Thumbnail
8 months ago
Seminar Etika Moral

ISRA SALSABILA GUSTIN

https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/seminar-etika-dan-moral-bagi-siswa-mi.html?m=1   Kelompok 27 Argantara melaksanakan kegiatan seminar dengan mengangkat tema “Etika dan Moral” di MI Mathla’ul Huda sebagai bagian dari rangkaian program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai etika dan moral kepada peserta didik sejak dini sebagai fondasi penting dalam pembentukan karakter dan sikap sosial siswa di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Pelaksanaan seminar dilakukan secara bertahap dengan sistem satu hari satu tingkat kelas. Dalam satu hari, kegiatan diikuti oleh seluruh kelas dalam satu tingkat yang sama, seperti seluruh kelas 1 (1A, 1B, dan 1C), kemudian dilanjutkan ke tingkat berikutnya pada hari selanjutnya. Pola ini diterapkan agar pelaksanaan kegiatan lebih terstruktur, efektif, serta menyesuaikan dengan karakteristik usia dan tingkat pemahaman siswa. Materi seminar disampaikan dengan pendekatan yang komunikatif dan mudah dipahami oleh siswa. Pembahasan meliputi nilai-nilai sopan santun, sikap saling menghormati, tanggung jawab, kejujuran, serta pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaian materi dilengkapi dengan contoh-contoh sederhana yang dekat dengan aktivitas siswa di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Para siswa mengikuti seminar dengan penuh perhatian, aktif menjawab pertanyaan, serta berpartisipasi dalam sesi interaktif yang disampaikan oleh mahasiswa KKM. Kegiatan ini menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mendidik, sehingga pesan moral yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa. Melalui kegiatan seminar etika dan moral ini, Kelompok 27 Argantara berharap dapat memberikan kontribusi positif dalam mendukung pendidikan karakter di MI Mathla’ul Huda. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran siswa akan pentingnya perilaku beretika dan bermoral, sehingga nilai-nilai tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Thumbnail
8 months ago
Program One Day One Juz

NAILAH NAQIYYAH WAHYU HIDAYAT

https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/02/program-one-day-one-juz.html?m=1 Berada di kaki pegunungan dengan udara yang sejuk dan suasana desa yang tenang, Poncokusumo menyambut kami — mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa — bukan hanya sebagai tamu, tetapi perlahan sebagai bagian dari keseharian warganya. Sejak awal penempatan KKM, kami menyadari bahwa desa ini memiliki denyut kehidupan religius yang kuat, terutama saat waktu maghrib tiba. Dari musholla kecil di sudut kampung hingga masjid yang menjadi pusat aktivitas warga, lantunan ayat suci selalu terdengar, mengisi senja dengan ketenangan. Dari sanalah gagasan Program One Day One Juz tumbuh, bukan sebagai agenda besar yang kaku, tetapi sebagai ikhtiar sederhana untuk membersamai masyarakat dalam menjaga tradisi mengaji.   Program One Day One Juz kami laksanakan sejak 24 Desember hingga 29 Januari 2026, dengan konsep berpindah-pindah setiap hari Minggu di berbagai musholla dan masjid di Desa Poncokusumo. Waktu pelaksanaannya sengaja dipilih selepas maghrib, saat aktivitas warga mulai melambat dan suasana lebih khusyuk. Kami, para mahasiswa KKM, berperan sebagai peserta mengaji bersama, duduk sejajar dengan warga, tanpa jarak, tanpa sekat. Tidak ada panggung, tidak ada mikrofon khusus — hanya mushaf, tikar, dan niat untuk istiqamah membaca satu juz Al-Qur'an setiap pertemuan.   Proses kegiatan ini berjalan dengan alur yang natural. Setiap Minggu, kami mengikuti jadwal musholla atau masjid yang telah disepakati bersama takmir setempat. Kadang tempatnya sederhana dengan penerangan seadanya, kadang cukup luas dan ramai oleh jamaah. Dinamikanya pun beragam. Ada hari di mana jamaah yang hadir hanya segelintir orang, namun ada pula malam-malam ketika musholla penuh dan suasana terasa begitu hangat. Warga menyambut kami dengan ramah, bahkan tak jarang setelah mengaji, obrolan ringan pun mengalir — tentang kehidupan desa, cerita masa lalu, hingga harapan mereka terhadap generasi muda. Di situlah kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu soal program besar, tetapi tentang kehadiran yang konsisten dan tulus.   Dampak dari kegiatan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam bentuk angka atau grafik, namun terasa dalam suasana. Program One Day One Juz menjadi ruang kebersamaan yang memperkuat ikatan antara mahasiswa dan masyarakat. Bagi warga, terutama jamaah tetap musholla dan masjid, kegiatan ini menjadi penguat semangat untuk terus mengaji bersama. Sementara bagi kami, mahasiswa KKM, program ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga rutinitas spiritual di tengah kesibukan akademik. Mengaji bersama warga desa mengajarkan kami tentang pentingnya, keikhlasan, dan makna kebersamaan yang sering kali luput dalam kehidupan kampus.   Lebih dari itu, kegiatan ini memberi kami pengalaman batin yang mendalam. Duduk bersila bersama warga, mendengarkan suara ayat-ayat Al-Qur'an yang dibaca secara bergantian, kami merasa tidak lagi sebagai “mahasiswa yang sedang KKM”, melainkan sebagai bagian dari komunitas yang saling menguatkan. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan, rasa pulang meski berada jauh dari rumah sendiri. Bagi kami, inilah bentuk pengabdian yang paling jujur ​​— hadir, mendengar, dan berjalan bersama masyarakat.   Menjelang berakhirnya masa KKM, Program One Day One Juz meninggalkan kesan mendalam. Kami berharap kegiatan sederhana ini tidak berhenti bersama kepulangan kami, namun dapat terus dilanjutkan oleh warga sekitar sebagai tradisi rutin. Bagi kami pribadi, program ini akan selalu menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak harus megah, cukup dilakukan dengan hati yang ikhlas dan niat yang baik. Dari Poncokusumo, kami belajar bahwa satu juz setiap hari, dibaca bersama, bisa menjadi jembatan kecil yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, sekaligus dengan sesamanya.

