Thumbnail
4 months ago
BANTENGAN

MOH. YOGA SYAIFULLAH FIRMANSYAH

Desa Tanggung Lestarikan Budaya Lokal Melalui Pertunjukan Bantengan Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang — Pada Jumat (26/12/2025), warga Desa Tanggung menggelar pertunjukan Bantengan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal yang hingga kini masih dijaga dan diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat dan menjadi salah satu hiburan rakyat yang sarat akan nilai seni dan filosofi. Bantengan merupakan kesenian tradisional khas Jawa Timur yang menggabungkan unsur tari, musik tradisional, dan atraksi simbolik yang terinspirasi dari hewan banteng. Dalam pertunjukannya, Bantengan biasanya diiringi oleh musik gamelan sederhana seperti kendang, gong, dan kenong, serta melibatkan penari yang memerankan karakter banteng dan tokoh pendukung lainnya. Kesenian ini sering dikaitkan dengan nilai keberanian, kekuatan, kebersamaan, dan semangat juang masyarakat. Warga Desa Tanggung menilai bahwa Bantengan bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan warisan budaya yang mengandung makna filosofis mendalam. Banteng sebagai simbol utama melambangkan ketangguhan dan kekuatan rakyat kecil dalam menghadapi tantangan kehidupan. Gerakan tari yang dinamis mencerminkan perjuangan manusia dalam menjaga keseimbangan antara kekuatan fisik, spiritual, dan kebersamaan sosial. Selain nilai filosofis, Bantengan juga berperan penting dalam mengembangkan keterampilan seni warga setempat. Pertunjukan ini melibatkan banyak unsur seni, mulai dari kemampuan memainkan alat musik tradisional, menari, hingga kerja sama tim antar pelaku seni. Dengan demikian, Bantengan menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tetap mengenal dan mencintai budaya daerahnya. Menurut warga setempat, pelestarian Bantengan di Desa Tanggung merupakan bentuk komitmen masyarakat dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Kesenian ini kerap ditampilkan dalam berbagai acara desa, seperti perayaan tertentu, kegiatan adat, maupun hiburan rakyat, sebagai upaya menjaga keberlanjutan budaya lokal. Pertunjukan Bantengan yang digelar pada 26 Desember 2025 tersebut berlangsung meriah dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Warga dari berbagai kalangan tampak memadati lokasi pertunjukan untuk menyaksikan secara langsung kesenian tradisional yang menjadi kebanggaan desa. Melalui pelaksanaan kegiatan ini, masyarakat Desa Tanggung berharap kesenian Bantengan dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Tidak hanya sebagai hiburan, Bantengan diharapkan tetap menjadi simbol kebersamaan, kekuatan budaya, dan jati diri masyarakat Desa Tanggung.

Thumbnail
4 months ago
Kolaborasi Awal Tahun: Mahasiswa KKM 119 Turut Sukseskan Posyandu Desa Tanggung

