MAHARDHIKA WAHYU RAMADHAN
MALANG – Suasana sore di Masjid An-Nur BMW pada Jumat (23/01) terasa begitu istimewa. Sesuai dengan jadwal rutin mengaji, ratusan santri TPQ An-Nur berkumpul bukan hanya untuk menimba ilmu, melainkan untuk berkompetisi dalam "Semarak Lomba Isra Mi’raj" yang diinisiasi oleh mahasiswa KKM 09-Karsanawasena UIN Malang. Kemeriahan acara ini semakin terasa dengan kehadiran seluruh jajaran pengajar TPQ An-Nur yang turut mendampingi para santri. Para ustadz dan ustadzah tampak sigap membantu mengatur barisan dan memberikan semangat kepada anak-anak, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang kental. Meski agenda utama sore itu adalah perlombaan, esensi belajar mengaji tidak ditinggalkan. Acara dibuka dengan khidmat melalui pembacaan doa pembuka rutin TPQ dan lantunan surah-surah pendek oleh seluruh santri. Hal ini dilakukan agar keberkahan tetap menyertai kegiatan dan nilai ibadah tetap menjadi prioritas. Ibu Ida Kartini, selaku Ketua TPQ An-Nur menekankan pentingnya memulai segala sesuatu dengan Al-Qur'an. Beliau merupakan sosok di balik layar yang memberikan dukungan luar biasa, bahkan turun tangan langsung mencarikan donatur demi menyukseskan acara ini. “Sejak awal adik-adik mahasiswa memaparkan konsep lomba ini, saya langsung merasa ini adalah tawaran yang sangat menarik dan segar. Saya sangat support karena ini adalah kegiatan positif bagi anak-anak," ujar Bu Ida Setelah sesi doa bersama, suasana masjid yang tenang seketika berubah menjadi penuh energi. Anak-anak tampak sangat antusias mengikuti lomba kuis video interaktif. Sorak-sorai "Saya, Kak!" bersahutan setiap kali soal muncul di layar. Di sisi lain, para peserta lomba mewarnai nampak tekun menggoreskan krayon mereka, fokus menciptakan karya terbaik di bawah pengawasan para pengajar. Lomba ini dibagi menjadi dua kategori besar untuk menyesuaikan jenjang usia para santri. Lomba mewarnai diikuti dengan penuh ceria oleh santri kategori TK hingga kelas 3 SD. Mereka tampak fokus menggoreskan krayon, mengubah kertas putih menjadi karya visual bertema islami yang indah. Lomba kuis video interaktif menjadi ajang adu kecerdasan bagi santri kelas 4 SD hingga jenjang SMP. Suasana kompetisi di kategori ini sa.ngat dinamis, terutama saat babak rebutan yang menguji kecepatan dan ketepatan wawasan mereka seputar peristiwa Isra Mi'raj. Puncak keseruan terjadi saat penghujung acara, yaitu sesi pengumuman juara. Suasana masjid yang tadinya riuh berubah menjadi penuh rasa penasaran. Para santri tampak sangat penasaran dan antusias, mereka saling berbisik dan menebak-nebak siapa yang akan membawa pulang hadiah. Ketegangan berubah menjadi sorak sorai bahagia saat satu per satu nama pemenang dipanggil ke depan. Tidak hanya yang menang, seluruh santri tetap memberikan tepuk tangan meriah bagi teman-temannya yang berhasil meraih juara. Kolaborasi antara mahasiswa KKM 09 Karsanawasena dan para pengajar TPQ An-Nur ini membuktikan bahwa sinergi yang baik dapat menghidupkan syiar agama yang kreatif tanpa menghilangkan jati diri sebagai tempat belajar Al-Qur'an.
