ERA DIANA PITALOKA
Menggerakkan Potensi Lokal: KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh dengan Pendekatan ABCD Pembangunan desa selama ini masih sering dipahami dari sudut pandang kekurangan. Desa kerap digambarkan sebagai wilayah dengan fasilitas terbatas, sumber daya manusia yang belum optimal, serta keterbatasan akses terhadap program pemberdayaan dan peluang ekonomi. Cara pandang tersebut secara tidak langsung menempatkan desa sebagai objek pembangunan yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Akibatnya, potensi yang sebenarnya telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat sering kali luput dari perhatian. Padahal, setiap desa memiliki kekuatan lokal yang lahir dari aktivitas warganya sehari-hari, hubungan sosial yang terjalin, lembaga-lembaga komunitas yang terus berjalan, serta berbagai bentuk usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri. Potensi tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk fasilitas fisik yang besar, melainkan tersimpan dalam keterampilan warga, kebiasaan gotong royong, semangat belajar anak-anak, kepedulian keluarga terhadap kesehatan, serta kreativitas pelaku usaha lokal. Apabila potensi ini dikenali, dipetakan, dan dikembangkan secara bersama, desa memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk membangun kesejahteraan warganya secara berkelanjutan. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, memperlihatkan bahwa pembangunan berbasis potensi lokal dapat diwujudkan melalui pendekatan yang tepat. Melalui kerangka Asset Based Community Development (ABCD) yang dikembangkan oleh LP2M, mahasiswa hadir bukan untuk membawa program siap pakai, melainkan memfasilitasi proses pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki desa. Pendekatan ABCD memandang masyarakat sebagai pemilik utama sumber daya dan pengetahuan lokal. Dalam praktiknya, mahasiswa KKM berperan sebagai mitra dan fasilitator yang membantu warga menggali potensi, menghubungkan antar kelompok masyarakat, serta mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor desa. Proses ini diawali dengan pengenalan kondisi desa, interaksi langsung dengan warga, diskusi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, pengelola lembaga pendidikan, kader posyandu, pemuda Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Melalui dialog dan keterlibatan langsung, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Desa Sengguruh memiliki banyak aset sosial, pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi yang dapat saling mendukung apabila dikelola secara terpadu. Pendidikan Anak dan TPQ sebagai Aset Sosial yang Hidup Salah satu aset penting yang dimiliki Desa Sengguruh adalah keberadaan lembaga pendidikan formal dan nonformal yang aktif dan mendapatkan dukungan masyarakat. Kegiatan asistensi mengajar yang dilaksanakan di SDN Sengguruh menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan kepercayaan diri anak-anak. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan praktik sederhana yang melibatkan siswa secara langsung. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan, berani bertanya, serta aktif menyampaikan pendapat. Respons positif ini menunjukkan bahwa minat belajar dan rasa ingin tahu anak-anak di Desa Sengguruh merupakan aset sosial yang sangat berharga. Selain di sekolah, kegiatan pendampingan juga dilaksanakan di TPQ Nurul Huda. TPQ berperan sebagai ruang pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan sikap disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab. Anak-anak mengikuti kegiatan mengaji dengan penuh semangat, sementara mahasiswa membantu dalam penguatan bacaan, hafalan, serta penyampaian nilai-nilai akhlak sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keberadaan SDN Sengguruh dan TPQ Nurul Huda memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan di desa tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara pembelajaran, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial anak-anak dan orang tua. Sekolah dan TPQ menjadi titik temu antara pendidik, keluarga, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak desa, lembaga pendidikan ini berpotensi menjadi pusat pengembangan generasi muda yang kreatif, berkarakter, religius, dan adaptif terhadap perubahan. Posyandu dan Edukasi Keluarga sebagai Aset Kesehatan yang Efektif Di bidang kesehatan, Desa Sengguruh memiliki jaringan posyandu yang aktif dan didukung oleh kader-kader yang berperan langsung dalam pelayanan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan posyandu selama empat hari menunjukkan tingginya partisipasi warga, khususnya ibu-ibu yang membawa balita untuk melakukan penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, serta konsultasi kesehatan. Selain pelayanan rutin, mahasiswa KKM turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi kesehatan dan edukasi parenting. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang mendukung perkembangan anak, pencegahan penyakit ringan di lingkungan keluarga, serta peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan emosional anak. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima. Posyandu di Desa Sengguruh tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan dasar, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi keluarga. Interaksi antara kader, mahasiswa, dan warga membentuk proses pertukaran pengetahuan yang sederhana namun bermakna. Melalui pendekatan ABCD, keberadaan kader posyandu, PKK, serta jaringan ibu-ibu desa dipandang sebagai aset sosial yang mampu menyebarluaskan informasi kesehatan secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah ada, edukasi kesehatan tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dapat diteruskan melalui pertemuan rutin, kegiatan PKK, dan interaksi informal antarwarga. Dampaknya dirasakan langsung oleh unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sebagai fondasi utama pembangunan kualitas sumber daya manusia desa. UMKM Lokal dan Penguatan Ekonomi Desa Desa Sengguruh memiliki potensi ekonomi lokal yang cukup beragam. Beberapa UMKM telah berjalan secara mandiri, seperti usaha batik, produksi keripik tempe, dan pembuatan sepatu. Usaha-usaha ini menunjukkan kemampuan warga dalam mengelola keterampilan, bahan lokal, dan jaringan pemasaran sederhana. Namun, salah satu aset ekonomi sekaligus budaya yang paling menonjol adalah Rumah Topeng Desa Sengguruh. Rumah Topeng tidak hanya berperan sebagai tempat produksi topeng tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya desa yang merepresentasikan nilai seni, sejarah, dan kearifan lokal. Keberadaan Rumah Topeng menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar desa, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Mahasiswa KKM mendampingi pengelola UMKM, khususnya Rumah Topeng, melalui kegiatan penataan ruang produksi, perbaikan tampilan visual, serta diskusi mengenai strategi promosi sederhana. Pendampingan ini menekankan bahwa penguatan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari perbaikan tata ruang, dokumentasi produk yang lebih menarik, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Melalui proses tersebut, pengelola UMKM memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya tampilan produk, cerita di balik produk lokal, serta potensi pasar yang dapat dijangkau secara lebih luas. Dengan dukungan berbasis aset dan kreativitas lokal, UMKM di Desa Sengguruh memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Kohesi Sosial dan Balai Desa sebagai Pusat Aktivitas Masyarakat Selain aset pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Desa Sengguruh juga memiliki kekuatan sosial yang tercermin melalui aktivitas pemuda dan keberfungsian balai desa. Kegiatan kerja bakti yang melibatkan pemuda Karang Taruna menjadi contoh nyata semangat gotong royong yang masih terjaga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang interaksi antarwarga lintas usia. Pemuda desa menunjukkan peran aktif dalam mendukung berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Keterlibatan mereka menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan program desa, sekaligus sebagai calon penggerak pembangunan desa di masa depan. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi berbagai kegiatan masyarakat. Berbagai program KKM, seperti sosialisasi kesehatan, pertemuan UMKM, diskusi bersama perangkat desa, hingga kegiatan komunitas pemuda, dilaksanakan di balai desa. Keberadaan balai desa sebagai ruang publik memungkinkan terbangunnya komunikasi yang terbuka, partisipasi warga, serta proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif. Pemanfaatan balai desa dan jejaring sosial yang telah terbentuk membuat setiap kegiatan saling terhubung dan berjalan lebih efektif. Rasa memiliki terhadap program desa pun semakin kuat, sehingga ketergantungan terhadap bantuan eksternal dapat secara perlahan dikurangi. ABCD sebagai Kerangka Pemberdayaan Desa Pendekatan ABCD dari LP2M menjadi landasan utama bagi KKM Reguler Kelompok 82 dalam merancang seluruh kegiatan di Desa Sengguruh. Fokus utama pendekatan ini adalah mengidentifikasi dan mengoptimalkan aset yang sudah ada, baik berupa aset individu, kelompok, lembaga, maupun fasilitas desa. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antar aset agar dapat saling mendukung. Edukasi parenting di posyandu dapat dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran karakter di sekolah dan TPQ. Promosi UMKM dan Rumah Topeng dapat terintegrasi dengan pemanfaatan balai desa sebagai pusat informasi dan ruang pamer. Kegiatan kerja bakti dan peran pemuda Karang Taruna memperkuat kohesi sosial yang menjadi landasan keberlanjutan program-program tersebut. Melalui integrasi ini, masyarakat mulai melihat bahwa setiap kelompok dan lembaga di desa memiliki peran yang saling melengkapi. Desa Sengguruh tidak lagi diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek pembangunan yang memiliki kapasitas untuk menentukan arah, prioritas, dan bentuk pengembangan desanya sendiri. Penutup Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan berangkat dari kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengelola, dan merawat potensi yang telah dimiliki. Desa Sengguruh membuktikan bahwa aset manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan dapat saling terhubung untuk menghasilkan perubahan yang nyata. Anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, ibu-ibu yang semakin peduli terhadap kesehatan keluarga, UMKM kreatif terutama Rumah Topeng sebagai ikon budaya desa, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial, serta balai desa yang berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, menjadi fondasi penting bagi masa depan Desa Sengguruh yang mandiri dan berdaya. Pembangunan desa tidak lagi semata-mata dipahami sebagai upaya memperbaiki kekurangan, tetapi sebagai proses menggerakkan, menghubungkan, dan mengembangkan kekuatan lokal agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan mahasiswa KKM, Desa Sengguruh memiliki modal sosial yang kuat untuk melanjutkan praktik pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.
ADINDA KHALISHA RAMADHANI
Kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Desa Gondowangi merupakan salah satu program kesehatan masyarakat yang rutin dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan warga, khususnya balita dan lansia. Posyandu menjadi wadah pelayanan kesehatan dasar yang sangat penting karena berfungsi sebagai sarana pemantauan tumbuh kembang anak sejak usia dini serta pemantauan kondisi kesehatan warga lanjut usia secara berkala. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin sadar akan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin.
RAFIF ARSALAN
https://www.kompasiana.com/cynthiadestaanggraini9273/695deeffed641505e62aa082/guyub-rukun-dalam-aksi-sinergi-warga-dusun-segelan-sidomulyo-dan-kkm-reguler-uin-maulana-malik-ibrahim-malang-kelompok-114-dalam-kerja-bakti
NADIA PUTRI AYU FATIMATUZZAHROH
Mahasiswa KKM Unggulan UIN Malang dampingi UMK Desa Bendo dalam Pembuatan NIB hingga Terbit Mahasiswa KKM Unggulan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan salah satu program kerja unggulan berupa pendampingan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi para pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Desa Bendo, Kemantren, Kecamatan Jabung. Program ini bertujuan untuk membantu pelaku usaha agar memiliki legalitas usaha secara resmi dan diakui oleh negara.Kegiatan ini diawali dengan pendataan UMK yang berada di Desa Bendo. Mahasiswa KKM mendatangi langsung rumah atau tempat usaha warga untuk melakukan wawancara singkat terkait jenis usaha, skala usaha, serta kelengkapan data yang dibutuhkan untuk pendaftaran NIB. Para pelaku UMK menyambut