Thumbnail
3 months ago
Menggerakkan Potensi Lokal: KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh dengan Pendekatan ABCD

HILDA AULIA ASY`ARI

Pembangunan desa seringkali hanya dipahami dari sisi kekurangan, seperti fasilitas yang terbatas, program pemberdayaan yang minim, dan kapasitas ekonomi maupun sosial masyarakat yang rendah. Pandangan ini sering menjadikan desa diposisikan sebagai pihak pasif yang menunggu bantuan dari luar. Padahal, setiap desa memiliki potensi lokal yang unik, lahir dari interaksi sosial, kebiasaan sehari-hari, kegiatan komunitas, hingga usaha lokal yang berjalan secara konsisten. Jika potensi ini diketahui, dikelola, dan dijalankan, desa memiliki modal besar untuk membangun kesejahteraan warganya secara berkelanjutan. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, menunjukkan hal ini secara nyata. Dengan menggunakan kerangka Asset Based Community Development dari LP2M, mahasiswa hadir bukan sekedar sebagai pendamping, namun juga sebagai fasilitator yang membantu masyarakat Mengenali, menunjukkan, dan mengembangkan aset yang sudah dimiliki. Pendekatan ABCD menegaskan bahwa masyarakat desa adalah subjek aktif pembangunan, sementara pihak luar berperan sebagai mitra yang mendukung pengembangan kapasitas lokal Pendidikan Anak dan TPQ yang merupakan Aset Sosial yang Hidup Salah satu aset strategis Desa Sengguruh adalah lembaga pendidikan. Kegiatan asistensi mengajar di SDN Sengguruh dan TPQ Nurul Huda menunjukkan antusiasme anak-anak yang tinggi. Mereka aktif bertanya, penuh rasa ingin tahu, dan menanggapi metode pembelajaran interaktif yang membawa siswa dengan semangat. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan minat belajar, tetapi juga membentuk karakter dan memperkuat nilai keagamaan sejak dini. Sekolah dan TPQ menjadi pusat pengembangan generasi muda yang kreatif, percaya diri, dan adaptif, yang kelak dapat menjadi agen perubahan di lingkungan sekitar. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, lembaga pendidikan ini berpotensi menjadi pengembangan kapasitas anak dan remaja yang berkesinambungan, bukan sekedar tempat menuntut ilmu. Posyandu dan Edukasi Keluarga yang merupakan Aset Kesehatan yang Efekti Pelaksanaan kegiatan posyandu selama empat hari menunjukkan keterlibatan aktif warga, khususnya ibu-ibu muda, dalam menjaga kesehatan keluarga. Mereka mengikuti sosialisasi kesehatan dan parenting yang memberi nutrisi bergizi seimbang, tumbuh kembang anak, dan peran keluarga dalam meningkatkan kualitas hidup generasi muda. Posyandu di Desa Sengguruh bukan hanya layanan kesehatan rutin, tetapi juga sarana edukasi keluarga yang strategis. Dengan pendekatan ABCD, jaringan kader posyandu dan PKK dimanfaatkan untuk menyebarkan pengetahuan penting ini secara berkelanjutan, sehingga dampaknya langsung dirasakan oleh unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga. UMKM Lokal dan Penguatan Ekonomi Desa Sengguruh memiliki sejumlah UMKM yang menunjukkan kreativitas dan kemandirian ekonomi warga. Produk lokal seperti batik, keripik tempe, dan sepatu menjadi bagian dari usaha mikro yang sudah berjalan, namun yang menjadi ikon desa adalah produksi Rumah Topeng. Rumah Topeng Desa Sengguruh tidak hanya menjadi daya tarik ekonomi, tetapi juga identitas budaya lokal yang menonjolkan seni topeng tradisional. Mahasiswa mendampingi pengelola UMKM, khususnya Rumah Topeng, dalam menata ruang produksi, memperbaiki desain visual, dan menerapkan strategi promosi sederhana. Pendampingan ini memberikan wawasan bahwa peningkatan daya tarik konsumen tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang kreatif dan konsisten. Dengan dukungan berbasis aset, UMKM lokal memiliki peluang untuk memperluas pasar, meningkatkan pendapatan, dan memperkuat kemandirian ekonomi desa secara berkelanjutan. Kohesi Sosial dan Balai Desa sebagai Pusat Aktivitas Desa Sengguruh juga memiliki aset sosial yang kuat, terutama melalui pemuda Karang Taruna dan balai desa. Kegiatan kerja bakti yang melibatkan pemuda menunjukkan peran mereka dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi dan interaksi berbagai kelompok masyarakat, menjadi tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan, sosialisasi kesehatan, pertemuan UMKM, hingga kegiatan komunitas pemuda. Pemanfaatan aset ini memungkinkan semua program saling terhubung dan berjalan lebih efisien, sambil membangun rasa memiliki warga, sehingga ketergantungan pada bantuan eksternal dapat diminimalkan. ABCD sebagai Kerangka Pemberdayaan Desa Pendekatan ABCD dari LP2M menjadi panduan utama bagi KKM Reguler Kelompok 82 dalam merancang program yang relevan, kontekstual, dan berkelanjutan. Fokus utama adalah memanfaatkan aset yang sudah ada, mulai dari lembaga pendidikan, posyandu, UMKM, Karang Taruna, hingga balai desa. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan berbagai aset agar saling mendukung. Edukasi parenting di posyandu bisa dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di TPQ, promosi UMKM dapat terintegrasi dengan balai desa sebagai pusat informasi, sementara kerja bakti dan kegiatan sosial memperkuat kohesi masyarakat. Dengan cara ini, Desa Sengguruh tidak lagi sekedar menjadi objek pembangunan, tetapi subjek aktif yang mampu menentukan arah dan prioritas pembangunan sendiri. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi membuktikan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan dimulai dari penguatan potensi yang ada. Desa Sengguruh menunjukkan bahwa aset manusia, sosial, ekonomi, dan institusional dapat saling terhubung untuk menghasilkan perubahan nyata. Warga belajar mengenali kekuatan mereka, siswa berperan sebagai fasilitator, dan semua kegiatan desa menjadi bagian dari proses pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan. Anak-anak yang semangat belajar, ibu-ibu yang peduli kesehatan, UMKM kreatif terutama Rumah Topeng sebagai ikon budaya, pemuda yang aktif, serta balai desa yang menjadi pusat kegiatan semuanya menjadi fondasi bagi masa depan Desa Sengguruh yang mandiri dan berdaya. Pembangunan desa bukan lagi sekedar memperbaiki kekurangan, namun menggerakkan dan merawat potensi yang sudah ada agar berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Thumbnail
3 months ago
demonstrasi pembuatan bubuk cabai

