SITI KHOTIMAH
Swara Tengger: Kamus Bahasa Tengger Upaya Pengenalan dan Pelestarian Bahasa Leluhur Masyarakat Tengger Bahasa merupakan suatu hal yang sering kali hadir tanpa kita sadari, yang biasa terdengar dalam sapaan, obrolan ringan, dan tawa canda yang mengalir begitu saja. Di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, bahasa Tengger hidup dan tumbuh bersama keseharian masyarakatnya. Dan dari sinilah Swara Tengger hadir, sebagai upaya sederhana untuk menyimpan dan mengenang kata-kata yang selama ini kami dengar menjadi bagian dari kehidupan warga. Swara Tengger kami buat sebagai kamus bahasa daerah yang lahir dari pengalaman langsung di lapangan. Desa Ngadas merupakan salah satu desa wisata yang dekat dengan pegunungan. Desa ini banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Namun, tidak semua orang yang berkunjung dapat memahami bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat. Kamus ini hadir untuk menjadi jembatan kecil antara warga asing dan warga lokal agar bahasa Tengger Ngadas dapat dikenal, dipelajari, dan digunakan dalam berbagai interaksi yang lebih hangat. Pengumpulan kosakata dilakukan dengan cara mendengarkan. Kami dan teman-teman berbincang hangat dengan warga, mencatat kata demi kata yang sering digunakan, dan belajar dari percakapan yang kami lakukan sehari-hari. Kami juga mengajak anak-anak sekolah dasar untuk berbincang santai. Dan dari merekalah kami melihat bagaimana bahasa Tengger terus diwariskan, digunakan, dan dijaga secara utuh. Agar kosakata yang kami catat tidak kehilangan makna aslinya, kami melakukan konsultasi dengan Romo Dukun (Ketua Adat). Dari semua proses ini, kami menyadari bahwa satu kata tidak selalu bisa diterjemahkan begitu saja, melainkan butuh beberapa proses yang harus kami lakukan agar tidak ada kesalahan dalam penulisan setiap kata dan terjemahnya. Bahasa Tengger Ngadas memiliki konteks budaya yang kuat, sehingga pemilihan arti harus dilakukan dengan hati-hati agar tetap sesuai dengan nilai dan kebiasaan masyarakat. Dalam penyusunan kamus ini, kami tidak lepas dari berbagai tantangan. Perbedaan pengertian arti antara beberapa warga atau keterbatasan padanan kata dalam bahasa Indonesia, serta upaya menyesuaikan bahasa agar lebih mudah dipahami oleh orang asing menjadi bagian dari proses belajar kita. namun, justru dalam proses inilah kami semakin memahami kekayaan dalam bahasa Tengger. Begitu banyak hal menarik yang kami temukan dalam perjalanan proses ini. Bahasa Tengger Ngadas merupakan salah satu bahasa yang sangat dekat dengan alam dan kebiasaan masyarakatnya. Setiap kata terasa memiliki cerita masing-masing. Antusiasme warga dan anak-anak ketika berbagi bahasa mereka juga sangat menjadi pengingat kami bahwa bahasa akan terus hidup selama digunakan dan dihargai. Swara Tengger bukan hanya sekadar kamus bahasa daerah. Ia menjadi catatan kecil tentang bahasa, budaya, dan pertemuan yang datang ke Desa Ngadas, tidak hanya untuk berkunjung, melainkan juga belajar menyapa, memahami, dan menghargai kehidupan masyarakat Tengger. Selama kata-kata itu masih diucapkan dan dikenalkan, selama itu juga suara Desa Ngadas akan terus terdengar.
