LAILATUL FIRDAUSIYAH
Pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) salah satunyadiisi dengan kegiatan yang menyegarkan raga sekaligus mempererat tali silaturahmi. Kami berkesempatan untuk mengadakan kegiatan Jalan Sehat bersama menuju kawasan Agrowisata setempat. Keakraban di Tengah Hamparan Hijau Tak hanya sekadar berjalan kaki, momen ini menjadi ruang bagi kami, para mahasiswa, untuk berinteraksi lebih dekat dengan Calon Jamaah Haji. Sambil menikmati udara pagi yang masih bersih dan pemandangan gunung yang memukau, kami berbincang santai mengenai kegiatan setiap hari yang dilakukan oleh Calon jamaah haji. Membangun Kedekatan, Menciptakan Kenangan Melihat senyum dari Calon Jamaah Haji setelah melakukan kegiatan membuat lelah jadi tak terasa. Kami percaya bahwa pengabdian yang baik dimulai dari kedekatan emosional yang tulus. Agrowisata ini bukan hanya soal pemandangan, tapi tentang bagaimana kami belajar menghargai harmoni antara manusia dan alam.
MUHAMMAD SALMAN ROFIUDDIN
Pelaksanaan ibadah haji bukan hanya menuntut kesiapan spiritual, tetapi juga kesiapan fisik dan kesehatan yang optimal. Konsep istithaah dalam konteks kesehatan menjadi salah satu syarat penting agar jamaah mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan aman dan khusyuk. Hal inilah yang menjadi fokus program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang saya jalani, khususnya dalam upaya meningkatkan pemahaman kesehata n pada calon jamaah haji di tingkat keluarga. Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama KKM adalah ketika saya melakukan edukasi kesehatan terkait hipertensi kepada seorang calon jamaah haji. Edukasi ini dilakukan secara langsung di rumah, menggunakan media poster edukatif agar pesan kesehatan dapat tersampaikan dengan lebih sederhana dan mudah dipahami. Pada awal kegiatan, saya memulai dengan menjelaskan dasar-dasar tekanan darah, termasuk angka normal tekanan darah serta batasan yang digunakan untuk mendiagnosis hipertensi. Penjelasan ini menjadi penting karena masih banyak masyarakat yang menganggap tekanan darah tinggi hanya sebagai “penyakit biasa” tanpa memahami risikonya, terutama dalam konteks ibadah haji yang menuntut aktivitas fisik tinggi dan kondisi lingkungan ekstrem. Saat proses pengukuran tekanan darah dilakukan, didapatkan hasil yang relatif tinggi. Namun, setelah dilakukan anamnesis sederhana dan diskusi lebih lanjut, muncul dugaan bahwa kondisi tersebut mengarah pada white coat hypertension. Saya kemudian menjelaskan bahwa white coat hypertension adalah kondisi di mana tekanan darah seseorang meningkat saat diperiksa oleh tenaga kesehatan atau dalam situasi yang menimbulkan rasa cemas, sementara pada kondisi sehari-hari tekanan darahnya bisa berada dalam batas normal. Penjelasan ini penting untuk mengurangi kecemasan pasien sekaligus mencegah kesalahpahaman bahwa setiap hasil tekanan darah tinggi selalu berarti hipertensi menetap. Setelah menjelaskan konsep white coat hypertension, saya melanjutkan edukasi dengan menekankan pentingnya pemantauan tekanan darah secara berkala di rumah serta tidak hanya bergantung pada satu kali pengukuran. Dalam konteks calon jamaah haji, pemahaman ini sangat krusial karena status kesehatan akan sangat memengaruhi kelayakan (istithaah) serta keamanan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Bagian terpenting dari edukasi ini adalah pemberian rekomendasi gaya hidup. Saya menjelaskan bahwa meskipun white coat hypertension bukan hipertensi kronis, kondisi ini tetap menjadi faktor risiko terjadinya hipertensi di kemudian hari. Oleh karena itu, perubahan gaya hidup menjadi langkah pencegahan utama. Saya menyampaikan pentingnya menjaga pola makan rendah garam, mengurangi konsumsi makanan berlemak, memperbanyak asupan sayur dan buah, serta menjaga berat badan ideal. Selain itu, aktivitas fisik ringan dan teratur seperti berjalan kaki juga sangat dianjurkan, terutama sebagai persiapan fisik menjelang ibadah haji. Tidak kalah penting, saya juga menjelaskan faktor-faktor yang perlu dihindari, seperti kebiasaan merokok, konsumsi kafein berlebihan, kurang tidur, serta stres emosional yang tidak terkelola. Dalam diskusi tersebut, saya menekankan bahwa ketenangan psikologis memiliki pengaruh besar terhadap tekanan darah, sehingga pengelolaan stres melalui pendekatan spiritual dan sosial juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan. Melalui pengalaman ini, saya menyadari bahwa edukasi kesehatan di tingkat keluarga memiliki dampak yang sangat nyata. Intervensi sederhana berupa komunikasi yang baik, penjelasan yang mudah dipahami, dan pendekatan yang empatik mampu meningkatkan kesadaran calon jamaah haji terhadap kondisi kesehatannya sendiri. Program KKM ini tidak hanya menjadi sarana pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi pembelajaran berharga bagi saya sebagai mahasiswa kesehatan tentang pentingnya peran edukasi preventif dalam menjaga istithaah jamaah haji. Pengalaman ini menguatkan keyakinan saya bahwa keberhasilan ibadah haji tidak hanya ditentukan oleh kesiapan spiritual, tetapi juga oleh kesiapan fisik yang dijaga sejak jauh hari. Edukasi kesehatan yang tepat, berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan individu menjadi kunci dalam mewujudkan jamaah haji yang sehat, mandiri, dan siap menjalankan ibadah dengan optimal.
