DEBY ALFA ALFI ROBI`ATI
Dalam upaya memperkuat pendidikan keagamaan anak sejak usia dini, TPQ memiliki peran yang sangat penting sebagai fondasi pembelajaran Al-Qur’an dan pembentukan akhlak. Berangkat dari kesadaran tersebut, kami Mahasiswa KKN Kelompok 83 merancang dan melaksanakan Program Mengajar Al-Qur’an di TPQ Nurul Huda, Dusun Tegaron, Desa Panggungrejo sebagai bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada penanaman nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kecintaan anak-anak terhadap kegiatan mengaji. Implementasi program dimulai dengan observasi kemampuan dasar santri, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah, kelancaran dalam membaca hingga tahapan Al- Qur'an serta pembenahan tajwid. Metode yang digunakan tidak sebatas membaca bergiliran, melainkan dipadukan dengan pendekatan interaktif yang berupa muroja'ah bersama- sama baik itu hafalan surat maupun nadhom tuhfatut thullab sesuai capaian dengan berpedoman metode Ar- Rifaie. Suasana belajar yang awalnya cenderung pasif perlahan berubah menjadi lebih hidup dan partisipatif ditambah keaktifan anak- anak yang bercerita tentang kesehariannya. Salah satu momen yang berkesan adalah rasa antusiasme dari anak- anak ketika diajar oleh KKM . Perkembangan tersebut menjadi indikator bahwa pendekatan yang kami lakukan mampu membangun rasa aman dan semangat belajar. Kami juga berupaya membiasakan adab sebelum dan sesudah belajar, seperti membaca doa bersama serta menjaga ketertiban selama proses pembelajaran berlangsung, sehingga pendidikan yang diberikan tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga pembentukan karakter. Program ini diharapkan tidak berhenti setelah masa KKN berakhir. Esensi utama dari kegiatan ini adalah keberlanjutan, di mana metode pembelajaran yang telah diterapkan dapat terus digunakan dan dikembangkan oleh para ustadz dan ustadzah di TPQ Nurul Huda. Melalui program ini, kami berharap kontribusi kecil yang telah diberikan dapat menjadi bagian dari proses panjang dalam mencetak generasi yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik serta memiliki akhlak yang mulia. Pengabdian ini bukan sekadar pelaksanaan kewajiban akademik, melainkan pengalaman berharga yang memperkuat makna belajar, mengajar, dan bertumbuh bersama masyarakat.
MUHAMMAD FAWWAZ PUTRA GUNARDI
KKM UIN Malang Parahitaksa 104 Kegiatan pembelajaran bahasa Inggris merupakan salah satu upaya penting dalam membekali anak-anak dengan keterampilan komunikasi sejak dini. Melalui program “Fun English Learning”, KKM UIN Malang Parahitaksa 104 berinisiatif menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris yang menyenangkan, interaktif, dan mudah dipahami oleh anak-anak di Desa Mulyoarjo. Kegiatan ini dilaksanakan di posko KKM setiap hari Minggu dan dipandu oleh Bro Pawpaww, Sister Fatin, dan pada minggu kedua dibantu oleh Sister Natnat. Program ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan anak-anak untuk belajar bahasa Inggris dengan suasana yang santai dan tidak menegangkan. Banyak anak merasa bahwa bahasa Inggris adalah pelajaran yang sulit dan membosankan. Oleh karena itu, melalui konsep fun learning, kegiatan ini dirancang agar anak-anak bisa belajar sambil bermain, bernyanyi, dan berinteraksi langsung. Kegiatan Fun English Learning pertama kali dilaksanakan pada Minggu, 18 Januari. Pada pertemuan awal ini, jumlah peserta yang hadir sebanyak 8 anak. Meskipun jumlahnya belum banyak, hal ini tidak mengurangi semangat kami untuk mengajar. Kami justru sangat bersyukur karena di hari pertama ini anak-anak sudah menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Materi yang diajarkan adalah angka-angka dalam bahasa Inggris (numbers) yang dikemas dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Selain itu, anak-anak juga diajak bernyanyi bersama lagu “If You’re Happy and You Know It, Clap Your Hands” untuk menciptakan suasana belajar yang ceria dan penuh semangat. Memasuki minggu kedua, kegiatan Fun English Learning mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Jumlah anak yang datang melonjak menjadi sekitar 21 anak hingga memenuhi posko KKM. Hal ini menjadi kejutan sekaligus kebahagiaan besar bagi kami karena menunjukkan bahwa kegiatan ini mendapat respon yang sangat positif dari anak-anak dan masyarakat sekitar. Pada pertemuan ini, kami mengajarkan materi “How to Introduce Yourself”, yaitu cara memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris. Anak-anak dilatih untuk menyebutkan nama, usia, dan sapaan sederhana dengan percaya diri. Suasana belajar pada kegiatan ini berlangsung sangat hidup dan menyenangkan. Anak-anak terlihat lebih berani berbicara, aktif menjawab pertanyaan, serta tidak ragu untuk mencoba mengucapkan kosakata dan kalimat dalam bahasa Inggris. Pendampingan dari Bro Pawpaww, Sister Fatin, dan Sister Natnat membuat anak-anak merasa lebih dekat dan nyaman selama proses belajar berlangsung Melalui kegiatan Fun English Learning ini, anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru tentang bahasa Inggris, tetapi juga melatih keberanian, rasa percaya diri, dan kemampuan berkomunikasi. Mereka belajar bahwa bahasa Inggris bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan bisa dipelajari dengan cara yang seru dan menyenangkan. Secara keseluruhan, Fun English Learning bersama Bro Pawpaww, Sister Fatin, dan Sister Natnat menjadi salah satu program yang memberikan dampak positif bagi anak-anak di Desa Mulyoarjo. Dengan metode yang kreatif, aktif, dan menyenangkan, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan minat belajar bahasa Inggris sejak dini serta menjadi pengalaman belajar yang berkesan bagi mereka.
