HARIS ZAKARIA ISNAENI
Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 56 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang secara resmi memulai program pengabdian masyarakat di Desa Jedong, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Pembukaan kegiatan dilaksanakan di Balai Desa Jedong pada hari Rabu dan menjadi penanda dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa kepada masyarakat desa. Acara pembukaan ini dihadiri oleh berbagai unsur pemerintahan desa dan tokoh masyarakat, di antaranya Kepala Desa Jedong, Kepala Dusun Jaten dan Sawun, serta dosen pembimbing lapangan dari kelompok pengabdian reguler dan unggulan. Kehadiran para pihak tersebut menunjukkan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program pengabdian mahasiswa di Desa Jedong. Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala Desa Jedong yang menyampaikan harapan agar keberadaan mahasiswa KKM dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat. Sambutan juga disampaikan oleh tokoh masyarakat Hindu sebagai simbol kerukunan dan kebersamaan antarumat beragama yang telah terjalin di Desa Jedong. Selanjutnya, dosen pembimbing lapangan kelompok unggulan serta perwakilan ketua kelompok pengabdian masyarakat turut menyampaikan komitmen dan tujuan pelaksanaan program KKM. Sebagai simbol resmi dimulainya kegiatan pengabdian masyarakat, dilakukan prosesi pemotongan tumpeng oleh Kepala Desa Jedong. Tumpeng tersebut kemudian diserahkan kepada ketua kelompok pengabdian reguler dan unggulan sebagai bentuk kepercayaan dan amanah kepada mahasiswa untuk mengabdi di tengah masyarakat. Acara dilanjutkan dengan pemaparan program kerja dari masing-masing kelompok KKM. Ketua Kelompok Pengabdian Reguler, Zidan Firdaus Tirta, menyampaikan bahwa mahasiswa siap berkontribusi aktif dalam mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya di Dusun Jaten. Program pengabdian reguler yang akan dilaksanakan meliputi pendampingan digitalisasi UMKM, kegiatan penyuluhan dan bimbingan belajar bagi anak-anak, serta senam rutin yang disinergikan dengan kegiatan posyandu. Sementara itu, kelompok pengabdian unggulan menitikberatkan program pada penguatan nilai toleransi dan upaya menjaga kerukunan antarumat beragama. Pemilihan Desa Jedong sebagai lokasi pengabdian didasarkan pada potensi desa yang masih dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat setempat. Kegiatan pembukaan berlangsung dengan tertib dan lancar, serta diakhiri dengan sesi foto bersama antara mahasiswa KKM, perangkat desa, dan para tamu undangan. Diharapkan, melalui program KKM 56 ini, mahasiswa UIN Malang dapat memberikan kontribusi nyata sekaligus memperoleh pengalaman berharga dalam pengabdian kepada masyarakat.
INTAN NADIA PARAMITHA
Kegiatan belajar tidak selalu harus dilakukan di dalam ruang kelas. MTs Plus Madinatul Mubtadi-ien kembali menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda melalui kegiatan rihlah tahunan ke Yogyakarta yang dilaksanakan pada 27–29 Januari 2026. Rihlah ini merupakan agenda rutin madrasah yang dilaksanakan dua tahun sekali, sebagai sarana pembelajaran di luar kelas sekaligus penyegaran bagi para siswa setelah menjalani kegiatan belajar di madrasah. Rihlah tahun ini diikuti oleh para siswa kelas VII dan VIII dengan penuh antusiasme. Sejak keberangkatan, semangat dan keceriaan sudah terlihat dari para siswa yang siap mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan penuh rasa ingin tahu. Sementara itu, siswa kelas IX tidak turut serta karena telah mengikuti kegiatan rihlah pada tahun sebelumnya. Pelaksanaan rihlah kali ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Beberapa guru KKM turut serta mendampingi perjalanan, sehingga kegiatan ini tidak hanya melibatkan siswa dan guru madrasah, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan antara peserta didik dan pendamping KKM. Kehadiran para guru KKM menambah suasana keakraban serta mempererat hubungan selama perjalanan berlangsung. Dalam kegiatan rihlah ini, para siswa