IRFAN NAWAWI
Kegiatan penyuluhan perawatan jenazah diselenggarakan oleh Kelompok KKM Sarimi Adhiyaksa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama ibu-ibu Muslimat Kelurahan Jodipan pada Minggu, 11 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Roisiyah Kelurahan Jodipan, Kota Malang. Penyuluhan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tata cara perawatan jenazah sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Materi yang disampaikan meliputi tahapan memandikan, mengkafani, hingga menshalatkan jenazah. Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara interaktif melalui pemaparan materi dan sesi diskusi. Para peserta tidak hanya menyimak penjelasan, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan terkait praktik perawatan jenazah yang kerap dijumpai di lingkungan sekitar.
ABD HAFID
pada minggu pertama kami disambut hangat sama cjh bapak dan ibu,mereka sangat ramah dan tamah,selalu nurut apa yang kami minta,entah itu terkait pemeriksaan kesehatan yang kami minta buat data dan buat mengontrol kesehatan calon jamaah haji dan membantu mempersiapkan isthitaah dan selalu memberikan kami makan ketika berkunjung di rumah cjh.pada hari kedua juga sama kami memberikan sebuah edukasi kecil yaitu berupa poster,buku saku serta boklet kournaling buat membantu minum obat secara konsisten,kami juga disuguhi makanan dan minuman serta suasana yang hangat.pada hari ketiga pun sama kami melakukan olahraga jalan di pagi hari dengan menghitunng jaraknya berapa km dengan cjh bapak dan ibu terlihat mereka sangat senang melakukannya,serta kami lagi-lagi disuguhi makanan lagi.minggu ke empat kami berkunjung sekalian berolahraga jalan sehat lagi kali ini lebih jauh jaraknya dan lebih lama waktunya,kami dibelikan susu kedelai di jalan dan diberikan cemilan waktu sampai di rumah calon jamaah hajinya,kami melakukan pemeriksaan kesehatan yang terakhir dan melakukan post tes utnu melihat bagaimana pengetahuan CJH selama dipantau kami,kami disana juga diberika makanan dan minuman.pada minggu kelima kami kunjungan,kami melakukan wawancara kesan pesan terhadap cjh bapak dan ibu dalam KKM yang kami lakukan selama 4 kali pertemuan dan sekaligus pamitan kepada calon jamaah haji bapak dan ibu.terimakasih kepada calon jamaah haji dan ibu telah menerima kami dengan hangat dan baik
DAFFA ZAKI FIRMANSYAH
*KKM 164 Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok: Prosesi Pernikahan Adat Suku Sasak* Lombok bukan hanya terkenal dengan pantai-pantainya yang indah atau keanggunan Gunung Rinjani. Ketika kamu mengunjungi Pulau Seribu Masjid dan menemukan kemacetan karena iring-iringan pengantin yang disertai musik tradisional yang meriah, selamat! Kamu sedang melihat Nyongkolan. Nyongkolan merupakan puncak dari serangkaian upacara pernikahan adat suku Sasak yang penuh warna, suara ,dan filosofi mendalam. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang tradisi yang menarik ini. Secara harfiah, istilah Nyongkolan berasal dari kata "songkol" yang berarti mengantar atau mendatangi. Ini adalah acara di mana pengantin pria (Silaq) mendampingi pengantin wanita (Dende) kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa hari proses "penculikan" yang disebut Merariq. Tujuan dari prosesi ini sangat mulia: untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat bahwa kedua mempelai telah sah sebagai suami istri, serta menjadi kesempatan bersilaturahmi antar keluarga besar. Tahapan dan Elemen Unik dalam Nyongkolan 1. Iring-iringan Budaya Kedua mempelai berjalan layaknya raja dan ratu (Datu dan Putri). Mereka mengenakan pakaian tradisional Sasak yang disebut Lambung untuk wanita dan Sapuk (ikat kepala) untuk pria. 2. Gendang Beleq Ini adalah inti dari kemeriahan Nyongkolan. Gendang Beleq adalah ansambel musik perkusi tradisional yang dimainkan oleh sekelompok pemuda. Suaranya yang penuh energi menambah semarak dan kesan megah pada acara tersebut. 3. Iringan Keluarga dan Tokoh Adat Di belakang mempelai, terdapat barisan keluarga besar dan tokoh masyarakat setempat. Para wanita sering menjunjung beberie (seserahan atau makanan) di atas kepala mereka dengan keseimbangan yang mengagumkan. Nyongkolan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi juga penghubung antara dua keluarga melalui musik, tarian, dan langkah yang serasi. Jika kamu berkunjung ke Lombok, jangan lupa untuk menyaksikan prosesi ini secara langsung!