MUHAMMAD KHOIRUL IRFAN ALBAZURI
MULYOARJO, LAWANG — Dalam upaya mendukung digitalisasi sistem pembayaran di tingkat desa, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 104 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan sosialisasi sekaligus pendampingan pembuatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bagi pelaku UMKM di Desa Mulyoarjo, Dusun Ampel Gading. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk adaptasi masyarakat desa terhadap perkembangan teknologi transaksi non-tunai yang kian marak digunakan. Desa Mulyoarjo memiliki letak yang cukup strategis karena berada tidak jauh dari Pasar Lawang, pasar yang dikenal ramai dan menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat sekitar. Di Dusun Ampel Gading sendiri, khususnya di sekitar posko KKM, terdapat sekitar tujuh warung aktif yang selama ini masih menggunakan sistem pembayaran tunai sepenuhnya. Berdasarkan hasil observasi lapangan, belum ada satu pun warung yang memanfaatkan QRIS sebagai metode pembayaran digital. Sebagian pedagang mengaku masih mengalami kendala dalam penggunaan teknologi, mulai dari keterbatasan pemahaman digital, kebingungan dalam proses pembuatan QRIS, hingga kekhawatiran akan penipuan atau penyalahgunaan sistem pembayaran digital. Kondisi tersebut menjadi latar belakang dilaksanakannya kegiatan sosialisasi QRIS yang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga praktik langsung di lapangan. Berbeda dengan program UMKM yang umumnya menitikberatkan pada pendampingan usaha dan pengembangan produk, kegiatan QRIS ini lebih difokuskan pada edukasi literasi keuangan digital. Mahasiswa KKM memberikan pemahaman mengenai fungsi QRIS sebagai metode pembayaran yang praktis, aman, dan efisien, serta menjelaskan cara kerja QRIS, manfaat penggunaannya, dan alur transaksi menggunakan aplikasi pembayaran yang tersedia di ponsel. Sebagai bentuk tindak lanjut nyata, kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 2026 dengan mendatangkan langsung pihak Bank BCA ke lokasi UMKM yang bersedia. Proses pembuatan QRIS dilakukan secara langsung di tempat, sehingga pedagang dapat memahami tahapan pendaftaran sekaligus penggunaan QRIS secara menyeluruh. UMKM pertama yang menjadi percontohan adalah Warung Cemal Cemil milik Pak Yanto, Ketua RW 14 Dusun Ampel Gading, yang bergerak di bidang penjualan jajanan. Antusiasme terlihat jelas dari respons pedagang. Pak Yanto menyampaikan bahwa kehadiran QRIS akan sangat membantu kegiatan usahanya, terutama dalam melayani pesanan secara online dan menghadapi momen ramai seperti bulan Ramadhan. “QRIS ini benar-benar akan membantu kami nanti, terkhusus pas bulan Ramadhan akan banyak pesanan yang datang,” ungkapnya. Dampak awal dari kegiatan ini mulai terasa. Karena QRIS pertama kali diterapkan oleh Ketua RW setempat, banyak pedagang lain yang mulai tertarik dan terdorong untuk mengikuti langkah serupa. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan langsung dan contoh nyata di lapangan mampu membangun kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital. Ketua KKM 104, Dewantara, turut menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya adaptasi terhadap perkembangan zaman. “Di zaman yang sudah serba modern, banyak orang yang sudah mengalokasikan uang tunai menjadi saldo digital. Karena lebih memudahkan dan juga lebih aman, maka penggunaan QRIS seharusnya menjadi hal yang lumrah sebagai bentuk menghargai perkembangan zaman,” ujarnya. Melalui kegiatan sosialisasi dan pendampingan QRIS ini, mahasiswa KKM 104 UIN Malang berharap masyarakat Desa Mulyoarjo semakin terbuka dan melek terhadap digitalisasi, khususnya dalam bidang transaksi keuangan. Program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong inklusi keuangan serta mempermudah aktivitas ekonomi masyarakat desa agar mampu berkembang dan beradaptasi di tengah arus modernisasi.