AGHITS SYIFA NURUL ASY-SYAFIQ

Kegiatan demonstrasi pembuatan bubuk cabai dilaksanakan pada Jumat, 23 Januari 2026, di Desa Sumbersari, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Acara yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.30 WIB ini digelar bersamaan dengan kegiatan rutin PKK dan melibatkan mahasiswa KKM Mandiri Integrasi Kelompok 154.   Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan doa bersama, serta sambutan dari Kepala Desa Sumbersari dan Ketua PKK. Dalam sambutannya, kedua pihak menyampaikan dukungan terhadap kegiatan pemberdayaan yang mendorong pemanfaatan potensi lokal desa, khususnya komoditas cabai.   Memasuki pertengahan acara, sesi dialihkan kepada mahasiswa KKM untuk menyampaikan demonstrasi pembuatan bubuk cabai. Pemaparan diawali dengan penjelasan tujuan kegiatan, materi proses pengolahan, hingga perhitungan harga pokok produksi (HPP) sebagai bekal dasar kewirausahaan bagi peserta.   Ibu-ibu PKK kemudian dibagi ke dalam lima kelompok dan diarahkan untuk mempraktikkan langsung pembuatan bubuk cabai serta peracikan bumbu sesuai instruksi mahasiswa KKM. Suasana kegiatan berlangsung interaktif, dengan peserta aktif mengikuti setiap tahapan proses.     Dokumentasi Pemaparan Demonstrasi Pembuatan Bubuk Cabai oleh Teman-teman KKM Kelompok 154 Setelah proses pembuatan selesai, bubuk cabai yang telah dihasilkan dikemas dalam pouch untuk dibawa pulang oleh masing-masing peserta. Kegiatan diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama antara ibu-ibu PKK dan mahasiswa KKM sebagai penanda kebersamaan dan kolaborasi yang terjalin Dokumentasi Pemberian Sertifikat Mitra pada Ibu PKK  Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM berharap demonstrasi pembuatan bubuk cabai dapat menjadi langkah awal pengembangan produk olahan berbasis potensi desa, sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat Desa Sumbersari.

