NAJWA ROHMAH
Program Penguatan Family Corner kembali digelar sebagai bagian dari upaya memperkuat peran masjid dalam membangun ketahanan keluarga. Kegiatan Sosialisasi Psikologi Keluarga yang diselenggarakan oleh Kelompok KKM 112 UIN MALANG dengan tema “Ketahanan Keluarga Dimulai dari Cara Bicara” ini dilaksanakan pada 16 Januari 2026 dan diikuti oleh Jamaah Aisyiyah Ranting Gadang dan juga pengurus Family Corner Masjid Al-Falah Gadang. Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi dan dialog keluarga, khususnya dalam membangun komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak sebagai fondasi ketahanan keluarga. Pemateri dalam kegiatan ini, Risma Nur Arifah, menekankan pentingnya komunikasi dalam kehidupan rumah tangga. Menurutnya, permasalahan keluarga sering berawal dari hal-hal kecil yang tidak tersampaikan dengan baik. “Komunikasi itu sangat penting. Hal-hal yang menurut kita kecil saja sebenarnya harus tetap dikomunikasikan,” ujarnya dalam pemaparan. Lebih lanjut, Risma menyoroti pentingnya melibatkan anak dalam proses pengambilan keputusan di dalam keluarga. Ia menilai dominasi orang tua tanpa ruang dialog justru dapat meningkatkan ikatan emosional dalam keluarga. “Kita harus melibatkan pendapat anak dalam pengambilan keputusan atau diskusi di rumah. Hal sekecil apa pun sebisa mungkin melibatkan mereka agar anak merasa dihargai dan tidak merasa pendapatnya tidak berpengaruh karena peran orang tua yang terlalu dominan. Maka dari itu, anak harus dilibatkan,” jelasnya. Dalam kesempatan tersebut, Risma juga menjelaskan bahwa keberadaan Family Corner menjadi alternatif baru bagi masyarakat Muslim Indonesia, khususnya di Kota Malang, dalam menyelesaikan permasalahan keluarga secara damai. “Family Corner adalah salah satu alternatif baru bagi masyarakat Muslim Indonesia, khususnya Kota Malang, karena proses mediasi bisa dilakukan di masjid atau Family Corner tanpa harus langsung ke meja hijau,” tegasnya. Menurutnya, kehadiran Family Corner di lingkungan masjid diharapkan mampu menurunkan angka perceraian di Kota Malang serta menjadikan masjid sebagai pusat penyelesaian berbagai persoalan umat. “Masjid harus berperan dalam segala hal. Harapannya, setiap orang yang memiliki masalah, ketika masuk masjid, maka masalahnya bisa selesai,” tambahnya. Melalui kegiatan sosialisasi ini, Family Corner diharapkan semakin dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai ruang konsultasi, mediasi, dan pendampingan keluarga, sekaligus memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pelatihan sosial dan ketahanan keluarga.
EVA FITRIANA
[Tanjungrejo, Malang], Tepat pada tanggal 31 Januari 2026, sebuah perjalanan pengabdian yang penuh makna mencapai puncaknya. Kelompok mahasiswa KKM 117 "Arthaseva" UIN Maulana Malik Ibrahim Malang resmi menutup masa bakti mereka yang telah berlangsung selama 40 hari. Dengan Masjid Darussalam sebagai pusat seluruh kegiatan, acara penutupan ini menjadi momen perpisahan yang khidmat sekaligus ungkapan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh keluarga besar masjid. Acara yang berlangsung di serambi masjid ini dihadiri oleh jajaran tokoh yang telah menjadi pendamping dan pengayom mahasiswa selama pengabdian. Hadir di antaranya Ketua Takmir Masjid Darussalam, Ustadz Fathullah; Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ibu Mubasyiroh, S.S., M.Pd.I; jajaran Ketua RW 07 dan RW 08 beserta pengurusnya; jajaran