Thumbnail
3 months ago
Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok

MAHFUDZ ABDUL KHALIQ

  Lombok bukan hanya terkenal dengan pantai-pantainya yang indah atau keanggunan Gunung Rinjani. Ketika kamu mengunjungi Pulau Seribu Masjid dan menemukan kemacetan karena iring-iringan pengantin yang disertai musik tradisional yang meriah, selamat! Kamu sedang melihat Nyongkolan. Nyongkolan merupakan puncak dari serangkaian upacara pernikahan adat suku Sasak yang penuh warna, suara ,dan filosofi mendalam. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang tradisi yang menarik ini. Secara harfiah, istilah Nyongkolan berasal dari kata "songkol" yang berarti mengantar atau mendatangi. Ini adalah acara di mana pengantin pria (Silaq) mendampingi pengantin wanita (Dende) kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa hari proses "penculikan" yang disebut Merariq. Tujuan dari prosesi ini sangat mulia: untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat bahwa kedua mempelai telah sah sebagai suami istri, serta menjadi kesempatan bersilaturahmi antar keluarga besar. Tahapan dan Elemen Unik dalam Nyongkolan 1. Iring-iringan Budaya Kedua mempelai berjalan layaknya raja dan ratu (Datu dan Putri). Mereka mengenakan pakaian tradisional Sasak yang disebut Lambung untuk wanita dan Sapuk (ikat kepala) untuk pria. 2. Gendang Beleq Ini adalah inti dari kemeriahan Nyongkolan. Gendang Beleq adalah ansambel musik perkusi tradisional yang dimainkan oleh sekelompok pemuda. Suaranya yang penuh energi menambah semarak dan kesan megah pada acara tersebut. 3. Iringan Keluarga dan Tokoh Adat Di belakang mempelai, terdapat barisan keluarga besar dan tokoh masyarakat setempat. Para wanita sering menjunjung beberie (seserahan atau makanan) di atas kepala mereka dengan keseimbangan yang mengagumkan. Nyongkolan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi juga penghubung antara dua keluarga melalui musik, tarian, dan langkah yang serasi. Jika kamu berkunjung ke Lombok, jangan lupa untuk menyaksikan prosesi ini secara langsung.

Thumbnail
3 months ago
Saat Teknologi Sederhana Menjaga Alam: Cerita Rocket Stove Desa Ngadas

NISRINA RANIA PUTERI

Di balik kabut tipis yang menyelimuti lereng pegunungan Bromo, Desa Ngadas berdiri tenang dengan hamparan ladang yang menjadi sumber kehidupan warganya. Desa yang berada di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang ini dikenal dengan udara sejuk, pemandangan indah, serta kearifan lokal masyarakatnya yang masih terjaga. Namun, di balik keindahan alam tersebut, desa ini juga menghadapi tantangan yang tidak terlihat dari kejauhan, yaitu persoalan pengelolaan sampah. Seiring meningkatnya aktivitas masyarakat, volume sampah rumah tangga pun ikut bertambah. Sampah yang awalnya terlihat sepele, perlahan menjadi persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian bersama. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, merusak keindahan alam desa, bahkan mengganggu aktivitas pertanian warga. Desa Ngadas sebenarnya telah memiliki Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang cukup besar yang berada di area ladang warga. TPS ini menjadi tempat berkumpulnya berbagai sampah rumah tangga masyarakat. Pemerintah desa sempat menghadirkan solusi melalui program pengelolaan sampah terpadu dengan sistem kontribusi masyarakat sebesar Rp7.500 per bulan per kepala keluarga. Nominal yang sederhana ini diharapkan mampu membantu operasional pengurus yang bertugas mengelola sampah desa agar lingkungan tetap bersihdan terjaga. Namun seiring berjalannya waktu, program tersebut menghadapi berbagai kendala di lapangan. Pengelolaan yang belum berjalan maksimal membuat program ini akhirnya dihentikan, meninggalkan tantangan baru bagi desa untuk mencari cara lain dalam menangani persoalan sampah. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKM UIN Malang mencoba menghadirkan solusi sederhana namun bermanfaat melalui pembuatan rocket stove minim asap. Rocket stove merupakan tungku pembakaran yang dirancang dengan sistem sirkulasi udara khusus sehingga proses pembakaran menjadi lebih efisien, lebih panas, dan menghasilkan asap yang jauhlebih sedikit dibanding pembakaran biasa. Alasan pembuatan rocket stove ini tidak hanya untuk membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga untuk meminimalisir dampak asap pembakaran yang selama ini sering mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dengan alat ini, pembakaran sampah bisa dilakukan lebih terkendali. Harapannya, udara desa tetap bersih, ladang tetap nyaman untuk bekerja, dan aktivitas masyarakat tidak terganggu oleh asap pembakaran yang berlebihan. Proses pembuatan rocket stove juga tidak hanya berhentipada pembuatan alat saja. Mahasiswa KKM turut memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara penggunaan, cara perawatan, serta manfaat jangka panjangnya bagi lingkungan desa. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama, di mana ilmu dari bangku perkuliahan bertemu dengan pengalaman hidup masyarakat desa. Dari sinilah semangat gotong royong kembali terasa hangat. Lebih dari sekadar program kerja, rocket stove menjadibentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan dan masyarakat. Di tengah udara dingin pegunungan Ngadas, rocket stove hadir sebagai simbol usaha kecil yang membawa harapan besar. Harapan akan lingkungan yang lebih bersih, udara yang lebih sehat, dan kesadaran bersama untuk menjaga alam. Langkah ini mungkin belum menyelesaikan seluruh persoalan sampah di Desa Ngadas. Namun perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Seperti api kecil yang mampu menyalakan cahaya di tengah gelap, inovasi sederhana ini diharapkan menjadi awal kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan. Karena pada akhirnya, merawat alam berart imerawat kehidupan itu sendiri.  

