Thumbnail
3 months ago
Merawat Wajah Desa: Aksi Bersih Wisata Dewi Sri di Desa Sidorejo

AULIYATUL ATHIYYAH ZAIDAH

Tempat wisata bukan hanya ruang rekreasi, tetapi juga cermin kepedulian sebuah desa terhadap lingkungan dan pengunjungnya. Kesadaran inilah yang melatarbelakangi kegiatan pembersihan kawasan wisata Dewi Sri yang berada di Desa Sidorejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga keindahan dan kenyamanan salah satu aset desa yang bernilai ekologis dan ekonomis.  Wisata Dewi Sri selama ini menjadi ruang singgah masyarakat dan pengunjung dari luar desa. Namun, aktivitas yang terus berlangsung tak jarang meninggalkan jejak berupa sampah dan area yang kurang tertata. Melalui kegiatan bersih-bersih yang dilalukan oleh kelompok KKM 12 Bhavanaloka UIN Maulana Malik Ibrahim Malang serta warga bersama pihak terkait berupaya mengembalikan wajah wisata Dewi Sri agar tetap asri, aman, dan layak dikunjungi. Membersihkan Alam, Menumbuhkan Kesadaran Kegiatan dimulai dengan membersihkan area sekitar wisata, termasuk jalur pejalan kaki, titik-titik berkumpul, serta area yang kerap menjadi tempat singgah pengunjung. Sampah-sampah yang berserakan dikumpulkan, dedaunan kering disapu, dan area yang terlihat kumuh ditata kembali. Proses ini dilakukan secara gotong royong, menumbuhkan rasa memiliki terhadap ruang wisata tersebut. Tidak hanya berfokus pada kebersihan fisik, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi lingkungan. Setiap langkah pembersihan mengingatkan bahwa menjaga alam tidak cukup dengan membangun fasilitas, tetapi harus diiringi dengan kesadaran untuk merawat dan melestarikannya secara berkelanjutan.   Wisata yang Bersih, Desa yang Berdaya Dengan lingkungan yang bersih dan tertata, wisata Dewi Sri diharapkan dapat memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi pengunjung. Kebersihan kawasan wisata juga berdampak langsung pada citra desa, karena tempat wisata sering kali menjadi wajah pertama yang dilihat oleh tamu dari luar daerah. Lebih dari itu, kegiatan ini menegaskan bahwa keberlangsungan wisata desa sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Wisata yang terawat akan membuka peluang ekonomi, sementara lingkungan yang rusak justru menjadi beban jangka panjang. Merawat Hari Ini untuk Masa Depan Aksi membersihkan wisata Dewi Sri bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan pengingat akan tanggung jawab kolektif. Alam yang dirawat hari ini adalah warisan bagi generasi mendatang. Dengan menjaga kebersihan dan kelestarian wisata Dewi Sri, masyarakat Desa Sidorejo menunjukkan komitmen untuk membangun desa yang tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena kesadarannya dalam merawat lingkungan.     

Thumbnail
3 months ago
Langkah Sehat, Langkah Kuat, Siap beribadah dengan khidmat

