Thumbnail
4 months ago
Belajar Saling Menjaga, Bukan Saling Menyakiti: Cerita Hangat Sosialisasi Anti Bullying di Gadingkulon Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Belajar Saling Menjaga, Bukan Saling Menyakiti: Cerita Hangat Sosialisasi Anti Bullying di Ga

NURUL AZMI NAFILAH

Pagi itu, suasana Balai Desa Gadingkulon dipenuhi suara anak-anak berseragam merah putih. Mereka duduk berkelompok sambil bercanda, namun sesekali menatap ke depan dengan rasa penasaran. Di hari yang berbeda, suasana serupa juga terasa di salah satu ruang kelas SD 2 Gadingkulon. Bukan untuk pelajaran biasa, melainkan untuk mengikuti sosialisasi anti bullying bersama mahasiswa KKM Mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan kegiatan ini di dua tempat terpisah. Sosialisasi pertama dilaksanakan pada tanggal 24 Januari di Balai Desa Gadingkulon untuk siswa SD 1, sementara kegiatan kedua berlangsung pada tanggal 28 Januari di ruang kelas SD 2. Meski lokasinya berbeda, tujuan keduanya sama, yaitu mengajak anak-anak memahami pentingnya saling menghargai dan menghentikan perilaku perundungan di sekolah.    

Thumbnail
4 months ago
Ubah Sampah Jadi Berkah! Mahasiswa KKN 09 UIN Malang Sulap Galon Bekas Jadi Taman Hijau di Area Masjid

BERNIKA RAHMASARI

MALANG (03-01/2026) - Kreativitas tanpa batas ditunjukkan oleh mahasiswa KKN 09-Karsa Nawasena UIN Malang. Alih-alih menggunakan pot mahal, tim KKN berhasil menyulap puluhan galon plastik bekas milik warga menjadi media tanam yang estetik untuk menghijaukan area masjid An-Nur menjadi taman "Apotek Hidup" yang tertata rapi. Langkah ini diambil sebagai solusi atas permasalahan sampah plastik sekaligus upaya mempercantik ruang publik dengan konsep yang ekonomis dan bermanfaat.  Proses pengerjaan program ini dilakukan secara bertahap dan terencana selama kurang lebih lima hari. Mahasiswa KKN mengawali kegiatan dengan mengumpulkan galon bekas dari rumah-rumah warga selama satu hari penuh. Setelah bahan terkumpul, tahap berikutnya adalah proses desain dan pengecatan yang memakan waktu dua hari untuk memastikan media tanam tampil menarik dan estetik. Mahasiswa KKN berharap melalui visual pot yang menarik seperti gambar hewan dan bunga, masyarakat terutama anak-anak menjadi lebih tertarik untuk berkunjung ke masjid dan belajar mengenai pentingnya menanam tanaman herbal. Tahap akhir ditutup dengan proses penanaman selama dua hari hingga seluruh bibit tertata rapi di lahan yang telah disiapkan. Kualitas media tanam menjadi perhatian utama dalam program ini. Mahasiswa KKN memanfaatkan tanah subur yang diambil langsung dari lapangan sekitar komplek, lalu mencampurnya dengan pupuk berkualitas tinggi yang dibeli secara khusus. Tim KKN melakukan pengadaan bibit langsung dari wilayah Kepanjen. Berbagai bibit tanaman obat yang dipilih meliputi pandan, sereh, cabai, terong, dsb. Pemilihan jenis tanaman ini disesuaikan dengan kebutuhan warga komplek, baik untuk keperluan kesehatan herbal maupun sebagai bumbu dapur alami yang bisa diambil manfaatnya sewaktu-waktu.  Inisiatif ini pun mendapat tanggapan positif karena dinilai mampu membuka wawasan warga mengenai pentingnya kembali ke alam. Pak Supadi, salah satu selaku ketua RT menekankan pentingnya kehadiran tanaman obat ini di lingkungan masjid. "Sekarang orang hanya tahu obat medis, padahal kita punya obat herbal yang luar biasa manfaatnya. Coba search di Google apa saja manfaat obat herbal itu, sangat banyak," ujar Pak Supadi saat meninjau lokasi taman galon tersebut. Melalui aksi nyata ini, mahasiswa KKN 09 UIN Malang membuktikan bahwa dengan dedikasi dan kreativitas, barang bekas dapat diubah menjadi aset hijau yang bermanfaat bagi orang banyak.

