TRI SOFYAN HADI
Pengabdian masyarakat yang dilakukan KKM 166 Baranova di Desa Licin berangkat dari kebutuhan akan penguatan karakter remaja dan adaptasi ekonomi digital. Program ini mengintegrasikan sosialisasi anti bullying, pencegahan kenakalan remaja, serta pendampingan penggunaan QRIS bagi masyarakat. Edukasi sosial dilaksanakan melalui kegiatan belajar mengajar di SDN 1 Licin dan MI Nahdhatul Wathan. Mahasiswa KKM memberikan pemahaman tentang perilaku sosial yang sehat serta dampak negatif dari tindakan bullying dan kenakalan remaja. Sementara itu, penguatan ekonomi masyarakat dilakukan melalui sosialisasi QRIS di Pasar Jadoel. Mahasiswa memberikan pendampingan awal mengenai manfaat transaksi non-tunai serta pentingnya mengikuti perkembangan teknologi ekonomi. Seluruh kegiatan tersebut diperkuat dengan amaliah keagamaan yang secara rutin dilaksanakan bersama masyarakat, seperti pengajian dan pendampingan TPQ. Nilai-nilai keagamaan ini menjadi landasan dalam membangun kesadaran sosial dan ekonomi yang beretika.
AISKA RAHMA VIDHANIA
Pembangunan desa selama ini kerap dimaknai sebagai upaya mengatasi berbagai keterbatasan, mulai dari persoalan ekonomi, kesehatan, hingga kualitas sumber daya manusia. Cara pandang yang terlalu berfokus pada masalah sering kali menempatkan desa sebagai pihak yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Padahal, di balik berbagai tantangan tersebut, desa menyimpan kekuatan sosial, budaya, dan manusia yang jika dikenali dan dikelola dengan tepat, dapat menjadi modal utama pembangunan yang berkelanjutan. Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, merupakan salah satu contoh desa dengan potensi lokal yang kaya. Masyarakatnya memiliki tradisi gotong royong yang kuat, jaringan sosial yang aktif, serta berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan yang hidup dalam keseharian warga. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam satu kerangka pembangunan yang terarah. Di sisi lain, desa juga menghadapi tantangan nyata, seperti perlunya penguatan UMKM lokal, peningkatan literasi pemasaran digital, serta peningkatan kesadaran keluarga terhadap isu kesehatan, khususnya pencegahan stunting dan pola asuh anak. Dalam konteks tersebut, pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) menjadi relevan untuk digunakan sebagai kerangka berpikir dan bertindak. Pendekatan ini menekankan bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan berangkat dari pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki masyarakat, bukan semata-mata dari intervensi eksternal. Masyarakat diposisikan sebagai subjek pembangunan yang aktif, sementara pihak luar berperan sebagai fasilitator dan pendamping. Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman dan temuan lapangan dalam kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Kebobang, dengan tujuan memetakan aset desa, merumuskan mimpi kolektif warga, serta menyajikan praktik perancangan program berbasis potensi lokal. Melalui tulisan ini, diharapkan pembaca dapat melihat bahwa pembangunan desa bukan sekadar soal apa yang kurang, tetapi tentang bagaimana menggerakkan apa yang sudah ada agar memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Tahap Discovery: Mengungkap Aset yang Selama Ini Terabaika Berdasarkan diskusi, survei aset, dan refleksi bersama masyarakat Desa Kebobang, teridentifikasi bahwa warga memiliki mimpi kolektif yang relatif selaras dan realistis dengan kondisi lokal. Mimpi tersebut tidak lahir dari keinginan abstrak, melainkan dari pengalaman sehari-hari warga dalam menghadapi dinamika sosial, ekonomi, dan keluarga. Mimpi utama warga mencakup terbentuknya posko bank sampah yang terkelola secara berkelanjutan sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi mikro. Selain itu, warga mengharapkan pembangunan tugu desa sebagai simbol identitas dan kebanggaan kolektif yang merepresentasikan nilai kebersamaan masyarakat Desa Kebobang. Di sektor ekonomi, warga memiliki harapan agar UMKM lokal dapat berkembang lebih terarah dan memiliki daya saing, terutama melalui peningkatan pengetahuan pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital. Sementara itu, pada aspek keluarga dan kesehatan, muncul kebutuhan kuat akan edukasi parenting dan pencegahan stunting