Thumbnail
8 months ago
Menyatu dengan Budaya Bawean : Serunya Menonton Toktok Sapi di Desa Grejeg Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menyatu dengan Budaya Bawean : Serunya Menonton Toktok Sapi di Desa Grejeg", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/

MOH RANDY FERDIANSYAH

Kelompanggubug, 18 Januari 2026 Pengalaman berharga kembali kami dapatkan selama menjalani Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Kelompanggubug. Pada Minggu, 18 Januari 2026, kami diajak oleh warga sekitar untuk menyaksikan salah satu tradisi khas Bawean yang jarang ditemui di daerah lain, yakni Toktok Sapi.   Toktok sapi sekilas mirip dengan kerapan sapi yang populer di Madura. Namun, jika kerapan sapi identik dengan balapan, maka toktok sapi lebih dikenal sebagai adu kekuatan sapi. Tradisi ini menjadi salah satu hiburan rakyat yang sarat akan nilai budaya dan kebersamaan warga. Tak heran jika Bawean sering disebut memiliki kemiripan dengan Madura, baik dari bidang bahasa, Kebudayaan, maupun aktivitas masyarakatnya.     Untuk menyaksikan toktok sapi, kami menempuh perjalanan sekitar 24 menit dari posko, tepatnya menuju Desa Grejeg, Kecamatan Tambak. Meski jaraknya cukup jauh, rasa lelah terbayar lunas oleh antusiasme dan suasana meriah yang menyambut kami di lokasi. Selama kurang lebih 1--2 jam, kami menyaksikan sekitar dua hingga tiga pertandingan adu sapi. Sorak sorai penonton, canda warga, dan suasana lapangan yang ramai membuat pengalaman ini terasa sangat hidup dan menyenangkan. Kami benar-benar merasakan bagaimana tradisi ini menjadi ruang berkumpul dan hiburan bersama bagi masyarakat.   Tak lengkap rasanya menonton tanpa jajan. Di lokasi, kami mencoba berbagai makanan khas yang dijajakan warga, mulai dari rujak, koncok-koncok, hingga jajanan lain yang sebelumnya belum pernah kami nikmati. Menikmati kuliner lokal sambil menyaksikan tradisi daerah menjadi pengalaman sederhana namun berkesan. Yang paling membekas dari kegiatan ini adalah penghematan warga. Mereka begitu terbuka, ramah, dan antusias berbincang dengan kami. Suasana akrab dan penuh tawa membuat kami merasa benar-benar diterima sebagai bagian dari lingkungan tersebut Menonton toktok sapi bukan hanya soal hiburan, tetapi juga tentang belajar memahami budaya lokal secara langsung. Bagi kami, pengalaman ini menjadi salah satu momen yang sangat ingin diulangi---karena Bawean selalu punya cara sederhana untuk membuat siapa pun jatuh cinta.  

Thumbnail
8 months ago
Rangkul Sesama Lestarikan Budaya : Mahasiswa KKM Mandiri 175 UIN Malang gelar Seminar Tari Gandrung dan Sosialisasi Anti-Bullying di MI Miftahul Jadid

