DESTIANA MAHMUDATUL FITRIAH
Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) merupakan salah satu lembaga pendidikan keagamaan nonformal yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter religius anak sejak usia dini. Pada Dusun Melo'an, Desa Sidorejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, keberadaan TPQ tidak hanya menjadi tempat belajar membaca Al-Qur'an, tetapi juga ruang pembinaan akhlak, kedisiplinan, dan nilai-nilai keislaman yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. TPQ di Desa Sidorejo tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya pendidikan agama sebagai fondasi moral generasi muda. Kegiatan pembelajaran biasanya dilaksanakan secara rutin pada sore hari dengan melibatkan ustaz dan ustazah yang berasal dari lingkungan sekitar desa. Suasana belajar berlangsung sederhana namun penuh semangat, mencerminkan hubungan yang dekat antara pendidik, santri, dan orang tua. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang oleh Kelompok 12 Bhavanaloka, mahasiswa turut terlibat aktif dalam mendukung dan menguatkan peran TPQ di Desa Sidorejo. Keterlibatan ini diwujudkan melalui pendampingan pembelajaran membaca dan menulis Al-Qur'an, membantu metode pengajaran yang lebih variatif, serta mendampingi kegiatan keagamaan yang melibatkan anak-anak dan remaja. Kehadiran mahasiswa KKM disambut dengan baik oleh pengelola dua TPQ dusun Melo'an yaitu Ibu Minna dan Bapak Wawan serta masyarakat desa Sidorejo. Sinergi yang terbangun menunjukkan bahwa TPQ bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan amanah bersama yang perlu dirawat secara berkelanjutan. Mahasiswa tidak hanya berbagi ilmu yang dimiliki, tetapi juga belajar memahami kearifan lokal serta dinamika pendidikan keagamaan di tingkat desa. TPQ di Desa Sidorejo menjadi bukti bahwa pendidikan Al-Qur'an tetap relevan dan dibutuhkan di tengah perkembangan zaman. Melalui penguatan kegiatan TPQ, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan kesadaran spiritual yang kuat. Dengan adanya kontribusi KKM Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang oleh Kelompok 12 Bhavanaloka, TPQ di Desa Sidorejo diharapkan semakin berkembang dan mampu menjadi pilar pembentukan karakter Islami bagi generasi masa depan.
MOCH MAWAHIBUS SHOMAD
Gedog wetan, Turen — Rabu, 14 Januari 2026 Mushollah At-Taqwa Desa Gedog Wetan, Kecamatan Turen, kembali menjadi tempat berlangsungnya kegiatan pengajian rutin Seribu Dawuh yang dihadiri oleh seluruh warga Desa Gedog Wetan. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 14 Januari 2026, dengan suasana yang penuh kekhusyukan dan kebersamaan. Pengajian Seribu Dawuh merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap hari Rabu secara bergantian di beberapa mushollah yang ada di Desa Gedog Wetan. Hal ini menjadi salah satu upaya untuk mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Rangkaian kegiatan diawali dengan shalat Maghrib berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil. Setelah itu, jamaah mengikuti mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Gus Wafi, dilanjutkan dengan do’a bersama, shalat Isya’ berjamaah, dan ditutup dengan makan bersama yang semakin menambah rasa kebersamaan antarwarga. Dalam mauidhoh hasanahnya, Gus Wafi menyampaikan penjelasan singkat namun bermakna tentang fardhu wudhu’ serta keutamaan membaca basmalah dalam setiap aktivitas. Dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, beliau mengajak jamaah untuk lebih memperhatikan kesempurnaan wudhu’ serta membiasakan membaca basmalah agar setiap amalan bernilai ibadah dan mendapatkan keberkahan. Melalui kegiatan pengajian Seribu Dawuh ini, diharapkan masyarakat Desa Gedog Wetan semakin termotivasi untuk istiqamah dalam beribadah serta menjaga kebersamaan dan kerukunan dalam kehidupan sehari-hari. https://kkmnavantara127.blogspot.com/2026/01/pengajian-seribu-dawuh-rutinan-di.html?m=1
