Thumbnail
4 months ago
Bekal Mengantar Kepulangan : Mahasiswa KKM 121 UIN Malang Gelar Pelatihan Pemula Sarana Jenazah di Masjid At-Taqwa

AHMAD ZIDNEY MUBAROK AS-SHOHIBIY

Majelis Dhuha Spesial berupa Pelatihan Pemula Sarana Jenazah dengan tema “Fardhu Kifayah: Bekal Mengantar Kepulangan” telah dilaksanakan oleh mahasiswa KKM Kelompok 121 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang pada Minggu, 25 Januari 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang edukasi keagamaan yang aplikatif bagi masyarakat, khususnya dalam memahami kewajiban fardhu kifayah yang kerap dianggap berat dan hanya dikuasai oleh segelintir orang. Pelatihan berlangsung di lingkungan Masjid At-Taqwa, Perumahan Bumi Tunggulwulung Indah, Kota Malang. Sejak pagi hari, suasana masjid tampak lebih ramai dari biasanya. Warga dari berbagai kalangan, baik pengurus masjid, jamaah rutin, hingga masyarakat sekitar, hadir dengan antusias untuk mengikuti kegiatan ini. Kehadiran mereka mencerminkan besarnya kebutuhan akan pemahaman yang benar mengenai perawatan jenazah sebagai bagian dari tanggung jawab sosial umat Islam. Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Asep Hidayatullah sebagai pemateri utama. Selain dikenal sebagai Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Blimbing, beliau juga merupakan Imam Masjid Sabilillah Kota Malang yang berpengalaman dalam pembinaan keagamaan di tengah masyarakat. Dalam pemaparannya, Ustadz Asep menjelaskan konsep dasar fardhu kifayah, mulai dari pengertian, hukum, hingga urgensinya dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menekankan bahwa fardhu kifayah bukan sekadar kewajiban yang bisa diabaikan ketika sudah ada orang lain yang melaksanakannya. Menurutnya, pemahaman dan kesiapan setiap individu tetap diperlukan agar masyarakat tidak bergantung pada satu atau dua orang saja ketika menghadapi peristiwa kematian. “Mengurus jenazah adalah bagian dari tanggung jawab bersama. Ketika kita memiliki ilmunya, maka kita telah menyiapkan diri untuk membantu sesama dengan cara yang benar dan penuh adab,” ujarnya. Lebih lanjut, Ustadz Asep menjelaskan bahwa proses perawatan jenazah bukan hanya soal teknis memandikan, mengafani, atau menguburkan, tetapi juga menyangkut sikap batin, keikhlasan, serta penghormatan terakhir kepada seorang muslim. Setiap tahapan memiliki nilai ibadah yang besar jika dilakukan dengan niat dan tata cara yang sesuai dengan tuntunan syariat. Rangkaian acara disusun secara sistematis dan mudah dipahami oleh peserta pemula. Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan dari panitia, dilanjutkan dengan penyampaian materi inti mengenai fardhu kifayah dan tata cara dasar perawatan jenazah. Setelah itu, peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan berdiskusi terkait berbagai kondisi yang sering ditemui di lapangan, seperti keterbatasan tenaga, peran keluarga, hingga kesalahan umum yang kerap terjadi karena kurangnya pengetahuan. Untuk memperkuat pemahaman, panitia juga menyelenggarakan sesi praktik singkat sebagai pengenalan awal. Melalui sesi ini, peserta dapat melihat gambaran tahapan perawatan jenazah secara langsung, mulai dari persiapan hingga prinsip-prinsip dasar yang perlu diperhatikan. Sesi praktik ini membantu peserta memahami bahwa perawatan jenazah dapat dipelajari secara bertahap dan tidak selalu sesulit yang dibayangkan. Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak di antara mereka yang aktif bertanya dan berbagi pengalaman pribadi ketika menghadapi peristiwa kematian di lingkungan sekitar. Diskusi yang terbangun menunjukkan bahwa pelatihan ini menjawab kebutuhan nyata masyarakat, terutama bagi warga yang selama ini belum pernah terlibat langsung dalam proses perawatan jenazah. Menjelang akhir acara, kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sarapan bersama antara panitia dan warga. Momen ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa KKM dan masyarakat Masjid At-Taqwa. Suasana akrab yang terbangun mencerminkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang ingin ditumbuhkan melalui kegiatan ini. Ketua panitia dari KKM Kelompok 121 menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program kerja keagamaan yang berfokus pada peningkatan literasi ibadah sosial di tengah masyarakat. Mahasiswa berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal bagi warga untuk lebih percaya diri dan siap melaksanakan kewajiban fardhu kifayah ketika dibutuhkan. Melalui Majelis Dhuha Spesial ini, mahasiswa KKM Kelompok 121 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berupaya menghadirkan program pengabdian yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memberikan bekal nyata dan berkelanjutan. Dengan adanya pelatihan pemula sarana jenazah ini, diharapkan masyarakat memiliki pengetahuan dasar dan kesiapan dalam mengantar kepulangan seorang muslim dengan cara yang benar, penuh penghormatan, serta bernilai ibadah.

