Thumbnail
3 months ago
Penguatan Pengetahuan dan Kesiapan Kesehatan Calon Jamaah Haji melalui Edukasi Kesehatan Terpadu

RENDI DWI SATRIA

Kegiatan edukasi kesehatan bagi calon jamaah haji menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Bukan hanya karena materinya yang penting, tetapi juga karena antusiasme luar biasa dari bapak dan ibu calon jamaah yang mengikuti kegiatan ini dengan penuh semangat. Sejak awal sesi edukasi dimulai, bapak dan ibu terlihat aktif menyimak, mengajukan pertanyaan, dan berbagi pengalaman terkait persiapan kesehatan menjelang ibadah haji. Hal yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana bapak dan ibu calon jamaah begitu terbuka menerima informasi kesehatan. Materi yang disampaikan, mulai dari pentingnya menjaga kondisi fisik, pengelolaan penyakit kronis, hingga kesiapan menghadapi cuaca ekstrem di Tanah Suci, benar-benar diperhatikan dengan serius. Antusiasme ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan sebagai bagian daripara bapak dan ibu calon jamaah yang mengikuti kegiatan ini dengan penuh semangat. Sejak awal sesi edukasi dimulai, mereka terlihat aktif menyimak, mengajukan pertanyaan, dan berbagi pengalaman terkait persiapan kesehatan menjelang ibadah haji. Hal yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana para calon jamaah begitu terbuka menerima informasi kesehatan. Materi yang disampaikan, mulai dari pentingnya menjaga kondisi fisik, pengelolaan penyakit kronis, hingga kesiapan menghadapi cuaca ekstrem di Tanah Suci, benar-benar diperhatikan dengan serius. Antusiasme ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan sebagai bagian dari kelancaran ibadah haji sudah tertanam dengan baik. Momen yang paling berkesan bagi saya adalah saat pemeriksaan kesehatan berlangsung. Bapak dan Ibu calon jamaah menjalani pemeriksaan dengan sangat kooperatif dan patuh terhadap petugas kesehatan. Beliau mengikuti setiap prosedur dengan tenang dan penuh kepercayaan, mulai dari pengecekan tekanan darah hingga pemeriksaan lainnya. Sikap tersebut mencerminkan kesiapan mental dan fisik, serta keinginan kuat untuk menjaga kesehatan demi kelancaran ibadah. Melalui edukasi kesehatan terpadu ini, saya menyadari bahwa persiapan haji tidak hanya sebatas administrasi dan manasik, tetapi juga kesiapan kesehatan yang matang. Antusiasme dan kepatuhan para calon jamaah menjadi bukti bahwa edukasi kesehatan memiliki peran penting dalam mendukung terciptanya jamaah haji yang sehat, mandiri, dan siap menjalankan ibadah dengan optimal.

Thumbnail
3 months ago
Dari Edukasi hingga Aksi: Upaya Mahasiswa FKIK UIN Malang Menyiapkan Calon Jemaah Haji yang Sehat dan Bugar

