ALFAN SURYANA
Sukarara, Lombok Tengah, Pengabdian mahasiswa melalui Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Mandiri di Desa Sukarara menjadi ruang belajar yang tidak hanya Berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga pada proses membersamai masyarakat. Berangkat dari niat mengabdi, mahasiswa justru menemukan banyak pelajaran tentang sikap, nilai kebersamaan, dan cara memaknai peran sebagai pendatang di tengah kehidupan desa *Kehangatan Warga dalam Menyambut Kedatangan* Berlokasi di Dusun Lendang, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, kehadiran siswa disambut dengan keterbukaan dan kehangatan warga. Jamuan sederhana khas desa menjadi simbol penerimaan, sekaligus gambaran kuat tentang budaya memuliakan tamu yang masih terjaga. Dari awal hadirnya, interaksi yang baik penuh kasih sayang mengawali keberlangsungan seluruh program pengabdian. Pendekatan kepada warga menjadi langkah awal yang dilalui melalui malam tahun baru bersama warga, yang dikemas dalam suasana kebersamaan dan dzikir. Antusiasme warga terlihat nyata, mulai dari interaksi sejak persiapan hingga partisipasi penuh saat eksekusi melebihi ekspektasi yang ada. Mereka menyumbangkan beberapa ekor ayam, ikan, serta tempat yang diusahakan untuk membantu memeriahkan. Tak ini membuat kita kembali belajar bahwa untuk membantu dan berbagi tak perlu menunggu memiliki lebih, karena apapun itu pasti berharga dan berarti. *Pendekatan Edukatif pada Remaja dan Anak-Anak* Pada bidang pendidikan, siswa KKM Mandiri melaksanakan psikoedukasi di SMPN 4 Jonggat dengan tema “Hubungan Sehat”. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada remaja mengenai hubungan yang sehat, komunikasi yang bertanggung jawab, serta pentingnya kesiapan emosional dan psikologis. Melalui pendekatan edukatif, program ini diharapkan dapat menjadi upaya preventif dalam meminimalisir pernikahan dini, ataupun hubungan beracun di berbagai lingkungan. Nilai keagamaan dan kebersamaan juga diperkuat melalui peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW yang melibatkan anak-anak tingkat sekolah dasar dan warga Dusun Lendang. Berbagai perlombaan bernuansa Islami menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mempererat hubungan antarwarga lintas usia. Momentum ini tidak hanya sekedar perayaan, tetapi juga ruang tumbuhnya semangat kebersamaan dalam suasana keagamaan. Komitmen terhadap pendidikan keagamaan diwujudkan melalui pembelajaran Al-Qur'an dan kajian fiqih dasar di TPQ Masjid Nurul Hidayah. Kami juga mendampingi kegiatan mengaji serta memastikan materi fiqih dapat diakses secara berkelanjutan melalui buku kajian fiqih dasar yang telah dicetak dan Ditempatkan di masjid. Keberadaan bahan kajian ini diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh anak-anak dan masyarakat setempat. *Kebersamaan dan Proses Belajar Bersama* Sepanjang proses pengabdian, siswa juga dihadapkan pada dinamika sosial yang menuntut sikap saling memahami dan menghargai. Ketika kegiatan tidak selalu berjalan sesuai rencana, komunikasi membantu dalam menemukan pemahaman. Dari situ, pengabdian yang dimaknai bukan hanya sebagai pelaksanaan program, namun juga sebagai latihan kesabaran, empati, dan kedewasaan dalam hati. Kebersamaan yang terjalin hingga momen penutupan menjadi penegasan bahwa kehadiran siswa bukan sekadar singgah, melainkan bagian dari proses saling belajar. Pengalaman di Desa Sukarara meninggalkan kesan mendalam bukan karena betapa sempurnanya atau betapa merugikannya kita, tapi karena betapa berharganya pelajaran yang kita terima, dan makna pengabdian yang sesungguhnya.
