MAULA DAWILAH
Dusun Sukamade, yang terletak di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, merupakan desa terpencil didalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Terkenal sebagai habitat penyu, dusun ini menawarkan pengalaman ekowisata konservasi penyu dan petualangan alam yang terisolasi tanpa sinyal telepon. Akses menuju dusun ini pun ekstrem, membutuhkan kendaraan 4x4, dan melintasi sungai. Ekonomi di Dusun Sukamade bertumpu pada kombinasi unik antara ekowisata berbasis konversi dan pertanian/perkebunan. Meskipun Dusun ini terpencil namun potensi alam yang dimiliki tinggi. Upaya penguatan ekonomi masyarakat terus dilakukan di Dusun Sukamade, Desa Sarongan, Banyuwangi, kawasan yang berada dalam lingkup Taman Nasional Meru Betiri. Senin malam, pukul 19.00 hingga 21.00 WIB, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar sosialisasi UMKM yang bertempat di ruang kelas SMPN 3 Pesanggaran Satu Atap. Kegiatan ini dihadiri oleh pelaku UMKM setempat dengan latar belakang usaha yang beragam, mulai dari sektor pariwisata hingga produksi hasil kebun. Sosialisasi ini melibatkan Dosen Pendamping Lapangan, Ryan Basith Fasih Khan, SE., MM, sebagai narasumber, Kepala Dusun Sukamade Bapak Fery, serta warga yang selama ini menjalankan usaha mandiri. Meski dilaksanakan pada malam hari, kegiatan berlangsung dengan suasana hangat dan partisipatif. Warga tampak antusias mengikuti diskusi yang membahas peluang pengembangan usaha di tengah keterbatasan wilayah. Peserta sosialisasi berasal dari berbagai sektor UMKM lokal. Beberapa di antaranya merupakan pelaku usaha wisata pelepasan penyu, penjual aksesori bertema penyu, produsen kerupuk pakis, warung setempat serta warga yang bergerak di bidang perkebunan seperti kopi dan karet. Ragam usaha ini menunjukkan bahwa Sukamade memiliki potensi ekonomi yang besar, terutama karena dikenal sebagai kawasan wisata alam yang menarik wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara. Dalam diskusi juga mengungkap masalah lain yang cukup krusial. Sebagian besar warga Sukamade terikat dengan PT Sukamade Baru sebagai pengelola lahan. Kondisi ini berdampak pada terbatasnya ruang gerak warga dalam mengelola dan menjual hasil bumi mereka. Ketika produk perkebunan siap dijual, warga kerap terikat dengan harga yang ditentukan tengkulak, sehingga posisi tawar pelaku UMKM menjadi sangat lemah. Secara analitis, kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan UMKM di Sukamade tidak hanya berkaitan dengan kemampuan produksi, tetapi juga struktur ekonomi yang membatasi kemandirian warga. Tanpa akses pasar yang terbuka dan kelembagaan ekonomi yang kuat, potensi UMKM sulit berkembang secara optimal. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penguatan UMKM di Sukamade membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Tidak hanya soal infrastruktur dan pasar, tetapi juga soal membangun semangat dan kepercayaan diri warga untuk mengembangkan usaha mereka. Sosialisasi UMKM ini menjadi langkah awal untuk membuka ruang dialog dan merumuskan solusi bersama, agar potensi ekonomi Sukamade dapat tumbuh seiring dengan keberlanjutan wilayahnya sebagai kawasan wisata alam.