DEVY ROSYANA
Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) menjadi sarana pembelajaran sekaligus pengabdian bagi kami, Kelompok 9 yang terdiri dari Devy, Danial, Doni, Tiara, dan Syitah. Melalui kegiatan ini, kami melaksanakan pendampingan kepada Calon Jamaah Haji (CJH) sebagai bentuk ikhtiar membantu mereka mempersiapkan diri secara fisik, mental, dan spiritual agar mampu melaksanakan ibadah haji dengan baik serta meraih predikat haji yang mabrur. Salah satu kegiatan pendampingan yang paling berkesan adalah kunjungan ke kediaman Bapak Al-Musta'in. Dalam kunjungan tersebut, kami tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga membangun komunikasi yang hangat dan penuh empati. Pendampingan ini tidak semata-mata berfokus pada penyampaian materi, melainkan juga pada proses kebersamaan. Melalui interaksi yang terjalin, kami menyadari bahwa kesiapan menjadi jamaah haji tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh ketenangan batin, pemahaman terhadap ibadah, serta dukungan dari lingkungan sekitar. Selain kegiatan pendampingan, pengalaman lain yang tak kalah berkesan selama KKM adalah kegiatan jogging atau jalan pagi bersama teman-teman KKM dan Bapak Al Mustain. Kegiatan ini bukan hanya tentang berolahraga, tetapi juga menjadi sarana menikmati keindahan alam dan suasana Kota Batu, khususnya di wilayah Sisir. Selama jogging, kami melewati jalan-jalan dengan pemandangan yang indah, udara yang sejuk, serta suasana yang tenang. Meski terasa melelahkan, rasa capek tersebut terbayar dengan panorama alam yang jarang kami jumpai dalam keseharian. Kegiatan ini juga menambah wawasan kami mengenai lingkungan sekitar, terutama terkait tanaman dan kebun milik warga. Kami melihat berbagai jenis tanaman seperti bunga mawar, seledri, kubis, daun bawang, jagung, dan brokoli. Pengalaman sederhana ini justru memberikan pengetahuan baru dan kesan tersendiri. Tidak hanya itu, kami juga diperkenalkan dengan beberapa tempat menarik di sekitar lokasi, termasuk kafe dan vila milik anak dari Bapak Al Mustain, yang semakin memperkaya pengalaman kami selama berada di lokasi KKM. Melalui rangkaian kegiatan KKM ini, kami belajar bahwa peran mahasiswa di tengah masyarakat adalah sebagai pendamping dan mitra, bukan sekadar pelaksana program. Pendampingan kepada Calon Jamaah Haji menjadi wujud kontribusi kecil kami dalam membantu Bapak Al-Musta'in agar dapat menunaikan ibadah haji dengan lancar, khusyuk, dan memperoleh haji yang mabrur.
ALI MOHAMED YOUSIF OSMAN
Kegiatan gotong royong merupakan wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan sekaligus sarana mempererat kebersamaan. Semangat ini terus dijaga oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN melalui kegiatan gotong royong rutin yang dilaksanakan setiap hari Minggu. Program ini menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus upaya menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman. Setiap Minggu pagi, mahasiswa KKM berkumpul untuk membersihkan area sekitar pemukiman. Dengan peralatan sederhana seperti sapu dan tempat sampah, mereka membagi tugas secara sukarela. Ada yang menyapu halaman, mengumpulkan daun kering, hingga merapikan lingkungan sekitar. Kerja sama yang baik membuat kegiatan berjalan lancar dan efisien. Suasana gotong royong berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Para mahasiswa saling membantu dan berinteraksi dengan warga sekitar. Kehadiran mereka menjadi contoh bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama. Selain menghasilkan lingkungan yang lebih rapi, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup bersih. Bagi mahasiswa, gotong royong menjadi media pembelajaran karakter. Mereka belajar tentang disiplin, kerja sama tim, serta tanggung jawab sosial. Pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa kontribusi kecil yang dilakukan bersama dapat membawa perubahan positif. Melalui kegiatan rutin ini, mahasiswa KKM UIN menunjukkan komitmen untuk terus berperan aktif di tengah masyarakat. Gotong royong tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan. Diharapkan semangat ini dapat terus tumbuh dan menginspirasi masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan keharmonisan lingkungan.
