PRIYANKA ELVINADYA
Dalam rangka memperingati Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW . selalu menjadi momen yang istimewa bagi umat Islam. Peristiwa besar ini tidak hanya mengingatkan tentang perjalanan Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ajakan untuk memperkuat keimanan dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT serta sesama manusia. Momen ini dirasakan secara khidmat oleh masyarakat Dusun Sundan melalui kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di Musholla Syuhada' . Kegiatan peringatan Isra' Mi'raj ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 17 Januari 2026 , dengan mengusung tema “ Rayakan Isra' Mi'raj dengan Meningkatkan Iman, Doa, dan Ukhuwah.” Acara ini dihadiri oleh masyarakat setempat, mulai dari pengurus dan pengajar TPQ, wali santri, anak-anak TPQ, hingga perwakilan mahasiswa KKM UIN Malang. Kehadiran mereka dapat mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap nilai-nilai keagamaan di lingkungan Musholla Suhada'. Mulai dari awal acara, suasana khidmat sudah terasa degan dinginnya angin dan hujan. Jamaah yang hadir diajak untuk menata hati dan niat melalui lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan dengan penuh penghayatan. Alunan ayat-ayat suci tersebut menghadirkan ketenangan dan pembuka yang penuh akan keberkahan. Keterlibatan mahasiswa KKM UIN Malang dalam kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kerjasama antara mahasiswa dan masyarakat. Kehadiran mereka tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang turut mendukung dan meramaikan kegiatan keagamaan di Dusun Sundan. Suasana semakin terasa saat lantunan sholawat Nabi menggema di area musholla. Penayangan sholawat dengan iringan hadroh menciptakan suasana yang menyejukkan hati sekaligus menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Sholawat menjadi sarana untuk memperkuat iman dan memperbanyak doa, selaras dengan tema besar kegiatan Isra' Mi'raj tahun ini. Kegiatan ini juga melibatkan santri TPQ Syuhada' yang turut mengambil bagian dalam rangkaian acara. Penampilan mereka menjadi wujud pembinaan keagamaan sejak dini serta sarana melatih kepercayaan diri anak-anak. Antusiasme dan dukungan dari para wali santri serta masyarakat menambah kehangatan suasana kebersamaan. Sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan semangat belajar santri, panitia juga memberikan penghargaan kepada peserta lomba mewarnai dalam rangka Hari Santri Nasional. Apresiasi tersebut diharapkan dapat memotivasi anak-anak untuk terus belajar, berkarya, dan berprestasi. Makna Isra' Mi'raj semakin diperdalam melalui sinkronisasi mauidhoh hasanah yang mengajak seluruh hadirin untuk merefleksikan kembali pesan utama dari peristiwa Isra' Mi'raj, khususnya tentang pentingnya salat, keimanan, dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan-pesan tersebut menjadi pengingat agar nilai-nilai ibadah tidak hanya dijalankan secara ritual, tetapi juga diwujudkan dalam sikap dan perilaku sosial. Acara ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk harapan agar seluruh rangkaian kegiatan membawa keberkahan serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat. Peringatan Isra' Mi'raj yang dilaksanakan pada Sabtu, 17 Januari 2026 ini menjadi bukti bahwa kebersamaan, iman, dan doa dapat tumbuh kuat melalui kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara gotong royong dan penuh keikhlasan.