ROSALINA CAHYA SAFITRI
Serulingmedia.com — UIN Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang terus memperkuat perannya dalam mendukung pengasuhan anak yang ramah dan berorientasi pada kebutuhan tumbuh kembang anak di era digital. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Pola Asuh Anak bertema “Menemukan Gaya Pengasuhan Terbaik untuk Si Kecil” yang digelar di Aula Kertosari, Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Rabu (28/1/2025).Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) Kelurahan Ketawanggede dengan KKM PSGA (Pusat Studi Gender dan Anak) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sosialisasi bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya guru dan wali murid PAUD, terkait pentingnya penerapan pola asuh anak yang tepat, aman, dan bebas kekerasan di tengah tantangan pengasuhan modern. Sosialisasi diikuti oleh Tim Penggerak PKK Kelurahan Ketawanggede, para guru PAUD, wali murid PAUD, serta masyarakat setempat. Keterlibatan UIN Maliki Malang melalui PSGA memberikan penguatan berbasis akademik dan keilmuan dalam upaya meningkatkan kualitas pengasuhan keluarga. Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Lowokwaru, Ida Wahyuni, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai sosialisasi pola asuh anak sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. “Kegiatan ini sangat dibutuhkan, terutama bagi para orang tua, karena tantangan pengasuhan anak di era digital semakin kompleks. Edukasi seperti ini membantu orang tua agar tidak salah dalam menerapkan pola asuh,” ujarnya. Sosialisasi menghadirkan Ketua PSGA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Hj. Aprilia Mega Rosdiana, M.Si., sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan masih banyak ditemukan kesalahan pola asuh di masyarakat, mulai dari minimnya interaksi emosional antara orang tua dan anak hingga kasus kekerasan yang berakar dari pengasuhan yang tidak tepat. [20:44, 2/11/2026] rosalina: “Saat ini masih banyak anak yang diasuh oleh gadget sejak usia dini, sehingga kedekatan emosional dengan orang tua berkurang. Selain itu, orang tua sering kali lebih mendengarkan pendapat orang lain dibanding memahami kebutuhan anaknya sendiri,” jelasnya. Hj. Aprilia Mega Rosdiana menekankan bahwa setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, pola asuh harus disesuaikan dengan kondisi anak agar dapat mendukung perkembangan karakter, kesehatan mental, serta kemampuan sosialnya secara optimal. Ia juga menegaskan bahwa pengasuhan yang baik bukan sekadar mengawasi, tetapi mendampingi anak dengan penuh kasih sayang dan kesadaran. Lingkungan keluarga yang aman dan suportif menjadi kunci utama dalam mencetak generasi yang sehat secara fisik dan psikologis. Kegiatan ini turut didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan KKM PSGA UIN Maliki Malang, Sheila Kusuma Wardani Amnesti, M.H. Ia menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dan dosen UIN Maliki Malang dalam kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. “Kegiatan sosialisasi ini menjadi wadah edukasi yang sangat penting bagi orang tua. Pola asuh yang baik tidak hanya mencegah kekerasan terhadap anak, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan masa depan anak,” ungkapnya. Melalui sinergi Puspaga Kelurahan Ketawanggede dan KKM PSGA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sosialisasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan pola asuh positif, ramah anak, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Upaya ini sekaligus menegaskan peran UIN Maliki Malang sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif berkontribusi dalam membangun keluarga berkualitas dan generasi penerus bangsa yang unggul.
