Thumbnail
2 months ago

ARIVIANI AYUNING LESTARI

Thumbnail
2 months ago
Mengajar di TPQ Baitul Quran : Belajar Metode At-Tanzil dan Bahasa Sederhana Orang Sekitar! Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mengajar di TPQ Baitul Quran : Belajar Metode At-Tanzil dan Bahasa Sederhana Orang Sekitar!", Klik untuk

NIA FEBRIANTI

Pada Selasa, 6 Januari 2026, mahasiswa KKM Arantra UIN Malang menjalankan kegiatan mengajar di TPQ Baitul Quran, Desa Kelompanggubug, Pulau Bawean. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian di bidang pendidikan keagamaan yang telah berjalan sejak beberapa hari sebelumnya, bahkan sebelum kegiatan pembelajaran formal di sekolah dimulai. TPQ Baitul Quran diikuti oleh sekitar 20 santri dengan jenjang jilid 1 hingga jilid 6. Dalam proses pembelajaran, mahasiswa KKM menerapkan metode Attanzil, yang memiliki pendekatan berbeda dengan metode mengaji yang biasa digunakan di Malang maupun daerah asal mahasiswa. Perbedaan metode ini menjadi pengalaman belajar baru bagi mahasiswa dalam memahami keragaman sistem pendidikan Al-Qur'an di daerah. Kegiatan mengajar dilakukan pada hari Senin hingga Rabu, dengan sistem lima mahasiswa KKM mengajar setiap harinya secara bergiliran. Pembagian ini bertujuan agar proses pendampingan santri tetap berjalan efektif dan mahasiswa dapat saling berbagi peran serta pengalaman mengajar. Antusiasme santri sangat terasa sejak hari pertama. Adik-adik TPQ tampak riang dan bersemangat menyambut kehadiran mahasiswa KKM karena merasakan suasana belajar yang berbeda. Di sela-sela kegiatan, mahasiswa juga banyak belajar bahasa Bawean langsung dari para santri, yang dengan senang hati mengenalkan kosakata lokal. Melalui kegiatan mengajar di TPQ Baitul Quran ini, mahasiswa tidak hanya menyalurkan ilmu, tetapi juga memperoleh pelajaran berharga tentang kesabaran, metode pengajaran yang beragam, serta karakter santri yang sopan dan mudah diarahkan. Pengalaman ini menjadi bagian penting dari proses pengabdian mahasiswa KKM di Desa Kelompanggubug.

Thumbnail
2 months ago
Kegiatan Shobahul Lughah di MI Miftahul Jadid sebagai Salah Satu Program Unggulan KKM Sahwahita 175 UIN Malang dalam Bidang Pendidikan

ATINA ZAHIRA AL `ULYA

Mahasiswa KKM Mandiri 175 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan program kerja di bidang pendidikan berupa kegiatan Shobahul Lughoh di MI Miftahul Jadid Dusun Curah Leduk, Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi. Program ini ditujukan untuk seluruh siswa-siswi madrasah sebagai upaya untuk memperkenalkan dan membiasakan penggunaan bahasa Arab. Shobahul Lughoh merupakan kegiatan pembelajaran bahasa Arab yang dilaksanakan pada pagi hari sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin tiga kali dalam satu minggu. Tepatnya setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis mulai pukul 07.00-07.30 WIB. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini difokuskan pada pembiasaan bahasa Arab sederhana yang dekat dengan aktivitas para siswa sehari-hari. Setiap kelas didampingi oleh masing-masing satu mahasiswa. Kelas 1 bersama kak Eralda, kelas 2 bersama kak Nana, kelas 3 bersama kak Fida, kelas 4 bersama kak Olive, kelas 5 bersama kak Lajan, dan kelas 6 bersama kak Candra.  Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah menumbuhkan minat para siswa madrasah dalam mengenal bahasa Arab sejak usia dini. Sehingga, materi yang diajarkan dalam Shobahul Lughoh berisi kosakata-kosakata dasar dan ungkapan sederhana seperti salam, perkenalan, sapaan sehari-hari, serta kosakata benda dan aktivitas yang sering dijumpai di lingkungan sekolah. Materi sederhana ini disampaikan melalui media lagu, yang diharapkan akan lebih mudah dicerna dan membekas dimemori anak-anak. Siswa-siswi tampak antusias dan semangat dengan kegiatan shobahul lughah ini. Suasana belajar yang santai dan menyenangkan menambah rasa semangat para siswa dalam proses belajar mengajar. Kegiatan ini juga mendapat respon positif dari para guru MI Miftahul Jadid. Para guru menilai kegiatan Shobahul Lughoh dapat menjadi kegiatan pendukung pembelajaran bahasa Arab di madrasah. Selain itu, kehadiran para mahasiswa KKM dengan metode pembelajaran yang variatif dan sederhana diharapkan mampu menambah semangat belajar siswa di pagi hari.

