Thumbnail
3 months ago
Belajar, Peduli, Ceria: Tiga Hari Kebersamaan KKM di SDN 1 Kalipare

SIRAJUL WAHHAJ

Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) merupakan bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan, sosial, dan penguatan karakter generasi muda. KKM Kelompok 60 (SAGARAS) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan rangkaian kegiatan edukatif di SDN 1 Kalipare, Desa Kalipare, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, selama tiga hari dengan berbagai program yang interaktif, edukatif, dan menyenangkan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, menanamkan nilai karakter pada siswa, serta mempererat hubungan antara mahasiswa, pihak sekolah, dan masyarakat sekitar. Hari Pertama: Pendampingan Pembelajaran dan Interaksi Edukatif Pada hari pertama, mahasiswa KKM terlibat langsung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas 1 hingga kelas 6 SDN 1 Kalipare. Mahasiswa membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajaran dengan metode yang lebih interaktif dan komunikatif sesuai dengan jenjang kelas masing-masing. Kegiatan pembelajaran dikemas secara kreatif melalui diskusi kelompok, permainan edukatif, serta pendekatan belajar yang menyenangkan sehingga siswa lebih aktif dan mudah memahami materi. Kehadiran mahasiswa disambut dengan antusias oleh para siswa yang menunjukkan semangat tinggi dalam mengikuti proses pembelajaran. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa serta memberikan pengalaman baru dalam proses belajar di kelas. Hari Kedua: Sosialisasi Anti-Bullying dan Penguatan Karakter Pada hari kedua, KKM Kelompok 60 menyelenggarakan kegiatan sosialisasi anti-bullying kepada seluruh siswa SDN 1 Kalipare. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai pengertian bullying, jenis-jenis bullying, dampak negatif bagi korban maupun pelaku, serta cara mencegah dan mengatasinya. Materi disampaikan secara komunikatif melalui presentasi interaktif, contoh kasus sederhana, serta sesi tanya jawab agar siswa lebih mudah memahami pentingnya sikap saling menghargai dan menghormati sesama. Untuk meningkatkan keterlibatan siswa, kegiatan juga diselingi dengan ice breaking, permainan edukatif, dan simulasi sederhana mengenai perilaku positif di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa mampu menumbuhkan sikap empati, toleransi, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Selain sosialisasi anti-bullying, mahasiswa juga menyampaikan materi mengenai sopan santun, etika berinteraksi, serta pentingnya menjaga sikap dan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Hari Ketiga: Lomba Kebersamaan dan Penguatan Nilai Kerja Sama Pada hari ketiga, kegiatan ditutup dengan berbagai lomba yang bertujuan mempererat kebersamaan dan melatih kerja sama antar siswa. Kegiatan ini dikemas menyerupai perlombaan tradisional seperti perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Beberapa lomba yang dilaksanakan antara lain estafet sarung, estafet kardus, dan balap karung. Kegiatan berlangsung dengan penuh semangat dan keceriaan, sekaligus melatih sportivitas, kekompakan, dan rasa kebersamaan antar siswa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap siswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar secara akademik, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan sosial, kerja tim, serta nilai-nilai karakter positif. Penutup dan Harapan Melalui rangkaian kegiatan selama tiga hari di SDN 1 Kalipare, KKM Kelompok 60 berharap dapat memberikan pengalaman belajar yang berkesan bagi siswa serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekolah. Program ini juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara mahasiswa, pihak sekolah, dan masyarakat sekitar. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga dapat dikemas secara kreatif, menyenangkan, dan bermakna guna membentuk generasi yang berkarakter, peduli, dan berprestasi.