FRANDIKA ARUNG AMOEKTI
Kuliah Kerja Mahasiswa(KKM) bukan hanya sekadar rangkaian program kerja, namun juga sebuah perjalanan pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan realita dalam kehidupan masyarakat secara langsung. Di tengah interaksi, kebersamaan, dan proses pengabdian yang dijalani, KKM menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar memahami, mendengar, dan tumbuh bersama masyarakat desa. Setiap langkah yang ditempuh tidak hanya meninggalkan jejak, tetapi juga memberikan pengalaman yang bermakna dan membentuk cara pandang dan kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar. Melalui tema "The Journey of KKM Wirasenabadra: Menapaki Kaki Langit Desa Taji-Sebuah Perjalanan Profilisasi dan Harapan", Kelompok Wirasenabadra (Kelompok 167) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, yang melaksanakan KKM pada periode 28 Desember - 4 Februari, mendokumentasikan perjalanan selama pelaksanaan KKM di Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Program profilisasi desa dipilih sebagai fokus utama untuk mengenalkan, mengangkat, dan mengembangkan potensi desa, melalui kegiatan pendidikan, keagamaan, dan kemasyarakatan.
AROFATUS SUKMA WAHYUDINILLAH
Pendidikan tidak selalu tumbuh dari ruang kelas yang formal. Di Dusun Paras, Kecamatan Poncokusumo, semangat belajar justru hidup dari ruang-ruang sederhana seperti posko Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Selama masa pengabdian, Mahasiswa KKM Kelompok 129 berupaya menghadirkan program pendidikan yang dekat, terbuka, dan relevan dengan kebutuhan anak-anak desa. Salah satu program utama yang dijalankan adalah bimbingan belajar (bimbel) rutin yang dilaksanakan selama empat minggu. Kegiatan ini berlangsung setiap hari Jumat dengan total empat kali pertemuan. Pertemuan pertama diawali dengan pembukaan dan pengenalan program, kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran Bahasa Arab, Matematika, dan Bahasa Inggris pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Antusiasme anak-anak Dusun Paras terlihat tidak hanya pada jadwal bimbel yang telah ditentukan. Di luar waktu tersebut, banyak anak yang datang ke posko KKM untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR), bertanya mengenai materi sekolah, atau sekadar belajar bersama mahasiswa KKM. Posko pun berfungsi sebagai ruang belajar alternatif yang hangat dan inklusif. Selain fokus pada pendampingan belajar, mahasiswa KKM Kelompok 129 juga terlibat dalam kegiatan lomba cerdas cermat tingkat kecamatan. Program ini berawal dari inisiatif warga lokal yang menginginkan adanya kompetisi edukatif antar kelompok KKM se-Kecamatan Poncokusumo. Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui kolaborasi lintas desa. Lomba cerdas cermat ini diketuai oleh Achmad Musyafiq selaku Ketua Kelompok KKM Weningga Wirabhana Dusun Paras. Kepanitiaan lomba merupakan gabungan dari beberapa desa di Kecamatan Poncokusumo, mencerminkan semangat kerja sama dan kebersamaan antar mahasiswa KKM. Kegiatan lomba dilaksanakan pada hari Minggu, 25 Januari 2026, bertempat di MI Al-Amin Wonorejo. Acara dimulai sejak pukul 08.00 WIB dengan sambutan-sambutan, dilanjutkan dengan pertunjukan tari tradisional yang dibawakan oleh anak-anak Desa Wonorejo sebagai pembuka acara. Lomba cerdas cermat dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu babak penyisihan, semifinal, dan final. Peserta lomba berasal dari berbagai desa di Kecamatan Poncokusumo, antara lain Pandansari, Poncokusumo, Paras, Gubuk Klakah, Wringinanom, Ngadas, Wonorejo, dan beberapa desa lainnya. Mahasiswa KKM Kelompok 129 dari Dusun Paras mengirimkan tiga tim delegasi. Dua tim harus terhenti pada babak penyisihan, sementara satu tim lainnya berhasil melaju hingga babak final dengan perolehan skor yang memuaskan. Pada babak final, tersisa tiga tim yang berasal dari Desa Pandansari, Wringinanom, dan Dusun Paras. Hasil akhir lomba menetapkan Desa Wringinanom sebagai juara pertama sekaligus juara umum. Dusun Paras meraih juara kedua, sementara Desa Pandansari menempati posisi juara ketiga. Di sela-sela perlombaan, panitia juga menyisipkan pengenalan permainan tradisional sebagai upaya pelestarian budaya lokal dan penyegaran suasana. Seluruh rangkaian kegiatan lomba cerdas cermat berlangsung dengan lancar dan tertib. Acara ditutup dengan pengumuman pemenang serta penyerahan penghargaan kepada para peserta. Melalui program bimbingan belajar dan partisipasi dalam lomba cerdas cermat ini, mahasiswa KKM Kelompok 129 tidak hanya menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga berupaya meninggalkan jejak kontribusi nyata di tengah masyarakat. Dusun Paras menjadi saksi bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan warga dapat melahirkan ruang belajar yang hidup, kompetitif, dan penuh kebersamaan.