MUH. AKBAR SAPUTRA

Selasa, 13 Januari 2026 —— Mahasiswa KKM Mandiri 175 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar kegiatan Sosialisasi Anti bullying sekaligus Seminar Tari Gandrung di MI Miftahul Jadid Dusun Curah Leduk, Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini menjadi salah satu program kerja utama dari kelompok KKM Mandiri Sahwahita yang diikuti oleh 120 siswa mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Acara ini dimulai pada pukul 07.30 WIB tepat setelah selesainya kegiatan Shobahul Lughoh  yang rutin dilaksanakan setelah apel pagi. Acara sosialisasi ini dimulai dengan pembukaan non formal oleh kak Lajan sebagai MC yang bertugas. Mahasiswa KKM  menyadari bahwa peserta sosialisasi tidak terfokus pada salah satu kelas, melainkan mengikutsertakan semua siswa di MI Miftahul Jadid. Oleh karena itu acara ini dikemas dengan begitu menyenangkan lewat ice breaking dan yel-yel, sehingga membuat acara terasa seru dan tidak monoton. Acara selanjutnya diisi dengan seminar Tari Gandrung yang disampaikan oleh Kak Eralda. Latar belakang pemilihan materi ini tidak lain karena Tari Gandrung sendiri merupakan tarian khas Banyuwangi. Hal ini tentu sangat cocok dengan budaya yang ada di masyarakat tempat pelaksanaan KKM, terutama para siswi MI Miftahul Jadid yang sudah tidak asing dengan tarian ini. Pemateri juga mengenalkan tentang "Festival Gandrung Sewu", sebuah tradisi yang wajib ditampilkan dalam rangkaian acara Hari Jadi Banyuwangi setiap bulan Oktober yang bertempat di Pantai Marina Boom, Banyuwangi.  Seminar ini kemudian ditutup dengan penampilan Tari Gandrung oleh kak Atina. Tidak hanya berhenti disitu, dengan adanya seminar Tari Gandrung ini juga memberikan peluang kepada para siswi MI Miftahul Jadid untuk mengikuti pelatihan tari yang akan dilaksanakan setiap minggunya di posko KKM, yang mana tari ini nantinya akan ditampilkan saat malam puncak perpisahan kegiatan KKM. Kemudian rangkaian acara dilanjutkan dengan sosialisasi anti bullying,yang juga menjadi sesi inti dari kegiatan ini. Materi anti bullying disampaikan oleh Kak Akbar dan Kak Oliv. Sebelum masuk ke materi inti, para siswa terlebih dahulu diputarkan film pendek yang menceritakan tentang bullying. Hal ini dimaksudkan supaya para siswa tahu mengenai gambaran bullying dan apa dampak buruk yang ditimbulkannya. Terdapat beberapa poin penting mengenai materi yang disampaikan, diantaranya adalah pengertian bullying, ciri-ciri bullying, jenis-jenis bullying meliputi bullying fisik, bullying verbal, bullying sosial, dan cyber bullying, dan upaya pencegahan bullying.  Di sela-sela penyampaian materi, Kak Akbar dan Kak Oliv juga memberikan beberapa kuis sederhana yang berkaitan dengan tema bullying. Para siswa yang berhasil menjawab dengan benar diberikan hadiah. Sebelum mengakhiri materi, para siswa juga diberikan kesempatan untuk menuliskan tentang perasaan ataupun kisah mereka yang pernah menjadi korban bullying dalam secarik kertas.  Tidak sedikit siswa yang mau untuk berbagi cerita kepada kakak-kakak mahasiswa KKM UIN Malang. Bahkan ada beberapa dari mereka yang menangis ketika teringat perundungan yang dulu pernah dialami.  Mahasiswa KKM juga memberikan apresiasi kepada anak-anak yang sudah berani untuk bercerita dengan memberikan hadiah. Suasana yang semula ceria menjadi sedikit sedih dan sendu.  Hal ini menunjukkan bahwa ternyata dampak buruk dari bullying memang benar adanya, tidak hanya menyerang fisik, namun mental dari si korban bullying juga akan terkena imbasnya. Setelah dirasa cukup waktu untuk bercerita, acara kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi bersama. Masing-masing siswa terdiri dari 3 orang berfoto dengan menggunakan twibbon bertuliskan "stop bullying". Tidak hanya dokumentasi semata guna mengabadikan sebuah moment, hal ini juga dimasudkan sebagai upaya atau tindakan nyata untuk menolak segala bentuk perundungan.  Dengan terlaksananya kegiatan ini, menjadi salah satu bukti akan kontribusi mahasiswa KKM UIN Malang dalam memberikan edukasi tentang pentingnya penanaman pendidikan karakter anak sedari dini. Besar harapan kami kepada mereka supaya belajar untuk saling menghargai dan menghormati sesama, menghindari perundungan, dan mau berteman dengan siapapun tanpa membeda-membedakan antara satu sama lain.