AMEYLIA DESY CANTIKA SARI
Kraksaan, Probolinggo --- Maliki Islamic University - KKM Unggulan PSGA 265 UIN Malang menggelar sosialisasi bertajuk "Kenali, Cegah, Hentikan Bullying - Sekolah Ramah Bebas Bullying" di aula SMKN 1 Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung selama 2,5 jam ini melibatkan 79 siswa kelas X dengan fokus pada pengenalan bullying, regulasi emosi, hingga role play interaktif yang membuat siswa memahami dampak perundungan dan bersama-sama berkomitmen untuk mencegahnya. "79 siswa siap ikuti sosialisasi anti-bullying" Pengenalan Bullying dan Dampak Psikologis Ahmad Hafizi, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga Kabupaten Probolinggo, menjadi pemateri pertama yang menjelaskan mengenai pengertian bullying, jenis-jenisnya (verbal, fisik, sosial, dan cyber), serta dampak serius perundungan terhadap kesehatan mental siswa. Para siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencatat poin-poin penting yang disampaikan. "Ejekan kecil ternyata bisa menghancurkan mental seseorang," ungkap salah satu siswa. "Pak Ahmad Konselor Puspaga jelaskan tentang bullying" Games "Jeruk Juruk" Cairkan Suasana! Setelah sesi materi yang serius, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking interaktif. Instruktur memimpin permainan "Jeruk Juruk Salak Selak" di mana siswa harus melompat sesuai instruksi: "Jeruk" lompat ke depan, "Juruk" ke belakang, "Salak" ke kanan, dan "Selak" ke kiri. Suasana aula menjadi penuh tawa dan semangat. Siswa laki-laki dan perempuan kompak mengikuti permainan dengan antusias, menghilangkan rasa canggung di antara mereka. "Paling seru! Capek dikit tidak masalah!" seru salah satu siswa sambil tertawa Abror & Nina: “Masa Depan Cerah Tanpa Bullying” Abror dan Nina, mahasiswa UIN Malang yang tergabung dalam kelompok KKM, membawakan materi kedua mengenai pentingnya menggapai masa depan dan ajakan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Abror menekankan bahwa SMK bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. "Kalian dapat melanjutkan kuliah dan memiliki karir cemerlang. Namun, jika berada dalam lingkungan yang tidak sehat seperti adanya bullying, hal tersebut dapat merusak fokus dan kesehatan mental," jelasnya. Nina menambahkan pentingnya menciptakan lingkungan positif sejak dini untuk menghindari trauma jangka panjang. Para siswa tampak antusias dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar jurusan kuliah serta peluang beasiswa. "Abror & Nina ajarkan regulasi emosi" Eksperimen Kacamata Perspektif: Cerah vs Gelap Ranti Sagita, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga, memimpin sesi paling unik dalam kegiatan ini, yaitu role play perspektif menggunakan kacamata. Dua siswa ditunjuk untuk memakai kacamata dengan lensa berbeda: satu dengan lensa cerah (terang) dan satu lagi dengan lensa gelap (hitam). Bu Ranti menampilkan skenario bullying di mana seorang teman diejek karena alasan tertentu. Kepada siswa berkacamata cerah, Bu Ranti bertanya, "Apa yang kamu lihat?" Siswa tersebut menjawab, "Saya melihat teman-teman dengan jelas. Semua terlihat terang. Jika ada teman yang diejek, saya akan menghiburnya." Giliran siswa berkacamata gelap, ia menjawab, "Yang saya lihat hanya kegelapan. Tidak terlihat apa-apa. Jadi jika ada teman yang diejek, saya tidak bisa membantu karena takut terjadi sesuatu." Aula menjadi hening. "Ini adalah perbedaan perspektif," tegas Bu Ranti. "Perspektif gelap membuat kita takut dan pasif. Perspektif cerah membuat kita berani dan menjadi bagian dari solusi." Siswa bertepuk tangan dan banyak yang mengangguk paham. Sesi tanya jawab berlanjut dengan partisipasi aktif dari siswa perempuan, sementara siswa laki-laki yang awalnya malu mulai berani berbicara. "Saya ingin menjadi yang berkacamata cerah," ujar salah satu siswa. "Siswa jabarkan role play kacamata" Komitmen Tertulis di Sticky Notes Anti-Bullying Acara ditutup dengan pembagian sertifikat kepada para pemateri. Yang paling berkesan adalah sesi Papan Sticky Notes Anti-Bullying, di mana seluruh 79 siswa menuliskan