pengajar TPQ Darussalam; serta rekan-rekan dari pengurus Remaja Masjid Darussalam. Jejak Pengabdian di Jantung Masjid Darussalam Selama 40 hari terakhir, Masjid Darussalam telah menjadi rumah kedua bagi mahasiswa Arthaseva. Fokus pengabdian ini memang diarahkan pada pengembangan potensi dan pemberdayaan kegiatan yang berpusat di lingkungan masjid. Mulai dari pendampingan belajar di TPQ, digitalisasi dakwah bersama Remaja Masjid, hingga kolaborasi sosial dalam kegiatan Family Corner. Dalam sambutannya, Ustadz Fathullah menyampaikan apresiasi atas semangat mahasiswa yang telah membaur dengan baik. Keberadaan mahasiswa tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga menghidupkan suasana religius di lingkungan RW 07 dan RW 08 melalui kedekatan emosional yang terjalin dengan para jamaah dan pengurus masjid. Laporan Pertanggungjawaban dan Penyerahan Vandel Sebagai bentuk amanah akademik, mahasiswa memaparkan rangkuman hasil program kerja yang telah dilaksanakan. Paparan ini menjadi cermin dedikasi mahasiswa dalam berupaya memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi Masjid Darussalam. Program-program yang dijalankan diharapkan dapat terus berlanjut dan dikembangkan oleh para pengurus masjid maupun remaja masjid setempat. Suasana haru mulai menyelimuti saat memasuki prosesi penyerahan vandel sebagai simbol kenang-kenangan. Vandel tersebut diserahkan langsung oleh Ketua KKM 117 kepada pihak Takmir Masjid Darussalam. Namun, kejutan datang dari pihak masjid; secara tak terduga, Takmir Masjid Darussalam juga menyerahkan vandel balasan kepada kelompok KKM 117 Arthaseva. Penyerahan timbal balik ini menjadi simbol kuat bahwa hubungan yang terjalin bukan sekadar tugas kampus, melainkan ikatan kekeluargaan yang saling menghargai. Vandel tersebut menjadi bukti nyata bahwa kehadiran mahasiswa telah diterima dengan tangan terbuka, dan sebaliknya, mahasiswa merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian dari keluarga besar Darussalam. Belum Usai: Menanti Puncak Haflah dan Aftermovie Meski secara formal masa pengabdian 40 hari telah ditutup, ikatan mahasiswa dengan Masjid Darussalam ternyata belum benar-benar berakhir. Mahasiswa KKM 117 dijadwalkan akan kembali hadir pada 7 Februari mendatang untuk menghadiri sekaligus berpartisipasi dalam acara Puncak Haflah Imtihan. Salah satu agenda yang paling dinanti dalam puncak acara tersebut adalah penayangan video aftermovie. Video ini merupakan rangkuman perjalanan mahasiswa selama 40 hari mengabdi, yang akan memutar kembali memori indah, tawa, dan perjuangan bersama jamaah serta santri. Penayangan ini diharapkan menjadi kado perpisahan visual yang manis bagi seluruh warga. Doa Penutup dan Harapan Masa Depan Rangkaian acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Ustadz Kristiawan. Dalam suasana yang hening dan penuh kekhusyukan, doa dipanjatkan sebagai rasa syukur atas kelancaran seluruh kegiatan serta permohonan agar segala ikhtiar yang telah dilakukan menjadi amal jariyah bagi mahasiswa dan membawa keberkahan bagi kemajuan Masjid Darussalam. Acara diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama jajaran takmir, RW, pengajar TPQ, dan remaja masjid. Meski secara fisik mahasiswa KKM 117 harus kembali ke kampus, namun memori tentang kehangatan masyarakat dan syiar di Masjid Darussalam akan selalu tersimpan rapat dalam ingatan mereka. Selamat jalan, Arthaseva 117. Terima kasih, Masjid Darussalam.