RAIHAN RABBANI
KKN/KKM sering dipersepsikan sebagai agenda program pengabdian yang serat. Proposal disusun rapim sasaran yang dicantumkan ambisi, dan keberhasilan sering diukur dari seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan. Namun pengalaman saya dan rekan rekan selama KKN di Dusun Baran, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokesumo, Kota Malang justru menunjukkab bahwa kenyataan sosial tidak selalu sejalan dengan logika kampus administrasi. Di lapangan, permasalahan masyarakat tidak ditampilkan dalam bentuk masalah besar yang mudah diselesaikan melalui satu atau program unggulan saja. Yang kami temui justru persoalan- persoalan dasar yang berlangsung lama dan mungkin dianggap wajar seperti literasi keuangan keluarga yang rendah, pola pengasuhan anak yang minim dialog, pengelolaan sampah yang belum terarah, hingga perilaku perundungan di lingkungan sekolah yang sering kali dianggap sekadar candaan anak-anak semata. Sayangnya, masalah-masalah pribadi semacam ini sering kali luput dari perhatian karena tidak cukup menjual sebagai program yang seremonial. Padahal, dampaknya justru panjang dan menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Di titik inilah, relevansi KKN patut dijawab apakah KKN hadir untuk memenuhi indikator laporan, memenuhi kewajiban atas tugas yang diberikan oleh kampus semata, atau benar-benar menjawab kebutuhan warga/masyarakat. Isu lingkungan kami disentuh melalui penyuluhan pengelolaan sampah. Persoalan sampah sering kali dianggap sepele selama tidak terlihat mengganggu, padahal dampaknya nyata bagi kesehatan dan kualitas hidup. Kegiatan ini merupakan upaya awal membangun kesadaran bahwa kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab kolektif, bukan sekedar urusan individu. Selain itu, kami melakukan sosialisasi bullying kepada anak-anak dan remaja. Perundungan sering kali dibiarkan karena dianggap bagian dari proses tumbuh kembang, tanpa disadari dampak psikologis jangka panjangnya. Pendidikan sederhana ini diharapkan mampu menanamkan empati sejak dini. Dalam bidang pendidikan dan keagamaan, kami juga membantu pengajaran di TPQ terdekat. Disinggung kami merasakan langsung bahwa kehadiran siswa sering kali lebih berarti daripada materi yang dibawa. Anak-anak tidak selalu membutuhkan metode baru, tetapi figur yang mau hadir, mendampingi, dan peduli. Dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut, saya beserta rekan-rekan belajar bahwa perubahan sosial tidak lahir dari program yang besar dan berlangsung singkat, melainkan dari upaya kecil yang konsisten dan relevan. KKN akan kehilangan maknanya jika hanya menjadi rutinitas administratif yang selesai bersamaan dengan penarikan siswa. Sebagai pelajar, pengalaman ini menjadi referensi penting bagi kami. Ilmu pengetahuan tidak cukup berhenti di ruang kelas atau laporan akhir. KKN mengajarkan bahwa peran intelektual bukan sekedar menjalankan program, tetapi berani jujur pada kenyataan sosial dan rendah hati dalam menawarkan solusi. Dari Dusun Baran, kami juga belajar bahwa pengabdian bukan tentang terlihat bekerja, melainkan tentang benar-benar hadir.
NABIL `ATIEQ MUBAROK
Lapangan badminton Desa Pojok mendadak menjadi pusat perhatian warga pada pertengahan Januari 2026. Setelah sekian lama, akhirnya lapangan kembali hidup melalui kelompok KKM MITSEVA yang menyelenggarakan lomba badminton ganda campuran tingkat desa dengan konsep fun game yang dikemas santai, tetapi tetap menjunjung sportivitas. Kegiatan ini secara resmi dibuka sekaligus mulai dilaksanakan pada 14 Januari 2026 dan berlangsung selama dua hari hingga 15 Januari 2026. Turnamen ini diikuti oleh perwakilan dari setiap RT di Desa Pojok, dengan kepanitiaan yang sepenuhnya ditangani oleh mahasiswa KKM MITSEVA. Bagi warga Desa Pojok, ajang ini menjadi pengalaman baru, sebab ini merupakan turnamen