janji "Saya berjanji tidak akan melakukan bullying" pada sticky note dan menempelkannya di papan besar. Papan tersebut akan dipajang di sekolah sebagai pengingat harian bagi seluruh siswa. "79 siswa tempel janji anti-bullying" Mengapa Sosialisasi Ini Mendesak? Observasi oleh KKM Unggulan PSGA 265 menemukan kasus bullying antarsiswa yang dipicu oleh faktor sosial-psikologis seperti isolasi sosial, perilaku mencari perhatian (caper), dan rasa tidak percaya diri (insecurity). Data menunjukkan bahwa kasus bullying di Probolinggo cukup tinggi. SMKN 4 Kota Probolinggo pernah mencatat 15 siswa menjadi korban bullying pada tahun 2022. Sekolah Berkomitmen Lanjutan Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Kraksaan menyatakan akan membentuk Klub OSIS Anti-Bullying untuk melakukan monitoring berkelanjutan. Wali Kelas X menambahkan bahwa pendekatan games sangat efektif, terutama untuk siswa laki-laki yang cenderung pemalu. "Saya akan melanjutkan dengan aktivitas kompetitif serupa," ujarnya. Tim KKM menyarankan agar sosialisasi serupa dilakukan secara rutin setiap semester. Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo juga direkomendasikan untuk memperluas program ke SMK lain di wilayah tersebut. "Untuk periode berikutnya, dapat ditambahkan pretest dan posttest agar terdapat data kuantitatif yang lebih terukur," tutup Pak Ahmad. "KKM Unggulan PSGA 265 & 79 siswa SMKN 1 Kraksaan" Created by: Muhammad Abror Taqiyyuddin & Rizqi Nurfadilah Khoirina
MUHAMMAD HANNAN ALI
Pembukaan kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang oleh Kelompok 12 Bhavanaloka dilaksanakan pada 23 Desember 2025 di Aula Kantor Balai Desa Sidorejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya secara resmi proses pengabdian mahasiswa di tengah kehidupan masyarakat desa. Suasana pembukaan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, mencerminkan semangat kebersamaan serta kesiapan untuk membangun kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam pelaksanaan program KKM.
TRIYAS APRILIA LATHIFAH
Kelompok KKM 262 PSGAD UIN Malang melakukan kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) pada 21-27 Januari 2026. Kegiatan ini sebagai bentuk keterlibatan mahasiswa KKM dalam mendukung upaya perlindungan perempuan dan anak melalui penguatan akses informasi layanan PPA di Kecamatan Pakis dan Tumpang. Pemindahan lokasi kantor UPTD PPA Kabupaten Malang ”yang terbilang baru” menjadi latar belakang kegiatan ini, karena sebelumnya berada di Kecamatan Klojen, Kota Malang. Kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA bertujuan untuk mengenalkan layanan UPTD PPA DP3A Kabupaten Malang ke 13 sekolah di kecamatan Pakis dan Tumpang. Kegiatan ini sekaligus menjadikan sekolah sebagai sasaran utama pengenalan agar informasi tersebut dapat menjangkau seluruh warga sekolah apabila membutuhkan bantuan dari UPTD PPA DP3A Kabupaten Malang. Selain itu, kegiatan dimaksudkan untuk membuka akses rujukan bantuan jika sekolah membutuhkan bantuan oleh yang lebih profesional, sehingga pihak sekolah dan siswa memiliki alternatif layanan pendampingan di luar wewenang sekolah. Bentuk pelaksanaan pengenalan layanan UPTD PPA Kabupaten Malang dilakukan melalui pemberian 1 paket brosur dan pemasangan poster yang disesuaikan dengan jenjang sekolah. Satu paket brosur terdiri dari lima tema yang berbeda. brosur pertama memuat informasi dasar tentang jenis layanan UPTD PPA Kabupaten Malang, serta kontak pengaduan. Brosur kedua, mengenalkan BimWin yaitu aplikasi bimbingan pranikah digital yang dikembangkan sebagai transformasi dari bimbingan pernikahan yang sebelumnya dilakukan di Kantor Urusan Agama. Brosur ketiga berisi pesan edukatif untuk menguatkan peran perempuan melalui gerakan suara dan aksi perempuan pelopor. Brosur keempat mengenalkan fasilitas ruang laktasi (mom’s corner) beserta kegunaannya. Sementara brosur kelima memuat informasi tentang fasilitas ruang aman bermain untuk anak-anak. Selain brosur, mahasiswa KKM UIN Malang juga menyerahkan poster yang isi pesannya telah disesuaikan dengan jenjang