Thumbnail
8 months ago
Partisipasi Mahasiswa KKM Svarnanta 17 dalam Kegiatan Tahlil Laki-Laki RW 06

MUHAMMAD NUR RAMADHAN

Ikut membaur dengan masyarakat adalah salah satu pengalaman paling berharga selama Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Hal inilah yang dirasakan oleh mahasiswa KKM Svarnanta 17 saat turut berpartisipasi dalam kegiatan tahlil laki-laki di lingkungan RW 06, Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang. Kegiatan tahlil ini rutin dilaksanakan setiap Kamis malam secara bergilir, terkadang bertempat di rumah warga dan sesekali di Masjid Fatahillah. Suasananya hangat dan penuh kekeluargaan. Warga berkumpul, melantunkan doa bersama, sekaligus saling bertukar kabar setelah seharian beraktivitas. Bagi mahasiswa, momen ini bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga kesempatan untuk lebih dekat dengan masyarakat. Keikutsertaan mahasiswa KKM Svarnanta 17 menjadi bentuk nyata bahwa program KKM tidak hanya soal menjalankan agenda kerja, tetapi juga membangun hubungan sosial. Dari kegiatan ini, mahasiswa belajar bagaimana menghargai tradisi lokal, memahami kebiasaan warga, serta menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan masyarakat setempat. Selain mempererat silaturahmi, kegiatan tahlil juga menumbuhkan rasa kebersamaan. Mahasiswa tidak lagi merasa sebagai tamu, melainkan bagian dari lingkungan itu sendiri. Obrolan ringan setelah acara, sapaan ramah dari warga, hingga kebersamaan saat menikmati hidangan sederhana menjadi kenangan yang sangat berarti. Lebih jauh lagi, keterlibatan ini merupakan wujud nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Tidak hanya membawa program kerja, mahasiswa juga belajar tentang nilai gotong royong, toleransi, dan pentingnya menjaga tradisi keagamaan. Pengalaman seperti inilah yang tidak bisa didapatkan di ruang kelas. Melalui interaksi yang terjalin secara langsung, mahasiswa juga semakin memahami bahwa membangun masyarakat tidak selalu harus melalui kegiatan besar. Kehadiran, kepedulian, dan kemauan untuk ikut terlibat dalam aktivitas sederhana seperti tahlil justru menjadi langkah awal untuk menciptakan kedekatan emosional. Dari sinilah tumbuh rasa saling percaya antara mahasiswa dan warga, yang pada akhirnya mendukung keberhasilan program KKM secara keseluruhan. Harapannya, kehadiran mahasiswa KKM Svarnanta 17 dapat memberikan dampak positif, baik bagi warga maupun bagi mahasiswa itu sendiri. Semoga kebersamaan yang terjalin selama kegiatan ini dapat terus terjaga, bahkan setelah masa KKM berakhir.

Thumbnail
8 months ago
Aksi Nyata KKM 93 Kalventra: Sampah Botol Plastik Disulap Jadi Ecobrick "Dusun Duren" Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Aksi Nyata KKM 93 Kalventra: Sampah Botol Plastik Disulap Jadi Ecobrick "Dusun Duren"", Klik untuk baca: https

NUGI ABDUL FAIQ

Mahasiswa KKM 93 Kalventra bersama perangkat dusun dan RT Dusun Duren berfoto dengan ecobrick hasil pengolahan sampah plastik. Sampah plastik yang kerap dipandang sebagai masalah lingkungan kini disulap menjadi karya bermakna oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 93 Kalventra Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Melalui program ecobrick, mahasiswa KKM menghadirkan tulisan "Dusun Duren" sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan sekaligus identitas kebanggaan warga Desa Dawuhan. Ecobrick tersebut dibuat dari botol plastik yang diisi padat dengan sampah plastik non-organik, kemudian dirangkai hingga membentuk tulisan besar. Proses ini menjadi media edukasi bahwa sampah plastik, jika dikelola dengan tepat, tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan tetapi juga dapat dimanfaatkan secara kreatif dan bernilai. Program ecobrick ini dirancang sebagai bentuk edukasi lingkungan yang sederhana namun berdampak. Mahasiswa KKM 93 Kalventra ingin menanamkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah kecil, seperti memilah dan mengolah sampah plastik sejak dari rumah.

Thumbnail
8 months ago
Dari Lapangan Sekolah hingga Mushola, Jejak Pengabdian KKM Wening Praja 166 di Tamansari.

