Thumbnail
4 months ago
Pembukaan KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang - Kelompok 84 Adimara Dampit - Sukses Dihadiri Pak Camat, Pak Lurah hingga Pak Kapolsek

FAJRYAN SYAHPUTRA

Pembukaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 84 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang berlangsung khidmat di Aula Kelurahan Dampit, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Rabu (24/12/2025) pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa UIN Malang kepada masyarakat selama kurang lebih 40 hari ke depan. Acara pembukaan tersebut diresmikan secara langsung oleh Camat Dampit, Abai Saleh. Turut hadir dalam kegiatan ini Kapolsek Dampit, Taufik, Kepala Kelurahan Dampit Bapak Adi Surasa beserta jajaran perangkat kelurahan, Ibu Hening Marhaeni selaku Bidan di Puskesmas Dampit, tokoh masyarakat, serta 15 mahasiswa yang tergabung dalam KKM Kelompok 84. Kehadiran unsur pemerintah kecamatan, kepolisian, dan kelurahan mencerminkan dukungan penuh terhadap pelaksanaan KKM sebagai bagian dari sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat.   Dalam sambutannya, Camat Dampit, Abai Saleh, menekankan pentingnya KKM sebagai sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Ia mengajak mahasiswa untuk menjadikan masyarakat sebagai ruang belajar nyata yang kaya akan pengalaman dan pengetahuan praktis.   "Belajar, belajar, dan terus belajar. Tambahi ilmu di lapangan," ujarnya.   Menurutnya, KKM tidak hanya sekadar menjalankan kewajiban akademik, melainkan juga menjadi proses pembentukan karakter, kepekaan sosial, dan tanggung jawab moral mahasiswa sebagai calon intelektual dan pemimpin masa depan. Ia berharap mahasiswa mampu mengaplikasikan teori dan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah ke dalam bentuk program-program yang bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Kelurahan Dampit.   Sementara itu, Kapolsek Dampit, Taufik, dalam arahannya mengingatkan mahasiswa agar senantiasa memperhatikan aspek keamanan dan ketertiban selama melaksanakan KKM. Ia secara khusus menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap keamanan kendaraan pribadi.   "Bagi yang membawa sepeda motor, kunci gembok itu penting. Dipasang dan dicakram untuk menghindari tindak pidana pencurian kendaraan bermotor," tegasnya.   Ia juga mengimbau mahasiswa untuk menjaga perilaku, menaati aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat, serta menjalin komunikasi yang baik dengan aparat keamanan setempat apabila menghadapi kendala selama kegiatan KKM berlangsung.   Melalui pelaksanaan KKM ini, mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang diharapkan mampu berkontribusi aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, pendidikan, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, KKM diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat, sehingga kehadiran mahasiswa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga Kecamatan Dampit.   Dengan semangat pengabdian dan kolaborasi, KKM Kelompok 84 UIN Malang diharapkan dapat menjalankan seluruh rangkaian program kerja secara optimal, beretika, dan berkelanjutan, serta meninggalkan kesan positif selama masa pengabdian di Kelurahan Dampit.

Thumbnail
5 months ago
Menilik Pola Kedisiplinan di Balik Pembelajaran TPQ Baiturrahman di Desa Pojok