NAJA PASA TRIO PUTRA
Acara Peluncuran Website SIMANTAP dan Jumeneng Batik yang digagas oleh Kelompok KKM Aruna menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendorong digitalisasi dan pemberdayaan desa. Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Ketua Pelaksana KKM Aruna yang menyampaikan latar belakang serta tujuan utama dari peluncuran dua proyek tersebut, yaitu untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Kepala Desa Wonorejo yang mengapresiasi inisiatif Kelompok KKM Aruna dalam menghadirkan inovasi berbasis teknologi dan budaya lokal. Dukungan juga datang dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) serta perwakilan LP2M yang menegaskan bahwa program ini sejalan dengan semangat pengabdian kepada masyarakat dan implementasi ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan. Acara dilanjutkan dengan penampilan seni bela diri silat Pagar Nusa yang dibawakan oleh anak-anak MI setempat. Penampilan ini menjadi pembuka suasana yang penuh semangat sekaligus menunjukkan kekayaan budaya dan potensi generasi muda Desa Wonorejo dalam melestarikan seni tradisional. Anggota KKM Aruna (Pasa dan Fitriyatil) bersama Kepala desa memegang batik Arum Tirto Wojo (Sumber dokumentasi asli dari KKM Aruna) Memasuki sesi inti, pada sesi demo proyek batik, Pasa dan Fitriyatil memperkenalkan karya batik bertajuk Arum Tirto Wojo, sebuah motif yang sarat makna dan filosofi lokal. Nama Arum memiliki arti harum atau indah, yang melambangkan keindahan alam Desa Wonorejo serta citra baik yang terpancar dari budaya dan kehidupan masyarakatnya. Makna ini menjadi representasi harmoni antara manusia dan lingkungan yang masih terjaga hingga kini. Sementara itu, kata Tirto yang berarti air atau sungai menggambarkan peran penting aliran sungai dalam menopang kehidupan dan melancarkan sumber ekonomi masyarakat Wonorejo. Sungai tidak hanya menjadi sumber daya alam, tetapi juga bagian dari denyut kehidupan warga desa. Adapun Wojo merupakan singkatan dari nama desa, yaitu Wono dan rejo, di mana wono berarti alas atau hutan, sedangkan rejo bermakna ramai atau sejahtera. Keseluruhan makna tersebut menyatu dalam motif batik Arum Tirto Wojo sebagai simbol Wonorejo yang indah, hidup, dan penuh harapan akan kesejahteraan. Penjelasan dari anggota KKM Aruna (Iyan dan Maysa) mengenai website SIMANTAP (Sumber dokumentasi asli dari KKM Aruna) Pada sesi berikutnya, Kelompok KKM Aruna mendemonstrasikan website SIMANTAP, sebuah platform digital yang dirancang khusus untuk warga Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo. Website ini dikembangkan sebagai pusat informasi dan dokumentasi kegiatan desa yang mudah diakses oleh masyarakat. SIMANTAP memiliki berbagai menu utama, di antaranya Beranda sebagai tampilan awal informasi, Acara yang memuat agenda dan kegiatan desa, serta Sejarah yang mengulas perjalanan dan identitas Desa Wonorejo. Selain itu, website SIMANTAP juga menyediakan menu Batik sebagai ruang promosi dan pengenalan Jumeneng Batik, Lowongan Kerja untuk membantu warga memperoleh informasi peluang kerja, serta Galeri Video yang menampilkan dokumentasi visual kegiatan desa. Tidak hanya itu, tersedia pula menu Berita yang menyajikan informasi terkini seputar desa, serta Promosi UMKM dan berbagai kegiatan lainnya sebagai upaya mendukung potensi ekonomi dan kreativitas masyarakat Wonorejo. Melalui fitur-fitur tersebut, website SIMANTAP diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi, informasi, dan promosi yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam perkembangan desa berbasis digital. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang melibatkan Ketua Republik Gubuk, Ketua LP2M, serta Sekretaris Desa dan pemantiknya sendiri dari Ketua KKM Aruna. Diskusi ini menjadi ruang dialog untuk memberikan masukan, tanggapan, serta harapan terhadap keberlanjutan website SIMANTAP dan pengembangan Jumeneng Batik ke depannya. Kemudian suasana acara dibuat lebih hangat melalui penampilan nyanyi akustik yang dibawakan oleh dua perwakilan dari Kelompok KKM Belung. Iringan musik akustik yang sederhana namun penuh makna menjadi hiburan penutup yang menyegarkan setelah rangkaian diskusi dan pemaparan program. Penampilan tersebut tidak hanya menjadi selingan hiburan, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan dan kolaborasi antarkelompok KKM dalam mendukung kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran Kelompok KKM Belung melalui penampilan musik akustik ini semakin mempererat suasana kekeluargaan sebelum acara resmi ditutup. Sebagai penutup, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan harapan agar kedua proyek yang telah diluncurkan tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Melalui peluncuran SIMANTAP dan Jumeneng Batik, Kelompok KKM Aruna menunjukkan bahwa dari KKM untuk desa, langkah kecil yang dilakukan dengan kolaborasi dapat membawa dampak yang bermakna.