Thumbnail
3 months ago
PENANAMAN POHON PINUS: Langkah Kecil Menuju Lingkungan Lestari Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "PENANAMAN POHON PINUS: Langkah Kecil Menuju Lingkungan Lestari", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/kkm55abhiyana3710/69718

SALUM MALIKA ALIYA ROHMAH

Program Terpopuler Terbaru Headline Topik Pilihan Komunitas Event Video K-Rewards   LAGI RAME! Sekarang, Saatnya Kamu Mengusulkan Ide Topik Pilihan di Kompasiana Gentengisasi: Ketika Negara Ngurusin Atap Rumah Warga Wajah Lain Savana Taman Nasional Baluran Saat Musim Hujan Prilly, Kiki, dan Kisah "Banting Setir" Karir Selebriti Buku dan Pena Tak Terbeli, Anak SD di NTT Bunuh Diri Putus Sekolah Bukan Sekedar Soal Uang Jajan     kkm 55 abhiyana Mahasiswa Kami mahasiswa/i KKM Uin Malang yang ditugaskan di Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Dan kami akan berbagi informasi terkait kegiatan kami selama KKM.   SELANJUTNYA FOLLOW EDU PENANAMAN POHON PINUS: Langkah Kecil Menuju Lingkungan Lestari 22 Januari 2026   08:45 Diperbarui: 22 Januari 2026   08:45 45 0 0 + Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.  Lihat foto   (Menanam bersama mahasiswa KKM Uin Malang)         Dalisodo, Wagir - Upaya pelestarian lingkungan hidup membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk generasi muda. Kesadaran inilah yang mendorong kami selaku mahasiswa KKM 55 Abhiyana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk melaksanakan kegiatan penanaman pohon pinus bersama masyarakat Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kab. Malang. Kegiatan ini mengusung tema "Penanaman Pohon Hari Ini untuk Lingkungan yang Lestari di Masa Depan" sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.     Kegiatan penanaman pohon tersebut dilaksanakan pada Kamis (29/12), mulai pukul 08.00 WIB, bertempat di wilayah Sempu Kerep, Desa Dalisodo, tepatnya di Wisata Pancuran Mbok Rondo Kuning. Sejak pagi hari, mahasiswa KKM bersama perangkat desa dan warga setempat telah berkumpul di lokasi kegiatan. Suasana kebersamaan dan gotong royong terasa kuat sejak awal pelaksanaan, mencerminkan semangat kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat. Penanaman pohon pinus dipilih sebagai bentuk aksi nyata karena memiliki dampak jangka panjang bagi lingkungan. Pohon pinus memiliki berbagai kegunaan penting, baik dari segi ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, pohon pinus berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Sistem perakaran pinus yang kuat mampu menahan struktur tanah sehingga efektif mencegah erosi dan longsor, terutama di wilayah perbukitan dan lereng. Selain itu, pinus membantu meningkatkan daya resap air ke dalam tanah, sehingga berkontribusi dalam menjaga ketersediaan air tanah dan mengurangi risiko banjir. kkm 55 abhiyana Mahasiswa Kami mahasiswa/i KKM Uin Malang yang ditugaskan di Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Dan kami akan berbagi informasi terkait kegiatan kami selama KKM. PENANAMAN POHON PINUS: Langkah Kecil Menuju Lingkungan Lestari (Menanam bersama mahasiswa KKM Uin Malang) Dalisodo, Wagir - Upaya pelestarian lingkungan hidup membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk generasi muda. Kesadaran inilah yang mendorong kami selaku mahasiswa KKM 55 Abhiyana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk melaksanakan kegiatan penanaman pohon pinus bersama masyarakat Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kab. Malang. Kegiatan ini mengusung tema "Penanaman Pohon Hari Ini untuk Lingkungan yang Lestari di Masa Depan" sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan. Kegiatan penanaman pohon tersebut dilaksanakan pada Kamis (29/12), mulai pukul 08.00 WIB, bertempat di wilayah Sempu Kerep, Desa Dalisodo, tepatnya di Wisata Pancuran Mbok Rondo Kuning. Sejak pagi hari, mahasiswa KKM bersama perangkat desa dan warga setempat telah berkumpul di lokasi kegiatan. Suasana kebersamaan dan gotong royong terasa kuat sejak awal pelaksanaan, mencerminkan semangat kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat. Penanaman pohon pinus dipilih sebagai bentuk aksi nyata karena memiliki dampak jangka panjang bagi lingkungan. Pohon pinus memiliki berbagai kegunaan penting, baik dari segi ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, pohon pinus berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Sistem perakaran pinus yang kuat mampu menahan struktur tanah sehingga efektif mencegah erosi dan longsor, terutama di wilayah perbukitan dan lereng. Selain itu, pinus membantu meningkatkan daya resap air ke dalam tanah, sehingga berkontribusi dalam menjaga ketersediaan air tanah dan mengurangi risiko banjir. Dengan terlaksananya kegiatan ini, mahasiswa KKM 55 Abhiyana UIN Malang bersama Bapak Kepala Desa dan masyarakat Desa Dalisodo telah menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar, tetapi dapat berawal dari tindakan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama. Penanaman pohon yang dilaksanakan hari ini bukan sekadar aktivitas simbolis, melainkan wujud nyata komitmen kolektif dalam menjaga keseimbangan alam. Melalui langkah kecil ini, harapan akan terciptanya lingkungan yang lebih hijau, lestari, dan berkelanjutan di masa depan mulai ditanam dan dirawat sejak sekarang, demi kesejahteraan generasi yang akan datang.