Thumbnail
3 months ago
KKM 164 Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok: Prosesi Pernikahan Adat Suku Sasak

MARIATI

KKM 164 Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok: Prosesi Pernikahan Adat Suku Sasak Lombok bukan hanya terkenal dengan pantai-pantainya yang indah atau keanggunan Gunung Rinjani. Ketika kamu mengunjungi Pulau Seribu Masjid dan menemukan kemacetan karena iring-iringan pengantin yang disertai musik tradisional yang meriah, selamat! Kamu sedang melihat Nyongkolan. Nyongkolan merupakan puncak dari serangkaian upacara pernikahan adat suku Sasak yang penuh warna, suara ,dan filosofi mendalam. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang tradisi yang menarik ini. Secara harfiah, istilah Nyongkolan berasal dari kata "songkol" yang berarti mengantar atau mendatangi. Ini adalah acara di mana pengantin pria (Silaq) mendampingi pengantin wanita (Dende) kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa hari proses "penculikan" yang disebut Merariq. Tujuan dari prosesi ini sangat mulia: untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat bahwa kedua mempelai telah sah sebagai suami istri, serta menjadi kesempatan bersilaturahmi antar keluarga besar. Tahapan dan Elemen Unik dalam Nyongkolan 1. Iring-iringan Budaya Kedua mempelai berjalan layaknya raja dan ratu (Datu dan Putri). Mereka mengenakan pakaian tradisional Sasak yang disebut Lambung untuk wanita dan Sapuk (ikat kepala) untuk pria. 2. Gendang Beleq Ini adalah inti dari kemeriahan Nyongkolan. Gendang Beleq adalah ansambel musik perkusi tradisional yang dimainkan oleh sekelompok pemuda. Suaranya yang penuh energi menambah semarak dan kesan megah pada acara tersebut. 3. Iringan Keluarga dan Tokoh Adat Di belakang mempelai, terdapat barisan keluarga besar dan tokoh masyarakat setempat. Para wanita sering menjunjung beberie (seserahan atau makanan) di atas kepala mereka dengan keseimbangan yang mengagumkan. Nyongkolan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi juga penghubung antara dua keluarga melalui musik, tarian, dan langkah yang serasi. Jika kamu berkunjung ke Lombok, jangan lupa untuk menyaksikan prosesi ini secara langsung!

Thumbnail
3 months ago
Melestarikan Budaya Nusantara, Pelatihan Batik jadi wadah edukasi serta ruang kreatif bagi kelompok KKM 66 UIN Malang

NISA ALIF FATHONAH

Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 66 ADIGHANA Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan membatik bersama masyarakat di Dusun Pangganglele, Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, pada Jumat, 10 Januari 2025. Kegiatan ini bekerja sama dengan UMKM lokal Batik Arjomulyo yang dikelola oleh Ibu Antonia Supraptini, sebagai salah satu upaya mengenal dan melestarikan potensi budaya desa.Kegiatan membatik ini menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung proses pembuatan batik, mulai dari tahap pembuatan pola, pencantingan malam, hingga pewarnaan kain. Tidak sedikit mahasiswa yang baru pertama kali memegang canting dan merasakan bahwa membatik membutuhkan ketelatenan, kesabaran, serta ketelitian tinggi.

Thumbnail
3 months ago
Mahasiswa KKM Kelompok 54 Laksanakan Penanaman Bibit di Dusun Bendrong

MAULID HOTIBUL UMAM

Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) merupakan bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sebagai wujud implementasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa berkesempatan terjun langsung ke tengah masyarakat Desa Argosari Jabung, mengenal permasalahan yang ada, serta berkontribusi melalui berbagai program kerja yang bermanfaat.  Adapun program kerja yang kami jalankan dirancang agar berdampak nyata dan berkelanjutan, yaitu menanam bibit bersama warga sebagai upaya menjaga dan memulihkan lingkungan, membantu proses pemerahan susu untuk mendukung peternak lokal agar produksi lebih efesien dan higienis, menggelar sosialisasi OJK guna meningkatkan literasi keuangan masyarakat untuk memahami kredit danagar bisa mulai menabung, lalu mengajar TPQ untuk mendampingi anak-anak belajar membaca Al-quran dan menumbuhkan sikap disiplin serta kepedulian sosial, mengadakan bimbel untuk anak-anak disekitar agar bisa belajar dengan mudah. semua kegiatan ini kami lakukan sambil terus berkomunikasi dengan warga, menyesuaikan program dengan kebutuhan nyata di lapangan, dan mendokumentasikan setiap proses supaya manfaatnya bisa diteruskan setelah KKM selesai. Baca laporannya atau berita lengkapnya bisa dilihat di sini : https://www.kompasiana.com/fillahanjany6106

