FARRAH ILLONA DIAMANTHA WIDYANDANU
Pernahkah Anda mencari warung makan atau toko terdekat melalui Google Maps? Di era digital ini, hampir semua orang melakukannya. Namun tahukah Anda bahwa banyak UMKM di pedesaan yang produknya berkualitas tinggi justru belum bisa ditemukan di platform digital tersebut? Inilah yang menjadi perhatian kami, Kelompok 76 Program Sadhanadari Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, ketikamelaksanakan pengabdian di Desa Bunut Wetan. Mengapa UMKM Harus Go Digital? Bayangkan Anda sedang berkunjung ke sebuah desa dan ingin mencari oleh-oleh khas atau tempat makan enak. Hal pertama yang Anda lakukan? Ya, membuka Google Maps! Sayangnya, banyak usaha lokal yang berkualitas tidak muncul di sana karena belum terdaftar. Kondisi inilah yang membuat produk-produk lokal Desa Bunut Wetan sulit berkembang. Padahal, potensi ekonomi di desa ini sangat besar. Mulai dari kuliner tradisional, kerajinan tangan, hingga berbagai jasa yang dibutuhkan masyarakat. Fakta yang Kami Temukan: Sebagian besar pelaku UMKM hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut Konsumen dari luar desa kesulitan menemukan lokasi usaha Banyak peluang yang terlewatkan pelanggan karena tidak adanya identitas digital Pelaku usaha tidak tahu cara memanfaatkan platform digital gratis Aksi Nyata: Mendaftarkan UMKM ke Google Maps Pada tanggal 27 Desember 2025 , tim kami yang terdiri dari Farrah Illona, ​Halwan Wardani, dan Nuriyah Izza Afkarina turun langsung ke lapangan. Kami tidak hanya memberikan sosialisasi, tetapi benar-benar membantu pelaku UMKM dari nol hingga usaha mereka terdaftar dan bisa ditemukan di Google Maps. Bagaimana Prosesnya? 1. Survei dan Pemetaan Langkah pertama, kami berkeliling desa untuk memetakan UMKM yang ada. Dari warung makan, toko kelontong, bengkel, salon, hingga home industri makanan ringan - semuanya kami catat. 2. Kunjungan Door-to-Door Kami mendatangi satu per satu pelaku usaha. Di sini, kami menjelaskan manfaat memiliki kehadiran digital dan bagaimana Google Maps dapat membantu usaha mereka berkembang. Antusiasme mereka luar biasa! Banyak yang tidak sabar ingin usahanya segera "masuk internet". 3. Pengumpulan Data Lengkap Setiap usaha kami dokumentasikan dengan detail: nama usaha, alamat lengkap, nomor telepon yang bisa dihubungi, jam buka tutup, jenis produk atau layanan, dan keunikan yang mereka tawarkan. 4. Sesi Foto Produk Inilah bagian yang paling seru! Kami membantu memotret produk, tempat usaha, dan suasana toko dengan angle terbaik. Visual yang menarik sangat penting untuk menarik perhatian calon pelanggan di dunia digital. 