Thumbnail
3 months ago
Foto Bersama Pemilik Posko : Jejak Kenangan KKM Arsana Muda Bersama Keluarga Posko

INE APRILIA ISLAMI DEWI

Dalam rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), kebersamaan tidak hanya terbangun antaranggota kelompok, tetapi juga dengan masyarakat yang telah menerima dan mendampingi selama masa pengabdian. Hal ini dirasakan langsung oleh KKM Arsana Muda melalui momen foto bersama pemilik posko putri dan putra, yang menjadi salah satu kenangan paling berharga selama kegiatan berlangsung     Posko bukan sekedar tempat tinggal sementara bagi mahasiswa KKM. Lebih dari itu, posko menjadi ruang berbagi cerita, tempat beristirahat setelah menjalani aktivitas seharian, serta menjadi saksi tumbuhnya rasa kekeluargaan antara pelajar dan tuan rumah. Selama masa KKM, pemilik posko telah memberikan banyak dukungan, mulai dari tempat tinggal yang nyaman, perhatian layaknya keluarga sendiri, hingga nasihat dan cerita kehidupan yang penuh makna.     Sebagai bentuk rasa terima kasih sekaligus kenang-kenangan, KKM Arsana Muda mengabadikan momen kebersamaan melalui foto bersama di rumah pemilik posko putri dan putra. Foto-foto tersebut diambil dengan suasana sederhana namun penuh kehangatan. Senyum yang terpancar dari setiap wajah mencerminkan hubungan yang telah terjalin erat selama kebersamaan.     Dalam foto bersama pemilik posko, terlihat bagaimana mahasiswa KKM Arsana Muda berdiri dan duduk berdampingan dengan keluarga tuan rumah. Tidak ada jarak antara mahasiswa dan masyarakat, semuanya menyatu dalam suasana kekeluargaan. Momen ini menjadi simbol bahwa KKM bukan hanya tentang menjalankan program kerja, tetapi juga tentang membangun hubungan sosial yang tulus dan bermakna.   Kegiatan foto bersama ini juga menjadi penanda bahwa waktu kebersamaan di posko hampir mencapai akhir. Ada rasa haru, bahagia, dan bangga yang bercampur menjadi satu. Haru karena harus berpisah, bahagia karena telah melewati hari-hari penuh cerita, serta bangga karena dapat menjadi bagian kecil dari kehidupan masyarakat setempat.   Bagi KKM Arsana Muda, foto-foto ini bukan sekedar dokumentasi, melainkan pengingat akan nilai kebersamaan, kepedulian, dan rasa kekeluargaan yang terbangun selama kegiatan berlangsung. Kenangan ini diharapkan dapat terus hidup, meskipun waktu KKM telah usai dan setiap siswa kembali ke aktivitas masing-masing. Melalui momen sederhana seperti foto bersama pemilik posko, KKM Arsana Muda belajar bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu diukur dari besarnya program, tetapi dari hubungan baik dan kesan positif yang ditinggalkan.  

