IFFA AULIA MAFAZA
Saya tidak menyangka bahwa momen paling membekas selama KKM justru datang bukan dari acara besar, melainkan dari percakapan sederhana, tawa kecil, dan kalimat tulus dari calon jamaah haji yang berkata, “Kenapa kegiatannya tidak lebih lama?” Selama pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), saya awalnya merasa kegiatan berjalan cukup sederhana dan cenderung datar. Namun, di balik rutinitas pemeriksaan dan edukasi kesehatan, ada interaksi-interaksi kecil yang perlahan terasa hangat dan berkesan. Salah satu momen yang paling saya ingat terjadi saat penutupan kegiatan, ketika salah satu calon jamaah haji (CJH) menyampaikan kesan mereka. Dengan nada hangat, beliau mengatakan bahwa program ini terasa terlalu singkat dan berharap bisa berlangsung lebih lama. Ia memuji cara tim kami dalam melakukan pemeriksaan kesehatan, mulai dari pengukuran tekanan darah, berat dan tinggi badan, saturasi oksigen, hingga pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat menggunakan alat GCU. Mendengar bahwa cara kami dianggap luwes, rapi, dan profesional menjadi momen yang sangat mengharukan, sekaligus membuat saya merasa bahwa peran mahasiswa kesehatan benar-benar bisa memberi dampak nyata. Momen lain yang tak kalah berkesan terjadi saat saya mendampingi CJH dalam pengisian kuesioner Mini-Cog. Beliau bercerita bahwa sudah sangat lama tidak mengikuti tes yang berkaitan dengan daya ingat dan fungsi kognitif, sehingga pengalaman tersebut terasa unik dan sedikit nostalgia bagi beliau. Proses ini bukan hanya menjadi skrining kognitif, tetapi juga membuka ruang cerita, tawa kecil, dan percakapan yang hangat. Dari situ, saya menyadari bahwa Mini-Cog bukan sekadar alat skrining, tetapi juga bisa menjadi jembatan untuk memahami seseorang secara lebih personal. Ada pula satu pengalaman yang saya rasa ini akan selalu menjadi memori indah di sepanjang studi S1 Farmasi saya, yakni ketika skrining kesehatan, saya menanyakan apakah ada riwayat alergi makanan atau obat. Salah satu CJH kemudian menceritakan bahwa ia pernah mengalami reaksi alergi terhadap natrium diklofenak. Percakapan ini menjadi kesempatan bagi saya untuk menjelaskan tentang indikasi, bagaimana reaksi hipersensitivitas obat terjadi, potensi efek samping, hingga kontraindikasi serta pentingnya menghindari obat tertentu atau makanan tertentu yang dapat meningkatkan reaksi tersebut dan berpesan untuk selalu menyampaikan riwayat alergi kepada tenaga kesehatan saat berobat. Di momen itu, saya benar-benar merasakan bagaimana ilmu farmasi bisa langsung berdampak pada pemahaman CJH. Secara keseluruhan, KKM ini mungkin tidak dipenuhi dengan peristiwa besar, tetapi justru kaya akan pelajaran kecil yang bermakna. Saya belajar bahwa menjadi tenaga kesehatan bukan hanya tentang angka hasil pemeriksaan dan keterampilan teknis, melainkan juga tentang empati, komunikasi, dan kepekaan terhadap cerita setiap individu. Dari CJH, saya belajar bahwa perhatian kecil dan ketulusan sering kali meninggalkan kesan yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
HILMAN MAULANA AKBAR
Dalam rangka mendukung penyebaran informasi yang lebih efektif dan menarik bagi jamaah, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 16 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan program kerja pembuatan mading masjid di Masjid Al-Khoirot, Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang. Program ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan media informasi yang mudah diakses oleh seluruh jamaah masjid. Selama ini, informasi mengenai kegiatan masjid, jadwal kajian, laporan keuangan, maupun pengumuman penting lainnya masih tersebar secara terbatas. Oleh karena itu, mading masjid diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif antara pengurus masjid dan jamaah. Proses pembuatan mading dilakukan secara gotong royong oleh seluruh anggota KKM 16. Kegiatan diawali dengan perencanaan konsep desain mading, pemilihan tema, hingga pengumpulan materi yang akan ditampilkan. Mading dirancang dengan tampilan yang menarik, informatif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Beberapa informasi yang ditampilkan dalam mading antara lain jadwal shalat, agenda kegiatan masjid, artikel keislaman, laporan singkat keuangan masjid, serta dokumentasi kegiatan KKM. Selain itu, tersedia juga kolom khusus untuk kreativitas remaja masjid, seperti puisi islami, kaligrafi, dan informasi edukatif lainnya. Pembuatan mading ini tidak hanya bertujuan sebagai media informasi, tetapi juga sebagai upaya untuk meningkatkan keterlibatan jamaah dalam setiap kegiatan masjid. Dengan adanya mading, diharapkan jamaah dapat lebih mudah memperoleh informasi terbaru dan termotivasi untuk ikut serta dalam berbagai program yang diselenggarakan. Kegiatan ini mendapat respons positif dari pengurus masjid dan jamaah. Mereka merasa terbantu dengan adanya papan informasi yang lebih tertata dan menarik. Pengurus masjid juga berharap agar mading ini dapat terus diperbarui secara berkala sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Melalui program sederhana ini, KKM 16 berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi Masjid Al-Khoirot serta meningkatkan semangat literasi dan keterbukaan informasi di lingkungan masjid. Semoga mading masjid ini dapat menjadi langkah awal menuju pengelolaan informasi masjid yang lebih baik dan modern.
MUHAMMAD SYIFA`UL ALFAN KHOIRI
Suasana Masjid At-Taqwa Perumahan Bumi Tunggulwulung Indah, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, tampak lebih ramai dari biasanya pada Minggu pagi, 25 Januari 2026. Sejak pukul 07.30 WIB, jamaah mulai berdatangan satu per satu, memenuhi ruang utama masjid dengan wajah penuh antusias. Tidak hanya orang tua, tetapi juga remaja hingga anak-anak ikut meramaikan saf. Pagi itu, Masjid At-Taqwa menggelar Kajian Dhuha Spesial yang berbeda dari agenda rutin bulanan, karena dikemas dengan pelatihan praktik perawatan jenazah bertema "Fardhu Kifayah: Bekal Mengantar Kepulangan." Kajian dhuha ini sejatinya merupakan program rutin Masjid At-Taqwa yang dilaksanakan satu bulan sekali. Namun, pelaksanaan kali ini terasa lebih istimewa karena tidak hanya berisi tausiyah, melainkan juga praktik langsung pemulasaraan jenazah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program kerja mahasiswa KKM Kelompok 121 Swastikara Nawasena UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang berkolaborasi dengan takmir masjid sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Rangkaian acara dibuka dengan salat dhuha berjamaah. Suasana khusyuk terasa ketika jamaah berdiri sejajar dalam saf, memulai kegiatan dengan ibadah. Setelah itu, jamaah tetap berada di tempat untuk mengikuti kajian dan pelatihan yang dipandu langsung oleh pemateri, Ustadz Asep Hidayatulloh, Wakil Ketua MUI Kecamatan Blimbing sekaligus Imam Masjid Sabilillah Kota Malang. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kajian Dhuha Spesial di Masjid At-Taqwa : Pelatihan Perawatan Jenazah Sebagai Bekal Sosial Keumatan". https://www.kompasiana.com/swastikaranawasena121/6980df44ed6415046f2340f3/kajian-dhuha-spesial-di-masjid-at-taqwa-pelatihan-perawatan-jenazah-sebagai-bekal-sosial-keumatan?page=1&page_images=1
AHMAD MAHABBATAN AHSANI