AFRINA ALIVIA INATSA

Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang — Sabtu (3/1/2026), mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Reguler UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 119 turut serta membantu pelaksanaan kegiatan Posyandu di Desa Tanggung. Kegiatan ini menjadi posyandu perdana yang dilaksanakan pada awal tahun 2026 dan merupakan bagian dari layanan kesehatan rutin bagi masyarakat desa. Posyandu di Desa Tanggung merupakan kegiatan berkala yang diselenggarakan setiap bulan, tepatnya pada minggu pertama, dengan sistem pelaksanaan bergilir di setiap wilayah atau tulip yang telah dibagi berdasarkan kedekatan lokasi antar-RW. Sistem ini bertujuan untuk mempermudah akses layanan kesehatan bagi seluruh warga, sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan secara berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, Posyandu melayani berbagai kelompok usia, mulai dari bayi, balita, remaja, dewasa, hingga lanjut usia (lansia). Beragam layanan kesehatan diberikan, di antaranya penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, lingkar lengan atas (LILA), lingkar perut, pemeriksaan tekanan darah, serta pengecekan kadar gula darah. Layanan ini bertujuan untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat sekaligus sebagai langkah pencegahan dini terhadap berbagai risiko penyakit. Kegiatan Posyandu tersebut dihadiri oleh para kader Posyandu Desa Tanggung, bidan desa, serta tenaga medis berupa dokter yang turut memberikan pelayanan dan pendampingan kesehatan. Selain pemeriksaan rutin, Posyandu juga menyediakan penanganan awal bagi warga yang membutuhkan. Lansia dengan kadar gula darah tinggi mendapatkan obat sesuai anjuran tenaga medis, sementara balita yang telah memasuki jadwal imunisasi memperoleh layanan imunisasi sesuai ketentuan. Sebagai bentuk perhatian terhadap gizi masyarakat, kegiatan Posyandu juga dilengkapi dengan pembagian sayuran serta makanan bergizi kepada warga yang telah melakukan pemeriksaan kesehatan. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya asupan gizi seimbang sebagai penunjang kesehatan keluarga. Mahasiswa KKM 119 menunjukkan antusiasme tinggi dalam membantu kelancaran kegiatan Posyandu. Mereka terlibat langsung dalam berbagai tahapan kegiatan, mulai dari membantu proses penimbangan dan pengukuran, melakukan pendataan warga yang telah dan belum mengikuti pemeriksaan, hingga membantu mengatur alur pelayanan agar kegiatan berjalan tertib dan efisien. Kehadiran mahasiswa KKM tersebut mendapat apresiasi dari para kader Posyandu. Para kader mengaku sangat terbantu dengan dukungan tenaga tambahan dari mahasiswa, terutama dalam mempercepat proses pelayanan dan pendataan warga. Kolaborasi ini dinilai sebagai wujud nyata sinergi antara mahasiswa dan masyarakat dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan di tingkat desa. Melalui keterlibatan dalam kegiatan Posyandu, mahasiswa KKM 119 tidak hanya menjalankan program pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam memahami dinamika pelayanan kesehatan masyarakat. Diharapkan, kerja sama yang terjalin antara mahasiswa, kader Posyandu, dan warga Desa Tanggung ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.  

Thumbnail
4 months ago
Mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 119 Lakukan Sowan ke Tokoh Masyarakat Desa Tanggung

DESIANA H. SOLEHA

Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang - Selasa (23/12/2025), usai mengikuti upacara pelepasan pemberangkatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mahasiswa KKM Reguler Kelompok 119 langsung menuju lokasi pengabdian di Desa Tanggung. Kedatangan ini menandai dimulainya rangkaian kegiatan KKM yang akan berlangsung selama 40 hari ke depan. Setibanya di Desa Tanggung, para mahasiswa tidak langsung melaksanakan program kerja, melainkan terlebih dahulu melakukan kegiatan sowan kepada tokoh masyarakat dan perangkat desa. Kegiatan sowan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan, perkenalan, sekaligus permohonan izin atas keberadaan mahasiswa KKM selama menjalankan pengabdian di desa tersebut. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM 119 melakukan sowan kepada Ketua RT 04, Ketua RW 07, Carik Desa Tanggung, Kepala Desa Tanggung, Ibu Pamong, Bapak Ludang, serta Bapak Mudin. Sowan merupakan adat istiadat yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat, yang mencerminkan nilai sopan santun, penghargaan terhadap tokoh desa, serta upaya membangun kedekatan sosial antara pendatang dan warga. Kegiatan sowan ini disambut dengan penuh kehangatan oleh para tokoh masyarakat dan perangkat desa. Kepala Desa beserta jajaran perangkat desa menyampaikan apresiasi atas sikap mahasiswa yang mengedepankan adab dan etika dalam memulai kegiatan KKM. Hal tersebut dinilai sebagai langkah awal yang baik dalam membangun hubungan harmonis antara mahasiswa dan masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Carik Desa Tanggung menyampaikan beberapa pesan kepada mahasiswa, salah satunya dengan ungkapan, “sing kerasan ya ten mriki”, yang bermakna harapan agar mahasiswa merasa betah dan nyaman selama tinggal dan mengabdi di Desa Tanggung. Pesan tersebut memberikan kesan mendalam bagi para mahasiswa, sekaligus mencerminkan penerimaan dan perhatian masyarakat desa terhadap kehadiran mereka. Selain penyampaian pesan, beberapa tokoh yang dikunjungi juga berbagi cerita mengenai kondisi sosial masyarakat, adat istiadat yang berlaku, serta sejarah Desa Tanggung. Informasi tersebut menjadi bekal awal yang penting bagi mahasiswa KKM dalam memahami karakter dan kebutuhan desa, sehingga program kerja yang akan dilaksanakan dapat disesuaikan dengan kondisi dan nilai-nilai lokal. Melalui kegiatan sowan ini, diharapkan terjalin hubungan yang baik antara mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 119 dengan masyarakat Desa Tanggung. Dengan landasan saling menghormati dan memahami, pelaksanaan KKM diharapkan dapat berjalan lancar serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat selama masa pengabdian berlangsung.