MIFTACHUL JANNAH

Observasi yang dilakukan mahasiswa KKM 85 MITSEVA terhadap TPQ Baiturrahman, Desa Pojok, Kecamatan Dampit, mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat berharga. Observasi ini kami lakukan sebagai bagian dari persiapan program kerja KKM yang berkaitan dengan pengajaran TPQ. Harapannya sederhana, yakni untuk memahami kondisi lembaga agar program yang dirancang tidak sekadar masuk, tetapi juga benar-benar relevan. Namun, sejak awal kami justru dihadapkan pada satu sikap yang cukup mengejutkan, yang mana Pak Khosim selaku ketua TPQ tahun sebelumnya tidak serta-merta mengizinkan kami masuk ke pengajaran inti. Dalam perbincangan langsung dengan ketua TPQ, beliau menyampaikan alasannya dengan sangat terbuka “Kami punya metode sendiri dalam mengajar. Bukan karena tidak percaya, tapi kami tidak ingin anak-anak bingung dengan sistem pembelajaran yang berbeda,” begitu tuturnya. Kalimat itu menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa bagi TPQ Baiturrahman, konsistensi sistem jauh lebih penting daripada sekadar menambah tenaga pengajar. TPQ Baiturrahman secara khusus memfokuskan pembelajarannya pada anak usia di bawah lima tahun. Fokus utama mereka adalah bimbingan membaca Al Quran, sebuah fase awal yang sangat krusial dalam pembentukan kebiasaan dan karakter belajar anak. Menariknya, di sela pembelajaran Al Quran, terdapat PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang berfungsi sebagai pendidikan formal dasar. Di sini anak-anak mulai dikenalkan dengan keterampilan dasar, yakni pengenalan simbol-simbol awal seperti huruf abjad dan angka. Tidak hanya itu, pembelajaran juga diselingi dengan aktivitas kreatif seperti menggambar, menempel, dan kegiatan khas anak TK lainnya. Sederhananya, TPQ Baiturrahman menganut sistem TPQ yang diselipkan pendidikan formal, sehingga anak-anak memiliki bekal yang cukup matang ketika kelak memasuki jenjang Sekolah Dasar. Meskipun kami tidak diizinkan masuk ke pengajaran inti, tetapi Pak Khosim masih mempersilakan kami dengan terlibat langsung pada ruang PKBM yang berlangsung selama 30 menit. Alasannya jelas, kehadiran mahasiswa tidak akan mengganggu sistem utama TPQ, bahkan dapat memperkaya wawasan dan pengalaman belajar bagi anak-anak. Sekilas, sistem yang diterapkan TPQ Baiturrahman memang terkesan cukup ketat, bahkan bisa dianggap otoriter. Namun, dari hasil observasi kami, ketegasan itu lahir dari pemahaman mendalam terhadap dunia anak-anak. Ketua TPQ sangat memahami bahwa anak usia di bawah lima tahun berada pada fase eksplorasi aktif. Mereka tidak bisa dipaksa dengan perintah kaku seperti “sekarang baca ini” atau “lakukan itu”. Karena itu, TPQ ini memilih metode behavior, yakni pembiasaan melalui pendengaran dan peniruan. Dalam praktiknya, guru tidak banyak memberikan penjelasan teoritis. Materi atau lafaz yang dipelajari akan dibacakan oleh guru dengan suara lantang selama beberapa menit. Anak-anak kemudian diberi instruksi untuk mengikuti. Proses ini dilakukan secara konsisten. Setelah sesi membaca, guru akan mengajukan pertanyaan. Jika seorang anak belum bisa menjawab, pertanyaan dialihkan ke anak lain. Ketika anak kedua mampu menjawab, anak pertama kembali ditanya pertanyaan yang sama. “Namanya juga anak kecil,” ujar ketua TPQ. “Meniru itu lumrah. Yang penting, ke depannya mereka akan paham.” Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa belajar bagi anak-anak tidak harus selalu dimulai dari pemahaman instan, tetapi dari kebiasaan yang terus diulang. TPQ Baiturrahman sangat berpegang teguh pada kedisiplinan. Mereka memiliki target pembelajaran yang jelas. Ketika target tersebut tidak tercapai, evaluasi dilakukan secara serius. Dalam salah satu evaluasi, ditemukan bahwa kendala justru berasal dari guru yang sering terlambat masuk kelas. Dari hasil evaluasi itu, ketua TPQ langsung mengambil keputusan tegas: guru yang terlambat satu menit saja akan diminta pulang. Keputusan ini mungkin terdengar keras, tetapi bagi TPQ Baiturrahman, keterlambatan sekecil apa pun dapat merusak sistem yang sudah dibangun. Prinsip efektivitas ini juga terlihat dari kebijakan lain yang cukup unik: buku PKBM tidak diberikan kepada wali murid. Tujuannya untuk menghindari benturan metode pembelajaran antara lembaga dan orang tua di rumah. Menurut ketua TPQ, jika anak masih harus belajar ulang materi yang sama di rumah atau mengikuti les tambahan, maka lembaga tersebut belum berhasil mendidik secara efektif. “Kalau anak sudah disekolahkan tapi masih belajar hal yang sama di rumah, berarti lembaga itu gagal. Karena, yang namanya lembaga itukan hadir untuk membantu anak paham, bukannya malah membingungkan, apalagi ini anak-anak kecil yang rata-rata masih berumur tiga tahun, mereka itu masih pada fase bebas berekspresi,” tegasnya. Dari hasil observasi langsung, sistem yang diterapkan TPQ Baiturrahman menunjukkan hasil yang cukup mencengangkan. Kami menyaksikan sendiri anak-anak dengan usia yang sangat belia sudah mampu membaca ayat-ayat Al Quran dengan lancar. Memang, dari sisi tajwid serta panjang-pendek bacaan masih perlu penyempurnaan. Namun, untuk anak seusia itu, capaian tersebut sudah tergolong sangat baik jika dibandingkan dengan anak-anak seusia mereka di tempat lain. Di titik ini, kami menyadari bahwa ketegasan yang diterapkan bukanlah bentuk kekangan, melainkan strategi mendidik yang sadar akan tujuan. Observasi di TPQ Baiturrahman mengajarkan kami bahwa dalam dunia pendidikan, terutama pendidikan anak usia dini, niat baik harus berjalan beriringan dengan pemahaman sistem. Tidak semua ruang harus dimasuki, dan tidak semua metode perlu diganti. Terkadang, menjaga sistem yang sudah berjalan dengan baik justru menjadi bentuk kepedulian tertinggi terhadap tumbuh kembang anak. Dan dari TPQ Baiturrahman, kami belajar bahwa kedisiplinan jika diterapkan dengan pemahaman dan konsistensi akan dapat menjadi fondasi kuat bagi masa depan anak-anak.  