Thumbnail
3 months ago
Semangat Belajar Anak SD Kalirejo Tumbuh Melalui Program Bimbel KKM 65 UIN Malang

AZRA AFIFAH NUR SABRINA

Kegiatan Program Bimbingan Belajar untuk Anak SD Berjalan Antusias  Program kerja bimbingan belajar (bimbel) bagi anak-anak Sekolah Dasar yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN di Desa Kalirejo berjalan dengan lancar dan mendapat sambutan yang sangat baik dari para peserta. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu meningkatkan pemahaman belajar siswa serta menumbuhkan semangat belajar di luar jam sekolah. Bimbingan belajar dilaksanakan secara rutin dengan suasana yang santai namun tetap fokus. Materi yang diberikan disesuaikan dengan tingkat kelas dan kebutuhan siswa, meliputi pelajaran dasar seperti membaca, menulis, berhitung, serta pendampingan mengerjakan tugas sekolah. Metode pembelajaran dibuat interaktif agar anak-anak tidak merasa bosan dan lebih mudah memahami materi. Selama pelaksanaan kegiatan, anak-anak SD terlihat antusias dan aktif mengikuti bimbel. Mereka tidak segan bertanya ketika mengalami kesulitan dan menunjukkan perkembangan yang positif dalam proses belajar. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan bimbingan belajar sangat membantu siswa dalam memahami pelajaran yang belum mereka kuasai di sekolah. Program bimbel ini juga mendapat dukungan dari orang tua dan masyarakat sekitar, yang merasa terbantu dengan adanya pendampingan belajar bagi anak-anak mereka. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan anak-anak semakin termotivasi untuk belajar dan memiliki kepercayaan diri dalam menghadapi pelajaran di sekolah. Secara keseluruhan, program kerja bimbingan belajar ini berjalan dengan baik, tertib, dan lancar. Mahasiswa KKN berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi anak-anak SD di Desa Kalirejo serta menjadi bekal positif bagi perkembangan pendidikan mereka ke depannya.

Thumbnail
3 months ago
Pendampingan Posyandu Bulanan sebagai Upaya Penguatan Layanan Kesehatan Masyarakat di Desa Pandanmulyo