Thumbnail
3 months ago
Kuliah Kerja Mahasiswa UIN Maliki Malang: Belajar, Peduli, Ceria di SD Wahidiyah Kalipare

TIARA DELIANA AKHMAD

https://drive.google.com/file/d/1lbjsut0uFKIP18JK24EgdD4tPtTze4qf/view?usp=drivesdk Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) adalah salah satu wujud konkret pengabdian mahasiswa kepada masyarakat yang menekankan keterlibatan langsung dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan keagamaan. Melalui program ini, mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang) secara aktif berbagi ilmu dan pengalaman kepada warga sekitar, terutama di lingkungan sekolah. Salah satu agenda pengabdian yang diselenggarakan dalam semangat tersebut adalah kegiatan di SD Wahidiyah Kalipare. Pada kegiatan bertajuk “Belajar, Peduli, Ceria: Tiga Hari Bersama KKM di SD Wahidiyah Kalipare”, para mahasiswa KKM UIN Maliki Malang hadir untuk memberikan bimbingan belajar serta penyuluhan berharga kepada siswa-siswi sekolah dasar tersebut. Selama rangkaian tiga hari kegiatan pengabdian, yang diadakan pada pertengahan Januari 2026, suasana di SD Wahidiyah Kalipare dipenuhi semangat kebersamaan. Ruang kelas yang sederhana menjadi pusat aktivitas belajar dan interaksi positif. Pemandangan menarik terlihat pada salah satu sesi acara (21/22 Januari 2026), ketika puluhan siswa mengenakan seragam Pramuka duduk rapi di atas karpet merah. Dekorasi di dinding kelas menampilkan tulisan “Maulid Nabi”, menambah nuansa religius sekaligus mendorong semangat keagamaan dalam pembelajaran. Di hadapan para siswa tersebut, seorang mahasiswa KKM bertindak sebagai pemateri, dengan penuh antusias membagikan materi dan pengalaman. Perhatian anak-anak terfokus pada sesi yang berlangsung, menggambarkan suasana kelas yang hangat dan penuh rasa ingin tahu. Kegiatan di hari tersebut fokus pada dua hal utama: proses belajar bersama dan penyuluhan anti-bullying. Para siswa menggunakan metode pembelajaran interaktif untuk menciptakan suasana ceria dan peduli. Mereka mengajak siswa berdiskusi dan bermain peran untuk memahami pentingnya saling menghargai, tolong-menolong, serta menolak segala bentuk perundungan. Dalam sesi anti-bullying ini, siswa menjelaskan apa itu bullying dan bagaimana efek negatifnya, lalu mendorong siswa untuk selalu melaporkan atau mencegah jika melihat teman mengalami kesulitan. Melalui tanya jawab dan permainan edukatif, anak terdorong untuk aktif menyatakan pendapat dan saling mendukung. Hasilnya, terciptalah suasana kelas yang penuh kekeluargaan: siswa belajar bersama dengan gembira sambil menumbuhkan sikap peduli satu sama lain. Lebih dari sekedar mengajar, kegiatan KKM di SD Wahidiyah Kalipare ini juga menanamkan nilai-nilai kepedulian dan kebersamaan. Dekorasi bergambar “Maulid Nabi” mengingatkan bahwa pembelajaran ini dilatarbelakangi oleh semangat keislaman, yaitu mempelajari keteladanan Nabi Muhammad SAW tentang akhlak mulia. Para pelajar KKM pun menanamkan pesan moral bahwa menjadi ceria dalam belajar tidak terlepas dari tanggung jawab untuk saling melindungi. Kegiatan tersebut diharapkan mampu menginspirasi siswa sebagai generasi penerus untuk menjunjung tinggi rasa peduli dan kebahagiaan dalam proses belajar. Selain manfaat bagi siswa, para pelajar pengabdi juga mendapatkan pengalaman berharga: mereka belajar berkomunikasi dengan anak-anak, mengelola dinamika kelas, serta menerapkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.   Sebagai bagian dari rangkaian program pengabdian masyarakat, kegiatan KKM di SD Wahidiyah Kalipare menunjukkan sinergi positif antara universitas dan sekolah. Kegiatan ini tidak hanya memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan bagi siswa, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antar lembaga pendidikan. Nuansa belajar, peduli, dan ceria yang terasa sepanjang acara menggambarkan tujuan utama KKM: menebar manfaat dan kebahagiaan melalui pendidikan. Dengan berakhirnya rangkaian tiga hari tersebut, para siswa dan siswa pulang membawa pengalaman baru yang menginspirasi – yaitu pentingnya belajar sambil berbagi, menjaga kebersamaan, dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta penuh keceriaan.