Thumbnail
3 months ago
Mahasiswa KKM UIN Malang Gelar Seminar Moderasi Beragama dan Anti-Bullying di SMA Plus Darussalam

MAHESA RANGGA BIJAKSANA

Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang bertugas di Desa Turirejo menggelar kegiatan seminar di SMA Plus Darussalam pada Jumat, 9 Januari 2026. Seminar ini mengangkat tema "Membangun Sikap Moderat dan Etika Sosial dalam Kehidupan Remaja." Kegiatan seminar tersebut bertujuan untuk menanamkan pemahaman tentang pentingnya moderasi beragama serta menumbuhkan kesadaran akan bahaya perilaku bullying di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM berupaya memberikan edukasi kepada para siswa agar mampu bersikap saling menghargai, toleran, dan beretika dalam kehidupan sosial sehari-hari.  Dalam pemaparannya, mahasiswa KKM menekankan bahwa moderasi beragama merupakan sikap tengah yang mengedepankan keseimbangan, saling menghormati, dan menolak segala bentuk kekerasan maupun diskriminasi. Selain itu, isu bullying juga menjadi perhatian utama, mengingat dampaknya yang dapat memengaruhi kondisi psikologis dan perkembangan sosial remaja. Para siswa SMA Plus Darussalam tampak antusias mengikuti seminar tersebut. Mereka diajak untuk berdiskusi, memahami contoh-contoh perilaku moderat, serta mengenali bentuk-bentuk bullying yang kerap terjadi di lingkungan sekolah maupun pergaulan sehari-hari. Kegiatan seminar ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKM UIN Malang dalam mendukung pendidikan karakter di sekolah. Diharapkan, melalui seminar ini para siswa mampu menerapkan sikap moderat, menjunjung etika sosial, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying.    

Thumbnail
3 months ago
Kebersamaan dalam Doa : KKM Kawira Aksena Laksanakan Khataman Al-Qur'an Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kebersamaan dalam Doa : KKM Kawira Aksena Laksanakan Khataman Al-Qur'an", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/k

ANNADIA HIDAYAH

Kegiatan khataman Al-Qur’an menjadi salah satu program keagamaan yang dilaksanakan oleh Kelompok KKM 75 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kawira Aksena. Kegiatan ini dilaksanakan bersama masyarakat sebagai bentuk penguatan nilai-nilai religius. Khataman Al-Qur’an bertujuan untuk meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an serta mempererat kebersamaan spiritual. Mahasiswa KKM turut berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan terasa selama kegiatan berlangsung. Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat. Pelaksanaan khataman Al-Qur’an dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan warga dan tokoh agama. Setiap peserta membaca bagian Al-Qur’an sesuai dengan pembagian yang telah ditentukan. Kegiatan ini berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Mahasiswa KKM berbaur langsung dengan masyarakat tanpa sekat. Hal ini menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan harmonis. Khataman ditutup dengan doa bersama untuk kebaikan dan keberkahan lingkungan. Selain sebagai bentuk ibadah, kegiatan khataman Al-Qur’an juga menjadi sarana mempererat silaturahmi. Interaksi antara mahasiswa dan masyarakat terjalin dengan baik selama kegiatan berlangsung. Mahasiswa KKM belajar untuk memahami tradisi keagamaan yang hidup di tengah masyarakat. Kegiatan ini juga menumbuhkan rasa saling menghormati dan kebersamaan. Nilai-nilai keagamaan disampaikan melalui praktik langsung. Hal tersebut memberikan pengalaman spiritual yang bermakna bagi mahasiswa. Masyarakat memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan khataman Al-Qur’an bersama KKM UIN Malang. Kehadiran mahasiswa dinilai membawa semangat baru dalam kegiatan keagamaan. Tokoh agama setempat menyambut baik partisipasi aktif mahasiswa KKM. Dukungan masyarakat menjadi faktor penting dalam kelancaran kegiatan. Kolaborasi antara mahasiswa dan warga berjalan dengan baik. Hal ini menunjukkan sinergi positif dalam membangun kehidupan religius di lingkungan masyarakat. Melalui kegiatan khataman Al-Qur’an ini, Kelompok KKM Kawira Aksena berharap dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan. Kegiatan ini menjadi sarana pembinaan spiritual bagi mahasiswa dan masyarakat. Pengalaman ini memperkuat nilai keagamaan dan kepedulian sosial mahasiswa. Program ini sejalan dengan tujuan KKM sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Diharapkan kegiatan keagamaan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin. Dengan demikian, nilai-nilai religius dapat terus terjaga dan berkembang di tengah masyarakat.  