Thumbnail
5 months ago
Sinergi LPM dan Mahasiswa KKM: Bedah Krisis Sampah hingga Sanitasi di Kedung Asem

MOH. FAIZ

PROBOLINGGO, Selasa (30/12/2025) – Kelurahan Kedung Asem, Kota Probolinggo, menjadi titik fokus aksi sosial mahasiswa KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa) dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam koordinasi bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) hari ini, para mahasiswa membedah ketimpangan infrastruktur lingkungan yang cukup kontras di wilayah tersebut. Krisis Lahan Sampah: 11 RW Mengantre di Satu TPS Kelurahan Kedung Asem tercatat memiliki wilayah administratif yang cukup padat dengan 35 RT dan 11 RW. Namun, ironisnya wilayah ini hanya dilayani oleh satu unit Tempat Pembuangan Sampah (TPS) portabel yang terletak di RW 01. Ketimpangan ini memicu keprihatinan pihak LPM karena memengaruhi perilaku lingkungan warga. Perwakilan LPM mengungkapkan bahwa pengadaan TPS baru terbentur aturan aset lahan. "Sangat sulit (mencari lahan TPS). Akibatnya, masih ada warga yang membuang sampah ke sungai atau membakarnya di pekarangan," ujar pihak LPM di hadapan para mahasiswa KKM UIN Malang. Mahasiswa KKM UIN Malang Validasi Data Jamban Sehat Selain masalah sampah, mahasiswa KKM UIN Malang juga ditugaskan membantu validasi data sanitasi warga. Saat ini, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Kedung Asem baru mencakup sekitar 70-75 Kepala Keluarga (KK) dari kapasitas optimal 100 KK. Para mahasiswa akan menyisir wilayah, khususnya di RW 08, untuk mendata warga yang belum memiliki akses jamban sehat guna diusulkan mendapatkan bantuan stimulan dari Baznas. "Coba cari 10 atau 20 KK (yang belum punya jamban). Sebetulnya di Kamus itu harus 30 KK. Harapannya, nanti diusulkan bantuan. Tapi harus survei lewat RT/RW," instruksi perwakilan LPM kepada mahasiswa. Sinergi Pelayanan Publik dan Fisik Kehadiran mahasiswa KKM UIN Malang selama 40 hari di Kedung Asem tidak hanya fokus pada pendataan, tetapi juga aksi nyata lainnya seperti: Pendampingan Pelayanan: Mahasiswa akan membantu di bagian pelayanan kantor kelurahan untuk mempelajari administrasi publik sekaligus membantu warga. Peremajaan Infrastruktur: Melakukan pengecatan gapura batas wilayah antara Gedung Asem dan Gedung Galeng yang mulai kusam. Edukasi Lingkungan: Bergabung dalam kerja bakti rutin warga untuk mendorong pola hidup bersih. Melalui kolaborasi ini, diharapkan mahasiswa KKM UIN Malang dapat menjadi jembatan antara kebutuhan warga dengan kebijakan pemerintah kelurahan, terutama dalam memetakan kebutuhan mendesak akan fasilitas pembuangan sampah dan sanitasi yang layak.

