Thumbnail
3 months ago
Warna, Angka, dan Lagu: Cerita KKM Narakarya 42 di Taman Posyandu

NADHIF QONITATUN HAFIDHOH

Dengkol, 6 Januari 2026 -- Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 42 Narakarya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan edukatif bersama anak-anak pra-PAUD di Taman Posyandu Desa Dengkol. Kegiatan ini akan dilaksanakan secara rutin setiap hari Selasa dan Kamis sebagai bentuk pendampingan belajar bagi anak-anak. Selain menjadi sarana pembelajaran, kegiatan ini menjadi momen perkenalan awal mahasiswa dengan anak-anak serta para pendidik yang akrab disapa ‘Bunda’. Kegiatan hari pertama ini diawali dengan sesi perkenalan antara mahasiswa KKM, anak-anak, dan para bunda pendamping. Suasana hangat dan penuh keceriaan pun tercipta ketika satu per satu mahasiswa memperkenalkan diri, yang disambut dengan antusias serta rasa ingin tahu dari anak-anak. Setelah sesi perkenalan, kegiatan dilanjutkan dengan belajar mewarnai. Anak-anak terlihat bersemangat menyalurkan kreativitas mereka melalui berbagai warna pada gambar yang telah disediakan. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKM turut mendampingi anak-anak mewarnai sekaligus mengajak mereka menghitung jumlah objek yang terdapat pada gambar, seperti jumlah hewan, atau benda lain yang sedang mereka warnai. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kemampuan mengenal warna sekaligus mengembangkan keterampillan berhitung secara sederhana. Tak hanya itu, suasana kegiatan belajar semakin meriah dengan sesi bernyanyi bersama. Lagu-lagu anak yang ceria dinyanyikan bersama-sama, sehingga tercipta suasana yang akrab dan menyenangkan. Anak-anak terlihat aktif mengikuti gerakan dan lirik lagu, menjadikan proses pembelajaran terasa lebih ringan dan menyenangkan layaknya bermain. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga sebagai upaya untuk membangun kedekatan emosional antara mahasiswa KKM dengan anak-anak serta para bunda pendamping. Melalui aktivitas sederhana namun bermakna tersebut, diharapkan anak-anak dapat belajar dengan cara yang menyenangkan dan penuh keceriaan. Kegiatan di Taman Posyandu ini menjadi bagian dari rangkaian program pengabdian KKM 42 Narakarya yang berfokus pada bidang parenting melalui pendidikan dan pengembangan karakter anak sejak usia dini.

Thumbnail
3 months ago
Mahasiswa KKM 28 "Laskara" UIN Malang Dukung Pelayanan Kesehatan Melalui Posyandu Lansia Rutin

RENGGANIS PRAMA ISWARI

Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 28 "Laskara" UIN Malang turut berpartisipasi dalam kegiatan Posyandi Lansia yang dilaksanakan bersama perawat desa di beberapa rumah warga yang dijadikan sebagai pos pelayanan. Kegiatan ini merupakan program rutin yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan para lanjut usia di desa. Pelaksanaan Posyandu Lansia berlangsung dengan suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan. Para lansia datang secara bergiliran untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, seperti pemeriksaan tekanan darah, pengecekan berat badan, konsultasi kesehatan, serta pemberian edukasi mengenai pola hidup sehat di usia lanjut. Perawat desa bersama kader kesehatan setempat berperan aktif dalam memberikan pelayanan, sementara mahasiswa KKM turut membantu proses pendataan, pengukuran kesehatan, serta mendampingi para lansia selama kegiatan berlangsung. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM tidak hanya memperoleh pengalaman langsung dalam kegiatan pelayanan masyarakat, tetapi juga belajar mengenai pentingnya peran posyandu dalam meningkatkan kualitas hidup lansia. Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara mahasiswa, tenaga kesehatan, dan masyarakat setempat. Diharapkan kegiatan Posyandu Lansia dapat terus berjalan secara rutin dan memberikan manfaat nyata bagi kesehatan para lansia, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. 