TALITA APRILIA NUR AZZAHRA

Batu, 28 Desember 2025 — Mahasiswa Kelompok 1 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Integrasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang melaksanakan program pendampingan kesehatan bagi Calon Jemaah Haji (CJH) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapan fisik menjelang pelaksanaan ibadah haji. Kegiatan ini berlangsung selama Desember 2025 di wilayah Kota Batu dengan menitikberatkan pada edukasi gaya hidup sehat serta pemantauan kondisi kesehatan jemaah. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan di bawah bimbingan dr. Yuliono Trika Nur Hasan, Sp.M selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Kelompok 1 KKM Integrasi FKIK UIN Malang terdiri dari mahasiswa lintas program studi, yaitu Talita Aprilia Nur Azzahra sebagai ketua kelompok, Salsa Billa Dwi Azzahro, Reva Valentina Rosy dari (Program Studi Farmasi angkatan 2023), serta Alodia Maulina (Program Studi Pendidikan Dokter angkatan 2023). Melalui pendekatan promotif dan preventif, mahasiswa memberikan pendampingan kesehatan kepada calon jemaah haji, meliputi edukasi pengendalian berat badan, penerapan aktivitas fisik terstruktur, pembatasan kebiasaan merokok, serta pemantauan kesehatan secara berkala. Program ini diharapkan mampu membantu calon jemaah mencapai kondisi istithaah kesehatan, sehingga ibadah haji dapat dijalani dengan aman, nyaman, dan optimal. Ibadah haji tidak hanya menuntut kesiapan spiritual, tetapi juga memerlukan kondisi fisik yang prima. Selama pelaksanaan ibadah, jemaah akan menghadapi aktivitas fisik dengan intensitas tinggi, seperti berjalan jarak jauh, thawaf, dan sa’i, di tengah cuaca panas serta kepadatan jemaah. Oleh karena itu, kesiapan fisik menjadi faktor penting agar seluruh rangkaian ibadah dapat dilaksanakan secara lancar dan khusyuk. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih terdapat calon jemaah haji dengan faktor risiko kesehatan, seperti berat badan berlebih dan kebiasaan merokok. Kondisi ini sering kali kurang disadari karena tidak selalu disertai keluhan yang dirasakan secara langsung. Padahal, kelebihan berat badan dapat meningkatkan beban kerja jantung dan sistem pernapasan, sementara kebiasaan merokok berpotensi menurunkan kapasitas paru serta daya tahan tubuh. Jika tidak dipersiapkan sejak dini, kondisi tersebut dapat memicu kelelahan, sesak napas, hingga gangguan kesehatan selama pelaksanaan ibadah haji. Melalui program KKM Integrasi FKIK UIN Malang, mahasiswa berperan sebagai agen perubahan dalam upaya promotif dan preventif kesehatan calon jemaah haji. Pada pelaksanaan program ini, Kelompok 1 mendampingi dua calon jemaah haji, yaitu Bapak Hendro (37 tahun) dan Bapak Yusuf (61 tahun) yang berdomisili di wilayah Junrejo, Kota Batu. Pendampingan dilakukan secara personal dan komprehensif untuk menjaga dan meningkatkan kondisi fisik jemaah selama masa persiapan keberangkatan. Pelaksanaan KKM Integrasi FKIK UIN Malang juga didukung melalui kolaborasi dengan Dinas Kesehatan, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), serta Kementerian Agama Kota Batu. Selain itu, program ini memperoleh dukungan dari Pusat Kesehatan Haji (PUKESHAJI) sebagai bentuk sinergi dalam menjaga kesehatan calon jemaah haji sejak masa tunggu keberangkatan. Salah satu bentuk intervensi yang dilakukan adalah penyampaian video edukasi yang menggambarkan kondisi nyata pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Media audiovisual ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman calon jemaah mengenai tuntutan fisik yang akan dihadapi, sekaligus menekankan pentingnya mempersiapkan kebugaran tubuh melalui aktivitas fisik yang aman dan teratur. Sebagai implementasi langsung dari edukasi tersebut, mahasiswa KKM mengadakan kegiatan jalan pagi sehat dan senam bersama calon jemaah haji. Aktivitas ini dirancang sebagai latihan fisik ringan yang mudah dilakukan dan disesuaikan dengan kemampuan jemaah. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, melatih kebugaran jantung dan paru, serta membiasakan calon jemaah menjalani aktivitas fisik secara rutin. Selain itu, media poster edukasi gaya hidup sehat digunakan sebagai pengingat visual di lingkungan rumah calon jemaah. Poster tersebut memuat pesan singkat mengenai penerapan empat pilar gizi seimbang, pengaturan pola makan, pentingnya aktivitas fisik, serta pembatasan konsumsi rokok. Diharapkan, pesan visual ini dapat memperkuat pemahaman dan mendorong perubahan perilaku secara bertahap. Pendampingan kesehatan juga diperkuat melalui kegiatan journaling harian. Calon jemaah diminta mencatat pola tidur, aktivitas fisik, serta konsumsi rokok setiap hari. Melalui pencatatan ini, jemaah diharapkan dapat meningkatkan kesadaran terhadap kebiasaan sehari-hari dan lebih termotivasi untuk menerapkan pola hidup sehat secara konsisten. Selain itu, dilakukan pemantauan kesehatan secara berkala yang meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, tekanan darah, serta kadar gula darah. Hasil pemeriksaan ini menjadi dasar dalam pemberian edukasi dan konseling singkat yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing jemaah. Sebagai bagian dari evaluasi program, calon jemaah haji mengikuti pretest sebelum menerima intervensi pendampingan. Setelah satu bulan pelaksanaan program, dilakukan post test untuk menilai perubahan pengetahuan, sikap, serta kondisi kesehatan jemaah. Perbandingan hasil pretest dan post test diharapkan dapat menggambarkan efektivitas program pendampingan kesehatan yang telah dijalankan. Selama pelaksanaan kegiatan, antusiasme calon jemaah haji terlihat cukup tinggi. Para jemaah menyampaikan bahwa pendampingan yang diberikan sangat membantu dalam meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Pendekatan yang personal dan intensif membuat calon jemaah merasa lebih diperhatikan serta termotivasi untuk menerapkan gaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mahasiswa, kegiatan KKM Integrasi ini menjadi sarana pembelajaran nyata dalam mengaplikasikan ilmu kedokteran dan farmasi yang telah diperoleh selama perkuliahan ke dalam praktik pelayanan kesehatan masyarakat. Pengalaman ini tidak hanya memperkuat kompetensi akademik, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial serta kesiapan mahasiswa sebagai calon tenaga kesehatan profesional. Melalui rangkaian pendampingan kesehatan ini, Mahasiswa Kelompok 1 KKM Integrasi FKIK UIN Malang diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung terwujudnya istithaah kesehatan calon jemaah haji. Dengan kondisi fisik yang lebih optimal, pelaksanaan ibadah haji diharapkan dapat berlangsung dengan lebih aman, nyaman, dan penuh kekhusyukan.  