Thumbnail
2 months ago
Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring oleh Mahasiswa KKM Mandiri Sahwahita 175 UIN Malang bersama Ibu-Ibu PKK Desa Banyuanyar

MUFIDATUL AMEILIA

Banyuwangi, 23 Januari 2026 — Mahasiswa KKM Mandiri kelompok 175 UIN Malang mengadakan sebuah pelatihan tentang pengolahan sabun cuci piring dari limbah kopi bersama dengan Ibu-Ibu PKK Desa Banyuanyar. Tidak hanya Ibu-Ibu PKK, para staf balai Desa Banyuanyar juga turut aktif dalam mengikuti pelatihan ini. Termasuk pula Ibu Kepala Desa Banyuanyar, yakni Ibu Ill Syilviana, S.ST. Keb. yang memberikan respon positif atas dilaksanankannya kegiatan pelatihan ini.  Mahasiswa KKM UIN Malang memilih limbah kulit kopi, tidak lain karena Desa Banyuanyar atau lebih umumnya wilayah Kecamatan Kalibaru merupakan penghasil utama komoditas kopi. Banyak dari masyarakatnya berprofesi sebagai petani kopi. Bahkan menurut dari wawancara yang kami lakukan kepada salah satu warga, ia menyampaikan bahwa hampir semua orang di daerah ini pasti mempunyai kebun kopi. Namun pemanfaatan limbah kopi di daerah ini masih sangat terbatas. Contohnya saja kulit kopi yang hanya dijadikan sebagai makanan hewan ternak. Oleh karena itu, mahasiswa KKM UIN Malang berinovasi dengan memanfaatkan kulit kopi sebagai salah satu bahan untuk pembuatan sabun cuci piring. Kegiatan pelatihan ini dimulai pada pukul 09.30 bertempat di Balai Desa Banyuanyar dan diikuti oleh 20 peserta. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh MC yang bertugas, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan dari koordinator Desa yang disampaikan oleh Kak Akbar, juga tak lupa sambutan dari Ibu Kepala Desa Banyuanyar.  Sesi selanjutnya masuk pada acara inti yakni pemaparan materi tentang "Pembuatan Sabun Cuci Piring dari Limbah Kopi" yang disampaikan oleh Kak Eralda dan Kak Nia. Materi yang disampaikan sangat runtut, mulai dari bahan yang dibutuhkan, takaran setiap bahan, langkah-langkah pembuatan, dan benefit yang didapatkan dari pembuatan sabun cuci piring ini.  Setelah sesi penyampaian materi, dilanjutkan dengan sesi praktek bersama yang dipandu langsung oleh pemateri. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 5-7 orang. Setiap kelompok mendapatkan bahan dan alat masing-masing. Bahan-bahan tersebut diantaranya 200 gram texapon, garam dapur (NACL), limbah kulit kopi yang sudah ditumbuk dan diseduh (berbentuk cair), dan aromatic kopi, serta 1000 ml air.  Masing-masing bahan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Texapon atau biang sabun merupakan bahan inti yang nantinya akan mengeluarkan busa. Air berfungsi untuk melarutkan texapon. Garam dapur berfungsi untuk mengentalkan tekstur sabun. Limbah kulit kopi cair berfungsi sebagai pewarna alami yang menghasilkan warna coklat seperti kopi. Sedangkan aromatic kopi berfungsi untuk menambah aroma khas kopi yang enak dan sedap.  Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan sabun cuci piring ini sangatlah mudah dan praktis. Pertama masukkan texapon kedalam wadah yang telah disediakan, kemudian masukkan air, larutkan texapon dengan cara meremas-remas hingga teksturnya larut dengan air, kemudian tambahkan garam dapur hingga tesktur sabun mengental, tambahkan limbah kulit kopi secukupnya sebagai pewarna alami, dan yang terakhir tambahkan aromatic kopi. Diamkan sabun selama semalaman untuk menghilangkam busa, dan sabun cuci piring siap untuk digunakan. Para ibu PKK sangat excited dan antusias mengikuti step by step pembuatan sabun cuci piring. Setelah proses pembuatan selesai, setiap peserta mendapatkan 1 botol untuk mewadahi sabun yang telah selesai dibuat. Bahkan tidak jarang, ibu-ibu meminta botol tambahan untuk mewadahi sabun yang masih tersisa.  Para peserta terutama Ibu-Ibu PKK merasa bahwa pelatihan sabun cuci piring ini sangat bermanfaat. Selain mudah untuk dipraktekan sendiri di rumah, juga terdapat nilai ekonomis yang terkandung dalam pembuatan sabun cuci piring ini. Mengingat sabun cuci piring merupakan salah satu produk vital yang harus ada di setiap rumah. Tak lupa kegiatan pelatihan ini ditutup dengan sesi dokumentasi bersama dan doa penutup.  Penulis: Mufidatul Ameilia