Seiring dengan perkembangan teknologi digital, pengelolaan keuangan masjid dituntut untuk semakin transparan dan akuntabel. Masjid Jami’ Al-Khoirot yang berlokasi di Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, mulai menerapkan sistem digitalisasi keuangan masjid sebagai langkah inovatif dalam meningkatkan kualitas tata kelola keuangan. Program digitalisasi keuangan masjid ini dibuat dan diinisiasi oleh mahasiswa KKM Kelompok 16 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan dilaksanakan pada tanggal 10 Januari 2026 sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Sistem keuangan digital ini memanfaatkan platform berbasis online yang memungkinkan pencatatan pemasukan dan pengeluaran masjid dilakukan secara lebih sistematis, efisien, dan mudah diakses. Melalui penerapan sistem ini, informasi keuangan masjid dapat ditampilkan secara terbuka melalui media digital, sehingga jamaah dapat mengetahui kondisi keuangan masjid secara real-time. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi, meminimalisir kesalahan pencatatan, serta memperkuat kepercayaan jamaah terhadap pengelolaan dana masjid. Digitalisasi keuangan Masjid Jami’ Al-Khoirot ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKM Kelompok 16 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam mendukung pemanfaatan teknologi digital di lingkungan masyarakat. Diharapkan, sistem ini dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh pengurus masjid sebagai sarana pengelolaan keuangan yang lebih modern, tertib, dan amanah.
NUZULA AULIA ADHIMATUZ ZAHROH
UMKM Keripik Singkong Pak Jumail merupakan salah satu usaha makanan tradisional yang telah lama berkembang di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Usaha ini bergerak di bidang produksi keripik aneka umbi dan telah beroperasi selama kurang lebih sepuluh tahun. Dengan pengalaman yang cukup panjang, UMKM ini mampu bertahan dan memenuhi kebutuhan pasar lokal secara konsisten melalui penjualan harian. Identitas UMKM Nama Usaha: Keripik Singkong Pak Jumail Pemilik: Bapak Jumail Jenis Usaha: Makanan ringan (keripik) Lama Usaha: ± 10 tahun Alamat: Jl. Imam Bonjol RT 27 RW 8, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Profil Singkat Usaha UMKM Keripik Singkong Pak Jumail memproduksi berbagai jenis keripik berbahan dasar umbi-umbian. Dalam kegiatan produksinya, usaha ini terkadang mempekerjakan karyawan, namun pada waktu tertentu proses produksi hanya dibantu oleh istri dan anak pemilik usaha. Penjualan dilakukan setiap hari dan difokuskan pada pasar lokal. Dalam kondisi normal, sebanyak 100 kg produk dapat habis terjual dalam waktu dua hari, bahkan pada saat permintaan tinggi, produk dapat habis dalam satu hari. Produk yang Dihasilkan Adapun produk yang dihasilkan oleh UMKM ini antara lain: 1. Keripik singkong 2. Keripik pisang 3. Keripik jeruk purut 4. Keripik gadung Produk-produk tersebut telah memiliki label kemasan, sehingga lebih mudah dikenali oleh konsumen. Harga Produk Harga jual produk UMKM Keripik Singkong Pak Jumail bervariasi, antara lain: Harga per bal: Rp175.000 Harga per kilogram: Rp35.000 Harga kemasan kecil: Rp10.000 Penetapan harga disesuaikan dengan jenis kemasan dan kebutuhan konsumen. Sistem Pemasaran Hingga saat ini, UMKM Keripik Singkong Pak Jumail belum memanfaatkan pemasaran secara online. Penjualan dilakukan secara langsung dan mengandalkan pelanggan tetap serta distribusi di lingkungan sekitar. Kendala dan Tantangan Kendala utama yang dihadapi oleh UMKM ini adalah fluktuasi permintaan pasar, di mana penjualan terkadang ramai dan pada waktu tertentu mengalami penurunan. Namun demikian, ketersediaan bahan baku tergolong lancar dan tidak menjadi hambatan dalam proses produksi. Selain itu, UMKM ini belum pernah menerima bantuan UMKM, khususnya terkait peralatan produksi seperti alat penggorengan, yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi usaha.