sekolah antara SMP dan SMA. Isi poster tersebut juga beragam, mulai dari poster berisi motivasi, edukasi cara menghadapi perasaan cemas, bingung, meragukan diri sendiri dan hati terasa berat, pesan bahwa cerita setiap anak itu penting, hingga edukasi tentang perempuan berdaya sebagai pondasi bangsa. Poster dipasang di mading sekolah, sedangkan brosur diserahkan langsung kepada pihak sekolah untuk ditindaklanjuti agar informasinya dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga sekolah, baik siswa, guru, maupun karyawan. Salah satu sekolah yang dituju adalah SMPN 2 Pakis. Ibu Laily Nurfarida, S.E., selaku wakil kepala sekolah bagian kurikulum memberikan respon yang positif terhadap kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA DP3A Kabupaten Malang. Pihak sekolah menilai kegiatan ini bermanfaat karena sebelumnya belum mengetahui secara pasti lokasi kantor UPTD PPA serta mengalami kesulitan mencari pemateri untuk edukasi materi perlindungan anak. Pihak SMPN 2 Pakis menyambut baik kegiatan penyebaran poster dan brosur, beliau menyatakan, ”Kalau saya sangat positif sekali alhamdulillah, karena kita juga nggak tahu adanya kantor tersebut disini, padahal itu dekat sekali dengan kita. Jadi dengan menginformasikan layanan kantor ini kan kita tahu, oh ternyata sekarang sudah dekat. Ketika ada apa-apa kita bisa konsultasi juga…”. Pihak sekolah SMPN 2 Pakis juga menyampaikan harapannya terhadap layanan UPTD PPA Kabupaten Malang agar dapat mengadakan edukasi via online, beliau menyatakan “Mungkin misalkan pihak UPT PPA DP3A Kabupaten Malang memiliki situs, nanti bisa memberikan edukasi-edukasi terkait kekerasan secara online. Kebetulan kan siswa sulit lepas dari hp, sehingga anak-anak bisa melihat melalui situs atau media sosial tersebut. Sehingga anak-anak menyadari apakah perilakunya termasuk perundungan dan sebagainya”. Respon positif juga disampaikan oleh pihak SMAN 1 Tumpang. Pihak sekolah menilai informasi layanan UPTD PPA Kabupaten Malang merupakan hal yang berharga dan relevan dengan kondisi sekolah, mengingat mayoritas siswa di SMAN 1 Tumpang adalah perempuan. Pihak SMAN 1 Tumpang menyampaikan, “Terima kasih yaa, saya pastikan ini sesuatu yang sangat berharga bagi kami. Dengan adanya informasi seperti ini, setidaknya kami dari sekolah bisa banyak belajar terkait pemberdayaan perempuan. Bagaimanapun juga siswa kami mayoritas adalah perempuan, sehingga dari sini kami bisa belajar bagaimana mengantisipasi dan menentukan langkah yang seharusnya dilakukan. Judulnya di sini sudah jelas, bukan hanya tentang menjadi perempuan, tetapi bagaimana berusaha menjadi perempuan yang tangguh. Tangguh itu pemahamannya luas. Saya membaca sepintas, tetapi sudah menarik dan justru menimbulkan banyak pertanyaan”. Lebih lanjut, pihak sekolah juga menyampaikan rencana tindak lanjut setelah diterimanya informasi tersebut, salah satunya dengan menghadirkan pemateri yang relevan dengan perlindungan perempuan dan anak sesuai dengan kondisi siswa. “Sepintas saya justru ingin mendatangkan pemateri. Materinya nanti bisa disesuaikan dengan kondisi siswa, karena ada banyak hal terkait perlindungan dan pemberdayaan perempuan serta anak-anak yang perlu disampaikan di sekolah ini”. Kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA Kabupaten Malang ini menjadi pengalaman belajar bagi mahasiswa KKM PSGAD 262 UIN Malang dalam memahami pentingnya peran sederhana di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga belajar melihat secara langsung bagaimana isu perlindungan perempuan dan anak direspons oleh lingkungan sekolah. Respons positif dari pihak sekolah dalam bentuk ketertarikan untuk mempelajari lebih lanjut layanan UPTD PPA serta harapan akan adanya tindak lanjut edukasi, menunjukkan bahwa informasi yang disampaikan relevan dengan kebutuhan sekolah. Bagi mahasiswa, pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa kontribusi kecil seperti memperkenalkan layanan dan membuka jalur komunikasi dapat menjadi langkah awal yang bermakna dalam mendukung upaya perlindungan perempuan dan anak.