Thumbnail
3 months ago
Pendampingan Calon Jemaah Haji melalui Edukasi Gizi dan Aktivitas Fisik Berbasis Media Edukatif

SALSABILA ROICHATUL JANNAH

Salah satu momen paling berkesan dalam kegiatan edukasi ini adalah melihat besarnya antusiasme dari calon kedua jemaah haji terhadap materi kesehatan yang kami sampaikan. Selama sesi berlangsung, kedua nya tampak aktif menyimak, berdiskusi, serta berbagi pengalaman. Banyak di antara mereka yang menyampaikan apresiasi karena menyadari bahwa kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari, seperti pola makan dan aktivitas fisik ternyata memiliki pengaruh besar terhadap lancarnya pelaksanaan ibadah haji nantinya. Kesadaran ini menjadi langkah awal yang penting, mengingat persiapan haji selama ini sering kali lebih terfokus pada aspek spiritual dan administratif. Melalui kegiatan edukasi ini, para calon jemaah mulai memahami bahwa kesehatan fisik juga merupakan bagian yang tidak dapat diabaikan dari kesiapan beribadah. Dalam sesi diskusi, kedua calon jemaah haji banyak mengajukan pertanyaan terkait aktivitas sederhana namun sangat krusial untuk menjaga kebugaran tubuh. Salah satu topik yang paling sering dibahas adalah pentingnya hidrasi. Para jemaah ingin memahami bagaimana kecukupan minum air putih dapat membantu tubuh melindungi dan melindungi dari cuaca ekstrem di Tanah Suci. Selain itu, aktivitas fisik juga menjadi perhatian utama. Para jemaah mulai menyadari bahwa olahraga ringan yang dilakukan sejak masih di tanah air, seperti berjalan kaki secara rutin, dapat sangat membantu menjaga kekuatan kaki dan daya tahan tubuh saat menjalani rangkaian ibadah seperti tawaf dan sa'i. Pengaturan pola makan pun tak luput dari pembahasan, khususnya terkait cara menjaga asupan nutrisi agar energi tetap stabil di tengah jadwal ibadah yang padat. Melalui diskusi tersebut, muncul kesadaran kolektif bahwa ibadah haji merupakan aktivitas fisik yang cukup berat. Perbedaan iklim yang mencolok dengan suhu di Tanah Suci yang jauh lebih panas dibandingkan di Indonesia menjadikan persiapan fisik dipandang sama pentingnya persiapan dengan batin.