AINUL LUTFIYAH
Mahasiswa KKN 09 - Karsa Nawasena UIN Malang menggelar kegiatan sharing session literasi digital bersama ibu PPK di Balai RW 13 Pandanwangi pada Sabtu (04/01/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja untuk mendorong pemanfaatan media sosial Instagram sebagai sarana penyebaran informasi dan dokumentasi kegiatan PKK secara lebih aktif dan profesional. Kegiatan diawali dengan penyampaian laporan bulanan oleh masing-masing kelompok kerja (Pokja) PPK, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi bertema “How to Use Instagram” oleh mahasiswa KKN yang dikemas dalam bentuk diskusi interaktif. Selain pemaparan materi, tim KKN juga memberikan pendampingan praktik langsung kepada peserta yang mengalami kendala teknis, seperti kesulitan masuk ke akun Instagram atau lupa password. Pendampingan dilakukan secara personal agar peserta dapat langsung mempraktikkan solusi sesuai dengan permasalahan masing-masing. Antusiasme peserta terlihat jelas saat sesi diskusi berlangsung, terutama terkait keamanan digital. Salah satu peserta mengajukan pertanyaan mengenai risiko di dunia maya, “Apa saja sih dampak negatif Instagram yang harus kita waspadai agar tidak salah langkah?” Menanggapi hal itu, perwakilan mahasiswa KKN menjelaskan pentingnya penggunaan media sosial secara bijak, termasuk cara menyaring informasi hoaks dan menjaga privasi data pribadi di internet. Pada kesempatan yang sama, mahasiswa KKN turut menyampaikan beberapa program kerja yang akan dilaksanakan selama masa pengabdian guna mendorong partisipasi aktif masyarakat, khususnya ibu-ibu PPK dalam berbagai kegiatan sosial dan edukatif. Kehadiran para mahasiswa KKN mendapat apresiasi dari para kader PKK. Ibu Supadi, salah satu peserta, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas bimbingan yang diberikan. “Kami menerima adik-adik mahasiswa dengan baik di sini. Semoga program kerja yang dijalankan bisa berjalan lancar serta dimudahkan, karena ilmu digital seperti ini memang sangat kami butuhkan,” ujarnya di sela-sela kegiatan. Selain pelatihan digital, para peserta juga memberikan saran agar mahasiswa KKN mengadakan pelatihan keterampilan fisik seperti membatik untuk mendongkrak ekonomi kreatif warga. Usulan tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi mahasiswa KKN dalam menyusun dan mengembangkan program kerja lanjutan. Menutup rangkaian acara, mahasiswa dan ibu-ibu PKK melakukan sesi dokumentasi bersama yang nantinya akan diunggah ke akun Instagram PKK sebagai bentuk praktik nyata. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UIN Malang berharap dapat meningkatkan literasi digital masyarakat setempat demi terciptanya pemberdayaan masyarakat yang lebih produktif dan berkelanjutan.
