M. ARSYI SAPUTRO
Pemanfaatan lahan pekarangan menjadi salah satu upaya sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Berangkat dari hal tersebut, kami, Kelompok 91 KKM Reguler Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, melaksanakan kegiatan menanam sayuran di polybag bersama ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Purwoasri, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Kegiatan ini diikuti oleh anggota perempuan KKM yang berkolaborasi langsung dengan ibu-ibu KWT. Adapun jenis sayuran yang ditanam antara lain sawi dan cabai, yang dinilai mudah dirawat dan cocok ditanam menggunakan media polybag. Proses penanaman dimulai dari persiapan media tanam, pengisian tanah ke dalam polybag, hingga penanaman bibit. Ibu-ibu KWT dengan antusias berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka seputar cara menanam dan merawat tanaman agar dapat tumbuh dengan baik. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya belajar tentang teknik menanam sayuran, tetapi juga memahami pentingnya peran perempuan dalam mendukung ketahanan pangan keluarga. Penanaman sayuran di polybag menjadi solusi praktis bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan lahan. Kegiatan menanam bersama ini menjadi pengalaman berharga bagi kami sebagai mahasiswa KKM. Selain menambah wawasan, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat, khususnya ibu-ibu KWT yang sangat terbuka dan suportif terhadap kegiatan kami. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat jangka panjang, serta mendorong masyarakat untuk terus memanfaatkan lahan pekarangan secara produktif. Bagi kami, pengabdian melalui KKM bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi juga tentang belajar dan tumbuh bersama masyarakat.
DWI ANANDA PUTRI
Festival Anak Sholeh, Cara Seru Menanamkan Nilai Islam Sejak Dini . Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) sering kali menjadi ruang belajar yang tidak hanya mempertemukan mahasiswa dengan masyarakat, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang pendidikan dan pembinaan karakter. Salah satu kegiatan kelompok KKM UIN Malang di Desa Badal adalah Islamic Festival, sebuah kegiatan yang dirancang untuk menumbuhkan semangat keagamaan sekaligus mengembangkan bakat dan minat anak-anak sejak usia dini. Islamic Festival ini dilaksanakan pada Ahad, 1 Februari 2026, bertempat di Aula PPSM Banin Banat Al Mubtadi'ien. Sejak awal kegiatan, antusiasme anak-anak sudah terasa. Mereka datang dengan wajah ceria, penuh semangat, dan tidak sedikit yang tampak berlatih terlebih dahulu sebelum mengikuti lomba. Kegiatan ini didukung oleh Pengurus lembaga, serta mahasiswa KKM yang saling bekerja sama demi kelancaran acara. Berbagai lomba islami digelar dalam festival ini, mulai dari lomba mewarnai, lomba adzan, hingga lomba tartil Al-Qur'an. Agar kegiatan berjalan tertib dan sesuai dengan kemampuan peserta, panitia membagi kategori lomba berdasarkan jenjang usia. Lomba mewarnai diikuti oleh peserta maksimal kelas 1 SD, lomba adzan untuk peserta maksimal kelas 3 SD, dan lomba tartil Al-Qur'an untuk peserta maksimal kelas 4 SD. Antusiasme peserta juga terlihat dari tanggapan anak-anak yang mengikuti lomba. Salah satu peserta lomba, Areza, mengaku senang dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. "Saya senang bisa ikut lomba di Festival Anak Sholeh ini. Kegiatannya seru dan membuat saya lebih berani tampil di depan teman-teman," ujar Areza. Selama kegiatan berlangsung, kami sebagai mahasiswa KKM turut terlibat aktif, mulai dari persiapan acara, mendampingi peserta, hingga membantu teknis pelaksanaan lomba. Dari dekat, saya melihat bagaimana anak-anak menikmati setiap prosesnya. Mereka tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar berani tampil, mendengarkan arahan, dan menghargai usaha teman-temannya. Dari pengalaman ini, saya sampai pada satu refleksi penting bahwa pendidikan nilai keislaman tidak selalu harus disampaikan dengan cara yang serius dan formal. Melalui kegiatan yang menyenangkan dan partisipatif seperti Festival Anak Sholeh, nilai-nilai agama dapat diterima anak-anak dengan lebih alami dan membekas. Anak-anak belajar tentang Islam sambil bermain, berkarya, dan mengekspresikan diri. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi cermin bahwa ruang-ruang kreatif berbasis keagamaan masih sangat dibutuhkan, terutama di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Festival Anak Sholeh bukan sekadar lomba, tetapi menjadi sarana pembinaan karakter, penanaman kepercayaan diri, serta penguatan identitas religius sejak dini. Bagi saya pribadi, kegiatan ini menjadi salah satu pengalaman paling bermakna selama menjalani KKM. Bukan hanya karena berhasil menjalankan program kerja, tetapi karena saya belajar bahwa kontribusi kecil jika dilakukan dengan niat dan pendekatan yang tepat dapat memberi dampak positif bagi masyarakat. Islamic Festival di Desa Badal menjadi pengingat bahwa membangun generasi berakhlak tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari langkah sederhana yang dilakukan bersama dan penuh keikhlasan. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Islamic Festifal Belajar Nilai Islam Dengan Cara Menyenangkan", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/kkmbaswarasaraswati4439/69815152ed6415260474e912/islamic-festifal-belajar-nilai-islam-dengan-cara-menyenangkan Kreator: KKM Baswara Saraswati
ILHAM ARDIANSYAH
Rabu, 24 Desember 2025 menjadi awal perjalanan pengabdian Kelompok 41 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Terletak di kaki Gunung Bromo, Gubugklakah tidak hanya dikenal sebagai jalur wisata menuju kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tetapi juga sebagai desa dengan kekayaan alam, budaya, keagamaan, dan kearifan lokal yang hidup berdampingan secara harmonis. Dengan semangat pengabdian, mahasiswa hadir tidak semata menjalankan program kerja, melainkan berupaya menyatu, belajar, dan tumbuh bersama masyarakat. Sejak hari-hari awal, pendekatan sosial menjadi fondasi utama pengabdian. Melalui kegiatan sowan kepada tokoh masyarakat, keterlibatan dalam diba’an, pengajian, serta berbagai aktivitas sosial, mahasiswa membangun hubungan yang erat dan penuh kepercayaan dengan warga. Interaksi ini menegaskan posisi mahasiswa bukan sebagai pihak luar, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar Desa Gubugklakah. Pembukaan resmi KKM yang dilaksanakan pada 30 Desember 2025 menandai dimulainya rangkaian program pengabdian secara formal. Kegiatan ini melibatkan perangkat desa, lembaga adat, serta komunitas pemuda Lampahklakah. Mahasiswa mengenakan busana adat Tengger sebagai simbol penghormatan terhadap budaya lokal sekaligus penegasan penerimaan sosial dan adat. Kolaborasi dengan Lampahklakah menjadi langkah strategis dalam memastikan keberlanjutan program, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia dan pelestarian budaya desa. Eksplorasi potensi alam Desa Gubugklakah dilakukan melalui kegiatan tadabur alam ke Ledhok Amprong dan kunjungan ke Coban Pelangi. Mahasiswa menyusuri sungai, hutan, dan jalur tracking untuk mengenal langsung kekayaan alam desa, sekaligus mendokumentasikannya sebagai bagian dari promosi wisata berbasis edukasi dan keberlanjutan. Kegiatan ini menegaskan bahwa potensi wisata Gubugklakah tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga ekologis dan edukatif. Di bidang pendidikan, Kelompok 41 aktif mengajar di MI KH Hasyim Asy’ari dengan pendekatan Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) sebagai media pembentukan karakter. Nilai percaya diri, empati, kepedulian lingkungan, dan sikap anti perundungan ditanamkan melalui metode pembelajaran kreatif dan ramah anak. Sebagai penguatan pendidikan karakter anti perundungan, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melanjutkan kegiatan sosialisasi anti bullying di MI KH. Hasyim Asy’ari Gubugklakah melalui lomba mewarnai bertema anti bullying yang dilaksanakan pada 24 Januari 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai media visual yang mudah dipahami dan membekas bagi murid kelas 1 hingga kelas 6, dengan gambar dan pesan moral sederhana tentang etika pertemanan tanpa kekerasan. Melalui kegiatan ini, nilai saling menyayangi, menghargai, dan menolak perundungan ditanamkan secara menyenangkan, sekaligus