Thumbnail
2 months ago
Gotong Royong Bangun Dinding Pembatas TPS: Kisah Kelompok KKM 104 UIN Malang di Dusun Ampel Gading

NAELUL GHOZY SYAHIDAN ARSYADALLAH

Desa Mulyoarjo, Lumajang - Sebuah kolaborasi apik antara mahasiswa dan masyarakat terwujud di Dusun Ampel Gading, Desa Mulyoarjo. Kelompok KKM 104 UIN Malang bersama warga setempat berhasil menyelesaikan pembangunan dinding pembatas Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang dikerjakan dengan penuh semangat gotong royong selama empat hari. Berawal dari Sowan dan Silaturahmi Cerita ini dimulai ketika kelompok KKM 104 tiba di Desa Mulyoarjo. Seperti kebiasaan baik yang sudah mengakar dalam budaya Jawa, langkah pertama yang kami lakukan adalah melakukan sowan ke rumah Bapak RT dan RW di Dusun Ampel Gading. Sowan ini bukan sekadar formalitas, tapi menjadi momen penting untuk mendengarkan langsung apa yang dibutuhkan masyarakat. Saat duduk bersama para sesepuh dan pengurus desa, banyak sekali masukan berharga yang kami terima. Obrolan mengalir santai namun penuh substansi, membahas berbagai persoalan yang dihadapi warga, terutama soal pengelolaan sampah di dusun tersebut. Di sinilah kami menyadari bahwa program kerja yang baik adalah program yang lahir dari kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar ide yang dipaksakan dari luar. "Mas-mas, mbak-mbak, kalau mau bantu di sini, yang paling perlu itu pengelolaan sampahnya. TPS kita butuh pembenahan," ungkap salah satu ketua RW saat kami berdiskusi hangat di rumahnya. Menentukan Prioritas Program Dari diskusi panjang dengan para ketua RW, RT, dan juga pihak pengelola sampah yang ada di Dusun Ampel Gading, kami mendapat dua rekomendasi utama: pembenahan tungku pembakaran sampah dan pembuatan dinding pembatas sampah. Keduanya memang sangat dibutuhkan untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah yang sudah ada. Namun, setelah kami survey lebih dalam dan menghitung-hitung kebutuhan, ternyata pembuatan tungku pembakaran sampah membutuhkan proses yang cukup lama dan biaya yang lumayan tinggi. Mengingat waktu KKM yang terbatas dan budget yang harus dikelola dengan bijak, kami pun berdiskusi lagi dengan pihak desa untuk mencari solusi terbaik. Akhirnya, kami sepakat untuk mengalihkan fokus pada pembuatan dinding pembatas TPS. Meskipun terkesan lebih sederhana, dinding pembatas ini sebenarnya sangat krusial fungsinya. Dengan adanya dinding pembatas, sampah tidak akan berserakan kemana-mana, TPS jadi lebih rapi, dan lingkungan sekitar pun lebih bersih dan nyaman dipandang mata. Semangat Gotong Royong yang Membanggakan Yang paling membuat kami terharu adalah ketika proses pembangunan dimulai. Kami sama sekali tidak merasa bekerja sendirian. Masyarakat Dusun Ampel Gading dan pengurus pengelola sampah benar-benar turun tangan membantu dari awal hingga akhir. Mereka tidak hanya memberikan dukungan moral, tapi juga bantuan material dan tenaga yang sangat berharga. Bahan-bahan untuk membuat dinding pembatas, mulai dari batako, semen, pasir, hingga peralatan lainnya, banyak yang dibantu oleh warga. Bahkan ada beberapa warga yang dengan sukarela menyumbangkan material dari rumah mereka sendiri. Semangat kebersamaan ini benar-benar membuat kami merasa bahwa program ini bukan hanya milik kelompok KKM, tapi milik bersama. Setiap hari selama empat hari pengerjaan, selalu ada warga yang datang membantu. Ada yang membawa kopi dan camilan untuk teman-teman yang sedang bekerja, ada yang ikut mengaduk semen dan menyusun batako, ada juga yang sekadar menemani sambil memberikan arahan dan tips supaya hasilnya maksimal. "Ini namanya program yang pas, makanya masyarakat antusias. Kalau programnya sesuai kebutuhan, pasti warga akan support," kata salah satu pengurus pengelola sampah yang setiap hari menemani kami bekerja. Suasana kekeluargaan yang terjalin selama proses pembangunan ini menjadi pelajaran berharga bagi kami sebagai mahasiswa. Bahwa pembangunan desa bukan soal datang, memberikan sesuatu, lalu pergi. Tapi tentang bagaimana kita bisa melebur bersama masyarakat, bekerja bahu-membahu, dan menciptakan sesuatu yang benar-benar bermanfaat. Hasil yang Membanggakan Setelah empat hari bekerja keras bersama-sama, akhirnya dinding pembatas TPS selesai dibangun. Hasilnya cukup memuaskan. Dinding yang kokoh dan rapi kini berdiri tegak, membatasi area TPS dengan jelas. Sampah-sampah yang sebelumnya kerap berserakan kini bisa lebih tertata dengan baik. Sebagai tanda bahwa ini adalah hasil kolaborasi antara mahasiswa KKM dan masyarakat, kami menuliskan "TPS Ampel Gading KKM 104 UIN Malang" pada dinding yang baru saja selesai dibangun. Bukan untuk mencari nama atau pamer, tapi sebagai kenangan dan bukti bahwa kami pernah bersama-sama bergotong royong membangun sesuatu yang bermanfaat untuk desa ini. "Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Terima kasih banyak untuk teman-teman mahasiswa yang sudah mau membantu desa kami. Semoga TPS ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat dan lingkungan kami jadi lebih bersih," ucap salah satu ketua RT dengan senyum lega. Komitmen untuk Terus Berbuat Baik Program pembangunan dinding pembatas TPS ini adalah salah satu dari sekian banyak program kerja yang akan kami laksanakan selama berada di Desa Mulyoarjo. Kami, Kelompok KKM 104 UIN Malang, berkomitmen untuk terus menjalankan program-program yang tidak hanya bagus di atas kertas, tapi benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat bagi masyarakat. Bagi kami, dinding pembatas TPS ini bukan sekadar tumpukan batako dan semen. Ini adalah simbol dari kolaborasi yang indah antara akademisi dan masyarakat. Kami berharap, dengan adanya dinding pembatas ini, pengelolaan sampah di Dusun Ampel Gading bisa lebih tertata. Lingkungan jadi lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk ditinggali. Terima kasih untuk seluruh masyarakat Dusun Ampel Gading, para ketua RT dan RW, pengurus pengelola sampah, dan semua pihak yang sudah mendukung program kami. Tanpa kalian, program ini tidak akan berjalan semulus dan semenyenangkan ini. Mari kita terus bersama-sama membangun desa yang lebih baik! "Bersama Membangun, Bersama Berkembang" - Kelompok KKM 104 UIN Malang di Desa Mulyoarjo