Thumbnail
3 months ago
Menggerakkan Potensi Lokal: KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh dengan Pendekatan ABCD

SYARIFAH RARA WARDA NYRVANA

Pembangunan desa selama ini masih sering dipahami dari sudut pandang kekurangannya. Desa kerap digambarkan sebagai wilayah dengan fasilitas terbatas, sumber daya manusia yang belum optimal, serta keterbatasan akses terhadap program pemberdayaan dan peluang ekonomi. Cara pandang tersebut secara tidak langsung menempatkan desa sebagai objek pembangunan yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Akibatnya, potensi yang sebenarnya telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat sering kali luput dari perhatian. Padahal, setiap desa memiliki kekuatan lokal yang lahir dari aktivitas warganya sehari-hari, hubungan sosial yang terjalin, lembaga-lembaga komunitas yang terus berjalan, serta berbagai bentuk usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri. Potensi tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk fasilitas fisik yang besar, melainkan tersimpan dalam keterampilan warga, kebiasaan gotong royong, semangat belajar anak-anak, kepedulian keluarga terhadap kesehatan, serta kreativitas pelaku usaha lokal. Ketika potensi ini dikenalkan, dipetakan, dan dikembangkan secara bersama, desa memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk membangun kesejahteraan warganya secara berkelanjutan. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, menampilkan bahwa pembangunan berbasis potensi lokal dapat diwujudkan melalui pendekatan yang tepat. Melalui kerangka Asset Based Community Development (ABCD) yang dikembangkan oleh LP2M, mahasiswa hadir bukan untuk membawa program siap pakai, melainkan memfasilitasi proses pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki desa. Pendekatan ABCD memandang masyarakat sebagai pemilik utama sumber daya dan pengetahuan lokal. Dalam praktiknya, mahasiswa KKM berperan sebagai mitra dan fasilitator yang membantu warga menggali potensi, menghubungkan antar kelompok masyarakat, serta mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor desa. Proses ini diawali dengan pengenalan kondisi desa, interaksi langsung dengan warga, diskusi bersama perangkat desa, tokoh, pengelola lembaga masyarakat pendidikan, kader posyandu, pemuda Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Melalui dialog dan interaksi langsung, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Desa Sengguruh memiliki banyak aset sosial, pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi yang dapat saling mendukung apabila dikelola secara terpadu. Pendidikan Anak dan TPQ sebagai Aset Sosial yang Hidup Salah satu aset penting yang dimiliki Desa Sengguruh adalah keberadaan lembaga pendidikan formal dan nonformal yang aktif dan mendapatkan dukungan masyarakat. Kegiatan asistensi mengajar yang dilaksanakan di SDN Sengguruh menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan kepercayaan diri anak-anak. Selama kegiatan berlangsung, siswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan praktik sederhana yang melibatkan siswa secara langsung. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan, berani bertanya, serta aktif menyampaikan pendapat. Respons positif ini menunjukkan bahwa minat belajar dan rasa ingin tahu anak-anak di Desa Sengguruh merupakan aset sosial yang sangat berharga. Selain di sekolah, kegiatan pendampingan juga dilaksanakan di TPQ Nurul Huda. TPQ berperan sebagai ruang pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan sikap disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab. Anak-anak mengikuti kegiatan mengaji dengan penuh semangat, sementara siswa membantu dalam penguatan bacaan, hafalan, serta menyampaikan nilai-nilai akhlak sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keberadaan SDN Sengguruh dan TPQ Nurul Huda menunjukkan bahwa lembaga pendidikan di desa tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara pembelajaran, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial anak-anak dan orang tua. Sekolah dan TPQ menjadi titik temu antara pendidik, keluarga, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak desa, lembaga pendidikan ini berpotensi menjadi pusat pengembangan generasi muda yang kreatif, berkarakter, religius, dan adaptif terhadap perubahan. Posyandu dan Edukasi Keluarga sebagai Aset Kesehatan yang Efektif Di bidang kesehatan, Desa Sengguruh memiliki jaringan posyandu yang aktif dan didukung oleh kader-kader yang berperan langsung dalam pelayanan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan posyandu selama empat hari menunjukkan tingginya partisipasi warga, khususnya ibu-ibu yang membawa balita untuk melakukan penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, serta konsultasi kesehatan. Selain pelayanan rutin, mahasiswa KKM turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi kesehatan dan edukasi parenting. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya menyediakan gizi seimbang, pola asuh yang mendukung perkembangan anak, pencegahan penyakit ringan di lingkungan keluarga, serta peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan emosional anak. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima. Posyandu di Desa Sengguruh tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan dasar, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi keluarga. Interaksi antara kader, pelajar, dan warga membentuk proses pertukaran pengetahuan yang sederhana namun bermakna. Melalui pendekatan ABCD, keberadaan kader posyandu, PKK, serta jaringan ibu-ibu desa dipandang sebagai aset sosial yang mampu menyebarkan informasi kesehatan secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah ada, edukasi kesehatan tidak berhenti pada satu kegiatan saja, namun dapat dilanjutkan melalui pertemuan rutin, kegiatan PKK, dan interaksi informal antarwarga. Dampaknya dirasakan langsung oleh unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sebagai fondasi utama pembangunan kualitas sumber daya manusia desa. UMKM Lokal dan Penguatan Ekonomi Desa Desa Sengguruh memiliki potensi ekonomi lokal yang cukup beragam. Beberapa UMKM telah berjalan secara mandiri, seperti usaha batik, produksi keripik tempe, dan pembuatan sepatu. Usaha-usaha ini menunjukkan kemampuan warga dalam mengelola keterampilan, bahan lokal, dan jaringan pemasaran sederhana. Namun, salah satu aset ekonomi sekaligus budaya yang paling menonjol adalah Rumah Topeng Desa Sengguruh. Rumah Topeng tidak hanya berperan sebagai tempat produksi topeng tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya desa yang mewakili nilai seni, sejarah, dan kearifan lokal. Keberadaan Rumah Topeng menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar desa, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Mahasiswa KKM mendampingi pengelola UMKM, khususnya Rumah Topeng, melalui kegiatan penataan ruang produksi, perbaikan tampilan visual, serta diskusi mengenai strategi promosi sederhana. Pendampingan ini menekankan bahwa penguatan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari perbaikan tata ruang, dokumentasi produk yang lebih menarik, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Melalui proses tersebut, pengelola UMKM memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya tampilan produk, cerita di balik produk lokal, serta potensi pasar yang dapat dijangkau secara lebih luas. Dengan dukungan berbasis aset dan kreativitas lokal, UMKM di Desa Sengguruh memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Kohesi Sosial dan Balai Desa sebagai Pusat Aktivitas Masyarakat Selain aset pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Desa Sengguruh juga memiliki kekuatan sosial yang ditunjukkan melalui aktivitas pemuda dan keberfungsian balai desa. Kegiatan kerja bakti yang melibatkan pemuda Karang Taruna menjadi contoh nyata semangat gotong royong yang masih terjaga. Kegiatan ini tidak hanya fokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang interaksi antarwarga lintas usia. Pemuda desa menunjukkan peran aktif dalam mendukung berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Keterlibatan mereka menjadi modal penting dalam menjaga keinginan program desa, sekaligus menjadi penggerak pembangunan desa di masa depan. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi berbagai kegiatan masyarakat. Berbagai program KKM, seperti sosialisasi kesehatan, pertemuan UMKM, diskusi bersama perangkat desa, hingga kegiatan komunitas pemuda, dilaksanakan di balai desa. Keberadaan balai desa sebagai ruang publik memungkinkan terbangunnya komunikasi yang terbuka, partisipasi warga, serta proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif. Pemanfaatan balai desa dan jejaring sosial yang telah terbentuk membuat setiap kegiatan saling terhubung dan berjalan lebih efektif. Rasa memiliki terhadap program desa pun semakin kuat, sehingga ketergantungan terhadap bantuan eksternal secara perlahan dapat dikurangi. ABCD sebagai Kerangka Pemberdayaan Desa Pendekatan ABCD dari LP2M menjadi landasan utama bagi KKM Reguler Kelompok 82 dalam merencanakan seluruh kegiatan di Desa Sengguruh. Fokus utama pendekatan ini adalah mengidentifikasi dan mengoptimalkan aset yang sudah ada, baik berupa aset individu, kelompok, lembaga, maupun fasilitas desa. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antar aset agar dapat saling mendukung. Edukasi parenting di posyandu dapat dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran karakter di sekolah dan TPQ. Promosi UMKM dan Rumah Topeng dapat diintegrasikan dengan pemanfaatan balai desa sebagai pusat informasi dan ruang pamer. Kegiatan kerja bakti dan peran pemuda Karang Taruna memperkuat kohesi sosial yang menjadi landasan program-program tersebut. Melalui inisiasi, masyarakat mulai melihat bahwa setiap kelompok dan lembaga di desa memiliki peran yang saling melengkapi. Desa Sengguruh tidak lagi diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek pembangunan yang memiliki kapasitas untuk menentukan arah, prioritas, dan bentuk pengembangan desanya sendiri. penutup Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan berangkat dari kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengelola, dan merawat potensi yang telah dimiliki. Desa Sengguruh membuktikan bahwa aset manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan dapat saling terhubung untuk menghasilkan perubahan yang nyata. Anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, ibu-ibu yang semakin peduli terhadap kesehatan keluarga, UMKM kreatif terutama Rumah Topeng sebagai ikon budaya desa, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial, serta balai desa yang berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, menjadi fondasi penting bagi masa depan Desa Sengguruh yang mandiri dan berdaya. Pembangunan desa tidak lagi semata-mata dipahami sebagai upaya memperbaiki kekurangan, tetapi sebagai proses menggerakkan, menghubungkan, dan mengembangkan kekuatan lokal agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan mahasiswa KKM, Desa Sengguruh memiliki modal sosial yang kuat untuk melanjutkan praktik pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Thumbnail
3 months ago
Tanamkan Budaya Hemat, Kelompok KKM 56 Ajak Siswa SDN 3 Jedong buat Celengan Kreatif dan Gemar Menabung

