AL FIYATUZ ZUHROH
Dalam dua bulan terakhir, saya berkesempatan mengikuti dua kegiatan luar biasa yang memperluas wawasan saya dalam bidang nuklir: kunjungan ke Reaktor Kartini di BRIN Yogyakarta pada bulan Mei, dan International PHITS Tutorial pada bulan Juni. Kedua pengalaman ini bukan hanya memberi pemahaman teoretis dan praktis, tetapi juga membentuk cara pandang baru terhadap pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia. Kunjungan Edukatif ke Reaktor Kartini BRIN Yogyakarta Reaktor Kartini yang terletak di Kawasan Sains dan Edukasi (KSE) Baiquni BRIN Yogyakarta adalah reaktor riset tipe TRIGA dengan daya 100 kW. Meski kecil, reaktor ini punya peran besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan nuklir di Indonesia. Selama kunjungan, kami mempelajari: Struktur dan sistem keselamatan reaktor Proses pengoperasian dan pemantauan reaktor Melihat langsung kolam reaktor dengan cahaya biru khas efek Cherenkov Kegiatan ini sangat membuka mata, karena apa yang selama ini hanya saya baca di buku atau simulasi, kini bisa saya saksikan secara nyata. Ini menjadi bukti bahwa Indonesia punya infrastruktur nuklir yang aktif dan berkembang. International PHITS Tutorial Sebulan setelahnya, saya mengikuti International PHITS Tutorial—pelatihan intensif menggunakan perangkat lunak PHITS (Particle and Heavy Ion Transport code System), salah satu software simulasi transportasi partikel berbasis metode Monte Carlo yang sangat populer di dunia. Materi yang saya pelajari meliputi: Dasar teori transport partikel dan mekanisme interaksi radiasi Struktur input file dan pengolahan hasil simulasi Studi kasus seperti shielding radiasi, distribusi dosis dalam tubuh manusia, dan desain eksperimen Aplikasi PHITS di bidang medis (termasuk terapi kanker BNCT), industri, dan keamanan Yang membuat tutorial ini istimewa adalah kehadiran pengajar profesional dari luar negeri serta peserta dari berbagai institusi—menjadikannya forum belajar yang berskala global. Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Inggris, yang turut melatih kemampuan komunikasi ilmiah saya. Kunjungan ke reaktor memberi saya pemahaman fisik dan visual terhadap sistem nuklir, sementara PHITS Tutorial membekali saya dengan kemampuan untuk mensimulasikan dan menganalisis berbagai fenomena radiasi secara digital. Kombinasi keduanya memberikan pemahaman menyeluruh—dari teori, simulasi, hingga praktik lapangan. Kegiatan ini membuktikan bahwa pengembangan teknologi nuklir di Indonesia terus berjalan dan terbuka untuk generasi muda yang ingin belajar dan berkontribusi. Saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari proses ini—dan saya harap lebih banyak mahasiswa dan peneliti muda bisa merasakan pengalaman serupa.
LAILIA RAHMAWATI
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang diselenggarakan oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Program ini dilaksanakan di Desa Karangsono, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, yang dipilih sebagai lokasi karena masih tingginya prevalensi stunting serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi seimbang, khususnya pada ibu hamil dan balita. Dalam rangka turut serta menanggulangi permasalahan tersebut, mahasiswa KKM menyelenggarakan seminar edukatif bertajuk “Generasi Hebat Berawal dari Gizi yang Tepat”. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang stunting, penyebabnya, dampak jangka panjang yang ditimbulkannya, serta upaya preventif yang bisa dilakukan di tingkat rumah tangga. Seminar dilaksanakan pada tanggal 23 April 2025 bertempat di Balai Desa Karangsono, dan dihadiri oleh 35 peserta, yang sebagian besar adalah ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Acara dibuka oleh perwakilan pemerintah desa dan diikuti oleh berbagai macam mahasiswa. Materi inti disampaikan oleh narasumber ahli gizi dari Puskesmas Kanigoro, yang menjelaskan secara komprehensif mengenai konsep gizi seimbang, bahaya stunting, dan pentingnya memberikan nutrisi selama masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Hasil dari kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta tentang pentingnya gizi, serta munculnya kesadaran kolektif untuk lebih aktif dalam kegiatan posyandu. Beberapa peserta bahkan menyampaikan harapan agar kegiatan semacam ini dapat dilanjutkan dengan pelatihan keterampilan memasak makanan bergizi dan pembentukan kelompok kader gizi desa. Meskipun demikian, kegiatan ini juga menemukan sejumlah tantangan di lapangan, seperti rendahnya partisipasi masyarakat akibat kurangnya sosialisasi, serta terbatasnya fasilitas kesehatan desa yang membuat deteksi dini stunting menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, mahasiswa merekomendasikan adanya tindak lanjut berupa pelatihan kader gizi, pengadaan alat ukur tinggi badan, dan pembentukan forum ibu balita sebagai langkah konkret yang dapat diambil oleh desa. Kegiatan ini menjadi contoh kolaborasi nyata antara mahasiswa, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam membangun kesadaran akan isu kesehatan yang sangat penting dan mendesak. Pendekatan partisipatif yang digunakan berhasil menciptakan ruang dialog yang produktif dan membangun rasa memiliki terhadap permasalahan bersama. Keberhasilan kegiatan ini diharapkan bisa menjadi model intervensi berbasis pendidikan masyarakat yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan tantangan serupa.