NUR ANISA
Pernikahan dalam pandangan masyarakat tidak sekadar penyatuan dua individu, melainkan awal dari tanggung jawab panjang yang menyangkut kesiapan fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi. Kesadaran inilah yang menjadi dasar dilaksanakannya pemaparan mengenai dampak pernikahan dini yang disampaikan oleh Kelompok KKM 12 Bhavanaloka UIN Maulana Malik Ibrahim kepada Komunitas PKK Dhasawisma, yang diselenggarakan pada 25 Januari 2025 di rumah Kepala Dusun Melo'an, Desa Sidorejo. Kegiatan ini hadir sebagai ruang edukasi dan dialog, khususnya bagi para ibu yang memiliki peran sentral dalam membimbing anak dan keluarga. Sosialisasi ini tidak bertujuan menghakimi praktik yang pernah terjadi di masyarakat, melainkan membuka ruang pemahaman yang lebih luas agar keputusan pernikahan di masa depan benar-benar dilandasi kesiapan dan kematangan. Ruang Diskusi yang Dekat dengan Realitas Keluarga Bertempat di rumah Kepala Dusun Melo'an, suasana kegiatan berlangsung hangat dan kekeluargaan. Para anggota PKK Dhasawisma berkumpul bukan sebagai peserta pasif, tetapi sebagai subjek utama dalam diskusi. Paparan disampaikan dengan bahasa yang membumi dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari, sehingga isu pernikahan dini tidak dipahami sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai persoalan nyata yang memiliki dampak jangka panjang. Materi yang disampaikan menyoroti berbagai dampak pernikahan dini, mulai dari aspek pendidikan, kesehatan ibu dan anak, stabilitas ekonomi keluarga, hingga kesiapan psikologis pasangan. Ditekankan bahwa pernikahan yang dilakukan tanpa kesiapan matang berpotensi melahirkan persoalan baru, baik dalam rumah tangga maupun dalam struktur sosial masyarakat. Peran Ibu sebagai Penjaga Arah Generasi Dalam pemaparan tersebut, posisi ibu dan keluarga ditekankan sebagai garda terdepan dalam mencegah pernikahan dini. Para anggota PKK diajak merefleksikan peran mereka tidak hanya sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai pendidik nilai dan pengambil keputusan moral di lingkungan keluarga. Diskusi berkembang pada bagaimana komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak dapat menjadi kunci utama. Anak-anak perlu dibimbing untuk memahami makna pernikahan sebagai amanah besar, bukan sekadar pelarian dari masalah atau tekanan sosial. Di sinilah peran ibu menjadi sangat strategis dimana harusnya ibu itu menjadi tempat bertanya, tempat kembali, dan penentu arah masa depan anak. Perspektif Nilai dan Kemaslahatan Sosial Pemaparan dampak pernikahan dini juga dikaitkan dengan nilai-nilai moral dan kemaslahatan bersama. Pernikahan yang ideal bukanlah yang paling cepat, tetapi yang paling siap. Kesiapan tersebut mencakup kematangan berpikir, kemampuan mengelola konflik, serta tanggung jawab ekonomi dan spiritual. Dalam konteks masyarakat desa, isu pernikahan dini sering kali bersinggungan dengan tradisi dan tekanan lingkungan. Oleh karena itu, kegiatan ini menekankan pentingnya memilah antara tradisi yang perlu dijaga dan kebiasaan yang perlu ditinjau kembali demi kebaikan generasi mendatang. Menuju Keluarga yang Tangguh dan Berdaya Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi awal dari kesadaran kolektif di tingkat keluarga dan komunitas. Dengan pemahaman yang lebih utuh tentang dampak pernikahan dini, para anggota PKK Dhasawisma diharapkan mampu menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing yakni menyampaikan kembali pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga dan masyarakat sekitar. Lebih dari sekadar kegiatan penyuluhan, pemaparan ini menjadi pengingat bahwa menjaga masa depan anak-anak adalah tanggung jawab bersama. Keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat yang sehat, dan masyarakat yang sehat menjadi fondasi bagi Desa Sidorejo yang berdaya, berilmu, dan berorientasi pada kemaslahatan jangka panjang.