melatih jiwa kompetitif yang sehat melalui pemberian apresiasi berupa piala dan sertifikat. Lomba mewarnai ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan sikap anti bullying dalam kehidupan sehari-hari murid. Dalam upaya menumbuhkan kembali minat baca anak, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan Pagelaran Literasi di MI KH. Hasyim Asy’ari Gubugklakah pada Sabtu, 24 Januari 2026. Kegiatan ini dikemas melalui membaca bersama, story telling, dan pemberian apresiasi sebagai bentuk penghargaan atas keberanian dan usaha murid. Sebanyak 84 murid terlibat aktif dengan pendampingan langsung dari mahasiswa, mulai dari membantu membaca, membacakan cerita, hingga mendorong anak menceritakan kembali isi bacaan. Pagelaran literasi ini menjadi ikhtiar sederhana untuk mengajak anak kembali dekat dengan buku di tengah dominasi gawai, sekaligus menanamkan nilai bahwa membaca adalah aktivitas menyenangkan, bermakna, dan penting sebagai bekal pembentukan karakter serta kecintaan terhadap ilmu sejak dini. Sebagai upaya menumbuhkan kembali ruang bermain yang sehat bagi anak, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Aksara Vardhana menyelenggarakan Gebyar Permainan Tradisional pada Sabtu, 24 Januari 2026. Kegiatan ini berangkat dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya interaksi sosial anak usia sekolah dasar akibat dominasi penggunaan gawai. Berbagai permainan tradisional seperti egrang, yoyo, kelereng, catur, lompat tali, engklek, dan gobak sodor dihadirkan dengan suasana gembira dan partisipatif, di mana mahasiswa turut bermain bersama anak-anak. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya menanamkan nilai kebersamaan, sportivitas, serta kecintaan terhadap warisan budaya bangsa, sekaligus memperkenalkan permainan tradisional sebagai alternatif positif yang sesuai dengan dunia dan perkembangan anak. Selain pendidikan formal, mahasiswa juga membuka program bimbingan belajar bagi anak-anak sekolah dasar. Kegiatan ini dilaksanakan selama hampir dua pekan dengan materi Matematika, IPA, Bahasa Inggris, dan PPKN. Metode pembelajaran visual dan interaktif dipadukan dengan kuis berbasis cerdas cermat untuk menumbuhkan semangat belajar, kerja sama, dan sportivitas. Hasilnya, dua kelompok binaan berhasil melaju hingga babak semifinal Lomba Cerdas Cermat Antar Bimbel KKM se-Kecamatan Poncokusumo. Perhatian terhadap aspek kesehatan masyarakat diwujudkan melalui pendampingan kegiatan Posyandu Desa Gubugklakah. Mahasiswa membantu kader posyandu, mendampingi ibu dan balita, serta mendukung kelancaran pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Keterlibatan ini menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesehatan preventif sebagai tanggung jawab bersama. Di ranah keagamaan, Kelompok 41 KKM UIN Malang berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan religius masyarakat. Mahasiswa terlibat dalam peringatan Isra’ Mi’raj dengan menghadirkan kajian keislaman bertema Isra’ Mi’raj dalam Pandangan Perempuan yang menyajikan perspektif keislaman yang humanis dan kontekstual. Selain itu, lomba-lomba keagamaan bagi santri TPQ turut diselenggarakan sebagai sarana pembentukan karakter, keberanian, serta kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini. Di tingkat internal kelompok, mahasiswa juga membiasakan pelaksanaan sholat lima waktu secara berjamaah selama masa KKM. Kegiatan ini berangkat dari kesadaran bersama akan pentingnya menjaga nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari, khususnya sebagai mahasiswa perguruan tinggi Islam. Sholat berjamaah dilaksanakan berdasarkan kesepakatan tanpa paksaan dan secara konsisten menjadi sarana pembinaan kedisiplinan, kepedulian sosial, serta penguatan ikatan persaudaraan antaranggota. Selain bernilai ibadah dengan landasan kuat dalam ajaran Islam, kebiasaan ini turut menciptakan suasana religius yang terjaga dan menjadi bentuk keteladanan sederhana yang dijalankan secara istiqamah. Komitmen spiritual mahasiswa diperkuat melalui program One Day One Juz yang dilaksanakan secara konsisten dan ditutup dengan khotmil Al-Qur’an bersama masyarakat sebagai bentuk syukur dan penguatan