NAFISA NABILA ARDELIA
Perjalanan kegiatan KKM 158 Girinadiwana di Desa Plumpung, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan menjadi pengalaman pengabdian yang dijalankan secara bertahap dan menyatu dengan kehidupan masyarakat. Selama berada di desa, tim mahasiswa tidak hanya menjalankan satu jenis program, tetapi bergerak di berbagai bidang seperti pendidikan, kegiatan sosial, keagamaan, serta pendampingan ekonomi melalui program UMKM dan pemanfaatan teknologi digital. Sejak awal, program ini dirancang agar benar-benar terasa manfaatnya dan sekaligus membangun kedekatan dengan perangkat desa maupun warga. Kedatangan tim diawali dengan orientasi wilayah dan kunjungan silaturahmi kepada Kepala Desa serta para Ketua RT. Dari pertemuan itu, siswa mulai menyusun langkah kerja dan menyesuaikan program dengan kebutuhan lapangan. Pembukaan KKM kemudian dilaksanakan secara resmi di balai desa sebagai tanda dimulainya seluruh rangkaian kegiatan. Pada masa awal pelaksanaan, tim juga ikut terjun dalam kerja bakti membantu warga menangani dampak longsor di wilayah perbatasan RT. Keterlibatan ini menjadi bentuk kepedulian sekaligus upaya membangun kebersamaan sejak hari pertama. Dalam bidang pendidikan keagamaan, siswa rutin mendampingi kegiatan belajar di TPQ. Proses pembelajaran dilakukan secara pelan-pelan dan disesuaikan dengan kemampuan santri, mulai dari membaca, perbaikan tajwid, hingga latihan praktik. Suasana belajar dibuat santai dan interaktif agar anak-anak merasa nyaman. Selain di TPQ, mahasiswa juga membantu kegiatan belajar di MI setempat, termasuk pendampingan materi, kegiatan kepramukaan, serta edukasi tentang pentingnya sikap saling menghormati di lingkungan sekolah. Di sisi lain, program penguatan UMKM juga menjadi perhatian utama. Tim melakukan pendataan dan kunjungan langsung ke pelaku usaha rumahan seperti produsen roti, tahu, tempe, dan pemilik toko. Dari kegiatan itu, mahasiswa membantu pemetaan lokasi usaha dan fasilitas umum melalui Google Maps agar lebih mudah ditemukan. Warga juga memperkenalkan sistem pembayaran digital menggunakan QRIS, lengkap dengan cara pendampingan dalam penggunaannya. Pendekatan dilakukan secara langsung dan bersahabat agar pelaku usaha lebih terbuka menerima hal baru. Mahasiswa ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan desa. Mereka membantu persiapan dan pelaksanaan peringatan Isra' Mi'raj di MI dengan berbagai lomba dan kegiatan bernuansa keagamaan. Kegiatan berlangsung meriah dengan kebersamaan warga dan siswa. Selain itu, diadakan juga pelatihan keterampilan digital untuk ibu-ibu PKK sebagai tambahan wawasan ekonomi kreatif. Tim keterlibatan juga terlihat pada kegiatan Posyandu dan pendampingan belajar masyarakat. Kontribusi lainnya diwujudkan melalui kerja bakti di masjid, penyerahan tempat sampah untuk mendukung kebersihan lingkungan, serta pemasangan papan informasi desa sebagai sarana edukasi. Seluruh program yang diusahakan bersifat praktis dan bisa terus dimanfaatkan setelah masa KKM selesai. Menjelang akhir kegiatan, pengajaran di TPQ ditutup dengan doa bersama dan menyampaikan kenang-kenangan sebagai tanda terima kasih. Rangkaian KKM kemudian diakhiri melalui acara penutupan di balai desa yang berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Berakhirnya program ini menjadi penutup masa pengabdian siswa sekaligus meninggalkan harapan agar manfaat kegiatannya tetap dirasakan oleh Desa Masyarakat Plumpung di depannya.