Thumbnail
8 months ago
Seminar Pergaulan Bebas

LAZUARDY IRSYAD HARIS

Berada di Desa Wangkal Lor, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, menjadi pengalaman yang tidak akan mudah saya lupakan selama mengikuti Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Desa ini menyambut kami dengan suasana yang tenang, udara sejuk khas lereng pegunungan, serta masyarakat yang ramah dan terbuka. Sejak hari pertama, kami menyadari bahwa KKM bukan sekadar program pengabdian, tetapi juga ruang belajar nyata tentang kehidupan sosial, nilai kebersamaan, dan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Dari sekian rangkaian kegiatan yang kami rancang, salah satu yang paling berkesan adalah Seminar Pergaulan Bebas bagi Siswa MTS Mathla'ul Huda sebagai Upaya Pembentukan Karakter. Kegiatan seminar ini dilaksanakan pada tanggal 12, 19, dan 26 Januari, bertempat di lingkungan MTS Mathla'ul Huda. Sasaran utama kegiatan ini adalah para pelajar tingkat madrasah tsanawiyah, yang berada pada fase usia remaja awal. Kami melihat fase ini sebagai masa krusial, di mana rasa ingin tahu tinggi sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman yang cukup tentang batasan pergaulan dan nilai moral. Berangkat dari keresahan tersebut, kami bersama pihak sekolah sepakat menyelenggarakan seminar yang tidak menggurui, tetapi mengajak siswa untuk berdialog, berpikir, dan merefleksikan pilihan-pilihan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan ini, kami berperan sebagai fasilitator, pendamping, sekaligus pemateri. Suasana seminar dibuat santai namun tetap fokus. Alih-alih ceramah satu arah, kami membuka ruang diskusi, tanya jawab, serta simulasi kasus yang dekat dengan realitas siswa. Awalnya, beberapa siswa terlihat malu-malu untuk berbicara. Namun seiring berjalannya waktu, kelas mulai hidup. Tawa kecil, anggukan setuju, hingga pertanyaan kritis mulai bermunculan. Di situlah kami merasakan dinamika lapangan yang sesungguhnya—bahwa pendekatan yang humanis jauh lebih efektif dibandingkan sekadar penyampaian materi. Kolaborasi dengan guru dan pihak sekolah juga menjadi kunci kelancaran kegiatan ini. Para guru tidak hanya hadir sebagai pengawas, tetapi ikut terlibat dalam diskusi dan memberi penguatan nilai-nilai karakter yang relevan dengan lingkungan sekolah dan keluarga siswa. Dukungan ini membuat pesan yang kami sampaikan tidak berhenti di ruang seminar saja, tetapi diharapkan dapat berlanjut dalam keseharian siswa, baik di sekolah maupun di rumah. Dampak dari kegiatan ini terasa secara perlahan namun nyata. Para siswa mulai berani menyampaikan pendapat tentang pergaulan yang sehat, memahami risiko dari pergaulan bebas, serta menyadari pentingnya menjaga diri dan karakter. Bagi masyarakat sekolah, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter membutuhkan kerja bersama, tidak hanya mengandalkan kurikulum formal. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini mengasah empati, kemampuan komunikasi, serta kepekaan sosial yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas kampus. Menutup rangkaian kegiatan ini, saya pribadi merasa KKM telah mengajarkan arti hadir dan bermanfaat di tengah masyarakat. Seminar ini mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi nilai-nilai yang ditanamkan diharapkan dapat tumbuh lebih lama. Harapan kami, kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan oleh sekolah maupun generasi KKM berikutnya, dengan tema-tema yang relevan dengan kebutuhan remaja. Dari Desa Wangkal Lor, kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang hal besar, tetapi tentang niat tulus, keterlibatan nyata, dan keberanian untuk mendengarkan. https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/seminar-pergaulan-bebas-bagi-siswa-mts.html?m=1