GHONIMATUR ROHMAH
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) bukan sekadar kewajiban akademik. Lebih dari itu, KKM adalah ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk memahami, berkontribusi, dan tumbuh bersama masyarakat. Hal inilah yang kami rasakan sebagai mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang saat menjalankan KKM di Desa Jetak-Montong-Tuban. Program KKM ini diadakan di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Salah satu program kerja unggulan kami adalah kegiatan mengajar di TPQ Al Ikhlas, sebuah lembaga pendidikan Al-Qur'an yang telah berdiri sejak tahun 2010 dan terus konsisten mendidik generasi muda dalam nilai-nilai Islam. Melalui kegiatan ini, kami belajar bahwa pendidikan agama di masyarakat bukanlah hal yang sederhana. Ia memerlukan ketelatenan, kesabaran, dan ketulusan yang luar biasa. Dan dari TPQ inilah kami menyaksikan semangat itu tumbuh setiap harinya. Mengapa TPQ Al Ikhlas? TPQ Al Ikhlas dipilih sebagai tempat pengabdian karena dimiliki dan diasuh langsung oleh Ustadz Halim, salah satu guru di MA Tarbiyatul Banin Banat sekolah tempat kami juga menjalankan program Asistensi Mengajar. Hal ini menjadi alasan kuat untuk menjadikan TPQ Al Ikhlas sebagai lokasi kegiatan utama kami, karena kedua program akademik ini bisa dijalankan secara paralel dan saling melengkapi. TPQ ini tidak dikelola sendiri oleh Ustadz Halim, melainkan juga didukung oleh empat guru lainnya yang semuanya berdedikasi tinggi dalam mendidik anak-anak. Mereka membagi tugas secara bergiliran, mengelola kelas dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, meski dengan segala keterbatasan fasilitas dan waktu. Kegiatan Belajar yang Menginspirasi Setiap sore, selepas waktu Ashar, kami hadir di TPQ Al Ikhlas untuk ikut mendampingi proses belajar mengajar. Anak-anak terbagi ke dalam dua kelompok. Kelompok besar belajar membaca Al-Qur’an dan mempelajari kitab-kitab dasar. Sedangkan kelompok kecil fokus pada praktik sholat, hafalan doa-doa harian, dan surat-surat pendek. Pengajaran di TPQ ini menggunakan metode An-Nadhiyah, sebuah metode yang menekankan pada pelafalan huruf hijaiyah secara fasih dan bertahap. Metode ini terbukti cukup efektif, terutama untuk anak-anak usia dini yang masih belajar membunyikan huruf-huruf Arab secara benar. Kami ikut membantu mengoreksi bacaan, mendampingi hafalan, dan tak jarang berperan sebagai teman belajar agar suasana kelas menjadi lebih akrab dan menyenangkan. Tantangan tentu ada, terutama ketika menghadapi anak-anak yang tiba-tiba kehilangan semangat atau merasa bosan. Namun di sinilah kami belajar: menjadi pendidik itu butuh lebih dari sekadar ilmu, melainkan juga keikhlasan dan empati. Suasana Baru, Semangat Baru Kehadiran kami di TPQ Al Ikhlas disambut hangat oleh para pengajar maupun santri. Ustadzah Kholifah, salah satu pengajar di TPQ, mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran mahasiswa KKM. “Alhamdulillah, dengan kedatangan mahasiswa KKM, suasana TPQ jadi lebih semarak. Anak-anak juga jadi lebih semangat belajar karena ada pengalaman baru berinteraksi dengan kakak-kakak mahasiswa,” ujar beliau. “Harapannya, mahasiswa bisa menjadi inspirasi bagi santri untuk terus istiqomah dalam belajar agama dan semakin mencintai Al-Qur’an,” tambahnya. Respon positif juga datang dari para santri sendiri. Mereka antusias mengikuti kegiatan, menunjukkan rasa ingin tahu yang besar, dan selalu menyambut kami dengan senyuman hangat setiap hari. Menanam Kebaikan dari Desa Pengalaman mengajar di TPQ Al Ikhlas menjadi momen refleksi bagi kami sebagai mahasiswa. Kami menyadari bahwa pendidikan agama bukan hanya tanggung jawab lembaga formal, tetapi juga menjadi kewajiban sosial yang bisa dimulai dari mana saja—termasuk dari desa kecil seperti Jetak. Kami merasa bersyukur dapat menjadi bagian dari upaya kecil yang bermakna ini. Program ini telah memberikan dampak positif, baik bagi santri, pengajar TPQ, maupun kami sebagai mahasiswa. Semoga kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan oleh generasi mahasiswa berikutnya, sebagai bentuk kontribusi nyata dalam mendukung pendidikan agama Islam di tengah masyarakat. Karena pada akhirnya, pengabdian bukan soal seberapa lama kita tinggal di desa, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa kita tinggalkan di hati mereka yang kita temui.