MAULIDI ABDILLAH
Dalam rangka memperingati peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, telah dilaksanakan serangkaian kegiatan keagamaan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Rabu hingga Jumat, tanggal 14--16 Januari 2026. Kegiatan ini dipusatkan di Masjid Nuurul Jadiid dan melibatkan santri TPQ Nuurul Jadiid serta seluruh warga Kelurahan Balearjosari. Rangkaian kegiatan diawali pada Rabu, 14 Januari 2026, dengan pelaksanaan berbagai lomba keagamaan yang diikuti oleh santri TPQ Nuurul Jadiid. Lomba pertama yang dilaksanakan adalah lomba adzan yang diikuti oleh santri laki-laki TPQ Nuurul Jadiid. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan lomba mewarnai kaligrafi yang diikuti oleh seluruh santri TPQ Nuurul Jadiid. Perlombaan pada hari pertama dimulai pada pukul 15.45 WIB dan berakhir pada pukul 18.00 WIB dengan antusiasme tinggi dari para peserta.
MUHAMMAD RISKY PRATAMA
Mahasiswa KKM Mandiri Gravia melaksanakan kegiatan penyerahan sekaligus pemasangan banner usaha kepada Bapak Ecco, seorang pengusaha ternak lele, pada Senin, 26 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan mahasiswa terhadap pengembangan usaha lokal agar lebih mudah dikenali oleh masyarakat. Penyerahan sekaligus pemasangan banner ini dilakukan sebagai bentuk penanda lokasi usaha, sehingga konsumen dapat mengetahui dan lebih mudah menemukan lokasi penjualan lele dengan lebih mudah. Keberadaan banner diharapkan dapat meningkatkan visibilitas usaha serta memudahkan akses bagi calon pembeli. Banner yang diserahkan dirancang sebagai media informasi sederhana yang memuat identitas usaha penjualan lele milik Bapak Ecco. Media ini menjadi salah satu sarana pendukung promosi yang efektif, khususnya bagi usaha yang berada di lingkungan desa, agar kedepannya masyarakat termasuk konsumen tidak bingung dalam mencari letak usaha lele tersebut. Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKM Mandiri Gravia juga berinteraksi langsung dengan pelaku usaha untuk memastikan penempatan banner sesuai dengan lokasi yang strategis dan mudah terlihat oleh masyarakat sekitar. Bapak Ecco menyambut baik penyerahan banner tersebut dan mengapresiasi perhatian serta dukungan mahasiswa terhadap usaha yang dikelolanya. Dukungan ini dinilai dapat membantu memperkenalkan usaha penjualan lele kepada konsumen secara lebih luas. Kegiatan penyerahan sekaligus pemasangan banner ini menjadi bagian dari rangkaian program kerja KKM Mandiri Gravia dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat desa, khususnya pada sektor usaha mikro dan kecil. Dengan adanya kegiatan ini, mahasiswa KKM Mandiri Gravia berharap keberadaan banner dapat memberikan manfaat nyata bagi usaha peternakan lele milik Bapak Ecco serta mendorong peningkatan akses dan pemasaran produk secara berkelanjutan.
