ANITA WAFIQ AZIZAH
Alih-alih merayakannya dengan kembang api atau hura-hura di jalanan, Mahasiswa KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa) Kelompok 20 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama remaja GAMAS (Gerakan Anak Muda Masjid) Al-Basyiroh memilih cara yang berbeda. Mereka menggelar acara "Pesantren Akhir Tahun" di Masjid Al-Basyiroh untuk mengisi malam pergantian tahun dengan kegiatan yang jauh lebih bermanfaat. Menariknya, sasaran utama dari kegiatan ini adalah para santriwan dan santriwati TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur'an) di lingkungan sekitar masjid. Sinergi antara mahasiswa dan pemuda setempat ini berhasil menghidupkan suasana masjid dengan rangkaian acara yang padat, mulai dari Tadarus Al-Quran hingga Sholat Subuh berjamaah. Kemeriahan juga tercipta melalui Games Islami yang melibatkan interaksi seru antar santri dengan panitia dari mahasiswa KKM dan GAMAS. Berdasarkan jadwal yang disusun, kegiatan dimulai tepat setelah waktu Maghrib pada pukul 18.15 WIB, di mana para peserta mengawali malam dengan persiapan alat dan dilanjutkan dengan Tadarus Al-Quran bersama pada pukul 20.00 WIB. "Kolaborasi dengan GAMAS ini bukan sekadar menjalankan program kerja, tapi tentang bagaimana kita sebagai mahasiswa bisa berbaur dan memberi dampak positif bagi pemuda dan adik-adik santri di Masjid Al-Basyiroh," ujar perwakilan Kelompok 20 KKM UIN Malang. Memasuki tengah malam, suasana berubah menjadi lebih tenang dan emosional. Tepat pukul 22.46 WIB, seluruh peserta melaksanakan Sholat Tasbih dan Sholat Hajat berjamaah. Puncaknya adalah sesi Renungan Suci (Muhasabah) yang dilaksanakan pada pukul 23.00 WIB hingga detik-detik pergantian tahun. Acara ini sengaja digelar untuk mengalihkan euforia perayaan malam tahun baru yang biasanya identik dengan hura-hura di jalanan, menjadi kegiatan yang lebih religius dan mempererat tali silaturahmi antar pemuda. "Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah bagi pemuda untuk melakukan refleksi diri atas apa yang telah dilalui setahun ke belakang dan memanjatkan doa terbaik untuk tahun yang akan datang, agar anak-anak santri bisa mengisi waktu pergantian tahun dengan kegiatan yang bermanfaat," ujar salah satu panitia penyelenggara. Setelah beristirahat sejenak, rangkaian acara ditutup dengan persiapan Sholat Shubuh berjamaah pada pukul 03.00 WIB dan sesi dokumentasi pembagian hadiah pemenang game sebagai kenang-kenangan kebersamaan.
NUR IZZA AZZAHROH
Kegiatan ini menjadi sarana dalam memperkuat toleransi antarumat beragama, di mana masjid membuka diri untuk melayani para pemudik tanpa membedakan latar belakang keyakinan. Melalui pelayanan istirahat dan konsumsi ini, Masjid Jami Al-Khoirot dan KKM 16 UIN Malang ingin menegaskan bahwa kebersamaan dan saling menghormati merupakan fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.
KENNY HERMAWANTI SETYA PUTRI
Desa Sidem, Kecamatan Gondang, menjadi saksi berakhirnya masa pengabdian mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Acara perpisahan digelar di Balai Desa Sidem, Selasa, 3 Februari 2026, sebagai penanda tuntasnya pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Mengusung tema “Jejak Pengabdian Masyarakat”, kegiatan ini menegaskan peran mahasiswa tidak hanya sebagai insan intelektual, tetapi juga agen perubahan yang mampu mengaplikasikan ilmu secara nyata dan berdampak bagi masyarakat. Acara dihadiri oleh perangkat desa, masyarakat, serta tamu undangan. Suasana haru terasa kuat, terutama saat penayangan after movie KKM yang merekam perjalanan kebersamaan mahasiswa dan warga. Tangis haru pun tak terbendung, menandai kedekatan emosional yang telah terjalin selama masa pengabdian. Acara semakin khidmat dengan lantunan selawat yang diiringi hadroh lokal, dilanjutkan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan penerimaan masyarakat Desa Sidem kepada mahasiswa KKM. Meski masa tugas telah berakhir, mahasiswa berharap program dan nilai yang ditanamkan dapat terus memberi manfaat, mendorong kemajuan desa, serta mencetak generasi penerus yang lebih baik. Penutupan ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari jejak pengabdian yang akan terus dikenang.