VIORENA ANDRIAN NOVALINA

https://www.kompasiana.com/afiqmuhammad2970/6976d7fec925c460dc004f14/tanamkan-budaya-hemat-kelompok-kkm-56-ajak-siswa-sdn-3-jedong-buat-celengan-kreatif-dan-gemar-menabung MALANG -- Mahasiswa KKM Kelompok 56 sukses menggelar sosialisasi literasi keuangan bertajuk "Saving Money" bagi siswa-siswi SDN 3 Jedong pada Sabtu (24/1). Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran gemar menabung serta mengedukasi siswa agar tidak berperilaku boros sejak dini. Acara yang berlangsung di aula sekolah ini diikuti oleh seluruh murid, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Sosialisasi dikemas secara menarik, tidak hanya melalui pemaparan materi konvensional, tetapi juga melalui penayangan video animasi yang edukatif. Ketua KKM 56 membuka acara dengan memberikan sambutan dan motivasi. Ia menekankan pentingnya mengelola uang saku dengan bijak. Setelah sesi pemaparan materi, antusiasme siswa semakin memuncak saat memasuki sesi praktik membuat celengan kreatif dari botol bekas dan sedotan. Untuk menjaga kondusivitas, sesi praktik dilakukan di kelas masing-masing. Setiap kelas didampingi oleh anggota kelompok KKM 56 sebagai penanggung jawab. Para siswa terlihat sangat senang dan bangga saat berhasil menyulap botol bekas menjadi tempat menabung yang unik dan menarik. Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa SDN 3 Jedong tidak hanya memahami teori menabung, tetapi juga memiliki semangat untuk langsung mempraktikkannya menggunakan celengan hasil karya mereka sendiri.

Thumbnail
3 months ago
Mengabdi di Ruang Mengaji: Cerita KKM 42 Narakarya di TPQ Desa Dengkol

