MOH MUZAKKI ALAMSYAH
Di Dusun Baran Bendo, kegiatan bimbingan belajar (bimbel) hadir sebagai ruang sederhana yang sarat makna. Kegiatan ini dilaksanakan di salah satu rumah warga, memanfaatkan fasilitas yang ada dengan penuh kesadaran dan kebersamaan. Bimbel dibagi ke dalam dua waktu pembelajaran, yakni sore hari untuk kegiatan membaca Al-Qur’an dan malam hari untuk pembelajaran umum. Meski berlangsung secara sederhana, suasana belajar yang tercipta terasa hangat, akrab, dan dipenuhi semangat kebersamaan antara anak-anak dan para pendamping. Pada sesi sore, anak-anak berkumpul untuk belajar membaca Al-Qur’an. Kemampuan mereka beragam; sebagian sudah cukup lancar membaca dan bahkan menghafal surah-surah pendek dalam Juz 30, sementara sebagian lainnya masih berada pada tahap awal mengenal huruf hijaiyah. Proses pembelajaran dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. Tidak ada tekanan ataupun paksaan, melainkan dorongan yang lembut agar anak-anak berani mencoba, tidak takut salah, dan terus menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Ketika malam tiba, kegiatan bimbel dilanjutkan dengan pembelajaran umum seperti membaca, menulis, dan berhitung. Anak-anak kembali hadir dengan antusias yang sama, meskipun sebagian dari mereka masih mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis. Keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang, justru menjadi titik awal untuk belajar bersama. Untuk menjaga semangat dan fokus anak-anak, pembelajaran sering diselingi dengan berbagai permainan edukatif yang membuat suasana belajar lebih hidup dan menyenangkan. Dari situ terlihat jelas keinginan anak-anak untuk terus mencoba dan tidak menyerah, meskipun harus memulai dari dasar. Hal yang membuat kegiatan bimbel di Dusun Baran Bendo terasa istimewa adalah antusiasme anak-anak yang begitu tulus. Mereka datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu, aktif bertanya, dan berusaha mengikuti setiap arahan yang diberikan. Proses belajar memang tidak selalu berjalan mulus, namun dari setiap kesalahan, percobaan, dan tawa yang muncul, perlahan terlihat perkembangan dalam diri anak-anak, baik dari segi kemampuan maupun sikap belajar. Bimbingan belajar di Dusun Baran Bendo pada akhirnya bukan hanya tentang penyampaian materi pelajaran. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk menumbuhkan keberanian, kepercayaan diri, kedisiplinan, dan kebiasaan belajar yang positif. Bimbel sederhana ini menjadi tempat tumbuh bersama, di mana anak-anak belajar bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berusaha. Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat belajar anak-anak Dusun Baran Bendo dapat terus tumbuh dan menjadi bekal berharga bagi masa depan mereka
AHID FATTAH ATH THORIQ
Pelepasan KKM 2025: Langkah Awal Argantara dalam Pengabdian Nyata kepada Masyarakat
SHOFIA SALSABILA AISY
SDN Kalikatir, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto Kesadaran akan pentingnya mengonsumsi makanan sehat harus dipupuk sejak dini agar anak-anak tidak terjebak dalam bahaya jajanan sembarangan. Memahami hal tersebut, mahasiswa KKM Kelompok 183 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan sosialisasi dan uji keamanan pangan di SDN Kalikatir pada Jum'at dan Sabtu (09-10/01/2026). Kegiatan ini dirancang secara terstruktur dan berlangsung kondusif di dalam ruang kelas masing-masing, sehingga materi yang disampaikan dapat diserap dengan maksimal oleh seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Pada hari pertama Jum'at, 9 Januari 2026 kegiatan difokuskan bagi siswa kelas rendah, yakni kelas 1, 2, dan 3. Mahasiswa masuk ke setiap kelas untuk memberikan pemahaman dasar mengenai ciri-ciri makanan sehat dan tidak sehat melalui media visual yang menarik. Dengan suasana yang tenang namun antusias, anak-anak diajarkan untuk lebih waspada terhadap jajanan yang memiliki warna terlalu mencolok atau rasa yang terlalu gurih. Pendekatan di dalam kelas ini memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih personal antara mahasiswa dan siswa, sehingga pesan mengenai pola makan sehat tersampaikan dengan baik. Memasuki hari kedua Sabtu, 10 Januari 2026, giliran siswa kelas 4, 5, dan 6 yang mendapatkan edukasi. Berbeda dengan hari sebelumnya, materi untuk kelas tinggi ini disusun dengan penjelasan yang lebih mendalam mengenai dampak jangka panjang dari penggunaan bahan kimia pada makanan. Siswa diajak berdiskusi secara aktif mengenai kebiasaan jajan mereka di luar sekolah. Suasana belajar di masing-masing kelas tetap terjaga kondusif karena mahasiswa menggunakan metode penyampaian yang santai namun tetap sarat akan muatan ilmiah yang mudah dipahami oleh anak usia sekolah dasar. Fokus