LAILATUT TIS`AH
Pembentukan karakter siswa sejak usia dini merupakan pondasi penting dalam menciptakan generasi yang berakhlak mulia, disiplin, dan bertanggung jawab. Sekolah sebagai lingkungan kedua setelah keluarga memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai tersebut melalui budaya dan kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai wadah pembentukan karakter siswa. Dalam rangka menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung pengembangan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian, SD Plus Al-Kautsar Malang menerapkan budaya sekolah melalui program 3T RP. SD Plus Al-Kautsar Malang memahami pentingnya budaya sekolah sebagai sarana pembinaan karakter peserta didik. Untuk itu, sekolah mengembangkan budaya 3T RP sebagai bentuk pembiasaan positif yang sederhana namun berdampak besar.3T RP adalah singkatan dari lima aturan atau kebiasaan baik yang diterapkan di lingkungan SD Plus Al-Kautsar Malang untuk membentuk karakter dan kedisiplinan siswa. 3T 1. Tidak berteriak Siswa diajak untuk berbicara dengan suara yang tenang dan sopan agar lingkungan sekolah tetap nyaman. 2. Tidak berlari Siswa diajarkan untuk berjalan dengan tertib demi menjaga keselamatan bersama. 3. Tidak bermain di dalam kelas Siswa diarahkan agar menjaga ruang kelas sebagai tempat belajar, bukan untuk bermain. RP: 1. Rapikan alas kaki iswa dibiasakan untuk merapikan sepatu atau sandal sebagai bentuk kerapihan dan tanggung jawab. 2. Pungut dan pilah sampah Siswa diajak peduli terhadap kebersihan lingkungan dengan memungut dan memilah sampah sesuai jenisnya. Jadi, 3T RP adalah aturan pembiasaan di sekolah untuk membentuk siswa yang tertib, peduli, dan bertanggung jawab. Budaya 3T RP ini tidak hanya menjadi aturan, tetapi telah ditanamkan sebagai nilai kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Dengan pendekatan yang konsisten dan kolaboratif antara guru, siswa, dan orang tua, budaya ini dapat memperkuat pembentukan karakter siswa yang berintegritas dan berdaya saing di masa depan. Manfaat Budaya 3T RP 1. Meningkatkan Disiplin Siswa Melalui kebiasaan tidak berlari, tidak berteriak, dan tidak bermain di dalam kelas, siswa belajar untuk mematuhi aturan dan menjaga ketertiban dalam aktivitas sehari-hari di sekolah. 2. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab Kegiatan seperti merapikan alas kaki dan memungut sampah membantu siswa memahami pentingnya bertanggung jawab terhadap barang pribadi dan lingkungan sekitar. 3. Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Nyaman dan Aman Suasana sekolah menjadi lebih tenang, bersih, dan tertib, sehingga mendukung proses belajar mengajar yang lebih efektif dan menyenangkan.
