NABILUL AFKAR FITRASANI
Dusun Pabrikan tidak menyambut dengan gegap gempita. Ia ada begitu saja. Ternaungi Desa Jambesari, berdiri tenang di Poncokusumo, seperti tempat yang tidak merasa perlu menjelaskan dirinya pada siapa pun. Kelompok KKM 29 datang ke sana membawa niat pengabdian, juga membawa kebiasaan kampus yang gemar merapikan hidup ke dalam poin-poin. Mereka berangkat dari layar pendaftaran, dari pilihan-pilihan kegiatan yang terdengar rapi dan menjanjikan. Reguler dipilih bukan karena paling mudah, tapi karena paling jujur. Tidak ada janji keunggulan, tidak ada bimbingan berlebih. Hanya pertemuan dengan masyarakat apa adanya. Pilihan itu baru terasa bobotnya belakangan. Pertemuan pertama kelompok berlangsung canggung. Wajah-wajah asing duduk dalam satu ruang, mencoba menyatukan tujuan sambil masih salah memanggil nama. Struktur dibentuk, tanggung jawab dibagi, dan keyakinan disepakati bersama. Semua terasa masuk akal di atas meja. Belum ada yang tahu bahwa sebagian besar rencana akan runtuh perlahan begitu menyentuh tanah dusun. Dusun mulai membuka diri lewat orang-orang yang tidak ribet. Arahan datang tanpa tuntutan. Nasihat disampaikan tanpa nada menggurui. Dari sana, rasa gugup menguap pelan-pelan, digantikan kesadaran bahwa keberadaan mereka tidak sedang diuji, hanya diperhatikan. Hari-hari awal diisi dengan mondar-mandir, survei berulang, dan kesalahan kecil yang tidak tertulis. Koordinasi yang tidak lurus, informasi yang terlambat, dan rencana yang harus dirombak karena kenyataan menolak patuh. Posko akhirnya didapat bukan karena strategi hebat, tapi karena keberanian menanyakan hal yang sebenarnya sederhana. Setelah menetap, waktu tidak lagi terasa sebagai tanggal. Ia berubah menjadi rutinitas. Sowan ke tokoh desa. Duduk di lantai rumah warga. Mengikuti kegiatan malam hari tanpa banyak bertanya. Tidak ada perayaan besar, hanya kehadiran yang berulang, pelan-pelan dianggap wajar. Mengajar anak-anak TPQ, menghadiri rotibul hadad, membaca sholawat, mendengarkan keluhan yang tidak pernah diminta solusi. Sekolah menerima mereka bukan dengan seremoni, tapi dengan jadwal mengajar mendadak. Agenda parenting dan bimbingan teknis berjalan bukan karena konsep matang, tapi karena kebutuhan nyata yang kebetulan bertemu orang-orang yang bersedia. Di sela semua itu, proposal disusun terbalik. Bukan sebagai janji, melainkan sebagai catatan setelah semuanya terjadi. Sebuah pengakuan diam-diam bahwa tidak semua rencana layak dipamerkan sebelum dijalani. Ada hal-hal yang hanya masuk akal setelah gagal dipahami di awal. Hari-hari terus berjalan sampai tiba waktunya merapikan akhir. Penutupan disiapkan dengan rapi, seperti menutup buku yang isinya sudah terlanjur mengubah pembaca. Setelah itu, mereka pergi sejenak, ke laut, bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk bernapas kembali setelah terlalu lama menahan peran. Malam perpisahan diisi dengan pamit yang sederhana. Tidak ada pidato panjang. Hanya kunjungan singkat ke rumah-rumah yang selama ini membuka pintu tanpa banyak tanya. Keesokan harinya, posko dikosongkan. Barang dikemas. Dusun kembali sunyi, seolah tidak pernah didatangi. Namun ada satu hal kecil yang tertinggal, yang tidak pernah direncanakan, tidak tercantum di proposal mana pun. Sebuah pemahaman pelan bahwa pikiran manusia terlalu sering mengira dirinya pusat kendali. Padahal, realitas tidak pernah bekerja berdasarkan konsep. Ia berjalan sendiri, dan manusia hanya ikut terseret sambil belajar menyesuaikan langkah. Sebagai penutup Dusun Pabrikan tidak mengajarkan cara mengabdi yang heroik. Ia hanya mengingatkan bahwa hidup tidak menunggu rencana selesai disusun. Apa yang hari ini disebut konsep, besok bisa menjadi bahan tertawa, atau bahan belajar, tergantung seberapa keras seseorang memaksa pikirannya dianggap paling benar. Dan mungkin, di situlah arti kecil yang diam-diam berarti itu tinggal. Bukan pada apa yang berhasil dilakukan, tapi pada kesadaran bahwa pikiran hanyalah endapan ilusi yang nyaman di kepala. Sementara kenyataan selalu berdiri di luar, menunggu untuk dijalani, bukan diidealkan
GHAIDA NUR FAIZAH AULIA TSANI
Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, kembali menggelar kegiatan selamatan Sumber Umbulan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas keberkahan sumber air yang menjadi salah satu penopang kehidupan warga. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan penuh kebersamaan, serta melibatkan berbagai elemen masyarakat mulai dari perangkat desa, tokoh agama, pemuda Karang Taruna, hingga mahasiswa KKM Prabaswara Kelompok 87 yang sedang melaksanakan pengabdian di desa tersebut. Selamatan Sumber Umbulan merupakan tradisi turun-temurun yang masih dijaga oleh masyarakat Desa Sidodadi. Tradisi ini tidak hanya bermakna sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas ketersediaan air bersih, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga. Dalam pelaksanaannya, masyarakat membawa berbagai hidangan seperti tumpeng, jajanan tradisional, dan hasil bumi sebagai simbol keberlimpahan rezeki. Mahasiswa KKM Prabaswara Kelompok 87 turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Mereka membantu persiapan tempat, kebersihan area sumber air, dokumentasi kegiatan, hingga berbaur langsung dengan warga selama prosesi berlangsung. Keterlibatan mahasiswa tidak hanya sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran sosial mengenai nilai gotong royong dan kearifan lokal masyarakat pedesaan. Acara selamatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Suasana berlangsung khusyuk namun hangat, mencerminkan kuatnya nilai religius dan kebersamaan masyarakat. Setelah doa, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama di sekitar area sumber air yang menjadi pusat kegiatan. Momen ini menjadi ajang interaksi lintas generasi, di mana orang tua, remaja, hingga anak-anak berkumpul tanpa sekat. Selain sebagai kegiatan budaya, selamatan Sumber Umbulan juga memiliki makna ekologis. Masyarakat diingatkan akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian sumber air agar tetap dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa KKM Prabaswara Kelompok 87 juga mengajak warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar sumber air, seperti tidak membuang sampah sembarangan serta menjaga tanaman dan vegetasi di sekitarnya. Kegiatan selamatan ini menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat modern. Tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media edukasi sosial dan lingkungan. Kehadiran KKM Prabaswara Kelompok 87 semakin memperkuat nilai kolaborasi antara dunia pendidikan dan masyarakat dalam menjaga identitas budaya desa. Melalui selamatan Sumber Umbulan, Desa Sidodadi kembali menegaskan komitmennya dalam melestarikan tradisi sekaligus menjaga sumber daya alam yang dimiliki. Diharapkan kegiatan ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai pengingat bahwa kebersamaan, rasa syukur, serta kepedulian lingkungan merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkelanjutan.
BINTAN QOTRUNNADA ARSYA
Sebagai upaya mendukung pemberdayaan masyarakat, Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Dhahawicaksana melaksanakan kegiatan pelatihan pembuatan jamu tradisional beras kencur yang menyasar ibu-ibu PKK. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 5 Januari 2026, dan diikuti oleh 11 peserta yang terdiri dari anggota PKK beserta Ketua PKK. Pelatihan berlangsung dengan suasana hangat dan penuh antusias, mencerminkan semangat para peserta dalam melestarikan warisan budaya sekaligus meningkatkan keterampilan rumah tangga. Pelatihan pembuatan jamu beras kencur ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis kepada ibu-ibu PKK mengenai cara mengolah bahan alami menjadi minuman kesehatan tradisional. Jamu beras kencur dikenal memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, seperti membantu menjaga stamina tubuh, melancarkan peredaran darah, serta meningkatkan nafsu makan. Oleh karena itu, pelatihan ini diharapkan dapat mendorong pemanfaatan bahan-bahan alami yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Kegiatan diawali dengan pemaparan singkat mengenai pengenalan jamu tradisional dan manfaatnya bagi kesehatan keluarga. Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan jamu beras kencur, seperti beras, kencur, gula merah, dan rempah-rempah pendukung lainnya. Pemateri kemudian menjelaskan tahapan pembuatan jamu secara rinci, mulai dari proses pencucian bahan, pengolahan, hingga penyajian yang higienis dan layak konsumsi. Setelah sesi penjelasan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi demonstrasi pembuatan jamu beras kencur yang dilakukan oleh pemateri dari KKM Dhahawicaksana. Dalam sesi ini, ibu-ibu PKK menyimak secara langsung setiap tahapan proses pembuatan jamu, mulai dari pengolahan bahan hingga penyajian.