Thumbnail
3 months ago
Booklet ASWAJA (Aktivitas Sehat dan Wellness Awal Jamaah Haji) sebagai Media Edukasi dan Monitoring dalam Mendukung Istitha’ah Kesehatan Calon Jamaah Haji

REIHAN FARADISA AL ADHIMI

Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) menjadi pengalaman bermakna bagi kami yang tergabung dalam Kelompok 35, yang terdiri dari mahasiswa Program Studi Farmasi dan Kedokteran dalam lingkup Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Melalui kolaborasi lintas program studi ini, kami berkesempatan terjun langsung ke masyarakat dan mengimplementasikan peran masing-masing dalam pendampingan kesehatan. Kegiatan KKM ini dilaksanakan di Desa Beji, Kota Batu, dengan sasaran Calon Jamaah Haji (CJH) sebagai bentuk dukungan dalam mempersiapkan kesiapan kesehatan sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Dari proses pendampingan tersebut, kami memahami bahwa kesiapan ibadah haji tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga sangat bergantung pada kondisi fisik yang optimal. Selama pelaksanaan KKM, Kelompok 35 menjalankan beberapa program pendampingan kesehatan secara kolaboratif, meliputi edukasi pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan, pendampingan aktivitas fisik ringan, serta monitoring kondisi kesehatan secara sederhana. Dari berbagai kegiatan yang dilakukan, salah satu program yang paling berkesan bagi kami adalah penggunaan Booklet ASWAJA (Aktivitas Sehat dan Wellness Awal Jamaah Haji) sebagai media edukasi dan monitoring kesehatan. Pendampingan Booklet ASWAJA difokuskan pada Ibu Analiyawati, salah satu calon jamaah haji yang dapat kami dampingi secara langsung selama kegiatan KKM. Sementara itu, Bapak Magiyanto selaku suami Ibu Analiyawati tidak dapat mengikuti pendampingan secara langsung karena aktivitas pekerjaan di Jakarta. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami, sekaligus memberikan gambaran bahwa pelaksanaan pendampingan kesehatan di masyarakat perlu menyesuaikan dengan situasi dan ketersediaan waktu sasaran. Pada awal pendampingan, Booklet ASWAJA tampak sederhana, berupa buku kecil yang berisi panduan kesehatan, hasil pemeriksaan kesehatan, serta lembar pencatatan harian. Namun, dalam proses pelaksanaannya, booklet ini justru berperan penting sebagai pengingat dan alat refleksi kesehatan. Bersama Ibu Analiyawati, kami membahas isi booklet secara bertahap, mulai dari pentingnya mencukupi kebutuhan cairan, menjaga pola makan seimbang, melakukan aktivitas fisik ringan, hingga memperhatikan kualitas istirahat. Hal yang paling berkesan bagi kami adalah ketika Ibu Analiyawati mulai rutin mengisi lembar pencatatan harian dalam Booklet ASWAJA. Dari kegiatan tersebut, terlihat perubahan kecil namun bermakna, seperti meningkatnya kesadaran terhadap kebiasaan minum air, perhatian terhadap pola makan, serta pemahaman bahwa menjaga kebugaran tubuh merupakan bagian penting dari persiapan menuju ibadah haji. Melalui program Booklet ASWAJA, kami belajar bahwa edukasi kesehatan tidak harus selalu disampaikan secara formal dan kompleks. Pendekatan yang sederhana, komunikatif, dan dilakukan secara personal justru lebih mudah diterima. Kolaborasi antara mahasiswa farmasi dan kedokteran juga memberikan pengalaman berharga dalam membangun kerja sama lintas disiplin untuk pendampingan kesehatan yang lebih komprehensif. Bagi Ibu Analiyawati, Booklet ASWAJA membantu mempersiapkan diri menuju istitha’ah kesehatan sebagai bekal menjalankan rangkaian ibadah haji. Sementara bagi kami, mahasiswa Kelompok 35, pengalaman KKM ini menjadi pembelajaran penting tentang empati, fleksibilitas, dan peran tenaga kesehatan dalam mendampingi masyarakat. Booklet ASWAJA mungkin sederhana, namun pengalaman pendampingan ini menjadi cerita berharga yang akan selalu kami ingat.  

