Thumbnail
3 months ago
KKM 81 Abhinaya Bhakti Dukung Kegiatan Pembibitan Tanaman dan Pembuatan Kompos di SDN 2 Ngadilangkung

AMAR MA`RUF IRSYAD MUTTAQIN

Atas permintaan pihak sekolah, KKM 81 Abhinaya Bhakti turut mendampingi pelaksanaan kegiatan pembibitan tanaman dan pembuatan kompos yang dilaksanakan pada Sabtu, 24 Januari 2026 di SDN 2 Ngadilangkung. Kegiatan ini merupakan bagian dari progam pembelajaran lingkungan hidup yang diikuti oleh seluruh siswa dengan pembagian aktivitas sesuai jenjang kelas. Siswa kelas 1 hingga 3 mengikuti kegiatan pembibitan tanaman dengan bimbingan guru dan mahasiswa KKM. Dalam kegiatan ini, siswa dikenalkan pada media tanam serta belajar merawat tanaman secara sederhana. Pendampingan dilakukan agar siswa dapat memahami prosesnya dengan baik sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab. Sementara itu, siswa kelas 4 hingga 6 mengikuti kegiatan pembuatan kompos menggunakan metode Takakura. Kegiatan ini bertujuan mengajarkan siswa cara mengolah sampah organic menjadi pupuk yang bermanfaat. Mahasiswa KKM membantu proses praktik agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan mudah dipahami oleh siswa. Khusus siswa kelas 4, kegiatan dilengkapi dengan pembuatan larutan organik cair dari air cucian beras yang dicampur menggunakan gula merah dan tape. Melalui praktik ini, siswa belajar bahwa bahan-bahan sederhana di sekitar mereka dapat dimanfaatkan Kembali untuk menjaga kesuburan tanaman. Melalui pendampingan kegiatan ini, KKM 81 Abhinaya Bhakti berharap siswa semakin peduli terhadap lingkungan dan mampu menerapkan kebiasaan ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Kolaborasi antara guru dan mahasiswa KKM ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam menciptakan pembelajaran yang lebih nyata dan mudah dipahami oleh siswa.

Thumbnail
3 months ago
Toleransi Beragama yang Tinggi

MUHAMMAD SAKHAWI AMIN

Desa Ngadas yang terletak di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, justru menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan secara harmonis. Di desa ini, terdapat empat agama yang dianut oleh masyarakatnya, yaitu Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen, yang semuanya hidup dalam suasana saling menghormati dan penuh toleransi. Masyarakat Desa Ngadas telah lama menjadikan toleransi beragama sebagai nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun. Perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang untuk menjalin hubungan sosial yang baik. Dalam kehidupan sehari-hari, warga desa saling berinteraksi tanpa sekat agama, baik dalam kegiatan gotong royong, musyawarah desa, maupun acara adat. Rasa persaudaraan dan kebersamaan menjadi pondasi utama dalam menjaga keharmonisan tersebut. Salah satu bentuk nyata toleransi beragama di Desa Ngadas terlihat saat perayaan hari besar keagamaan. Ketika umat Hindu, Buddha, Islam, atau Kristen melaksanakan ibadah dan perayaan keagamaannya, masyarakat dari agama lain turut memberikan dukungan, baik dengan menjaga ketertiban, membantu persiapan acara, maupun sekadar memberikan ucapan selamat. Sikap saling menghormati ini menciptakan rasa aman dan nyaman bagi seluruh warga dalam menjalankan ajaran agamanya masing-masing. Selain itu, masyarakat Desa Ngadas juga sangat menjunjung tinggi nilai gotong royong. Kegiatan sosial seperti kerja bakti, pembangunan fasilitas umum, hingga kegiatan kemasyarakatan lainnya selalu melibatkan seluruh warga tanpa memandang latar belakang agama. Kebersamaan dalam bekerja dan saling membantu inilah yang memperkuat ikatan sosial dan menumbuhkan rasa saling percaya antarumat beragama. Toleransi yang terjaga di Desa Ngadas tidak terlepas dari peran tokoh agama, tokoh adat, dan pemerintah desa yang senantiasa menanamkan nilai persatuan dan saling menghargai. Melalui dialog, musyawarah, dan keteladanan, para tokoh tersebut mampu menjaga keseimbangan kehidupan sosial di tengah keberagaman keyakinan. Pendidikan sejak dini dalam keluarga dan lingkungan juga menjadi faktor penting dalam membentuk sikap toleran generasi muda desa. Desa Ngadas membuktikan bahwa perbedaan agama bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekayaan sosial yang patut dijaga dan dirawat bersama. Toleransi beragama yang tinggi di desa ini menjadi cerminan nilai-nilai Pancasila yang hidup dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga semangat kebersamaan dan saling menghormati yang tumbuh di Desa Ngadas dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat di daerah lain dalam merawat keberagaman demi terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis.