Thumbnail
4 months ago
Mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 119 Lakukan Sowan ke Tokoh Masyarakat Desa Tanggung

HANIFIA LAILA HARISI

Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang - Selasa (23/12/2025), usai mengikuti upacara pelepasan pemberangkatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mahasiswa KKM Reguler Kelompok 119 langsung menuju lokasi pengabdian di Desa Tanggung. Kedatangan ini menandai dimulainya rangkaian kegiatan KKM yang akan berlangsung selama 40 hari ke depan. Setibanya di Desa Tanggung, para mahasiswa tidak langsung melaksanakan program kerja, melainkan terlebih dahulu melakukan kegiatan sowan kepada tokoh masyarakat dan perangkat desa. Kegiatan sowan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan, perkenalan, sekaligus permohonan izin atas keberadaan mahasiswa KKM selama menjalankan pengabdian di desa tersebut. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM 119 melakukan sowan kepada Ketua RT 04, Ketua RW 07, Carik Desa Tanggung, Kepala Desa Tanggung, Ibu Pamong, Bapak Ludang, serta Bapak Mudin. Sowan merupakan adat istiadat yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat, yang mencerminkan nilai sopan santun, penghargaan terhadap tokoh desa, serta upaya membangun kedekatan sosial antara pendatang dan warga. Kegiatan sowan ini disambut dengan penuh kehangatan oleh para tokoh masyarakat dan perangkat desa. Kepala Desa beserta jajaran perangkat desa menyampaikan apresiasi atas sikap mahasiswa yang mengedepankan adab dan etika dalam memulai kegiatan KKM. Hal tersebut dinilai sebagai langkah awal yang baik dalam membangun hubungan harmonis antara mahasiswa dan masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Carik Desa Tanggung menyampaikan beberapa pesan kepada mahasiswa, salah satunya dengan ungkapan, “sing kerasan ya ten mriki”, yang bermakna harapan agar mahasiswa merasa betah dan nyaman selama tinggal dan mengabdi di Desa Tanggung. Pesan tersebut memberikan kesan mendalam bagi para mahasiswa, sekaligus mencerminkan penerimaan dan perhatian masyarakat desa terhadap kehadiran mereka. Selain penyampaian pesan, beberapa tokoh yang dikunjungi juga berbagi cerita mengenai kondisi sosial masyarakat, adat istiadat yang berlaku, serta sejarah Desa Tanggung. Informasi tersebut menjadi bekal awal yang penting bagi mahasiswa KKM dalam memahami karakter dan kebutuhan desa, sehingga program kerja yang akan dilaksanakan dapat disesuaikan dengan kondisi dan nilai-nilai lokal. Melalui kegiatan sowan ini, diharapkan terjalin hubungan yang baik antara mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 119 dengan masyarakat Desa Tanggung. Dengan landasan saling menghormati dan memahami, pelaksanaan KKM diharapkan dapat berjalan lancar serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat selama masa pengabdian berlangsung.  