IMAM SYAFI`I
https://www.kompasiana.com/kkmwirasenabadra3911/69770c94ed64150a9e7c6a45/the-journey-of-kkm-wirasenabadra-menapaki-kaki-langit-desa-taji-sebuah-perjalanan-profilisasi-dan-harapan
AHMAD MUKHTAR RIFA`I
Mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 187 (Nagara wirya) Lakukan Kunjungan UMKM ke Peternak Ayam Petelur Desa Dawuhan Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 187 (Nagara Wirya) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kunjungan edukatif ke salah satu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di bidang peternakan ayam petelur yang berlokasi di Desa Dawuhan, Kecamatan Poncokusumo. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa serta masyarakat mengenai pengelolaan usaha peternakan yang berkelanjutan, profesional, dan didukung oleh manajemen keuangan yang sehat. Peternakan tersebut dikelola oleh seorang pelaku UMKM yang akrab disapa Bu Tini. Usaha ini dirintis sejak tahun 2014 dengan jumlah awal 600 ekor ayam petelur. Berkat konsistensi dalam pengelolaan dan penerapan strategi usaha yang terencana, jumlah ternak terus berkembang hingga kini mencapai lebih dari 7.600 ekor ayam petelur jenis Platinum (6.000 ekor + 1.600 ekor). Dalam sesi diskusi, Bu Tini menjelaskan bahwa sistem pengelolaan keuangan diterapkan secara disiplin dan transparan. Salah satu metode yang digunakan adalah sistem “gaji berbasis produksi”, yakni peningkatan pendapatan yang sejalan dengan bertambahnya jumlah telur yang dihasilkan. Pola ini dinilai efektif dalam menjaga motivasi serta memastikan keberlanjutan usaha. Menariknya, seluruh operasional peternakan dikelola secara mandiri oleh Bu Tini bersama satu anggota keluarganya tanpa melibatkan tenaga kerja tambahan. Dari aspek pengelolaan limbah, peternakan ini menunjukkan komitmen terhadap kelestarian lingkungan. Kotoran ayam tidak diperjualbelikan, tetapi dimanfaatkan dan dibagikan kepada masyarakat sekitar sebagai pupuk organik. Meskipun terdapat permintaan dari pihak pabrik, Bu Tini memilih untuk menolaknya agar manfaatnya tetap dirasakan langsung oleh warga sekitar. Bu Tini juga menegaskan bahwa keberlangsungan usahanya sangat bergantung pada manajemen keuangan yang tertata dengan baik. Bahkan saat terjadi kenaikan harga pakan maupun fluktuasi harga telur di pasaran, usaha ini tetap mampu bertahan tanpa mengalami tekanan finansial yang berarti. Untuk memulai usaha, modal awal yang dibutuhkan diperkirakan sekitar Rp220 juta per 1.000 ekor ayam, dengan kebutuhan pakan harian per 1.000 ekor mencapai kurang lebih Rp950.000. Dalam menjaga kesehatan ternak, peternakan ini menerapkan jadwal vaksinasi secara teratur dan berkelanjutan. Ayam diberikan vaksin pada usia 3 hari, 5 hari, dan 1 minggu, kemudian dilanjutkan vaksin mingguan hingga usia 7 bulan. Setelah itu, vaksinasi rutin dilakukan setiap bulan. Biaya vaksinasi berkisar sekitar Rp800.000 per 1.000 ekor ayam, dengan beberapa jenis vaksin memiliki harga yang relatif lebih rendah. Kunjungan ini menjadi media pembelajaran langsung bagi mahasiswa KKM Kelompok 187 “Nagara Wirya” UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam memahami praktik usaha peternakan yang menekankan perencanaan modal yang matang, efisiensi operasional, serta tanggung jawab sosial dan lingkungan. Mahasiswa diharapkan mampu menginternalisasi nilai-nilai kewirausahaan tersebut sebagai bekal dalam mengembangkan potensi UMKM di masyarakat. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin sinergi yang semakin kuat antara dunia akademik dan pelaku usaha lokal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan.