yang berkelanjutan, khususnya bagi orang tua dan wali murid tingkat SD/MI. Mimpi-mimpi ini menunjukkan bahwa warga desa tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, tetapi juga menginginkan perubahan sosial yang berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Visi tersebut menjadi landasan penting dalam merancang program KKM yang relevan, kontekstual, dan berorientasi jangka panjang. Tahap Dream: Merumuskan Mimpi Kolektif Warga Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. Tahap Design: Merancang Strategi Berbasis Aset Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. Tahap Destiny: Implementasi dan Penguatan Keberlanjutan Implementasi program dirancang secara bertahap dan partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lokal. Kader PKK, guru PAUD, Karang Taruna, tokoh agama, serta perangkat desa berperan sebagai pelaksana utama, sementara mahasiswa KKM bertindak sebagai fasilitator dan pendamping program. Pemanfaatan aset yang telah tersedia, seperti balai desa, jaringan Dasa Wisma, lembaga pendidikan, dan kegiatan keagamaan, memungkinkan program dijalankan secara realistis dan efisien. Pendekatan ini juga meminimalkan ketergantungan pada bantuan eksternal serta mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola program. Selain itu, keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mendorong tumbuhnya kepemimpinan lokal dan rasa memiliki terhadap program. Dengan demikian, keberlanjutan kegiatan tidak berhenti pada masa KKM, tetapi berpotensi dilanjutkan oleh masyarakat desa secara mandiri. Tahap Refleksi: Dampak Awal dan Pembelajaran Refleksi awal terhadap pelaksanaan program menunjukkan beberapa pembelajaran penting. Pertama, warga mulai menyadari bahwa kekuatan desa tidak hanya terletak pada bantuan dari luar, tetapi juga pada aset sosial, manusia, dan budaya yang telah dimiliki. Kesadaran ini mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap pembangunan desa. Kedua, terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan, khususnya pada program yang menyentuh langsung kebutuhan keluarga dan ekonomi. Hal ini menunjukkan tumbuhnya rasa memiliki terhadap proses dan hasil program. Ketiga, muncul komitmen kolektif dari warga dan pemangku kepentingan lokal untuk melanjutkan pendekatan berbasis aset sebagai strategi pembangunan desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Penutup Pengalaman pemberdayaan masyarakat di Desa Kebobang menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari daftar kekurangan dan masalah. Melalui pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), masyarakat diajak untuk mengenali kembali kekuatan yang selama ini hadir dalam kehidupan mereka, namun sering kali luput disadari. Aset manusia, sosial, institusional, budaya, dan alam yang dimiliki desa terbukti menjadi fondasi penting dalam merancang program yang relevan dan berdaya guna. Pendekatan berbasis aset juga memperlihatkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap program pembangunan. Ketika warga, kader, pemuda, dan tokoh lokal diberi ruang untuk berperan, proses pembangunan tidak lagi dipandang sebagai agenda eksternal, melainkan sebagai bagian dari kebutuhan dan cita-cita bersama. Hal ini menjadi kunci bagi keberlanjutan program setelah kegiatan pendampingan, termasuk KKM, berakhir. Lebih dari sekadar metode, ABCD menawarkan perubahan cara pandang dalam pembangunan desa. Desa tidak diposisikan sebagai objek yang menunggu bantuan, tetapi sebagai komunitas yang memiliki kapasitas untuk bertumbuh dari dalam. Penguatan UMKM, edukasi parenting dan pencegahan stunting, moderasi beragama, serta penguatan kohesi sosial di Desa Kebobang menjadi contoh bagaimana aset lokal dapat dihubungkan untuk menjawab tantangan nyata masyarakat. Pada akhirnya, pembangunan desa yang berkelanjutan menuntut keberanian untuk berpindah dari pendekatan berbasis masalah menuju pendekatan berbasis kekuatan. Pengalaman di Desa Kebobang menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan sumber daya besar, melainkan kemauan untuk melihat, menggerakkan, dan merawat potensi yang sudah ada. Jika pendekatan ini terus dilanjutkan dan diperkuat, desa tidak hanya akan menjadi objek pembangunan, tetapi aktor utama dalam menentukan masa depannya sendiri.
