FITYANI PERENIA
Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) kami di Desa Sepakek pada bulan Januari ini terasa sangat istimewa. Entah karena kebetulan atau memang waktunya yang pas, kehadiran kami bertepatan dengan berbagai agenda besar desa. Mulai dari perayaan hari besar Islam, musim pernikahan, hingga momen duka warga terjadi secara berurutan. Hal ini membuat hari-hari kami tidak hanya diisi dengan program kerja formal di kantor desa atau sekolah, tetapi juga keterlibatan langsung dalam denyut kehidupan sosial warga yang sesungguhnya. Kesibukan kami dimulai tepat pada awal tahun. Lombok memang dikenal sebagai "Pulau Seribu Masjid", dan kami merasakan kebenarannya di sini. Desa Sepakek memiliki sembilan masjid yang tersebar di berbagai dusun, dan peringatan Isra Mi'raj tidak dilaksanakan serentak dalam satu malam saja, seperti yang sudah kami ceritakan di artikel kami sebelumnya(link). Namun, belum sempat kami beristirahat panjang dari safari Isra Mi'raj tersebut, desa kembali ramai dengan acara pernikahan. Bulan Januari ini tercatat ada tiga pernikahan yang digelar oleh warga. Di Lombok, persiapan pernikahan disebut dengan Begawe. Kami cukup terkejut melihat dapur umum acara hajatan di sini, yang ternyata bapak-bapaklah yang memegang kendali memasak nasi dan daging di kuali-kuali raksasa, dengan menu wajib Sayur Ares. Sementara itu, peran kami bersama para pemuda desa adalah membantu distribusi makanan. Kami bertugas mengantar hidangan Dulang tersebut ke hadapan para tamu undangan yang duduk melingkar di tempat-tempat yang sudah disediakan di sekitar halaman rumah dari tempat tersebut. Rasanya cukup melelahkan mondar-mandir membawa nampan berat, namun melihat kekompakan warga, rasa lelah itu tidak begitu terasa. Dari tiga pernikahan tersebut, dua di antaranya mengadakan tradisi Nyongkolan, dan kami berkesempatan mengikuti keduanya. Ini adalah pengalaman baru bagi kami. Nyongkolan adalah arak-arakan pengantin menuju rumah mempelai wanita yang diiringi musik tradisional seperti Gendang Beleq atau Kecimol. Kami ikut berjalan kaki di tengah barisan warga yang mengenakan pakaian adat, merasakan kemeriahan yang luar biasa. Melihat tradisi yang masih sangat lestari ini, kami sebagai anak muda yang besar di kota merasa kagum karena budaya lokal di sini masih dipegang teguh dan dijalankan dengan antusias. Rangkaian pengalaman kami di Desa Sepakek ini terakhir ada momen yang lebih emosional. Beberapa hari yang lalu, salah satu warga tetangga di dekat posko kami meninggal dunia. Suasana yang tadinya ramai oleh pesta, berubah menjadi syahdu penuh solidaritas. Tanpa dikomando, warga berdatangan untuk membantu keluarga yang berduka. Kami pun langsung turun tangan membantu mendirikan tenda dan menyusun kursi untuk para pelayat. Di sini, rangkaian doa dan tahlil biasanya berlangsung hingga hari ke-9 atau yang disebut Nyiwak. Setiap tamu yang datang selalu disuguhkan kopi hitam. Kami duduk bersama warga, menyeruput kopi, dan melihat bahwa gotong royong di desa ini tidak hanya hadir saat pesta pora, tetapi juga berdiri paling depan saat ada warga yang berduka. Satu bulan ini benar-benar membuka mata kami. Desa Sepakek bukan sekadar lokasi KKN, melainkan tempat belajar tentang arti kebersamaan yang sesungguhnya.