RAHMA MAITSA AGHNA
https://www.kompasiana.com/hurin31681/6965219b34777c470a369d62/uin-malang-berdaya-kolaborasi-dinas-perikanan-dan-karang-taruna-desa-pakis-kembar-kkm-uin-malang-jadikan-sungai-desa-sentra-ekonomi
CHINTIA AINA SALSABILA
Pembangunan desa selama ini masih sering dipahami dari sudut pandang kekurangan. Desa kerap digambarkan sebagai wilayah dengan fasilitas terbatas, sumber daya manusia yang belum optimal, serta keterbatasan akses terhadap program pemberdayaan dan peluang ekonomi. Cara pandang tersebut secara tidak langsung menempatkan desa sebagai objek pembangunan yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Akibatnya, potensi yang sebenarnya telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat sering kali luput dari perhatian. Padahal, setiap desa memiliki kekuatan lokal yang lahir dari aktivitas warganya sehari-hari, hubungan sosial yang terjalin, lembaga-lembaga komunitas yang terus berjalan, serta berbagai bentuk usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri. Potensi tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk fasilitas fisik yang besar, melainkan tersimpan dalam keterampilan warga, kebiasaan gotong royong, semangat belajar anak-anak, kepedulian keluarga terhadap kesehatan, serta kreativitas pelaku usaha lokal. Apabila potensi ini dikenali, dipetakan, dan dikembangkan secara bersama, desa memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk membangun kesejahteraan warganya secara berkelanjutan. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, memperlihatkan bahwa pembangunan berbasis potensi lokal dapat diwujudkan melalui pendekatan yang tepat. Melalui kerangka Asset Based Community Development (ABCD) yang dikembangkan oleh LP2M, mahasiswa hadir bukan untuk membawa program siap pakai, melainkan memfasilitasi proses pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki desa. Pendekatan ABCD memandang masyarakat sebagai pemilik utama sumber daya dan pengetahuan lokal. Dalam praktiknya, mahasiswa KKM berperan sebagai mitra dan fasilitator yang membantu warga menggali potensi, menghubungkan antar kelompok masyarakat, serta mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor desa. Proses ini diawali dengan pengenalan kondisi desa, interaksi langsung dengan warga, diskusi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, pengelola lembaga pendidikan, kader posyandu, pemuda Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Melalui dialog dan keterlibatan langsung, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Desa Sengguruh memiliki banyak aset sosial, pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi yang dapat saling mendukung apabila dikelola secara terpadu. *Pendidikan Anak dan TPQ sebagai Aset Sosial yang Hidup* Salah satu aset penting yang dimiliki Desa Sengguruh adalah keberadaan lembaga pendidikan formal dan nonformal yang aktif dan mendapatkan dukungan masyarakat. Kegiatan asistensi mengajar yang dilaksanakan di SDN Sengguruh menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan kepercayaan diri anak-anak. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan praktik sederhana yang melibatkan siswa secara langsung. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan, berani bertanya, serta aktif menyampaikan pendapat. Respons positif ini menunjukkan bahwa minat belajar dan rasa ingin tahu anak-anak di Desa Sengguruh merupakan aset sosial yang sangat berharga. Selain di sekolah, kegiatan pendampingan juga dilaksanakan di TPQ Nurul Huda. TPQ berperan sebagai ruang pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan sikap disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab. Anak-anak mengikuti kegiatan mengaji dengan penuh semangat, sementara mahasiswa membantu dalam penguatan bacaan, hafalan, serta penyampaian nilai-nilai akhlak sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keberadaan SDN Sengguruh dan TPQ Nurul Huda memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan di desa tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara pembelajaran, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial anak-anak dan orang tua. Sekolah dan TPQ menjadi titik temu antara pendidik, keluarga, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak desa, lembaga pendidikan ini berpotensi menjadi pusat pengembangan generasi muda yang kreatif, berkarakter, religius, dan adaptif terhadap perubahan. *Posyandu dan Edukasi Keluarga sebagai Aset Kesehatan yang Efektif* Di bidang kesehatan, Desa Sengguruh memiliki jaringan posyandu yang aktif dan didukung oleh kader-kader yang berperan langsung dalam pelayanan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan posyandu selama empat hari menunjukkan tingginya partisipasi warga, khususnya ibu-ibu yang membawa balita untuk melakukan penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, serta konsultasi kesehatan. Selain pelayanan rutin, mahasiswa KKM turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi kesehatan dan edukasi parenting. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang mendukung perkembangan anak, pencegahan penyakit ringan di lingkungan keluarga, serta peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan emosional anak. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima. Posyandu di Desa Sengguruh tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan dasar, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi keluarga. Interaksi antara kader, mahasiswa, dan warga membentuk proses pertukaran pengetahuan yang sederhana namun bermakna. Melalui pendekatan ABCD, keberadaan kader posyandu, PKK, serta jaringan ibu-ibu desa dipandang sebagai aset sosial yang mampu menyebarluaskan informasi kesehatan secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah ada, edukasi kesehatan tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dapat diteruskan melalui pertemuan rutin, kegiatan PKK, dan interaksi informal antarwarga. Dampaknya dirasakan langsung oleh unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sebagai fondasi utama pembangunan kualitas sumber daya manusia desa. *UMKM Lokal dan Penguatan Ekonomi Desa* Desa Sengguruh memiliki potensi ekonomi lokal yang cukup beragam. Beberapa UMKM telah berjalan secara mandiri, seperti usaha batik, produksi keripik tempe, dan pembuatan sepatu. Usaha-usaha ini menunjukkan kemampuan warga dalam mengelola keterampilan, bahan lokal, dan jaringan pemasaran sederhana. Namun, salah satu aset ekonomi sekaligus budaya yang paling menonjol adalah Rumah Topeng Desa Sengguruh. Rumah Topeng tidak hanya berperan sebagai tempat produksi topeng tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya desa yang merepresentasikan nilai seni, sejarah, dan kearifan lokal. Keberadaan Rumah Topeng menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar desa, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Mahasiswa KKM mendampingi pengelola UMKM, khususnya Rumah Topeng, melalui kegiatan penataan ruang produksi, perbaikan tampilan visual, serta diskusi mengenai strategi promosi sederhana. Pendampingan ini menekankan bahwa penguatan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari perbaikan tata ruang, dokumentasi produk yang lebih menarik, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Melalui proses tersebut, pengelola UMKM memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya tampilan produk, cerita di balik produk lokal, serta potensi pasar yang dapat dijangkau secara lebih luas. Dengan dukungan berbasis aset dan kreativitas lokal, UMKM di Desa Sengguruh memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. *Kohesi Sosial dan Balai Desa sebagai Pusat Aktivitas Masyarakat* Selain aset pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Desa Sengguruh juga memiliki kekuatan sosial yang tercermin melalui aktivitas pemuda dan keberfungsian balai desa. Kegiatan kerja bakti yang melibatkan pemuda Karang Taruna menjadi contoh nyata semangat gotong royong yang masih terjaga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang interaksi antarwarga lintas usia. Pemuda desa menunjukkan peran aktif dalam mendukung berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Keterlibatan mereka menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan program desa, sekaligus sebagai calon penggerak pembangunan desa di masa depan. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi berbagai kegiatan masyarakat. Berbagai program KKM, seperti sosialisasi kesehatan, pertemuan UMKM, diskusi bersama perangkat desa, hingga kegiatan komunitas pemuda, dilaksanakan di balai desa. Keberadaan balai desa sebagai ruang publik memungkinkan terbangunnya komunikasi yang terbuka, partisipasi warga, serta proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif. Pemanfaatan balai desa dan jejaring sosial yang telah terbentuk membuat setiap kegiatan saling terhubung dan berjalan lebih efektif. Rasa memiliki terhadap program desa pun semakin kuat, sehingga ketergantungan terhadap bantuan eksternal dapat secara perlahan dikurangi. *ABCD sebagai Kerangka Pemberdayaan Desa* Pendekatan ABCD dari LP2M menjadi landasan utama bagi KKM Reguler Kelompok 82 dalam merancang seluruh kegiatan di Desa Sengguruh. Fokus utama pendekatan ini adalah mengidentifikasi dan mengoptimalkan aset yang sudah ada, baik berupa aset individu, kelompok, lembaga, maupun fasilitas desa. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antar aset agar dapat saling mendukung. Edukasi parenting di posyandu dapat dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran karakter di sekolah dan TPQ. Promosi UMKM dan Rumah Topeng dapat terintegrasi dengan pemanfaatan balai desa sebagai pusat informasi dan ruang pamer. Kegiatan kerja bakti dan peran pemuda Karang Taruna memperkuat kohesi sosial yang menjadi landasan keberlanjutan program-program tersebut. Melalui integrasi ini, masyarakat mulai melihat bahwa setiap kelompok dan lembaga di desa memiliki peran yang saling melengkapi. Desa Sengguruh tidak lagi diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek pembangunan yang memiliki kapasitas untuk menentukan arah, prioritas, dan bentuk pengembangan desanya sendiri. *Penutup* Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan berangkat dari kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengelola, dan merawat potensi yang telah dimiliki. Desa Sengguruh membuktikan bahwa aset manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan dapat saling terhubung untuk menghasilkan perubahan yang nyata. Anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, ibu-ibu yang semakin peduli terhadap kesehatan keluarga, UMKM kreatif terutama Rumah Topeng sebagai ikon budaya desa, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial, serta balai desa yang berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, menjadi fondasi penting bagi masa depan Desa Sengguruh yang mandiri dan berdaya. Pembangunan desa tidak lagi semata-mata dipahami sebagai upaya memperbaiki kekurangan, tetapi sebagai proses menggerakkan, menghubungkan, dan mengembangkan kekuatan lokal agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan mahasiswa KKM, Desa Sengguruh memiliki modal sosial yang kuat untuk melanjutkan praktik pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.