Thumbnail
8 months ago
Belajar Mengajar, Mengajar untuk Belajar : Cerita KKM di TPQ Roudlotul Mu'allimin

HILWIYATUL AHLA

https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/belajar-mengajar-mengajar-untuk-belajar.html?m=1 Siang itu, Balai Desa di wilayah Poncokusumo terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak matahari mulai naik, satu per satu warga berdatangan dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Kami, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) bekerja sama dengan pihak LP2M berdiri di antara mereka bukan sebagai “ahli”, tetapi sebagai teman belajar yang ingin berbagi. Suasana desa yang tenang, sapaan ramah warga, dan aroma kopi yang sempat tersaji sebelum acara dimulai membuat kegiatan hari itu terasa hangat dan membumi. Inilah awal dari kegiatan Sosialisasi Sertifikasi Halal bagi UMKM yang kami laksanakan pada 26 Januari 2026. Kegiatan ini berangkat dari proses penjaringan UMKM yang telah dilakukan di seluruh wilayah Poncokusumo. Dari situ, kami melihat satu benang merah yang sama: semangat berusaha masyarakat sangat tinggi, tetapi masih banyak pelaku UMKM yang belum memahami pentingnya sertifikasi halal, baik dari sisi kepercayaan konsumen maupun keberlanjutan usaha. Melalui sosialisasi ini, kami ingin membuka ruang diskusi yang sederhana, jujur, dan mudah dipahami, tanpa kesan menggurui. Kami berperan sebagai fasilitator sekaligus penyelenggara, memastikan materi tersampaikan dengan bahasa yang dekat dengan realitas sehari-hari pelaku usaha. Proses kegiatan berjalan secara dialogis. Tidak hanya pemaparan materi, tetapi juga sesi tanya jawab yang justru menjadi bagian paling hidup. Banyak pelaku UMKM berbagi cerita tentang tantangan mereka, mulai dari keterbatasan informasi, kekhawatiran biaya, hingga kebingungan soal alur pengurusan sertifikasi halal. Di sinilah dinamika lapangan terasa nyata. Kami belajar mendengarkan, menyesuaikan bahasa, dan menyederhanakan konsep agar benar-benar relevan. Kolaborasi dengan perangkat desa turut memperkuat kegiatan ini, menciptakan suasana diskusi yang terbuka dan saling percaya. Dampak dari kegiatan ini mulai terasa bahkan sebelum acara berakhir. Beberapa pelaku UMKM mengaku baru memahami bahwa sertifikasi halal bukan sekadar label, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap konsumen dan nilai tambah bagi usaha mereka. Ada rasa percaya diri yang tumbuh, seolah mereka melihat peluang baru untuk mengembangkan usaha secara lebih profesional. Bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang nyata. Kami tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memahami kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat secara langsung. Lebih dari sekadar sosialisasi, kegiatan ini menjadi jembatan antara pengetahuan dan praktik di lapangan. Kami menyadari bahwa perubahan tidak selalu datang secara instan, tetapi dimulai dari kesadaran kecil yang terus dirawat. Melihat antusiasme warga dan keterbukaan mereka terhadap diskusi menjadi pengalaman yang berharga dan membekas. Menutup kegiatan hari itu, kami pulang dengan perasaan penuh syukur. KKM bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi tentang membangun relasi, kepercayaan, dan empati. Harapan kami, sosialisasi ini bisa menjadi langkah awal bagi UMKM di Poncokusumo untuk melangkah menuju usaha yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan. Secara pribadi, pengalaman ini mengajarkan bahwa pengabdian terbaik adalah hadir, mendengar, dan tumbuh bersama masyarakat. Dan dari balai desa sederhana itu, kami belajar arti kontribusi yang sesungguhnya.