diajak mengunjungi berbagai destinasi yang memiliki nilai religius, edukatif, dan rekreatif. Tujuan pertama yang dikunjungi adalah Masjid Sheikh Zayed Solo, yang menjadi sarana pembelajaran spiritual sekaligus pengenalan arsitektur masjid modern dengan nuansa Islami yang kuat. Kunjungan ini mengajak siswa untuk menumbuhkan rasa kagum sekaligus meningkatkan kecintaan terhadap nilai-nilai keagamaan. Perjalanan dilanjutkan ke Candi Prambanan, salah satu situs bersejarah yang kaya akan nilai budaya dan toleransi. Melalui kunjungan ini, siswa memperoleh pembelajaran langsung mengenai sejarah dan peninggalan peradaban Nusantara. Kegiatan ini menjadi sarana edukasi yang menghubungkan materi pembelajaran dengan pengalaman nyata di lapangan. Selain itu, para siswa juga mengunjungi Pusat Oleh-oleh Khas Yogyakarta Bakpia 25. Di tempat ini, siswa tidak hanya berbelanja oleh-oleh, tetapi juga dikenalkan dengan produk lokal khas daerah sebagai bentuk pembelajaran sederhana mengenai potensi ekonomi kreatif. Kegiatan rihlah semakin seru dengan adanya Off Road Jeep Merapi, yang memberikan pengalaman menantang sekaligus wawasan mengenai kondisi geografis dan sejarah Gunung Merapi. Menariknya, rihlah tahun ini juga menjadi pengalaman bermakna bagi para guru KKM yang turut mendampingi. Melalui interaksi langsung selama perjalanan, guru KKM dapat lebih mengenal karakter, kebiasaan, serta dinamika siswa di luar lingkungan kelas. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya sebatas pengawasan, tetapi juga melalui komunikasi ringan, pendampingan emosional, serta penanaman nilai disiplin dan kebersamaan. Hal ini menjadikan kegiatan rihlah sebagai bagian dari proses pengabdian KKM di bidang pendidikan. Salah satu guru MTs Plus Madinatul Mubtadi-ien, Misbahul Munir Setiawan, S.Mat., menyampaikan bahwa rihlah tahun ini terasa lebih seru dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Variasi destinasi yang dikunjungi serta kekompakan seluruh peserta membuat kegiatan ini berjalan lancar dan memberikan kesan mendalam bagi para siswa. Melalui kegiatan rihlah tahunan ini, MTs Plus Madinatul Mubtadi-ien berharap siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan, memperluas wawasan, serta mempererat kebersamaan antarwarga madrasah. Rihlah tidak hanya menjadi kegiatan wisata, tetapi juga bagian dari proses pendidikan yang menyeimbangkan aspek akademik, karakter, dan kebersamaan.
SILVI NURIYAH FANANI
Pagi Minggu yang cerah menjadi momen penuh kehangatan bagi mahasiswa KKM bersama ibu-ibu lansia Desa Poncokusumo. Bertempat di Balai Desa, kegiatan senam lansia rutin kembali dilaksanakan dengan diikuti oleh puluhan peserta yang tampak antusias sejak pagi hari. Mahasiswa KKM turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini sebagai bentuk dukungan terhadap pola hidup sehat masyarakat, khususnya bagi para lansia. Senam dimulai sekitar pukul 05.00 WIB dan dipandu oleh instruktur senam desa dengan gerakan ringan yang disesuaikan dengan kondisi peserta. Meski sederhana, suasana terlihat sangat hidup dan penuh semangat. Selain berolahraga, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan interaksi sosial. Canda dan tawa kerap terdengar di sela-sela senam, menciptakan suasana yang akrab antara mahasiswa KKM dan ibu-ibu lansia. Beberapa mahasiswa juga membantu mendampingi peserta, memastikan gerakan dilakukan dengan aman dan nyaman. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM berharap dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan di usia lanjut serta mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat desa. Senam lansia tidak hanya memberikan manfaat kebugaran fisik, tetapi juga kebahagiaan dan semangat kebersamaan. Kegiatan ditutup dengan pendinginan ringan dan ramah tamah singkat. Ibu-ibu lansia menyampaikan rasa senang atas kehadiran mahasiswa KKN dan berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut. Bagi mahasiswa KKN, pengalaman ini menjadi bagian berharga dari proses belajar langsung di tengah masyarakat.