KHARISMA ROMADHON EKA SAFITRI
MALANG Minggu, 18 Januari 2026 – Kelompok 20 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) "Luminara" dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang sukses menyelenggarakan kegiatan sosialisasi parenting pada Minggu, 18 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Al-Basyiroh, Perumahan Puri Cempaka II, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Acara yang mengusung tema "Emotionally Healthy Parenting: Kesehatan Mental Anak Dimulai dari Kesehatan Emosional Orang Tua" ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran warga mengenai pentingnya pengelolaan emosi dalam pola asuh. Mengingat kesehatan mental anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan emosional yang diciptakan oleh orang tua di rumah. Sosialisasi ini menghadirkan Dr. Hj. Rofiqoh Rosidi, M.Pd., C.HT, yang merupakan Dosen Program Studi Psikologi, sebagai pemateri utama. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa orang tua perlu memiliki keterampilan sederhana dalam mengelola emosi agar dapat menciptakan hubungan yang hangat dan suportif dengan anak. Kegiatan yang diikuti oleh warga sekitar Perumahan Puri Cempaka II ini berlangsung secara interaktif. Alur acara dimulai dengan pembukaan oleh MC pada pukul 09.00 WIB, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, pemaparan materi inti selama 45 menit, hingga sesi diskusi tanya jawab yang dinamis. Sebagai penutup, panitia memberikan cenderamata kepada narasumber sebagai bentuk apresiasi atas ilmu yang dibagikan. Ketua Kelompok 20 KKM Luminara, Muhammad Alfin Nurullah, berharap melalui sosialisasi ini, para orang tua di wilayah Kedungkandang dapat lebih sadar akan kondisi psikis mereka sendiri demi masa depan mental anak-anak yang lebih baik. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan orang tua dalam mengikuti diskusi. Banyak peserta yang mengaku memperoleh wawasan baru terkait pentingnya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, serta bagaimana menciptakan lingkungan rumah yang ramah terhadap kesehatan mental anak. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata peran mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Mahasiswa KKM Kelompok 20 UIN Malang berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program edukatif yang bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Sosialisasi parenting ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang dalam menciptakan generasi yang sehat mental, berkarakter, dan berdaya saing di masa depan.
NAYA NAZHIFA FIRDAUSI
Malang- Rabu, 24 Desember 2025, Kegiatan serah terima anggota Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 113 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dilaksanakan di Masjid Jami Ali Musthofa. Kegiatan ini menjadi tanda dimulainya masa pengabdian mahasiswa kepada masyarakat di lokasi KKM tersebut. Acara berlangsung dengan tertib dan sederhana, namun tetap terasa khidmat dan penuh makna. Masjid dipilih sebagai tempat kegiatan karena menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial masyarakat. Serah terima ini juga menjadi momen awal perkenalan mahasiswa dengan lingkungan sekitar. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin hubungan yang baik antara mahasiswa dan masyarakat. Acara serah terima dihadiri oleh pengurus masjid Masjid Jami Ali Musthofa, Dosen Pembimbing Lapangan, serta seluruh anggota KKM Kelompok 113. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan dukungan dan sambutan yang baik terhadap program KKM. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Masyarakat terlihat antusias menyambut kedatangan mahasiswa yang akan tinggal dan beraktivitas selama beberapa waktu ke depan. Mahasiswa KKM juga tampak bersemangat mengikuti seluruh rangkaian acara tersebut. Hal ini menjadi awal yang positif bagi pelaksanaan KKM. Dalam sambutannya, perwakilan dari KKM Kelompok 113 menyampaikan rasa terima kasih atas penerimaan yang diberikan oleh masyarakat. Mahasiswa menyadari bahwa keberhasilan KKM tidak lepas dari dukungan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, mereka berharap dapat bekerja sama dengan baik dalam setiap kegiatan yang akan dijalankan. Mahasiswa juga menyampaikan kesiapan untuk berbaur dan belajar langsung dari masyarakat. Selain mengabdi, KKM juga menjadi kesempatan untuk menambah pengalaman dan wawasan. Harapannya, kehadiran mahasiswa dapat memberikan manfaat nyata. Salah satu pengurus masjid turut menyampaikan sambutan dan arahan kepada mahasiswa KKM, berharap mahasiswa dapat menjaga sikap, etika, dan nama baik almamater selama berada di tengah masyarakat. Selain itu, mahasiswa diharapkan aktif berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan dan sosial yang ada. Pihak desa juga membuka ruang diskusi dan kerja sama terkait program-program KKM yang akan dilaksanakan. Dukungan penuh diberikan agar kegiatan berjalan dengan lancar. Arahan tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebelum memulai aktivitas. Prosesi serah terima dilakukan secara simbolis sebagai tanda penyerahan mahasiswa dari pihak kampus kepada pihak desa. Momen ini menjadi inti dari kegiatan serah terima anggota KKM. Dengan prosesi tersebut, mahasiswa secara resmi diterima untuk melaksanakan pengabdian di wilayah setempat. Serah terima ini juga menjadi bentuk kepercayaan yang diberikan kepada mahasiswa. Tanggung jawab yang diemban diharapkan dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya. Mahasiswa diingatkan untuk selalu menjunjung nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Setelah prosesi serah terima, acara dilanjutkan dengan doa bersama. Doa dipanjatkan agar seluruh kegiatan KKM Kelompok 113 dapat berjalan dengan lancar dan aman. Selain itu, diharapkan setiap program yang dijalankan membawa manfaat bagi masyarakat. Doa bersama juga menjadi simbol kebersamaan antara mahasiswa dan warga. Suasana terasa tenang dan penuh harapan. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian acara serah terima. Dengan terlaksananya kegiatan serah terima ini, KKM Kelompok 113 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang siap melaksanakan program kerja yang telah direncanakan. Mahasiswa berharap dapat memberikan kontribusi positif selama masa pengabdian. Selain itu, pengalaman yang diperoleh diharapkan menjadi pembelajaran berharga bagi seluruh anggota. Kegiatan KKM ini juga diharapkan mampu mempererat hubungan antara kampus dan masyarakat. Melalui kerja sama yang baik, tujuan KKM dapat tercapai dengan optimal. Semoga seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik hingga akhir masa KKM.