badminton pertama yang digagas oleh kelompok KKM di desa tersebut. Meski digagas dan dijalankan secara mandiri oleh KKM MITSEVA, terselenggaranya kegiatan ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Sebagian kebutuhan pendanaan kegiatan turut mendapatkan bantuan dari pejabat Desa Pojok, yakni Ibu PJ Desa serta Bapak PJ Desa pada periode sebelumnya, yang memberikan dukungan moril maupun materil. Dukungan tersebut menjadi bentuk kepercayaan sekaligus penyemangat bagi panitia untuk tetap melanjutkan kegiatan hingga terlaksana dengan baik. Di balik kemeriahan yang terlihat, perjalanan menuju hari pelaksanaan tidaklah mudah. Sejak tahap persiapan hingga menjelang hari H, berbagai keraguan dan rasa pesimis sempat menghantui panitia. Puncaknya terjadi saat technical meeting yang dilaksanakan sehari sebelum pertandingan dimulai. Dalam forum tersebut, panitia menjelaskan secara rinci mengenai aturan permainan, alur pertandingan, serta konsep lomba yang diusung. Forum ini juga menjadi ruang diskusi terbuka bagi para ketua RT dan peserta untuk menyampaikan pertanyaan maupun pandangan mereka. Tak dapat dimungkiri, pro dan kontra pun muncul. Salah satu tokoh desa menyampaikan pandangannya bahwa aturan yang ditetapkan panitia dinilai kurang menunjukkan sisi kompetitif. Ia juga menyoroti tantangan dalam mencari pasangan ganda campuran, terutama dari kalangan perempuan. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membebani peserta laki-laki. Menanggapi hal tersebut, panitia dengan tenang menjelaskan bahwa konsep lomba ini sejak awal memang bukan untuk kompetisi serius, melainkan sekadar fun game untuk menciptakan keseruan dan kebersamaan. “Sebenarnya ini konsepnya hanya sekadar fun game saja, Pak. Untuk keseruan semata,” ujar perwakilan panitia. Diskusi sempat berlangsung cukup hangat. Namun pada akhirnya, seluruh pihak sepakat untuk mengikuti aturan panitia. Dengan kesadaran bahwa kegiatan ini ditujukan sebagai hiburan dan ajang silaturahmi, warga memilih untuk menjalani lomba dengan santai, tanpa menghilangkan nilai sportivitas. Meski sempat merasa down akibat beberapa komentar, semangat KKM MITSEVA tidak luntur. Dukungan justru datang dari warga yang melihat sisi positif kegiatan ini. “Bagus loh, Kak, inisiatifnya. Programnya bagus, dengan kegiatan ini warga Desa Pojok bisa berkumpul. Jarang sekali ada momen seperti ini,” ungkap salah satu istri peserta lomba. Pernyataan tersebut menjadi penguat bahwa apa yang dilakukan KKM MITSEVA bukanlah hal sia-sia. Seperti kata pepatah "Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil," usaha dan ketekunan panitia akhirnya terbayar. Hal itu terbukti pada hari pelaksanaan, meskipun terdapat beberapa peserta yang berhalangan hadir, acara tetap berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Para peserta tampil tidak setengah-setengah. Mereka mempersiapkan diri dengan latihan, bahkan memperhatikan atribut yang digunakan saat bertanding. Tak hanya peserta lomba, para perangkat dan tokoh Desa Pojok turut ambil bagian dalam fun matchsebagai hiburan sekaligus pelepas ketegangan menjelang babak final. Momen ini menjadi daya tarik tersendiri dan sukses menciptakan tawa serta sorak sorai penonton. Menariknya lagi, dari ajang yang awalnya hanya bertujuan sebagai fun game, warga mulai melihat munculnya bibit-bibit atlet badminton di Desa Pojok. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan sederhana pun dapat menjadi ruang untuk mengenali potensi generasi desa, khususnya di bidang olahraga. Lebih dari sekadar permainan, lomba badminton ganda campuran ini menjadi ajang silaturahmi antarwarga, mempererat hubungan sosial, serta menghadirkan ruang kebersamaan yang selama ini jarang terwujud. Lapangan badminton bukan hanya tempat bertanding, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kebahagiaan warga Desa Pojok.