utama dari kegiatan ini adalah praktik langsung pengujian zat berbahaya pada jajanan yang sering ditemui di lingkungan sekitar sekolah. Tim KKM 183 membawa sampel makanan yang diambil bukan dari kantin sekolah, melainkan dari pedagang luar, yaitu bakso, tempura, dan mie instan. Pengambilan sampel ini bertujuan untuk memberikan gambaran nyata kepada siswa bahwa risiko kontaminasi bahan tambahan pangan berbahaya justru sering kali muncul dari jajanan yang tidak diawasi oleh standar kebersihan sekolah. Dalam uji coba tersebut, mahasiswa mendemonstrasikan cara mendeteksi boraks menggunakan ekstrak kunyit. Siswa di tiap kelas diajak mengamati bagaimana cairan kunyit berubah warna menjadi merah pekat saat bereaksi dengan sampel yang mengandung boraks. Selain itu, untuk pengujian formalin, mahasiswa memanfaatkan bahan alami berupa ekstrak kulit buah naga. Jika warna ungu alami dari kulit buah naga memudar setelah dicampurkan dengan sampel bakso atau mie, maka hal tersebut menjadi indikasi kuat adanya kandungan pengawet mayat di dalam makanan tersebut. Rangkaian kegiatan selama dua hari ini berjalan sukses dan mendapatkan apresiasi tinggi dari pihak guru SDN Kalikatir. Dengan metode yang aplikatif, para siswa kini memiliki pengetahuan baru untuk menjadi lebih selektif dalam memilih konsumsi harian mereka. Kelompok 183 KKM UIN Malang berharap melalui edukasi mandiri menggunakan bahan-bahan di dapur seperti kunyit dan kulit buah naga, siswa dapat melindungi diri mereka sendiri serta membagikan ilmu berharga ini kepada orang tua di rumah untuk mewujudkan pola hidup sehat yang berkelanjutan.
CITRA LAILY AZIZAH CHOIRUL ANAM
Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, menjadi lokasi pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berlangsung mulai 23 Desember 2025 hingga 4 Februari 2026. Pelaksanaan KKM diawali dengan forum serah terima dari dosen pembimbing lapangan kepada Pemerintah Desa Arjowilangun. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Kelompok 66 KKM UIN Malang, Darvesh Fajriansyah, menyampaikan harapannya agar mahasiswa mendapatkan bimbingan dan arahan selama menjalankan program KKM di desa Arjowilangun. “Kami mohon bimbingan dari pemerintah desa dan seluruh elemen masyarakat dalam proses pelaksanaan KKM di Desa Arjowilangun, agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan memberi manfaat,” ujarnya. Dosen Pembimbing Lapangan KKM UIN Malang, Nasikhin Muad, Lc., MA, menekankan pentingnya mahasiswa untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial masyarakat desa. Menurutnya, pengetahuan akademik yang dimiliki siswa perlu dilengkapi dengan pemahaman sosial dan budaya masyarakat setempat. “Ilmu sudah lengkap di kampus, yang kurang adalah ilmu masyarakat. Mahasiswa diharapkan mengikuti aturan dan norma yang berlaku agar tidak terjadi hal-hal yang bertentangan dengan masyarakat,” tegasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya pemahaman moderasi beragama, khususnya dalam konteks kehidupan sosial keagamaan di Desa Arjowilangun. Lebih lanjut, Nasikhin Muad mendorong mahasiswa agar tidak sungkan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan Kepala Desa maupun perangkat desa terkait pelaksanaan program KKM. Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Desa Arjowilangun atas kesediaannya menerima mahasiswa KKM UIN Malang, serta memohon maaf apabila terdapat mahasiswa yang mengirimkan kurang sopan selama kegiatan berlangsung. Sementara itu, Kepala Desa Arjowilangun, Kuswianto,S.Pd., menyambut baik kehadiran mahasiswa KKM UIN Malang. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Desa terbuka untuk belajar dan berkolaborasi dengan mahasiswa, khususnya dalam bidang keagamaan dan penguasaan bahasa. “Kami justru akan menimba ilmu dari mahasiswa KKM, karena ilmu agama dan bahasa juga sangat penting bagi masyarakat kami,” ungkapnya. Kuswianto juga menjelaskan bahwa Desa Arjowilangun memiliki potensi sumber daya manusia yang beragam, termasuk banyaknya warga yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI), serta lembaga pendidikan yang lengkap mulai dari PAUD, SD/MI, SMPI/K dan Mts, hingga SMK. Ia mempersilakan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan keagamaan di dusun-dusun sesuai kebutuhan masyarakat. “Atas nama Pemerintah Desa, apabila selama pelaksanaan KKM terdapat hal-hal yang kurang berkenan, kami mohon maaf. Segala permasalahan selanjutnya akan kami komunikasikan dengan baik,” tutupnya. Dengan sinergi antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan Pemerintah Desa, pelaksanaan KKM UIN Malang di Desa Arjowilangun diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekaligus menjadi sarana pembelajaran sosial bagi mahasiswa.
