SYAHRUL AFFAN GHAFFARI
Selama kegiatan KKM, salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah mengikuti jalan sehat bersama warga. Kegiatan ini menjadi momen berharga karena tidak hanya berfokus pada aktivitas fisik, tetapi juga pada kebersamaan dan interaksi langsung dengan masyarakat. Berjalan bersama di lingkungan sekitar sambil berbincang ringan membuat suasana terasa akrab dan penuh kehangatan. Melalui kegiatan sederhana ini, saya belajar bahwa makna kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga hubungan sosial dan kepedulian antarindividu. Jalan sehat menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan secara bersama-sama. Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bahwa upaya menjaga kesehatan dapat dimulai dari aktivitas sederhana yang dilakukan dengan kebersamaan selama KKM.
DINDA MEILYA PUTRI
Selasa, 27 Januari 2026, Kelompok Kerja Mahasiswa (KKM) Inkubasi Bisnis UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar kegiatan sharing session inkubasi bisnis. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Bapak Zainul Abidin dari Inkubasi Bisnis Brilian, yang dikenal aktif dalam pengembangan dan pendampingan inkubasi bisnis berbasis kelembagaan. Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua KKM Inkubasi Bisnis UIN Malang yang menyampaikan pentingnya penguatan pemahaman dasar dalam membangun inkubasi bisnis yang tidak hanya berjalan, tetapi juga berkelanjutan dan berdampak bagi masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Memasuki sesi pemaparan materi, Bapak Zainul Abidin menjelaskan secara komprehensif mengenai dasar hukum pendirian inkubasi bisnis, termasuk regulasi dan aspek legal yang perlu diperhatikan agar inkubasi bisnis memiliki pijakan yang kuat. Selain itu, beliau juga memaparkan langkah-langkah strategis dalam membentuk inkubasi bisnis yang baik, mulai dari perencanaan, pengelolaan, hingga pendampingan tenant. Dalam materinya, disampaikan pula peran penting inkubasi bisnis dalam memberdayakan UMKM, khususnya melalui pendampingan usaha, peningkatan kapasitas, serta akses terhadap jejaring dan sumber daya. Inkubasi bisnis dinilai mampu menjadi jembatan antara ide, inovasi, dan keberlanjutan usaha UMKM. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi sharing session dan diskusi interaktif. Pada sesi ini, peserta mendapatkan banyak arahan dan motivasi mengenai bagaimana sebuah inkubasi bisnis dapat terus berkembang dan menjadi inkubasi yang maju. Bapak Zainul Abidin menekankan bahwa inkubasi bisnis yang berada di bawah naungan universitas memiliki potensi besar untuk menjadi inkubasi yang sustainable, karena didukung oleh sumber daya akademik, riset, serta jejaring kelembagaan. Melalui kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 27 Januari 2026 ini, diharapkan KKM Inkubasi Bisnis UIN Malang dapat semakin matang dalam merancang dan mengembangkan inkubasi bisnis yang profesional, berkelanjutan, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pemberdayaan UMKM dan pengembangan kewirausahaan.
NAILA NISFI FITRI RAHMAWATI
Menurut saya pengalaman yang paling mengesankan adalah saat memberikan edukasi kesehatan secara langsung kepada calon jamaah haji, karena dari sana saya belajar bagaimana memahami setiap pertanyaan dan juga berinteraksi dengan baik dengan beliau yaitu calon jamaah haji.