kebersamaan. Mahasiswa juga terlibat aktif dalam pembelajaran di TPQ Baiturrohim dengan mendampingi santri dalam belajar Al-Qur’an, doa harian, bacaan sholat, serta pengenalan tajwid.Nilai toleransi dan moderasi beragama tercermin dalam keterlibatan Kelompok 41 pada Diskusi Lintas Agama di Karmel Ngadireso. Melalui dialog terbuka dan inklusif, mahasiswa turut merawat ruang kebersamaan dalam keberagaman, menegaskan bahwa perbedaan adalah anugerah yang memperkaya kehidupan sosial. Pada bidang ekonomi, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memfokuskan program pengabdian pada penguatan UMKM Desa Gubugklakah sebagai desa wisata. Program ini berangkat dari pengamatan lapangan terhadap aktivitas ekonomi warga yang sebenarnya telah berjalan cukup baik, khususnya pada sektor kedai dan homestay yang melayani wisatawan menuju kawasan Bromo. Namun demikian, masih ditemukan kendala pada aspek pendukung usaha, seperti kurangnya identitas visual kedai, penataan daftar menu yang belum optimal, serta homestay yang belum terdaftar di Google Maps sehingga menyulitkan wisatawan dalam menemukan lokasi. Menindaklanjuti kondisi tersebut, sejak 10 Januari 2026 mahasiswa menjalankan program peningkatan ekonomi masyarakat melalui pendampingan UMKM. Fokus kegiatan meliputi pembuatan banner dan daftar menu kedai, serta pendampingan pembuatan dan pengelolaan Google Maps bagi pemilik homestay. Program diawali dengan diskusi langsung bersama pelaku usaha untuk menggali kebutuhan, konsep usaha, serta harapan pengembangan ke depan. Proses perancangan dilakukan secara kolaboratif dengan menyesuaikan karakter produk, suasana desa wisata, dan preferensi pemilik usaha. Hasil dari program ini mulai dirasakan secara nyata. Banner dan daftar menu telah dicetak dan digunakan oleh pemilik kedai, sementara homestay yang didampingi kini telah terdaftar dan mudah diakses melalui Google Maps. Program ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik usaha, memperkuat identitas UMKM lokal, serta mendorong peningkatan kunjungan dan penjualan. Melalui pendampingan sederhana namun tepat sasaran, mahasiswa berupaya mendukung pengembangan ekonomi Desa Gubugklakah agar potensi wisata yang telah ada dapat tumbuh secara lebih optimal dan berkelanjutan. Pada aspek budaya, mahasiswa turut mendukung pelestarian adat Barikan, tradisi leluhur masyarakat Tengger yang dilaksanakan secara rutin setiap tiga bulan sekali di punden desa. Selain itu, kolaborasi strategis dilakukan bersama komunitas Lampahklakah dalam penyusunan Kamus Bahasa Tengger. Inisiatif ini menjadi langkah nyata pelestarian bahasa ibu sebagai identitas budaya sekaligus kontribusi literasi yang bernilai akademik dan sosial. Di bidang pelayanan publik dan teknologi, Kelompok 41 KKM UIN Malang mengembangkan sistem pembayaran air bersih desa berbasis web. Digitalisasi ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas layanan air bersih, sekaligus menjadi langkah awal transformasi digital desa. Mahasiswa juga melaksanakan piket rutin di Balai Desa Gubugklakah untuk membantu administrasi dan pelayanan masyarakat, serta terlibat dalam penyambutan kunjungan Wakil Gubernur Kabupaten Malang dalam rangka pengembangan potensi pertanian desa. Seluruh dinamika kehidupan masyarakat Desa Gubugklakah kemudian dirangkum dalam film dokumenter berjudul “Di Bawah Langit Gubugklakah”. Film ini merekam potret desa dari aspek budaya, religius, pertanian, pariwisata, pendidikan, hingga sejarah sebagai upaya dokumentasi dan pelestarian kearifan lokal. Rangkaian pengabdian ditutup dengan Pentas Seni Penutupan dan Perpisahan Kelompok 41 KKM UIN Malang Aksara Vardhana. Acara ini menjadi ruang ekspresi budaya, apresiasi masyarakat, serta simbol penutup kebersamaan yang telah terjalin selama masa KKM. Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan bahwa pengabdian bukan sekadar pelaksanaan program, melainkan proses merawat hubungan, menumbuhkan kesadaran, dan meninggalkan jejak kebermanfaatan yang berkelanjutan. Desa Gubugklakah tidak hanya menjadi tempat mengabdi, tetapi juga ruang belajar yang mengajarkan makna kemanusiaan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial.