Thumbnail
8 months ago
Mahasiswa KKM 72 UIN Malang Hadirkan Bimbingan Belajar untuk Dukung Prestasi Anak SD di Dusun Sundan, Desa Plaosan Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mahasiswa KKM 72 UIN Malang Hadirkan Bimbingan Belajar untuk Dukung Prestasi Anak

PAULA AL HIDAYAH

Mahasiswa KKN 72 UIN Malang mengadakan kegiatan Bimbingan Belajar (Bimbel) bagi anak-anak Sekolah Dasar di Dusun Sundan, Desa Plaosan, Kecamatan Wonosari, yang dilaksanakan selama tiga hari (Senin hingga Rabu) setelah Maghrib di musholla setempat. Kegiatan ini bertujuan membantu siswa mengerjakan PR serta memberikan pendampingan belajar di luar jam sekolah, dengan materi meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan IPA sesuai kebutuhan siswa. Program ini mendapat respon positif dari anak-anak dan orang tua, terlihat dari antusiasme peserta yang aktif bertanya dan mengikuti pembelajaran. Mahasiswa berperan memberikan penjelasan materi dengan metode santai dan komunikatif agar mudah dipahami, sekaligus menambah wawasan baru bagi siswa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam bidang pendidikan serta membantu meningkatkan motivasi dan pemahaman belajar anak-anak di Dusun Sundan.

Thumbnail
8 months ago
Potret Indah Toleransi Di Sepakek: KKM 156 "Patibrata" Sukses Gelar Lomba SIGMA, Anak-anak Lintas Agama Turut Meriahkan Panggung

DINDA RIESKA AYUNINGTYAS

Sepakek, 28 Januari 2026 -- Semangat kebersamaan dan toleransi menyelimuti Desa Sepakek selama tiga hari berturut-turut. Mahasiswa KKM Mandiri Kelompok 156 "Patibrata" UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sukses menggelar ajang kompetisi anak bertajuk SIGMA (Semarak Islam dan Generasi Maju). Digelar dari tanggal 25 hingga 27 Januari 2026, acara ini tidak hanya menjadi ajang unjuk bakat, tetapi juga simbol persatuan antar-dusun dari total 11 dusun. Sebanyak 165 peserta berusia 5-13 tahun memadati lokasi lomba, mewakili dusun masing-masing dengan penuh kebanggaan. Menembus Sekat PerbedaanYang membuat SIGMA tahun ini istimewa bukan hanya jumlah pesertanya yang membludak, melainkan semangat inklusivitasnya. Meski acara ini diinisiasi oleh mahasiswa kampus Islam, pintu kompetisi terbuka lebar untuk semua. Hal ini terbukti dengan kehadiran adik-adik dari Dusun Taman Bali yang beragama Hindu. Mereka turut berkompetisi dengan antusias dalam kategori umum seperti Lomba Mewarnai dan Fashion Show. Kehadiran mereka membuktikan bahwa kreativitas dan semangat generasi maju tidak memandang latar belakang agama. "Kami sangat senang melihat adik-adik dari Taman Bali berbaur tanpa canggung dengan teman-temannya dari dusun lain. Ini adalah wajah asli Sepakek yang harmonis," ujar salah satu perwakilan KKM 156 Patibrata. Tiga Hari Pesta KreativitasRangkaian acara SIGMA berlangsung meriah dengan pembagian agenda sebagai berikut: Hari Pertama (25/1): Lomba Mewarnai yang diikuti oleh 107 peserta. Jumlah yang fantastis ini membuat arena lomba penuh warna. Hari Kedua (26/1): Uji mental dan intelektual lewat Lomba Adzan (13 peserta) dan Ranking 1 (11 peserta). Hari Terakhir (27/1): Ditutup dengan gemerlap Lomba Fashion Show yang diikuti 34 peserta, di mana anak-anak tampil percaya diri dengan busana terbaik mereka. Dominasi Juara dan Momen ApresiasiPuncak acara ditandai dengan penyerahan hadiah yang dilakukan langsung oleh jajaran Perangkat Desa dan para Kepala Dusun (Kadus) Sepakek. Momen ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi para orang tua dan pendamping. Berdasarkan akumulasi perolehan piala, Dusun Sepakek resmi dinobatkan sebagai Juara Umum karena berhasil menyabet gelar juara terbanyak di berbagai kategori. Namun, kejutan manis datang dari kategori Mewarnai dan Fashion Show, di mana talenta dari Dusun Taman Bali berhasil mencuri perhatian juri dan menyabet podium tertinggi. Berikut adalah daftar lengkap pemenang Lomba SIGMA KKM 156 Patibrata: Wajah semangat dari peserta lomba adzan (Sumber: Dokumentasi pribadi) Kategori Lomba Mewarnai Juara 1: Rara Ulun Anggita (Dusun Taman Bali) Juara 2: Farendra Nugraha (Dusun Sepakek) Juara 3: Adelia (Dusun Sepakek Utara) Harapan 1: Aliya Ainun (Dusun Penjangka) Harapan 2: Husna Ningsih (Dusun Sepakek) Harapan 3: Raisya Farhana (Dusun Sepakek Utara) Kategori Lomba Adzan Juara 1: Saka (Dusun Sepakek Utara) Juara 2: Arbani Devin (Dusun Sepakek) Juara 3: Pangeran Ozil (Dusun Sepakek) Kategori Ranking 1 Juara 1: Didi Amirul Hakim (Dusun Peresak) Juara 2: Ahmad Yasa (Dusun Kelana) Juara 3: Zaidi T. (Dusun Sepakek Selatan) Kategori Fashion Show Juara 1: Ayu Intan (Dusun Taman Bali) Juara 2: I Gusti Ayu Intan (Dusun Taman Bali) Juara 3: Diva Syahira Zafali (Dusun Sepakek) Kelompok 156 "Patibrata" berharap kegiatan SIGMA ini dapat menjadi kenangan manis dan pemantik semangat bagi anak-anak Desa Sepakek untuk terus berprestasi, menjaga kerukunan, dan menjadi generasi yang maju di masa depan.