ABDUL AZIZ
Acara Peluncuran Website SIMANTAP dan Jumeneng Batik yang digagas oleh Kelompok KKM Aruna menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendorong digitalisasi dan pemberdayaan desa. Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Ketua Pelaksana KKM Aruna yang menyampaikan latar belakang serta tujuan utama dari peluncuran dua proyek tersebut, yaitu untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Kepala Desa Wonorejo yang mengapresiasi inisiatif Kelompok KKM Aruna dalam menghadirkan inovasi berbasis teknologi dan budaya lokal. Dukungan juga datang dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) serta perwakilan LP2M yang menegaskan bahwa program ini sejalan dengan semangat pengabdian kepada masyarakat dan implementasi ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan. Acara dilanjutkan dengan penampilan seni bela diri silat Pagar Nusa yang dibawakan oleh anak-anak MI setempat. Penampilan ini menjadi pembuka suasana yang penuh semangat sekaligus menunjukkan kekayaan budaya dan potensi generasi muda Desa Wonorejo dalam melestarikan seni tradisional. Anggota KKM Aruna (Pasa dan Fitriyatil) bersama Kepala desa memegang batik Arum Tirto Wojo (Sumber dokumentasi asli dari KKM Aruna) Memasuki sesi inti, pada sesi demo proyek batik, Pasa dan Fitriyatil memperkenalkan karya batik bertajuk Arum Tirto Wojo, sebuah motif yang sarat makna dan filosofi lokal. Nama Arum memiliki arti harum atau indah, yang melambangkan keindahan alam Desa Wonorejo serta citra baik yang terpancar dari budaya dan kehidupan masyarakatnya. Makna ini menjadi representasi harmoni antara manusia dan lingkungan yang masih terjaga hingga kini. Sementara itu, kata Tirto yang berarti air atau sungai menggambarkan peran penting aliran sungai dalam menopang kehidupan dan melancarkan sumber ekonomi masyarakat Wonorejo. Sungai tidak hanya menjadi sumber daya alam, tetapi juga bagian dari denyut kehidupan warga desa. Adapun Wojo merupakan singkatan dari nama desa, yaitu Wono dan rejo, di mana wono berarti alas atau hutan, sedangkan rejo bermakna ramai atau sejahtera. Keseluruhan makna tersebut menyatu dalam motif batik Arum Tirto Wojo sebagai simbol Wonorejo yang indah, hidup, dan penuh harapan akan kesejahteraan. Penjelasan dari anggota KKM Aruna (Iyan dan Maysa) mengenai website SIMANTAP (Sumber dokumentasi asli dari KKM Aruna) Pada sesi berikutnya, Kelompok KKM Aruna mendemonstrasikan website SIMANTAP, sebuah platform digital yang dirancang khusus untuk warga Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo. Website ini dikembangkan sebagai pusat informasi dan dokumentasi kegiatan desa yang mudah diakses oleh masyarakat. SIMANTAP memiliki berbagai menu utama, di antaranya Beranda sebagai tampilan awal informasi, Acara yang memuat agenda dan kegiatan desa, serta Sejarah yang mengulas perjalanan dan identitas Desa Wonorejo. Selain itu, website SIMANTAP juga menyediakan menu Batik sebagai ruang promosi dan pengenalan Jumeneng Batik, Lowongan Kerja untuk membantu warga memperoleh informasi peluang kerja, serta Galeri Video yang menampilkan dokumentasi visual kegiatan desa. Tidak hanya itu, tersedia pula menu Berita yang menyajikan informasi terkini seputar desa, serta Promosi UMKM dan berbagai kegiatan lainnya sebagai upaya mendukung potensi ekonomi dan kreativitas masyarakat Wonorejo. Melalui fitur-fitur tersebut, website SIMANTAP diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi, informasi, dan promosi yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam perkembangan desa berbasis digital. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang melibatkan Ketua Republik Gubuk, Ketua LP2M, serta Sekretaris Desa dan pemantiknya sendiri dari Ketua KKM Aruna. Diskusi ini menjadi ruang dialog untuk memberikan masukan, tanggapan, serta harapan terhadap keberlanjutan website SIMANTAP dan pengembangan Jumeneng Batik ke depannya. Kemudian suasana acara dibuat lebih hangat melalui penampilan nyanyi akustik yang dibawakan oleh dua perwakilan dari Kelompok KKM Belung. Iringan musik akustik yang sederhana namun penuh makna menjadi hiburan penutup yang menyegarkan setelah rangkaian diskusi dan pemaparan program. Penampilan tersebut tidak hanya menjadi selingan hiburan, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan dan kolaborasi antarkelompok KKM dalam mendukung kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran Kelompok KKM Belung melalui penampilan musik akustik ini semakin mempererat suasana kekeluargaan sebelum acara resmi ditutup. Sebagai penutup, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan harapan agar kedua proyek yang telah diluncurkan tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Melalui peluncuran SIMANTAP dan Jumeneng Batik, Kelompok KKM Aruna menunjukkan bahwa dari KKM untuk desa, langkah kecil yang dilakukan dengan kolaborasi dapat membawa dampak yang bermakna.