MUHAMMAD ABDILLAH RODHI
KKM 164 Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok: Prosesi Pernikahan Adat Suku Sasak Lombok bukan hanya terkenal dengan pantai-pantainya yang indah atau keanggunan Gunung Rinjani. Ketika kamu mengunjungi Pulau Seribu Masjid dan menemukan kemacetan karena iring-iringan pengantin yang disertai musik tradisional yang meriah, selamat! Kamu sedang melihat Nyongkolan. Nyongkolan merupakan puncak dari serangkaian upacara pernikahan adat suku Sasak yang penuh warna, suara ,dan filosofi mendalam. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang tradisi yang menarik ini. Secara harfiah, istilah Nyongkolan berasal dari kata "songkol" yang berarti mengantar atau mendatangi. Ini adalah acara di mana pengantin pria (Silaq) mendampingi pengantin wanita (Dende) kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa hari proses "penculikan" yang disebut Merariq. Tujuan dari prosesi ini sangat mulia: untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat bahwa kedua mempelai telah sah sebagai suami istri, serta menjadi kesempatan bersilaturahmi antar keluarga besar. Tahapan dan Elemen Unik dalam Nyongkolan 1. Iring-iringan Budaya Kedua mempelai berjalan layaknya raja dan ratu (Datu dan Putri). Mereka mengenakan pakaian tradisional Sasak yang disebut Lambung untuk wanita dan Sapuk (ikat kepala) untuk pria. 2. Gendang Beleq Ini adalah inti dari kemeriahan Nyongkolan. Gendang Beleq adalah ansambel musik perkusi tradisional yang dimainkan oleh sekelompok pemuda. Suaranya yang penuh energi menambah semarak dan kesan megah pada acara tersebut. 3. Iringan Keluarga dan Tokoh Adat Di belakang mempelai, terdapat barisan keluarga besar dan tokoh masyarakat setempat. Para wanita sering menjunjung beberie (seserahan atau makanan) di atas kepala mereka dengan keseimbangan yang mengagumkan. Nyongkolan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi juga penghubung antara dua keluarga melalui musik, tarian, dan langkah yang serasi. Jika kamu berkunjung ke Lombok, jangan lupa untuk menyaksikan prosesi ini secara langsung!