Thumbnail
8 months ago
Belajar Bersama UMKM : Sosialisasi Sertifikasi Halal dari Desa Untuk Keberlanjutan Usaha

HOREG KEYSHA HAFIZH

https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/belajar-bersama-umkm-sosialisasi.html?m=1 Siang itu, Balai Desa di wilayah Poncokusumo terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak matahari mulai naik, satu per satu warga berdatangan dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Kami, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) bekerja sama dengan pihak LP2M berdiri di antara mereka bukan sebagai “ahli”, tetapi sebagai teman belajar yang ingin berbagi. Suasana desa yang tenang, sapaan ramah warga, dan aroma kopi yang sempat tersaji sebelum acara dimulai membuat kegiatan hari itu terasa hangat dan membumi. Inilah awal dari kegiatan Sosialisasi Sertifikasi Halal bagi UMKM yang kami laksanakan pada 26 Januari 2026. Kegiatan ini berangkat dari proses penjaringan UMKM yang telah dilakukan di seluruh wilayah Poncokusumo. Dari situ, kami melihat satu benang merah yang sama: semangat berusaha masyarakat sangat tinggi, tetapi masih banyak pelaku UMKM yang belum memahami pentingnya sertifikasi halal, baik dari sisi kepercayaan konsumen maupun keberlanjutan usaha. Melalui sosialisasi ini, kami ingin membuka ruang diskusi yang sederhana, jujur, dan mudah dipahami, tanpa kesan menggurui. Kami berperan sebagai fasilitator sekaligus penyelenggara, memastikan materi tersampaikan dengan bahasa yang dekat dengan realitas sehari-hari pelaku usaha. Proses kegiatan berjalan secara dialogis. Tidak hanya pemaparan materi, tetapi juga sesi tanya jawab yang justru menjadi bagian paling hidup. Banyak pelaku UMKM berbagi cerita tentang tantangan mereka, mulai dari keterbatasan informasi, kekhawatiran biaya, hingga kebingungan soal alur pengurusan sertifikasi halal. Di sinilah dinamika lapangan terasa nyata. Kami belajar mendengarkan, menyesuaikan bahasa, dan menyederhanakan konsep agar benar-benar relevan. Kolaborasi dengan perangkat desa turut memperkuat kegiatan ini, menciptakan suasana diskusi yang terbuka dan saling percaya. Dampak dari kegiatan ini mulai terasa bahkan sebelum acara berakhir. Beberapa pelaku UMKM mengaku baru memahami bahwa sertifikasi halal bukan sekadar label, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap konsumen dan nilai tambah bagi usaha mereka. Ada rasa percaya diri yang tumbuh, seolah mereka melihat peluang baru untuk mengembangkan usaha secara lebih profesional. Bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang nyata. Kami tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memahami kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat secara langsung. Lebih dari sekadar sosialisasi, kegiatan ini menjadi jembatan antara pengetahuan dan praktik di lapangan. Kami menyadari bahwa perubahan tidak selalu datang secara instan, tetapi dimulai dari kesadaran kecil yang terus dirawat. Melihat antusiasme warga dan keterbukaan mereka terhadap diskusi menjadi pengalaman yang berharga dan membekas. Menutup kegiatan hari itu, kami pulang dengan perasaan penuh syukur. KKM bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi tentang membangun relasi, kepercayaan, dan empati. Harapan kami, sosialisasi ini bisa menjadi langkah awal bagi UMKM di Poncokusumo untuk melangkah menuju usaha yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan. Secara pribadi, pengalaman ini mengajarkan bahwa pengabdian terbaik adalah hadir, mendengar, dan tumbuh bersama masyarakat. Dan dari balai desa sederhana itu, kami belajar arti kontribusi yang sesungguhnya.