ROSA NUR FARADILA
Feurza Del Alba dari Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kembali menunjukkan upayanya untuk mendorong masyarakat dengan mengadakan Seminar Parenting dengan judul "Rumahku Madrasahku: Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak Secara Islami." Selengkapnya dapat diakses pada tautan berikut ini https://www.kompasiana.com/rosanurfaradila3059/683113e4c925c4110c21fb02/seminar-rumahku-madrasahku-kkm-fuerza-del-alba-menegaskan-peran-orang-tua-dalam-mendidik-anak?page=1&page_images=1
ILMA FAUZIYAH
https://www.kompasiana.com/khazimah00827/681b646d34777c5625233682/mahasiswa-uin-malang-tumbuhkan-kesadaran-parenting-lewat-seminar-anak-bahagia-tumbuh-tanpa-luka-pendampingan-emosional-sejak-dini
RAIHAN MALIKAL HASAN
Menanamkan Nilai Moderasi Beragama Sejak Dini: Belajar Bersama Anak Yatim di Jombang Moderasi beragama menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga kerukunan dan kedamaian bangsa Indonesia. Mengajarkan nilai ini sejak usia dini sangatlah strategis agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang toleran dan menghargai perbedaan. Baru-baru ini, kegiatan edukatif bertajuk “Menanamkan Nilai Moderasi Beragama Sejak Dini: Belajar Bersama Anak Yatim” dilaksanakan di Yayasan Yatim Mandiri, Desa Pandanwangi, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Kegiatan ini dirancang khusus untuk anak-anak yatim piatu yang berada di bawah binaan yayasan tersebut. Pendekatan Edukatif dan Partisipatif Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan metode yang interaktif dan menyenangkan, disesuaikan dengan karakteristik dan usia anak-anak. Sebelum pelaksanaan, tim melakukan observasi lokasi untuk memahami kondisi lingkungan, jumlah dan usia peserta, serta kesiapan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan agar kegiatan berjalan lancar dan nyaman bagi anak-anak. Pada sesi inti, anak-anak diajak menyaksikan video edukatif dari YouTube yang membahas nilai-nilai moderasi beragama dengan bahasa yang sederhana dan visual menarik. Media audiovisual ini dipilih karena efektif dalam menyampaikan pesan moral dan nilai keagamaan dengan cara yang komunikatif dan mudah dipahami. Diskusi dan Cerita Inspiratif Setelah menonton video, fasilitator memandu diskusi interaktif. Anak-anak diberikan kesempatan untuk bertanya, mengemukakan pendapat, dan mengaitkan nilai yang mereka pelajari dengan pengalaman sehari-hari. Diskusi ini menjadi momen penting bagi anak-anak untuk mengekspresikan pemikiran dan mulai memahami pentingnya toleransi, gotong royong, serta sikap saling menghargai antarumat beragama. Untuk memperkuat pesan, fasilitator juga membagikan cerita inspiratif dari tokoh agama dan masyarakat yang menunjukkan contoh sikap moderat dan toleran. Penyajian cerita dalam bentuk narasi ringan dan menarik membuat anak-anak lebih mudah mencerna nilai-nilai tersebut. Dampak Positif dan Tantangan Kegiatan ini diikuti oleh 25 anak yatim piatu yang menunjukkan antusiasme tinggi. Selama pemutaran video dan sesi diskusi, mereka aktif menyimak dan merespons dengan penuh perhatian. Salah satu anak bahkan menyatakan bahwa menghormati teman yang berbeda agama adalah bentuk kebaikan yang diajarkan oleh guru dan keluarga mereka. Menurut teori belajar sosial Bandura, anak-anak belajar efektif melalui observasi dan pengalaman sosial yang dikaitkan dengan representasi simbolik seperti video. Hal ini tercermin dari perubahan sikap yang terlihat, mulai dari yang pendiam menjadi lebih aktif dan saling menghargai dalam berbicara. Meski ada beberapa kendala teknis seperti gangguan suara, fasilitator cepat mengatasinya dengan penyesuaian alat dan penjelasan langsung. Perbedaan tingkat pemahaman anak-anak juga membuat fasilitator menyesuaikan bahasa dan memberi contoh konkret agar materi lebih mudah dimengerti. Harapan untuk Masa Depan Pihak Yayasan Yatim Mandiri menyambut baik kegiatan ini dan berharap program serupa bisa dilakukan secara berkelanjutan. Penanaman nilai moderasi beragama sejak dini menjadi fondasi penting untuk mencegah intoleransi, ujaran kebencian, dan radikalisme di masa depan. Dengan bimbingan yang terus menerus, anak-anak yatim piatu yang merupakan bagian dari generasi penerus bangsa ini diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang moderat, toleran, dan cinta damai. https://docs.google.com/document/d/1VuG2gyFP36l7ce83POXChSrGBdgRY92_/edit?usp=drive_link&ouid=108708457943628750302&rtpof=true&sd=true