SRI YULIATI
Kegiatan Pelepasan KKM Kelompok 60 Desa Kalipare UIN Maulana Malik Ibrahim Malang serta Demonstrasi Produk UMKM dilaksanakan pada sore hari, tepatnya pukul 16.00 WIB hingga 17.00 WIB. Acara ini menjadi momentum penutup masa pengabdian KKM Kelompok 60 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tahun 2025/2026. Rangkaian acara dimulai tepat pada pukul 16.00 WIB. Acara dipandu oleh dua Master of Ceremony (MC), yakni Saudari Nabila Aprilia dan Sri Yuliati. Pembukaan diawali dengan salam pembuka, puji syukur, serta sapaan hangat kepada para tamu undangan, antara lain Bapak Yusron selaku perwakilan Kepala Desa Kalipare, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Bapak Agus Maulana Firdaus S.S, M.Pd I, tokoh masyarakat, serta seluruh rekan-rekan mahasiswa KKM 60 Desa Kalipare. Suasana pembukaan terasa hangat dengan pembacaan Basmalah bersama-sama untuk kelancaran acara. Setelah pembukaan,kegiatan dilanjutkan dengan sesi sambutan-sambutan yang dimulai sekitar pukul 16.10 WIB. Sambutan pertama disampaikan oleh Saudara Abed Alrazzak selaku Ketua KKM 60 Desa Kalipare, mewakili rekan-rekannya. Selanjutnya, sambutan kedua disampaikan oleh Bapak Agus Maulana Firdaus S.S, M.Pd I selaku Dosen Pembimbing Lapangan, yang menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak desa atas bimbingannya kepada para mahasiswa. Sesi sambutan ditutup dengan arahan dari Bapak Yusron, yang memberikan pesan-pesan moral sekaligus apresiasi atas dedikasi mahasiswa selama berada di desa. Agenda berlanjut ke sesi yang paling dinantikan, yakni Presentasi Kegiatan dan Demonstrasi Produk UMKM. Dalam sesi ini, Ketua KKM 60, Saudara Abed Alrazzak, memaparkan laporan kinerja selama kurang lebih 40 hari masa pengabdian. Presentasi ini tidak hanya berisi laporan kegiatan sosial, tetapi juga menonjolkan hasil inovasi mahasiswa dalam mengembangkan dan mendemonstrasikan produk unggulan UMKM Desa Kalipare sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap ekonomi lokal. Menjelang akhir acara, suasana menjadi hening dan khusyuk saat sesi doa bersama digelar. Doa dipimpin oleh Saudara Muhammad Harish, memohon keberkahan atas ilmu yang didapat dan kebaikan bagi Desa Kalipare. Tepat pukul 17.00 WIB, acara resmi ditutup. Nabila Aprilia dan Sri Yuliati selaku pembawa acara menyampaikan permohonan maaf mewakili seluruh mahasiswa KKM apabila terdapat tutur kata maupun perilaku yang kurang berkenan selama 40 hari berbaur dengan masyarakat. Ucapan terima kasih yang mendalam juga disampaikan atas penerimaan warga Desa Kalipare yang luar biasa. Kegiatan diakhiri dengan salam penutup, menandai selesainya seluruh rangkaian pengabdian KKM Kelompok 60.
SAJJIDA RAHMA RAMADHONA
Ada momen-momen dalam KKM yang kelihatannya sederhana, tapi justru itu yang paling lama tinggal di kepala. Bukan agenda besar, bukan acara seremonial melainkan kebersamaan yang jujur dan hangat. Salah satu momen itu aku alami bersama Calon Jamaah Haji bernama Bapak Muhammad Husni. Hari itu kami memasak salad sehat bersama di rumah beliau. Menariknya, menu ini terinspirasi dari makanan favorit Pak Husni sendiri. Beliau dengan antusias bercerita tentang kebiasaan hidup sehat yang mulai ia jalani, sambil sesekali bercanda ringan yang bikin suasana dapur terasa akrab. Aktivitas memasak yang biasanya terasa biasa saja, berubah jadi ruang belajar tentang kesehatan, tentang kebiasaan baik, dan tentang bagaimana seseorang menjaga tubuhnya dengan penuh kesadaran. Tak berhenti di situ, kebersamaan kami berlanjut dengan jogging keliling kompleks bersama Pak Husni. Awalnya cuaca bersahabat, tapi lama-lama hujan turun tanpa permisi. Alih-alih berhenti, kami justru tertawa dan tetap berlari kecil, membiarkan hujan jadi bagian dari cerita hari itu. Rasanya sederhana, tapi jujur seperti hidup itu sendiri. Setelah jogging, Pak Husni dengan penuh perhatian membelikan kami bakso bakar yang rasanya luar biasa enak, ditambah roti abon yang langsung jadi penutup sempurna hari itu. Makanan sederhana, tapi terasa spesial karena dimakan bersama, setelah lelah, dan dengan perasaan senang. Yang paling berkesan justru datang di momen tenang setelahnya. Kami duduk, mendengarkan cerita-cerita masa lalu Pak Husni tentang perjuangan hidup, pilihan-pilihan sulit, dan pelajaran yang ia petik seiring waktu. Ceritanya tidak menggurui, tapi mengalir apa adanya. Dari sana aku belajar bahwa inspirasi tidak selalu datang dari tokoh besar, tapi sering kali dari orang-orang di sekitar kita yang hidupnya penuh makna. Semua itu dibalut oleh ambience rumah Pak Husni yang terasa begitu nyaman. Rumahnya tidak mewah, tapi hangat. Ada rasa diterima, rasa pulang, dan rasa tenang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Pengalaman ini mengajarkanku bahwa KKM bukan hanya soal program dan pengabdian, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan manusia. Tentang hadir sepenuh hati, berbagi waktu, dan belajar dari cerita hidup orang lain. Dan hari itu, bersama Pak Husni, hujan, salad sehat, dan cerita masa lalu aku membawa pulang lebih dari sekadar kenangan.