JASMINE ATHIYYA ARVA MA`SUM
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) sering kali dipersepsikan sekadar sebagai kewajiban akademik yang harus dituntaskan mahasiswa sebelum lulus. Namun, pengalaman KKM yang saya jalani bersama kelompok 47 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan justru mengubah cara pandang saya tentang makna pembelajaran kesehatan yang sesungguhnya. Melalui kegiatan pendampingan dan intervensi kesehatan bagi calon jamaah haji, KKM menjadi ruang belajar yang sangat kontekstual dan aplikatif. Selama kurang lebih satu bulan, kami terlibat langsung dalam upaya mempersiapkan calon jamaah haji menuju kondisi istithaah, yaitu kesiapan menyeluruh untuk melaksanakan ibadah haji, termasuk dari aspek kesehatan. Konsep istithaah yang selama ini lebih sering dipahami secara administratif dan finansial, di lapangan ternyata sangat erat kaitannya dengan kondisi fisik, pengetahuan kesehatan, serta perilaku hidup sehari-hari jamaah. Di titik inilah peran mahasiswa kesehatan menjadi relevan. Kegiatan KKM diawali dengan pemetaan kondisi awal calon jamaah haji. Dari proses ini, kami menemukan bahwa sebagian besar jamaah sebenarnya memiliki semangat yang tinggi untuk menjaga kesehatan, tetapi belum sepenuhnya dibekali dengan informasi yang tepat dan praktis. Banyak yang belum memahami pentingnya pengelolaan penyakit kronis, kesiapan fisik, serta pola hidup sehat menjelang keberangkatan. Temuan sederhana ini menjadi dasar bagi kami untuk merancang intervensi kesehatan yang bersifat promotif dan preventif. Intervensi yang dilakukan tidak hanya berupa penyuluhan satu arah. Kami menggunakan berbagai media edukasi seperti poster, video edukasi, buku saku kesehatan, dan booklet monitoring kesehatan. Pemilihan media ini bukan tanpa alasan. Poster berfungsi sebagai pengingat visual yang mudah dipahami, video edukasi membantu menyampaikan pesan secara lebih menarik, buku saku menjadi panduan praktis yang bisa dibaca ulang di rumah atau tanah suci, sementara booklet monitoring membantu jamaah dan pendamping memantau kondisi kesehatan secara berkala. Pendekatan multimodal ini terasa lebih efektif dibandingkan hanya ceramah konvensional. Yang menarik, proses interaksi langsung dengan calon jamaah haji memberikan pembelajaran yang tidak pernah saya dapatkan secara utuh di ruang kelas. Di lapangan, teori promosi kesehatan, komunikasi risiko, dan pendekatan perilaku benar-benar diuji. Tidak semua pesan kesehatan bisa disampaikan dengan istilah medis. Kami belajar menyederhanakan bahasa tanpa menghilangkan esensi ilmiah, serta menyesuaikan pendekatan dengan latar belakang sosial dan usia sasaran. Ini adalah soft skill yang sering luput dari penilaian akademik, tetapi sangat krusial dalam praktik kesehatan masyarakat. Dari sisi keilmuan, KKM ini juga mempertegas bahwa kesehatan haji bukan hanya isu klinis, melainkan isu kesehatan masyarakat. Upaya menjaga istithaah jamaah tidak bisa dilepaskan dari edukasi berkelanjutan, dukungan lingkungan, dan sistem monitoring yang konsisten. Intervensi kecil di tingkat komunitas, jika dilakukan dengan tepat, berpotensi memberikan dampak besar terhadap kualitas ibadah dan keselamatan jamaah. Secara personal, KKM ini menjadi momen reflektif. Saya menyadari bahwa menjadi mahasiswa FKIK bukan hanya tentang menguasai teori dan lulus ujian, tetapi juga tentang kemampuan hadir di tengah masyarakat dengan empati dan tanggung jawab ilmiah. Melihat antusiasme calon jamaah haji yang mulai lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan menjadi kepuasan tersendiri. Ada rasa bahwa ilmu yang