AISYAH ROMADHONA
[Tanjungrejo, Malang], Tepat pada tanggal 31 Januari 2026, sebuah perjalanan pengabdian yang penuh makna mencapai puncaknya. Kelompok mahasiswa KKM 117 "Arthaseva" UIN Maulana Malik Ibrahim Malang resmi menutup masa bakti mereka yang telah berlangsung selama 40 hari. Dengan Masjid Darussalam sebagai pusat seluruh kegiatan, acara penutupan ini menjadi momen perpisahan yang khidmat sekaligus ungkapan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh keluarga besar masjid. Acara yang berlangsung di serambi masjid ini dihadiri oleh jajaran tokoh yang telah menjadi pendamping dan pengayom mahasiswa selama pengabdian. Hadir di antaranya Ketua Takmir Masjid Darussalam, Ustadz Fathullah; Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ibu Mubasyiroh, S.S., M.Pd.I; jajaran Ketua RW 07 dan RW 08 beserta pengurusnya; jajaran pengajar TPQ Darussalam; serta rekan-rekan dari pengurus Remaja Masjid Darussalam. Jejak Pengabdian di Jantung Masjid Darussalam Selama 40 hari terakhir, Masjid Darussalam telah menjadi rumah kedua bagi mahasiswa Arthaseva. Fokus pengabdian ini memang diarahkan pada pengembangan potensi dan pemberdayaan kegiatan yang berpusat di lingkungan masjid. Mulai dari pendampingan belajar di TPQ, digitalisasi dakwah bersama Remaja Masjid, hingga kolaborasi sosial dalam kegiatan Family Corner. Dalam sambutannya, Ustadz Fathullah menyampaikan apresiasi atas semangat mahasiswa yang telah membaur dengan baik. Keberadaan mahasiswa tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga menghidupkan suasana religius di lingkungan RW 07 dan RW 08 melalui kedekatan emosional yang terjalin dengan para jamaah dan pengurus masjid. Laporan Pertanggungjawaban dan Penyerahan Vandel Sebagai bentuk amanah akademik, mahasiswa memaparkan rangkuman hasil program kerja yang telah dilaksanakan. Paparan ini menjadi cermin dedikasi mahasiswa dalam berupaya memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi Masjid Darussalam. Program-program yang dijalankan diharapkan dapat terus berlanjut dan dikembangkan oleh para pengurus masjid maupun remaja masjid setempat. Suasana haru mulai menyelimuti saat memasuki prosesi penyerahan vandel sebagai simbol kenang-kenangan. Vandel tersebut diserahkan langsung oleh Ketua KKM 117 kepada pihak Takmir Masjid Darussalam. Namun, kejutan datang dari pihak masjid; secara tak terduga, Takmir Masjid Darussalam juga menyerahkan vandel balasan kepada kelompok KKM 117 Arthaseva. Penyerahan timbal balik ini menjadi simbol kuat bahwa hubungan yang terjalin bukan sekadar tugas kampus, melainkan ikatan kekeluargaan yang saling menghargai. Vandel tersebut menjadi bukti nyata bahwa kehadiran mahasiswa telah diterima dengan tangan terbuka, dan sebaliknya, mahasiswa merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian dari keluarga besar Darussalam. Belum Usai: Menanti Puncak Haflah dan Aftermovie Meski secara formal masa pengabdian 40 hari telah ditutup, ikatan mahasiswa dengan Masjid Darussalam ternyata belum benar-benar berakhir. Mahasiswa KKM 117 dijadwalkan akan kembali hadir pada 7 Februari mendatang untuk menghadiri sekaligus berpartisipasi dalam acara Puncak Haflah Imtihan. Salah satu agenda yang paling dinanti dalam puncak acara tersebut adalah penayangan video aftermovie. Video ini merupakan rangkuman perjalanan mahasiswa selama 40 hari mengabdi, yang akan memutar kembali memori indah, tawa, dan perjuangan bersama jamaah serta santri. Penayangan ini diharapkan menjadi kado perpisahan visual yang manis bagi seluruh warga. Doa Penutup dan Harapan Masa Depan Rangkaian acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Ustadz Kristiawan. Dalam suasana yang hening dan penuh kekhusyukan, doa dipanjatkan sebagai rasa syukur atas kelancaran seluruh kegiatan serta permohonan agar segala ikhtiar yang telah dilakukan menjadi amal jariyah bagi mahasiswa dan membawa keberkahan bagi kemajuan Masjid Darussalam. Acara diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama jajaran takmir, RW, pengajar TPQ, dan remaja masjid. Meski secara fisik mahasiswa KKM 117 harus kembali ke kampus, namun memori tentang kehangatan masyarakat dan syiar di Masjid Darussalam akan selalu tersimpan rapat dalam ingatan mereka. Selamat jalan, Arthaseva 117. Terima kasih, Masjid Darussalam.