AMBROSIA IRHAM TRIDENANG LIESWARI
Batu (25-01/2026) kami memulai kegiatan sejak pukul 05.00 hingga sekitar 06.30. Udara yang masih segar, suasana yang tenang, serta cahaya matahari yang perlahan muncul memberikan energi positif untuk memulai hari. Jalan pagi ini tidak hanya menjadi rutinitas fisik, tetapi juga ruang untuk berbincang, berbagi cerita, dan membangun kedekatan antara mahasiswa KKM dengan calon jamaah haji. Perjalanan yang ditempuh terasa ringan karena dilakukan bersama-sama. Tawa, semangat, dan saling menyemangati menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap langkah yang kami ambil. Dari sinilah kami menyadari bahwa kesehatan tidak hanya dibangun dari aktivitas fisik, tetapi juga dari dukungan sosial dan suasana hati yang baik. Bagi calon jamaah haji, kesiapan fisik merupakan salah satu aspek penting dalam mencapai kondisi istitaah, yaitu kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji secara fisik, mental, dan finansial. Ibadah haji menuntut aktivitas berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh, terutama saat thawaf, sa’i, serta mobilitas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Oleh karena itu, latihan fisik ringan seperti jalan pagi menjadi langkah awal yang sangat bermanfaat. Melalui kegiatan ini, kami turut memantau daya tahan berjalan, kekuatan otot, serta respons tubuh terhadap aktivitas fisik. Pemantauan sederhana seperti frekuensi napas, tingkat kelelahan, dan kemampuan mempertahankan ritme berjalan memberikan gambaran awal mengenai kesiapan fisik calon jamaah haji. Selain itu, jalan pagi juga membantu meningkatkan kebugaran kardiovaskular, memperbaiki sirkulasi darah, serta menjaga kestabilan tekanan darah. Manfaat lain yang tidak kalah penting adalah peningkatan kualitas tidur, pengendalian stres, dan perasaan lebih bugar sepanjang hari. Lebih dari sekadar aktivitas olahraga, jalan pagi ini menghadirkan nilai kebersamaan yang hangat. Kami belajar mendengarkan cerita kehidupan, harapan, serta persiapan spiritual Ibu Analiyawati dalam menyambut perjalanan suci ke Tanah Suci. Interaksi ini mengingatkan kami bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga pada empati, komunikasi, dan pendampingan manusiawi. Bagi kami sebagai mahasiswa, pengalaman ini menjadi pembelajaran nyata tentang pendekatan promotif dan preventif dalam kesehatan haji. Pendampingan sederhana seperti mengajak jalan pagi dapat memberikan dampak besar bagi kesiapan fisik dan mental calon jamaah.
ADINDA DEVANDY
Di hari terakhir kami kunjungan ini yang paling berkesan. Kami di ajarkan banyak sekali kisah dan pelajaran hidup dari Bapak asep dan Bu Faridah. Setelah dilakukan tes kesehatan, Post test kita lanjutkan dengan berjalan pagi sekaligus makan bersama. Benar-benar pengalaman yang indah, terimakasih bapak ibu.
ROHMATUL KAMILAH
Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 09 UIN Malang tidak hanya berpartisipasi dalam kegiatan kajian di Masjid An-Nur, tetapi juga melakukan evaluasi terhadap sistem pelaksanaan kajian yang selama ini berjalan. Evaluasi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pengembangan kegiatan keagamaan serta peningkatan partisipasi jamaah masjid. Kegiatan evaluasi tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan jumlah jamaah yang hadir pada setiap kajian. Dalam beberapa kesempatan, jumlah jamaah terlihat cukup banyak, namun pada waktu lain cenderung menurun. Hal ini mendorong tim KKM untuk mengamati, mencatat, dan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kehadiran jamaah, baik dari segi waktu pelaksanaan, tema kajian, metode penyampaian, maupun sarana pendukung lainnya. Mahasiswa KKM 09 juga berdiskusi langsung dengan pengurus masjid dan sebagian jamaah untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh. Dari hasil pengamatan sementara, diketahui bahwa minat jamaah sangat dipengaruhi oleh relevansi tema kajian dengan kebutuhan masyarakat, kenyamanan pelaksanaan, serta penyebaran informasi kegiatan yang belum maksimal. Selain mengidentifikasi permasalahan, mahasiswa KKM juga menyusun beberapa usulan upaya untuk meningkatkan partisipasi jamaah. Di antaranya adalah pengemasan tema kajian yang lebih kontekstual, penyesuaian waktu pelaksanaan agar lebih sesuai dengan aktivitas warga, serta optimalisasi