AHMAD NASHIR ULWAN
LOMBOK TENGAH – Berbicara mengenai pariwisata dan potensi desa di Lombok Tengah, perhatian publik seringkali tersedot ke wilayah selatan dengan pesona sirkuit dan pantainya. Namun, jika melangkah ke arah utara, tepatnya di Kecamatan Pringgarata, terdapat sebuah desa yang menawarkan pesona berbeda. Desa itu bernama Desa Sepakek. Selama menjalani masa pengabdian Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di desa ini, kami menemukan bahwa Desa Sepakek bukan sekadar permukiman penduduk biasa. Desa ini adalah perpaduan utuh antara kemakmuran alam agraris, jejak sejarah infrastruktur masa lampau, serta kehidupan sosial masyarakat yang sangat harmonis di tengah perbedaan keyakinan. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai profil, potensi, dan fakta-fakta unik yang ada di Desa Sepakek. Negeri Air yang Tak Pernah Kering Hal paling mencolok yang membedakan Desa Sepakek dengan desa-desa lain di Lombok Tengah bagian selatan adalah ketersediaan airnya. Jika di wilayah lain air sering menjadi kendala saat musim kemarau, Desa Sepakek justru dianugerahi kelimpahan sumber daya air sepanjang tahun. Secara geografis, desa ini dikelilingi oleh jaringan sungai kecil dan saluran irigasi teknis yang airnya sangat jernih dan deras. Suara gemericik air yang mengalir di parit-parit pinggir jalan desa menjadi musik alami yang menenangkan setiap hari. Keberadaan air yang melimpah ini menjadikan tanah di Desa Sepakek sangat subur dan lembap. Lanskap desa didominasi oleh hamparan persawahan terasering yang luas. Sejauh mata memandang, pengunjung akan disuguhkan pemandangan hijau yang menyejukkan mata, dengan latar belakang perbukitan yang asri. Udara di sini relatif lebih sejuk dibandingkan dataran rendah lainnya, menjadikan Sepakek tempat yang ideal untuk melepas penat dari hiruk-pikuk perkotaan. Jurang Sate: Terowongan Kuno di Balik Bukit Salah satu aset paling ikonik dan bernilai sejarah yang dimiliki Desa Sepakek adalah kawasan yang dikenal warga setempat sebagai Jurang Sate. Meski namanya terdengar seperti nama kuliner, Jurang Sate sejatinya adalah sebuah situs infrastruktur pengairan kuno. Di lokasi ini, terdapat sebuah terowongan air yang menembus bukit cadas. Berdasarkan penuturan tokoh masyarakat dan pengamatan fisik, terowongan ini diperkirakan merupakan peninggalan masa lampau—kemungkinan besar dibangun pada masa kolonial atau masa Kerajaan Karangasem yang berkuasa di Lombok—sebagai solusi rekayasa irigasi. Fungsi utama Jurang Sate sangat vital, yakni mengalirkan debit air yang besar dari sumber mata air di hulu bukit menuju hamparan sawah di wilayah hilir desa. Tanpa terowongan ini, mungkin pertanian di Desa Sepakek tidak akan sesubur sekarang. Selain fungsinya, Jurang Sate memiliki daya tarik visual yang eksotis. Mulut terowongan yang menganga di tebing, dikelilingi akar-akar pohon besar dan aliran air yang deras di bawahnya, menciptakan suasana yang misterius namun memukau. Lokasi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah dan alam, di mana pengunjung bisa belajar tentang sistem irigasi tradisional (subak) sekaligus menikmati pemandangan alam. Dusun Taman Bali Salah satu fakta paling menarik dari Desa Sepakek terletak pada struktur demografinya. Di desa ini, toleransi bukan sekadar wacana, melainkan praktik hidup sehari-hari yang sudah berjalan puluhan tahun. Hal ini tercermin dari keberadaan Dusun Taman Bali. Sesuai namanya, Dusun Taman Bali adalah sebuah wilayah di dalam Desa Sepakek yang penduduknya 100% memeluk agama Hindu. Mereka bukanlah pendatang baru, melainkan warga asli yang telah menetap secara turun-temurun, membawa warisan budaya dan sejarah panjang hubungan antara Bali dan Lombok di masa lalu. Saat memasuki dusun ini, suasana kultural