DAVINA KAMILA FARADIS

Pagi itu matahari belum tinggi ketika halaman SDN 1 Tamansari sudah ramai. Anak-anak berseragam olahraga berlari kecil sambil tertawa. Di tengah kerumunan, mahasiswa berjaket almamater membagikan kupon hadiah. Jalan sehat dimulai. Itulah potret awal aktivitas KKM Wening Praja 166. Bagi siswa, kehadiran mahasiswa terasa seperti kakak baru yang menyenangkan. Mereka bermain, belajar, sekaligus berbagi cerita. Setelah jalan sehat, mahasiswa mengajak anak-anak berdiskusi tentang bullying. Dengan gambar dan simulasi, mereka menjelaskan bahwa mengejek teman dapat menyakiti hati. Di tempat lain, beberapa mahasiswa terlihat duduk bersama pemilik toko kelontong. Mereka membantu mengisi formulir pendaftaran QRIS. “Biar nanti pembeli bisa bayar pakai HP,” ujar salah satu mahasiswa. Pedagang tersenyum, merasa usahanya kini selangkah lebih maju. Sore hari suasana berubah syahdu. Di TPQ Mansyaul Ulum dan Baital Makmur, lantunan ayat suci terdengar. Mahasiswa duduk melingkar bersama santri kecil, membimbing bacaan satu per satu. Hari-hari pengabdian itu sederhana, tetapi bermakna. Sedikit demi sedikit, Wening Praja 166 meninggalkan cerita baik di Tamansari tentang kepedulian, pembelajaran, dan harapan.   Penulis: Davina Kamila Faradis

Thumbnail
8 months ago
Menjawab Tantangan Zaman, Masjid Ainul Yaqin Sawojajar Kini Dilengkapi Layanan Konsultasi Keluarga

NEYLLA CAHYANIAR FIRNAMUCHID

Warga Sawojajar kini memiliki “rumah curhat” baru yang terpercaya. Bertempat di Masjid Ainul Yaqin, layanan konsultasi bernama Family Corner resmi diluncurkan pada Selasa (27/1). Program inovatif ini lahir berkat kerja sama apik antara takmir masjid dan mahasiswa KKM 19 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tidak sekadar seremonial, acara ini menjadi titik awal pendampingan keluarga yang serius. Renata Dwi Yasarah melaporkan bahwa pelantikan pengurus dilakukan demi memastikan warga memiliki tempat mengadu yang dikelola secara profesional saat menghadapi masalah domestik. Prof. Dr. Hj. Mufidah Cholil, M.Ag., inisiator Family Corner UIN Malang, hadir langsung untuk meresmikan fasilitas tersebut. Beliau menekankan pentingnya kehadiran solusi berbasis agama yang mudah dijangkau oleh masyarakat terkecil, yakni keluarga. Suasana semakin hangat ketika Dr. Hj. Rofiqoh Rosidi, M.Pd., C.HT., dosen Psikologi UIN Malang, naik panggung. Membawakan materi tentang harmoni tiga generasi (anak, orang tua, kakek-nenek), beliau memberikan tips praktis bagaimana menyelaraskan pola asuh di tengah gempuran teknologi. “Kuncinya ada pada penyamaan frekuensi komunikasi,” jelasnya. Antusiasme tinggi dari warga lokal membuktikan besarnya kebutuhan akan ruang edukasi semacam ini. Dengan dukungan penuh dari KKM 19 Sattvaghana dan LP2M UIN Malang, Family Corner Masjid Ainul Yaqin siap berlayar menjadi garda terdepan kemaslahatan umat.

Thumbnail
8 months ago
Resmi Ditutup di Balai Desa Pandanlandung, KKM DarmaWidya Akhiri Pengabdian dengan Haru dan Apresiasi Masyarakat

FAJWA RABANIA

Penutup rangkaian pengabdian mahasiswa. Momen penting lainnya adalah penyerahan sertifikat halal kepada pelaku usaha lokal yang telah berhasil memperoleh legalitas halal melalui pendampingan mahasiswa. Penyerahan ini menjadi simbol keberhasilan program pemberdayaan ekonomi sekaligus bentuk apresiasi atas kerja keras pelaku UMKM dalam memenuhi standar produksi halal. Diharapkan, sertifikasi tersebut mampu meningkatkan kepercayaan konsumen serta memperluas peluang pemasaran produk. Doa, Foto Bersama, dan Perpisahan Penuh Haru Menjelang akhir acara, kegiatan ditutup dengan pembacaan doa oleh Bapak Modin, memohon keberkahan atas seluruh proses pengabdian yang telah dilalui. Setelah itu, seluruh peserta mengabadikan momen melalui foto bersama dan dokumentasi, menjadi kenangan terakhir kebersamaan antara mahasiswa dan masyarakat Pandanlandung. Suasana haru tak terelakkan. Canda dan kerja sama yang terjalin selama berminggu-minggu kini harus berakhir, namun meninggalkan jejak kedekatan emosional yang mendalam. Akhir Pengabdian, Awal Silaturahmi Penutupan resmi KKM di Balai Desa Pandanlandung bukan sekadar akhir dari program kampus, tetapi menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat mampu menghadirkan perubahan positif. Lebih dari sekadar kegiatan, KKM telah menjadi ruang belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama. Meski masa pengabdian telah usai, semangat kebersamaan dan silaturahmi diharapkan tetap terjaga sebagai fondasi kolaborasi di masa depan.