5. Pembuatan Google Maps Dengan bimbingan kami, setiap pelaku usaha memilikititik lokasi Google Maps mereka sendiri. Kami membantu mereka untuk menandai lokasi dengan akurat di peta. Perubahan yang Mulai Terlihat Meskipun baru beberapa hari sejak peluncuran, dampaknyasudah mulai terasa: Peningkatan Pengunjung Beberapa usaha melaporkan ada pelanggan baru yang datangsetelah menemukan mereka di Google Maps. Terutama pengendara yang melewati Desa Bunut Wetan dan mencari tempat makan atau bengkel terdekat. Motivasi Berinovasi Para pelaku UMKM menjadi lebih termotivasi untuk meningkatkan kualitas. Mereka sadar bahwa sekarang usaha mereka bisa dilihat banyak orang, jadi harus memberikan yang terbaik. Kolaborasi Antar UMKM Yang menarik, ada beberapa pelaku usaha yang mulai saling merekomendasikan. Misalnya, warung makan merekomendasikan toko oleh-oleh, atau salon merekomendasikan jasa fotografi untuk dokumentasi pernikahan. Pembelajaran Berharga bagi Kami Program ini bukan hanya memberikan manfaat bagimasyarakat Desa Bunut Wetan, tetapi juga mengajarkanbanyak hal kepada kami sebagai mahasiswa: Teori vs Praktik Di kampus kami belajar tentang ekonomi digital, e-commerce, dan digital marketing. Tapi ketika turun langsung, kami belajar bahwa implementasinya jauh lebih kompleks dan membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk setiap individu. Kesederhanaan yang Berdampak Kami tidak melakukan sesuatu yang rumit atau membutuhkan teknologi canggih. Hanya Google Maps - tools gratis yang sudah ada. Namun dampaknya sangat besar bagi pelaku UMKM yang sebelumnya tidak tersentuh digitalisasi. Empati dan Kesabaran Tidak semua orang punya latar belakang teknologi. Ada yang butuh dijelaskan berulang kali, ada yang takut salah, ada yang awalnya skeptis. Ini mengajarkan kami untuk lebih sabar dan empatik. Kolaborasi adalah Kunci Kami bekerja dalam tim, berkoordinasi dengan perangkat desa, dan berkolaborasi dengan pelaku UMKM. Tanpa kerjasama yang baik, program ini tidak akan berjalan lancar. Pesan untuk Pelaku UMKM di Mana Pun Jika Anda adalah pelaku UMKM yang belum go digital, inilah waktunya! Tidak perlu takut atau merasa tidak mampu. Mulailah dari langkah sederhana: Daftar Google Bisnis - Gratis dan mudah! Buat profil yang menarik - Foto bagus, deskripsi jelas Minta ulasan pelanggan - Review positif sangat membantu Update informasi secara rutin - Jaga profil tetap aktif Manfaatkan tools gratis lainnya - WhatsApp Business, Instagram, dll. Ingat, di era digital ini , tidak terlihat di internet = tidak ada . Jangan biarkan usaha Anda yang sudah susah payah dibangun tenggelam hanya karena tidak hadir secara digital. Terima Kasih, Desa Bunut Wetan! Kepada seluruh warga Desa Bunut Wetan, khususnya para pelaku UMKM yang telah menyambut kami dengan hangat dan antusias, terima kasih sebesar-besarnya. Kalian mengajarkan kami tentang kegigihan, kreativitas, dan semangat pantang menyerah dalam berbisnis. Kepada Kepala Desa dan perangkat desa yang telah mendukung program kami, terima kasih atas kepercayaan dan fasilitasnya. Kepada dosen pembimbing dan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, terima kasih telah memberikan kesempatan kami untuk belajar dan berkontribusi langsung kepada masyarakat.