Thumbnail
4 months ago
Desa Tanggung Lestarikan Budaya Lokal Melalui Pertunjukan Bantengan

MUHAMAD ROFI ALFIRDAUS

Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang — Pada Jumat (26/12/2025), warga Desa Tanggung menggelar pertunjukan Bantengan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal yang hingga kini masih dijaga dan diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat dan menjadi salah satu hiburan rakyat yang sarat akan nilai seni dan filosofi. Bantengan merupakan kesenian tradisional khas Jawa Timur yang menggabungkan unsur tari, musik tradisional, dan atraksi simbolik yang terinspirasi dari hewan banteng. Dalam pertunjukannya, Bantengan biasanya ditampilkan oleh musik gamelan sederhana seperti kendang, gong, dan kenong, serta melibatkan penari yang memerankan karakter banteng dan tokoh pendukung lainnya. Kesenian ini sering dikaitkan dengan nilai keberanian, kekuatan, kebersamaan, dan semangat juang masyarakat. Warga Desa Tanggung menilai bahwa Bantengan bukan sekedar hiburan hiburan, melainkan warisan budaya yang mengandung makna filosofis yang mendalam. Banteng sebagai simbol utama melambangkan ketangguhan dan kekuatan rakyat kecil dalam menghadapi tantangan kehidupan. Gerakan tari yang dinamis mencerminkan perjuangan manusia dalam menjaga keseimbangan antara kekuatan fisik, spiritual, dan kebersamaan sosial. Selain nilai filosofis, Bantengan juga berperan penting dalam mengembangkan keterampilan seni warga setempat. Pertunjukan ini melibatkan banyak unsur seni, mulai dari kemampuan memainkan alat musik tradisional, menari, hingga kerja sama tim antar pelaku seni. Dengan demikian, Bantengan menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tetap mengenal dan mencintai budaya daerahnya. Menurut warga setempat, pelestarian Bantengan di Desa Tanggung merupakan bentuk komitmen masyarakat dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Kesenian ini sering ditampilkan dalam berbagai acara desa, seperti perayaan tertentu, kegiatan adat, maupun hiburan rakyat, sebagai upaya menjaga kerinduan budaya lokal. Pertunjukan Bantengan yang digelar pada tanggal 26 Desember 2025 tersebut berlangsung meriah dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Warga dari berbagai kalangan tampak memadati lokasi pertunjukan untuk menyaksikan langsung kesenian tradisional yang menjadi kebanggaan desa. Melalui pelaksanaan kegiatan ini, masyarakat Desa Tanggung berharap kesenian Bantengan dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Tidak hanya sebagai hiburan, Bantengan diharapkan tetap menjadi simbol kebersamaan, kekuatan budaya, dan jati diri masyarakat Desa Tanggung.

Thumbnail
4 months ago
Mahasiswa UIN Malang Bersama Warga Dusun Besuki Gelar Pengajian Umum Peringati Isra' Mi'raj