SEFTY RAVIKA ANGGARANI
Bullying masih kerap dianggap sebagai candaan di lingkungan sekolah, padahal dampaknya bisa memengaruhi kondisi psikologis anak dalam jangka panjang. Berangkat dari kondisi tersebut, KKM Samudaya 107 melaksanakan program sosialisasi anti-bullying di SDN Gunungsari pada 23 Januari 2026 sebagai upaya membangun kesadaran sejak dini mengenai pentingnya lingkungan belajar yang aman dan saling menghargai. Kegiatan ini dirancang dengan pendekatan partisipatif agar siswa tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Dengan begitu, pesan yang disampaikan diharapkan lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sosialisasi diawali dengan ice breaking yang bertujuan menciptakan suasana santai dan menyenangkan. Mahasiswa KKM Samudaya 107 mengajak siswa berinteraksi melalui permainan ringan agar rasa canggung berkurang. Suasana kelas menjadi lebih hidup dan siswa terlihat lebih terbuka untuk berpartisipasi. Tahap ini menjadi bagian penting karena topik bullying termasuk isu yang sensitif. Dengan suasana yang nyaman, siswa lebih siap mengikuti sesi sosialisasi berikutnya. Setelah suasana mencair, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai bullying. Materi mencakup pengertian bullying, bentuk-bentuk bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah, serta dampaknya bagi korban maupun pelaku. Penyampaian dilakukan dengan bahasa sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa SDN Gunungsari. Dalam sesi ini, KKM Samudaya 107 menekankan bahwa bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui ejekan, pengucilan, maupun perkataan yang melukai perasaan. Siswa diajak untuk lebih peka terhadap perilaku tersebut. Sebagai penutup, kegiatan dilengkapi dengan sesi refleksi diri menggunakan sticky notes. Setiap siswa diberikan kesempatan untuk menuliskan perasaan, keresahan, atau pengalaman yang pernah dialami, termasuk jika pernah menjadi korban bullying. Siswa juga dapat menuliskan pesan positif untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman. Sticky notes kemudian ditempelkan pada papan refleksi yang telah disediakan. Tanpa mencantumkan identitas, tulisan-tulisan tersebut menjadi ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan diri secara jujur.
SERINDA FATIMAH AZZAHRA
Upaya peningkatan tata kelola aset keagamaan berbasis teknologi informasi mulai diterapkan di Masjid Al Muhajirin Dirgantara, Kecamatan Kedungkandang. Melalui peluncuran Sistem Informasi Masjid Dirgantara (SIMASDIR), mahasiswa KKM Arkadiakarsa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berupaya menghadirkan solusi digital atas kebutuhan pendataan dan pengelolaan inventaris masjid. Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus takmir, remaja masjid, serta tokoh masyarakat setempat. Berlangsung di lingkungan masjid, acara peluncuran SIMASDIR menjadi ruang interaksi antara mahasiswa dan masyarakat dalam membahas pentingnya pengelolaan aset umat yang tertib, transparan, dan berkelanjutan. Mahasiswa KKM secara langsung mendampingi para pengurus dalam mengenal dan mencoba sistem yang dikembangkan. Digitalisasi sebagai Solusi Pengelolaan Aset SIMASDIR dikembangkan dengan semangat “Digitalisasi Aset untuk Kemaslahatan Umat”. Sistem ini lahir dari hasil pengamatan mahasiswa terhadap proses pendataan inventaris masjid yang sebelumnya masih dilakukan secara manual. Cara tersebut dinilai kurang efektif karena berisiko menimbulkan kehilangan data, kesulitan pembaruan informasi, serta keterbatasan akses bagi pengurus. Sebagai solusi, SIMASDIR dirancang dalam bentuk sistem inventaris berbasis web yang dapat diakses melalui laman simasdir-inventory.vercel.app. Sistem ini memungkinkan pengurus masjid untuk memantau kondisi sarana dan prasarana ibadah secara terintegrasi dan tersimpan secara daring. Dengan demikian, proses pencatatan dan pengawasan aset dapat dilakukan secara lebih sistematis dan mudah. Penerapan QR Code pada Aset Masjid Salah satu fitur utama yang diperkenalkan dalam SIMASDIR adalah penggunaan QR Code pada setiap aset masjid. Pada sesi simulasi, pengurus takmir mempraktikkan pemindaian kode yang telah ditempelkan pada beberapa barang inventaris, seperti pendingin ruangan dan lemari penyimpanan. Hasil pemindaian menampilkan informasi detail mengenai aset tersebut, meliputi waktu perolehan, kondisi barang, serta riwayat pemeliharaan. Fitur ini dinilai mempermudah pengurus dalam melakukan pengecekan aset secara cepat dan akurat, tanpa harus membuka catatan manual. Melalui penerapan SIMASDIR, mahasiswa KKM Arkadiakarsa berharap pengelolaan aset Masjid Al Muhajirin Dirgantara dapat berjalan lebih efektif, transparan, dan akuntabel. Program ini tidak hanya menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga wujud sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menjaga serta mengoptimalkan pemanfaatan aset umat untuk jangka panjang.
