ZAKIA MARYAM RAIHANA ISMAIL
Seminar Parenting oleh Mahasiswa Asistensi Mengajar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kamis, 23 April 2025 telah dilaksanakan seminar parenting kolaborasi antara MI Bustanul ulum dengan mahasiswa Asistensi Mengajar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. seminar ini dikhususkan untuk orang tua siswa kelas 5. Dalam era modern saat ini, pola asuh anak menjadi topik yang semakin penting untuk dibahas. Apakah perilaku anak yang terkesan manja adalah hasil dari salah asuh orang tua, ataukah memang fase perkembangan anak yang perlu dipahami? Itulah pertanyaan yang mengawali seminar parenting yang kami selenggarakan, Mahasiswa Asistensi Mengajar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Sebagai mahasiswa yang aktif dalam bidang pendidikan dan pendampingan siswa, kami menyadari bahwa banyak orang tua dan pendidik masih bingung menghadapi sikap dan karakter anak masa kini. Banyak anak yang cenderung terlihat manja, bergantung pada orang tua dalam segala hal. Fenomena ini memicu perdebatan antara apakah ini sebuah bentuk kelalaian dalam pola asuh, ataukah bagian dari tahap perkembangan psikologis anak yang normal. Seminar ini bertujuan untuk: Memberikan wawasan kepada orang tua, guru, dan masyarakat tentang bagaimana mengenali perilaku manja pada anak. Membedah faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh, baik dari sisi keluarga maupun lingkungan sekitar. Menyajikan solusi dan strategi parenting yang tepat agar anak tumbuh menjadi pribadi mandiri namun tetap hangat dan penuh kasih sayang. Pembicara utama yang merupakan pakar dalam bidang psikologi anak dan pendidikan Yakni Ibu Dessy Putri Wahyuningtyas, M.Pd. beliau juga merupakan dosen PIAUD UIN Malang, memberikan materi yang mendalam tentang: Definisi dan ciri-ciri anak manja menurut perkembangan psikologi. Dampak pola asuh permisif vs otoriter terhadap perilaku anak. Cara mengasah kemandirian anak dengan tetap memberikan sentuhan kasih sayang. Studi kasus dan diskusi interaktif dengan peserta. Melalui seminar ini, kami berharap orang tua dan pendidik dapat lebih bijak dalam menginterpretasi sikap anak. Anak yang terlihat manja bukan berarti selalu hasil salah asuh, melainkan bisa jadi merupakan fase yang harus dilewati dengan strategi dan pemahaman yang tepat. Dengan pendekatan yang seimbang, kita dapat membentuk generasi yang mandiri, percaya diri, dan berkarakter. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya seminar ini. Semoga ilmu yang dibagikan dapat bermanfaat dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
MALIK IZZUL HAQ ZE
Malang, 13 maret 2025 —Dalam upaya mendukung pencegahan stunting yang marak t erjadi, kelompok AM Mandutama, anggota KKM UIN Malang yang sedang melaksanakan Asistensi Mengajar di MAN 2 Kota Malang, menggelar Penyuluhan Pencegahan Stunting di Panti Asuhan Yasibu yang dilaksanakan pada hari kamis, 13 maret 2025. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 16.00 sampai 20.00 WIB yang bertempat di Kedung kandang yang diikuti oleh 24 orang mahasiswa AM MAN 2 Kota malang dan MI NU dan seluruh anak anak panti asuhan yasibu. Di balik senyum polos anak-anak di panti asuhan, terdapat ancaman serius yang kerap luput dari perhatian: stunting. Kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang mengkhawatirkan, terutama di lingkungan lembaga pengasuhan seperti panti asuhan. Salah satu pengurus panti asuhan dan juga sebagai pengasuhnya, [Eka prasetyandani S.PD I,MAP], mengaku bahwa pengelolaan gizi anak menjadi tantangan tersendiri. “Kami berusaha memberikan makanan bergizi, tapi bantuan seringkali belum cukup. Kami juga masih kekurangan edukasi terkait pola makan sehat dan pemantauan tumbuh kembang anak,” jelasnya. Upaya pencegahan stunting di panti asuhan kini mulai dilakukan secara kolaboratif. Pemerintah daerah, organisasi sosial, dan tenaga kesehatan berupaya memberikan pendampingan gizi, pelatihan bagi pengasuh, serta bantuan makanan tambahan bergizi bagi anak-anak di panti. Antusiasme semua anak anak yang dipanti asuhan terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Selain menumbuhkan semangat peduli sesama, kegiatan ini juga mempererat hubungan sesama, dan anak-anak serta pengurus Panti Asuhan. AM Mandutama berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari program edukasi yang mendukung pemberdayaan dan kesejahteraan anak-anak di panti.