NUR AZKA NABILLA
Karangnongko — MI KH Hasyim Asy’ari Karangnongko (MIHASKA) bersama Mahasiswa KKM 31 Nirantara Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan sosialisasi anti bullying sebagai upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak. Kegiatan ini diikuti oleh para siswa dengan suasana yang interaktif dan penuh antusiasme. Sosialisasi disampaikan melalui penjelasan sederhana mengenai pengertian bullying, bentuk-bentuk bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah, serta dampak buruk yang dapat ditimbulkan. Anak-anak diajak untuk memahami pentingnya bersikap saling menghargai, tidak mengejek teman, serta berani melapor kepada guru jika mengalami atau melihat tindakan bullying. Selain penyampaian materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan aktivitas menuliskan perasaan. Setiap siswa diminta menuliskan perasaan yang pernah mereka rasakan di sekolah pada secarik kertas, baik perasaan senang, sedih, takut, maupun bahagia. Kertas-kertas tersebut kemudian ditempel pada “pohon perasaan” yang telah disiapkan. Melalui pohon perasaan ini, siswa belajar untuk mengenali dan mengekspresikan emosi mereka secara sehat. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi pendamping dan guru untuk memahami kondisi emosional siswa serta menumbuhkan empati antar sesama teman. Antusiasme siswa terlihat dari keaktifan mereka dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari diskusi hingga menempelkan kertas perasaan. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Diharapkan melalui sosialisasi anti bullying dan kegiatan pohon perasaan ini, siswa MIHASKA dapat lebih berani mengungkapkan perasaan, saling menghargai, serta bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari bullying
MUHAMMAD ATHOURRAHMAN
Malang, 28 Januari 2026 — Mengingat pentingnya kesiapan mental dan fisik dalam membangun rumah tangga, Kelompok KKM 35 Pandareka UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan seminar edukasi mengenai dampak pernikahan dini pada Rabu (28/1). Kegiatan yang bertempat di MA Al Hidayah, Desa Pandansari, ini ditujukan bagi para siswa kelas 10 hingga 12 sebagai upaya preventif sekaligus pemberian pemahaman mengenai kompleksitas kehidupan pasca-pernikahan di usia muda. Seminar ini menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Ibu Umi Khorirotin Nasichah, yang merupakan anggota Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak Nusantara. Dalam pemaparannya, Ibu Umi menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan tanggung jawab besar yang memerlukan kesiapan fisik, psikologis, dan finansial. Beliau juga memaparkan berbagai risiko kesehatan seperti stunting pada anak dan risiko kematian ibu, hingga aspek hukum yang mengatur batas minimal usia perkawinan di Indonesia. Suasana di dalam aula MA Al Hidayah tampak hidup dengan antusiasme para siswa yang menyimak materi dengan seksama. Sesi diskusi menjadi momen yang paling dinantikan, di mana para siswa melontarkan berbagai pertanyaan kritis mengenai tekanan sosial dan cara menjaga fokus pada pendidikan demi masa depan. Ibu Umi memberikan jawaban-jawaban yang lugas dan solutif, memotivasi para siswa agar berani bermimpi tinggi dan menyelesaikan pendidikan mereka sebagai bekal utama kehidupan. Kelompok KKM 35 Pandareka memilih program kerja ini karena melihat fenomena pernikahan dini masih menjadi tantangan di daerah pedesaan. Melalui seminar ini, mahasiswa berharap dapat membuka cakrawala berpikir generasi muda di Desa Pandansari agar lebih bijak dalam mengambil keputusan besar. Pihak sekolah MA Al Hidayah memberikan apresiasi penuh atas inisiatif ini, mengingat edukasi semacam ini sangat krusial untuk melindungi masa depan anak didik mereka dari dampak negatif pernikahan di bawah umur. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan plakat penghargaan kepada narasumber. Dengan terlaksananya seminar ini, Kelompok 35 Pandareka berharap para siswa MA Al Hidayah dapat menjadi pelopor perubahan di lingkungan mereka, dengan mengutamakan pengembangan diri dan pendidikan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Program ini menjadi salah satu bukti nyata komitmen "Pandareka" dalam memberikan dampak positif bagi kualitas hidup masyarakat di lokasi pengabdian.