KHASYADIVA AFRIS NASUTION
Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Dhahawicaksana menyelenggarakan kegiatan Maliki English Course sebagai salah satu program di bidang pendidikan. Kegiatan ini merupakan program mengajar bahasa Inggris yang dilaksanakan di SDN Selopanggung 1 dan ditujukan untuk mendukung proses pembelajaran siswa di sekolah. Pelaksanaan kegiatan Maliki English Course dilakukan pada saat jam pelajaran bahasa Inggris berlangsung, sehingga selaras dengan kurikulum dan aktivitas belajar mengajar di sekolah. Kegiatan Maliki English Course bertujuan untuk membantu meningkatkan kemampuan dasar bahasa Inggris siswa, khususnya dalam penguasaan kosakata dan pelafalan sederhana. Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional dinilai penting untuk dikenalkan sejak dini agar siswa memiliki kesiapan dan kepercayaan diri dalam berkomunikasi di masa depan. Oleh karena itu, KKM Dhahawicaksana berupaya menghadirkan metode pembelajaran yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM Dhahawicaksana berperan sebagai pendamping dan fasilitator pembelajaran. Materi yang disampaikan disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa dan dikemas secara interaktif, seperti melalui pengenalan kosakata sehari-hari, latihan pengucapan, serta permainan edukatif sederhana. Dengan pendekatan tersebut, siswa diharapkan dapat lebih aktif dan berani menggunakan bahasa Inggris dalam kegiatan belajar. Suasana pembelajaran selama kegiatan Maliki English Course berlangsung dengan tertib dan kondusif. Siswa SDN Selopanggung 1 tampak antusias mengikuti setiap sesi pembelajaran yang diberikan. Mereka aktif menjawab pertanyaan, menirukan pengucapan kosakata, serta berpartisipasi dalam kegiatan yang dipandu oleh mahasiswa KKM. Kehadiran mahasiswa KKM di dalam kelas juga memberikan suasana baru yang membuat siswa lebih bersemangat dalam belajar. Pihak sekolah menyambut baik pelaksanaan kegiatan Maliki English Course ini. Guru mata pelajaran bahasa Inggris menilai bahwa kegiatan tersebut dapat membantu memperkuat pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari di kelas. Kolaborasi antara mahasiswa KKM Dhahawicaksana dan pihak sekolah diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas pembelajaran. Melalui kegiatan Maliki English Course ini, KKM Dhahawicaksana berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung pendidikan di Desa Selopanggung. Kegiatan ini menjadi salah satu wujud pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, khususnya di bidang pendidikan, dengan menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris yang menyenangkan, edukatif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa sekolah dasar.
NAURAH ZAKIAH ANARGYA
KKM Halal Center Hadir untuk UMK Dusun Bendo Dusun Bendo, Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung menjadi lokasi kegiatan pengabdian mahasiswa KKM Unggulan Halal Center UIN Malang. Di wilayah RT 27 hingga RT 30, para mahasiswa turun langsung untuk melakukan wawancara dan pendataan sertifikasi halal kepada pelaku Usaha Mikro Kecil (UMK). Kegiatan ini dilakukan secara door to door dengan mendatangi satu per satu tempat usaha warga. Cara ini dipilih agar komunikasi terasa lebih dekat dan santai. Dengan berbincang langsung di lokasi usaha, mahasiswa dapat melihat proses produksi sekaligus memahami kondisi dan kebutuhan setiap pelaku UMK secara lebih jelas. Berbagai jenis usaha dikunjungi dalam kegiatan ini, seperti donat kentang, keripik singkong, keripik tempe, lontong, tahu crispy, mie telur, hingga usaha tempe dan tahu rumahan. Dalam setiap kunjungan, mahasiswa memberikan penjelasan tentang pengertian sertifikasi halal, manfaat yang bisa diperoleh, serta tahapan pendampingan yang akan dilakukan. Sebagian pelaku usaha mengaku belum begitu memahami proses sertifikasi halal dan menganggapnya cukup rumit. Karena itu, mahasiswa berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sederhana bahwa sertifikasi halal bukan hanya sekadar label, tetapi bentuk jaminan mutu produk. Dengan sertifikat halal, kepercayaan konsumen dapat meningkat dan peluang usaha untuk berkembang menjadi lebih besar. Hasil wawancara menunjukkan bahwa mayoritas pelaku UMK menyambut baik program ini. Mereka tertarik untuk mengikuti proses pendampingan lebih lanjut karena melihat manfaatnya bagi usaha mereka. Namun, ada juga beberapa pelaku usaha yang memilih untuk menunda dengan alasan keterbatasan waktu dan kesiapan administrasi. Secara umum, respons masyarakat Dusun Bendo tergolong positif. Warga terbuka untuk berdiskusi dan antusias mendengarkan informasi yang disampaikan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pendataan, tetapi juga membangun hubungan dan kepercayaan antara mahasiswa dan masyarakat. Melalui program ini, KKM Unggulan Halal Center berharap para pelaku UMK semakin memahami pentingnya sertifikasi halal sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas produk dan daya saing usaha. Lebih dari sekadar program kerja, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendukung perkembangan UMK di Dusun Bendo agar semakin maju dan berkelanjutan.
