ALVI FARAH AZ-ZAHRAH
Sebagai bagian dari rangkaian program kerja Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), Kelompok Dharmayatra 106 melaksanakan inovasi digital berupa pengembangan Aplikasi BPSAB yang terintegrasi melalui website Desa Srigading. Program ini dirancang untuk membantu BUMDes dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan layanan air bersih desa, khususnya dalam hal pencatatan dan pemantauan pembayaran iuran bulanan masyarakat. Sebelum adanya Aplikasi BPSAB, proses pencatatan pelanggan dan pembayaran iuran air desa masih dilakukan secara manual , baik melalui buku catatan maupun arsip tertulis. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan berbagai kendala, seperti data yang tidak terstruktur, risiko kehilangan catatan, kesulitan dalam melacak konsumen yang rutin maupun tidak rutin membayar, serta kesulitan dalam menyusun laporan secara cepat dan akurat. Melihat permasalahan tersebut, Kelompok Dharmayatra 106 menggagas pembuatan Aplikasi BPSAB sebagai solusi digital yang dapat mendukung tata kelola BUMDes secara lebih modern, efisien, dan transparan. Pengembangan Aplikasi BPSAB bertujuan untuk: Mempermudah BUMDes dalam mencatat data pelanggan air desa secara ringkas. Membantu proses pelacakan konsumen berdasarkan tingkat kedisiplinan pembayaran iuran bulanan. Mengurangi ketergantungan pada pencatatan manual yang rentan terhadap kesalahan. Mendukung digitalisasi administrasi layanan air desa. Aplikasi BPSAB dirancang sebagai sistem pencatatan berbasis website dengan beberapa fungsi utama, antara lain: Pencatatan Data Konsumen Aplikasi ini memuat data pelanggan layanan air desa, seperti identitas pelanggan, alamat, dan status layanan. Seluruh data disimpan secara digital sehingga lebih mudah diakses dan diperbarui. Pelacakan Pembayaran Iuran Bulanan Melalui sistem ini, BUMDes dapat menampung konsumen yang rutin membayar maupun yang mengalami keterlambatan. Informasi pembayaran tersedia secara terstruktur, sehingga memudahkan proses evaluasi dan tindak lanjut. Rekapitulasi dan Arsip Data Aplikasi BPSAB memungkinkan pembuatan rekap data pembayaran secara berkala. Hal ini membantu BUMDes dalam menyusun laporan administrasi dengan lebih cepat dan sistematis. Integrasi dengan Website Desa Aplikasi ini terintegrasi dengan website Desa Srigading sebagai bagian dari sistem informasi desa, sehingga mendukung satu pintu akses digital untuk pelayanan dan administrasi desa. Dengan hadirnya Aplikasi BPSAB, B UMDes Desa Srigading diharapkan dapat mengelola layanan air desa secara lebih tertib dan profesional. Sistem pencatatan yang sebelumnya manual kini beralih ke sistem digital yang lebih aman, efisien, dan mudah digunakan. Bagi, pengelolaan masyarakat yang lebih baik ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan serta kejelasan administrasi pembayaran. Program kerja pengembangan Aplikasi BPSAB oleh Kelompok Dharmayatra 106 merupakan bentuk nyata kontribusi pelajar dalam mendukung transformasi digital di tingkat desa. Diharapkan, aplikasi ini dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh BUMDes sebagai sarana pendukung pengelolaan layanan air desa yang lebih modern, transparan, dan berkelanjutan.