NURMADJIDA MARDJABESSY
ARDAHCITTA – (21/01/2026) Mahasiswa KKM 36 Ardhacitta UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghadiri kegiatan Diskusi Lintas Agama yang mengusung tema “Berbeda adalah Anugerah: Menyemai Nilai-Nilai Kebersamaan dalam Keberagaman dan Keberagamaan.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 21 Januari 2026, mulai pukul 07.30 WIB hingga selesai, bertempat di Rumah Pertapaan Karmel Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo. Diskusi ini menghadirkan Sr. Marie A., P. Karm selaku Pimpinan Rumah Pertapaan Karmel, Moh. Mahpur sebagai Aktivis Lintas Agama sekaligus Kepala Pusat Pengembangan Moderasi Beragama (PKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, serta Ning Nazila sebagai ulama perempuan. Kegiatan berlangsung dalam suasana yang terbuka, hangat, dan penuh rasa saling menghormati. Dalam pemaparannya, Moh. Mahpur menyampaikan bahwa merawat toleransi keagamaan merupakan sebuah proses yang perlu dibangun secara sadar dan berkelanjutan. Ia menuturkan, “Saya sebagai orang tua melatih anak-anak saya untuk tidak memilih-milih ketika menjadi manusia.” Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun keberanian untuk berdialog. “Harus ada anak muda yang berupaya melawan pikiran kita sendiri. Kita perlu berani duduk bersama agama-agama lain dan berdiskusi lintas agama,” ujarnya. Sr. Marie A. menyampaikan bahwa perbedaan adalah anugerah yang patut disyukuri. “Saya mensyukuri keberagaman yang ada dalam kehidupan saya. Siapa pun agamanya yang ingin datang ke sini, kami membuka pintu pertapaan kami,” tuturnya. Ia menjelaskan bahwa secara umum masyarakat dapat mengikuti kegiatan yang ada, kecuali kegiatan tertentu yang bersifat khusus internal Katolik. Ia juga menjelaskan bahwa Rumah Pertapaan Karmel didirikan sebagai “oasis”, yaitu tempat persinggahan bagi siapa saja yang ingin merasakan ketenangan dan keheningan. “Tempat ini bukan untuk mengkatolikan orang. Kami membuka diri sebagai tempat persinggahan agar siapa pun bisa mendapatkan kesegaran dan kedamaian, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya,” jelasnya. Ia juga menyampaikan rasa syukur atas anugerah Tuhan serta komitmennya untuk membuka tangan kepada siapa pun dalam semangat kasih dan kebaikan. Sementara itu, Ning Nazila mengaitkan perbedaan dengan kajian psikologi perkembangan. Ia menjelaskan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci, namun dalam proses pertumbuhannya dipengaruhi oleh nilai, moral, lingkungan, pola asuh, serta latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Hal inilah yang membentuk karakter dan cara pandang setiap individu. “Jangan sampai kita memaksakan idealisme kita kepada orang lain. Dalam Islam, perbedaan adalah rahmah,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa pertemuan lintas agama ini merupakan bentuk ta’aruf atau saling mengenal untuk membangun sikap saling menghargai serta menguatkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Pada sesi tanya jawab, Ahmad Faizur Ramadhan menanyakan bagaimana cara menyampaikan misi perdamaian kepada mahasiswa maupun masyarakat yang masih memiliki pandangan keagamaan yang kaku, terutama ketika nilai toleransi sudah diajarkan namun belum sepenuhnya diterapkan. Pertanyaan juga diajukan terkait isu kepemimpinan perempuan di Rumah Pertapaan Karmel serta peran guru dalam menanamkan sikap toleransi kepada anak-anak. Menanggapi pertanyaan tersebut, Moh. Mahpur menjelaskan bahwa pola pikir yang kaku sering kali terbentuk dari lingkungan terdekat seperti keluarga dan pendidikan. Ia mengajak peserta untuk menyadari hal tersebut dan melakukan perubahan secara bertahap. “Melawan kekakuan itu tidak mudah, karena sering kali terasa nyaman. Maka perlu dibiasakan secara perlahan melalui pengalaman dan perjumpaan,” jelasnya. Menjawab pertanyaan tentang kepemimpinan perempuan, Sr. Marie A. menjelaskan bahwa Rumah Pertapaan Karmel merupakan rumah pusat Putri Karmel yang dalam struktur yayasannya dipimpin oleh perempuan. Ia menyampaikan bahwa terdapat sekitar 50 suster yang mengabdikan diri di tempat tersebut. Struktur kepemimpinan tersebut bersifat internal dan tidak berkaitan langsung dengan hierarki gereja secara umum. Sementara itu, Ning Nazila menegaskan bahwa sebelum menanamkan sikap toleransi kepada anak-anak, seorang guru perlu memahami terlebih dahulu makna toleransi dan memiliki pengalaman nyata dalam menerapkannya. “Sebelum mengajarkan toleransi kepada anak-anak, kita sebagai guru harus memahami terlebih dahulu apa itu toleransi dan memiliki pengalaman, sehingga lebih mudah dalam mengajarkannya,” tuturnya. Keikutsertaan KKM 36 Ardhacitta dalam kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen mahasiswa dalam mendukung penguatan moderasi beragama dan membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman. Melalui dialog ini, diharapkan nilai-nilai kebersamaan, saling menghargai, dan persaudaraan dapat terus tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat.