M. THORIQ FARHAN AL HAQQI

Kunjungan ketiga menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang paling berkesan. Pada kesempatan ini, kegiatan difokuskan pada aktivitas jalan sehat dengan jarak tempuh lebih dari 7 kilometer, dimulai dari rumah CJH menuju kawasan wisata Coban Talun hingga mencapai Puncak Kalindra. Perjalanan ini tidak hanya dirancang sebagai aktivitas fisik, tetapi juga sebagai upaya membangun kebiasaan hidup sehat melalui kegiatan yang sederhana, menyenangkan, dan dilakukan secara bersama antara mahasiswa dan CJH. Perjalanan dimulai sejak pagi hari dengan suasana yang masih sejuk. Sepanjang jalur yang dilalui, mahasiswa dan CJH berjalan bersama sambil menikmati pemandangan alam yang asri, udara pegunungan yang segar, serta suasana kebersamaan yang hangat. Setiap langkah yang ditempuh menjadi bagian dari proses membangun ketahanan fisik sekaligus mempererat hubungan dan komunikasi. Meski medan yang dilalui cukup menantang dengan jalur menanjak dan jarak tempuh yang tidak singkat, semangat kebersamaan membuat perjalanan terasa lebih ringan. Kegiatan jalan sehat ini juga menjadi sarana edukasi bahwa menjaga kesehatan tidak selalu harus dilakukan melalui aktivitas yang berat atau fasilitas khusus. Aktivitas berjalan kaki secara rutin memiliki manfaat dalam menjaga kebugaran tubuh, kesehatan jantung, serta membantu menjaga kesehatan mental. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dan CJH dapat merasakan secara langsung bahwa aktivitas fisik yang dilakukan di alam terbuka mampu memberikan energi positif dan meningkatkan kualitas hidup. Setibanya di Puncak Kalindra, rasa lelah seolah terbayarkan dengan panorama alam yang luas dan menenangkan. Momen ini menjadi penutup perjalanan yang penuh makna, sekaligus refleksi bahwa setiap proses membutuhkan usaha, kebersamaan, dan konsistensi. Kunjungan ketiga ini bukan hanya tentang mencapai tujuan akhir, tetapi tentang perjalanan yang dilalui bersama dalam membangun semangat hidup sehat serta menciptakan pengalaman kebersamaan yang berkesan.

Thumbnail
3 months ago
Perangi Stunting Sejak Dini yang Bertema "Si Penting", Langkah Nyata Mahasiswa KKM 29 UIN Malang dalam Mengedukasi Masyarakat Desa Jambesari Kecamatan Poncokusumo