YUSNIA FAIZZATUS ZAKIYAH
Gresik, 2025 — Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) turut serta dalam rangkaian kegiatan Haul Desa Peganden yang digelar secara khidmat dan meriah. Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan masyarakat Peganden sebagai bentuk penghormatan terhadap para tokoh dan ulama pendahulu yang telah berjasa dalam pembangunan spiritual dan sosial desa.Bertempat di sekitar area Masjid Jami' Gresik yang tampak megah dan bercahaya di malam hari, para mahasiswa KKM mengenakan busana putih dan syar’i sebagai bentuk penghormatan terhadap suasana haul yang sakral. Kehadiran mereka menjadi bagian dari sinergi antara mahasiswa dan masyarakat dalam membangun nilai-nilai religius serta mempererat hubungan emosional di tengah kehidupan sosial desa. Rangkaian acara haul diisi dengan pembacaan tahlil, doa bersama, dan tausiyah keagamaan yang disampaikan oleh tokoh agama setempat. Kegiatan ini tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial antara warga dan mahasiswa yang sedang melaksanakan pengabdian di desa tersebut. “Kami merasa sangat bersyukur bisa ikut serta dalam kegiatan haul ini. Selain menambah pengalaman, kami juga bisa merasakan langsung kearifan lokal dan semangat gotong royong masyarakat Peganden,” ujar salah satu mahasiswa peserta KKM UIN Malang. Partisipasi aktif mahasiswa dalam kegiatan keagamaan seperti ini menjadi bagian dari misi pengabdian kepada masyarakat yang diemban oleh program KKM. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori di bangku kuliah, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan nyata.
FITRIYANA NUR AULIYA
Babat, 23 April 2025 AM dan KKM UIN Malang di MAN 2 Lamongan bersama Unit Donor Darah Kabupaten Lamongan melaksanakan kegiatan donor darah yang bertempat di MAN 2 Lamongan. Aksi kemanusiaan ini dilaksanakan dengan banyak pertimbangan dari kelompok KKM UIN Malang. Salah satunya adalah karena setetes darah yang diberikan bisa menjadi harapan hidup bagi mereka yang sedang berjuang dalam kondisi darurat, seperti korban kecelakaan, pasien operasi besar, maupun pasien penderita penyakit tertentu yang membutuhkan transfusi darah. Donor darah adalah proses sukarela seseorang menyumbang darahnya, untuk membantu orang lain yang membutuhkan melalui proses transfuse. Transfuse darah merupakan tidakan medis yang sangat penting, terutama dalam kondisi darurat seperti kecelakaan, operasi besar, atau penyakit kronis seperti thalassemia, hemofilia, dan leukimia. Darah memiliki peran vital dalam tubuh manusia, seperti mengangkut oksigen dan nutrisi, melawan infeksi, mengatur suhu tubuh, serta menjaga keseimbangan cairan dan hormone. Ketika seseorang mengalami kekurangan darah, pemulihan hanya bisa dilakukan dengan darah dari manusia lain, karena hingga kini belum ditemukan pengganti sintetis bagi darah. Selain bagi penerima donor darah, donor darah jugamemberikan keuntungan berupa kesehatan bagi para pendonornya. secara medis, donor darah secara rutin dapat merangsang pembentukan sel darah baru, menjaga kadar zat besi dalam tubuh agar tetap seimbang, serta memperlanca sirkulasi darah. Pelayanan donor darah dilaksanakan secara sukarela dan untuk tujuan kemanusiaan, buka untuk keuntungan komsersial. Pelaksanaannya mengikuti standar yang ketat, termasuk pemeriksaan Kesehatan sebelum donor dilakukan. Pendonor akan mengawali dengan melakukan pemeriksaan kesehatan, mulai dari tekanan darah, kadar hemoglobin, dan juga deteksi penyakit menular. Hal ini menjadi langkah awal untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh seseorang. Beberapa syarat menjadi pendonor darah , diantaranya