Thumbnail
5 months ago
Safari Dakwah di Desa Sumberpetung, Menguatkan Iman dan Kebersamaan

ARUMINGTYAS KUSUMANING PUTRI

Malang – Kamis, 25 Desember 2025 Mahasiswa KKM 61 Catalyst menghadiri kegiatan Safari Dakwah yang diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Malang sebagai bagian dari kegiatan keagamaan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan dengan penuh kekhidmatan dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Sumberpetung, khususnya warga Desa Banduarjo, yang hadir dengan antusias mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir. Safari Dakwah ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan antara mahasiswa KKM dan masyarakat setempat. Melalui kegiatan ini, terjalin komunikasi dan silaturahmi yang baik sehingga tercipta suasana kebersamaan yang harmonis. Kehadiran mahasiswa KKM 61 Catalyst di tengah masyarakat juga menjadi wujud nyata keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan sosial-keagamaan selama menjalankan program pengabdian di desa. Ceramah utama dalam kegiatan Safari Dakwah ini mengangkat tema keutamaan puasa sunnah di bulan Rajab. Penceramah menjelaskan bahwa bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam, sehingga sangat dianjurkan bagi umat Muslim untuk memperbanyak ibadah, menjaga perilaku, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Puasa sunnah di bulan Rajab dipaparkan sebagai amalan yang memiliki nilai spiritual tinggi dan dapat menjadi sarana pembinaan diri. Selain membahas keutamaan puasa, penceramah juga mengajak masyarakat untuk menjadikan bulan Rajab sebagai waktu memperbaiki kualitas ibadah dan mempersiapkan diri dalam menyambut bulan suci Ramadan. Umat Islam dianjurkan untuk membiasakan diri melakukan amalan-amalan kebaikan seperti berpuasa, memperbanyak doa, dzikir, serta meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama. Pesan-pesan dakwah tersebut disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Bagi mahasiswa KKM 61 Catalyst, keikutsertaan dalam kegiatan Safari Dakwah ini memberikan pengalaman yang berharga, baik dari sisi keilmuan maupun spiritual. Kegiatan ini menjadi sarana refleksi diri agar mahasiswa senantiasa menjaga nilai-nilai religius dalam setiap aktivitas pengabdian kepada masyarakat. Diharapkan, ilmu dan pesan dakwah yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Sumberpetung, khususnya Desa Banduarjo.