media informasi masjid untuk mengumumkan jadwal kajian secara lebih luas. Takmir Masjid An-Nur menyambut baik langkah evaluasi yang dilakukan oleh mahasiswa KKM. “Kami sangat mengapresiasi kepedulian mahasiswa KKM yang tidak hanya ikut kegiatan, tetapi juga membantu kami melihat apa yang perlu diperbaiki. Evaluasi seperti ini penting agar kajian di masjid bisa terus berkembang dan semakin diminati jamaah,” ujar Takmir Masjid An-Nur. Lebih lanjut, beliau juga menegaskan bahwa masukan dari mahasiswa KKM akan menjadi bahan pertimbangan pengurus masjid dalam memperbaiki sistem kajian ke depan. Dengan adanya evaluasi ini, diharapkan kegiatan kajian di Masjid An-Nur dapat berjalan lebih efektif, menarik lebih banyak jamaah, serta semakin memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan keagamaan masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM 09 UIN Malang berharap dapat berkontribusi tidak hanya dalam pelaksanaan program, tetapi juga dalam peningkatan kualitas pengelolaan kegiatan masjid. Sinergi antara mahasiswa dan pengurus masjid diharapkan mampu menciptakan suasana kajian yang lebih hidup, partisipatif, dan berkelanjutan bagi seluruh jamaah
SITI A`ISYAH HAKIM
MALANG – Di era digital saat ini, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah fisik, tetapi juga sebagai pusat peradaban yang harus mampu menjangkau jamaah lintas generasi. Semangat inilah yang dibawa oleh mahasiswa KKM 09 UIN Malang saat menjalankan program pengabdian di Masjid An-Nur. Melihat potensi syiar yang besar namun terkendala saluran komunikasi, kelompok yang tergabung dalam tim Karsa Nawasena ini mengambil langkah progresif dengan melakukan digitalisasi total informasi masjid. Sebelumnya, kehadiran Masjid An-Nur di jagat maya sempat vakum akibat akun-akun media sosial lama yang tidak terurus, bahkan beberapa di antaranya telah kehilangan akses masuk. Menyadari hambatan tersebut, mahasiswa KKM bergerak melakukan revitalisasi digital secara menyeluruh. Langkah ini diawali dengan pembuatan email resmi sebagai fondasi administrasi digital masjid, yang kemudian diikuti dengan aktivasi multi-platform melalui pembuatan akun baru di Instagram, Facebook, dan TikTok. Tidak sekadar membuat akun, tim juga memastikan adanya penyebaran konten. Tim KKM secara rutin merancang dan mengunggah pamflet jadwal kajian sehingga memudahkan jamaah untuk menyimpan dan membagikan jadwal tersebut melalui grup WhatsApp. Selain itu, setiap rangkaian acara besar di masjid kini didokumentasikan dalam bentuk video recap kegiatan. Video kilas balik ini merangkum esensi acara dengan kemasan yang dinamis, memberikan apresiasi kepada jamaah yang hadir sekaligus memperlihatkan transparansi serta keaktifan kegiatan masjid kepada publik. "Kami ingin Masjid An-Nur lebih dekat dengan pemuda. Dengan hadirnya pamflet dan video recap yang menarik di media sosial, syiar Islam bisa menyelinap masuk ke sela-sela beranda ponsel mereka dalam bentuk yang menarik namun tetap edukatif," ujar tim PDD KKN 09 UIN Malang. Transformasi ini mengubah wajah Masjid An-Nur dari yang semula hanya dikenal melalui pengumuman pengeras suara, kini merambah ke layar gadget jamaah secara visual. Puncak dari inovasi ini adalah peluncuran aplikasi E-Masjid An-Nur. Aplikasi ini diciptakan untuk mengintegrasikan seluruh layanan masjid dalam satu genggaman, mulai dari transparansi laporan keuangan, jadwal petugas jumat, hingga akses langsung ke konten dakwah. Kehadiran aplikasi ini menandai lompatan besar Masjid An-Nur dalam pengelolaan manajemen masjid yang berbasis teknologi informasi. Untuk memperluas jangkauan syiar, tim KKM 09 UIN Malang juga membangun sinergi yang kuat dengan akun media sosial kelompok sendiri, Karsa Nawasena. Strategi yang dijalankan meliputi pengadaan live report untuk menyiarkan momen-momen penting secara langsung, sehingga jamaah yang berhalangan hadir tetap dapat merasakan atmosfer kegiatan di masjid. Langkah ini disambut hangat oleh takmir dan jamaah setempat. Digitalisasi ini dinilai sebagai jembatan penting untuk menyatukan jamaah sepuh dengan generasi z yang sangat aktif di media sosial. Dengan adanya wajah baru di media sosial, Masjid An-Nur kini siap bertransformasi dari sekadar mimbar fisik menuju mimbar digital yang inklusif dan informatif.