adalah berusia antara 17 sampai 60 tahun, memiliki berat badan minimal 45 kilogram, serta dalam kondisi sehat dan tidak mengkonsmsi obat-obatan dalam jangka waktu 3 hari sebelum melakukan donor darah. Meski memiliki banya manfaat, kesadaran masyarakat untuk rutin mendonorkan darah masih tergolong rendah. Oleh karena itu, perlu diadakan sosialisasi dan edukasi agar masyarakat memahami pentingnya donir darah sebagai bentuk kepedulian sosial yang nyata dan berdampak besar bagi kehidupan orang lain. Selain sebagai Tindakan kemanusiaan, donor darah juga mencerinkan nilai-nilai sosial yang penting seperti kepedulian, soladaritas, dan gotong royong dalam masyarakat. Melalui kegiatan ini, individu diajak untuk tidak hanya peduli pada Kesehatan diri sendiri, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menyelamatkan nyawa orang lain. Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, kegiatan donor darahdapat menjadi media edukatif yang efektif untuk menumbuhkan empati dan kesadaran sosial, terutama di kalangan generasi muda. Pelaksanaan kegiatan donor darah yang terencana dan melibatkan partisipasi aktif warga dapat menciptakan budaya tolong menolong yang brekelanjutan. Oleh karena itu, penting bagi Lembaga seperti Palang Merah Indonesia (PMI) maupun instansi Pendidikan untuk terus menggalakkan program donor darah secara rutin, baik melalui kampanye, seminar, maupun kegiatan kolaboratif lintas sector. Dengan demikian donor darah bukan hanya menjadi kegiatan incidental, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan positif yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
MAS`UDATUS SANIA
Lawang, 14 Maret 2025 --- Mahasiswa Asistensi Mengajar dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menunjukkan aksi nyata di tengah masyarakat. Melalui kegiatan KURMA (Kuliah Ramadhan & Ngaji Bersama), dua kelompok mahasiswa dari AM Matsaneti (Lawang) dan AM Almasima (Singosari) sukses menggelar program edukatif-religius yang berlangsung di TPQ Bayt An-Nur, Lawang. Acara pembukaan KURMA yang digelar pada Jumat, 14 Maret 2025, menjadi awal dari rangkaian kegiatan selama bulan Ramadan. Tidak hanya berisi kajian Islami dan ngaji bersama, mahasiswa juga turut aktif mengajar anak-anak TPQ setiap hari, membimbing mereka membaca Al-Qur'an, serta memperdalam pemahaman dasar-dasar agama. Yang tak kalah penting, sebagai bentuk kepedulian dan dukungan terhadap sarana pendidikan di TPQ, para mahasiswa juga menyerahkan bantuan berupa perangkat sound system, tiang untuk praga (hiasan Ramadhan), serta sejumlah bangku ngaji yang akan digunakan oleh para santri. Bantuan ini diharapkan dapat menunjang proses belajar mengaji agar lebih nyaman dan optimal. "Kami sangat bersyukur atas bantuan dan kehadiran adik-adik mahasiswa. TPQ ini memang sangat butuh dukungan, baik tenaga maupun fasilitas. Alhamdulillah, KURMA membawa angin segar bagi kami," ujar Ustadzah Nur Taslimah, pengasuh TPQ Bayt An-Nur. Acara berlangsung dengan penuh semangat dan kehangatan. Kajian pembuka disampaikan secara interaktif, diikuti dengan doa bersama, dan penyerahan simbolis bantuan kepada pihak TPQ. Anak-anak tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan, didampingi para wali santri yang turut hadir memberikan dukungan. Selain mempererat ukhuwah Islamiyah antara mahasiswa dan masyarakat, KURMA juga menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam memahami realitas sosial serta menanamkan nilai-nilai kepedulian. Dengan kegiatan ini, KURMA tidak hanya menjadi program Ramadan biasa, tetapi menjadi simbol kolaborasi, kontribusi, dan kebermanfaatan mahasiswa di tengah masyarakat.