HANAN MAHIRA AMANI
KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa) kelompok 129 Weningga Wirabhana UIN Malang bekerja sama dengan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan Dolan Edukatif bagi anak-anak usia sekolah Dasar di Dusun Paras, Desa karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 4 Januari 2026, bertempat di Rumah Singgah Dusun Paras, mulai pukul 08:30 hingga 14:30 WIB. Kegiatan Dolan Edukatif merupakan program edukatif dan literatif yang dirancang untuk memberikan ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak Dusun paras berusia Sekolah Dasar sebagai peserta utama, dengan pendampingan langsung dari Mahasiswa KKM 129 Weningga Wirabhana UIN Malang serta mahasiswa UMM seagai tutor dan fasilitator kegiatan. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan minat baca dan literasi anak-anak, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan dasar menulis, bercerita, dan jurnalistik sederhana. Selain itu, kegiatan ini bertujuan melatih anak-anak untuk bekerja sama dengan tim, meningkatkanrasa percaya diri, serta mengenalkan penggunaan gawai secara positif dan produktif sejak usia dini. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui berbagai metode interaktif yang disesuaikan dengan usia peserta. Anak-anak menerima materi penulisan anak, storytelling, jurnalis cilik, serta pengenalan foto dan video. Setelah pembentukan kelompok, peserta diajak melakukan kegiatan hunting video dan dilanjut proses editing sederhana secara berkelompok, kemudian masing-masing kelompok mempresentasikan hasil karya mereka di akhir kegiatan. Selama sesi istirahat, anak-anak mengikuti kegiatan membaca bersama dengan memanfaatkan perpustakaan berjalan yang sudah disediakan oleh mahasiswa UMM. Kegiatan ini menjadi sarana pendukung menumbuhkan kebiasaan membaca di sela-sela aktivitas utama. Melalui kegiatan Dolan Edukatif ini, mahasiswa berharap dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan literasi, kreativitas, serta kemampuan sosial anak-anak Dusun Paras, sekaligus mempererat kolaborasi antarperguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat.
DILA MAULIDA ZAHRANI
Suasana pagi di Dusun Ampelgading seolah turut membangun semangat warga yang berkumpul di lapangan untuk mengikuti kegiatan Jalan Sehat Dusun Ampelgading 2026. Warga berkumpul sejak pagi hari untuk mengikuti kegiatan jalan sehat yang diselenggarakan sebagai bagian dari penutupan program KKM. Kegiatan ini menjadi ruang kebersamaan antara mahasiswa dan masyarakat setelah menjalani berbagai program pengabdian. Acara diawali dengan senam pagi bersama yang diikuti oleh seluruh peserta. Gerakan senam yang sederhana dan iringan musik yang mengiringi membuat suasana semakin hidup. Senam pagi menjadi sarana pemanasan sekaligus membangun semangat kebersamaan sebelum melanjutkan kegiatan selanjutnya. Usai senam, peserta memulai jalan sehat menyusuri rute yang telah ditentukan. Langkah demi langkah dilalui bersama dalam suasana santai dan penuh keakraban. Jalan sehat ini tidak hanya bertujuan menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga dan mahasiswa KKM. Sesampainya di area finish kembali ke lapangan warga disuguhi pertunjukan bantengan/mberot salah satu kesenian tradisional khas Jawa Timur yang selalu dinanti. Aksi para pemain dengan kostum warna-warni dan alunan musik tradisional berhasil memukau peserta. Hiburan ini memberikan nuansa kebudayaan sekaligus menjadi hadiah hiburan setelah jalan sehat bersama. Kemeriahan ini menjadi kebanggaan sendiri atas kebudayaan lokal. Kemeriahan berlanjut dengan pembagian doorprize kepada peserta yang beruntung. Tawa dan sorak gembira terdengar ketika hadiah dibagikan, menambah kemeriahan dalam kegiatan tersebut. Doorprize menjadi wujud apresiasi kepada seluruh warga yang telah ikut berpartisipasi dalam kegiatan jalan sehat. Menjelang siang, kegiatan ditutup dengan sambutan dari perwakilan panitia dan tokoh masyarakat Dusun Ampelgading. Mereka menyampaikan apresiasi atas partisipasi semua pihak terutama mahasiswa KKM yang telah membantu selama program pengabdian berlangsung. Rasa syukur dan haru terasa ketika mahasiswa menyampaikan pamit kepada warga, menandai berakhirnya rangkaian kegiatan KKM dengan penuh kenangan manis.