SAHILA RIZQIANI MUFIDAH
Saat ini kita sedang berada di zaman serba digital. Sehingga, banyak sekali masyarakat yang saat ini melupakan tradisi kebudayaan yang ada di indonesia contohnya permainan tradisional. Mereka lebih memilih untuk bermain gadjet dari pada menerapkan budaya budaya tradisional yang ada di indonesia. Pada bab terakhir pembelajaran pancasila siswa mempelajari tentang apa saja macam-macam permainan tradisional. Agar mereka mengetahui apa dan bagaimana cara bermain maka kita sebagai seorang pendidik harus memperkenalkan kepada mereka agar mereka tidak lupa akan budaya yang ada disekitar mereka dengan cara mengajak mereka untuk memperaktikkan bagaimana cara bermain. Pada bab ini siwa dibentuk menjadi beberapa kelompok untuk mempereraktikkan macam-macam permainan tradisional. Setiap kelompok harus memainkan permainan yang berbeda agar masing-masing kelompok dapat mencoba pada masing-masing permainan. Disinlah saat di tengah gempuran teknologi dan pesatnya perkembangan dunia digital, permainan tradisional tetap memiliki daya tarik yang tidak lekang oleh waktu. Meski anak-anak kini lebih akrab dengan gawai, media sosial, dan game daring, ternyata belajar permainan tradisional justru menjadi pengalaman unik yang menyenangkan sekaligus mendidik bagi anak-anak. Perpaduan antara warisan budaya dan inovasi digital kini membuka jalan baru bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai permainan khas Indonesia. Permainan tradisional seperti gobak sodor, congklak, engklek, bentengan, hingga egrang bukan sekadar bentuk hiburan. Permainan ini sarat akan nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, kerja sama tim, hingga ketangkasan fisik dan kecerdikan. Selain itu, permainan tradisional juga mengajarkan anak-anak untuk bersosialisasi secara langsung, sebuah hal yang semakin langka di era serba digital ini. Manfaat Lain dari Belajar Permainan Tradisional Menumbuhkan rasa cinta budaya lokal: Anak-anak jadi mengenal dan menghargai warisan budaya bangsanya sendiri. Mengurangi ketergantungan terhadap gadget: Bermain secara fisik membantu mengurangi screen time yang berlebihan. Meningkatkan kreativitas dan interaksi sosial: Permainan tradisional cenderung lebih fleksibel dan memicu imajinasi serta komunikasi antar pemain. Belajar permainan tradisional di era digital bukan hanya mungkin, tetapi justru sangat menyenangkan dan relevan. Dengan pendekatan kreatif, permainan masa lalu bisa hidup kembali dan menyatu dengan gaya hidup modern. Sudah saatnya kita tidak hanya melestarikan, tetapi juga mengembangkan permainan tradisional sebagai bagian dari pendidikan karakter dan kebudayaan bangsa.
ZAYYAN ZAIDAN NASUTION
Sabtu, 20 April 2024 — Warga Pesona 7 & 8 GKR Gresik bersama Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Malang sukses menggelar acara Halal Bihalal yang penuh kehangatan dan kebersamaan di kawasan perumahan Pesona GKR, Gresik. Kegiatan ini menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antara warga dan para mahasiswa KKM, yang telah menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat selama masa pengabdian. Dengan semangat kebersamaan dan nilai kekeluargaan, acara Halal Bihalal ini dihadiri oleh lintas generasi warga serta tokoh masyarakat setempat. Acara berlangsung hangat dan akrab, mencerminkan kekompakan warga Pesona 7 & 8 dalam menjalin keharmonisan sosial. Selain menjadi momentum saling memaafkan pasca-Ramadan, kegiatan ini juga menjadi ruang interaksi positif antara masyarakat dan mahasiswa, yang turut menampilkan persembahan seni dan tausiyah ringan penuh makna. Acara ini tidak hanya memperkuat ikatan antarwarga, tetapi juga menjadi bukti nyata keberhasilan sinergi antara dunia akademik dan kehidupan bermasyarakat dalam bingkai nilai-nilai Islami. Selengkapnya dapat diakses di tautan berikut ini: https://www.kompasiana.com/zayyanzaidan3965/683333e3c925c4302f156432/guyub-dan-harmonis-warga-pesona-7-8-gkr-gresik-adakan-acara-halal-bi-halal-bersama-dengan-mahasiswa-kkm-uin-malang