MARSHEILA FITHRI AISYAH NURAHMANI
Usaha untuk meningkatkan kesehatan dan kebersamaan masyarakat terus dilaksanakan melalui kegiatan yang bersifat partisipatif serta edukatif. Salah satu bentuknya adalah program kerja Divisi Sosial KKM Kelompok 76 yang melibatkan kegiatan senam bersama warga Desa Bunutwetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong penerapan gaya hidup sehat serta memperkuat hubungan sosial antara mahasiswa KKM dan masyarakat lokal. Senam bersama dilaksanakan dua kali, yaitu pada 11 Januari dan 25 Januari 2026. Acara ini dapat diikuti oleh masyarakat luas dan melibatkan berbagai golongan, dari para ibu, remaja, hingga anak-anak, yang mencerminkan semangat dan keterlibatan aktif dari warga Desa Bunutwetan. Pelaksanaan senam dipimpin secara langsung oleh mahasiswa KKM Kelompok 76 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Gerakan senam yang dipilih memiliki karakteristik ringan, dinamis, dan mudah diikuti oleh semua peserta, sehingga dapat dilaksanakan oleh beragam kelompok usia. Mahasiswa KKM juga memiliki peran dalam mengatur jalannya kegiatan agar terlaksana dengan tertib, aman, dan menyenangkan. Sebagai wujud penghargaan dan usaha untuk mengangkat semangat partisipasi masyarakat, pada pelaksanaan senam yang berlangsung pada 25 Januari 2026, diadakan pembagian doorprize setelah sesi kegiatan selesai. Hadiah undian yang diberikan berupa peralatan rumah tangga, yang disambut antusias oleh peserta senam dan menambah keceriaan suasana kegiatan. Dengan kegiatan senam bersama ini, masyarakat diajak untuk menjaga kebugaran fisik melalui aktivitas jasmani, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dan interaksi sosial antara mahasiswa KKM dan komunitas desa. Aktivitas ini juga berfungsi sebagai cara untuk menanamkan pemahaman tentang pentingnya melakukan olahraga secara teratur sebagai bagian dari pola hidup sehat. Seluruh rangkaian aktivitas memperoleh tanggapan yang baik dari masyarakat Desa Bunutwetan. Masyarakat menginginkan agar kegiatan senam bersama dapat terus diadakan secara berkelanjutan karena dianggap memberikan manfaat bagi kesehatan dan sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan desa.
NADYA SALSABILA SETIAWAN
Setiap perjalanan besar selalu memiliki titik mula, dan bagi kami, titik itu bermula di sebuah ruang pertemuan sederhana yang penuh kehangatan. Foto ini bukan sekadar dokumentasi formal pertemuan pertama kami; bagi kami, inilah momen "Where stories began". Di sinilah kami dipertemukan dengan sosok inspiratif, Bapak Husni, seorang calon jamaah haji berusia 63 tahun yang kehadirannya langsung mengubah perspektif kami tentang makna KKM HIPE ini. Awalnya, kami mengira tugas kami di sini hanya untuk memberikan informasi dan edukasi kesehatan bagi para calon jamaah. Namun, pertemuan dengan Pak Husni membuktikan sebaliknya. Beliau seperti "buku kehidupan" yang berjalan. Dengan rendah hati, beliau membagikan kepingan-kepingan masa lalunya yang luar biasa. Dari Perjuangan Menuju Kesuksesan Pak Husni bercerita tentang masa kecilnya yang jauh dari kata mudah. Hidup dalam kekurangan dan sempat dipandang sebelah mata bahkan oleh lingkungan terdekatnya, tidak membuat semangatnya padam. Dengan tekad, beliau berani mengambil keputusan besar: merantau ke luar negeri. Modal yang dibawa pun tidak main-main pengorbanannya, yakni hasil menjual sapi-sapi miliknya. Kerja keras dan ketekunan di negeri orang akhirnya membuahkan hasil manis. Beliau membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan dan kesuksesan, hingga akhirnya beliau berhasil menjadi lulusan Universitas Terbuka dan menjadi sosok yang mapan seperti sekarang. Ilmu di Luar Teori Bangku Kuliah Tak hanya soal