yang berbeda langsung terasa. Di setiap pekarangan rumah warga berdiri Sanggah atau tempat persembahyangan keluarga, serta ornamen-ornamen khas Hindu yang terjaga dengan baik. Yang luar biasa adalah hubungan sosial antara warga Dusun Taman Bali dengan warga dusun-dusun lain di Desa Sepakek yang mayoritas Muslim. Meskipun berbeda keyakinan dan cara beribadah, interaksi sosial mereka berjalan sangat cair dan rukun. Tidak ada pengkotak-kotakan dalam aktivitas sosial desa. Misalnya dalam kegiatan gotong royong. Saat desa mengadakan kerja bakti membersihkan jalan raya atau saluran irigasi, warga Dusun Taman Bali akan turun lengkap dengan peralatan kerjanya, berbaur dan bekerja bersama warga Muslim dari dusun lain, hingga makan bersama ketika kegiatan gotong royong itu sudah selesai Kerukunan ini juga terlihat saat perayaan hari besar. Warga saling menghormati perayaan keagamaan masing-masing. Warga Hindu menghormati suasana puasa Ramadan atau Maulid Nabi, begitu pula warga Muslim yang memberikan ketenangan saat warga Hindu merayakan Nyepi. Ini adalah bentuk kerukunan organik yang tumbuh dari rasa persaudaraan sesama warga Desa Sepakek. Kehidupan Sosial: Tradisi "Nyongkolan" Kopi dan Hajatan Karakteristik masyarakat Desa Sepakek secara umum dikenal sangat ramah, guyub, dan memegang teguh adat istiadat. Kehidupan sosial di sini masih sangat tradisional dalam artian positif. Menyuguhkan Kopi Salah satu tradisi yang paling kental adalah kebiasaan menjamu tamu. Di Desa Sepakek, kopi adalah simbol penghormatan. Setiap kali berkunjung ke rumah warga, hampir dipastikan tuan rumah akan segera menyeduh kopi. Bagi warga Sepakek, ngopi bukan sekadar minum, melainkan media komunikasi. Di hadapan segelas kopi itulah berbagai masalah desa dibicarakan, kabar keluarga dipertukarkan, dan keakraban dibangun. Menolak suguhan kopi kadang dianggap kurang sopan, sehingga tradisi ini terus lestari hingga sekarang. Solidaritas dalam Hajatan Semangat kebersamaan (gotong royong) juga terlihat jelas saat ada warga yang menggelar hajatan, baik itu pernikahan (beqawin), haul, maupun sunatan. Warga satu kampung, mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, hingga remaja, akan datang membantu tanpa diminta. Ibu-ibu akan sibuk di dapur umum menyiapkan masakan dalam porsi besar, sementara bapak-bapak menyiapkan tenda dan perlengkapan. Tradisi saling bantu ini sangat meringankan beban pemilik acara dan mempererat tali silaturahmi. Ekonomi Desa: Lumbung Pangan dan Kuliner Lokal Dengan dukungan alam yang subur, roda perekonomian Desa Sepakek sebagian besar digerakkan oleh sektor pertanian. Desa ini merupakan salah satu lumbung pangan andalan di daerah Pringgarata. Komoditas utamanya adalah padi yang bisa dipanen hingga 2-3 kali dalam setahun berkat irigasi yang lancar. Selain padi, petani di sini juga menanam jagung dan palawija sebagai tanaman selingan. Pekarangan rumah warga juga sangat produktif, ditanami berbagai jenis buah-buahan tropis seperti pisang, nangka, durian, dan rambutan. Ketersediaan bahan pangan segar ini juga berpengaruh pada kuliner lokal. Desa Sepakek dikenal dengan sajian Plecing Kangkung. Kangkung yang tumbuh di aliran air sungai Sepakek memiliki tekstur batang yang renyah dan rasa yang manis, berbeda dengan kangkung yang ditanam di lahan kering. Desa Sepakek adalah potret desa yang lengkap dan mandiri. Ia memiliki fondasi ekonomi yang kuat dari sektor pertanian, memiliki aset sejarah yang bernilai lewat Jurang Sate, serta memiliki modal sosial yang tak ternilai harganya berupa kerukunan antarumat beragama. Bagi siapa pun yang ingin melihat bagaimana toleransi dirawat di akar rumput, atau ingin menikmati suasana pedesaan yang hijau dan asri, Desa Sepakek di Pringgarata adalah jawabannya.
