NEYLLA CAHYANIAR FIRNAMUCHID
Warga Sawojajar kini memiliki “rumah curhat” baru yang terpercaya. Bertempat di Masjid Ainul Yaqin, layanan konsultasi bernama Family Corner resmi diluncurkan pada Selasa (27/1). Program inovatif ini lahir berkat kerja sama apik antara takmir masjid dan mahasiswa KKM 19 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tidak sekadar seremonial, acara ini menjadi titik awal pendampingan keluarga yang serius. Renata Dwi Yasarah melaporkan bahwa pelantikan pengurus dilakukan demi memastikan warga memiliki tempat mengadu yang dikelola secara profesional saat menghadapi masalah domestik. Prof. Dr. Hj. Mufidah Cholil, M.Ag., inisiator Family Corner UIN Malang, hadir langsung untuk meresmikan fasilitas tersebut. Beliau menekankan pentingnya kehadiran solusi berbasis agama yang mudah dijangkau oleh masyarakat terkecil, yakni keluarga. Suasana semakin hangat ketika Dr. Hj. Rofiqoh Rosidi, M.Pd., C.HT., dosen Psikologi UIN Malang, naik panggung. Membawakan materi tentang harmoni tiga generasi (anak, orang tua, kakek-nenek), beliau memberikan tips praktis bagaimana menyelaraskan pola asuh di tengah gempuran teknologi. “Kuncinya ada pada penyamaan frekuensi komunikasi,” jelasnya. Antusiasme tinggi dari warga lokal membuktikan besarnya kebutuhan akan ruang edukasi semacam ini. Dengan dukungan penuh dari KKM 19 Sattvaghana dan LP2M UIN Malang, Family Corner Masjid Ainul Yaqin siap berlayar menjadi garda terdepan kemaslahatan umat.
FAJWA RABANIA
Penutup rangkaian pengabdian mahasiswa. Momen penting lainnya adalah penyerahan sertifikat halal kepada pelaku usaha lokal yang telah berhasil memperoleh legalitas halal melalui pendampingan mahasiswa. Penyerahan ini menjadi simbol keberhasilan program pemberdayaan ekonomi sekaligus bentuk apresiasi atas kerja keras pelaku UMKM dalam memenuhi standar produksi halal. Diharapkan, sertifikasi tersebut mampu meningkatkan kepercayaan konsumen serta memperluas peluang pemasaran produk. Doa, Foto Bersama, dan Perpisahan Penuh Haru Menjelang akhir acara, kegiatan ditutup dengan pembacaan doa oleh Bapak Modin, memohon keberkahan atas seluruh proses pengabdian yang telah dilalui. Setelah itu, seluruh peserta mengabadikan momen melalui foto bersama dan dokumentasi, menjadi kenangan terakhir kebersamaan antara mahasiswa dan masyarakat Pandanlandung. Suasana haru tak terelakkan. Canda dan kerja sama yang terjalin selama berminggu-minggu kini harus berakhir, namun meninggalkan jejak kedekatan emosional yang mendalam. Akhir Pengabdian, Awal Silaturahmi Penutupan resmi KKM di Balai Desa Pandanlandung bukan sekadar akhir dari program kampus, tetapi menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat mampu menghadirkan perubahan positif. Lebih dari sekadar kegiatan, KKM telah menjadi ruang belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama. Meski masa pengabdian telah usai, semangat kebersamaan dan silaturahmi diharapkan tetap terjaga sebagai fondasi kolaborasi di masa depan.