Thumbnail
3 months ago
Menyusuri Inovasi Batik Pandan Arum di Desa Pandanmulyo

FAIZAH

Pada hari Rabu, 24 Desember 2025, mahasiswa KKN UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan survei ke salah satu pelaku UMKM batik di Desa Pandanmulyo, Kecamatan Tajinan, yaitu Batik Pandan Arum. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat proses produksi serta perkembangan usaha batik yang ada di desa. Dari hasil survei, diketahui bahwa pemilik Batik Pandan Arum terus berinovasi dengan menciptakan desain batik yang mengikuti perkembangan zaman, termasuk desain bernuansa Gen Z agar dapat menarik minat generasi muda. Selain itu, Batik Pandan Arum telah membuka pemesanan secara online melalui media sosial Instagram. Namun, hingga saat ini pemasaran batik masih terbatas karena belum memanfaatkan platform lain seperti TikTok Shop dan Shopee. Kendala utama yang dihadapi adalah pada pembuatan konten promosi dan pengelolaan media digital. Meskipun demikian, Batik Pandan Arum telah beberapa kali mengikuti ajang Fashion Show dan saat ini memiliki sekitar 10 karyawan yang terlibat dalam proses produksi. Hal ini menunjukkan bahwa Batik Pandan Arum memiliki potensi besar untuk terus berkembang ke depannya. Melalui kegiatan survei ini, mahasiswa KKN berharap dapat membantu memberikan ide dan dukungan agar Batik Pandan Arum semakin dikenal luas dan mampu bersaing di era digital.

Thumbnail
3 months ago
Sharing Session Eco Enzyme: Edukasi dan Praktik Pengelolaan Sampah Organik Bersama PKK Sukowilangun Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Sharing Session Eco Enzyme: Edukasi dan Praktik Pengelolaan Sampah Organik Bersama PKK Sukowilan

ADISHA SARASWATI

Kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik terus didorong melalui berbagai kegiatan edukatif. Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan sharing session dan praktik pembuatan eco enzyme yang dilaksanakan pada Jumat, 23 Januari, bertempat di Balai Desa Sukowilangun. Kegiatan ini dimulai pukul 09.00 hingga 10.00 WIB dan dihadiri oleh perwakilan ibu-ibu PKK dari setiap dusun di Desa Sukowilangun. Setiap dusun mengirimkan tiga perwakilan, sehingga dari empat dusun yang ada, total peserta dari PKK berjumlah dua belas orang. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh tiga orang perwakilan perangkat desa dan juga perwakilan anggota karang taruna. Acara diawali dengan penyampaian materi singkat mengenai apa itu eco enzyme dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Pemaparan dilakukan secara sederhana dan tidak terlalu panjang agar mudah dipahami oleh peserta. Eco enzyme dijelaskan sebagai cairan hasil fermentasi sampah organik berupa sisa buah dan sayuran yang dicampur dengan air dan gula merah, yang memiliki berbagai manfaat, mulai dari pembersih alami hingga pengurai limbah organik. Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan eco enzyme. Dimulai dari memotong bahan-bahannya hingga proses penimbangan. Dalam praktik tersebut, digunakan galon berukuran lima liter dengan takaran tiga liter air, 300 gram sampah organik berupa kulit buah dan sisa sayuran, serta 100 gram gula merah sebagai bahan fermentasi. Proses praktik dilakukan secara interaktif dengan melibatkan audiens. Beberapa ibu PKK dan juga perangkat desa tampak antusias untuk  mencoba langsung memasukkan sampah organik yang sudah dipotong-potong ke dalam galon. Untuk menambah pemahaman peserta, panitia juga memperlihatkan sampel eco enzyme yang telah jadi. Tidak hanya ditunjukkan secara visual, efektivitas eco enzyme juga dibuktikan secara langsung dengan menggunakannya untuk membersihkan kerak membandel yang ada di lantai balai desa. Hasilnya, kerak tersebut dapat dibersihkan dengan cukup mudah, sehingga membuat para peserta semakin yakin akan manfaat eco enzyme. Selama proses praktik berlangsung, suasana kegiatan terasa hidup dan interaktif. Beberapa ibu-ibu PKK yang aktif bertanya, salah satunya mengenai alasan mengapa sampah organik yang digunakan tidak boleh terlalu keras, seperti kulit durian dan lain sebagainya. Pertanyaan tersebut dijawab dengan penjelasan bahwa sampah yang terlalu keras membutuhkan waktu penguraian yang sangat lama dan dapat menghambat proses fermentasi, sehingga hasil eco enzyme menjadi kurang optimal. Selain itu, peserta juga diberikan penjelasan mengenai proses perawatan eco enzyme setelah pembuatan. Dijelaskan bahwa pada satu minggu pertama, tutup botol galon harus dibuka setiap hari untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi. Sementara itu, pada minggu-minggu berikutnya, tutup botol cukup dibuka satu kali dalam seminggu hingga proses fermentasi selesai selama kurang lebih 3 bulan. Secara keseluruhan, kegiatan sharing session dan praktik pembuatan eco enzyme ini berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. Interaksi aktif antara pemateri dan peserta, serta pembuktian langsung manfaat eco enzyme, membuat kegiatan ini terasa seru dan mudah dipahami. Diharapkan, melalui kegiatan ini, ibu-ibu PKK dapat menerapkan pembuatan eco enzyme secara mandiri di rumah sebagai salah satu upaya pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