ATHILLAH HASYA AZ ZAHIRA
Mahasiswa KKM Kelompok 30 Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan seminar bertema stunting dan parenting di Balai Desa Karanganyar, Poncokusumo. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 6 Januari 2026 yang dihadiri para kader posyandu dari seluruh pos posyandu di wilayah Desa Karanganyar. Mereka menjadi sasaran utama program karena memiliki peran strategis dalam edukasi kesehatan masyarakat. Mahasiswa KKM 30 berharap kegiatan ini dapat memperkuat pemahaman kader tentang pencegahan stunting dan pola asuh yang tepat. Selain itu, seminar ini dirancang untuk mendorong kolaborasi aktif antara akademisi dan masyarakat desa. Materi pertama seminar menghadirkan Ibu Inu Martina S.ST., M.Si, dosen keperawatan dari Universitas Kepanjen sebagai pemateri bidang kesehatan stunting. Beliau menyampaikan pentingnya memperhatikan asupan gizi sejak kehamilan hingga usia lima tahun. Para kader posyandu diajak memahami tanda-tanda risiko stunting agar dapat melakukan deteksi dini. Materi disampaikan secara komunikatif sehingga mudah dipahami oleh peserta. Kehadiran narasumber ahli ini semakin memperkuat keyakinan kader pada pentingnya penanganan masalah stunting. Dalam pemaparannya, Ibu Inu Martina menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan. Kondisi ini dapat berdampak pada kemampuan belajar anak dan perkembangan kecerdasan di masa depan. Ia menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai dari rumah melalui kebiasaan makan yang sehat dan terpantau. Posyandu diharapkan menjadi sarana utama memantau tumbuh kembang balita secara berkala. Penjelasan mendalam ini membuka wawasan baru bagi para kader yang hadir. Narasumber juga menyoroti peran ibu hamil sebagai sasaran penting edukasi posyandu. Menurutnya, status gizi calon ibu sangat menentukan kualitas pertumbuhan janin. Asupan nutrisi yang kurang dapat memicu risiko bayi lahir dengan kondisi rentan stunting. Karena itu, kader diharapkan aktif memberikan penyuluhan pada masyarakat, terutama melalui pemeriksaan rutin. Penguatan peran posyandu menjadi kunci dalam pencegahan dini stunting di desa. Selain materi stunting, seminar menghadirkan Dr. Hj. Rofiqoh, M.Pd., CHt, dosen Psikologi UIN Malang sebagai pemateri parenting. Beliau menjelaskan bahwa pola asuh yang tepat sangat berpengaruh pada perkembangan emosi dan mental anak. Parenting tidak hanya terkait kebutuhan fisik, tetapi juga melibatkan perhatian, komunikasi, dan kedekatan emosional. Dr. Rofiqoh memberikan contoh-contoh nyata tantangan pola asuh di lingkungan pedesaan. Materi disampaikan secara inspiratif dan interaktif agar mudah diikuti peserta. Dr. Rofiqoh mengajak kader memahami bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Anak yang mendapatkan pendampingan penuh sejak dini cenderung memiliki daya saing lebih tinggi ketika dewasa. Beliau juga menyoroti pentingnya mengurangi pola asuh keras dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih humanis. Parenting yang baik turut mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Peserta terlihat antusias menyimak materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam sesi diskusi, para kader posyandu aktif berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi di lapangan. Mereka menanyakan berbagai kondisi berbeda yang kerap terjadi pada balita dan keluarga binaan. Narasumber menjawab setiap pertanyaan dengan rinci dan memberikan panduan yang aplikatif. Suasana seminar menjadi sangat hidup karena interaksi dua arah berlangsung intensif. Mahasiswa KKM 30 turut mendampingi proses diskusi dan mencatat poin penting yang muncul. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari aparat pemerintah desa yang hadir. Kepala desa menyampaikan bahwa edukasi kesehatan seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat Karanganyar. Ia menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dilakukan serentak oleh semua elemen desa. Kehadiran narasumber profesional dan mahasiswa dianggap mampu memperluas wawasan kader. Pemerintah desa berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan di masa mendatang. Para mahasiswa KKM 30 mengaku bangga bisa berperan langsung dalam pemberdayaan masyarakat. Mereka memandang kegiatan ini sebagai bentuk penerapan ilmu di dunia nyata melalui pengabdian. Mahasiswa berharap kader posyandu dapat menjadi agen perubahan yang aktif di desa. Mereka juga berencana mendampingi kader secara berkelanjutan selama masa pengabdian. Program ini menjadi bagian dari komitmen mahasiswa mendukung perbaikan kualitas hidup masyarakat. Seminar ditutup dengan penyerahan sertifikat dan foto bersama seluruh peserta dan narasumber. Mahasiswa memberikan modul rangkuman materi agar kader dapat mengulangi dan menyebarkan informasi kepada warga. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal menciptakan Karanganyar bebas stunting. Sinergi mahasiswa, dosen ahli, kader posyandu, dan pemerintah desa menjadi kekuatan utama dalam perubahan ini. Dengan pengetahuan baru, kader semakin siap menjadi garda terdepan menjaga tumbuh kembang generasi muda desa.