Thumbnail
4 months ago
Desa Tanggung Lestarikan Budaya Lokal Melalui Pertunjukan Bantengan

MUHAMMAD HAIDAR RAFFI

Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang — Pada Jumat (26/12/2025), warga Desa Tanggung menggelar pertunjukan Bantengan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal yang hingga kini masih dijaga dan diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat dan menjadi salah satu hiburan rakyat yang sarat akan nilai seni dan filosofi. Bantengan merupakan kesenian tradisional khas Jawa Timur yang menggabungkan unsur tari, musik tradisional, dan atraksi simbolik yang terinspirasi dari hewan banteng. Dalam pertunjukannya, Bantengan biasanya diiringi oleh musik gamelan sederhana seperti kendang, gong, dan kenong, serta melibatkan penari yang memerankan karakter banteng dan tokoh pendukung lainnya. Kesenian ini sering dikaitkan dengan nilai keberanian, kekuatan, kebersamaan, dan semangat juang masyarakat. Warga Desa Tanggung menilai bahwa Bantengan bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan warisan budaya yang mengandung makna filosofis mendalam. Banteng sebagai simbol utama melambangkan ketangguhan dan kekuatan rakyat kecil dalam menghadapi tantangan kehidupan. Gerakan tari yang dinamis mencerminkan perjuangan manusia dalam menjaga keseimbangan antara kekuatan fisik, spiritual, dan kebersamaan sosial. Selain nilai filosofis, Bantengan juga berperan penting dalam mengembangkan keterampilan seni warga setempat. Pertunjukan ini melibatkan banyak unsur seni, mulai dari kemampuan memainkan alat musik tradisional, menari, hingga kerja sama tim antar pelaku seni. Dengan demikian, Bantengan menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tetap mengenal dan mencintai budaya daerahnya. Menurut warga setempat, pelestarian Bantengan di Desa Tanggung merupakan bentuk komitmen masyarakat dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Kesenian ini kerap ditampilkan dalam berbagai acara desa, seperti perayaan tertentu, kegiatan adat, maupun hiburan rakyat, sebagai upaya menjaga keberlanjutan budaya lokal. Pertunjukan Bantengan yang digelar pada 26 Desember 2025 tersebut berlangsung meriah dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Warga dari berbagai kalangan tampak memadati lokasi pertunjukan untuk menyaksikan secara langsung kesenian tradisional yang menjadi kebanggaan desa. Melalui pelaksanaan kegiatan ini, masyarakat Desa Tanggung berharap kesenian Bantengan dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Tidak hanya sebagai hiburan, Bantengan diharapkan tetap menjadi simbol kebersamaan, kekuatan budaya, dan jati diri masyarakat Desa Tanggung.

Thumbnail
4 months ago
Kolaborasi Awal Tahun: Mahasiswa KKM 119 Turut Sukseskan Posyandu Desa Tanggung