Thumbnail
4 months ago
Masjid sebagai Pusat Literasi Keluarga: Ikhtiar Mahasiswa KKM 09 UIN Malang Menghidupkan Family Corner melalui Pojok Baca An-Nur

MUHAMMAD BAIHAQY ASH SHIDDIQI

Masjid sejak masa Rasulullah ﷺ tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pembinaan umat, dan ruang interaksi sosial masyarakat. Namun dalam realitas hari ini, fungsi masjid di banyak tempat cenderung menyempit hanya sebagai ruang ritual keagamaan. Aktivitas ibadah berlangsung, tetapi interaksi edukatif keluarga di lingkungan masjid masih sangat minim. Berangkat dari realitas tersebut, mahasiswa KKM 09 UIN Malang melihat adanya potensi besar Masjid An-Nur untuk dikembangkan bukan hanya sebagai tempat shalat berjamaah, tetapi sebagai pusat literasi keluarga. Ide ini kemudian diwujudkan melalui pengembangan Family Corner, yaitu ruang di masjid yang dirancang sebagai tempat interaksi edukatif antara orang tua, anak, dan remaja melalui budaya membaca. Sebagai langkah awal menghidupkan Family Corner tersebut, mahasiswa KKM menginisiasi pembentukan Pojok Baca An-Nur. Melalui gerakan donasi buku yang melibatkan berbagai pihak, berhasil dihimpun sebanyak 290 buku bacaan yang terdiri dari buku anak, pengetahuan umum, kisah islami, dan bacaan edukatif lainnya. Buku-buku ini kemudian ditata di sudut masjid yang mudah dijangkau oleh anak-anak dan jamaah. Menariknya, tim KKM menerapkan konsep "jemput bola" dengan mendatangi langsung rumah-rumah warga untuk mengambil buku yang didonasikan, sehingga memudahkan masyarakat dalam berkontribusi sekaligus mempererat tali silaturahmi antara mahasiswa dan penduduk sekitar. "Kami ingin memastikan bahwa akses berbagi itu mudah. Dengan mendatangi warga satu per satu, kami juga bisa menjalin silaturahmi yang lebih erat sekaligus menjelaskan manfaat dari hadirnya Pojok Baca ini di Masjid An-Nur," ujar ketua KKN Karsanawasena Namun, Pojok Baca ini bukan sekadar rak buku yang diletakkan di sudut masjid. Ia dirancang sebagai embrio Family Corner — ruang yang mendorong terjadinya interaksi literasi di lingkungan masjid. Anak-anak yang datang mengaji dapat membaca sebelum atau sesudah kegiatan, orang tua yang menunggu dapat ikut membaca atau mendampingi anaknya, dan remaja masjid memiliki ruang alternatif kegiatan positif. Literasi yang dibangun bukan hanya bertujuan meningkatkan minat baca anak, tetapi menciptakan kebiasaan literasi dalam keluarga. Masjid menjadi titik temu di mana aktivitas ibadah bertemu dengan aktivitas edukasi keluarga. Orang tua tidak hanya mengantar anak mengaji, tetapi ikut terlibat dalam ekosistem belajar yang tercipta di masjid. Konsep Family Corner ini memperlihatkan bahwa masjid memiliki potensi besar sebagai pusat pembinaan keluarga berbasis komunitas. Dengan adanya Pojok Baca, masjid perlahan dikembalikan pada fungsi peradabannya: tempat ibadah, tempat belajar, dan tempat tumbuhnya budaya ilmu di tengah masyarakat. Inisiatif sederhana ini menunjukkan bahwa penguatan fungsi masjid tidak selalu membutuhkan program besar, tetapi dapat dimulai dari langkah kecil yang berdampak, seperti menyediakan ruang literasi keluarga. Pojok Baca An-Nur menjadi bukti bahwa ketika masjid diberi ruang untuk menjalankan fungsi edukatifnya, maka ia mampu menjadi pusat pembinaan keluarga di lingkungan masyarakat Melalui program ini, mahasiswa KKM 09 UIN Malang berharap Family Corner di Masjid An-Nur dapat terus dikembangkan dan dikelola oleh takmir masjid serta masyarakat setempat, sehingga budaya literasi keluarga di lingkungan masjid dapat terus tumbuh secara berkelanjutan. Karena pada akhirnya, masjid yang hidup bukan hanya masjid yang ramai oleh jamaah shalat, tetapi juga masjid yang ramai oleh aktivitas belajar, membaca, dan tumbuhnya budaya ilmu di tengah keluarga-keluarga muslim.