AHMAD FATHONI
Pagi cerah di Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, menjadi latar yang sempurna untuk inisiatif mulia dari kelompok KKM 28 UIN Malang. Di bawah langit biru dengan awan putih menari-nari, kami memulai misi sederhana namun berdampak besar: memasang convex mirror di beberapa sudut jalan rawan tikungan. Sudut-sudut ini sering menjadi titik bahaya bagi pengendara lokal dan wisatawan yang menuju Bromo, di mana pandangan terhalang bukit dan rumah-rumah tradisional Jawa. Desa Poncokusumo, sebagai desa wisata di lereng Gunung Bromo, memiliki jalan sempit dengan tikungan tajam yang sering menyebabkan kecelakaan kecil hingga fatal. Pengendara motor dan mobil sering kali tak bisa melihat kendaraan dari arah berlawanan karena titik buta alami di persimpangan. Convex mirror, atau cermin cembung, menjadi solusi praktis yang sudah terbukti efektif di banyak daerah pedesaan Indonesia—alat ini memperluas jangkauan pandang hingga 360 derajat, memungkinkan sopir melihat bahaya sebelum terlambat. Inisiatif KKM kami lahir dari observasi lapangan selama program pengabdian masyarakat, di mana kami melihat betapa rawannya lalu lintas di pagi hari saat warga beraktivitas ke sawah atau pasar. Apresiasi Warga dan Dampak LangsungTak lama setelah selesai, beberapa warga mulai berdatangan untuk melihat hasilnya. Mereka sangat menghargai karena inisiatif ini langsung menyentuh kebutuhan sehari-hari: anak-anak sekolah, petani dengan karung beras, dan turis motor yang sering keceplosan di tikungan. Convex mirror ini bukan hanya alat, tapi simbol kepedulian pemuda terhadap masyarakat desa, mengurangi risiko tabrakan hingga 70% berdasarkan pengalaman serupa di daerah lain. Kegiatan ini mengajarkan kami nilai gotong royong yang masih kental di desa-desa Jawa Timur. Kolaborasi antara mahasiswa dan warga membuktikan bahwa perubahan kecil bisa lahir dari tangan-tangan bersatu. Ke depan, kami berharap inisiatif seperti ini terus berkembang, mungkin dengan menambahkan rambu reflektif atau sosialisasi keselamatan berkendara. Bagi pembaca yang berada di daerah rawan serupa, yuk ikut berpartisipasi keselamatan bersama adalah tanggung jawab kita semua!
MUHAMMAD IKMAL ILHAMULLOH
Mengawali tahun baru dengan aksi nyata, kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 183 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan program penghijauan lahan pada Kamis (01/01/2026). Kegiatan ini difokuskan pada pemanfaatan lahan kosong yang sebelumnya tidak terawat menjadi area pertanian produktif. Melalui inisiatif ini, mahasiswa KKM 183 berupaya menghidupkan kembali potensi sumber daya alam lokal demi kesejahteraan masyarakat sekitar. Langkah awal yang diambil oleh Kelompok 183 adalah menjalin kolaborasi strategis dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat. Kerjasama ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan bibit sayuran berkualitas serta mendapatkan arahan teknis mengenai tata cara penanaman yang baik. BPP menyambut baik inisiatif mahasiswa dengan menyuplai berbagai jenis bibit sayuran, mulai dari cabai, sawi, hingga terong, yang dinilai cocok dengan kondisi tanah dan iklim di Desa Kalikatir. Kondisi lahan yang sebelumnya merupakan tanah kosong tak berpenghuni menjadi tantangan tersendiri bagi para mahasiswa. Sebelum proses penanaman dimulai, anggota kelompok melakukan rekontruksi lahan untuk membersihkan gulma dan menggemburkan tanah. Transformasi lahan ini bukan sekadar upaya estetika, melainkan sebuah gerakan edukasi bagi masyarakat bahwa lahan sekecil apa pun dapat memiliki nilai ekonomis dan ekologis jika dikelola dengan tepat. Proses penanaman yang berlangsung pada Kamis pagi tersebut melibatkan partisipasi aktif dari anggota KKM 183 dan beberapa tokoh masyarakat. Dengan bimbingan dari pihak BPP, mahasiswa mempraktikkan teknik penanaman yang efisien guna meminimalisir kegagalan tumbuh. Kegiatan ini diharapkan menjadi stimulan bagi warga desa untuk melanjutkan perawatan bibit tersebut hingga masa panen tiba, sehingga hasilnya dapat dinikmati bersama secara mandiri. Ketua KKM Kelompok 183 menyampaikan bahwa program penghijauan ini merupakan salah satu pilar utama dalam pengabdian mereka. Selain mendukung ketahanan pangan keluarga di tingkat desa, penanaman bibit sayur ini juga berfungsi sebagai paru-paru kecil yang menyegarkan lingkungan sekitar. Mahasiswa berharap kehadiran mereka tidak hanya meninggalkan jejak fisik berupa kebun sayur, tetapi juga meninggalkan pola pikir inovatif dalam pemanfaatan lahan berkelanjutan. Kegiatan yang ditutup dengan sesi diskusi santai bersama warga ini mendapat apresiasi positif. Melalui sinergi antara akademisi, instansi pemerintah seperti BPP, dan masyarakat, KKM 183 UIN Malang membuktikan bahwa kolaborasi adalah kunci utama dalam membangun desa. Program ini menjadi bukti nyata komitmen mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat di bangku perkuliahan untuk menjawab tantangan nyata di tengah masyarakat.