ELSA AWWALUL FARIHAH
http://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/festival-anak-sholeh.html?m=1 Desa Wangkal Lor, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, kembali menjadi ruang belajar yang hangat bagi kami selama menjalani Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Desa ini tidak hanya menawarkan udara sejuk dan suasana pedesaan yang tenang, tetapi juga kehidupan sosial yang akrab dan penuh kebersamaan. Salah satu momen paling berkesan selama KKM adalah keterlibatan kami dalam Festival Anak Sholeh Yayasan Mathla'ul Huda dalam rangka memperingati Isra Mi'raj yang dilaksanakan pada 25 Januari 2026. Sejak beberapa hari sebelum acara puncak, semangat para pelajar sudah terasa melalui aktivitas kreatif yang mereka lakukan, salah satunya membuat payung hias sebagai simbol keceriaan dan ekspresi diri. Persiapan festival dimulai jauh sebelum hari H. Kami mendampingi para pelajar Yayasan Mathla'ul Huda saat mereka menuangkan ide-ide kreatif ke atas payung polos yang kemudian disulap menjadi payung hias penuh warna. Ada yang menggambar masjid, bintang, kaligrafi sederhana, hingga simbol-simbol keislaman yang mereka pahami dengan cara mereka sendiri. Suasana kelas berubah menjadi ruang seni yang hidup. Tawa, cerita polos anak-anak, dan tangan-tangan kecil yang sibuk mewarnai menjadi pemandangan yang sederhana namun menghangatkan hati. Sebagai pendamping, kami tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga memberi semangat agar mereka percaya diri dengan hasil karyanya. Pada hari pelaksanaan festival, desa terasa berbeda. Sejak pagi, para pelajar berkumpul dengan wajah ceria sambil membawa payung hias hasil kreasi mereka. Kegiatan diawali dengan pawai berkeliling desa, di mana anak-anak berjalan bersama dengan tertib, diiringi senyum bangga dan antusiasme yang sulit disembunyikan. Warga desa menyambut hangat, ada yang keluar rumah hanya sekedar pengganti tangan, ada pula yang mengabadikan momen dengan ponsel. Pawai sederhana ini menjadi bentuk perayaan yang dekat dengan masyarakat, sekaligus sarana mengenalkan nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan terhadap lingkungan sekitar. Kolaborasi antara pihak yayasan, mahasiswa KKM, dan masyarakat desa menjadi kunci suksesnya kegiatan ini. Guru-guru dan pengurus yayasan memberi Arah, kami mendampingi anak-anak selama kegiatan berlangsung, sementara masyarakat memberikan dukungan moral yang membuat suasana semakin meriah. Di lapangan, tentu ada dinamika yang muncul. Anak-anak yang kelelahan, payung yang rusak, atau barisan yang mulai tidak rapi menjadi tantangan kecil yang justru mengajarkan kami tentang kesabaran dan kerja sama. Semua itu teratasi dengan komunikasi sederhana dan saling pengertian. Dampak dari Festival Anak Sholeh ini terasa bukan hanya pada hari pelaksanaannya. Bagi para pelajar, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga untuk kreativitas, belajar percaya diri, dan memahami makna peringatan Isra Mi'raj dengan cara yang menyenangkan. Mereka belajar bahwa perayaan keagamaan tidak selalu harus kaku, tetapi bisa dikemas secara kreatif dan penuh makna. Bagi masyarakat, kegiatan ini mempererat hubungan sosial dan menghadirkan suasana desa yang hidup dan harmonis. Sementara bagi kami sebagai murid, pendampingan ini mengajarkan arti hadir dan membersamai, bukan sekedar mengatur atau mengarahkan. Menutup rangkaian kegiatan tersebut, saya pribadi merasa Festival Anak Sholeh ini menjadi salah satu wujud nyata pengabdian yang sederhana namun bermakna. Ada rasa lelah, tetapi terbayar oleh senyum anak-anak dan kebanggaan mereka membawa payung hias keliling desa. Harapan kami, kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan dikembangkan di tahun-tahun berikutnya, dengan melibatkan lebih banyak kreativitas dan partisipasi masyarakat. Dari Desa Wangkal Lor, kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang program besar, tetapi tentang kehadiran yang ketulusan, kebersamaan, dan kenangan baik yang tumbuh dari hal-hal sederhana. http://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/festival-anak-sholeh.html?m=1