KARTIKA MAULIDA
Kraksaan, Probolinggo --- Universitas Islam Maliki - KKM Unggulan PSGA 265 UIN Malang mengadakan sosialisasi bertajuk "Kenali, Cegah, Hentikan Bullying - Sekolah Ramah Bebas Bullying" di aula SMKN 1 Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada hari Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung selama 2,5 jam ini melibatkan 79 siswa kelas X dengan fokus pada pengenalan bullying, regulasi emosi, hingga role play interaktif yang membuat siswa memahami dampak perundungan dan bersama-sama berkomitmen untuk mencegahnya "79 siswa siap ikuti sosialisasi anti-bullying" Pengenalan Bullying dan Dampak Psikologis Ahmad Hafizi, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga Kabupaten Probolinggo, menjadi pemateri pertama yang menjelaskan mengenai pengertian bullying, jenis-jenisnya (verbal, fisik, sosial, dan cyber), serta dampak perundungan serius terhadap kesehatan mental siswa. Para siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencatat poin-poin penting yang disampaikan. “Ejekan kecil ternyata bisa menghancurkan mental seseorang,” ungkap salah satu siswa. "Pak Ahmad Konselor Puspaga jelaskan tentang bullying" Games "Jeruk Juruk" Cairkan Suasana! Setelah sesi materi yang serius, kegiatan dilanjutkan dengan icebreaking interaktif. Instruktur memimpin permainan "Jeruk Juruk Salak Selak" di mana siswa harus melompat sesuai instruksi: "Jeruk" lompat ke depan, "Juruk" ke belakang, "Salak" ke kanan, dan "Selak" ke kiri. Suasana aula menjadi penuh tawa dan semangat. Siswa laki-laki dan perempuan kompak mengikuti permainan dengan antusias, menghilangkan rasa canggung di antara mereka. "Paling seru! Capek dikit tidak masalah!" seru salah satu siswa sambil tertawa Abror & Nina: “Masa Depan Cerah Tanpa Bullying” Abror dan Nina, mahasiswa UIN Malang yang tergabung dalam kelompok KKM, membawakan materi kedua mengenai pentingnya menggapai masa depan dan ajakan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Abror menekankan bahwa SMK bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. “Kalian dapat melanjutkan kuliah dan memiliki karir yang cemerlang. Namun, jika berada di lingkungan yang tidak sehat seperti adanya bullying, hal tersebut dapat merusak fokus dan kesehatan mental,” jelasnya. Nina menambahkan pentingnya menciptakan lingkungan positif sejak dini untuk menghindari trauma jangka panjang. Para siswa tampak antusias dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar jurusan kuliah serta peluang beasiswa. "Abror & Nina membuka regulasi emosi" Eksperimen Kacamata Perspektif: Cerah vs Gelap Ranti Sagita, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga, memimpin sesi paling unik dalam kegiatan ini, yaitu role play perspektif menggunakan kacamata. Dua siswa ditunjuk untuk memakai kacamata dengan lensa berbeda: satu dengan lensa cerah (terang) dan satu lagi dengan lensa gelap (hitam). Bu Ranti menampilkan skenario bullying di mana seorang teman diejek karena alasan tertentu. Kepada siswa berkacamata cerah, Bu Ranti bertanya, “Apa yang kamu lihat?” Siswa tersebut menjawab, "Saya melihat teman-teman dengan jelas. Semua terlihat terang. Jika ada teman yang diejek, saya akan menghiburnya." Giliran siswa berkacamata gelap, ia menjawab, "Yang saya lihat hanya kegelapan. Tidak terlihat apa-apa. Jadi jika ada teman yang diejek, saya tidak bisa membantu karena takut terjadi sesuatu." Aula menjadi hening. “Ini adalah perspektif yang berbeda,” tegas Bu Ranti. “Perspektif gelap membuat kita takut dan pasif. Perspektif cerah membuat kita berani dan menjadi bagian dari solusi.” Siswa mengepalkan tangan dan banyak yang mengangguk paham. Sesi tanya jawab dilanjutkan dengan partisipasi aktif dari siswa perempuan, sementara siswa laki-laki yang awalnya malu mulai berani berbicara. “Saya ingin menjadi yang berkacamata cerah,” ujar salah satu siswa. “Siswa jabarkan role play kacamata” Komitmen