FARIKHAH LISA FITRIANI
identitas UMKM lokal, serta mendorong peningkatan kunjungan dan penjualan. Melalui pendampingan sederhana namun tepat sasaran, mahasiswa berupaya mendukung pengembangan ekonomi Desa Gubugklakah agar potensi wisata yang telah ada dapat tumbuh secara lebih optimal dan berkelanjutan. Pada aspek budaya, mahasiswa turut mendukung pelestarian adat Barikan, tradisi leluhur masyarakat Tengger yang dilaksanakan secara rutin setiap tiga bulan sekali di punden desa. Selain itu, kolaborasi strategis dilakukan bersama komunitas Lampahklakah dalam penyusunan Kamus Bahasa Tengger. Inisiatif ini menjadi langkah nyata pelestarian bahasa ibu sebagai identitas budaya sekaligus kontribusi literasi yang bernilai akademik dan sosial. Di bidang pelayanan publik dan teknologi, Kelompok 41 KKM UIN Malang mengembangkan sistem pembayaran air bersih desa berbasis web. Digitalisasi ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas layanan air bersih, sekaligus menjadi langkah awal transformasi digital desa. Mahasiswa juga melaksanakan piket rutin di Balai Desa Gubugklakah untuk membantu administrasi dan pelayanan masyarakat, serta terlibat dalam penyambutan kunjungan Wakil Gubernur Kabupaten Malang dalam rangka pengembangan potensi pertanian desa. Seluruh dinamika kehidupan masyarakat Desa Gubugklakah kemudian dirangkum dalam film dokumenter berjudul “Di Bawah Langit Gubugklakah”. Film ini merekam potret desa dari aspek budaya, religius, pertanian, pariwisata, pendidikan, hingga sejarah sebagai upaya dokumentasi dan pelestarian kearifan lokal. Rangkaian pengabdian ditutup dengan Pentas Seni Penutupan dan Perpisahan Kelompok 41 KKM UIN Malang Aksara Vardhana. Acara ini menjadi ruang ekspresi budaya, apresiasi masyarakat, serta simbol penutup kebersamaan yang telah terjalin selama masa KKM. Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan bahwa pengabdian bukan sekadar pelaksanaan program, melainkan proses merawat hubungan, menumbuhkan kesadaran, dan meninggalkan jejak kebermanfaatan yang berkelanjutan. Desa Gubugklakah tidak hanya menjadi tempat mengabdi, tetapi juga ruang belajar yang mengajarkan makna kemanusiaan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial.