FADEL MUHAMMAD MUHTADILLAH

Menjelang penghujung tahun 2025, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang melaksanakan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Dusun Besuki, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, turut berperan aktif dalam kegiatan keagamaan bersama masyarakat setempat. Setelah kegiatan KKM resmi dibuka pada Kamis, 25 Desember 2025, di Balai Desa Wringinanom, mahasiswa KKM Kelompok 23 Armonia bersinergi dengan warga RT 24 Dusun Besuki menggelar Pengajian Umum dalam rangka memperingati Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Ketua RT 24 Dusun Besuki, Isnan, menjelaskan bahwa pengajian tersebut merupakan hasil musyawarah warga. "Pengajian umum ini diselenggarakan oleh RT 24 sebagai pengganti kemeriahan peringatan 17 Agustus yang dialihkan ke peringatan Isra' Mi'raj pada akhir tahun. Keputusan ini merupakan hasil kesepakatan bersama warga RT 24," ujar Isnan. Rangkaian kegiatan dimulai dengan kerja bakti pada Minggu, 28 Desember 2025. Mahasiswa KKM bersama warga membersihkan lingkungan dan menata area yang akan digunakan sebagai lokasi pengajian. Sinergi antara mahasiswa dan masyarakat tampak terbangun dengan baik dan terkoordinasi secara rapi. Pada Selasa pagi, 30 Desember 2025, mahasiswa KKM dan warga kembali bergotong royong menyiapkan keperluan acara, mulai dari penataan lokasi, pembuatan makanan ringan, hingga dekorasi panggung. Menjelang siang hari, sebelum acara inti dimulai, RT 24 turut menghadirkan berbagai penampilan hiburan, di antaranya drumband dari siswa SMP setempat, drumband SMK, serta pertunjukan Pencak Sakera dari paguyuban Kecamatan Poncokusumo. Antusiasme masyarakat semakin terlihat pada puncak acara, yakni Pengajian Umum Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Jamaah yang hadir tidak hanya berasal dari Dusun Besuki, tetapi juga dari wilayah sekitar. Kehadiran KH. Marzuki Mustamar sebagai penceramah utama semakin menambah daya tarik acara tersebut. Dalam tausiyahnya, KH. Marzuki Mustamar menekankan kemuliaan dan keotentikan Al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. "Al-Qur'an hingga kapan pun tidak dapat dipalsukan. Berbeda dengan kitab suci agama lain yang memiliki banyak versi dan bahasa, Al-Qur'an dihafalkan oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia. Perubahan satu kata saja akan segera diketahui. Inilah salah satu bentuk kemukjizatan Al-Qur'an," tutur KH. Marzuki Mustamar. Pengajian umum ini menjadi wujud nyata kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan sekaligus mempererat kebersamaan sosial di Dusun Besuki.    

Thumbnail
4 months ago
Mempererat Tali Silaturahmi: KKM 45 Ikuti Tradisi Tahlilan Rutin di Desa Kemiri

MUHAMMAD NAJIB ALWI

Mempererat Tali Silaturahmi: KKM 45 Ikuti Tradisi Tahlilan Rutin di Desa Kemiri Jabung, Malang – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 45 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang memulai langkah awal pengabdian mereka dengan membaur bersama masyarakat melalui kegiatan spiritual dan sosial. Pada Jumat malam lalu, tim KKM 45 berkesempatan mengikuti rutinan Tahlil warga yang diselenggarakan di rumah salah satu penduduk di Desa Kemiri, Kecamatan Jabung. Kegiatan tahlilan ini merupakan tradisi turun-temurun yang masih dijaga dengan sangat baik oleh warga setempat. Bagi kami, mahasiswa KKM 45, ini bukan sekadar menjalankan program kerja (proker), melainkan momen penting untuk "Sowan" dan memperkenalkan diri secara langsung kepada masyarakat di lingkungan yang paling akrab. Menyelami Kearifan Lokal Lewat Doa Bersama Suasana hangat menyambut kedatangan kami di salah satu rumah warga. Tanpa sekat, mahasiswa duduk bersila melingkar bersama para tokoh agama, sesepuh, dan pemuda desa. Lantunan selawat dan doa tahlil yang menggema menciptakan atmosfer yang tenang dan khidmat. Menurut kami, mengikuti rutinan ini adalah strategi terbaik untuk: Adaptasi Budaya: Memahami etika dan tata cara bersosialisasi warga Desa Kemiri. Pendekatan Personal: Mengobrol santai pasca acara doa bersama memudahkan kami untuk menyampaikan rencana program kerja ke depan. Membangun Kepercayaan: Kehadiran fisik mahasiswa di kegiatan rutin warga menunjukkan kesungguhan kami untuk menjadi bagian dari komunitas selama masa KKM. Lebih dari Sekadar Rutinitas Spiritual Bagi masyarakat Desa Kemiri, tahlilan hari Jumat bukan hanya tentang mengirim doa bagi kerabat yang telah tiada, tetapi juga menjadi wadah musyawarah warga. Di sela-sela hidangan khas pedesaan yang disajikan, kami berdiskusi ringan mengenai kondisi desa dan potensi-potensi yang bisa dikembangkan bersama. "Kami merasa sangat terhormat bisa diterima di tengah-tengah warga. Tahlilan ini adalah jembatan hati antara mahasiswa dan masyarakat agar ke depannya komunikasi kami lebih lancar," ujar salah satu perwakilan Kelompok 45. Penutup Langkah awal di Desa Kemiri ini memberikan kesan mendalam. Kami belajar bahwa pengabdian masyarakat tidak selalu dimulai dengan proyek besar, tetapi bisa dimulai dengan duduk bersama, menundukkan kepala dalam doa, dan berbagi senyum di teras rumah warga.