Thumbnail
5 months ago
*Pembukaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Balai Desa Sidem Jadi Awal Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat*

DHEA NANDA PUTRI KREDANA

Kegiatan pembukaan KKM dilaksanakan pada Selasa, 24 Desember, bertempat di Balai Desa Sidem, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung. Acara ini menjadi penanda resmi dimulainya kegiatan pengabdian mahasiswa kepada masyarakat desa, sekaligus sebagai ajang perkenalan dan silaturahmi antara mahasiswa KKM dengan warga setempat. Pembukaan KKM berlangsung dalam suasana yang sederhana namun penuh kehangatan. Acara ini dihadiri oleh beberapa perwakilan perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga Desa Sidem yang menyambut kehadiran mahasiswa dengan sikap terbuka dan ramah. Kehadiran masyarakat menunjukkan dukungan terhadap pelaksanaan program KKM yang akan berlangsung selama beberapa waktu ke depan. Rangkaian acara diawali dengan doa bersama sebagai bentuk harapan agar seluruh kegiatan KKM dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat bagi semua pihak. Selanjutnya, ada sambutan dari sekertaris desa yang mewakili kepala desa yang berhalangan hadir, dan selanjutnya perwakilan mahasiswa KKM menyampaikan sambutan dengan mengungkapkan rasa terima kasih atas penerimaan yang diberikan oleh pemerintah desa dan masyarakat Desa Sidem. Mahasiswa juga menyampaikan komitmen untuk berkontribusi secara aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan selama masa pengabdian. Pada kesempatan tersebut, mahasiswa KKM memaparkan gambaran umum program kerja yang akan dilaksanakan. Program-program yang direncanakan bersifat umum dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Desa Sidem, meliputi bidang pendidikan, sosial, keagamaan, serta kegiatan pemberdayaan lingkungan. Program ini diharapkan dapat memberikan dampak positif sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat. Melalui kegiatan pembukaan ini, diharapkan terjalin kerja sama yang harmonis antara mahasiswa KKM dan masyarakat Desa Sidem. Dengan semangat kebersamaan, seluruh rangkaian program kerja KKM diharapkan dapat terlaksana dengan baik serta memberikan kontribusi positif yang berkelanjutan bagi perkembangan dan kesejahteraan masyarakat desa.

Thumbnail
5 months ago
Awal Perjalanan dari Pengabdian KKM Arthaswara 52 dan Arunika 95 Di Desa Slamparejo Resmi Digelar

MUHAMMAD IRSAL AQIQY

Pembukaan KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Desa Slamparejo Malang – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang secara resmi membuka kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) pada Selasa, 24 Desember, yang bertempat di Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Kegiatan pembukaan ini menandai dimulainya rangkaian program pengabdian kepada masyarakat yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa UIN Malang di desa tersebut. Acara pembukaan dihadiri oleh Kepala Desa Slamparejo, Wahyudi, S.H., M.M., Sekretaris Desa Slamparejo, Imam Supriyono, S.E., serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Shofil Fikri, S.S., M.Pd. Kegiatan KKM ini diikuti oleh 29 mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang tergabung dalam Kelompok 52 Arthaswara dan Kelompok 95 Arunika, dengan komposisi 18 mahasiswi dan 11 mahasiswa. Dalam sambutannya, Kepala Desa Slamparejo menyampaikan apresiasi atas kepercayaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam menjadikan Desa Slamparejo sebagai lokasi pelaksanaan KKM. Ia berharap para mahasiswa mampu beradaptasi dengan kondisi sosial dan karakteristik wilayah desa, khususnya yang berdampingan dengan kawasan peternakan sapi, sehingga program yang dijalankan dapat selaras dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat. Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Shofil Fikri, S.S., M.Pd., menegaskan pentingnya pelaksanaan KKM sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Ia berharap mahasiswa dapat menjalankan seluruh program kerja secara bertanggung jawab, menjunjung tinggi etika akademik, serta membangun sinergi yang konstruktif dengan pemerintah desa dan masyarakat. Melalui kegiatan pembukaan ini, mahasiswa Kelompok 52 Arthaswara dan Kelompok 95 Arunika secara resmi memulai pelaksanaan KKM di Desa Slamparejo. Diharapkan keberadaan mahasiswa dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan masyarakat desa sekaligus menjadi wahana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan.