SALSABILA ALYAPUTRI WALUYO
Ada tempat di mana kapur tidak sekadar meninggalkan jejak putih di papan tulis, melainkan meneteskan doa yang pelan-pelan meresap ke langit. Ada ruang kelas yang barangkali kecil ukurannya, tetapi luas maknanya—sebab di sanalah mimpi-mimpi anak-anak dititipkan, dirawat, dan dipercaya akan tumbuh. Tempat itu bernama MI Al-Ittihad Paras, sebuah madrasah sederhana yang berdiri tenang di Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Saya datang ke tempat ini bukan sebagai orang yang paling tahu, melainkan sebagai manusia yang ingin belajar arti mengabdi. Sebagai bagian dari KKN 129 Weningga Wirabhana, saya dan sepuluh teman lainnya diberi amanah menjalankan salah satu program kerja utama: mengajar. Kami datang membawa ilmu yang terbatas, tetapi dengan niat yang kami bentangkan seluas-luasnya. Setiap hari Rabu dan Kamis, kami membagi diri ke kelas-kelas dari kelas 1 hingga kelas 6. Dua kali dalam seminggu, kami membagi waktu, membagi tenaga, dan tanpa sadar—membagi hati. Di ruang-ruang sederhana itu, papan tulis menjadi saksi bisu, suara anak-anak menjadi lagu yang tak pernah fals, dan kapur yang menari di tangan kami seakan berbisik lirih: ajarilah dengan kasih, karena marah tak pernah melahirkan tumbuh. Di MI Al-Ittihad Paras, saya tak hanya dipanggil sebagai pengajar. Saya dipanggil sebagai kakak. Entah sejak kapan, saya menjadi salah satu kakak favorit mereka. Setiap hari selalu ada tangan-tangan kecil yang menyodorkan jajanan, surat-surat pendek dengan ejaan yang belum sempurna tetapi cinta yang begitu utuh. Ada hadiah-hadiah kecil—gelang, cincin mainan, boneka mungil—benda-benda sederhana yang nilainya melampaui apa pun yang bisa dibeli. Dari mereka saya belajar satu hal: bahwa kasih sayang tidak membutuhkan alasan rumit. Ia tidak perlu dijelaskan. Ia cukup hadir. Suatu hari, tubuh saya tak lagi bersahabat. Sakit datang mengetuk tanpa permisi. Namun hati saya menolak untuk benar-benar absen. Saya tetap memaksakan diri mengajar kelas 3, dengan suara yang ditahan, dengan senyum yang dijaga agar tak runtuh. Saya mengajar selembut yang saya bisa, tanpa marah, tanpa meninggikan suara—seolah ingin memastikan bahwa rasa sakit tidak ikut turun ke dalam pelajaran. Namun keesokan harinya, tubuh saya menyerah. Saya izin mengajar karena kondisi yang semakin memburuk. Saya pikir hari itu akan berlalu biasa saja. Ternyata saya salah. Anak-anak kelas 3 datang ke posko KKN. Mereka menjenguk saya. Mereka datang membawa obat. Membawa jajanan. Dan membawa sesuatu yang tak bisa diukur dengan kata apa pun—surat cinta. Tulisan tangan kecil itu terasa seperti pelukan yang tidak kasatmata, hangat, dan menenangkan. Di saat itulah saya sadar, bahwa apa yang kami ajarkan tak pernah benar-benar hilang. Ia kembali, menjelma kasih yang paling murni. Sejak hari itu, posko KKN hampir tak pernah sepi. Hampir setiap hari ada suara kecil yang bertanya dari balik pagar, dari balik pintu, dari balik rindu: “Kak Sabilnya ada?” Kalimat itu menjelma mantra. Ia melelahkan raga, tetapi menguatkan jiwa. Ia sederhana, tetapi berat maknanya. Saya belajar bahwa menjadi pendidik bukan tentang berdiri paling depan, bukan tentang suara paling lantang, melainkan tentang tinggal di hati. Tentang hadir dengan sabar. Tentang memilih lembut, bahkan ketika lelah. MI Al-Ittihad Paras mungkin kecil secara bangunan, tetapi besar dalam makna. Di sanalah saya melihat mimpi-mimpi tumbuh tanpa perlu berteriak. Di sanalah saya mengerti bahwa mengajar adalah ibadah yang bekerja diam-diam—mengubah murid, sekaligus mengubah diri sendiri. Karena ketika kapur menjadi doa, dan madrasah kecil memeluk mimpi yang besar, yang tumbuh bukan hanya ilmu— melainkan manusia. Dusun Paras mengajarkan saya satu hal yang akan selalu saya simpan: kadang, yang paling menyembuhkan bukan obat, melainkan cinta yang diajarkan oleh anak-anak dengan hati paling jujur.
MUHAMMAD RAMZI
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Pada Tahun 2025–2026, saya bersama Kelompok Eshora melaksanakan pengabdian selama 40 hari di Dusun Gumul, Desa Sukomulyo, Kecamatan Pujon. Kegiatan ini menjadi ruang aktualisasi keilmuan sekaligus proses pembelajaran sosial yang komprehensif di tengah kehidupan masyarakat. Kegiatan diawali dengan pelepasan resmi oleh pihak kampus yang memberikan pembekalan mengenai peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan. Setibanya di lokasi, Kelompok Eshora melakukan koordinasi dengan perangkat desa serta tokoh masyarakat guna menyelaraskan program kerja dengan kebutuhan setempat. Pembukaan KKM yang dilaksanakan di Balai Desa Sukomulyo menjadi momentum penting dalam membangun komitmen kolaboratif antara mahasiswa dan masyarakat. Selama pelaksanaan KKM, Kelompok Eshora menjalankan berbagai program kerja secara terstruktur dalam beberapa bidang utama, yaitu keagamaan, pendidikan, sosial, dan lingkungan. Dalam bidang keagamaan, program One Day One Juz dilaksanakan secara konsisten hingga khatam 30 juz Al-Qur’an. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga membangun kedisiplinan dan kebersamaan antaranggota kelompok. Selain itu, partisipasi dalam kegiatan keagamaan masyarakat seperti tahlil, yasinan, pembacaan Al-Kahfi dan Al-Waqiah, serta sholawat rutin menjadi sarana integrasi sosial yang efektif. Pada bidang pendidikan, Kelompok Eshora berperan aktif dalam mendukung kegiatan pembelajaran di SDN Sukomulyo 4. Pendampingan senam pagi, keterlibatan dalam proses belajar mengajar, serta penerapan metode pembelajaran yang interaktif menjadi bagian dari kontribusi yang diberikan. Selain itu, pengembangan minat dan bakat siswa melalui latihan seni tari, vokal, MC, dan dirigen turut menjadi fokus pendampingan. Pembuatan video profil sekolah serta pelaksanaan program Adiwiyata juga dilakukan sebagai upaya mendukung penguatan identitas sekolah dan peningkatan kesadaran lingkungan di kalangan siswa. Kontribusi dalam pendidikan nonformal diwujudkan melalui kegiatan mengajar di TPQ Baitussalam, TPQ Al-Qodar, dan TPQ P. Imron. Pendampingan santri dalam membaca dan memahami Al-Qur’an dilaksanakan secara rutin dengan pendekatan yang komunikatif dan suportif. Selain itu, penyelenggaraan sosialisasi parenting di lingkungan TPQ memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya pola asuh yang mendukung perkembangan anak. Kelompok Eshora juga melaksanakan sosialisasi pencegahan pernikahan dini di Balai Desa sebagai bentuk kontribusi edukatif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak sosial, psikologis, dan pendidikan dari pernikahan usia dini. Dalam bidang sosial dan lingkungan, Kelompok Eshora turut terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, seperti membantu distribusi bantuan sosial, mendampingi musyawarah desa, serta berpartisipasi dalam kerja bakti di lingkungan Sumber Dawuhan. Kebersihan posko dan lingkungan sekitar dijaga secara konsisten sebagai bentuk keteladanan. Dukungan terhadap UMKM lokal diwujudkan melalui pembuatan dokumentasi dan konten promosi produk sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif desa. Menjelang akhir masa pengabdian, dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program kerja. Kegiatan penutupan KKM berlangsung dengan tertib dan dihadiri oleh perangkat desa serta masyarakat. Momentum pamitan menjadi refleksi bahwa hubungan yang terjalin selama 40 hari tidak hanya bersifat formal, tetapi juga emosional dan kekeluargaan. Secara keseluruhan, pelaksanaan KKM oleh Kelompok Eshora di Dusun Gumul memberikan pengalaman yang signifikan dalam membangun kompetensi sosial, kepemimpinan, serta sensitivitas terhadap kebutuhan masyarakat. Pengabdian ini menegaskan bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat merupakan fondasi penting dalam menciptakan dampak yang berkelanjutan. Empat puluh hari pengabdian bukan sekadar rangkaian kegiatan, melainkan proses pembelajaran yang memperkaya perspektif dan memperkuat komitmen untuk terus berkontribusi bagi masyarakat.
LUTHFIA MARTIANA DEWI
https://drive.google.com/drive/folders/1HP1trPzJlLbGDxMv7reDL4kGFf_2APyt
ENDANG LUWI RIMANDA WITALOKA
Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelurahan Kedung Asem menunjukkan kepeduliannya terhadap kesehatan lingkungan dengan melaksanakan kerja bakti di area Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Minggu pagi (04/01/2026). Kegiatan ini merupakan hasil koordinasi matang antara mahasiswa dengan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan pengurus RW 08 beberapa hari sebelumnya. Kondisi area IPAL yang sebelumnya banyak ditumbuhi rumput liar kini berubah menjadi lebih bersih dan rapi. Selain untuk estetika, pembersihan ini bertujuan memastikan fasilitas sanitasi warga tersebut dapat diakses dan berfungsi dengan optimal. Ibu RW 08, yang memimpin langsung jalannya koordinasi, mengungkapkan bahwa kehadiran mahasiswa menjadi pemicu semangat baru bagi warga. Beliau mengakui bahwa meski agenda kerja bakti rutin dijadwalkan setiap bulan, partisipasi masyarakat belakangan ini cenderung menurun. "Kerja bakti ini sebenarnya agenda rutin bulanan, tapi belakangan sedikit sekali warga yang berpartisipasi. Dengan kedatangan adik-adik mahasiswa KKM, saya ingin mengajak masyarakat kembali aktif dan peduli terhadap lingkungan kita sendiri," ujar Ibu RW 08 dalam arahannya. Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari ini berlangsung dengan suasana akrab. Sambil mencabuti rumput liar, mahasiswa dan warga saling bercanda dan berdiskusi mengenai pentingnya kegunaan IPAL bagi kesehatan pemukiman. Perwakilan mahasiswa KKM menjelaskan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah memastikan sanitasi lingkungan tetap terjaga. "Kami ingin memastikan sanitasi warga terjaga agar lingkungan tetap sehat. Kami sangat berharap ke depannya warga tidak lagi membuang sampah plastik ke dalam saluran agar tidak mampet, dan yang terpenting adalah konsisten dalam menjaga lingkungan bersama meskipun masa KKM kami nanti sudah berakhir," ungkap salah satu perwakilan mahasiswa. Melalui sinergi ini, area IPAL yang sebelumnya tertutup semak kini kembali bersih. Harapannya, kegiatan ini menjadi momentum bagi warga RW 08 untuk terus melestarikan budaya gotong royong demi kualitas hidup yang lebih baik di Kelurahan Kedung Asem.
BAIQ DANYA SYAVIRA S.
Lombok Tengah, 26 Januari 2026 – Jalanan desa mendadak berubah menjadi lautan manusia yang penuh warna pada Minggu (25/1) kemarin. Di tengah hiruk-pikuk suara gamelan dan kecimol yang menghentak, terlihat pemandangan yang tak biasa: sekelompok mahasiswa berjaket almamater UIN Malang berbaur akrab dengan barisan pengiring pengantin. Ya, Mahasiswa KKM Mandiri Kelompok 156 "Patibrata" baru saja merasakan pengalaman budaya yang tak terlupakan. Di sela-sela kesibukan menggelar lomba SIGMA, mereka menyempatkan diri untuk memenuhi undangan warga: mengikuti tradisi Nyongkolan. Mengiringi Hingga ke Desa Darek Nyongkolan bukan sekadar arak-arakan. Ini adalah tradisi sakral masyarakat Sasak untuk memperkenalkan pasangan pengantin kepada khalayak ramai, terutama kepada keluarga dan warga di tempat tinggal mempelai wanita. Siang itu, rombongan KKM 156 turut serta berjalan kaki mengiringi pasangan pengantin warga Sepakek menuju desa tetangga, Desa Darek. Jarak tempuh dan terik matahari Lombok tak menyurutkan semangat para mahasiswa. Sebaliknya, mereka tampak antusias menjadi bagian dari "pagar betis" budaya ini. "Biasanya kami hanya melihat Nyongkolan dari pinggir jalan atau lewat YouTube. Tapi hari ini, kami berjalan langsung di dalamnya, merasakan energinya, dan melihat betapa kompaknya warga Sepakek mendukung satu sama lain," ungkap salah satu anggota Kelompok 156. Belajar Nilai Solidaritas Bagi Kelompok "Patibrata", partisipasi dalam acara Nyongkolan ini memiliki makna mendalam yang selaras dengan nama kelompok mereka yang bermakna keteguhan dan pengabdian. Dalam tradisi ini, mereka belajar bahwa Nyongkolan adalah simbol solidaritas komunal. Ketika satu warga memiliki hajatan, warga sekampung turun ke jalan untuk memeriahkan dan memberi doa restu. Tidak ada sekat antara pendatang dan warga asli; semuanya melebur dalam satu barisan kegembiraan. Jeda Sejenak yang Berkesan Kegiatan budaya ini menjadi refreshing yang bermakna bagi kelompok KKM 156 di tengah padatnya jadwal proker lomba anak-anak. Berjalan beriringan menuju Desa Darek, menyapa warga di sepanjang jalan, dan menikmati alunan musik tradisional Sasak menjadi momen bonding yang mempererat hubungan emosional antara mahasiswa dan masyarakat Desa Sepakek. Kini, setelah "mengantar" warga menunaikan tradisi, KKM 156 Patibrata kembali siap menuntaskan sisa program kerja mereka dengan semangat kekeluargaan yang baru saja di- recharge di jalanan aspal menuju Darek.