Thumbnail
3 months ago
Ritual Pernikahan Adat Buddha di Desa Ngadas

NURUL QOLBY SAJIDA RAUF

Bagi kami, rangkaian acara pernikahan tersebut terasa sangat asing karena merupakan pengalaman pertama menghadiri pernikahan dengan tata cara agama Buddha. Prosesi pernikahan berlangsung cukup panjang dan memerlukan waktu yang lama. Acara diawali dengan masuknya kedua mempelai yang diiring menuju ruang upacara pernikahan, yaitu vihara yang biasa digunakan sebagai tempat ibadah. Pernikahan ini dihadiri oleh Romo Dukun, Pandita Lokapalasraya, serta perangkat desa. Selain itu, terdapat pemandu acara yang bertugas mengarahkan jalannya prosesi dari awal hingga akhir. Setelah kedua mempelai beserta keluarga memasuki ruangan, mereka tidak langsung duduk, melainkan berdiri untuk melakukan persembahan kepada altar Buddha. Dalam prosesi persembahan ini, kedua mempelai melakukan sikap yang disebut sikap rahayu. Setelah salam selesai, persembahan tersebut diberikan kepada Buddha dengan arahan dari pemandu acara. Selanjutnya, terdapat sesi yang disebut sebagai saksi nikah, di mana kedua mempelai, orang tua, serta para saksi menjalani tanya jawab yang dipimpin oleh Romo. Proses tanya jawab ini disaksikan oleh seluruh tamu yang hadir, dengan tujuan agar kedua mempelai selalu mengingat ikrar yang telah diucapkan serta memastikan bahwa pernikahan tersebut dilakukan tanpa adanya paksaan. Setelah rangkaian tanya jawab selesai, kedua mempelai melaksanakan persembahan puja sebelum memasuki tahap pemberkatan dan pembacaan ikrar pernikahan. Persembahan puja merupakan persembahan yang ditujukan kepada Tri Ratna, yang bertujuan untuk memohon perlindungan dan berkat, sekaligus melambangkan tekad pasangan dalam memulai kehidupan rumah tangga yang berlandaskan ajaran Buddha. Usai melaksanakan persembahan puja, kedua mempelai melakukan penghormatan kepada Tri Ratna, yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ikrar pernikahan di hadapan Tri Ratna dan para tamu undangan. Tahap berikutnya adalah pemasangan pita dan kain kuning pada kedua mempelai sebagai simbol dimulainya prosesi pemberkatan oleh orang tua dan Pandita Lokapalasraya. Dalam prosesi pemberkatan ini, kedua mempelai diberkati dengan air suci yang dipercikkan menggunakan daun beringin. Prosesi tersebut bertujuan untuk menyucikan batin dan pikiran, serta melambangkan harapan, doa, dan penyucian demi kehidupan rumah tangga yang harmonis. Setelah pemberkatan selesai, kedua mempelai menerima nasihat dari orang tua masing-masing, yang dikenal dengan istilah sungkeman. Setelah seluruh rangkaian upacara pernikahan selesai, pita kuning yang mengikat kedua mempelai dilepaskan. Acara kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan surat keterangan perkawinan dan ikrar, serta diakhiri dengan penutupan. Kami menyaksikan seluruh proses pernikahan tersebut dengan penuh kekhidmatan dan rasa hormat. Melalui pengalaman ini, kami tidak hanya belajar mengenal budaya dan tradisi keagamaan yang berbeda dari yang biasa kami jumpai, tetapi juga memahami makna toleransi, saling menghargai, dan hidup berdampingan dalam keberagaman. Pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga bagi kami sebagai mahasiswa KKM dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya sikap saling menghormati dalam kehidupan sosial yang beragam.