CITRA AVIVA UMAIRA

Tantangan pembangunan sumber daya manusia di Indonesia saat ini berada pada titik nadir yang mengkhawatirkan akibat fenomena stunting yang masih menghantui. Masalah ini bukan sekadar statistik pertumbuhan fisik yang tertinggal, melainkan sebuah ancaman eksistensial terhadap kapasitas kognitif dan daya saing generasi mendatang. Secara argumentatif, stunting adalah penghalang utama bagi terwujudnya visi Generasi Emas 2045 jika tidak segera diintervensi secara radikal. Pertumbuhan yang tidak optimal mencerminkan adanya kegagalan sistemik dalam pemenuhan hak dasar anak atas nutrisi. Oleh karena itu, kesadaran kolektif harus dibangun sebagai fondasi utama sebelum melakukan tindakan medis yang lebih kompleks. Kegagalan dalam menangani gizi kronis akan berujung pada kerugian jangka panjang yang sulit dipulihkan bagi bangsa dan negara. Anak yang mengalami stunting memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit degeneratif dan penurunan produktivitas di masa dewasa nantinya. Kita tidak bisa membiarkan masa depan bangsa ini layu sebelum berkembang hanya karena pengabaian asupan nutrisi di masa krusial. Argumentasi ini menjadi dasar bagi mahasiswa KKM Kelompok 29 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk turun langsung ke lapangan. Intervensi edukasi dianggap sebagai senjata paling ampuh untuk memutus rantai ketidaktahuan yang selama ini menjadi akar permasalahan. Tepat pada tanggal 8 Januari 2026, bertempat di Posko Posyandu Desa Jambesari, sebuah langkah nyata diayunkan melalui program bertajuk "SI PENTING" atau Sosialisasi Pencegahan Stunting. Program ini lahir dari kegelisahan akademis melihat realita lapangan yang masih jauh dari standar kesehatan ideal. Kehadiran mahasiswa di sini bukan sekadar menggugurkan kewajiban kurikuler, melainkan menjalankan amanah intelektual untuk mengabdi pada masyarakat. Kami percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari ruang-ruang kecil tempat ibu dan anak berinteraksi. Melalui "SI PENTING", kami berupaya menyederhanakan kompleksitas medis menjadi pemahaman praktis yang mudah diterima warga. Fokus utama kami tertuju pada periode emas, yakni 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang menentukan segalanya. Secara teoretis, periode ini adalah jendela peluang yang tidak akan pernah terulang kembali dalam siklus hidup manusia. Jika nutrisi di masa ini terabaikan, maka investasi pendidikan setinggi apa pun di masa depan akan sulit membuahkan hasil optimal. Kami memberikan pemahaman mendalam bahwa pemenuhan gizi harus dimulai sejak janin masih berada dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Contoh nyata yang kami sampaikan adalah bagaimana kecukupan protein hewani menjadi kunci utama pertumbuhan sel otak yang maksimal. Sinergi merupakan kata kunci dalam keberhasilan setiap program pengabdian masyarakat yang berkelanjutan. Dalam kegiatan bertema "Nutrisi Tepat, Anak Sehat, Masa Depan Hebat" ini, mahasiswa menggandeng kader Posyandu sebagai ujung tombak kesehatan desa. Kolaborasi ini sangat krusial karena kader lokal memiliki kedekatan emosional dan pemahaman budaya yang lebih baik terhadap warga sekitar. Kami berargumen bahwa transfer pengetahuan akan lebih efektif jika dilakukan melalui pendekatan yang humanis dan kolaboratif. Dengan menyatukan semangat mahasiswa dan pengalaman kader, pesan-pesan kesehatan dapat tersampaikan tanpa kesan menggurui. Salah satu misi besar kami adalah membongkar mitos-mitos menyesatkan seputar pola makan anak yang masih beredar luas di pedesaan. Banyak orang tua yang masih beranggapan bahwa makanan bergizi haruslah mahal dan sulit didapat oleh ekonomi menengah ke bawah. Padahal, bahan lokal seperti telur, ikan sungai, dan tempe memiliki nilai gizi yang sangat bersaing jika diolah dengan benar. Kami memberikan contoh konkret menu "MPASI Kaya Protein" berbasis kearifan lokal yang sangat ekonomis namun tetap bergizi tinggi. Argumentasi kami jelas: kemiskinan ekonomi tidak boleh menjadi alasan bagi kemiskinan nutrisi selama kreativitas pengolahan bahan pangan tersedia. Selain faktor asupan makanan, kami juga menekankan pentingnya aspek sanitasi lingkungan yang sering kali terlupakan dalam diskusi stunting. Infeksi berulang akibat lingkungan yang kotor dapat menyebabkan penyerapan nutrisi dalam tubuh anak menjadi sangat terganggu dan sia-sia. Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana anak terus diberi makan, namun berat badannya tak kunjung naik karena didera penyakit. Kami mengajak para orang tua untuk sadar bahwa kebersihan jamban dan air bersih adalah bagian integral dari paket pencegahan stunting. Contoh sederhananya adalah membiasakan cuci tangan pakai sabun sebelum menyuapi anak untuk memutus rantai kuman. Antusiasme peserta yang terlihat selama sesi interaktif menjadi indikator bahwa masyarakat sebenarnya sangat haus akan informasi kesehatan yang akurat. Ibu-ibu di Desa Jambesari aktif bertanya, mulai dari cara mengatasi anak yang sulit makan hingga pemilihan sumber protein yang tepat. Dialog dua arah ini membuktikan bahwa pendekatan persuasif jauh lebih efektif dibandingkan sekadar pembagian brosur tanpa penjelasan. Keaktifan mereka menunjukkan adanya keinginan kuat untuk memberikan yang terbaik bagi masa depan buah hati mereka. Hal ini memperkuat keyakinan kami bahwa edukasi adalah kunci utama dalam merubah perilaku kesehatan di tingkat akar rumput. Penerimaan hangat dari Kepala Desa Jambesari memberikan legitimasi moral bagi perjuangan mahasiswa KKM 29 dalam menurunkan angka stunting. Beliau menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa memberikan energi baru dan perspektif segar dalam menangani masalah kesehatan di desa. Kegiatan ini menjadi implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat yang berbasis pada ilmu pengetahuan. Mahasiswa dipaksa untuk keluar dari menara gading akademis dan menghadapi realitas sosial yang membutuhkan solusi instan dan aplikatif. Sinergi antara pemerintah desa dan akademisi adalah pola ideal yang harus terus dipertahankan demi kemajuan daerah. Sebagai penutup, pembagian paket nutrisi tambahan menjadi simbol komitmen kami bahwa perjuangan ini tidak berakhir saat sosialisasi selesai. Foto bersama yang kami abadikan bukan sekadar seremoni, melainkan janji kolektif untuk terus mengawal pertumbuhan anak-anak di Desa Jambesari. Harapan kami adalah tumbuhnya kesadaran kolektif yang mampu menciptakan lingkungan ramah anak yang bebas dari ancaman tengkes. Mari kita pastikan bahwa setiap anak yang lahir memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, cerdas, dan bermartabat. Masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh sumber daya alamnya, melainkan oleh kesehatan dan kecerdasan anak-anak yang kita rawat hari ini.