ABDUL THORIQ AZZIAT
Desa Gadang, Kec. Sukun, Kab. Malang-- (01/02/26), Masjid Jami' Ali Musthofa menjadi tempat terselenggaranya kegiatan sosialisasi pengurusan jenazah yang diinisiasi oleh mahasiswa KKM Kelompok 113 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan ini menghadirkan Bapak Solichin sebagai narasumber utama yang memiliki pengalaman dan pemahaman mendalam terkait tata cara pengurusan jenazah sesuai syariat Islam. Sosialisasi ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa KKM terhadap pentingnya edukasi keagamaan praktis di tengah masyarakat. Tema yang diangkat sangat relevan dengan kebutuhan umat, mengingat pengurusan jenazah merupakan kewajiban fardhu kifayah. Kehadiran warga yang cukup antusias menunjukkan bahwa topik ini memang dibutuhkan. Suasana masjid terasa khidmat sejak awal kegiatan hingga akhir acara. Dalam pemaparannya, Bapak Solichin menjelaskan bahwa pengurusan jenazah tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai keikhlasan dan tanggung jawab sosial. Beliau menekankan bahwa setiap muslim seharusnya memiliki pengetahuan dasar mengenai tata cara merawat jenazah. Hal ini penting agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada segelintir orang saja. Selain itu, pemahaman yang benar dapat mencegah kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam praktik di lapangan. Penjelasan disampaikan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh seluruh lapisan jamaah. Peserta terlihat menyimak dengan penuh perhatian sejak awal sesi. Materi pertama yang disampaikan adalah tata cara memandikan jenazah sesuai tuntunan syariat Islam. Bapak Solichin menjelaskan secara runtut mulai dari niat, persiapan alat, hingga adab yang harus dijaga selama proses pemandian. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga kehormatan jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sesama muslim. Dalam penjelasannya, narasumber mencontohkan langkah-langkah praktis yang sering dilakukan di masyarakat. Beberapa kesalahan umum juga turut dibahas agar tidak terulang kembali. Penyampaian yang sistematis membuat peserta lebih mudah membayangkan praktik sebenarnya. Setelah itu, materi dilanjutkan dengan pembahasan tentang proses mengkafani jenazah. Bapak Solichin menjelaskan jumlah dan jenis kain kafan yang digunakan, baik untuk jenazah laki-laki maupun perempuan. Ia juga menguraikan urutan mengkafani secara benar sesuai sunnah Rasulullah SAW. Penjelasan disertai dengan penekanan pada kesederhanaan dan tidak berlebihan dalam penggunaan kain kafan. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memahami bahwa esensi mengkafani adalah menutup aurat dan menjaga kehormatan jenazah. Peserta tampak semakin tertarik karena materi ini jarang dipraktikkan secara langsung oleh sebagian besar warga. Kegiatan sosialisasi ini tidak hanya bersifat satu arah, tetapi juga diselingi dengan sesi tanya jawab. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan terkait kondisi-kondisi khusus yang sering terjadi dalam pengurusan jenazah. Bapak Solichin menjawab setiap pertanyaan dengan sabar dan argumentasi yang jelas berdasarkan dalil serta pengalaman praktik. Interaksi ini menciptakan suasana yang hidup dan dialogis. Mahasiswa KKM Kelompok 113 turut berperan aktif dalam membantu jalannya diskusi. Kehangatan antara narasumber, peserta, dan panitia terasa sepanjang kegiatan berlangsung. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM berharap masyarakat memiliki bekal pengetahuan yang cukup untuk menghadapi situasi kedukaan di lingkungan sekitarnya. Sosialisasi ini menjadi salah satu bentuk pengabdian nyata mahasiswa kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat fungsi masjid sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan umat. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga ruang belajar keislaman yang aplikatif. Nilai kebersamaan dan kepedulian sosial menjadi pesan penting yang ingin ditanamkan. Kegiatan ini sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa KKM dan warga setempat.