MUHAMMAD WAFI AL-IRTAQI
Sarongan, Banyuwangi – Jauh di sudut selatan Kabupaten Banyuwangi, di mana hamparan hijau Desa Sarongan beradu dengan cakrawala pantai, sebuah langkah perubahan kecil namun berarti sedang diupayakan. Bukan soal pembangunan infrastruktur fisik semata, melainkan pembangunan fondasi batin bagi generasi penerus bangsa. Mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari Kelompok Cakrawala 186 hadir di SDN 1 Sarongan dengan sebuah kegelisahan yang sama: bagaimana menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang paling aman dan nyaman bagi anak-anak. Melalui program bertajuk "Penguatan Karakter: Menanamkan Benih Anti-Perundungan Sejak Dini", kelompok Cakrawala 186 mencoba meredam normalisasi kekerasan verbal maupun fisik yang kerap dianggap sebagai "lelucon" di bangku sekolah dasar. Upaya ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan penuh empati. Suasana ruang kelas SDN 1 Sarongan tampak berbeda pada pagi itu. Riuh rendah tawa anak-anak berseragam pramuka dan olahraga menyambut hangat kehadiran kakak-kakak mahasiswa. Cakrawala 186 menyadari bahwa pendekatan formal melalui teori yang kaku hanya akan melintas tanpa makna. Maka, mereka memilih jalur pendekatan hati ke hati. Melalui metode storytelling yang interaktif dan simulasi peran (roleplay), para siswa diajak untuk menyelami perasaan mereka yang mungkin selama ini menjadi korban namun tak berani bersuara. Dalam sesi tersebut, para mahasiswa menggambarkan betapa tajamnya dampak dari sebuah kata-kata. Sebuah ejekan fisik atau sebutan nama orang tua yang selama ini dianggap lumrah, ternyata merupakan benih awal yang bisa mengikis rasa percaya diri seorang anak. "Kami ingin mereka memahami bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada siapa yang paling jago mengintimidasi, melainkan pada siapa yang paling berani melindungi dan menghargai sesama," ungkap salah satu anggota Cakrawala 186. Diskusi mengalir menjadi ruang diskusi yang terbuka dan hangat. Beberapa siswa mulai menunjukkan keberanian untuk berbagi pengalaman pahit yang mereka alami—hal-hal yang selama ini mereka simpan sendiri karena takut dicap sebagai pengadu. Realita ini menjadi motivasi besar bagi tim KKM untuk memberikan pemahaman bahwa melapor bukanlah sebuah kesalahan, melainkan bentuk keberanian untuk menghentikan ketidakadilan. Menggunakan media visual yang cerah dan poster-poster edukatif, tim Cakrawala 186 menekankan bahwa perbedaan, baik itu dalam hal fisik, kemampuan akademik, maupun latar belakang keluarga, adalah warna-warni kehidupan yang seharusnya disyukuri. Dukungan penuh pun mengalir deras dari pihak sekolah. Para guru mengakui bahwa tantangan mendidik di era digital ini kian kompleks, sehingga pembentukan karakter dari dalam diri siswa (self-awareness) menjadi kunci utama. Puncak dari kegiatan ini ditandai dengan aksi simbolis yang sangat berkesan. Sebuah karton besar bertajuk "Pohon Ungkapan" dibentangkan di depan kelas. Satu demi satu, para siswa maju dengan antusias untuk membubuhkan cap jempol berwarna-warni dan menuliskan janji sederhana mereka: "Aku akan jadi teman yang baik" atau "Aku tidak akan mengejek teman lagi". Lembar komitmen ini bukan sekadar pajangan dinding, melainkan "kontrak sosial" bagi seluruh penghuni SDN 1 Sarongan sebagai pengingat harian bahwa tidak ada tempat bagi kebencian di lingkungan mereka. Kepala Sekolah SDN 1 Sarongan menyampaikan apresiasi mendalam, berharap energi positif yang dibawa oleh Kelompok Cakrawala 186 ini dapat terus menetap dan tumbuh subur di hati para siswa. Kegiatan hari itu ditutup dengan senyum ceria dan sesi dokumentasi bersama, sebagaimana terlihat pada potret kebersamaan mahasiswa dan para siswa di dalam kelas. Bagi Cakrawala 186, KKM di ujung Banyuwangi ini bukan sekadar tugas pengabdian, melainkan perjalanan untuk menjemput asa. Mereka pulang dengan keyakinan bahwa masa depan anak-anak SDN 1 Sarongan akan tumbuh tanpa bayang-bayang ketakutan, melainkan dipenuhi dengan karakter yang tangguh, toleran, dan penuh kasih.
NADIA ANATASYA
Malang - Pada hari Minggu (25/01/26), Kelompok KKM 95 Arunika mengadakan lomba antar TPQ di Dusun Busu, Desa Slamparejo. Kegiatan ini melibatkan hampir seluruh TPQ yang ada di Dusun Busu. Namun, tidak semua santri TPQ dapat mengikuti lomba karena adanya ketentuan tertentu, seperti batas usia dan jumlah maksimal peserta dari setiap TPQ. Meskipun demikian, antusiasme anak-anak TPQ dan para wali murid tetap tinggi. Anak-anak yang tidak terdaftar sebagai peserta resmi tetap mengikuti dan menyaksikan lomba yang diminati. Bahkan, terdapat beberapa balita yang diikutkan lomba oleh orang tuanya sebagai bentuk latihan keberanian dan pengenalan kegiatan sejak dini. Lomba islami ini terdiri dari tiga kategori, yaitu lomba adzan, hafalan surat pendek dari Ad-Dhuha hingga An-Nas, serta lomba mewarnai. Seluruh juri pada ketiga kategori lomba berasal dari anggota Kelompok KKM 95 Arunika. Lomba adzan dilaksanakan di masjid pada area salat laki-laki, di mana peserta mengumandangkan adzan menggunakan mikrofon. Sementara itu, lomba hafalan surat pendek dilaksanakan di area salat perempuan. Peserta yang mendapat giliran diminta mengambil dua gulungan kertas secara acak yang berisi nama surat dari Ad-Dhuha hingga An-Nas, kemudian membacakannya di hadapan juri. Selanjutnya, juri akan membacakan satu ayat dari surat lain yang tidak diambil peserta sebelumnya, dan peserta diminta untuk melanjutkannya. Pada lomba mewarnai, panitia menetapkan dua kategori pemenang. Juara 1, 2, dan 3 diberikan untuk peserta sesuai batas usia yang ditentukan, sedangkan anak-anak di bawah batas usia akan dinilai untuk kategori juara harapan 1, 2, dan 3. Pengumuman pemenang lomba dilakukan pada acara perpisahan Kelompok KKM 95 Arunika di Dusun Busu. Kegiatan ini kemudian ditutup dengan sesi foto bersama.