SALSABILA ALYAPUTRI WALUYO
Ada tempat di mana kapur tidak sekadar meninggalkan jejak putih di papan tulis, melainkan meneteskan doa yang pelan-pelan meresap ke langit. Ada ruang kelas yang barangkali kecil ukurannya, tetapi luas maknanya—sebab di sanalah mimpi-mimpi anak-anak dititipkan, dirawat, dan dipercaya akan tumbuh. Tempat itu bernama MI Al-Ittihad Paras, sebuah madrasah sederhana yang berdiri tenang di Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Saya datang ke tempat ini bukan sebagai orang yang paling tahu, melainkan sebagai manusia yang ingin belajar arti mengabdi. Sebagai bagian dari KKN 129 Weningga Wirabhana, saya dan sepuluh teman lainnya diberi amanah menjalankan salah satu program kerja utama: mengajar. Kami datang membawa ilmu yang terbatas, tetapi dengan niat yang kami bentangkan seluas-luasnya. Setiap hari Rabu dan Kamis, kami membagi diri ke kelas-kelas dari kelas 1 hingga kelas 6. Dua kali dalam seminggu, kami membagi waktu, membagi tenaga, dan tanpa sadar—membagi hati. Di ruang-ruang sederhana itu, papan tulis menjadi saksi bisu, suara anak-anak menjadi lagu yang tak pernah fals, dan kapur yang menari di tangan kami seakan berbisik lirih: ajarilah dengan kasih, karena marah tak pernah melahirkan tumbuh. Di MI Al-Ittihad Paras, saya tak hanya dipanggil sebagai pengajar. Saya dipanggil sebagai kakak. Entah sejak kapan, saya menjadi salah satu kakak favorit mereka. Setiap hari selalu ada tangan-tangan kecil yang menyodorkan jajanan, surat-surat pendek dengan ejaan yang belum sempurna tetapi cinta yang begitu utuh. Ada hadiah-hadiah kecil—gelang, cincin mainan, boneka mungil—benda-benda sederhana yang nilainya melampaui apa pun yang bisa dibeli. Dari mereka saya belajar satu hal: bahwa kasih sayang tidak membutuhkan alasan rumit. Ia tidak perlu dijelaskan. Ia cukup hadir. Suatu hari, tubuh saya tak lagi bersahabat. Sakit datang mengetuk tanpa permisi. Namun hati saya menolak untuk benar-benar absen. Saya tetap memaksakan diri mengajar kelas 3, dengan suara yang ditahan, dengan senyum yang dijaga agar tak runtuh. Saya mengajar selembut yang saya bisa, tanpa marah, tanpa meninggikan suara—seolah ingin memastikan bahwa rasa sakit tidak ikut turun ke dalam pelajaran. Namun keesokan harinya, tubuh saya menyerah. Saya izin mengajar karena kondisi yang semakin memburuk. Saya pikir hari itu akan berlalu biasa saja. Ternyata saya salah. Anak-anak kelas 3 datang ke posko KKN. Mereka menjenguk saya. Mereka datang membawa obat. Membawa jajanan. Dan membawa sesuatu yang tak bisa diukur dengan kata apa pun—surat cinta. Tulisan tangan kecil itu terasa seperti pelukan yang tidak kasatmata, hangat, dan menenangkan. Di saat itulah saya sadar, bahwa apa yang kami ajarkan tak pernah benar-benar hilang. Ia kembali, menjelma kasih yang paling murni. Sejak hari itu, posko KKN hampir tak pernah sepi. Hampir setiap hari ada suara kecil yang bertanya dari balik pagar, dari balik pintu, dari balik rindu: “Kak Sabilnya ada?” Kalimat itu menjelma mantra. Ia melelahkan raga, tetapi menguatkan jiwa. Ia sederhana, tetapi berat maknanya. Saya belajar bahwa menjadi pendidik bukan tentang berdiri paling depan, bukan tentang suara paling lantang, melainkan tentang tinggal di hati. Tentang hadir dengan sabar. Tentang memilih lembut, bahkan ketika lelah. MI Al-Ittihad Paras mungkin kecil secara bangunan, tetapi besar dalam makna. Di sanalah saya melihat mimpi-mimpi tumbuh tanpa perlu berteriak. Di sanalah saya mengerti bahwa mengajar adalah ibadah yang bekerja diam-diam—mengubah murid, sekaligus mengubah diri sendiri. Karena ketika kapur menjadi doa, dan madrasah kecil memeluk mimpi yang besar, yang tumbuh bukan hanya ilmu— melainkan manusia. Dusun Paras mengajarkan saya satu hal yang akan selalu saya simpan: kadang, yang paling menyembuhkan bukan obat, melainkan cinta yang diajarkan oleh anak-anak dengan hati paling jujur.