MOCHAMAD AULIYA AKBAR
Malang, Minggu (18/1/2026) --- Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Unggulan Inkubasi Bisnis Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan berjualan bersama di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Ijen, Kota Malang, pada Minggu pagi. Kegiatan ini menjadi bagian dari praktik langsung kewirausahaan yang diikuti oleh seluruh anggota KKM Inkubasi Bisnis. Sebelum memulai aktivitas penjualan, seluruh peserta terlebih dahulu berkumpul untuk melakukan koordinasi dan pembagian area jualan. Setelah itu, mahasiswa mulai berjualan dengan cara berkeliling menyusuri kawasan Ijen untuk menjangkau konsumen secara langsung. Meskipun kondisi cuaca saat itu diguyur hujan, hal tersebut tidak menyurutkan semangat para mahasiswa. Dengan penuh antusias, mereka tetap menawarkan produk kepada pengunjung CFD dan pengguna jalan di sepanjang kawasan Ijen. Interaksi langsung dengan konsumen menjadi pengalaman berharga dalam melatih keberanian, komunikasi, serta strategi pemasaran di lapangan. Pada kegiatan ini, mahasiswa KKM Inkubasi Bisnis memasarkan berbagai produk usaha dari anggota kelompok, di antaranya Milk Bun Thailand milik Lidya dan kerupuk Palembang produksi Amri. Setelah kegiatan berjualan di CFD selesai, mahasiswa melanjutkan agenda dengan berkunjung ke sebuah panti asuhan untuk mengantarkan titipan pesanan produk. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana distribusi produk, tetapi juga membawa kebahagiaan tersendiri karena semakin banyak pihak yang dapat merasakan hasil usaha mahasiswa KKM Inkubasi Bisnis. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang proses berjualan dan pemasaran, tetapi juga menanamkan nilai kerja sama, ketekunan, serta kepedulian sosial. Pengalaman berjualan di tengah keterbatasan cuaca menjadi bukti bahwa semangat berwirausaha dapat terus tumbuh dalam berbagai situasi. Kompasiana
NAJIYA `ULA `IZZANA
Kegiatan belajar mengajar KKM Kelompok 111 di Madin Al Hikmah, Dusun Ringin Anom, Desa Kromengan, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, berlangsung penuh semangat setiap Senin hingga Jumat pukul 15.30-16.30 WIB. Mahasiswa UIN Malang yang tergabung dalam kelompok ini secara rutin hadir untuk membimbing santri dalam mempelajari Al-Quran, hafalan surah pendek, dan dasar-dasar keagamaan Islam lainnya. Suasana kelas yang telah direvitalisasi dengan pengecatan dinding hijau cerah menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan, sebagaimana terlihat pada foto kegiatan yang menunjukkan santri duduk rapi di meja kayu sederhana sambil mengikuti arahan pengajar. Program ini merupakan bagian dari upaya Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) untuk mendukung pendidikan nonformal di madrasah diniyah setempat. Selain mengajar, kelompok 111 juga melakukan perbaikan fasilitas seperti penataan ruang kelas dan penambahan sarana belajar, yang meningkatkan minat santri terhadap kegiatan keagamaan, seperti ekstrakulikuler yang terdiri dari Tari, Pidacil, dan Kaligrafi. Lokasi Madin Al-Hikmah ini terletak strategis bagi anak-anak, sehingga pembelajaran dapat berjalan konsisten tanpa hambatan yang signifikan. Dampak dari kegiatan ini terasa nyata, di mana santri menunjukkan peningkatan hafalan dan pemahaman materi secara bertahap. Pengajar menggunakan metode interaktif, seperti kelompok diskusi dan permainan edukatif, untuk menjaga fokus anak-anak usia dini. Keberlanjutan program ini diharapkan dapat memperkuat landasan pendidikan agama di tingkat desa, sekaligus menjadi model kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan masyarakat.