Thumbnail
3 months ago
Pembuatan Produk Sambal Mujair oleh Mahasiswa KKM Kelompok 60 sebagai Pemanfaatan Potensi Lokal Desa Kalipare

MAMBAUL KHOIROH

Kegiatan Pembuatan Produk Sambal Mujair merupakan salah satu program kerja yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKM Kelompok 60. Kegiatan ini bertujuan untuk mengolah bahan pangan lokal menjadi produk olahan yang memiliki nilai guna serta nilai jual. Kegiatan pembuatan sambal mujair dilaksanakan pada tanggal 2 Februari 2026 dan bertempat di posko. Seluruh proses pembuatan produk dilakukan oleh mahasiswa, mulai dari tahap persiapan bahan, pengolahan ikan mujair, hingga proses pencampuran bumbu sambal. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa bekerja sama dengan membagi tugas agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Proses pembuatan diawali dengan membersihkan ikan mujair serta marinasi, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan sambal menggunakan bumbu-bumbu seperti cabai rawit, tomat, bawang merah, dan bawang putih. Selanjutnya, ikan mujair digoreng dan disuir lalu dimasukkan kedalam sambal hingga menjadi produk sambal mujair yang siap disajikan. Program kerja pembuatan produk sambal mujair dilaksanakan karena Desa Kalipare memiliki potensi ikan mujair yang cukup melimpah. Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKM Kelompok 60 berinisiatif untuk mengolah ikan mujair menjadi produk sambal sebagai upaya pemanfaatan bahan pangan lokal agar memiliki nilai tambah serta dapat dijadikan alternatif produk olahan yang bermanfaat.

Thumbnail
3 months ago
Mengenal UMKM Kerupuk Miler: Usaha Kerupuk Rumahan Desa Sukopuro

NANDA BINTANG AGUSTIN

UMKM Kerupuk Miler merupakan salah satu usaha rumahan yang bergerak di bidang produksi kerupuk tradisional di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Usaha ini dimiliki oleh Ibu Natun, warga asli Kepoh, dan telah berdiri sejak tahun 2019. Hingga saat ini, UMKM Kerupuk Miler masih aktif berproduksi setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pasar. Usaha ini menjadi salah satu contoh kemandirian ekonomi masyarakat desa melalui pengelolaan usaha berbasis keluarga. Identitas UMKM Nama Usaha        : Kerupuk Miler Pemilik                 : Ibu Natun Tahun Berdiri       : 2019 Alamat : Jl.Tengku Umar, Dusun Bayung, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang Garis Lintang       : -7.97569° Garis Bujur          : 112.765133° Kontak Person    : 0838-1535-0115 ( Ibu Siti Fatimah )   Profil Singkat Usaha UMKM Kerupuk Miler memproduksi kerupuk miler sebagai produk utama. Selain itu, terkadang juga memproduksi kerupuk puli, namun jumlah produksinya sangat bergantung pada kondisi cuaca. Proses produksi dijalankan setiap hari dengan melibatkan tenaga kerja yang berasal dari saudara sendiri. Dalam satu hari produksi, UMKM ini mampu menghasilkan sekitar setengah kuintal kerupuk mentah yang dapat mencukupi kebutuhan produksi selama dua hari. UMKM Kerupuk Miler merupakan salah satu potensi usaha lokal Desa Sukopuro yang telah bertahan dan berkembang sejak tahun 2019. Dengan produksi yang konsisten, jaringan pemasaran yang luas, serta bahan baku yang stabil, UMKM ini memiliki peluang besar untuk terus berkembang apabila mendapatkan dukungan peralatan dan pendampingan usaha.   Proses Produksi dan Pemasaran Produksi dilakukan secara rutin setiap hari dengan ketersediaan bahan baku yang masih aman dan terjamin. UMKM Kerupuk Miler juga telah menjalin kerja sama dengan pihak penyedia bahan baku sehingga pasokan dapat terpenuhi dengan baik meskipun jumlah pesanan meningkat. Hasil produksi kerupuk dipasarkan ke beberapa wilayah, seperti Kota Batu, Singosari, serta lingkungan sekitar lokasi produksi. Sistem pemasaran tidak dilakukan melalui media sosial. Pemesanan biasanya dilakukan secara langsung atau melalui aplikasi WhatsApp. UMKM ini sebelumnya telah memiliki label atau logo produk, namun saat ini penggunaan label tersebut belum berjalan kembali. Harga Produk Harga kerupuk mentah yang ditawarkan oleh UMKM Kerupuk Miler adalah sebagai berikut: Kerupuk pedas: Rp23.000 per kg Kerupuk tidak pedas: Rp22.000 per kg Harga tersebut dapat menyesuaikan dengan jumlah pesanan dan kondisi pasar. Kendala dan Tantangan Kendala utama yang dihadapi UMKM Kerupuk Miler adalah faktor cuaca, yang mempengaruhi proses pengeringan kerupuk. Selain itu, keterbatasan alat produksi juga menjadi tantangan, terutama ketika jumlah pesanan meningkat. Meski demikian, ketersediaan bahan baku hingga saat ini masih dalam kondisi aman.         Pesan dan Saran Pemilik UMKM berharap agar kegiatan KKM dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan Balai Desa, khususnya dalam penyampaian informasi terkait program bantuan dan pemberdayaan UMKM. Mahasiswa KKM Reguler Kelompok 53 Sasana Bhakti berharap dokumentasi ini dapat menjadi referensi dalam upaya pengembangan UMKM di Desa Sukopuro.      