Thumbnail
3 months ago
Swara Tengger: Kamus Bahasa Tengger Upaya Pengenalan dan Pelestarian Bahasa Leluhur Masyarakat Tengger

SITI KHOTIMAH

Swara Tengger: Kamus Bahasa Tengger Upaya Pengenalan dan Pelestarian Bahasa Leluhur Masyarakat Tengger Bahasa merupakan suatu hal yang sering kali hadir tanpa kita sadari, yang biasa terdengar dalam sapaan, obrolan ringan, dan tawa canda yang mengalir begitu saja. Di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, bahasa Tengger hidup dan tumbuh bersama keseharian masyarakatnya. Dan dari sinilah Swara Tengger hadir, sebagai upaya sederhana untuk menyimpan dan mengenang kata-kata yang selama ini kami dengar menjadi bagian dari kehidupan warga. Swara Tengger kami buat sebagai kamus bahasa daerah yang lahir dari pengalaman langsung di lapangan. Desa Ngadas merupakan salah satu desa wisata yang dekat dengan pegunungan. Desa ini banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Namun, tidak semua orang yang berkunjung dapat memahami bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat. Kamus ini hadir untuk menjadi jembatan kecil antara warga asing dan warga lokal agar bahasa Tengger Ngadas dapat dikenal, dipelajari, dan digunakan dalam berbagai interaksi yang lebih hangat. Pengumpulan kosakata dilakukan dengan cara mendengarkan. Kami dan teman-teman berbincang hangat dengan warga, mencatat kata demi kata yang sering digunakan, dan belajar dari percakapan yang kami lakukan sehari-hari. Kami juga mengajak anak-anak sekolah dasar untuk berbincang santai. Dan dari merekalah kami melihat bagaimana bahasa Tengger terus diwariskan, digunakan, dan dijaga secara utuh. Agar kosakata yang kami catat tidak kehilangan makna aslinya, kami melakukan konsultasi dengan Romo Dukun (Ketua Adat). Dari semua proses ini, kami menyadari bahwa satu kata tidak selalu bisa diterjemahkan begitu saja, melainkan butuh beberapa proses yang harus kami lakukan agar tidak ada kesalahan dalam penulisan setiap kata dan terjemahnya. Bahasa Tengger Ngadas memiliki konteks budaya yang kuat, sehingga pemilihan arti harus dilakukan dengan hati-hati agar tetap sesuai dengan nilai dan kebiasaan masyarakat. Dalam penyusunan kamus ini, kami tidak lepas dari berbagai tantangan. Perbedaan pengertian arti antara beberapa warga atau keterbatasan padanan kata dalam bahasa Indonesia, serta upaya menyesuaikan bahasa agar lebih mudah dipahami oleh orang asing menjadi bagian dari proses belajar kita. namun, justru dalam proses inilah kami semakin memahami kekayaan dalam bahasa Tengger. Begitu banyak hal menarik yang kami temukan dalam perjalanan proses ini. Bahasa Tengger Ngadas merupakan salah satu bahasa yang sangat dekat dengan alam dan kebiasaan masyarakatnya. Setiap kata terasa memiliki cerita masing-masing. Antusiasme warga dan anak-anak ketika berbagi bahasa mereka juga sangat menjadi pengingat kami bahwa bahasa akan terus hidup selama digunakan dan dihargai. Swara Tengger bukan hanya sekadar kamus bahasa daerah. Ia menjadi catatan kecil tentang bahasa, budaya, dan pertemuan yang datang ke Desa Ngadas, tidak hanya untuk berkunjung, melainkan juga belajar menyapa, memahami, dan menghargai kehidupan masyarakat Tengger. Selama kata-kata itu masih diucapkan dan dikenalkan, selama itu juga suara Desa Ngadas akan terus terdengar.  