IMRON MA`ARUF
Pada malam yang penuh keberkahan, tepatnya tanggal 13 Februari 2025, Mushola Syi’arul Islam yang terletak di Jombang Krajan, Kabupaten Jombang, menggelar kegiatan peringatan Nifsu Sya’ban. Lokasinya yang berdekatan dengan MIN 1 Jombang menjadikan mushola ini sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat sekitar, terutama dalam menyambut malam pertengahan bulan Sya’ban yang dikenal sebagai malam penuh ampunan dan rahmat. Acara ini menjadi lebih istimewa karena dihadiri dan diisi oleh mahasiswa dari program Asistensi Mengajar-Kuliah Kerja Mahasiswa (AM-KKM) yang turut aktif berperan dalam kegiatan tersebut. Kegiatan dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Ta’mir Mushola Syi’arul Islam, Abah Kholis (atau yang akrab disapa Abah Kolik), yang menyampaikan pentingnya menjaga tradisi keagamaan dan mempererat ukhuwah islamiyah di tengah masyarakat. Disusul dengan sepatah dua patah kata dari tokoh masyarakat setempat, Bapak Sugiono, yang menekankan bahwa malam Nifsu Sya’ban adalah momentum untuk memperbaiki diri dan memperbanyak doa serta ibadah. Suasana hangat dan kekeluargaan menyelimuti kegiatan yang diikuti oleh warga sekitar dengan antusiasme tinggi. Salah satu mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Imron Ma’aruf (NIM 220101110071), menjadi pengisi kajian utama malam itu. Dalam ceramahnya, Imron mengupas hikmah dan keutamaan malam Nifsu Sya’ban, termasuk makna dibalik pengangkatan amal perbuatan manusia kepada Allah SWT. Ia juga mengajak jamaah untuk memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan antar sesama, serta menyambut bulan suci Ramadhan dengan hati yang bersih. Materi yang disampaikan dengan bahasa yang lugas dan penuh semangat membuat jamaah begitu fokus dan terinspirasi. arrow_forward_iosBaca selengkapnya Pause 00:00 01:14 01:16 Mute Powered by GliaStudio Setelah kajian, kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan sholat sunnah dua rakaat yang dipimpin langsung oleh Imron Ma’aruf. Keheningan malam dibalut dengan lantunan doa dan munajat yang khusyuk, menciptakan suasana yang sakral dan penuh ketenangan. Momen ini menjadi saat yang sangat menyentuh, di mana para jamaah berharap mendapatkan keberkahan dan pengampunan dari Allah SWT. Kajian Agama Terkait Hikmah Nifsu Sya'ban di Mushola Syiarul Islam Oleh Imron Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (Sumber : IG; ADHIBRATA) Peran mahasiswa AM-KKM dalam kegiatan ini sangat diapresiasi oleh warga setempat. Selain sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat, kehadiran mereka juga membawa semangat baru dan menjadi jembatan antara dunia akademik dan sosial-religius. Keterlibatan aktif mereka, mulai dari persiapan acara, teknis pelaksanaan hingga pengisi kajian, menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya sebagai pembelajar di kampus, namun juga agen perubahan di masyarakat. Kegiatan peringatan Nifsu Sya’ban di Mushola Syi’arul Islam ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kebersamaan dan nilai-nilai spiritualitas masih sangat hidup di tengah masyarakat. Semoga kegiatan seperti ini terus dilestarikan dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk semakin mencintai tradisi keislaman yang penuh hikmah. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Meraih Berkah Nifsu Sya'ban Mahasiswa UIN Malang AM-KKM 2025 di Jombang Krajan", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/imron090803220101110071/6807ab74ed64155941076e12/meraih-berkah-nifsu-sya-ban-mahasiswa-uin-malang-am-kkm-2025-di-jombang-krajan Kreator: Imron Maaruf Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com