Thumbnail
3 months ago
Semarak Peringatan Isra Mi'raj Bersama MI Bisri Musthofa dan KKM Kelompok 33

NAJWA LATANSA ARIF

Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW di Dusun Lesti menjadi salah satu kegiatan keagamaan yang berlangsung hangat dan penuh makna. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Madrasah Ibtidaiyah (MI) Bisri Musthofa dengan melibatkan siswa, dewan guru, dan kelompok (KKM) Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang serta dukungan masyarakat sekitar. Sejak pagi hari, suasana dusun sudah tampak berbeda. Anak-anak terlihat bersemangat mengenakan pakaian muslim rapi, sebagian membawa bendera dan spanduk, menandakan akan dimulainya kegiatan yang dinanti-nantikan. Rangkaian acara diawali dengan pawai keliling dusun. Barisan siswa berjalan tertib menyusuri jalan-jalan utama Dusun Lesti, dipimpin oleh pembawa spanduk bertuliskan peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Di depan barisan, bendera Merah Putih dan bendera bernuansa hijau dikibarkan dengan penuh semangat. Meski masih anak-anak, para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan hingga akhir. Sesekali terdengar lantunan shalawat dan seruan semangat yang menambah suasana religius sepanjang perjalanan pawai. Warga Dusun Lesti turut menyambut pawai dengan antusias. Dari depan rumah, mereka menyapa dan memperhatikan barisan siswa yang melintas. Kehadiran anak-anak madrasah ini seolah membawa suasana kebersamaan yang hangat, mempererat hubungan antara lembaga pendidikan dan masyarakat. Guru-guru MI Bisri Musthofa dan Kelompok (KKM) UIN Malang terlihat mendampingi siswa dengan penuh kesabaran, memastikan barisan tetap rapi dan kegiatan berjalan dengan aman. Pawai ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi para siswa. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak mengenal peristiwa Isra Mi'raj sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Mereka belajar tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW, makna keimanan, serta pentingnya meneladani ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari. Nilai kedisiplinan, kebersamaan, dan tanggung jawab juga secara tidak langsung ditanamkan selama kegiatan berlangsung. Setelah pawai selesai, kegiatan dilanjutkan dengan acara keagamaan. Para siswa berkumpul bersama untuk mengikuti pembacaan doa dan penyampaian hikmah Isra Mi'raj. Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh anak-anak. Dalam momen ini, siswa diajak memahami makna salat sebagai ibadah utama yang diperintahkan langsung dalam peristiwa Isra Mi'raj. Suasana acara berlangsung lancar. Anak-anak duduk dengan tertib, mendengarkan penjelasan sambil sesekali menunjukkan rasa ingin tahu mereka. Bagi para guru, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun karakter religius siswa, tidak hanya melalui pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata di lingkungan sekitar. Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan oleh MI Bisri Musthofa di Dusun Lesti ini mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan antara sekolah, KKM UIN Malang dan para masyarakat. Kegiatan sederhana seperti pawai dan doa bersama mampu menjadi media edukatif yang bermakna, sekaligus mempererat tali silaturahmi. Diharapkan, kegiatan keagamaan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari pembentukan karakter dan akhlak mulia generasi muda.  