AYDINAH CHAIRANI AURELIA PUTRI
UMKM Keripik Tempe Pak Hari merupakan salah satu usaha kuliner tradisional yang telah lama berdiri dan menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Usaha ini dikelola oleh Bapak Hariyanto, pendatang asal Sukoanyar, yang telah menekuni usaha tempe dan kerupuk sejak tahun 1990 atau kurang lebih selama 30 tahun. Dengan konsistensi produksi setiap hari tanpa mengenal hari libur, UMKM ini menjadi contoh usaha lokal yang mampu bertahan dan berkembang secara turun-temurun dengan mengandalkan tenaga kerja keluarga. Identitas UMKM Nama Usaha: Keripik Tempe Pak Hari Pemilik: Bapak Hariyanto Jenis Usaha: Produksi tempe goreng dan kerupuk Tahun Berdiri: 1990 Alamat: Dusun Luring, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur Koordinat Lokasi : Garis Lintang : -7.971557 Garis Bujur : 112.76624° Kontak : 0813-3538-5489 Profil Singkat Usaha UMKM Keripik Tempe Pak Hari memproduksi tempe goreng dan kerupuk setiap hari dengan kapasitas produksi yang cukup besar. Dalam satu hari, jumlah tempe goreng yang diproduksi dapat mencapai sekitar 100 kg. Proses produksi dilakukan secara rutin tanpa mengenal tanggal merah, dengan tenaga kerja yang seluruhnya berasal dari anggota keluarga sendiri. Proses pembuatan tempe hingga siap jual memerlukan waktu sekitar satu hari dua malam. Ketekunan dan pengalaman panjang menjadi modal utama dalam menjaga kualitas produk. Sistem Produksi dan Pemasaran Produk UMKM ini dipasarkan secara langsung di Pasar Blimbing, Kota Malang. Aktivitas penjualan dimulai sejak pukul 01.00 dini hari hingga pukul 05.00 pagi. Selain itu, pemasaran juga dilakukan melalui sistem pemesanan langsung, baik datang ke lokasi produksi maupun melalui komunikasi WhatsApp. Beberapa pelanggan tetap, seperti warga Dusun Luring, juga kerap memesan produk untuk kebutuhan acara seperti kajian dan kegiatan masyarakat lainnya. Pemasaran tambahan dilakukan melalui pasar pekan (pekan Mawon) sesuai kebutuhan konsumen. Harga Produk Harga produk yang ditawarkan cukup terjangkau, antara lain: Tempe (1 kotak besar): Rp24.000 Kerupuk: Rp4.000 Estimasi jumlah produksi dan harga dapat menyesuaikan dengan jumlah pesanan konsumen. Kendala dan Tantangan Kendala utama dalam proses produksi adalah faktor cuaca yang dapat mempengaruhi kualitas dan proses pengolahan produk. Selain itu, pengelolaan limbah produksi menjadi perhatian tersendiri. Saat ini, limbah dibuang melalui sumur sebagai solusi yang diterapkan oleh pemilik usaha. Harapan dan Pengembangan Usaha Bapak Hariyanto menyatakan kesediaannya untuk mengembangkan pemasaran melalui media sosial agar jangkauan pasar menjadi lebih luas. Dengan pengalaman usaha yang panjang dan permintaan pasar yang stabil, UMKM ini memiliki potensi besar untuk berkembang apabila didukung dengan pendampingan dan strategi pemasaran yang tepat. UMKM Keripik Tempe Pak Hari merupakan contoh usaha lokal yang mampu bertahan dalam jangka panjang melalui kerja keras, konsistensi, dan dukungan keluarga. Dengan kapasitas produksi yang besar, jaringan pelanggan tetap, serta pengalaman lebih dari tiga dekade, UMKM ini memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menjadi salah satu produk unggulan Desa Sukopuro.