EFTA STEVIO PUTRI WAHYUDI
Kraksaan, Probolinggo --- Maliki Islamic University - KKM Unggulan PSGA 265 UIN Malang menggelar sosialisasi bertajuk "Kenali, Cegah, Hentikan Bullying - Sekolah Ramah Bebas Bullying" di aula SMKN 1 Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung selama 2,5 jam ini melibatkan 79 siswa kelas X dengan fokus pada pengenalan bullying, regulasi emosi, hingga role play interaktif yang membuat siswa memahami dampak perundungan dan bersama-sama berkomitmen untuk mencegahnya. Pengenalan Bullying dan Dampak Psikologis Ahmad Hafizi, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga Kabupaten Probolinggo, menjadi pemateri pertama yang menjelaskan mengenai pengertian bullying, jenis-jenisnya (verbal, fisik, sosial, dan cyber), serta dampak serius perundungan terhadap kesehatan mental siswa. Para siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencatat poin-poin penting yang disampaikan. "Ejekan kecil ternyata bisa menghancurkan mental seseorang," ungkap salah satu siswa. Games "Jeruk Juruk" Cairkan Suasana! Setelah sesi materi yang serius, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking interaktif. Instruktur memimpin permainan "Jeruk Juruk Salak Selak" di mana siswa harus melompat sesuai instruksi: "Jeruk" lompat ke depan, "Juruk" ke belakang, "Salak" ke kanan, dan "Selak" ke kiri. Suasana aula menjadi penuh tawa dan semangat. Siswa laki-laki dan perempuan kompak mengikuti permainan dengan antusias, menghilangkan rasa canggung di antara mereka. "Paling seru! Capek dikit tidak masalah!" seru salah satu siswa sambil tertawa Pemaparan materi “Masa Depan Cerah Tanpa Bullying” Mahasiswa UIN Malang yang tergabung dalam kelompok KKM, membawakan materi kedua mengenai pentingnya menggapai masa depan dan ajakan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Menekankan bahwa SMK bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. "Kalian dapat melanjutkan kuliah dan memiliki karir cemerlang. Namun, jika berada dalam lingkungan yang tidak sehat seperti adanya bullying, hal tersebut dapat merusak fokus dan kesehatan mental," jelasnya. Lalu menambahkan pentingnya menciptakan lingkungan positif sejak dini untuk menghindari trauma jangka panjang. Para siswa tampak antusias dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar jurusan kuliah serta peluang beasiswa. Eksperimen Kacamata Perspektif: Cerah vs Gelap Ranti Sagita, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga, memimpin sesi paling unik dalam kegiatan ini, yaitu role play perspektif menggunakan kacamata. Dua siswa ditunjuk untuk memakai kacamata dengan lensa berbeda: satu dengan lensa cerah (terang) dan satu lagi dengan lensa gelap (hitam). Bu Ranti menampilkan skenario bullying di mana seorang teman diejek karena alasan tertentu. Kepada siswa berkacamata cerah, Bu Ranti bertanya, "Apa yang kamu lihat?" Siswa tersebut menjawab, "Saya melihat teman-teman dengan jelas. Semua terlihat terang. Jika ada teman yang diejek, saya akan menghiburnya." Giliran siswa berkacamata gelap, ia menjawab, "Yang saya lihat hanya kegelapan. Tidak terlihat apa-apa. Jadi jika ada teman yang diejek, saya tidak bisa membantu karena takut terjadi sesuatu." Aula menjadi hening. "Ini adalah perbedaan perspektif," tegas Bu Ranti. "Perspektif gelap membuat kita takut dan pasif. Perspektif cerah membuat kita berani dan menjadi bagian dari solusi." Siswa bertepuk tangan dan banyak yang mengangguk paham. Sesi tanya jawab berlanjut dengan partisipasi aktif dari siswa perempuan, sementara siswa laki-laki yang awalnya malu mulai berani berbicara. "Saya ingin menjadi yang berkacamata cerah," ujar salah satu siswa. Mengapa Sosialisasi Ini Mendesak? Observasi oleh KKM Unggulan PSGA 265 menemukan kasus bullying antarsiswa yang dipicu oleh faktor sosial-psikologis seperti isolasi sosial, perilaku mencari perhatian (caper), dan rasa tidak percaya diri (insecurity). Data menunjukkan bahwa kasus bullying di Probolinggo cukup tinggi. SMKN 4 Kota Probolinggo pernah mencatat 15 siswa menjadi korban bullying pada tahun 2022. Sekolah Berkomitmen Lanjutan Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Kraksaan menyatakan akan membentuk Klub OSIS Anti-Bullying untuk melakukan monitoring berkelanjutan. Wali Kelas X menambahkan bahwa pendekatan games sangat efektif, terutama untuk siswa laki-laki yang cenderung pemalu. "Saya akan melanjutkan dengan aktivitas kompetitif serupa," ujarnya. Tim KKM menyarankan agar sosialisasi serupa dilakukan secara rutin setiap semester. Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo juga direkomendasikan untuk memperluas program ke SMK lain di wilayah tersebut. "Untuk periode berikutnya, dapat ditambahkan pretest dan posttest agar terdapat data kuantitatif yang lebih terukur," tutup Pak Ahmad.