Thumbnail
3 months ago
Menanam Manfaat dari Hal Sederhana: Program Penghijauan di Dusun Melo'an Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menanam Manfaat dari Hal Sederhana: Program Penghijauan di Dusun Melo'an", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com

NAJWA KAMILAH

Menanam Manfaat dari Hal Sederhana: Program Penghijauan di Dusun Melo'an       Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menanam Manfaat dari Hal Sederhana: Program Penghijauan di Dusun Melo'an", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/bintangpratama3365/6980aaea34777c47425ceef2/menanam-manfaat-dari-hal-sederhana-program-penghijauan-di-dusun-melo-an   Foto Dokumentasi Pemotongan dan Pengecatan Galon   Penghijauan tidak selalu harus dimulai dari lahan luas dan anggaran besar. Terkadang, ia berangkat dari benda-benda yang dianggap tak lagi bernilai, dari tangan-tangan yang mau bekerja, dan dari kesadaran bahwa alam perlu dirawat bersama. Berangkat dari semangat inilah Kelompok 12 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan program kerja penghijauan di Dusun Melo'an, Desa Sidorejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.   Program ini dirancang sebagai kegiatan yang tidak hanya menanam tanaman, tetapi juga menanam kesadaran lingkungan kepada masyarakat. Seluruh proses dilakukan secara bertahap dan partisipatif, melibatkan kreativitas, kerja fisik, serta pemanfaatan sumber daya yang ada di sekitar desa.   Dari Galon Bekas Menjadi Pot Bernilai   Kegiatan penghijauan diawali dengan mengumpulkan galon bekas yang sebelumnya tidak terpakai. Galon-galon tersebut kemudian dipotong dan dibentuk menyerupai kelopak bunga, menjadikannya pot tanaman yang unik dan memiliki nilai estetika. Proses ini menjadi simbol bahwa barang bekas pun dapat diberi kehidupan baru apabila dikelola dengan kreativitas dan kepedulian.   Pot yang telah dibentuk kemudian dicat dengan warna hijau dan kuning, menyerupai bunga matahari. Pemilihan warna ini tidak hanya mempercantik tampilan, tetapi juga menghadirkan kesan cerah dan hidup, sehingga tanaman yang ditanam nantinya dapat menjadi elemen keindahan lingkungan sekitar rumah warga.   Tahap berikutnya berfokus pada penyediaan media tanam. Pelepah pisang yang tersedia di sekitar lingkungan dimanfaatkan dengan cara dipotong dan diolah sebagai bagian dari pupuk organik. Selain itu, mahasiswa KKM bersama-sama mencari dan mencangkul tanah yang sesuai untuk dijadikan media tanam. Proses ini dilakukan secara gotong royong, menegaskan bahwa perawatan lingkungan adalah tanggung jawab bersama.   Tanah yang telah disiapkan kemudian dicampur dengan bahan organik, menciptakan media tanam yang subur dan ramah lingkungan. Pendekatan ini dipilih agar tanaman dapat tumbuh dengan baik tanpa ketergantungan pada bahan kimia.   Setelah pot dan media tanam siap, proses penanaman tanaman ke dalam pot pun dilakukan. Tanaman yang telah ditanam kemudian disirami secara rutin sebagai tahap awal perawatan. Tidak berhenti di situ, tanaman juga diberi booster kompos yang berasal dari sampah rumah tangga, sebagai bentuk pemanfaatan limbah organik menjadi sesuatu yang bernilai guna.   Langkah ini menjadi edukasi praktis bagi masyarakat bahwa sampah rumah tangga, apabila dikelola dengan baik, dapat kembali ke alam sebagai sumber kehidupan, bukan sebagai masalah lingkungan.   Menyebarkan Kehijauan ke Lingkungan Warga   Sebagai tahap akhir, pot-pot tanaman yang telah siap kemudian disebarkan ke RT 1 dan RT 2 Dusun Melo'an. Penyebaran ini dimaksudkan agar manfaat penghijauan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama untuk merawat tanaman tersebut   Kehadiran pot tanaman di lingkungan warga diharapkan tidak hanya memperindah desa, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam dalam kehidupan sehari-hari.   Dari Tanaman Tumbuh Kesadaran   Program penghijauan yang dilaksanakan oleh Kelompok 12 KKM UIN Maliki Malang ini menjadi bukti bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Dari galon bekas, pelepah pisang, tanah, dan sampah rumah tangga, lahir sebuah gerakan sederhana yang sarat makna.   Lebih dari sekadar menanam tanaman, kegiatan ini menanam kesadaran ekologis, memperkuat budaya gotong royong, dan menghadirkan harapan akan lingkungan Dusun Melo'an yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan.