Tertulis di Sticky Notes Anti-Bullying Acara ditutup dengan pembagian sertifikat kepada para pemateri. Yang paling berkesan adalah sesi Papan Sticky Notes Anti-Bullying, di mana seluruh 79 siswa menuliskan janji "Saya berjanji tidak akan melakukan bullying" pada sticky note dan menempelkannya di papan besar. Papan tersebut akan dipajang di sekolah sebagai pengingat harian bagi seluruh siswa. "79 siswa tempel janji anti perundungan" Mengapa Sosialisasi Ini Mendesak? Observasi oleh KKM Unggulan PSGA 265 menemukan kasus bullying antarsiswa yang dipicu oleh faktor sosial-psikologis seperti isolasi sosial, perilaku mencari perhatian (caper), dan rasa tidak percaya diri (insecurity). Data menunjukkan bahwa kasus bullying di Probolinggo cukup tinggi. SMKN 4 Kota Probolinggo pernah mencatat 15 siswa menjadi korban bullying pada tahun 2022. Sekolah Berkomitmen Lanjutan Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Kraksaan menyatakan akan membentuk Klub OSIS Anti-Bullying untuk melakukan pemantauan berkelanjutan. Wali Kelas X menambahkan bahwa pendekatan permainan sangat efektif, terutama untuk siswa laki-laki yang cenderung pemalu. "Saya akan melanjutkan dengan aktivitas kompetitif serupa," instruksi Tim KKM menyarankan agar sosialisasi serupa dilakukan secara rutin setiap semester. Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo juga direkomendasikan untuk memperluas program ke SMK lain di wilayah tersebut. “Untuk periode berikutnya, dapat ditambahkan pretest dan posttest agar terdapat data kuantitatif yang lebih terukur,” tutup Pak Ahmad. “KKM Unggulan PSGA 265 & 79 siswa SMKN 1 Kraksaan” Dibuat oleh: Muhammad Abror Taqiyyuddin & Rizqi Nurfadilah Khoirina
MOHAMMAD ANBIYA MAHARDIKA
Kelompok KKM 262 PSGAD UIN Malang melakukan kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) pada 21-27 Januari 2026. Kegiatan ini sebagai bentuk keterlibatan mahasiswa KKM dalam mendukung upaya perlindungan perempuan dan anak melalui penguatan akses informasi layanan PPA di Kecamatan Pakis dan Tumpang. Pemindahan lokasi kantor UPTD PPA Kabupaten Malang ”yang terbilang baru” menjadi latar belakang kegiatan ini, karena sebelumnya berada di Kecamatan Klojen, Kota Malang. Kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA bertujuan untuk mengenalkan layanan UPTD PPA DP3A Kabupaten Malang ke 13 sekolah di kecamatan Pakis dan Tumpang. Kegiatan ini sekaligus menjadikan sekolah sebagai sasaran utama pengenalan agar informasi tersebut dapat menjangkau seluruh warga sekolah apabila membutuhkan bantuan dari UPTD PPA DP3A Kabupaten Malang. Selain itu, kegiatan dimaksudkan untuk membuka akses rujukan bantuan jika sekolah membutuhkan bantuan oleh yang lebih profesional, sehingga pihak sekolah dan siswa memiliki alternatif layanan pendampingan di luar wewenang sekolah. Bentuk pelaksanaan pengenalan layanan UPTD PPA Kabupaten Malang dilakukan melalui pemberian 1 paket brosur dan pemasangan poster yang disesuaikan dengan jenjang sekolah. Satu paket brosur terdiri dari lima tema yang berbeda. brosur pertama memuat informasi dasar tentang jenis layanan UPTD PPA Kabupaten Malang, serta kontak pengaduan. Brosur kedua, mengenalkan BimWin yaitu aplikasi bimbingan pranikah digital yang dikembangkan sebagai transformasi dari bimbingan pernikahan yang sebelumnya dilakukan di Kantor Urusan Agama. Brosur ketiga berisi pesan edukatif untuk menguatkan peran perempuan melalui gerakan suara dan aksi perempuan pelopor. Brosur keempat mengenalkan fasilitas ruang laktasi (mom’s corner) beserta kegunaannya. Sementara brosur kelima memuat informasi tentang fasilitas ruang aman bermain untuk anak-anak. Selain brosur, mahasiswa KKM UIN Malang juga menyerahkan poster yang isi pesannya telah disesuaikan dengan jenjang sekolah antara SMP dan SMA. Isi poster tersebut juga beragam, mulai dari poster berisi motivasi, edukasi cara menghadapi perasaan cemas, bingung, meragukan diri