MAYA AMALIA NINGRUM
Program PELITA (Pojok Edukasi Literasi Anak) merupakan kegiatan literasi yang dilaksanakan di SDN 3 Srigading sebagai upaya untuk menumbuhkan minat baca, meningkatkan kemampuan literasi dasar, serta membangun kebiasaan membaca pada peserta didik sejak dini. Program ini dilaksanakan selama tiga minggu berturut-turut dan melibatkan seluruh siswa dari kelas I hingga kelas V. Kegiatan ini diinisiasi dan dilaksanakan oleh mahasiswa KKM sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah dasar. Pelaksanaan Program PELITA dibagi menjadi dua fase yang disesuaikan dengan jenjang kelas dan tingkat perkembangan literasi siswa, yaitu Fase A dan Fase B. Fase A diperuntukkan bagi siswa kelas 1, 2, dan 3 yang masih berada pada tahap literasi dasar. Pada fase ini, kegiatan difokuskan pada pengenalan buku serta peningkatan minat baca melalui metode Read Aloud (membaca nyaring). Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM membacakan buku cerita bergambar dengan intonasi, pelafalan, dan ekspresi yang menarik agar siswa lebih fokus dan terlibat secara aktif dalam alur cerita. Sebelum membaca, siswa diajak mengamati sampul buku dan memprediksi isi cerita untuk menumbuhkan rasa ingin tahu. Selama proses read aloud berlangsung, mahasiswa KKM menyisipkan pertanyaan sederhana guna melatih kemampuan menyimak dan memahami isi bacaan. Setelah kegiatan selesai, siswa diajak berdiskusi mengenai tokoh, alur, serta pesan moral cerita. Kegiatan ini juga didukung dengan pengenalan kosakata baru dan latihan membaca sederhana untuk memperkuat kemampuan literasi dasar siswa. Sementara itu, Fase B diperuntukkan bagi siswa kelas 4 dan 5 yang telah memiliki kemampuan membaca dasar dan diarahkan pada penguatan pemahaman bacaan serta pembiasaan membaca mandiri. Pada fase ini diterapkan kegiatan literasi 10 menit sebelum pembelajaran dimulai setiap harinya. Siswa dibiasakan membaca buku nonpelajaran sesuai minat masing-masing dalam suasana yang tenang dan kondusif. Mahasiswa KKM berperan sebagai fasilitator yang membimbing dan memberikan motivasi kepada siswa. Untuk memperkuat pemahaman, beberapa siswa diminta untuk menceritakan kembali secara singkat isi bacaan atau menyampaikan pesan yang diperoleh dari buku yang telah dibaca. Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan capaian siswa selama mengikuti Program PELITA, pada pertemuan terakhir kami mengadakan kegiatan Literacy Award. Setiap kelas memilih satu siswa terbaik yang menunjukkan perkembangan, konsistensi, dan antusiasme dalam kegiatan literasi untuk mendapatkan penghargaan dan kenang-kenangan. Pemberian Literacy Award ini bertujuan untuk memotivasi siswa agar terus semangat membaca serta menumbuhkan rasa bangga atas usaha dan pencapaian yang telah mereka raih. Secara keseluruhan, Program PELITA berjalan dengan lancar dan mendapatkan respon positif dari siswa maupun pihak sekolah. Siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti kegiatan, baik pada saat pelaksanaan metode read aloud di Fase A maupun pada kegiatan literasi 10 menit di Fase B. Melalui program ini, diharapkan budaya literasi di SDN 3 Srigading dapat terus berkembang dan menjadi kebiasaan positif dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
LIA TSALISA MUNAYYA
Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 124 "Adhikara Nawasena" melaksanakan kegiatan tadarus Al-Qur’an rutin sebagai salah satu program kerja harian. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Senin hingga Jumat dan bertempat di Masjid Tawakkal. Tadarus Al-Qur’an ini dilaksanakan setiap bakda salat Ashar dan diikuti khusus oleh mahasiswa KKM Kelompok 124. Melalui kegiatan tadarus ini, mahasiswa KKM Kelompok 124 memanfaatkan waktu sore hari untuk memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an sekaligus menumbuhkan kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Suasana tadarus berlangsung dengan khidmat dan tertib, mencerminkan semangat kebersamaan serta komitmen mahasiswa dalam menjaga nilai-nilai religius selama masa KKM. Program tadarus Al-Qur’an ini diharapkan dapat menjadi sarana pembinaan spiritual bagi mahasiswa KKM Kelompok 124, sekaligus mendukung peran Masjid Tawakkal sebagai pusat kegiatan keagamaan. Kegiatan ini juga menjadi bentuk internalisasi nilai keislaman yang sejalan dengan tujuan KKM sebagai wahana pengabdian dan pengembangan karakter mahasiswa.