FITRIYATIL UMAMI
Acara Peluncuran Website SIMANTAP dan Jumeneng Batik yang digagas oleh Kelompok KKM Aruna menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendorong digitalisasi dan pemberdayaan desa. Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Ketua Pelaksana KKM Aruna yang menyampaikan latar belakang serta tujuan utama dari peluncuran dua proyek tersebut, yaitu untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Kepala Desa Wonorejo yang mengapresiasi inisiatif Kelompok KKM Aruna dalam menghadirkan inovasi berbasis teknologi dan budaya lokal. Dukungan juga datang dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) serta perwakilan LP2M yang menegaskan bahwa program ini sejalan dengan semangat pengabdian kepada masyarakat dan implementasi ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan. Acara dilanjutkan dengan penampilan seni bela diri silat Pagar Nusa yang dibawakan oleh anak-anak MI setempat. Penampilan ini menjadi pembuka suasana yang penuh semangat sekaligus menunjukkan kekayaan budaya dan potensi generasi muda Desa Wonorejo dalam melestarikan seni tradisional. Anggota KKM Aruna (Pasa dan Fitriyatil) bersama Kepala desa memegang batik Arum Tirto Wojo (Sumber dokumentasi asli dari KKM Aruna) Memasuki sesi inti, pada sesi demo proyek batik, Pasa dan Fitriyatil memperkenalkan karya batik bertajuk Arum Tirto Wojo, sebuah motif yang sarat makna dan filosofi lokal. Nama Arum memiliki arti harum atau indah, yang melambangkan keindahan alam Desa Wonorejo serta citra baik yang terpancar dari budaya dan kehidupan masyarakatnya. Makna ini menjadi representasi harmoni antara manusia dan lingkungan yang masih terjaga hingga kini. Sementara itu, kata Tirto yang berarti air atau sungai menggambarkan peran penting aliran sungai dalam menopang kehidupan dan melancarkan sumber ekonomi masyarakat Wonorejo. Sungai tidak hanya menjadi sumber daya alam, tetapi juga bagian dari denyut kehidupan warga desa. Adapun Wojo merupakan singkatan dari nama desa, yaitu Wono dan rejo, di mana wono berarti alas atau hutan, sedangkan rejo bermakna ramai atau sejahtera. Keseluruhan makna tersebut menyatu dalam motif batik Arum Tirto Wojo sebagai simbol Wonorejo yang indah, hidup, dan penuh harapan akan kesejahteraan. Penjelasan dari anggota KKM Aruna (Iyan dan Maysa) mengenai website SIMANTAP (Sumber dokumentasi asli dari KKM Aruna) Pada sesi berikutnya, Kelompok KKM Aruna mendemonstrasikan website SIMANTAP, sebuah platform digital yang dirancang khusus untuk warga Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo. Website ini dikembangkan sebagai pusat informasi dan dokumentasi kegiatan desa yang mudah diakses oleh masyarakat. SIMANTAP memiliki berbagai menu utama, di antaranya Beranda sebagai tampilan awal informasi, Acara yang memuat agenda dan kegiatan desa, serta Sejarah yang mengulas perjalanan dan identitas Desa Wonorejo. Selain itu, website SIMANTAP juga menyediakan menu Batik sebagai ruang promosi dan pengenalan Jumeneng Batik, Lowongan Kerja untuk membantu warga memperoleh informasi peluang kerja, serta Galeri Video yang menampilkan dokumentasi visual kegiatan desa. Tidak hanya itu, tersedia pula menu Berita yang menyajikan informasi terkini seputar desa, serta Promosi UMKM dan berbagai kegiatan lainnya sebagai upaya mendukung potensi ekonomi dan kreativitas masyarakat Wonorejo. Melalui fitur-fitur tersebut, website SIMANTAP diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi, informasi, dan promosi yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam perkembangan desa berbasis digital. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang melibatkan Ketua Republik Gubuk, Ketua LP2M, serta Sekretaris Desa dan pemantiknya sendiri dari Ketua KKM Aruna. Diskusi ini menjadi ruang dialog untuk memberikan masukan, tanggapan, serta harapan terhadap keberlanjutan website SIMANTAP dan pengembangan Jumeneng Batik ke depannya. Kemudian suasana acara dibuat lebih hangat melalui penampilan nyanyi akustik yang dibawakan oleh dua perwakilan dari Kelompok KKM Belung. Iringan musik akustik yang sederhana namun penuh makna menjadi hiburan penutup yang menyegarkan setelah rangkaian diskusi dan pemaparan program. Penampilan tersebut tidak hanya menjadi selingan hiburan, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan dan kolaborasi antarkelompok KKM dalam mendukung kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran Kelompok KKM Belung melalui penampilan musik akustik ini semakin mempererat suasana kekeluargaan sebelum acara resmi ditutup. Sebagai penutup, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan harapan agar kedua proyek yang telah diluncurkan tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Melalui peluncuran SIMANTAP dan Jumeneng Batik, Kelompok KKM Aruna menunjukkan bahwa dari KKM untuk desa, langkah kecil yang dilakukan dengan kolaborasi dapat membawa dampak yang bermakna.