AYU RAHMAWATI

5-10 Januari, 2026     Kegiatan Posyandu di Desa Pandanmulyo merupakan layanan kesehatan masyarakat yang dilaksanakan secara rutin satu bulan sekali untuk mendukung pemantauan kesehatan warga. Posyandu ini dilaksanakan selama enam hari secara bergilir, mulai dari Posyandu Mawar 1 hingga Posyandu Mawar 6. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKM Wirasaharsa Kelompok 92 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang turut berpartisipasi dengan membantu pelaksanaan posyandu di setiap lokasi secara bergantian.     Mahasiswa KKM terlibat langsung dalam membantu berbagai rangkaian kegiatan posyandu, di antaranya membantu pemeriksaan tekanan darah (tensi), pendataan administrasi, pengukuran berat badan (BB), serta pendampingan kegiatan lainnya sesuai dengan arahan petugas kesehatan dan kader posyandu. Kehadiran mahasiswa KKM membantu memperlancar proses pelayanan kepada masyarakat.     Pelaksanaan posyandu bulanan di Desa Pandanmulyo berjalan dengan terarah dan tertib. Partisipasi masyarakat cukup tinggi dan tidak hanya diikuti oleh bayi dan balita, tetapi juga oleh kelompok lanjut usia (lansia) yang secara rutin memeriksakan kondisi kesehatannya. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.     Selain pelayanan di lokasi posyandu, kegiatan juga dilengkapi dengan kunjungan ke rumah warga bagi bayi yang tidak dapat hadir pada hari pelaksanaan posyandu. Mahasiswa KKM turut mendampingi kader posyandu dan petugas kesehatan dalam kegiatan kunjungan rumah tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap pemerataan layanan kesehatan.     Melalui pendampingan mahasiswa KKM dalam kegiatan posyandu bulanan ini, diharapkan kualitas layanan kesehatan masyarakat Desa Pandanmulyo semakin optimal. Kegiatan ini juga menjadi pengalaman lapangan yang berharga bagi mahasiswa dalam memahami pelayanan kesehatan berbasis masyarakat serta memperkuat peran mahasiswa dalam mendukung kesejahteraan warga desa.

Thumbnail
3 months ago
Gema Sholawat di Ngadireso: Merajut Harmoni Melalui Tradisi Pembacaan Maulid Diba’

DZIKRY FIKRILLAH

Di tengah kesibukan menjalankan berbagai program kerja fisik maupun sosialisasi, menjaga kedekatan spiritual dengan masyarakat adalah kunci keberhasilan KKM. Salah satu pintu masuk yang paling hangat bagi mahasiswa KKM kelompok 32 di Desa Ngadireso adalah melalui kegiatan keagamaan rutin. Pada kesempatan kali ini, kami berkesempatan untuk berbaur langsung dalam pembacaan Maulid Diba’ bersama warga. Kegiatan Diba’an ini bukan sekadar rutinitas membaca pujian kepada Nabi Muhammad SAW, melainkan juga menjadi ajang silaturahmi yang sangat efektif. Acara dimulai selepas Sholat Isya, bertempat di Kediaman warga setempat. Suasana khidmat mulai terasa saat lantunan sholawat mulai berkumandang. Kehadiran mahasiswa KKM disambut dengan tangan terbuka oleh jamaah. Di sela-sela pembacaan syair, kami juga menyisipkan interaksi ringan dengan warga, yang membuat jarak antara mahasiswa dan masyarakat semakin terkikis. Bagi kami, kegiatan ini adalah momen untuk: Adaptasi Budaya: Mengenal lebih dalam tradisi keagamaan lokal di Desa Ngadireso. Silaturahmi: Memperkenalkan program kerja KKM lainnya kepada tokoh masyarakat secara informal. Integrasi Sosial: Menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya datang untuk tugas akademik, tapi juga untuk menjadi bagian dari kehidupan sosial warga. Melalui gema Diba’an ini, kami berharap keberkahan selalu menyertai setiap langkah program kerja kami di desa ini. Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa pendekatan hati melalui tradisi keagamaan jauh lebih efektif untuk membangun kepercayaan masyarakat dibandingkan sekadar komunikasi formal.

Thumbnail
3 months ago
Menjemput Asa di Ujung Banyuwangi: Mahasiswa KKM UIN Malang Gelar Sosialisasi Dampingi UMKM Sukamade.