ROSSI ADAWIYAH
Kegiatan Posyandu menjadi salah satu layanan kesehatan yang rutin dilaksanakan di tingkat desa. Oleh karena itu, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 95 Arunika menjadikan pendampingan kegiatan Posyandu sebagai salah satu program kerja selama pelaksanaan KKM di Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Program ini sejalan dengan tema KKM yang diusung LP2M UIN Malang, yaitu pencegahan stunting. Lima hari sebelum pelaksanaan kegiatan, mahasiswa KKM menerima informasi jadwal Posyandu dari Ibu Angel, selaku istri Kepala Dusun. Kegiatan Posyandu dilaksanakan selama tiga hari, yakni Kamis, Jumat, dan Sabtu, dengan lokasi serta sasaran yang berbeda, mulai dari balita, lansia, hingga ibu hamil. Sejak awal, mahasiswa KKM berkoordinasi dengan Kepala Dusun dan mendapatkan arahan agar tidak hanya melakukan pengawasan kegiatan, tetapi turut membantu ibu-ibu kader Posyandu secara langsung. Program ini bertujuan untuk meringankan tugas kader sekaligus memberikan pengalaman lapangan bagi mahasiswa. Pada Kamis, kegiatan Posyandu dilaksanakan di Balai Dusun Busu dengan sasaran balita dan lansia. Mahasiswa KKM datang lebih awal untuk membantu persiapan tempat, seperti menata kursi dan meja serta mengangkat peralatan Posyandu. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa membantu berbagai tugas, antara lain registrasi peserta, pencatatan data balita dan lansia, membantu tenaga kesehatan dalam mencatat hasil pemeriksaan tekanan darah dan GDA lansia, serta membagikan konsumsi. Di sela-sela kegiatan Posyandu, mahasiswa KKM juga mengajak para lansia yang belum mendapat giliran pemeriksaan untuk mengikuti senam bersama. Senam lansia tersebut dipandu oleh beberapa anggota Kelompok 95 Arunika sebagai upaya menjaga kebugaran dan meningkatkan semangat peserta. Sementara itu, pada Sabtu, kegiatan Posyandu difokuskan pada pelayanan ibu hamil dan balita. Salah satu anggota Kelompok 95 Arunika menyampaikan bahwa keterlibatan dalam kegiatan Posyandu memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa. “Melalui kegiatan ini, saya jadi mengetahui cara pemeriksaan tekanan darah dan GDA beserta alat-alat kesehatan yang sebelumnya belum pernah saya pelajari,” ujarnya.
SHIRA ADISA AZIZ
Oleh: Shira Adisa Aziz • 10 February 2026, 07:15 Kegiatan Lomba Bersama Santri TPQ Desa Sumbersuko oleh Kelompok Ranasvara Dalam rangka memeriahkan kegiatan di TPQ Desa Sumbersuko, kelompok Ranasvara melaksanakan kegiatan lomba bersama para santri. Pada kegiatan ini, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) berperan sebagai panitia pelaksana yang bertanggung jawab dalam proses persiapan hingga pelaksanaan lomba. Berbagai jenis perlombaan diselenggarakan dengan tujuan untuk menumbuhkan semangat, keceriaan, serta kebersamaan di antara para santri. Beberapa lomba yang diadakan antara lain lomba makan kerupuk, balap kelereng, balap karung, tepuk air, serta berbagai permainan lainnya. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh antusiasme dan keceriaan, baik dari para peserta maupun dari panitia pelaksana. Para santri tampak sangat bersemangat dalam mengikuti setiap perlombaan. Selain sebagai sarana hiburan, kegiatan ini juga bertujuan untuk melatih sikap sportivitas, kerja sama, serta keberanian anak-anak dalam mengikuti kegiatan bersama. Mahasiswa KKM turut mendampingi dan mengarahkan jalannya lomba agar seluruh kegiatan dapat berlangsung dengan tertib, aman, dan lancar. Setelah seluruh rangkaian lomba selesai dilaksanakan, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara kelompok Ranasvara dan para masyayikh TPQ. Momen ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus kenang-kenangan atas kegiatan yang telah dilaksanakan bersama di TPQ Desa Sumbersuko. Melalui kegiatan lomba ini, kelompok Ranasvara berharap dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan berkesan bagi para santri. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu mempererat hubungan antara mahasiswa KKM dan pihak TPQ dalam mendukung kegiatan pendidikan serta pembinaan keagamaan di Desa Sumbersuko.