NIMAS IFTHINATUN NABILA
Maliki Islamic University-KKM Unggulan PSGA 265 UIN Malang menggelar sosialisasi bertajuk "Kenali, Cegah, Hentikan Bullying - Sekolah Ramah Bebas Bullying" di aula SMKN 1 Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung selama 2,5 jam ini melibatkan 79 siswa kelas X dengan fokus pada pengenalan bullying, regulasi emosi, hingga role play interaktif yang membuat siswa memahami dampak perundungan dan bersama-sama berkomitmen untuk mencegahnya. "79 siswa siap ikuti sosialisasi anti-bullying" Ahmad Hafizi, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga Kabupaten Probolinggo. Beliau menjelaskan mengenai pengertian bullying, jenis-jenisnya (verbal, fisik, sosial, dan cyber), serta dampak serius perundungan terhadap dampak psikologis siswa. Para siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencatat poin-poin penting yang disampaikan. "Ejekan kecil ternyata bisa menghancurkan mental seseorang," ungkap salah satu siswa. "Pak Ahmad Konselor Puspaga jelaskan tentang bullying" Setelah sesi materi yang serius, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking interaktif. Instruktur memimpin permainan "Jeruk Juruk Salak Selak" di mana siswa harus melompat sesuai instruksi: "Jeruk" lompat ke depan, "Juruk" ke belakang, "Salak" ke kanan, dan "Selak" ke kiri. Suasana aula menjadi penuh tawa dan semangat. Seluruh siswa sangat antusias mengikuti permainan ini, menghilangkan rasa canggung di antara mereka. "Paling seru! Capek dikit tidak masalah!" seru salah satu siswa sambil tertawa. Abror dan Nina, mahasiswa UIN Malang yang tergabung kelompok KKM Unggulan PSGA 265, membawakan materi kedua pentingnya menggapai masa depan yang cerah tanpa bullying dan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Abror menekankan bahwa SMK bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. "Kalian dapat melanjutkan kuliah dan memiliki karir cemerlang. Namun, jika berada dalam lingkungan yang tidak sehat seperti adanya bullying, hal tersebut dapat merusak fokus dan kesehatan mental," jelasnya. Nina menambahkan pentingnya menciptakan lingkungan positif sejak dini untuk menghindari trauma jangka panjang. Para siswa tampak antusias dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar jurusan kuliah serta peluang beasiswa. "Abror & Nina ajarkan regulasi emosi" Ranti Sagita, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga, memimpin sesi paling unik dalam kegiatan ini, yaitu role play perspektif menggunakan kacamata . Dua siswa ditunjuk untuk memakai kacamata dengan lensa berbeda: satu dengan lensa cerah (terang) dan satu lagi dengan lensa gelap (hitam). Bu Ranti menampilkan skenario bullying di mana seorang teman diejek karena alasan tertentu. Kepada siswa berkacamata cerah, Bu Ranti bertanya, "Apa yang kamu lihat?" Siswa tersebut menjawab, "Saya melihat teman-teman dengan jelas. Semua terlihat terang. Jika ada teman yang diejek, saya akan menghiburnya." Giliran siswa berkacamata gelap, ia menjawab, "Yang saya lihat hanya kegelapan. Tidak terlihat apa-apa. Jadi jika ada teman yang diejek, saya tidak bisa membantu karena takut terjadi sesuatu." Aula menjadi hening. "Ini adalah perbedaan perspektif," tegas Bu Ranti. "Perspektif gelap membuat kita takut dan pasif. Perspektif cerah membuat kita berani dan menjadi bagian dari solusi." Siswa bertepuk tangan dan banyak yang mengangguk paham. Sesi tanya jawab berlanjut dengan partisipasi aktif dari siswa perempuan, sementara siswa laki-laki yang awalnya malu mulai berani berbicara. "Saya ingin menjadi yang berkacamata cerah," ujar salah satu siswa. "Siswa jabarkan role play kacamata" Acara ditutup dengan pembagian sertifikat kepada para pemateri. Yang paling berkesan adalah sesi Papan Sticky Notes Anti-Bullying, dan seluruh 79 siswa menuliskan "Saya berjanji tidak akan melakukan bullying" pada sticky note dan menempelkannya di papan besar. Papan tersebut akan dipajang di sekolah sebagai pengingat harian bagi seluruh siswa. "79 siswa tempel janji anti-bullying" Observasi oleh KKM Unggulan PSGA 265 menemukan kasus bullying antarsiswa yang dipicu oleh faktor sosial-psikologis seperti isolasi sosial, perilaku mencari perhatian (caper), dan rasa tidak percaya diri (insecurity). Data menunjukkan bahwa kasus bullying di Probolinggo cukup tinggi. SMKN 4 Kota Probolinggo pernah mencatat 15 siswa menjadi korban bullying pada tahun 2022. Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Kraksaan menyatakan akan membentuk Klub OSIS Anti-Bullying untuk melakukan monitoring berkelanjutan. Wali Kelas X menambahkan bahwa pendekatan games sangat efektif, terutama untuk siswa laki-laki yang cenderung pemalu. "Saya akan melanjutkan dengan aktivitas kompetitif serupa," ujarnya. Tim KKM menyarankan agar sosialisasi serupa dilakukan secara rutin setiap semester. Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo juga direkomendasikan untuk memperluas program ke SMK lain di wilayah tersebut. "Untuk periode berikutnya, dapat ditambahkan pretest dan posttest agar terdapat data kuantitatif yang lebih terukur," tutup Pak Ahmad. "KKM Unggulan PSGA 265 & 79 siswa SMKN 1 Kraksaan"
YENNI FITRIA
Kraksaan, Probolinggo --- Maliki Islamic University - KKM Unggulan PSGA 265 UIN Malang menggelar sosialisasi bertajuk "Kenali, Cegah, Hentikan Bullying - Sekolah Ramah Bebas Bullying" di aula SMKN 1 Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung selama 2,5 jam ini melibatkan 79 siswa kelas X dengan fokus pada pengenalan bullying, regulasi emosi, hingga role play interaktif yang membuat siswa memahami dampak perundungan dan bersama-sama berkomitmen untuk mencegahnya. "79 siswa siap ikuti sosialisasi anti-bullying" Pengenalan Bullying dan Dampak Psikologis Ahmad Hafizi, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga Kabupaten Probolinggo, menjadi pemateri pertama yang menjelaskan mengenai pengertian bullying, jenis-jenisnya (verbal, fisik, sosial, dan cyber), serta dampak serius perundungan terhadap kesehatan mental siswa. Para siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencatat poin-poin penting yang disampaikan. "Ejekan kecil ternyata bisa menghancurkan mental seseorang," ungkap salah satu siswa. "Pak Ahmad Konselor Puspaga jelaskan tentang bullying" Games "Jeruk Juruk" Cairkan Suasana! Setelah sesi materi yang serius, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking interaktif. Instruktur memimpin permainan "Jeruk Juruk Salak Selak" di mana siswa harus melompat sesuai instruksi: "Jeruk" lompat ke depan, "Juruk" ke belakang, "Salak" ke kanan, dan "Selak" ke kiri. Suasana aula menjadi penuh tawa dan semangat. Siswa laki-laki dan perempuan kompak mengikuti permainan dengan antusias, menghilangkan rasa canggung di antara mereka. "Paling seru! Capek dikit tidak masalah!" seru salah satu siswa sambil tertawa Abror & Nina: “Masa Depan Cerah Tanpa Bullying” Abror dan Nina, mahasiswa UIN Malang yang tergabung dalam kelompok KKM, membawakan materi kedua mengenai pentingnya menggapai masa depan dan ajakan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Abror menekankan bahwa SMK bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. "Kalian dapat melanjutkan kuliah dan memiliki karir cemerlang. Namun, jika berada dalam lingkungan yang tidak sehat seperti adanya bullying, hal tersebut dapat merusak fokus dan kesehatan mental," jelasnya. Nina menambahkan pentingnya menciptakan lingkungan positif sejak dini untuk menghindari trauma jangka panjang. Para siswa tampak antusias dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar jurusan kuliah serta peluang beasiswa. "Abror & Nina ajarkan regulasi emosi" Eksperimen Kacamata Perspektif: Cerah vs Gelap Ranti Sagita, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga, memimpin sesi paling unik dalam kegiatan ini, yaitu role play perspektif menggunakan kacamata. Dua siswa ditunjuk untuk memakai kacamata dengan lensa berbeda: satu dengan lensa cerah (terang) dan satu lagi dengan lensa gelap (hitam). Bu Ranti menampilkan skenario bullying di mana seorang teman diejek karena alasan tertentu. Kepada siswa berkacamata cerah, Bu Ranti bertanya, "Apa yang kamu lihat?" Siswa tersebut menjawab, "Saya melihat teman-teman dengan jelas. Semua terlihat terang. Jika ada teman yang diejek, saya akan menghiburnya." Giliran siswa berkacamata gelap, ia menjawab, "Yang saya lihat hanya kegelapan. Tidak terlihat apa-apa. Jadi jika ada teman yang diejek, saya tidak bisa membantu karena takut terjadi sesuatu." Aula menjadi hening. "Ini adalah perbedaan perspektif," tegas Bu Ranti. "Perspektif gelap membuat kita takut dan pasif. Perspektif cerah membuat kita berani dan menjadi bagian dari