FAZA TSANIYA HURIN

Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang — Sabtu (3/1/2026), mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Reguler UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 119 turut serta membantu pelaksanaan kegiatan Posyandu di Desa Tanggung. Kegiatan ini menjadi posyandu perdana yang dilaksanakan pada awal tahun 2026 dan merupakan bagian dari layanan kesehatan rutin bagi masyarakat desa. Posyandu di Desa Tanggung merupakan kegiatan berkala yang diselenggarakan setiap bulan, tepatnya pada minggu pertama, dengan sistem pelaksanaan bergilir di setiap wilayah atau tulip yang telah dibagi berdasarkan kedekatan lokasi antar-RW. Sistem ini bertujuan untuk mempermudah akses layanan kesehatan bagi seluruh warga, sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan secara berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, Posyandu melayani berbagai kelompok usia, mulai dari bayi, balita, remaja, dewasa, hingga lanjut usia (lansia). Beragam layanan kesehatan diberikan, di antaranya penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, lingkar lengan atas (LILA), lingkar perut, pemeriksaan tekanan darah, serta pengecekan kadar gula darah. Layanan ini bertujuan untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat sekaligus sebagai langkah pencegahan dini terhadap berbagai risiko penyakit. Kegiatan Posyandu tersebut dihadiri oleh para kader Posyandu Desa Tanggung, bidan desa, serta tenaga medis berupa dokter yang turut memberikan pelayanan dan pendampingan kesehatan. Selain pemeriksaan rutin, Posyandu juga menyediakan penanganan awal bagi warga yang membutuhkan. Lansia dengan kadar gula darah tinggi mendapatkan obat sesuai anjuran tenaga medis, sementara balita yang telah memasuki jadwal imunisasi memperoleh layanan imunisasi sesuai ketentuan. Sebagai bentuk perhatian terhadap gizi masyarakat, kegiatan Posyandu juga dilengkapi dengan pembagian sayuran serta makanan bergizi kepada warga yang telah melakukan pemeriksaan kesehatan. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya asupan gizi seimbang sebagai penunjang kesehatan keluarga. Mahasiswa KKM 119 menunjukkan antusiasme tinggi dalam membantu kelancaran kegiatan Posyandu. Mereka terlibat langsung dalam berbagai tahapan kegiatan, mulai dari membantu proses penimbangan dan pengukuran, melakukan pendataan warga yang telah dan belum mengikuti pemeriksaan, hingga membantu mengatur alur pelayanan agar kegiatan berjalan tertib dan efisien. Kehadiran mahasiswa KKM tersebut mendapat apresiasi dari para kader Posyandu. Para kader mengaku sangat terbantu dengan dukungan tenaga tambahan dari mahasiswa, terutama dalam mempercepat proses pelayanan dan pendataan warga. Kolaborasi ini dinilai sebagai wujud nyata sinergi antara mahasiswa dan masyarakat dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan di tingkat desa. Melalui keterlibatan dalam kegiatan Posyandu, mahasiswa KKM 119 tidak hanya menjalankan program pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam memahami dinamika pelayanan kesehatan masyarakat. Diharapkan, kerja sama yang terjalin antara mahasiswa, kader Posyandu, dan warga Desa Tanggung ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Thumbnail
4 months ago
Desa Tanggung Lestarikan Budaya Lokal Melalui Pertunjukan Bantengan

MUHAMAD KHOIRON IKHSAN

Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang — Pada Jumat (26/12/2025), warga Desa Tanggung menggelar pertunjukan Bantengan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal yang hingga kini masih dijaga dan diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat dan menjadi salah satu hiburan rakyat yang sarat akan nilai seni dan filosofi. Bantengan merupakan kesenian tradisional khas Jawa Timur yang menggabungkan unsur tari, musik tradisional, dan atraksi simbolik yang terinspirasi dari hewan banteng. Dalam pertunjukannya, Bantengan biasanya ditampilkan oleh musik gamelan sederhana seperti kendang, gong, dan kenong, serta melibatkan penari yang memerankan karakter banteng dan tokoh pendukung lainnya. Kesenian ini sering dikaitkan dengan nilai keberanian, kekuatan, kebersamaan, dan semangat juang masyarakat. Warga Desa Tanggung menilai bahwa Bantengan bukan sekedar hiburan hiburan, melainkan warisan budaya yang mengandung makna filosofis yang mendalam. Banteng sebagai simbol utama melambangkan ketangguhan dan kekuatan rakyat kecil dalam menghadapi tantangan kehidupan. Gerakan tari yang dinamis mencerminkan perjuangan manusia dalam menjaga keseimbangan antara kekuatan fisik, spiritual, dan kebersamaan sosial. Selain nilai filosofis, Bantengan juga berperan penting dalam mengembangkan keterampilan seni warga setempat. Pertunjukan ini melibatkan banyak unsur seni, mulai dari kemampuan memainkan alat musik tradisional, menari, hingga kerja sama tim antar pelaku seni. Dengan demikian, Bantengan menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tetap mengenal dan mencintai budaya daerahnya. Menurut warga setempat, pelestarian Bantengan di Desa Tanggung merupakan bentuk komitmen masyarakat dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Kesenian ini sering ditampilkan dalam berbagai acara desa, seperti perayaan tertentu, kegiatan adat, maupun hiburan rakyat, sebagai upaya menjaga kerinduan budaya lokal. Pertunjukan Bantengan yang digelar pada tanggal 26 Desember 2025 tersebut berlangsung meriah dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Warga dari berbagai kalangan tampak memadati lokasi pertunjukan untuk menyaksikan langsung kesenian tradisional yang menjadi kebanggaan desa. Melalui pelaksanaan kegiatan ini, masyarakat Desa Tanggung berharap kesenian Bantengan dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Tidak hanya sebagai hiburan, Bantengan diharapkan tetap menjadi simbol kebersamaan, kekuatan budaya, dan jati diri masyarakat Desa Tanggung.