Thumbnail
8 months ago
Rangkul Sesama Lestarikan Budaya : Mahasiswa KKM Mandiri 175 UIN Malang gelar Seminar Tari Gandrung dan Sosialisasi Anti-Bullying di MI Miftahul Jadid

OLIVIA ITKA NISHFI RAMADHAN

Selasa, 13 Januari 2026 —— Mahasiswa KKM Mandiri 175 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar kegiatan Sosialisasi Anti bullying sekaligus Seminar Tari Gandrung di MI Miftahul Jadid Dusun Curah Leduk, Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini menjadi salah satu program kerja utama dari kelompok KKM Mandiri Sahwahita yang diikuti oleh 120 siswa mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Acara ini dimulai pada pukul 07.30 WIB tepat setelah selesainya kegiatan Shobahul Lughoh  yang rutin dilaksanakan setelah apel pagi. Acara sosialisasi ini dimulai dengan pembukaan non formal oleh kak Lajan sebagai MC yang bertugas. Mahasiswa KKM  menyadari bahwa peserta sosialisasi tidak terfokus pada salah satu kelas, melainkan mengikutsertakan semua siswa di MI Miftahul Jadid. Oleh karena itu acara ini dikemas dengan begitu menyenangkan lewat ice breaking dan yel-yel, sehingga membuat acara terasa seru dan tidak monoton. Acara selanjutnya diisi dengan seminar Tari Gandrung yang disampaikan oleh Kak Eralda. Latar belakang pemilihan materi ini tidak lain karena Tari Gandrung sendiri merupakan tarian khas Banyuwangi. Hal ini tentu sangat cocok dengan budaya yang ada di masyarakat tempat pelaksanaan KKM, terutama para siswi MI Miftahul Jadid yang sudah tidak asing dengan tarian ini. Pemateri juga mengenalkan tentang "Festival Gandrung Sewu", sebuah tradisi yang wajib ditampilkan dalam rangkaian acara Hari Jadi Banyuwangi setiap bulan Oktober yang bertempat di Pantai Marina Boom, Banyuwangi.  Seminar ini kemudian ditutup dengan penampilan Tari Gandrung oleh kak Atina. Tidak hanya berhenti disitu, dengan adanya seminar Tari Gandrung ini juga memberikan peluang kepada para siswi MI Miftahul Jadid untuk mengikuti pelatihan tari yang akan dilaksanakan setiap minggunya di posko KKM, yang mana tari ini nantinya akan ditampilkan saat malam puncak perpisahan kegiatan KKM. Kemudian rangkaian acara dilanjutkan dengan sosialisasi anti bullying,yang juga menjadi sesi inti dari kegiatan ini. Materi anti bullying disampaikan oleh Kak Akbar dan Kak Oliv. Sebelum masuk ke materi inti, para siswa terlebih dahulu diputarkan film pendek yang menceritakan tentang bullying. Hal ini dimaksudkan supaya para siswa tahu mengenai gambaran bullying dan apa dampak buruk yang ditimbulkannya. Terdapat beberapa poin penting mengenai materi yang disampaikan, diantaranya adalah pengertian bullying, ciri-ciri bullying, jenis-jenis bullying meliputi bullying fisik, bullying verbal, bullying sosial, dan cyber bullying, dan upaya pencegahan bullying.  