MUHAMMAD HAVIDZ DAVALA

Desa Dengkol, 17 Januari 2026 - Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 42 Narakarya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan dokumentasi berupa pengambilan foto di beberapa Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang menjadi lokasi pengabdian mahasiswa. Kegiatan mengajar ini merupakan bagian dari program kerja yang berfokus pada moderasi beragama sekaligus parenting (pendampingan belajar anak).   Program mengajar di TPQ ini telah berjalan sejak awal kedatangan mahasiswa KKM di Desa Dengkol, sekitar tanggal 31 Desember 2026. Sejak saat itu, mahasiswa secara rutin terlibat dalam kegiatan pembelajaran mengaji bersama anak-anak sebagai bentuk kontribusi mereka dalam penguatan nilai-nilai keagamaan.   Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM 42 dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengajar di empat TPQ yang tersebar di Desa Dengkol. Tiga TPQ melaksanakan kegiatan mengaji pada sore hari, sementara satu TPQ lainnya berlangsung pada malam hari. TPQ malam diperuntukkan bagi anak-anak dengan tingkatan yang lebih tinggi Pada setiap TPQ, baik sore maupun malam hari, mahasiswa tidak hanya mendampingi anak-anak membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengajarkan berbagai materi mengaji serta menyimak bacaan santri satu per satu. Kegiatan menyimak ini dilakukan untuk membantu memperbaiki pelafalan huruf, kelancaran bacaan, serta penerapan tajwid agar mereka dapat membaca Al-Qur’an dengan lebih baik dan benar.   Menariknya, setiap TPQ memiliki metode pembelajaran yang berbeda-beda, mulai dari metode Iqro, Qiroati, hingga Yanbu’a. Perbedaan metode ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang telah berjalan di masing-masing TPQ. Melalui proker ini, mahasiswa tidak hanya mengajarkan cara membaca Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan nilai kesabaran, kedisiplinan, dan kebersamaan. Pendekatan yang digunakan dibuat ramah anak agar proses belajar terasa nyaman dan menyenangkan. Kegiatan pengambilan foto pada 17 Januari 2026 ini menjadi bagian dari dokumentasi atas keberlangsungan program mengajar TPQ selama masa KKM. Program ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi anak-anak sekaligus memperkuat peran mahasiswa dalam mendukung pendidikan keagamaan yang terbuka bagi semua dan terus berkembang di Desa Dengkol.   Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mengabdi di Ruang Mengaji: Cerita KKM 42 Narakarya di TPQ Desa Dengkol", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/narakarya42/69741ee8c925c458211a00d5/mengabdi-di-ruang-mengaji-cerita-kkm-42-narakarya-di-tpq-desa-dengkol   Kreator: Narakarya 42   Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.   Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

Thumbnail
3 months ago
Kolaborasi KKM 85 MITSEVA dan KKM UNIDHA Desa Pojok Gelar Edukasi Anti-Bullying di SDN 01 Pojok

SHALYA HAGGIE NARAH SUKI

Dalam upaya menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya sikap saling menghargai, KKM 85 MITSEVA berkolaborasi dengan KKM UNIDHA Desa Pojok menggelar kegiatan edukasi anti-bullying pada Kamis, 29 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di SDN 01 Pojok dengan melibatkan siswa kelas 5 dan 6 sebagai peserta utama. Rangkaian kegiatan diawali dengan pemberian materi mengenai bullying, mulai dari pengertian, bentuk-bentuk, hingga dampak yang dapat ditimbulkan. Materi disampaikan secara komunikatif dan interaktif sehingga mudah dipahami oleh adik-adik. Kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran animasi bertema anti-bullying yang menggambarkan situasi sehari-hari di lingkungan sekolah sekaligus menyampaikan pesan moral tentang empati dan kepedulian. Usai menonton animasi, para peserta diajak mengikuti kuis berhadiah seputar materi yang telah disampaikan. Pada sesi ini, terlihat jelas bahwa antusiasme adik-adik tidak semata-mata karena hadiah. Mereka menunjukkan pemahaman yang baik terhadap materi, dibuktikan dengan banyaknya jawaban benar yang diberikan. Hal tersebut menjadi indikator bahwa adik-adik benar-benar menyimak dan memahami pesan yang disampaikan selama kegiatan. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi refleksi diri yang menjadi bagian paling mengharukan. Dalam sesi ini, adik-adik didampingi oleh kakak-kakak KKM untuk menuangkan pengalaman serta memori mereka terkait bullying dalam bentuk catatan kecil (note). Mereka diberi ruang aman untuk bercerita, mengekspresikan perasaan, bahkan untuk menangis. Beberapa di antaranya memilih memeluk kakak-kakak KKM sebagai bentuk kelegaan dan rasa nyaman. Momen refleksi tersebut menghadirkan suasana yang penuh penuh empati, menggambarkan kuatnya nilai saling melindungi dan memahami.  Melalui kolaborasi ini, KKM 85 MITSEVA dan KKM UNIDHA Desa Pojok berharap dapat menumbuhkan keberanian untuk bersuara, meningkatkan kepedulian sosial, serta membangun lingkungan sekolah yang aman dan ramah bagi seluruh siswa.