbing Lapangan. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ulil Albab Abdilla, sebagai harapan agar seluruh kegiatan KKM dapat berjalan dengan lancar serta membawa keberkahan bagi mahasiswa dan masyarakat Desa Balesari. Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan pembukaan tersebut, nuansa kebersamaan semakin terasa dalam keseluruhan proses pelaksanaan KKM Reguler. Momen ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi titik awal terbangunnya kepercayaan dan kerja sama antara mahasiswa dan masyarakat Desa Balesari. Kehadiran mahasiswa KKM Reguler Kelompok 114 dan 115 dimaknai sebagai proses pendampingan yang mengedepankan prinsip kebersamaan, dialog, dan saling menghargai antara perguruan tinggi dan masyarakat desa. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM Reguler berperan sebagai mitra masyarakat yang berupaya memahami kondisi sosial, budaya, serta kebutuhan lokal. Pendekatan partisipatif menjadi landasan utama dalam setiap kegiatan, sehingga program yang dijalankan tidak bersifat satu arah, melainkan tumbuh dari komunikasi dan kesepakatan bersama. Masyarakat Desa Balesari pun berperan aktif sebagai subjek pengabdian yang terlibat dalam mendukung dan menyukseskan berbagai agenda KKM. Secara keseluruhan, Kuliah Kerja Mahasiswa Reguler di Desa Balesari menjadi ruang tumbuh bersama bagi mahasiswa dan masyarakat dalam membangun harmoni melalui pengabdian. Kegiatan ini menegaskan bahwa pengabdian bukan sekadar pelaksanaan program, melainkan proses manusiawi yang menumbuhkan empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Melalui kolaborasi yang dilandasi kepercayaan dan kebersamaan, KKM Reguler diharapkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekaligus menjadi pengalaman pengabdian yang bermakna bagi mahasiswa.
MUHAMMAD FALIQUL ISHBAH
Berlokasi di Jalan Raya Banjarejo, Kecamatan Pakis, Kantor Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kabupaten Malang menjadi rumah belajar bagi kami, Mahasiswa KKM Unggulan PSGA Kelompok 262. Pengabdian ini bukan sekadar hadir, duduk, dan mengisi logbook harian. Di balik rutinitas membantu administrasi serta menyambut tamu, terdapat misi untuk meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi instansi, sekaligus menyerap nilai profesionalisme yang tidak selalu didapatkan di bangku kuliah. Melalui diskusi dan evaluasi bersama salah satu staf UPTD PPA pada Jumat, 30 Januari 2026, kami memperoleh banyak wawasan berharga tentang realitas dunia kerja. Salah satu fokus utama kami adalah menjawab tantangan dalam pelayanan publik, yakni memastikan masyarakat memahami alur pengaduan tanpa kebingungan saat pertama kali memasuki lobi. Menjawab kebutuhan tersebut, Kelompok 262 menghadirkan inovasi sederhana namun berdampak berupa Poster Alur Layanan berbasis Barcode. Inisiatif ini mendapat apresiasi dari staf karena dinilai mampu memangkas waktu pelayanan di meja depan. Klien tidak lagi perlu menyalin nomor atau tautan secara manual, cukup memindai barcode untuk memperoleh informasi yang cepat dan akurat. Bagi pihak instansi, inilah bentuk jejak yang diharapkan: sistem yang dapat digunakan secara berkelanjutan meskipun masa tugas KKM telah berakhir. Selain pembenahan layanan fisik, kami juga berupaya memperkuat wajah digital instansi melalui program Optimalisasi Google Maps, mengingat banyak masyarakat mengandalkan peta digital saat mencari lokasi bantuan. Dalam prosesnya, kami menerima masukan yang jujur dan konstruktif dari staf. Langkah awal dinilai baik, namun diperlukan standar ketelitian yang lebih tinggi agar masyarakat dapat menemukan titik lokasi secara presisi tanpa risiko tersesat. Kritik ini menjadi pelajaran penting bahwa detail kecil dalam ranah digital dapat menentukan kecepatan akses pertolongan bagi korban. Validasi data yang akurat menjadi keharusan, bukan pilihan. Momen reflektif juga hadir dalam evaluasi kinerja harian. Mahasiswa KKM 262 dinilai memiliki semangat tinggi serta mampu menghadirkan suasana kerja yang lebih hangat. Namun, terdapat catatan penting terkait konsistensi dan mentalitas profesional. Ritme kerja serta inisiatif jemput bola harus dijaga secara berkelanjutan, tidak hanya aktif di awal masa penugasan atau saat terdapat instruksi tertentu. Pemerataan inisiatif di antara seluruh anggota kelompok menjadi kunci agar kualitas pelayanan tetap prima setiap hari. Satu kata kunci yang diberikan kepada kelompok kami adalah: “Ditingkatkan.” Bagi Kelompok 262, kata tersebut bukan bentuk kegagalan, melainkan dorongan untuk bertumbuh. Masukan ini menjadi bekal untuk memperbaiki ritme kerja dan memperkuat inisiatif pada sisa masa pengabdian, sehingga keberadaan kami di Pakis benar-benar memberikan manfaat nyata bagi UPTD PPA dan masyarakat Kabupaten Malang.
FARID REFADA RAFLY
Kegiatan puncak Program PELITA (Pembelajaran Iman dan Tadarus Anak) dilaksanakan pada Sabtu, 18 Januari 2026, di TPQ Hidayatul Mubtadi-ien, Desa Sumbersari, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Acara yang berlangsung pukul 15.00 hingga 17.00 WIB ini menjadi penutup rangkaian pendampingan keagamaan yang dilakukan mahasiswa KKM Mandiri Integrasi Kelompok 154 bersama anak-anak TPQ. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh ketua pelaksana yang menyampaikan tujuan pelaksanaan puncak PELITA serta gambaran aktivitas yang akan diikuti peserta. Setelah itu, anak-anak dibagi ke dalam beberapa kelompok secara acak melalui metode berhitung, untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan di setiap pos pembelajaran. Pada pos pertama, peserta diminta membaca Al-Qur’an dan mendapatkan bintang sebagai bentuk apresiasi. Selanjutnya, anak-anak berpindah ke pos kedua untuk menghafalkan doa-doa yang sebelumnya telah diajarkan oleh mahasiswa selama program PELITA berlangsung. Pos ketiga mengangkat materi kisah Nabi Muhammad SAW, dengan pemberian soal seputar riwayat dan keteladanan beliau. Sementara itu, pada pos keempat, peserta mengikuti permainan tebak gerakan wudhu sebagai penguatan pemahaman praktik ibadah. Setelah seluruh pos selesai dilalui, anak-anak kembali dikumpulkan untuk mengikuti lomba kelompok yang berlangsung dengan penuh antusias. Kegiatan ini sekaligus menjadi penilaian akhir untuk menentukan nominasi juara peserta PELITA. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari ustadzah TPQ Hidayatul Mubtadi-ien yang menyampaikan apresiasi atas pendampingan dan kontribusi mahasiswa KKM dalam kegiatan pembelajaran anak-anak. Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama serta penyerahan sertifikat mitra kepada TPQ Hidayatul Mubtadi-ien sebagai bentuk kerja sama dan penghargaan atas kolaborasi yang telah terjalin. Melalui puncak PELITA ini, mahasiswa KKM berharap nilai-nilai keimanan, semangat belajar, dan kebersamaan yang telah ditanamkan dapat terus tumbuh dan berlanjut di lingkungan TPQ dan masyarakat Desa Sumbersari.