Thumbnail
4 months ago
Mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 119 Lakukan Sowan ke Tokoh Masyarakat Desa Tanggung

BADRIYATUS SOLIKHAH

Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang - Selasa (23/12/2025), usai mengikuti upacara pelepasan pemberangkatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mahasiswa KKM Reguler Kelompok 119 langsung menuju lokasi pengabdian di Desa Tanggung. Kedatangan ini menandai dimulainya rangkaian kegiatan KKM yang akan berlangsung selama 40 hari ke depan. Setibanya di Desa Tanggung, para mahasiswa tidak langsung melaksanakan program kerja, melainkan terlebih dahulu melakukan kegiatan sowan kepada tokoh masyarakat dan perangkat desa. Kegiatan sowan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan, perkenalan, sekaligus permohonan izin atas keberadaan mahasiswa KKM selama menjalankan pengabdian di desa tersebut. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM 119 melakukan sowan kepada Ketua RT 04, Ketua RW 07, Carik Desa Tanggung, Kepala Desa Tanggung, Ibu Pamong, Bapak Ludang, serta Bapak Mudin. Sowan merupakan adat istiadat yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat, yang mencerminkan nilai sopan santun, penghargaan terhadap tokoh desa, serta upaya membangun kedekatan sosial antara pendatang dan warga. Kegiatan sowan ini disambut dengan penuh kehangatan oleh para tokoh masyarakat dan perangkat desa. Kepala Desa beserta jajaran perangkat desa menyampaikan apresiasi atas sikap mahasiswa yang mengedepankan adab dan etika dalam memulai kegiatan KKM. Hal tersebut dinilai sebagai langkah awal yang baik dalam membangun hubungan harmonis antara mahasiswa dan masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Carik Desa Tanggung menyampaikan beberapa pesan kepada mahasiswa, salah satunya dengan ungkapan, “sing kerasan ya ten mriki”, yang bermakna harapan agar mahasiswa merasa betah dan nyaman selama tinggal dan mengabdi di Desa Tanggung. Pesan tersebut memberikan kesan mendalam bagi para mahasiswa, sekaligus mencerminkan penerimaan dan perhatian masyarakat desa terhadap kehadiran mereka. Selain penyampaian pesan, beberapa tokoh yang dikunjungi juga berbagi cerita mengenai kondisi sosial masyarakat, adat istiadat yang berlaku, serta sejarah Desa Tanggung. Informasi tersebut menjadi bekal awal yang penting bagi mahasiswa KKM dalam memahami karakter dan kebutuhan desa, sehingga program kerja yang akan dilaksanakan dapat disesuaikan dengan kondisi dan nilai-nilai lokal. Melalui kegiatan sowan ini, diharapkan terjalin hubungan yang baik antara mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 119 dengan masyarakat Desa Tanggung. Dengan landasan saling menghormati dan memahami, pelaksanaan KKM diharapkan dapat berjalan lancar serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat selama masa pengabdian berlangsung.