LIDIANA FITRIA NINGSIH
Probolingo -- Kelompok Vidyasena Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar acara santunan anak yatim di dusun kenongo, RT 17 RW 03 desa pesisir, kecamatan sumberasih, kabupaten probolinggo. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2025 bertepatan pada bulan ramadhan hari ke-21 di kediaman KH. Achmad Suadi Yusuf. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh kehangatan dan kebersamaan, dihadiri oleh anak yatim sebanyak 15 orang, 16 donatur, dan 10 mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Acara dimulai dengan pembukaan yang di pandu oleh Hasnia Imroatus Syarifah sebagai Master Of Ceremony. Kegiatan dibuka dengan pembecaan Ummul Qur'an kemudian dilanjut dengan pembacaan tahlil yang dipimpin langsung oleh KH. Achmad Suadi Yusuf. Pembacaan tahlil tersebut sebagai bentuk doa untuk para leluhur, orang tua yatim, dan almarhum almarhumah dari donatur. Suasana khusyuk terasa ketika para donatur dan anak aytim bersama sama melantunkan doa dengan penuh keikhlasan. Momen utama dalam acara ini adalah santunan anak yatim. Seluruh yatim diarahkan untuk berdiri kemudian para donatur berbaris dan mengusap kepala yatim satu persatu dengan memberikan bantuan dana nya. Mengusap kepala anak yatim ini sebagai bentuk kasih sayang dan empati kepada anak yatim. Setelah semua yatim menerima santunannya kemudian para yatim satu persatu meniup air botol yang telah dibawa oleh para donatur. Rasa haru dan bahagia terpancar dari wajah mereka, menunjukkan betapa berarti perhatian yang diberikan oleh mahasiswa KKM UIN Malang. Kegiatan selanjutnya adalah ceramah yang disampaikan oleh KH. Achmad Suadi Yusuf sebagai tokoh agama setempat. Dalam ceramahnya beliau menekankan pentingnya kepedulian sosial serta keutamaan berbagi dengan sesama, terutama kepada anak-anak yatim yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih. Selain itu, Beliau juga menyampaikan secara transparansi bahwa program santunan anak yatim ini di didirikan oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) Sidogiri cabang probolinggo yang sudah berlangsung selama 5 tahun setiap jumat pagi. LAZ ini menggalang dana setiap bulan dengan menggunakan sistem online berupa aplikasi dan menghasilkan 20-30 juta perbulannya. Sebagai bentuk apresiasi aktif dalam kegiatan sosial ini, mahasiswa kkm kemudian memberikan sertifikat kepada KH. Achmad Suadi Yusuf karena telah mendukung terselenggaranya kegiatan santunan tersebut. Sertifikat ini diberikan oleh ketua pelaksana kkm vidyasena yaitu saudari Lidiana Fitria Ningsih sebagai simbol penghargaan atas kontribusi nyata dalam menciptakan kepedulian sosial di lingkungan masyarakat. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan doa bersama untuk memohon keberkahan bagi semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini. Doa yang dipanjatkan menutup seluruh rangkaian kegiatan denggan penuh harapan dan keikhlasan. Sebagai penutup sekaligus kenangan, seluruh yatim, donatur, beserta mahasiswa KKM melakukan sesi foto bersama. Momen ini menjadi kenangan indah yang menggambarkan kebersamaan dan kepedian antar sesama. Kegiatan santunan anak yatim telah selesai, namun sebelum pulang mahasiswa KKM memberikan konsumsi kepada seluruh anak yatim dan donatur. KH. Achmad Suadi Yusuf juga memberikan takjil dari sidogiri kepada seluruh anak yatim, donatur, dan juga mahasiswa KKM. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat. Melalui aksi sosial seperti ini, diharapkan semakin banyak generasi muda yang tergerak untuk berbagi dan menebarkan kebaikan kepada mereka yang membutuhkan .