MUHAMMAD NURIL HUDA
JOMBANG — Penguatan kesehatan mental di lingkungan pesantren tidak hanya diperlukan bagi santri, tetapi juga bagi para pendamping yang berperan langsung dalam proses pembinaan keseharian. Menyadari hal tersebut, Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Unggulan Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Aksara 255 menyelenggarakan program unggulan PsychoCare: Pendamping Sehat, Pesantren Kuat yang dirangkaikan dengan seminar bertema “Mengenal Diri Sebelum Mendampingi”, sebagai bentuk penguatan kapasitas psikologis bagi pendamping Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jumat (30/1/2026). Kegiatan yang dilaksanakan pada pukul 19.30 WIB ini berlangsung dengan penuh antusias dan suasana reflektif di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng. Program PsychoCare dirancang sebagai ruang aman dan suportif bagi para pendamping untuk memahami kondisi psikologis diri, mengenali emosi pribadi, serta membangun kesiapan mental sebelum menjalankan peran pendampingan santri. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini menghadirkan Ibu Bilqis Rahmanda Hakim, S.Psi., M.Psi., Psikolog selaku asisten dosen Fakultas Psikologi UIN Malang, sebagai pemateri utama. Melalui seminar “Mengenal Diri Sebelum Mendampingi”, beliau menekankan pentingnya kesadaran diri, regulasi emosi, serta kesehatan mental pendamping sebagai fondasi utama dalam proses pendampingan yang empatik dan efektif. Materi disampaikan secara komunikatif dan aplikatif, sehingga mudah dipahami serta relevan dengan realitas pendampingan di lingkungan pesantren. Tidak hanya sebatas penyampaian materi, program PsychoCare juga dilengkapi dengan sesi diskusi reflektif dan pendampingan psikologis. Pada sesi ini, para pendamping diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman, tantangan emosional, serta dinamika psikologis yang sering dihadapi dalam mendampingi santri. Pendekatan yang digunakan bersifat empatik dan non-judgmental, sehingga peserta merasa nyaman untuk membuka diri dan melakukan refleksi personal. Program PsychoCare merupakan salah satu program kerja unggulan KKM Aksara 255 yang lahir dari hasil observasi dan dialog awal dengan pihak pesantren. Abah Hj. Lukman selaku mudir Pondok Pesantren Tebuireng, menyampaikan bahwa pendamping memiliki peran strategis dalam menjaga iklim psikologis pesantren. “Pendamping yang sehat secara mental akan mampu mendampingi santri dengan lebih sabar, empatik, dan bijaksana. Oleh karena itu, kegiatan seperti PsychoCare ini sangat penting dan relevan,” ungkapnya. Respon positif juga ditunjukkan oleh para pendamping pesantren yang mengikuti kegiatan hingga selesai. Antusiasme terlihat dari keaktifan peserta dalam sesi diskusi, refleksi diri, serta keterbukaan dalam menyampaikan pengalaman pendampingan. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan penguatan kesehatan mental bagi pendamping pesantren semakin mendesak dan perlu mendapat perhatian berkelanjutan. Sementara itu, pihak pesantren Tebuireng Putri turut mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Ustadzah Dian menyampaikan bahwa PsychoCare menjadi langkah strategis dalam mendukung terciptanya lingkungan pesantren yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga sehat secara psikologis. Pendamping yang mampu mengenali diri sendiri diharapkan dapat membangun relasi pendampingan yang lebih hangat, manusiawi, dan penuh empati. Melalui program PsychoCare ini, KKM Aksara 255 berharap para pendamping Pondok Pesantren Tebuireng memiliki kesadaran yang lebih tinggi akan pentingnya menjaga kesehatan mental pribadi. Selain itu, diharapkan para pendamping mampu mengembangkan empati, komunikasi yang sehat, serta ketahanan psikologis dalam menjalankan peran pendampingan santri secara berkelanjutan. Jombang, 6 Februari 2026