sendiri dan hati terasa berat, pesan bahwa cerita setiap anak itu penting, hingga edukasi tentang perempuan berdaya sebagai pondasi bangsa. Poster dipasang di mading sekolah, sedangkan brosur diserahkan langsung kepada pihak sekolah untuk ditindaklanjuti agar informasinya dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga sekolah, baik siswa, guru, maupun karyawan. Salah satu sekolah yang dituju adalah SMPN 2 Pakis. Ibu Laily Nurfarida, S.E., selaku wakil kepala sekolah bagian kurikulum memberikan respon yang positif terhadap kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA DP3A Kabupaten Malang. Pihak sekolah menilai kegiatan ini bermanfaat karena sebelumnya belum mengetahui secara pasti lokasi kantor UPTD PPA serta mengalami kesulitan mencari pemateri untuk edukasi materi perlindungan anak. Pihak SMPN 2 Pakis menyambut baik kegiatan penyebaran poster dan brosur, beliau menyatakan, ”Kalau saya sangat positif sekali alhamdulillah, karena kita juga nggak tahu adanya kantor tersebut disini, padahal itu dekat sekali dengan kita. Jadi dengan menginformasikan layanan kantor ini kan kita tahu, oh ternyata sekarang sudah dekat. Ketika ada apa-apa kita bisa konsultasi juga…”. Pihak sekolah SMPN 2 Pakis juga menyampaikan harapannya terhadap layanan UPTD PPA Kabupaten Malang agar dapat mengadakan edukasi via online, beliau menyatakan “Mungkin misalkan pihak UPT PPA DP3A Kabupaten Malang memiliki situs, nanti bisa memberikan edukasi-edukasi terkait kekerasan secara online. Kebetulan kan siswa sulit lepas dari hp, sehingga anak-anak bisa melihat melalui situs atau media sosial tersebut. Sehingga anak-anak menyadari apakah perilakunya termasuk perundungan dan sebagainya”. Respon positif juga disampaikan oleh pihak SMAN 1 Tumpang. Pihak sekolah menilai informasi layanan UPTD PPA Kabupaten Malang merupakan hal yang berharga dan relevan dengan kondisi sekolah, mengingat mayoritas siswa di SMAN 1 Tumpang adalah perempuan. Pihak SMAN 1 Tumpang menyampaikan, “Terima kasih yaa, saya pastikan ini sesuatu yang sangat berharga bagi kami. Dengan adanya informasi seperti ini, setidaknya kami dari sekolah bisa banyak belajar terkait pemberdayaan perempuan. Bagaimanapun juga siswa kami mayoritas adalah perempuan, sehingga dari sini kami bisa belajar bagaimana mengantisipasi dan menentukan langkah yang seharusnya dilakukan. Judulnya di sini sudah jelas, bukan hanya tentang menjadi perempuan, tetapi bagaimana berusaha menjadi perempuan yang tangguh. Tangguh itu pemahamannya luas. Saya membaca sepintas, tetapi sudah menarik dan justru menimbulkan banyak pertanyaan”. Lebih lanjut, pihak sekolah juga menyampaikan rencana tindak lanjut setelah diterimanya informasi tersebut, salah satunya dengan menghadirkan pemateri yang relevan dengan perlindungan perempuan dan anak sesuai dengan kondisi siswa. “Sepintas saya justru ingin mendatangkan pemateri. Materinya nanti bisa disesuaikan dengan kondisi siswa, karena ada banyak hal terkait perlindungan dan pemberdayaan perempuan serta anak-anak yang perlu disampaikan di sekolah ini”. Kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA Kabupaten Malang ini menjadi pengalaman belajar bagi mahasiswa KKM PSGAD 262 UIN Malang dalam memahami pentingnya peran sederhana di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga belajar melihat secara langsung bagaimana isu perlindungan perempuan dan anak direspons oleh lingkungan sekolah. Respons positif dari pihak sekolah dalam bentuk ketertarikan untuk mempelajari lebih lanjut layanan UPTD PPA serta harapan akan adanya tindak lanjut edukasi, menunjukkan bahwa informasi yang disampaikan relevan dengan kebutuhan sekolah. Bagi mahasiswa, pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa kontribusi kecil seperti memperkenalkan layanan dan membuka jalur komunikasi dapat menjadi langkah awal yang bermakna dalam mendukung upaya perlindungan perempuan dan anak.