SYAHIERA NURSYAH
Sukarara, Lombok Tengah, Pengabdian mahasiswa melalui Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Mandiri di Desa Sukarara menjadi ruang belajar yang tidak hanya berfokus pada pelaksanaan program, tetapi juga pada proses membersamai masyarakat. Berangkat dari niat mengabdi, siswa justru menemukan banyak pelajaran tentang sikap, nilai kebersamaan, dan cara memaknai peran sebagai pendatang di tengah kehidupan desa. Kehangatan Warga dalam Menyambut Kedatangan Berlokasi di Dusun Lendang, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, kehadiran siswa disambut dengan keterbukaan dan kehangatan warga. Jamuan sederhana khas desa menjadi simbol penerimaan, sekaligus gambaran kuat tentang budaya memuliakan tamu yang masih terjaga. Dari awal hadirnya, interaksi yang baik penuh kasih sayang mengawali keberlangsungan seluruh program pengabdian. Pendekatan kepada warga menjadi langkah awal yang dilalui melalui malam tahun baru bersama warga, yang dikemas dalam suasana kebersamaan dan dzikir. Antusiasme warga terlihat nyata, mulai dari interaksi sejak persiapan hingga partisipasi penuh saat eksekusi melebihi ekspektasi yang ada. Mereka menyumbangkan beberapa ekor ayam, ikan, serta tempat yang diusahakan untuk membantu memeriahkan. Tak ini membuat kita kembali belajar bahwa untuk membantu dan berbagi tak perlu menunggu memiliki lebih, karena apapun itu pasti berharga dan berarti. Pendekatan Edukatif pada Remaja dan Anak-Anak Pada bidang pendidikan, siswa KKM Mandiri melaksanakan psikoedukasi di SMPN 4 Jonggat dengan tema “Hubungan Sehat”. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada remaja mengenai hubungan yang sehat, komunikasi yang bertanggung jawab, serta pentingnya kesiapan emosional dan psikologis. Melalui pendekatan edukatif, program ini diharapkan dapat menjadi upaya preventif dalam meminimalisir pernikahan dini, ataupun hubungan beracun di berbagai lingkungan. Nilai keagamaan dan kebersamaan juga diperkuat melalui peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW yang melibatkan anak-anak tingkat sekolah dasar dan warga Dusun Lendang. Berbagai perlombaan bernuansa Islami menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mempererat hubungan antarwarga lintas usia. Momentum ini tidak hanya sekedar perayaan, tetapi juga ruang tumbuhnya semangat kebersamaan dalam suasana keagamaan. Komitmen terhadap pendidikan keagamaan diwujudkan melalui pembelajaran Al-Qur'an dan kajian fiqih dasar di TPQ Masjid Nurul Hidayah. Kami juga mendampingi kegiatan mengaji serta memastikan materi fiqih dapat diakses secara berkelanjutan melalui buku kajian fiqih dasar yang telah dicetak dan Ditempatkan di masjid. Keberadaan bahan kajian ini diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh anak-anak dan masyarakat setempat. Kebersamaan dan Proses Belajar Bersama Sepanjang proses pengabdian, siswa juga dihadapkan pada dinamika sosial yang menuntut sikap saling memahami dan menghargai. Ketika kegiatan tidak selalu berjalan sesuai rencana, komunikasi membantu dalam menemukan pemahaman. Dari situ, pengabdian yang dimaknai bukan hanya sebagai pelaksanaan program, namun juga sebagai latihan kesabaran, empati, dan kedewasaan dalam hati. Kebersamaan yang terjalin hingga momen penutupan menjadi penegasan bahwa kehadiran siswa bukan sekadar singgah, melainkan bagian dari proses saling belajar. Pengalaman di Desa Sukarara meninggalkan kesan mendalam bukan karena betapa sempurnanya atau betapa merugikannya kita, tapi karena betapa berharganya pelajaran yang kita terima, dan makna pengabdian yang sesungguhnya.