HASANUDDIN
Pada tanggal 2 Mei 2025, MI Almaarif 11 Gunungrejo menjadi saksi lahirnya sebuah gerakan kecil namun berdampak besar: seminar parenting yang diinisiasi oleh mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan ini tak sekadar agenda formal, melainkan wujud nyata pengabdian yang mengusung misi penguatan karakter melalui kolaborasi antara madrasah dan keluarga. Seminar ini menyasar para wali murid kelas 5 sebagai peserta utama. Tujuannya jelas—mengajak mereka merenungi kembali peran penting dalam tumbuh kembang anak, bukan hanya sebagai orang tua secara biologis, tetapi juga sebagai pendidik pertama dan utama di rumah. Sejak pagi, aula madrasah mulai dipadati ibu-ibu dengan wajah cerah dan penuh harap. Antusiasme mereka terasa begitu tulus, mengingat kegiatan edukatif seperti ini masih sangat langka di wilayah Gunungrejo yang cukup terpencil. Keterbatasan akses informasi tak menyurutkan semangat mereka untuk belajar. Acara dibuka dengan sambutan hangat dari pihak madrasah dan tim KKM, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh M. Ibnu Ahmad, S.Pd.I., M.Pd. Mengangkat tema “Sinergi Pendidikan Madrasah dan Rumah: Menumbuhkan Anak Hebat, Berakhlak, dan Berprestasi”, beliau menyampaikan pesan penting: pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Rumah adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah gurunya. Sesi berlangsung penuh perhatian. Para wali murid terlihat aktif mencatat dan sesekali mengangguk tanda setuju. Salah satu momen yang menyentuh adalah saat pemateri mengutip Imam Al-Ghazali: “Meninggalkan anak tanpa pendidikan lebih berbahaya daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin.” Kutipan ini seolah menjadi cermin bagi para orang tua untuk kembali mengevaluasi pola asuh mereka. Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Berbagai kegelisahan mereka terungkap—dari cara menghadapi anak yang sulit diatur, membagi waktu antara pekerjaan rumah dan mendampingi anak, hingga kekhawatiran soal dampak gadget dan media sosial. Pemateri merespons dengan solusi yang membumi dan penuh empati, tanpa menghakimi. Tak hanya menyentuh aspek pengetahuan, seminar ini juga membuka ruang dialog antara guru dan orang tua. Guru-guru mengungkapkan bahwa selama ini mereka sering merasa bekerja sendirian dalam mendidik siswa, karena komunikasi dengan wali murid masih minim. Momen ini menjadi titik balik: komunikasi mulai terbangun, rasa saling memahami mulai tumbuh. Dalam wawancara dengan Kepala MI Almaarif 11, Ibu Miftahul Jannah, M.Pd., ia menyampaikan apresiasi mendalam atas kegiatan ini. Menurutnya, masyarakat Gunungrejo sangat membutuhkan wawasan parenting, dan seminar seperti ini menjadi jembatan penting antara keluarga dan sekolah. Yang menarik, seminar ini tidak berhenti sebagai event sesaat. Ia menumbuhkan semangat baru. Di akhir acara, beberapa wali murid bahkan mengusulkan agar kegiatan serupa diadakan secara rutin dengan tema-tema lain yang relevan. Dokumentasi kegiatan juga menyimpan banyak momen berharga—dari penyerahan sertifikat kepada pemateri di depan spanduk acara yang meriah, hingga foto kebersamaan antara peserta dan panitia dengan senyum hangat yang menyiratkan kepuasan dan harapan. Meski diadakan di aula sederhana, semangat dan nilai dari kegiatan ini jauh melampaui batas fisik ruangan. Seminar parenting ini menjadi bukti bahwa dengan sinergi yang tulus antara madrasah dan rumah, pendidikan karakter anak bisa dibangun lebih kuat—mulai dari desa kecil di kaki Gunungrejo. Secara keseluruhan, seminar parenting ini terbukti menjadi ruang yang efektif untuk mempererat hubungan antara madrasah dan keluarga. Melalui pendekatan observasi langsung dan wawancara partisipatif, terlihat jelas bahwa dampak kegiatan ini tak hanya terasa di tataran teori, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan sosial para peserta. Sejalan dengan pandangan Epstein (2023) serta Grolnick & Slowiaczek (2021), keterlibatan orang tua yang dibangun melalui pemahaman dan komunikasi yang sehat menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan anak. Karena itu, kegiatan seperti ini layak dijadikan model inspiratif untuk program-program pengabdian masyarakat yang berkelanjutan dan berdampak nyata