MUHAMMAD RAMZI
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Pada Tahun 2025–2026, saya bersama Kelompok Eshora melaksanakan pengabdian selama 40 hari di Dusun Gumul, Desa Sukomulyo, Kecamatan Pujon. Kegiatan ini menjadi ruang aktualisasi keilmuan sekaligus proses pembelajaran sosial yang komprehensif di tengah kehidupan masyarakat. Kegiatan diawali dengan pelepasan resmi oleh pihak kampus yang memberikan pembekalan mengenai peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan. Setibanya di lokasi, Kelompok Eshora melakukan koordinasi dengan perangkat desa serta tokoh masyarakat guna menyelaraskan program kerja dengan kebutuhan setempat. Pembukaan KKM yang dilaksanakan di Balai Desa Sukomulyo menjadi momentum penting dalam membangun komitmen kolaboratif antara mahasiswa dan masyarakat. Selama pelaksanaan KKM, Kelompok Eshora menjalankan berbagai program kerja secara terstruktur dalam beberapa bidang utama, yaitu keagamaan, pendidikan, sosial, dan lingkungan. Dalam bidang keagamaan, program One Day One Juz dilaksanakan secara konsisten hingga khatam 30 juz Al-Qur’an. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga membangun kedisiplinan dan kebersamaan antaranggota kelompok. Selain itu, partisipasi dalam kegiatan keagamaan masyarakat seperti tahlil, yasinan, pembacaan Al-Kahfi dan Al-Waqiah, serta sholawat rutin menjadi sarana integrasi sosial yang efektif. Pada bidang pendidikan, Kelompok Eshora berperan aktif dalam mendukung kegiatan pembelajaran di SDN Sukomulyo 4. Pendampingan senam pagi, keterlibatan dalam proses belajar mengajar, serta penerapan metode pembelajaran yang interaktif menjadi bagian dari kontribusi yang diberikan. Selain itu, pengembangan minat dan bakat siswa melalui latihan seni tari, vokal, MC, dan dirigen turut menjadi fokus pendampingan. Pembuatan video profil sekolah serta pelaksanaan program Adiwiyata juga dilakukan sebagai upaya mendukung penguatan identitas sekolah dan peningkatan kesadaran lingkungan di kalangan siswa. Kontribusi dalam pendidikan nonformal diwujudkan melalui kegiatan mengajar di TPQ Baitussalam, TPQ Al-Qodar, dan TPQ P. Imron. Pendampingan santri dalam membaca dan memahami Al-Qur’an dilaksanakan secara rutin dengan pendekatan yang komunikatif dan suportif. Selain itu, penyelenggaraan sosialisasi parenting di lingkungan TPQ memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya pola asuh yang mendukung perkembangan anak. Kelompok Eshora juga melaksanakan sosialisasi pencegahan pernikahan dini di Balai Desa sebagai bentuk kontribusi edukatif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak sosial, psikologis, dan pendidikan dari pernikahan usia dini. Dalam bidang sosial dan lingkungan, Kelompok Eshora turut terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, seperti membantu distribusi bantuan sosial, mendampingi musyawarah desa, serta berpartisipasi dalam kerja bakti di lingkungan Sumber Dawuhan. Kebersihan posko dan lingkungan sekitar dijaga secara konsisten sebagai bentuk keteladanan. Dukungan terhadap UMKM lokal diwujudkan melalui pembuatan dokumentasi dan konten promosi produk sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif desa. Menjelang akhir masa pengabdian, dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program kerja. Kegiatan penutupan KKM berlangsung dengan tertib dan dihadiri oleh perangkat desa serta masyarakat. Momentum pamitan menjadi refleksi bahwa hubungan yang terjalin selama 40 hari tidak hanya bersifat formal, tetapi juga emosional dan kekeluargaan. Secara keseluruhan, pelaksanaan KKM oleh Kelompok Eshora di Dusun Gumul memberikan pengalaman yang signifikan dalam membangun kompetensi sosial, kepemimpinan, serta sensitivitas terhadap kebutuhan masyarakat. Pengabdian ini menegaskan bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat merupakan fondasi penting dalam menciptakan dampak yang berkelanjutan. Empat puluh hari pengabdian bukan sekadar rangkaian kegiatan, melainkan proses pembelajaran yang memperkaya perspektif dan memperkuat komitmen untuk terus berkontribusi bagi masyarakat.
LUTHFIA MARTIANA DEWI
https://drive.google.com/drive/folders/1HP1trPzJlLbGDxMv7reDL4kGFf_2APyt