AYU ZANTIKA NAJMI
Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 93 Kalventra Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan penempatan Bank Sampah di Dusun Duren, Desa Dawuhan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja pengelolaan lingkungan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah secara berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM 93 Kalventra membuat dan menempatkan lima unit Bank Sampah yang didistribusikan di lima Rukun Tetangga (RT), yaitu RT 45, RT 46, RT 47, RT 48, dan RT 49. Setiap RT menerima satu Bank Sampah yang dapat dimanfaatkan oleh warga sebagai sarana pengelolaan sampah anorganik. Penempatan Bank Sampah dilakukan di lokasi yang strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Penentuan lokasi dilakukan melalui koordinasi dengan perangkat desa dan pengurus RT agar Bank Sampah dapat digunakan secara optimal oleh warga di masing-masing wilayah. Program Bank Sampah ini bertujuan untuk mendorong masyarakat melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai guna diharapkan dapat dikumpulkan dan dikelola dengan baik sehingga mampu mengurangi volume sampah serta memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat. Kegiatan penempatan Bank Sampah mendapat sambutan positif dari masyarakat Dusun Duren. Antusiasme warga terlihat dari dukungan serta kesiapan untuk memanfaatkan Bank Sampah yang telah disediakan di setiap RT. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM 93 Kalventra berharap Bank Sampah yang telah ditempatkan dapat digunakan secara berkelanjutan serta menjadi langkah awal dalam membangun budaya peduli lingkungan dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab di Dusun Duren, Desa Dawuhan.
HIDAYATUS SA`ADAH
Desa Gadang, Kec. Sukun, Kab. Malang-- (04/02/26), Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Program ini dirancang untuk mempertemukan mahasiswa dengan realitas sosial secara langsung, sehingga mereka mampu mengaplikasikan pengetahuan akademik, mengembangkan kepekaan sosial, serta membangun kemampuan berinteraksi dengan masyarakat. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan pengabdian, KKM Kelompok 113 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang secara resmi melaksanakan acara penutupan sebagai penanda berakhirnya masa KKM. Acara penutupan tersebut dilaksanakan di Masjid Ali Musthofa dan berlangsung secara tertib serta khidmat. Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa pengurus takmir masjid, mahasiswa KKM Kelompok 113, serta Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Kehadiran para pengurus takmir masjid mencerminkan dukungan dan keterlibatan aktif pihak masjid dalam seluruh rangkaian kegiatan KKM yang telah dilaksanakan. Penutupan KKM menjadi momentum reflektif bagi mahasiswa untuk meninjau kembali proses pengabdian yang telah dijalani. Selama masa KKM, mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang berorientasi pada penguatan peran masjid sebagai pusat aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, acara penutupan tidak hanya dimaknai sebagai akhir kegiatan lapangan, tetapi juga sebagai sarana evaluasi dan penguatan nilai-nilai pengabdian. Dalam rangkaian acara, dilakukan prosesi penegasan berakhirnya masa tugas mahasiswa KKM di lokasi pengabdian. Prosesi ini merepresentasikan selesainya tanggung jawab mahasiswa dalam menjalankan peran pendampingan dan pemberdayaan masyarakat. Secara konseptual, kegiatan tersebut mencerminkan prinsip kedisiplinan, akuntabilitas, serta kepatuhan terhadap mekanisme kelembagaan dalam pelaksanaan program pengabdian masyarakat. Selain itu, acara penutupan juga diisi dengan prosesi serah terima mahasiswa KKM dari pihak takmir Masjid Ali Musthofa kepada Dosen Pendamping Lapangan. Serah terima ini memiliki makna institusional sebagai bentuk pengembalian tanggung jawab pendampingan mahasiswa dari masyarakat kepada pihak universitas. Dalam sambutannya, perwakilan takmir masjid menyampaikan apresiasi atas kontribusi dan keterlibatan aktif mahasiswa selama masa KKM. Pengurus takmir masjid menilai bahwa kehadiran mahasiswa KKM Kelompok 113 memberikan dampak positif terhadap dinamika kegiatan masjid dan kehidupan sosial masyarakat sekitar. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja yang telah direncanakan, tetapi juga mampu berbaur dengan jamaah dan warga, serta turut mendukung aktivitas keagamaan dan sosial yang berlangsung di masjid. Dosen Pendamping Lapangan dalam sambutannya menyampaikan penghargaan atas dedikasi mahasiswa selama menjalankan KKM. Kegiatan KKM dipandang sebagai wahana pembelajaran kontekstual yang penting dalam membentuk karakter mahasiswa, khususnya dalam hal tanggung jawab sosial, kerja sama, dan kemampuan adaptasi di tengah masyarakat. Dengan berakhirnya masa KKM di Masjid Ali Musthofa, mahasiswa kembali ke lingkungan kampus membawa pengalaman empiris yang memperkaya perspektif keilmuan dan sosial. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam membentuk lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan komitmen terhadap pembangunan serta pemberdayaan masyarakat.