Thumbnail
4 months ago
Selawat Nariyah dan Bihun Petis: Rutina Ibu-ibu yang Mengikat Kebersamaan Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Selawat Nariyah dan Bihun Petis: Rutina Ibu-ibu yang Mengikat Kebersamaan", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/sa

ABRE RATU WAFA

Kelompanggubug, 20 Januari 2026 Pada Selasa, 20 Januari 2026, kami kembali mengikuti aktivitas keseharian masyarakat Desa Kelompanggubug, khususnya kegiatan rutinan yang dilakukan oleh ibu-ibu desa, yakni Selawat Nariyah atau yang lebih akrab disebut Selawat Nariyah oleh warga setempat. Kegiatan ini sejatinya dilaksanakan setiap hari Senin, namun dalam praktiknya juga menyesuaikan dengan kesepakatan warga. Selawat Nariyah biasanya dimulai setelah waktu Dhuhur, sekitar pukul 12.30 WIS (Waktu Indonesia Setempat). Selama menjalani KKM, kami tercatat sudah tiga hingga empat kali mengikuti kegiatan rutinan ini. Bagi kami, kegiatan tersebut bukan sekadar ibadah bersama, tetapi juga ruang silaturahmi yang hangat antara mahasiswa dan warga desa, khususnya para ibu. Pada pertemuan kali ini, ada momen yang terasa lebih spesial. Setelah selawat selesai dilantunkan, kami diajak rujakan bersama oleh ibu-ibu setempat. Rujakan ini bukan rujak biasa, melainkan kuliner khas yang disebut "Bihun Petis." Awalnya terdengar asing, bahkan sulit dibayangkan rasanya. Namun setelah mencicipinya, kami justru dibuat terkejut karena rasanya sangat nyaman dan nikmat,perpaduan bihun lembut dengan petis yang gurih dan khas. Sambil menikmati Bihun Petis, obrolan pun mengalir panjang. Kami berbincang tentang kehidupan desa, kebiasaan masyarakat Bawean, hingga cerita tentang Malang dan Batu yang merupakan daerah asal salah satu mahasiswa KKM. Percakapan sederhana itu terasa begitu dekat, tanpa sekat, seolah kami sudah lama menjadi bagian dari keluarga besar desa ini. Dari kegiatan Selawat Nariyah hingga rujakan bersama, kami kembali belajar bahwa kebersamaan tidak selalu hadir dalam acara besar. Terkadang, ia tumbuh dari duduk melingkar, doa yang dilantunkan bersama, makanan sederhana, dan obrolan hangat yang penuh canda. Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang membuat KKM bukan sekadar program pengabdian, tetapi juga perjalanan batin yang bermakna.  

Thumbnail
4 months ago
Mahasiswa KKM 109 UIN Malang Hadirkan Energi Baru di TPQ Nurus Salam Desa Klampisan

VEBY ZYLVIANA HASYIM

Mahasiswa KKM 109 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang turut membantu kegiatan belajar mengajar di TPQ Nurus Salam, Desa Klampisan, sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa ini difokuskan pada pendampingan santri dalam membaca dan menulis Al-Qur’an serta penanaman nilai-nilai akhlak dasar. Partisipasi mahasiswa KKM memberikan suasana belajar yang lebih hidup dan interaktif, sehingga santri terlihat lebih antusias mengikuti kegiatan TPQ. Selain membantu tenaga pengajar, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran sosial bagi mahasiswa untuk memahami realitas pendidikan keagamaan di lingkungan desa. Kolaborasi antara TPQ Nurus Salam dan mahasiswa KKM 109 diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an di Desa Klampisan, sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai agen pengabdian di tengah masyarakat.  