ALIS MAIMUNA
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) menjadi salah satu pengalaman paling bermakna selama masa perkuliahan saya. Melalui kegiatan ini, saya tidak hanya menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk terjun langsung ke masyarakat, khususnya dalam mendampingi dan berinteraksi dengan Calon Jamaah Haji (CJH). Pengalaman paling berkesan selama KKM adalah bertemu dengan bapak dan ibu CJH yang sangat ramah, terbuka, dan penuh antusiasme. Mereka menerima kehadiran mahasiswa dengan sikap yang hangat dan bersahabat, sehingga proses interaksi dan pembelajaran di lapangan terasa lebih nyaman. Dari mereka, saya belajar tentang kesabaran, keikhlasan, serta semangat untuk terus menjaga kesehatan demi kelancaran ibadah haji. Kegiatan utama yang kami lakukan adalah edukasi kesehatan dan monitoring pemeriksaan kesehatan CJH. Dalam kegiatan ini, saya dapat menerapkan secara langsung ilmu yang telah dipelajari di bangku perkuliahan. Mulai dari memberikan edukasi terkait pola hidup sehat, pentingnya menjaga tekanan darah dan kadar gula darah, hingga melakukan pemeriksaan kesehatan sederhana. Pengalaman ini membuat saya semakin memahami bahwa teori yang dipelajari akan jauh lebih bermakna ketika diterapkan langsung untuk membantu masyarakat. Selain itu, interaksi langsung dengan CJH juga melatih kemampuan komunikasi saya, terutama dalam menyampaikan informasi kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami. Tidak semua peserta memiliki latar belakang kesehatan, sehingga kami dituntut untuk menjelaskan dengan sabar dan jelas. Hal ini menjadi pembelajaran penting tentang bagaimana peran tenaga kesehatan dan mahasiswa kesehatan di tengah masyarakat. Kegiatan KKM juga menjadi sarana untuk membangun kebersamaan, baik dengan sesama mahasiswa maupun dengan masyarakat. Diskusi ringan, berbagi cerita, dan pendampingan yang dilakukan selama kegiatan menciptakan hubungan yang lebih dekat dan penuh makna. Suasana kebersamaan inilah yang membuat kegiatan KKM terasa lebih hidup dan berkesan. Melalui KKM bersama Calon Jamaah Haji, saya menyadari bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi juga tentang membangun hubungan, menumbuhkan empati, dan belajar dari pengalaman nyata di lapangan. Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi saya, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai calon tenaga profesional di bidang kesehatan.
TSANIA FATIMATUS ZAHRA RAMADHANTI
Kamis 27 Januari 2026, hari itu rasanya berbeda dari hari-hari sebelumnya yang telah kami lewati. Foto yang kami abadikan bersama Bu Ulfa Maria diambil pada minggu terakhir dari empat minggu pendampingan yang telah kami lalui. Momen itu terasa spesial, seolah menjadi penutup dari perjalanan kecil yang penuh makna. Kami datang ke rumah beliau bukan hanya membawa jas almamater, tapi juga rasa tanggung jawab dan niat tulus untuk mendampingi beliau dalam proses monitoring kesehatan sebagai calon jamaah haji. Begitu sampai, suasana rumah yang hangat langsung membuat kami merasa diterima, bukan seperti mahasiswa kesehatan dan pasien, tapi lebih seperti keluarga yang sedang berkunjung. Bu Ulfa Maria menyambut kami dengan senyum yang menenangkan. Dari awal obrolan, beliau terlihat antusias dan terbuka bercerita tentang kondisi kesehatannya, kekhawatiran menjelang keberangkatan haji, hingga harapan agar bisa menjalankan ibadah dengan lancar. Kolaborasi antara teman dari kedokteran dan farmasi berjalan dengan sangat natural dan berkesan. Dari sisi kedokteran, dilakukan pemantauan kondisi kesehatan Bu Ulfa Maria secara menyeluruh. Sementara itu, dari sisi farmasi kami mendampingi dengan edukasi terkait obat-obatan yang beliau konsumsi mulai dari cara minum obat yang benar, keteraturan jadwal, hingga tips agar tetap patuh minum obat selama berada di Tanah Suci. Obrolan berjalan santai, penuh tanya jawab, dan jauh dari kesan kaku. Yang paling menyentuh adalah ketika Bu Ulfa Maria menyampaikan bahwa beliau merasa lebih tenang dan lebih siap setelah empat minggu didampingi. Kalimat sederhana itu benar-benar membekas di hati kami. Di titik itu, kami sadar bahwa kehadiran kami memberikan pengaruh positif, bukan hanya bagi Bu Ulfa Maria, tetapi juga bagi kami dan teman-teman yang terlibat. Kami belajar bahwa empati dan perhatian kecil bisa membawa dampak besar. Empat minggu pendampingan ini menjadi ruang belajar yang sangat berharga. Kolaborasi antara farmasi dan kedokteran terasa semakin kuat, saling melengkapi, dan membuat pelayanan kesehatan yang diberikan menjadi lebih utuh dan manusiawi. Kami pulang di minggu terakhir itu dengan perasaan penuh-penuh syukur, penuh pelajaran, dan penuh cerita. Pendampingan Bu Ulfa Maria bukan sekadar kegiatan, tetapi menjadi kenangan yang akan selalu kami simpan. Sebuah pengingat bahwa menjadi tenaga kesehatan berarti siap hadir, mendampingi, dan peduli dengan sepenuh hati.