NUR AFIFA

Dusun Sukamade, yang terletak di jantung Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, bukan sekadar wilayah konservasi penyu yang mendunia, tetapi juga rumah bagi para pejuang ekonomi lokal yang penuh potensi. Di tengah rimbunnya kawasan Taman Nasional Meru Betiri, upaya penguatan ekonomi masyarakat terus digencarkan. Salah satu langkah nyatanya hadir melalui inisiasi mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang menggelar sosialisasi UMKM pada Senin malam 05 November 2026, bertempat di ruang kelas SMPN 3 Pesanggaran Satu Atap. Suasana dingin malam di pelosok Banyuwangi tidak menyurutkan semangat warga yang hadir. Pertemuan ini mempertemukan dosen pendamping lapangan sekaligus sebagai narasumber, Ryan Basith Fasih Khan, SE., MM, dengan para pelaku UMKM lokal yang memiliki latar belakang beragam. Mulai dari pengelola wisata pelepasan penyu, pengrajin aksesori bertema alam seperti penyu, hingga produsen hasil kebun seperti kopi dan kerupuk pakis, semuanya berkumpul dengan satu tujuan yaitu mencari celah agar usaha mereka bisa lebih berdaya di tengah keterbatasan geografis. Dalam pemaparan materinya, narasumber menekankan betapa krusialnya peran digitalisasi melalui e-commerce di era sekarang. Langkah ini dinilai sebagai solusi cerdas untuk memutus rantai ketergantungan pada pembeli yang hanya datang secara fisik ke lokasi. Namun, diskusi yang semula terfokus pada teori pemasaran digital mulai berkembang dinamis saat warga menyuarakan realita pahit yang mereka hadapi sehari-hari. Hambatan terbesar yang mengemuka adalah persoalan logistik dan distribusi yang sangat sulit dijangkau dari wilayah Sukamade. Salah satu suara yang cukup memukul realita adalah keluhan dari Pak Edy, seorang pengrajin yang terampil mengubah batok dan serabut kelapa menjadi aksesori penyu yang ikonik. Ia menceritakan betapa tingginya biaya operasional yang harus ia tanggung hanya untuk urusan pengiriman. "Kalau harus kirim ke luar, biayanya besar sekali. Di sini juga tidak ada ekspedisi, jadi produk harus dibawa keluar dulu dari Sukamade," ungkapnya dengan nada penuh harap akan adanya solusi. Masalah ekspedisi ini seolah menjadi tembok besar yang menghalangi produk kreatif Sukamade untuk bersaing di pasar nasional maupun internasional. Merespons kendala tersebut, forum mulai merumuskan usulan strategis jangka menengah, salah satunya adalah permohonan kepada pihak desa untuk pengadaan gudang distribusi di Desa Sarongan. Gudang ini nantinya akan berfungsi sebagai titik konsolidasi barang, sehingga pelaku UMKM dapat mengumpulkan produk mereka di satu tempat sebelum dikirim secara massal, yang tentunya akan menekan biaya logistik secara signifikan. Namun, persoalan ternyata tidak berhenti di urusan pengiriman saja. Diskusi juga mengungkap adanya struktur ekonomi yang mengikat, di mana keterikatan warga dengan pengelola lahan membuat posisi tawar mereka lemah saat berhadapan dengan tengkulak hasil bumi. Di sisi lain, tantangan internal juga menjadi sorotan penting yang disampaikan oleh Kepala Dusun Sukamade, Bapak Fery. Menurutnya, infrastruktur pendukung sebenarnya telah diupayakan, namun pemanfaatannya masih jauh dari kata maksimal karena faktor motivasi dan kepercayaan diri warga. "Sebenarnya sudah ada etalase produk warga di rumah saya. Itu disiapkan untuk menyambut wisatawan, terutama wisatawan Eropa yang biasanya datang sekitar bulan April sampai September, tapi belum dimanfaatkan maksimal," ujarnya. Hal ini menyadarkan semua pihak bahwa penguatan UMKM di Sukamade memerlukan pendekatan menyeluruh, yang menyentuh sisi mentalitas dan kesiapan masyarakat, bukan sekadar urusan teknis pemasaran. Menutup rangkaian kegiatan yang penuh inspirasi tersebut, seluruh peserta, perangkat dusun, serta mahasiswa KKM berkumpul untuk melakukan sesi dokumentasi bersama. Momen foto bersama ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol sinergi dan kehangatan yang telah terbangun selama diskusi berlangsung.