Thumbnail
3 months ago
KKM 164 Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok: Prosesi Pernikahan Adat Suku Sasak

MOCHAMMAD FADHIL ALI MISBAKH

    Lombok bukan hanya terkenal dengan pantai-pantainya yang indah atau keanggunan Gunung Rinjani. Ketika kamu mengunjungi Pulau Seribu Masjid dan menemukan kemacetan karena iring-iringan pengantin yang disertai musik tradisional yang meriah, selamat! Kamu sedang melihat Nyongkolan.   Nyongkolan merupakan puncak dari serangkaian upacara pernikahan adat suku Sasak yang penuh warna, suara ,dan filosofi mendalam. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang tradisi yang menarik ini.   Secara harfiah, istilah Nyongkolan berasal dari kata "songkol" yang berarti mengantar atau mendatangi. Ini adalah acara di mana pengantin pria (Silaq) mendampingi pengantin wanita (Dende) kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa hari proses "penculikan" yang disebut Merariq. Tujuan dari prosesi ini sangat mulia: untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat bahwa kedua mempelai telah sah sebagai suami istri, serta menjadi kesempatan bersilaturahmi antar keluarga besar.   Tahapan dan Elemen Unik dalam Nyongkolan 1. Iring-iringan Budaya Kedua mempelai berjalan layaknya raja dan ratu (Datu dan Putri). Mereka mengenakan pakaian tradisional Sasak yang disebut Lambung untuk wanita dan Sapuk (ikat kepala) untuk pria. 2. Gendang Beleq Ini adalah inti dari kemeriahan Nyongkolan. Gendang Beleq adalah ansambel musik perkusi tradisional yang dimainkan oleh sekelompok pemuda. Suaranya yang penuh energi menambah semarak dan kesan megah pada acara tersebut. 3. Iringan Keluarga dan Tokoh Adat Di belakang mempelai, terdapat barisan keluarga besar dan tokoh masyarakat setempat. Para wanita sering menjunjung beberie (seserahan atau makanan) di atas kepala mereka dengan keseimbangan yang mengagumkan.   Nyongkolan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi juga penghubung antara dua keluarga melalui musik, tarian, dan langkah yang serasi. Jika kamu berkunjung ke Lombok, jangan lupa untuk menyaksikan prosesi ini secara langsung!

Thumbnail
3 months ago
Satu Senyum Bisa Menghentikan Bullying: Mahasiswa KKM UIN Malang Laksanakan Refleksi Diri Rutin di MTS Nurul Huda

NIHLAH ALIFATUL ROHMAH NUGROHO

Babadan, Ngajum — Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang melaksanakan program kerja rutin refleksi diri yang diselenggarakan setiap hari Selasa di MTsS Nurul Huda. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa KKM dalam mendukung pembinaan karakter dan penguatan nilai moral siswa. Pada selasa, 20 januari 2026 pelaksanaan refleksi diri ini kembali disampaikan oleh salah satu anggota KKM, Nihlah Alifatul Rohmah Nugroho atau yang akrab disapa Fafa, Mahasiswa program studi psikologi uin malang. Seperti pelaksanaan sebelumnya, kegiatan diawali dengan salat Dhuha bersama, dilanjutkan dengan pembacaan sholawat, kemudian memasuki sesi refleksi diri. Seluruh siswa dan siswi MTsS Nurul Huda dikumpulkan di halaman sekolah untuk mengikuti penyampaian materi yang kali ini mengangkat tema pembullyan (perundungan). Materi disampaikan secara komunikatif dan interaktif, serta diperkuat dengan pemutaran video contoh kasus perundungan, sehingga siswa dapat lebih memahami bentuk, dampak, dan cara mencegah perilaku tersebut di lingkungan sekolah. Dalam penyampaiannya, Fafa (pemateri) juga menyampaikan pesan moral yang menyentuh, yaitu: “Satu senyummu bisa menguatkan teman. Satu kata baikmu bisa menyembuhkan hati seseorang. Dan satu keberanianmu bisa menghentikan bullying. Kebaikanmu hari ini bisa menjadi harapan bagi orang lain.” Pesan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan empati, kepedulian, serta keberanian siswa untuk bersikap baik dan menolak segala bentuk perundungan Setelah penyampaian materi, seluruh warga MTsS Nurul Huda diajak berpartisipasi dalam pembuatan konten bersama sebagai bentuk kampanye anti perundungan dan komitmen menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan qiroah dan pembelajaran seperti biasa. Melalui program kerja refleksi diri rutin ini, mahasiswa KKM UIN Malang berharap dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan karakter siswa serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya sikap saling menghormati dan menolak segala bentuk perundungan.