Thumbnail
4 months ago
Menumbuhkan Cinta Islam Sejak Dini, Mahasiswa KKM dan Warga Balearjosari Gelar Peringatan Isra' Mi'raj

KHARISMA ANANDA ARIFFANI

Desa Balearjosari, Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) bersama warga desa sukses menggelar rangkaian kegiatan peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Kegiatan yang berlangsung khidmat dan meriah ini dilaksanakan dalam dua agenda utama, yakni perlombaan keagamaan pada hari Jumat dan ditutup dengan Pengajian Akbar pada hari Minggu, Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai keislaman sekaligus mempererat silaturahmi antara mahasiswa dan warga. Rangkaian acara diawali pada hari Jum'at 16 Januari, di mana mahasiswa KKM memfokuskan kegiatan pada pengembangan potensi anak-anak setempat. Suasana riuh penuh semangat mewarnai lokasi acara saat puluhan peserta mengikuti berbagai rangkaian lomba. Adapun kompetisi yang digelar meliputi lomba adzan dengan ketentuan penilaian mengenai suara & makharijul huruf, lomba menghafal surat-surat pendek dengan ketentuan penilaian makharijul huruf & kelancaran bacaan dan lomba mewarnai kaligrafi dengan penilaian mengenai kombinasi warna, kerapian, dan kreativitas. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memeriahkan peringatan hari besar Islam, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap masjid dan Al-Qur'an sejak dini. Puncak peringatan Isra' Mi'raj dilaksanakan pada hari minggu 18 Januari. Mahasiswa KKM bersemangat dengan warga setempat mengadakan pengajian akbar yang dihadiri oleh seluruh golongan masyarakat dari yang muda sampai dengan yang tua. Acara dibuka dengan pra-acara yang menyejukkan hati, yakni pembacaan Diba' dan lantunan Sholawat Nabi, menciptakan suasan keagamaan yang kental, sebelum acara inti dimulai. Acara dipandu langsung oleh mahasiswa KKM yang bertugas sebagai Master of Ceremony Erik Achmad Firdausi dan Diah Ayu Afifah. Kekhusyukan semakin terasa saat Ust. Anas Al Amin melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an (Qiroatul Qur'an) dengan suara emasnya, membuat para jamaah terdiam meresapi makna ayat yang dibacakan. Dalam sambutannya, ketua takmir masjid al-hikmah bapak Setiyono menyampaikan rasa terima kasihnya atas sinergi mahasiswa dan warga dalam menyambut isra' mi'raj. Momen ini menjadi spesial karena takmir masjid tidak hanya memberikan sambutan, melainkan juga memberikan penghargaan khusus. Hadiah diberikan kepada jamaah yang paling rajin beribadah ke masjid serta apresiasi kepada Tahfidzul Qur'an (penghafal Al-Qur'an), sebagai bentuk motivasi agar istiqomah dan selalu semangat dalam memakmurkan masjid. Acara inti diisi dengan Mauidzoh Hasanah oleh penceramah, Dr. KH. Sudirman Nachrowi M.Ag. Dalam ceramahnya, beliau mengupas tuntas hikmah peristiwa Isra' Mi'raj dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari, ditutup dengan doa bersama yang diamini dengan khusyuk oleh seluruh jama'ah. Sebelum acara berakhir, panitia mengumumkan para pemenang lomba adzan, menghafal surat-surat pendek, dan mewarnai kaligrafi yang telah dilaksanakan pada hari Jumat sebelumnya. Wajah-wajah ceria para pemenang saat menerima hadiah menjadi pelengkap kebahagiaan acara tersebut. Rangkaian kegiatan pun ditutup dengan sesi ramah tamah, di mana warga dan mahasiswa KKM saling berbaur menikmati hidangan, mempererat tali silaturahmi, dan menutup perayaan Isra' Mi'raj dengan penuh rasa syukur.