Thumbnail
3 months ago
UMKM Mendol Crispy D’Lely: Olahan Khas Desa Karangrejo yang Terus Berkembang

MOCH RIZKI MUSTOPA RAMLI

UMKM Mendol Crispy D'Lely merupakan salah satu usaha kuliner rumahan yang berkembang di Dusun Karangrejo, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Usaha ini dikelola oleh Ibu Laily Rahmawati dan telah berjalan selama kurang lebih enam hingga tujuh tahun sejak berdiri pada tahun 2019. Dengan mengangkat makanan khas berbahan dasar tempe dan singkong, UMKM ini berhasil mempertahankan eksistensinya hingga kini dan menjadi salah satu potensi ekonomi lokal desa. Identitas UMKM Nama Usaha : Mendol Crispy D'Lely Pemilik : Ibu Laily Rahmawati Jenis Usaha : Olahan makanan (mendol dan sambal) Tahun Berdiri : 2019 Alamat : Jl. A. Yani No. 9, Dusun Karangrejo, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65155 Kordinat Lokasi :  Garis Lintang : -7.972094614261478,  Garis Bujur : 112.76522530886385 Kontak Person : 0815-5583-2503 Profil Singkat Usaha UMKM Mendol Crispy D'Lely merupakan salah satu usaha kuliner lokal Desa Sukopuro yang menunjukkan perkembangan yang cukup konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Usaha ini dikelola sebagai usaha rumahan dengan manajemen mandiri, namun dalam proses produksinya melibatkan beberapa karyawan untuk mendukung kelancaran operasional. Produksi dan penjualan dilakukan setiap hari dengan sistem menyesuaikan jumlah pesanan konsumen. Dalam satu minggu, UMKM Mendol Crispy D'Lely mampu memproduksi sekitar 700 pcs produk, menunjukkan kapasitas produksi yang stabil dan permintaan pasar yang terus berjalan. Didukung oleh variasi produk yang beragam serta upaya pemasaran yang terus dikembangkan, UMKM ini memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan memperluas jangkauan pasarnya. Mahasiswa KKM Reguler Kelompok 53 Sasana Bhakti berharap dokumentasi ini dapat menjadi bahan referensi sekaligus bentuk dukungan terhadap pengembangan UMKM lokal di Desa Sukopuro. Produk yang Dihasilkan Produk yang ditawarkan oleh UMKM Mendol Crispy D'Lely cukup beragam, antara lain: Mendol Sambal bawang Sambal geprek Rengginang singkong Seluruh produk yang dipasarkan dengan merek “D'Lely” dan dikenal memiliki cita rasa khas serta kualitas yang konsisten. Harga Produk Harga produk yang ditawarkan relatif terjangkau dan bersaing, antara lain: Sambal: Rp17.000 – Rp20.000 per satuan Mendol renyah: Rp10.000 – Rp12.000 per satuan Harga dapat menyesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah pesanan konsumen. Sistem Pemasaran Pemasaran produk dilakukan secara offline dan online. Secara offline, produk UMKM ini telah dipasarkan melalui toko oleh-oleh serta beberapa instansi dan lembaga, seperti tingkat kecamatan, Dispora, dan MTs Islamiyah. Selain itu, pemasaran online mulai dirintis melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok, meskipun masih dalam tahap pengembangan dan perlu optimalisasi lebih lanjut. Kendala dan Tantangan Usaha Salah satu kendala yang dihadapi UMKM Mendol Crispy D'Lely adalah kualitas bahan baku, khususnya untuk produk sambal. Terkadang bahan baku yang tersedia di pasaran kurang sesuai dengan standar kualitas yang diharapkan. Namun, untuk produk mendol crispy, kendala produksi relatif tidak ditemukan. Selain itu, pemasaran produk juga mengalami pasang surut tergantung pada kondisi permintaan pasar.

Thumbnail
3 months ago
 Catatan Pengabdian KKM 29 UIN Malang: Optimalisasi Peran Orang Tua melalui Program KOMPAS di Masa Transisi Sekolah

TAZKIYAH AMALIYAH

Kegiatan KOMPAS merupakan singkatan dari Komunikasi Orang Tua Membentuk Anak Berkelas, yaitu sebuah seminar parenting yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 29 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tahun 2025. Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat di bidang pendidikan dengan menitikberatkan pada penguatan peran orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak. KOMPAS dimaknai sebagai simbol arah dan pedoman yang merepresentasikan peran orang tua sebagai penunjuk jalan utama bagi anak dalam menjalani setiap tahap perkembangan, baik secara akademik maupun mental. Kegiatan KOMPAS mengangkat tema “Membangun Kesiapan Akademik dan Mental Anak Menuju Jenjang Selanjutnya” sebagai respons terhadap realitas masih banyaknya anak yang mengalami kesulitan dalam menghadapi masa transisi pendidikan. Pada umumnya, kesiapan anak masih dipahami secara terbatas dan hanya difokuskan pada aspek akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung. Padahal, kesiapan mental dan emosional—meliputi kepercayaan diri, kemampuan mengelola emosi, serta kesiapan beradaptasi—memiliki peran yang sama pentingnya. Melalui tema ini, kegiatan KOMPAS berupaya mendorong orang tua agar memiliki pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai pentingnya keseimbangan antara kesiapan akademik dan mental anak. Kegiatan KOMPAS dilaksanakan pada Kamis, 15 Januari 2026, pukul 08.00 hingga 11.45 WIB, bertempat di SDN 2 Jambesari dengan sasaran utama orang tua atau wali murid kelas 6. Pemilihan sasaran ini didasarkan pada pertimbangan bahwa peserta didik kelas akhir sekolah dasar sedang berada pada fase krusial dalam menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya. Seminar ini menghadirkan Ibu Diah Mayasari, S.Psi., M.Psi., CTR sebagai narasumber utama yang menyampaikan materi terkait komunikasi efektif orang tua serta strategi membangun kesiapan akademik dan mental anak. Dalam pemaparannya, Ibu Diah menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mengenali dan menghargai kemampuan serta minat anak. Ia menyampaikan bahwa tuntutan akademik yang tidak disertai pemahaman terhadap potensi dan minat anak berpotensi menimbulkan tekanan psikologis. “Anak akan lebih berkembang ketika orang tua hadir sebagai pendamping yang peduli, bukan sekadar penuntut. Memahami minat anak adalah langkah awal untuk membantu mereka bertumbuh sesuai dengan potensi terbaiknya,” ungkapnya. Kegiatan ini berada di bawah tanggung jawab Tazkiyah Amaliyah dan Silvi Azizah Syofian yang mengoordinasikan seluruh rangkaian acara agar berjalan sesuai dengan perencanaan. Kegiatan KOMPAS diawali dengan persiapan panitia dan registrasi peserta, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan istighosah sebagai bentuk ikhtiar spiritual. Rangkaian acara resmi dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan panitia, serta sambutan Kepala Sekolah SDN 2 Jambesari. Memasuki sesi inti, moderator memperkenalkan narasumber sebelum penyampaian materi seminar. Sesi ini berlangsung secara komunikatif dan interaktif melalui pemaparan materi serta diskusi dan tanya jawab yang melibatkan partisipasi aktif orang tua. Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan cinderamata kepada pemateri, pembacaan doa, penutupan, dan foto bersama sebagai penanda berakhirnya seluruh rangkaian acara. Kegiatan KOMPAS secara keseluruhan menjadi wadah edukatif yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan pemahaman orang tua mengenai peran strategis komunikasi dalam membentuk kesiapan akademik dan mental anak. Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sinergi yang lebih kuat antara orang tua, sekolah, dan mahasiswa dalam menciptakan lingkungan yang suportif dan kondusif bagi perkembangan anak. Dengan demikian, KOMPAS tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan dalam pola pengasuhan dan pendampingan anak di lingkungan keluarga.