Di sela-sela penyampaian materi, Kak Akbar dan Kak Oliv juga memberikan beberapa kuis sederhana yang berkaitan dengan tema bullying. Para siswa yang berhasil menjawab dengan benar diberikan hadiah. Sebelum mengakhiri materi, para siswa juga diberikan kesempatan untuk menuliskan tentang perasaan ataupun kisah mereka yang pernah menjadi korban bullying dalam secarik kertas.  Tidak sedikit siswa yang mau untuk berbagi cerita kepada kakak-kakak mahasiswa KKM UIN Malang. Bahkan ada beberapa dari mereka yang menangis ketika teringat perundungan yang dulu pernah dialami.  Mahasiswa KKM juga memberikan apresiasi kepada anak-anak yang sudah berani untuk bercerita dengan memberikan hadiah. Suasana yang semula ceria menjadi sedikit sedih dan sendu.  Hal ini menunjukkan bahwa ternyata dampak buruk dari bullying memang benar adanya, tidak hanya menyerang fisik, namun mental dari si korban bullying juga akan terkena imbasnya. Setelah dirasa cukup waktu untuk bercerita, acara kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi bersama. Masing-masing siswa terdiri dari 3 orang berfoto dengan menggunakan twibbon bertuliskan "stop bullying". Tidak hanya dokumentasi semata guna mengabadikan sebuah moment, hal ini juga dimasudkan sebagai upaya atau tindakan nyata untuk menolak segala bentuk perundungan.  Dengan terlaksananya kegiatan ini, menjadi salah satu bukti akan kontribusi mahasiswa KKM UIN Malang dalam memberikan edukasi tentang pentingnya penanaman pendidikan karakter anak sedari dini. Besar harapan kami kepada mereka supaya belajar untuk saling menghargai dan menghormati sesama, menghindari perundungan, dan mau berteman dengan siapapun tanpa membeda-membedakan antara satu sama lain.

Thumbnail
8 months ago
Pelita di TPQ Miftahul Jannah dan Darul Falah

FATIKHATUL ALIMAH

Bersama TPQ Miftahul Jannah Sektor pendidikan keagamaan menjadi prioritas utama. Mahasiswa KKM 89 membagi tim untuk mengajar di TPQ Miftahul Jannah dan TPQ Darul Falah. Selain membantu kelancaran mengaji Al-Qur'an menggunakan metode Thoriqoti atau Iqra', para mahasiswa juga memberikan materi Bahasa Arab Dasar. Metode yang digunakan sangat interaktif, mulai dari bernyanyi kosa kata bahasa Arab, hafalan do'a sehari-hari, tanya jawab pengetahuan Islam, hingga bercerita kisah para Nabi. "Kakak-kakak dari UIN Malang sangat sabar. Belajar Bahasa Arab jadi terasa seperti bermain," ujar salah satu santri. Kehadiran mahasiswa memberikan energi baru bagi para pengajar tetap di TPQ dalam mengelola kelas yang lebih ceria. Bersama TPQ Darul Falah