Thumbnail
2 months ago
KKM 36 UIN MALANG : MAHASISWA IKUT KHATAMAN AL-QUR’AN BARENG WARGA DESA BELUNG

IQBAL FIRDAUSI

KKM 36 UIN Malang ikut berpartisipasi dalam khataman Al-Qur'an yang dilaksanakan di Mushalla Al-Irsyad dan Mushalla Al-Azmunnuriyyah, RT 03 Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Kegiatan ini diadakan pada Kamis, 25 Desember 2025, mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai, diikuti oleh warga sekitar serta mahasiswa KKM. Kehadiran mahasiswa bertujuan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat desa serta mendukung kelancaran kelancaran kegiatan keagamaan.     Pelaksanaan khataman dilakukan secara berbeda berdasarkan jenis kelamin, di mana laki-laki berkumpul di Mushalla Al-Irsyad dan perempuan di Mushalla Al-Azmunnuriyyah. KKM anak-anak ikut berpartisipasi dalam kegiatan khataman, sehingga proses khataman warga, terutama ibu-ibu, dapat berjalan lebih lancar dan efisien. Kehadiran mahasiswa dan anak-anak KKM juga menciptakan suasana kegiatan yang lebih tertib, harmonis, dan penuh kebersamaan. Kegiatan ini mendapat tanggapan positif dari warga. Ibu Neni, salah satu tokoh masyarakat, menyampaikan: “Kami senang pelajar ikut hadir dan berpartisipasi dalam khataman. Kehadiran mereka membantu menjalankan kegiatan sehingga ibu-ibu dapat menyelesaikan khataman dengan lebih lancar.”     Melalui partisipasi ini, KKM 36 Ardhacittaberharap kegiatan keagamaan dapat mempererat ikatan antara mahasiswa dan masyarakat, sekaligus memberi pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam berinteraksi dengan warga desa. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa selama KKM sekaligus menumbuhkan nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, dan semangat gotong-royong di lingkungan Desa Belung. Kredit: Mala, Ulum dan Jida