Thumbnail
3 months ago
Acara Penutupan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Bersama Masyarakat Desa

MUHAMMAD HASYIM MAHFUDZ

Acara penutupan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dilaksanakan pada malam hari setelah salat Isya dan dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga setempat. Kegiatan ini menjadi penutup seluruh rangkaian program KKM yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa selama masa pengabdian di desa, sekaligus menjadi momen kebersamaan yang penuh makna antara mahasiswa dan masyarakat. Acara diawali dengan pembukaan oleh Ketua Panitia KKM, yang menyampaikan laporan singkat pelaksanaan kegiatan serta ucapan terima kasih kepada pemerintah desa dan masyarakat atas dukungan dan kerja sama yang telah diberikan selama kegiatan KKM berlangsung. Dalam sambutannya, Ketua Panitia juga menyampaikan harapan agar program-program yang telah dilaksanakan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat desa. Selanjutnya, Kepala Desa memberikan sambutan sekaligus apresiasi kepada seluruh mahasiswa KKM atas dedikasi dan kontribusi yang telah diberikan. Kepala Desa menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa KKM telah memberikan dampak positif dalam berbagai bidang, baik sosial, pendidikan, maupun keagamaan, serta berharap silaturahmi yang telah terjalin dapat terus terjaga meskipun masa KKM telah berakhir. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian hadiah kepada desa sebagai bentuk kenang-kenangan dan ungkapan terima kasih dari mahasiswa KKM atas kebersamaan dan dukungan yang telah terjalin selama pelaksanaan kegiatan. Momen ini menjadi simbol hubungan baik dan kerja sama antara mahasiswa dan masyarakat desa. Acara semakin semarak dengan adanya pertunjukan tari yang dibawakan oleh mahasiswa KKM. Penampilan ini menunjukkan kreativitas, kekompakan, serta semangat kebersamaan mahasiswa selama menjalankan KKM, dan disambut dengan antusias oleh para hadirin. Pada sesi berikutnya, seluruh peserta acara diajak untuk menyaksikan penayangan after movie KKM yang menampilkan rangkuman kegiatan dan perjalanan mahasiswa selama melaksanakan KKM di desa. Tayangan ini menghadirkan suasana haru, kebanggaan, dan kenangan manis atas kebersamaan yang telah terjalin antara mahasiswa dan masyarakat. Sebagai penutup rangkaian acara, kegiatan diakhiri dengan halal bihalal antara mahasiswa KKM, perangkat desa, dan masyarakat setempat. Kegiatan ini menjadi simbol saling memaafkan dan mempererat tali silaturahmi, sekaligus menjadi momen perpisahan yang penuh kehangatan dan kekeluargaan. Melalui acara penutupan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) ini, diharapkan seluruh pengalaman, ilmu, dan nilai kebersamaan yang telah diperoleh dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa, serta memberikan kenangan dan manfaat positif bagi masyarakat desa. Semoga hubungan baik yang telah terjalin selama kegiatan KKM dapat terus terjaga di masa mendatang.