LUNA SABILA AHMADA
Kelompok 166 KKM Mandiri UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (Baranova) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Licin sebagai bentuk kepedulian terhadap permasalahan sosial dan ekonomi masyarakat desa. Kegiatan ini difokuskan pada sosialisasi anti bullying dan kenakalan remaja, penguatan ekonomi digital melalui QRIS, serta penguatan amaliah keagamaan. Sosialisasi anti bullying dan kenakalan remaja dilaksanakan di lingkungan sekolah dasar, yakni SDN 1 Licin dan MI Nahdhatul Wathan. Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran siswa akan pentingnya perilaku saling menghargai dan menjaga pergaulan yang sehat sejak usia dini. Di bidang ekonomi, mahasiswa KKM melakukan pendampingan penggunaan QRIS bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM, khususnya di Pasar Jadoel Dusun Karangan. Sosialisasi ini diharapkan mampu mempermudah transaksi serta meningkatkan literasi keuangan digital masyarakat. Seluruh kegiatan pengabdian masyarakat tersebut secara eksplisit dikuatkan dengan amaliah keagamaan yang rutin dilaksanakan bersama masyarakat, seperti yasin dan tahlil, pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin, jam’iyah fardhu kifayah, istighosah, serta pendampingan kegiatan TPQ. Melalui pendekatan terpadu ini, KKM 166 berharap dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Licin.
NAJWA QURROTA A`YUN
Mahasiswa KKM Nirantara Universitas Islam Negeri (UIN) melaksanakan survei terhadap 40 Kepala Keluarga (KK) di Desa Karangnongko, dengan fokus wilayah Dusun Nongkosewu. Kegiatan ini bertujuan untuk memetakan aset yang dimiliki masyarakat desa serta memahami kondisi sosial dan ekonomi secara langsung. Survei dilakukan sebagai langkah awal dalam merancang program kerja KKM yang sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat. Survei dilakukan melalui wawancara langsung dan observasi lapangan, sehingga mahasiswa memperoleh gambaran menyeluruh mengenai potensi sumber daya manusia, sumber daya alam, serta kondisi sosial masyarakat. Hasil survei menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Nongkosewu memiliki potensi yang cukup besar, khususnya pada sektor pertanian, usaha kecil berbasis rumah tangga, serta kuatnya nilai kebersamaan dan gotong royong antarwarga. Selain potensi, survei juga mengungkap beberapa permasalahan yang masih dihadapi masyarakat, seperti belum optimalnya pemanfaatan aset ekonomi, keterbatasan pendampingan usaha, serta minimnya inovasi dalam pengelolaan hasil pertanian dan usaha lokal. Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa KKM Nirantara dalam menyusun program yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga berorientasi pada keberlanjutan. Berdasarkan hasil survei tersebut, mahasiswa KKM Nirantara berupaya memberikan solusi yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat Desa Karangnongko. Data hasil survei ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan bagi UIN dalam pelaksanaan KKM di tahun-tahun berikutnya, sehingga program pengabdian masyarakat dapat berjalan lebih terarah, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat desa.