Thumbnail
8 months ago
Mengukir Senyum tanpa Air Mata: Misi Cakrawala 186 UIN Malang Mengikis Perundungan di SDN 1 Sarongan

MUHAMMAD WAFI AL-IRTAQI

Sarongan, Banyuwangi – Jauh di sudut selatan Kabupaten Banyuwangi, di mana hamparan hijau Desa Sarongan beradu dengan cakrawala pantai, sebuah langkah perubahan kecil namun berarti sedang diupayakan. Bukan soal pembangunan infrastruktur fisik semata, melainkan pembangunan fondasi batin bagi generasi penerus bangsa.  Mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari Kelompok Cakrawala 186 hadir di SDN 1 Sarongan dengan sebuah kegelisahan yang sama: bagaimana menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang paling aman dan nyaman bagi anak-anak. Melalui program bertajuk "Penguatan Karakter: Menanamkan Benih Anti-Perundungan Sejak Dini", kelompok Cakrawala 186 mencoba meredam normalisasi kekerasan verbal maupun fisik yang kerap dianggap sebagai "lelucon" di bangku sekolah dasar. Upaya ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan penuh empati. Suasana ruang kelas SDN 1 Sarongan tampak berbeda pada pagi itu. Riuh rendah tawa anak-anak berseragam pramuka dan olahraga menyambut hangat kehadiran kakak-kakak mahasiswa. Cakrawala 186 menyadari bahwa pendekatan formal melalui teori yang kaku hanya akan melintas tanpa makna. Maka, mereka memilih jalur pendekatan hati ke hati. Melalui metode storytelling yang interaktif dan simulasi peran (roleplay), para siswa diajak untuk menyelami perasaan mereka yang mungkin selama ini menjadi korban namun tak berani bersuara. Dalam sesi tersebut, para mahasiswa menggambarkan betapa tajamnya dampak dari sebuah kata-kata. Sebuah ejekan fisik atau sebutan nama orang tua yang selama ini dianggap lumrah, ternyata merupakan benih awal yang bisa mengikis rasa percaya diri seorang anak. "Kami ingin mereka memahami bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada siapa yang paling jago mengintimidasi, melainkan pada siapa yang paling berani melindungi dan menghargai sesama," ungkap salah satu anggota Cakrawala 186. Diskusi mengalir menjadi ruang diskusi yang terbuka dan hangat. Beberapa siswa mulai menunjukkan keberanian untuk berbagi pengalaman pahit yang mereka alami—hal-hal yang selama ini mereka simpan sendiri karena takut dicap sebagai pengadu. Realita ini menjadi motivasi besar bagi tim KKM untuk memberikan pemahaman bahwa melapor bukanlah sebuah kesalahan, melainkan bentuk keberanian untuk menghentikan ketidakadilan. Menggunakan media visual yang cerah dan poster-poster edukatif, tim Cakrawala 186 menekankan bahwa perbedaan, baik itu dalam hal fisik, kemampuan akademik, maupun latar belakang keluarga, adalah warna-warni kehidupan yang seharusnya disyukuri. Dukungan penuh pun mengalir deras dari pihak sekolah. Para guru mengakui bahwa tantangan mendidik di era digital ini kian kompleks, sehingga pembentukan karakter dari dalam diri siswa (self-awareness) menjadi kunci utama. Puncak dari kegiatan ini ditandai dengan aksi simbolis yang sangat berkesan. Sebuah karton besar bertajuk "Pohon Ungkapan" dibentangkan di depan kelas. Satu demi satu, para siswa maju dengan antusias untuk membubuhkan cap jempol berwarna-warni dan menuliskan janji sederhana mereka: "Aku akan jadi teman yang baik" atau "Aku tidak akan mengejek teman lagi". Lembar komitmen ini bukan sekadar pajangan dinding, melainkan "kontrak sosial" bagi seluruh penghuni SDN 1 Sarongan sebagai pengingat harian bahwa tidak ada tempat bagi kebencian di lingkungan mereka. Kepala Sekolah SDN 1 Sarongan menyampaikan apresiasi mendalam, berharap energi positif yang dibawa oleh Kelompok Cakrawala 186 ini dapat terus menetap dan tumbuh subur di hati para siswa. Kegiatan hari itu ditutup dengan senyum ceria dan sesi dokumentasi bersama, sebagaimana terlihat pada potret kebersamaan mahasiswa dan para siswa di dalam kelas. Bagi Cakrawala 186, KKM di ujung Banyuwangi ini bukan sekadar tugas pengabdian, melainkan perjalanan untuk menjemput asa. Mereka pulang dengan keyakinan bahwa masa depan anak-anak SDN 1 Sarongan akan tumbuh tanpa bayang-bayang ketakutan, melainkan dipenuhi dengan karakter yang tangguh, toleran, dan penuh kasih.