motivasi hidup, diskusi kami berkembang jauh hingga ke dunia profesional. Beliau membagikan wawasannya mengenai dunia kerja dan bidang kefarmasian, topik yang sangat relevan bagi kami. Mengingat beliau memiliki pengalaman mengelola rumah sakit. Nasehat-nasehat praktis yang beliau berikan terasa jauh lebih bermakna karena lahir dari pengalaman nyata, bukan sekadar teori di atas kertas. Pertemuan pertama ini menyadarkan kami bahwa KKM HIPE adalah jembatan dua arah. Kami datang untuk mengabdi, namun justru kami yang pulang dengan bekal ilmu yang melimpah. Pengalaman Pak Husni mengajarkan kami bahwa setiap interaksi dengan jamaah adalah peluang untuk belajar tentang ketangguhan, iman, dan kerja keras. Kami sadar, perjalanan ini masih panjang, namun inspirasi dari Pak Husni telah menjadi fondasi yang kuat bagi kami untuk menjalani hari-hari ke depan dengan lebih bersemangat. "The only source of knowledge is experience." Albert Einstei
ARTI MAR`ATUL HAQ
Pagi itu di tengah suasana pengabdian yang penuh makna, Mahasiswa KKM Kelompok 22 melangkah dengan niat tulus menuju Madrasah Diniyah Abul Yatama, sebuah oase kasih sayang yang terletak di bawah naungan Masjid Agung Jami’ Malang. Hari itu bukan sekadar hari kunjungan biasa, melainkan sebuah momen refleksi agung bagi para mahasiswa dan adik-adik yatim untuk bersama-sama memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peringatan Isra Mi’raj tahun ini terasa begitu menyentuh hati. Jika biasanya acara peringatan dilakukan di gedung-gedung besar, Kelompok 22 memilih untuk merayakannya di tengah keluarga besar Abul Yatama. Acara dibuka dengan sholat sunnah Dhuha, pembacaan Istigosah, dilanjut Maulid Diba', dan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an oleh mahasiswa KKM Kelompok 22. Suaranya yang jernih dan tulus seolah membawa keteduhan, mengingatkan semua yang hadir pada peristiwa perjalanan malam Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga menembus Sidratul Muntaha. Inti dari peringatan ini adalah penyampaian nilai-nilai Isra Mi’raj yang dikemas secara interaktif oleh mahasiswa Kelompok 22. Tidak hanya sekadar ceramah searah, para mahasiswa mengajak adik-adik Abul Yatama berdialog mengenai hikmah terbesar Isra Mi’raj, yaitu perintah shalat lima waktu. Para mahasiswa menekankan pesan bahwa sebagaimana Rasulullah mendapatkan kekuatan setelah "Tahun Kesedihan" melalui peristiwa Isra Mi'raj, maka shalat dan kesabaran adalah kekuatan utama bagi setiap mukmin. Pesan ini disampaikan untuk memotivasi mereka bahwa meski tumbuh dalam keterbatasan fisik tanpa orang tua yang lengkap, mereka adalah anak-anak istimewa yang selalu berada dalam penjagaan Allah SWT. Setelah sesi materi spiritual, suasana khidmat berubah menjadi hangat dan penuh tawa. Kelompok 22 menyisipkan kegiatan kuis Islami seputar sejarah Nabi dan pemberian apresiasi kecil-kecilan. Senyum merekah di wajah anak-anak Abul Yatama, menghapus sekat antara mahasiswa yang sedang mengabdi dan anak-anak yang sedang mendamba kasih sayang. Bagi Kelompok 22, merayakan Isra Mi’raj di Abul Yatama memberikan pelajaran yang tak akan didapatkan di bangku perkuliahan. Mereka belajar bahwa "naik" menuju derajat yang lebih mulia (Mi'raj) dalam kehidupan sosial hanya bisa dicapai dengan cara memuliakan mereka yang dicintai oleh Rasulullah, yaitu anak-anak yatim. Peringatan ini berakhir dengan memberikan voucher uang, menyisakan kenangan indah di hati setiap orang. Kelompok 22 pulang dengan membawa semangat baru-semangat untuk terus menjaga ibadah shalat dan semangat untuk menyelesaikan sisa masa KKM dengan pengabdian yang lebih tulus. Karena bagi mereka, perjalanan KKM ini adalah "Isra" kecil mereka menuju kebermanfaatan yang nyata.