Thumbnail
3 months ago
Menjaga Istitha’ah Kesehatan Jamaah Haji: Cerita Pengabdian dari Kecamatan Bumiaji

KHANSA AULIA KHAIRUNNISA

Ibadah haji bukan sekedar perjalanan rohani, tetapi juga ujian kesiapan fisik dan kesehatan. Setiap tahun, ribuan calon jamaah haji Indonesia berangkat ke Tanah Suci dengan latar belakang usia lanjut dan penyakit kronis, seperti hipertensi, diabetes, dan alergi makanan. Kondisi ini menjadikan aspek istitha'ah kesehatan sebagai faktor kunci agar ibadah dapat berjalan secara aman, nyaman, dan optimal. Berangkat dari kenyataan tersebut, kami mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) HIPE 2026, melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Program ini fokus pada penguatan istitha'ah kesehatan calon jamaah haji penderita hipertensi dan riwayat alergi melalui pendidikan terpadu berbasis multimedia. Latihan ibadah haji yang menuntut aktivitas fisik tinggi, paparan suhu ekstrem, perubahan pola makan, serta kondisi padat yang padat. Bagi jamaah dengan hipertensi atau riwayat alergi, tantangan ini dapat meningkatkan risiko kelelahan, dehidrasi, reaksi alergi, hingga kegawatdaruratan medis apabila tidak dipersiapkan dengan baik. Di Kecamatan Bumiaji, kami mendampingi dua calon jamaah haji dengan kondisi kesehatan yang berbeda. Salah satunya adalah lansia dengan hipertensi derajat 2, hiperurisemia, dan status gizi overweight. Sementara itu, jamaah lainnya memiliki riwayat alergi terhadap telur dan ayam serta kadar HbA1c yang tinggi. Keduanya menunjukkan bahwa kesiapan jamaah kesehatan tidak hanya ditentukan oleh hasil pemeriksaan medis, tetapi juga oleh pengetahuan, perilaku, dan kemandirian dalam mengelola kesehatan sehari-hari. Dalam pelaksanaan KKM, kami menggunakan pendekatan edukasi terpadu berbasis multimedia agar pesan kesehatan lebih mudah dipahami dan diterapkan. Media yang digunakan antara lain poster edukasi, video kesehatan prahaji, buku monitoring sajian minum obat, flashcard bilingual Indonesia–Arab, serta aktivitas fisik ringan berupa jalan pagi rutin. Poster berfungsi sebagai pengingat visual harian mengenai gaya hidup sehat, makanan pemicu hipertensi, dan alergen yang perlu dihindari. Video edukasi membantu jamaah memahami tantangan kesehatan di Tanah Suci, seperti cuaca panas dan aktivitas berjalan jauh, serta cara beradaptasi secara aman. Buku monitoring yang mendorong kehadiran minum obat, sementara flashcard bilingual menjadi alat bantu komunikasi medis jika jamaah membutuhkan layanan kesehatan di luar negeri. Pendekatan ini tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga partisipatif. Jamaah diajak berdiskusi, bertanya, dan berasumsi langsung perilaku sehat yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Hasil evaluasi menunjukkan perubahan yang sangat positif. Skor pengetahuan kesehatan kedua calon jamaah meningkat signifikan setelah intervensi pendidikan. Fungsi kognitif tetap berada dalam batas normal, yang menandakan bahwa media yang digunakan sesuai dengan karakteristik usia dan kemampuan jamaah. Lebih dari itu, perubahan perilaku kesehatan juga tercermin pada data fisiologis. Tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol menunjukkan perbaikan atau stabilisasi selama periode pendampingan. Aktivitas jalan pagi membantu meningkatkan stamina dan kebugaran, sekaligus edukasi nutrisi berkontribusi pada pola makan yang lebih aman dan terkontrol. Bagi kami, angka-angka tersebut bukan sekedar data, tetapi bukti bahwa edukasi kesehatan yang tepat sasaran mampu meningkatkan kualitas hidup dan kesiapan ibadah jamaah haji. Kegiatan KKM ini memberi kami pelajaran berharga bahwa pengabdian masyarakat bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi tentang mendampingi, mendengarkan, dan menyesuaikan solusi dengan kebutuhan nyata masyarakat. Istitha'ah kesehatan bukan konsep abstrak, melainkan proses yang harus dibangun sejak jauh hari melalui pendidikan, pendampingan, dan kolaborasi antara jamaah, keluarga, dan tenaga kesehatan. Kami berharap program ini dapat menjadi inspirasi bagi pengabdian selanjutnya, serta menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar ibadah. Dengan kesiapan fisik yang baik, jamaah haji dapat menjalankan setiap rukun dan wajib haji dengan lebih khusyuk, aman, dan bermakna.