dipelajari tidak berhenti di buku, tetapi benar-benar hidup dan bermanfaat. KKM juga mengajarkan bahwa perubahan perilaku kesehatan tidak terjadi secara instan. Edukasi adalah proses, bukan hasil sekali pertemuan. Oleh karena itu, keberlanjutan program dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan setempat menjadi hal yang sangat penting. Mahasiswa mungkin hanya hadir sementara, tetapi dampak yang diharapkan harus bersifat jangka panjang. Pada akhirnya, KKM ini bukan hanya tentang menyelesaikan program kerja, tetapi tentang membangun kesadaran bahwa kesehatan adalah fondasi utama dalam setiap aktivitas manusia, termasuk ibadah. Pengalaman ini memperkuat keyakinan saya bahwa pendekatan promotif dan preventif harus terus diperkuat dalam sistem kesehatan, dan mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan di tingkat komunitas. KKM mungkin telah selesai, tetapi pelajaran yang dibawanya akan terus melekat—tentang kesehatan yang nyata, manusiawi, dan kontekstual.
MOCH. NAZRIEL ILHAM ATTALLAH
SDN Pandanwangi 1 terus berupaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter peserta didik. Salah satu bentuk nyata dari upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan edukasi anti-bullying yang ditujukan kepada siswa kelas V dan dilaksanakan bersama mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bullying, dampak yang ditimbulkannya, serta pentingnya menumbuhkan sikap saling menghargai dan empati di lingkungan sekolah. Edukasi diawali dengan penyampaian materi mengenai pengertian bullying beserta jenis-jenisnya, seperti bullying verbal, fisik, dan sosial. Melalui penjelasan ini, siswa diajak memahami bahwa perilaku yang sering dianggap sebagai candaan dapat memberikan luka secara emosional bagi orang lain. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan menonton film edukatif bertema bullying. Film tersebut menggambarkan berbagai bentuk perundungan yang kerap terjadi di lingkungan sekolah serta dampak psikologis yang dialami oleh korban. Selama pemutaran film, siswa terlihat menyimak dengan serius dan menunjukkan rasa empati terhadap alur cerita yang ditampilkan. Usai menonton film, mahasiswa KKN mengajak siswa untuk melakukan sesi refleksi dan diskusi. Pada tahap ini, siswa diajak membahas pesan moral yang terkandung dalam film serta bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan ketika melihat atau mengalami tindakan bullying di lingkungan sekitar. Selanjutnya, siswa diberikan selembar kertas kosong untuk menuliskan pengalaman pribadi mereka terkait bullying. Anak-anak diminta menuliskan apakah mereka pernah mengalami perundungan, bentuk bullying yang dialami, serta perasaan yang dirasakan saat kejadian tersebut. Hasil tulisan siswa kemudian ditempelkan pada selembar kertas putih berukuran besar sebagai bentuk keberanian dalam mengungkapkan perasaan dan pengalaman masing-masing. Kegiatan berlangsung dengan suasana yang penuh haru. Pada sesi penutup, mahasiswa KKN memberikan motivasi dan pesan-pesan penguatan kepada siswa. Momen tersebut membuat hampir seluruh siswa terharu dan menangis, menandakan bahwa kegiatan ini memberikan dampak emosional yang mendalam dan menjadi ruang aman bagi siswa untuk merasa didengar dan dihargai. Melalui kegiatan edukasi anti-bullying ini, diharapkan siswa kelas V SDN Pandanwangi 1 dapat lebih memahami pentingnya sikap empati, saling menghormati, dan keberanian untuk bersikap baik terhadap sesama. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran di sekolah tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesehatan emosional peserta didik.