ASDA RUKMANA DEWI
Landasan fundamental dalam pemberdayaan pariwisata adalah sumber daya manusia (SDM) yang tersedia. Dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan perlu adanya pengelola yang memiliki kapabilitas relevan. Oleh karena itu, perlu menyusun strategi dan upaya untuk meningkatkan kualitas SDM yang tersedia, salah satunya dengan menyelenggarakan sosialisasi tentang pemberdayaan pariwisata berbasis potensi dan partisipasi masyarakat. Dengan dukungan penuh dari pemerintah Desa Nglebeng, khususnya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Mandiri Kelompok 190 menyelenggarkan seminar pariwisata sebagai upaya dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang potensi wisata yang dimiliki desa setempat dan meningkatkan pemahaman tentang pemberdayaan pariwisata untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber yang sudah berpengalaman di sektor pariwisata, yaitu Ibu Ririn Setyo Widihastutuik, S.Pd. Beliau menjabat sebagai Ketua Pengelola Desa Wisata Pandean, Sekretaris Pokdarwis Kabupaten Trenggalek, dan juga sebagai pendamping desa wisata. Lapisan masyarakat yang menjadi pelaku dalam pemberdayaan wisata ikut serta dalam acara tersebut, mulai dari anggota Pokdarwis, Kepala Dusun, hingga pelaku UMKM setempat. Seminar pariwisata tersebut membahas tentang beberapa poin utama, yaitu konsep dan pilar pariwisata berkelanjutan, tata kelola destinasi dan peran masyarakat, serta etika, dampak, dan prinsip ekowisata. Seminar terselenggara dengan interaktif, para audiens antusias bertanya dan berdiskusi tentang materi yang telah disampaikan. Narasumber memberikan pemahaman sekaligus memberikan ide solusi inovatif atas permasalahan yang dihadapi Pokdarwis dalam mengelola tempat wisata setempat. Dengan adanya kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas SDM, seluruh lapisan masyarakat Desa Nglebeng diharapkan lebih menyadari terhadap potensi dari tempat wisata yang dimiliki serta memahami cara mengelola pariwisata agar memiliki daya tarik wisatawan yang tinggi dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya.
IZZUL MUKARROMAH
Kegiatan Gema Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dilaksanakan pada Selasa, 20 Januari 2026 di SDN 2 Ngadilangkung. Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas 1 hingga 6, didampingi oleh dewan guru dan mahasiswa KKM 81 Abhinaya Bhakti sebagai panitia pelaksana. Acara diawali dengan sholat dhuha berjamaah dan istighosah, dilanjutkan dengan penampilan banjari, pembukaan oleh MC, sambutan Ketua KKM, serta sambutan Kepala Sekolah yang sekaligus membuka rangkaian perlombaan. Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai lomba bernuansa edukatif dan religius, seperti lomba adzan, puisi, pildacil, mewarnai, dan fashion show. Setiap lomba dilaksanakan di tempat yang telah ditentukan dan didampingi oleh dewan juri dari guru dan mahasiswa KKM 81 Abhinaya Bhakti. Suasana kegiatan berlangsung meriah dan semua guru, siswa dan panitia pelaksana terlihat antusias dengan kegiatan ini. Lomba fashion show menjadi salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian karena dipandu oleh MC informal, kegiatannya di laksanakan di lapangan sekolah dan di saksikan oleh semua siswa dan guru. Sementara itu, lomba-lomba lainnya berlangsung dengan suasana yang kondusif dan penuh semangat di setiap kelas-kelas yang telah ditentukan. Para siswa mengikuti setiap rangkaian kegiatan lomba dengan penuh semangat, guru dan mahasiswa KKM 81 turut aktif mendampingi serta memastikan kegiatan berjalan dengan baik dan tetap kondusif. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat, melatih keberanian, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap nilai-nilai islam. Kehadiran mahasiswa KKM sebagai panitia dan juri turut menciptakan suasana kolaboratif antara sekolah dan mahasiswa dalam mendukung kegiatan berkarakter di lingkungan sekolah. Pengumuman juara dan pembagian hadiah lomba dijadwalkan dan dilaksanakan pada Senin, 26 Januari 2026. Melalui kegiatan Gema Isra’ Mi’raj ini, KKM 81 Abhinaya Bhakti berharap nilai-nilai keimana, kedisiplinan, dan akhlak mulia dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari keseharian siswa SDN 2 Ngadilangkung.