Thumbnail
8 months ago
kerja bakti sekaligus pengecetan gapura

AHMAD JALALUDDIN IBADURROHMAN

https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/02/kerja-bakti-sekaligus-pengecatan-gapura.html?m=1 Januari 13, 2026 Pagi itu, 11 Januari 2026, udara di kawasan makam umum Poncokusumo terasa lebih sejuk dari biasanya. Bukan cuma karena cuaca pegunungan yang memang ramah, tapi juga karena ada semangat kebersamaan yang pelan-pelan tumbuh sejak kami tiba. Sebagai mahasiswa peserta Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), kami datang bukan dengan jas almamater dan jargon pengabdian yang kaku, melainkan dengan niat sederhana: ikut hadir, ikut membantu, dan ikut merawat ruang yang bermakna bagi warga. Gapura makam, yang selama ini menjadi penanda sekaligus wajah awal kawasan pemakaman, menjadi titik awal pengabdian kecil kami di desa ini.   Kegiatan kerja bakti sekaligus pengecatan gapura makam ini sebenarnya lahir dari obrolan santai dengan warga. Dalam beberapa hari awal KKM, kami sering duduk bersama masyarakat, mendengarkan cerita-cerita ringan, termasuk soal kondisi makam yang mulai kusam. Dari situ, ide ini tumbuh alami. Tidak ada proposal panjang, tidak ada jarak “kami” dan “mereka”. Kami bersepakat bahwa gapura makam layak dipercantik, bukan sekadar soal estetika, tapi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan ruang sakral yang sering dikunjungi warga.   Hari pelaksanaan pun terasa seperti reuni besar. Warga datang membawa alat masing-masing, ada yang membawa kuas, ada yang menyiapkan air, bahkan ada ibu-ibu yang sibuk menyiapkan minuman sederhana. Kami, para mahasiswa, mengambil peran sebagai fasilitator, pendamping, sekaligus pengeksekusi. Ada yang mengatur pembagian tugas, ada yang membantu membersihkan lumut dan debu di permukaan gapura, dan ada juga yang langsung turun tangan mengecat bersama warga. Tawa ringan, candaan soal cat yang belepotan di tangan, sampai diskusi kecil soal warna cat membuat suasana kerja bakti terasa hangat dan cair.   Dinamika di lapangan justru menjadi bagian paling berkesan. Tidak semuanya berjalan mulus, ada cat yang kurang merata, ada perbedaan pendapat soal detail kecil, tapi semua diselesaikan dengan musyawarah sederhana. Kami belajar bahwa kolaborasi tidak selalu harus rapi, yang penting saling mendengar dan saling menghargai. Di sela-sela kegiatan, kami juga banyak belajar dari cerita warga tentang sejarah makam dan nilai-nilai lokal yang selama ini dijaga. Dari situ, kami sadar bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengecat gapura, tapi juga merawat ingatan kolektif.   Hasilnya mungkin terlihat sederhana: gapura makam tampak lebih bersih, cerah, dan layak dipandang. Namun dampaknya terasa lebih luas. Bagi masyarakat, kegiatan ini menumbuhkan kembali rasa memiliki dan kebersamaan. Warga merasa ruang bersama mereka diperhatikan dan dirawat secara gotong royong. Bagi kami sebagai mahasiswa, pengalaman ini menjadi ruang belajar nyata tentang pengabdian. Kami belajar memimpin tanpa mendominasi, membantu tanpa merasa paling tahu, dan bekerja bersama tanpa sekat status.   Secara personal, kegiatan ini memberi kami pelajaran penting tentang makna hadir di tengah masyarakat. KKM bukan tentang seberapa besar program yang dibuat, tapi seberapa dalam interaksi yang terjalin. Melalui kerja bakti dan pengecatan gapura makam ini, kami merasakan bahwa kontribusi kecil, jika dilakukan bersama, bisa memberi dampak yang terasa. Ada kepuasan sederhana saat melihat warga tersenyum melihat hasil kerja bersama, dan ada rasa hangat saat kami duduk bersama di akhir kegiatan, menikmati teh hangat sambil berbagi cerita.   Menutup kegiatan ini, kami berharap semangat gotong royong yang tercipta tidak berhenti di hari itu saja. Semoga gapura yang telah dipercantik bisa menjadi simbol kebersamaan, dan semoga kehadiran kami sebagai mahasiswa KKM benar-benar meninggalkan kesan positif. Bagi kami, Poncokusumo bukan lagi sekadar lokasi KKM, tapi ruang belajar kehidupan yang akan selalu kami ingat. Sebuah pengingat bahwa pengabdian sejati sering kali lahir dari hal-hal sederhana, dilakukan dengan tulus, dan dijalani bersama.