MUCHAMMAD NABIL SYUHADAK
Sekitar 60 ibu-ibu PKK Masjid At-Taqwa Perumahan Bumi Tunggul Wulung Indah, Kota Malang, mengikuti seminar psikologi bertema “Pola Asuh Hangat untuk Anak yang Berbahagia dan Berbakat” yang diselenggarakan oleh Peserta KKM Kelompok 121 Swastikara Nawasena Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Minggu (11/1/2026). Kegiatan yang berlangsung di NK Caf, Jalan Raya Kasin, Karangploso, Kabupaten Malang ini berjalan dalam suasana hangat dan penuh antusiasme. Sejak pagi, para peserta tampak bersemangat mengikuti rangkaian acara, mulai dari pemaparan materi hingga sesi diskusi. Seminar ini menghadirkan pemateri utama, Ibu Fuji Astutik, M.Psi., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UIN Malang. Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa pola asuh hangat merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter, kesehatan mental, serta potensi anak sejak usia dini. Menurutnya, keberhasilan pendidikan anak tidak hanya ditentukan oleh sekolah atau lembaga formal, tetapi justru dimulai dari rumah melalui hubungan emosional yang sehat antara orang tua dan anak. “Anak bukan hanya membutuhkan makan dan pendidikan formal, tetapi juga kelekatan emosional, komunikasi yang baik, serta rasa aman. Dari situ anak bisa tumbuh bahagia sekaligus mengembangkan bakatnya,” ungkap Fuji di hadapan para peserta. Ia juga mengingatkan bahwa persoalan stunting tidak bisa dipahami hanya sebagai masalah fisik. Dampaknya dapat menjalar ke aspek psikologis anak, seperti kemampuan berpikir, pengendalian emosi, hingga kepercayaan diri. Oleh karena itu, pencegahan stunting harus dimulai dari lingkungan keluarga, tidak hanya melalui asupan gizi, tetapi juga pola interaksi yang positif. “Stunting bukan sekadar tubuh pendek. Dampaknya bisa sampai pada kognitif dan mental anak. Maka pencegahannya harus dimulai dari rumah, dari cara orang tua memperlakukan dan merawat anak,” tambahnya. Selama seminar berlangsung, suasana dibuat interaktif. Para ibu tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari, mulai dari kecanduan gawai pada anak, emosi yang sulit dikendalikan, hingga kebiasaan makan yang kurang sehat. Salah satu peserta, Ibu Siti, mengaku mendapatkan sudut pandang baru setelah mengikuti seminar tersebut. “Biasanya kami mendidik anak dengan cara lama, kadang marah atau memaksa. Dari sini saya belajar bahwa pendekatan yang hangat justru lebih efektif,” tuturnya. Hal serupa disampaikan Ibu Nur, peserta lainnya. Ia menilai kegiatan ini sangat bermanfaat karena materinya mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. “Materinya ringan tapi mengena. Kami jadi tahu bagaimana mendampingi anak, bukan hanya menyuruh. Semoga kegiatan seperti ini sering diadakan,” katanya. Ketua panitia dari KKM 121 Swastikara Nawasena menjelaskan bahwa seminar ini merupakan bagian dari program kerja pemberdayaan keluarga di lingkungan Masjid At-Taqwa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa ingin menghadirkan program yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Program seminar psikologi tersebut juga mendapat apresiasi langsung dari pemateri. Fuji Astutik menilai bahwa mahasiswa KKM mampu membaca kebutuhan masyarakat dengan baik. “Mahasiswa KKM 121 tidak hanya datang mengabdi, tetapi membawa program yang berdampak. Parenting dan pencegahan stunting adalah isu penting bagi keluarga,” ujarnya. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan dalam bentuk pendampingan atau diskusi rutin. “Akan lebih baik jika ada tindak lanjut berupa pendampingan atau forum diskusi berkala agar ibu-ibu semakin terampil menerapkan pola asuh hangat di rumah,” tambahnya. Melalui seminar ini, Peserta KKM Kelompok 121 Swastikara Nawasena UIN Malang berupaya memperkuat peran ibu dalam membangun generasi yang sehat, bahagia, dan berkualitas. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal terjalinnya kolaborasi berkelanjutan antara mahasiswa, masjid, dan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.