solusi." Siswa bertepuk tangan dan banyak yang mengangguk paham. Sesi tanya jawab berlanjut dengan partisipasi aktif dari siswa perempuan, sementara siswa laki-laki yang awalnya malu mulai berani berbicara. "Saya ingin menjadi yang berkacamata cerah," ujar salah satu siswa. "Siswa jabarkan role play kacamata" Komitmen Tertulis di Sticky Notes Anti-Bullying Acara ditutup dengan pembagian sertifikat kepada para pemateri. Yang paling berkesan adalah sesi Papan Sticky Notes Anti-Bullying, di mana seluruh 79 siswa menuliskan janji "Saya berjanji tidak akan melakukan bullying" pada sticky note dan menempelkannya di papan besar. Papan tersebut akan dipajang di sekolah sebagai pengingat harian bagi seluruh siswa. "79 siswa tempel janji anti-bullying" Mengapa Sosialisasi Ini Mendesak? Observasi oleh KKM Unggulan PSGA 265 menemukan kasus bullying antarsiswa yang dipicu oleh faktor sosial-psikologis seperti isolasi sosial, perilaku mencari perhatian (caper), dan rasa tidak percaya diri (insecurity). Data menunjukkan bahwa kasus bullying di Probolinggo cukup tinggi. SMKN 4 Kota Probolinggo pernah mencatat 15 siswa menjadi korban bullying pada tahun 2022. Sekolah Berkomitmen Lanjutan Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Kraksaan menyatakan akan membentuk Klub OSIS Anti-Bullying untuk melakukan monitoring berkelanjutan. Wali Kelas X menambahkan bahwa pendekatan games sangat efektif, terutama untuk siswa laki-laki yang cenderung pemalu. "Saya akan melanjutkan dengan aktivitas kompetitif serupa," ujarnya. Tim KKM menyarankan agar sosialisasi serupa dilakukan secara rutin setiap semester. Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo juga direkomendasikan untuk memperluas program ke SMK lain di wilayah tersebut. "Untuk periode berikutnya, dapat ditambahkan pretest dan posttest agar terdapat data kuantitatif yang lebih terukur," tutup Pak Ahmad. "KKM Unggulan PSGA 265 & 79 siswa SMKN 1 Kraksaan"
ISYWATUDDIYANAH
https://www.kompasiana.com/qusayali5386/69698dd1ed6415454402b6b2/menanam-harapan-untuk-masa-depan-aksi-penanaman-bibit-buah-oleh-kkm-kelompok-86-senandika-desa# Menanam Harapan untuk Masa Depan: Aksi Penanaman Bibit Buah oleh KKM Kelompok 86 Senandika Desa 16 Januari 2026 08:01 Diperbarui: 16 Januari 2026 Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Mahasiswa kkm 86 bersama perangkat desa melakukan penanaman bibit Sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat, Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 86 Senandika Desa Wonorejo melaksanakan kegiatan penanaman bibit buah yang bertempat di Bukit Dusun Pusung, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Kegiatan ini dilaksanakan pada 15 Januari 2026 dan menjadi salah satu program kerja unggulan kelompok dalam mendukung pelestarian lingkungan desa. Kegiatan penanaman dilakukan secara gotong royong oleh mahasiswa KKM dengan melibatkan masyarakat setempat. Lokasi perbukitan dipilih sebagai upaya penghijauan lahan serta pencegahan kerusakan lingkungan. Berbagai jenis bibit buah ditanam dalam kegiatan ini, di antaranya bibit mangga, sirsak, kopi, palem, serta beberapa jenis tanaman lain yang dinilai sesuai dengan kondisi tanah dan iklim wilayah tersebut. penanaman bibit oleh mahasiswa kkm Selain bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan, kegiatan ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat desa. Tanaman buah yang ditanam berpotensi menjadi sumber pangan, memperbaiki kualitas lingkungan perbukitan, serta membuka peluang ekonomi di masa depan apabila dikelola secara berkelanjutan. Perwakilan KKM Kelompok 86 Senandika Desa Wonorejo menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pembangunan desa. Penanaman bibit buah ini tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai upaya menanam kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Antusiasme masyarakat terlihat dari keterlibatan aktif dalam proses penanaman dan dukungan terhadap keberlanjutan program ini. Melalui kegiatan penanaman bibit buah di Bukit Dusun Pusung, mahasiswa KKM berharap dapat meninggalkan dampak positif yang berkelanjutan serta menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan desa yang hijau, lestari, dan bermanfaat bagi generasi mendatang. Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Tag: kkmuinmalang penanaman bibit bibit tanaman kkn