M. LUKMAN HAKIM
Kegiatan Shalawat Diba’ kembali menjadi ruang kebersamaan yang mempererat hubungan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat. Hal ini terlihat dalam kegiatan Shalawat Diba’ yang dilaksanakan di Dusun Bendo, Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung, dan diikuti oleh warga setempat serta mahasiswa KKM. Kegiatan ini tidak hanya bernilai religius, tetapi juga memperkuat semangat kekeluargaan dan gotong royong antar generasi. Kegiatan Shalawat Diba’ dilaksanakan hari rabu malam jam 18:00 – 20:00 dan bertempat di rumah salah satu warga Dusun Bendo. Sejak awal, suasana acara berlangsung dengan khidmat dan penuh kekeluargaan. Jamaah Shalawat Diba’, warga sekitar, serta mahasiswa KKM hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib. Rangkaian acara diawali dengan tawasul, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Shalawat Diba’ sebagai bentuk doa bersama dan ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan serta keselamatan bagi seluruh warga. Suasana acara berlangsung khusyuk dan penuh kekhidmatan, mencerminkan kecintaan kepada Rasulullah SAW serta penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat. Mahasiswa KKM turut berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Kehadiran mereka tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang ikut menjaga dan melestarikan tradisi keagamaan di lingkungan desa. Selama kegiatan berlangsung, suasana keakraban sangat terasa. Interaksi yang terjalin antara jamaah Shalawat Diba’, warga, dan mahasiswa KKM menciptakan nuansa kekeluargaan yang hangat. Kegiatan ini menjadi sarana silaturahmi sekaligus ruang berbagi cerita dan pengalaman antar generasi. Sebagai penutup, seluruh peserta mengabadikan momen kebersamaan melalui foto bersama. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama secara sederhana. Momen ini menjadi simbol rasa syukur serta mempererat hubungan emosional antara jamaah Shalawat Diba’, warga Dusun Bendo, dan mahasiswa KKM. Kegiatan Shalawat Diba’ di Dusun Bendo, Desa Sukolilo, ini mencerminkan sinergi yang baik antara masyarakat desa dan mahasiswa KKM dalam menjaga tradisi keagamaan. Diharapkan kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut sebagai upaya memperkuat nilai religius dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan Shalawat Diba’ ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dalam lantunan shalawat mampu menumbuhkan ketenangan batin, memperkuat iman, serta menghadirkan energi positif dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui shalawat, masyarakat diajak untuk senantiasa meneladani akhlak Rasulullah SAW sebagai landasan dalam bersikap, berinteraksi, dan membangun harmoni sosial. Kehadiran berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai keislaman dapat menjadi perekat persatuan lintas generasi. Shalawat Diba’ tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga sarana pembinaan spiritual yang mendorong tumbuhnya rasa syukur, kepedulian sosial, serta semangat untuk terus berbuat kebaikan. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk menjadikan shalawat sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari, sehingga tercipta lingkungan yang religius, damai, dan penuh keberkahan. Konsistensi dalam menjaga tradisi Shalawat Diba’ juga menjadi bentuk ikhtiar bersama dalam memperkuat identitas keislaman dan mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah dinamika kehidupan modern.