INAS ATTAMIMI
Sebagai mahasiswa yang saat ini mengikuti Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, saya dan kelompok mendapat peluang luar biasa untuk terlibat langsung dalam program kerja besar yang bertema Famtrip Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata). Kegiatan ini merupakan salah satu program unggulan yang bertujuan untuk mengenalkan potensi wisata Desa Poncokusumo kepada masyarakat luas. Acara Famtrip bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga berfungsi sebagai sarana kolaborasi antara pemerintah desa, Pokdarwis, masyarakat, dan mahasiswa KKM dalam meningkatkan sektor pariwisata di desa tersebut. Pelaksanaan Famtrip Pokdarwis memiliki beberapa sasaran utama, antara lain: Memperkenalkan daya tarik wisata Desa Poncokusumo, Melaksanakan peresmian Pendopo Gastronomi sebagai fasilitas wisata baru, Melestarikan dan mempromosikan budaya lokal, Membangun kerja sama antara berbagai pihak dalam pengembangan desa wisata, Memberikan pengalaman wisata langsung kepada para peserta. Kegiatan Famtrip ini diselenggarakan sejak pagi hari dengan susunan acara yang terstruktur dan menarik. Acara diawali dengan proses registrasi peserta. Para tamu yang hadir disambut oleh panitia serta MC. Suasana semakin hidup dengan adanya pertunjukan seni tradisional Jaranan, yang merupakan salah satu kesenian khas daerah. Melalui pertunjukan tersebut, peserta dapat lebih mengenal kekayaan budaya lokal sekaligus menikmati hiburan tradisional yang sarat makna. Setelah hiburan budaya selesai, acara dilanjutkan dengan rangkaian pembukaan resmi, meliputi: Pembukaan oleh MC, Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Sambutan dari Ketua Pokdarwis, Sambutan Kepala Desa Poncokusumo, Sambutan dari perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Sambutan-sambutan tersebut menegaskan komitmen bersama untuk terus mengembangkan sektor pariwisata desa sebagai sumber kesejahteraan masyarakat. Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah Peresmian Pendopo Gastronomi Desa Poncokusumo yang diikuti dengan sesi pemaparan mengenai profil dan potensi desa. Sebagai bagian dari pengalaman langsung, peserta juga diajak mengikuti kegiatan Forest Bathing, yaitu aktivitas menyusuri kawasan alam yang asri di sekitar Desa Poncokusumo. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk menikmati keindahan alam sekaligus merasakan suasana desa yang sejuk dan menenangkan. Acara Famtrip ditutup dengan ramah tamah antara seluruh peserta dan panitia. Momen ini menjadi ajang untuk mempererat hubungan serta membuka peluang kerja sama di masa mendatang. Bagi kami sebagai mahasiswa KKN, keterlibatan dalam kegiatan Famtrip Pokdarwis merupakan pengalaman yang sangat berkesan. Kami belajar banyak hal, mulai dari manajemen acara hingga pentingnya peran generasi muda dalam mendukung kemajuan desa wisata. Famtrip Pokdarwis Desa Poncokusumo menjadi bukti bahwa sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan mahasiswa mampu menciptakan program yang bermanfaat. Diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut sehingga potensi wisata desa semakin berkembang dan dikenal luas.
DOFIZ DIHAS DAYANA
Sidodadi, 17 Januari 2026 --- Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Artha Mandala melaksanakan kegiatan pemasangan plang edukasi tentang jenis sampah terurai di Desa Sidodadi pada Sabtu, 17 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan secara merata di tujuh dusun yang ada di Desa Sidodadi, yaitu Dusun Krajan, Dusun Klosot, Dusun Ngandeng, Dusun Pilang, Dusun Gedangan, Dusun Boro, dan Dusun Kalianyar. Pemasangan plang edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah, khususnya sampah yang dapat terurai secara alami. Melalui plang tersebut, masyarakat diharapkan dapat memahami jenis-jenis sampah organik serta cara pengelolaannya yang ramah lingkungan. Ketujuh dusun dipilih sebagai lokasi pemasangan agar edukasi mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat Desa Sidodadi. Plang edukasi dipasang di titik-titik strategis yang mudah dilihat dan sering dilalui oleh warga. Melalui kegiatan ini, Kelompok KKM Artha Mandala berharap masyarakat dapat mulai membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah serta berperan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan pemasangan plang edukasi ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung terciptanya lingkungan desa yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.Dengan adanya plang edukasi jenis sampah terurai tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat Desa Sidodadi terhadap pentingnya pengelolaan sampah semakin meningkat dan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.