baik kegiatan ini karena masih banyak di antara mereka yang belum memahami pentingnya NIB bagi keberlangsungan usaha. Setelah proses pendataan, mahasiswa KKM memberikan pendampingan secara langsung dalam proses pembuatan akun OSS (Online Single Submission). Pendampingan dilakukan dengan sabar dan komunikatif, mulai dari pengisian data diri pelaku usaha, data usaha, hingga pemilihan KBLI yang sesuai dengan jenis usaha masing-masing UMK. Proses pendaftaran terus dikawal oleh mahasiswa KKM hingga NIB berhasil diterbitkan. Tidak hanya membantu secara teknis, mahasiswa juga memberikan penjelasan mengenai fungsi dan manfaat NIB, seperti kemudahan mengakses bantuan pemerintah, pengajuan sertifikasi halal, serta peluang pengembangan usaha ke jenjang yang lebih luas. Dengan terbitnya NIB, para pelaku UMK Desa Bendo merasa terbantu dan lebih percaya diri dalam menjalankan usahanya. Legalitas usaha yang dimiliki menjadi langkah awal bagi UMK untuk berkembang secara berkelanjutan dan profesional. Melalui program kerja ini, Mahasiswa KKM Unggulan UIN Malang berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung penguatan ekonomi desa dan pemberdayaan UMK lokal. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. https://halalculturehalcen.blogspot.com/2026/01/mahasiswa-kkm-unggulan-uin-malang.html
ANNISA NUR ROSYIDAH HAPSARI
Peluncuran situs web JPZIS Masjid Raudlatul Jannah di Tasikmadu menjadi tonggak baru dalam pengelolaan zakat, infaq, dan shodaqoh berbasis digital. Acara ini berlangsung sederhana namun penuh makna, diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan sambutan takmir masjid yang menekankan pentingnya melindungi serta modernisasi layanan dana umat Website diperkenalkan sebagai sarana donasi online yang cepat, aman, dan transparan, pusat sekaligus informasi program sosial masjid. Jamaah yang hadir menyambut dengan antusias, karena platform ini memudahkan mereka menyalurkan zakat dan infaq tanpa terbatas waktu maupun tempat. Takmir juga menegaskan bahwa website ini akan terus dikembangkan dengan fitur laporan keuangan, informasi kegiatan sosial, serta edukasi zakat agar jamaah semakin percaya dan terlibat aktif. Peluncuran ditutup dengan doa bersama, memohon agar inovasi digital ini membawa keberkahan dan memperluas manfaat bagi sekitar masyarakat.
HERA MAWADAH WAROHMA
Program PELITA (Pojok Edukasi Literasi Anak) merupakan kegiatan literasi yang dilaksanakan di SDN 3 Srigading sebagai upaya untuk menumbuhkan minat baca, meningkatkan kemampuan literasi dasar, serta membangun kebiasaan membaca pada peserta didik sejak dini. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga minggu berturut-turut dengan melibatkan seluruh siswa dari kelas I hingga kelas V. Pelaksanaan Program PELITA dibagi menjadi dua fase sesuai dengan jenjang kelas dan kebutuhan literasi siswa, yaitu Fase A dan Fase B & C. Pada Fase A yang diperuntukkan bagi siswa kelas 1, 2, dan 3, kegiatan difokuskan pada pengenalan buku dan literasi dasar. Bentuk kegiatan meliputi menyimak cerita, interaksi visual melalui gambar dan buku cerita bergambar, serta penguatan kemampuan calistung (membaca, menulis, dan berhitung). Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode yang menyenangkan dan interaktif agar siswa lebih tertarik dan aktif dalam proses pembelajaran literasi. Sementara itu, pada Fase B & C yang diperuntukkan bagi siswa kelas 4 dan 5, kegiatan difokuskan pada peningkatan ketahanan membaca mandiri serta pemahaman isi bacaan. Siswa dibiasakan untuk membaca selama 10 menit sebelum pembelajaran dimulai setiap harinya. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kebiasaan membaca, melatih konsentrasi, serta meningkatkan kemampuan memahami bacaan secara mandiri. Selama tiga minggu pelaksanaan, Program PELITA berjalan dengan lancar dan mendapatkan respon positif dari siswa maupun guru. Siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti kegiatan, baik pada saat membaca mandiri maupun saat sesi literasi interaktif. Melalui program ini, diharapkan budaya literasi di SDN 3 Srigading dapat terus berkembang dan menjadi kebiasaan positif dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.< https://arutalapratista.blogspot.com/2026/02/penerapan-peningkatan-minat-baca-sdn-2.html?m=1