Thumbnail
3 months ago
KKM Aruna Dorong Inovasi Digital Lewat Launching SIMANTAP dan Jumeneng Batik

NAJA PASA TRIO PUTRA

Acara Peluncuran Website SIMANTAP dan Jumeneng Batik yang digagas oleh Kelompok KKM Aruna menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendorong digitalisasi dan pemberdayaan desa. Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Ketua Pelaksana KKM Aruna yang menyampaikan latar belakang serta tujuan utama dari peluncuran dua proyek tersebut, yaitu untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo.   Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Kepala Desa Wonorejo yang mengapresiasi inisiatif Kelompok KKM Aruna dalam menghadirkan inovasi berbasis teknologi dan budaya lokal. Dukungan juga datang dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) serta perwakilan LP2M yang menegaskan bahwa program ini sejalan dengan semangat pengabdian kepada masyarakat dan implementasi ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan. Acara dilanjutkan dengan penampilan seni bela diri silat Pagar Nusa yang dibawakan oleh anak-anak MI setempat. Penampilan ini menjadi pembuka suasana yang penuh semangat sekaligus menunjukkan kekayaan budaya dan potensi generasi muda Desa Wonorejo dalam melestarikan seni tradisional.    Anggota KKM Aruna (Pasa dan Fitriyatil) bersama Kepala desa memegang batik Arum Tirto Wojo (Sumber dokumentasi asli dari KKM Aruna)   Memasuki sesi inti, pada sesi demo proyek batik, Pasa dan Fitriyatil memperkenalkan karya batik bertajuk Arum Tirto Wojo, sebuah motif yang sarat makna dan filosofi lokal. Nama Arum memiliki arti harum atau indah, yang melambangkan keindahan alam Desa Wonorejo serta citra baik yang terpancar dari budaya dan kehidupan masyarakatnya. Makna ini menjadi representasi harmoni antara manusia dan lingkungan yang masih terjaga hingga kini. Sementara itu, kata Tirto yang berarti air atau sungai menggambarkan peran penting aliran sungai dalam menopang kehidupan dan melancarkan sumber ekonomi masyarakat Wonorejo. Sungai tidak hanya menjadi sumber daya alam, tetapi juga bagian dari denyut kehidupan warga desa. Adapun Wojo merupakan singkatan dari nama desa, yaitu Wono dan rejo, di mana wono berarti alas atau hutan, sedangkan rejo bermakna ramai atau sejahtera. Keseluruhan makna tersebut menyatu dalam motif batik Arum Tirto Wojo sebagai simbol Wonorejo yang indah, hidup, dan penuh harapan akan kesejahteraan.   Penjelasan dari anggota KKM Aruna (Iyan dan Maysa) mengenai website SIMANTAP (Sumber dokumentasi asli dari KKM Aruna)   Pada sesi berikutnya, Kelompok KKM Aruna mendemonstrasikan website SIMANTAP, sebuah platform digital yang dirancang khusus untuk warga Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo. Website ini dikembangkan sebagai pusat informasi dan dokumentasi kegiatan desa yang mudah diakses oleh masyarakat. SIMANTAP memiliki berbagai menu utama, di antaranya Beranda sebagai tampilan awal informasi, Acara yang memuat agenda dan kegiatan desa, serta Sejarah yang mengulas perjalanan dan identitas Desa Wonorejo.   Selain itu, website SIMANTAP juga menyediakan menu Batik sebagai ruang promosi dan pengenalan Jumeneng Batik, Lowongan Kerja untuk membantu warga memperoleh informasi peluang kerja, serta Galeri Video yang menampilkan dokumentasi visual kegiatan desa. Tidak hanya itu, tersedia pula menu Berita yang menyajikan informasi terkini seputar desa, serta Promosi UMKM dan berbagai kegiatan lainnya sebagai upaya mendukung potensi ekonomi dan kreativitas masyarakat Wonorejo. Melalui fitur-fitur tersebut, website SIMANTAP diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi, informasi, dan promosi yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam perkembangan desa berbasis digital.   Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang melibatkan Ketua Republik Gubuk, Ketua LP2M, serta Sekretaris Desa dan pemantiknya sendiri dari Ketua KKM Aruna. Diskusi ini menjadi ruang dialog untuk memberikan masukan, tanggapan, serta harapan terhadap keberlanjutan website SIMANTAP dan pengembangan Jumeneng Batik ke depannya. Kemudian suasana acara dibuat lebih hangat melalui penampilan nyanyi akustik yang dibawakan oleh dua perwakilan dari Kelompok KKM Belung. Iringan musik akustik yang sederhana namun penuh makna menjadi hiburan penutup yang menyegarkan setelah rangkaian diskusi dan pemaparan program. Penampilan tersebut tidak hanya menjadi selingan hiburan, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan dan kolaborasi antarkelompok KKM dalam mendukung kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran Kelompok KKM Belung melalui penampilan musik akustik ini semakin mempererat suasana kekeluargaan sebelum acara resmi ditutup.   Sebagai penutup, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan harapan agar kedua proyek yang telah diluncurkan tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Melalui peluncuran SIMANTAP dan Jumeneng Batik, Kelompok KKM Aruna menunjukkan bahwa dari KKM untuk desa, langkah kecil yang dilakukan dengan kolaborasi dapat membawa dampak yang bermakna.