LUFITA DIANI LARASATI
Kunjungan ke rumah Bapak Husni sebagai salah satu calon jemaah haji yang kami tangani kali ini terasa berbeda. Bukan hanya datang untuk berbincang, tetapi kami punya satu agenda seru: membuat makanan sehat bersama, yaitu salad. Ide ini muncul dari cerita beliau yang mengatakan bahwa ia cukup sering mengonsumsi salad sebagai bagian dari pola makan sehatnya. Dari situlah, tercetus rencana sederhana namun berkesan, memasak bersama di dapur rumahnya. Dapur Sederhana yang Penuh Kehangatan Di dapur yang sederhana, kami mulai menyiapkan sayur-sayuran segar. Ada selada, tomat, kol, wortel, dan beberapa bahan pelengkap lain. Suasananya santai, penuh tawa kecil, dan obrolan ringan yang mengalir begitu saja. Sambil memotong sayuran dan menata bahan, Bapak Husni mulai bercerita. Bukan cerita yang dibuat-buat, melainkan kisah hidup yang keluar alami di sela-sela aktivitas memasak. Rasanya seperti mendengarkan pengalaman hidup langsung dari sumbernya, tanpa jarak, tanpa formalitas. Cerita Perjuangan di Antara Potongan Sayur Di tengah kegiatan meracik salad, beliau mengenang masa-masa sulit yang pernah dilalui. Tentang bagaimana dulu hidup dalam keterbatasan, harus berjuang keras, dan belajar bertahan dalam berbagai kondisi. Yang membuat kami terdiam bukan hanya isi ceritanya, tetapi cara beliau menyampaikannya—tenang, penuh rasa syukur, tanpa keluhan. Setiap potongan sayur yang kami siapkan seolah diiringi dengan potongan cerita hidup yang sarat pelajaran. Salad, Kesehatan, dan Kebiasaan Baik Bapak Husni juga bercerita bahwa kebiasaan makan sehat, seperti mengonsumsi salad, bukan datang tiba-tiba. Itu adalah bagian dari kesadaran beliau untuk menjaga kesehatan setelah melalui perjalanan hidup yang panjang. Beliau percaya bahwa menjaga kesehatan adalah bentuk rasa syukur. Bahwa tubuh yang sehat memungkinkan seseorang tetap produktif, tetap berbagi, dan tetap menikmati hidup. Makan Bersama di Meja Makan, Cerita yang Terus Mengalir Saat salad tersaji rapi di meja makan, kami pun duduk bersama menikmatinya. Suasana menjadi lebih hangat dan akrab. Di momen makan bersama itulah, cerita kehidupan beliau kembali berlanjut. Bapak Husni bercerita tentang masa mudanya yang penuh perjuangan, bahkan pernah merantau ke luar negeri demi memperbaiki nasib. Hidup jauh dari kampung halaman, menghadapi berbagai kesulitan, dan harus bertahan dengan segala keterbatasan menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk dirinya hari ini. Kini, setelah melalui proses yang tidak mudah, beliau berhasil menjadi pribadi yang sukses. Namun yang paling menyentuh bukanlah kesuksesannya, melainkan nilai hidup yang beliau pegang teguh. Beliau mengatakan bahwa ia sangat senang berbagi dan menolong sesama. Baginya, keberhasilan bukan untuk dinikmati sendiri, tetapi untuk memberi manfaat bagi orang lain. Ia selalu berusaha mengutamakan kepentingan umat, membantu semampunya, dan tidak pernah menutup pintu bagi siapa pun yang membutuhkan. Kenangan Hangat yang Akan Selalu Diingat Salad yang tersaji di meja hari itu terasa istimewa. Bukan karena rasanya semata, tetapi karena proses, kebersamaan, dan cerita hidup yang menyertainya. Kehadiran beliau terasa seperti seorang ayah bagi kelompok kami, yang mayoritas adalah perantau dari luar kota Malang dan tidak bisa pulang demi menjalankan kewajiban kami sebagai mahasiswa. Dari dapur sederhana hingga meja makan, kami menyadari bahwa momen kecil bisa menjadi ruang belajar yang sangat besar. Dan dari Bapak Husni, kami belajar satu hal penting, yaitu hidup yang baik adalah hidup yang bermanfaat bagi orang lain.
IRFA MILLATU ULYA
Persiapan ibadah haji tidak hanya mencakup aspek administrasi dan pembinaan manasik, tetapi juga kesiapan fisik yang optimal. Rangkaian ibadah haji menuntut kemampuan berjalan dalam jarak yang cukup jauh serta daya tahan tubuh yang baik, terutama bagi Calon Jamaah Haji (CJH) dengan riwayat hipertensi dan hiperkolesterolemia. Oleh karena itu, diperlukan intervensi promotif dan preventif yang berkelanjutan untuk mendukung kondisi kesehatan CJH menjelang keberangkatan. Sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung kesiapan kesehatan CJH, kami melaksanakan program kerja berupa kegiatan jalan sehat bersama CJH. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kekuatan berjalan, meningkatkan daya tahan fisik, serta membiasakan CJH melakukan aktivitas fisik secara teratur sebagai persiapan menghadapi rangkaian ibadah haji, seperti tawaf, sa’i, dan mobilisasi antar lokasi ibadah. Kegiatan jalan sehat dilaksanakan dengan rute dari rumah CJH menuju Pasar Among Tani, Kota Batu. Rute tersebut dipilih karena memiliki jarak yang representatif untuk melatih kemampuan berjalan, sekaligus memberikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi CJH. Selama perjalanan, kami memberikan edukasi kesehatan secara langsung mengenai pentingnya menerapkan pola hidup sehat, meliputi pengaturan pola makan, aktivitas fisik rutin, serta konsumsi makanan bergizi seimbang. Setibanya di Pasar Among Tani, kegiatan dilanjutkan dengan sarapan sehat bersama. Pada kesempatan tersebut, kami memberikan edukasi terkait pemilihan makanan yang aman dan sesuai bagi CJH, khususnya yang memiliki hipertensi dan kolesterol tinggi. Kami menjelaskan jenis-jenis makanan yang tersedia di tenant pasar yang relatif aman dikonsumsi, seperti sayuran segar, buah-buahan, lauk rendah lemak, serta makanan yang diolah dengan metode perebusan, pengukusan, atau pemanggangan. Selain itu, kami juga menekankan pentingnya membatasi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, gorengan, jeroan, makanan bersantan, serta makanan tinggi gula dan garam. Pelaksanaan kegiatan ini memberikan manfaat tidak hanya dari aspek peningkatan kebugaran fisik, tetapi juga dari aspek peningkatan pengetahuan dan kesadaran kesehatan CJH. CJH menunjukkan partisipasi aktif dan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung, serta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya menjaga kesehatan secara mandiri dan berkelanjutan. Secara keseluruhan, program jalan sehat bersama CJH merupakan bentuk intervensi promotif dan preventif yang efektif dalam meningkatkan kesiapan fisik dan pengetahuan kesehatan CJH menjelang pelaksanaan ibadah haji. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong penerapan pola hidup sehat secara berkelanjutan serta berkontribusi terhadap pencegahan komplikasi penyakit kronis, sehingga CJH dapat menjalani ibadah haji dengan kondisi kesehatan yang optimal.
MARDATILAH NUR WIBAWANTY
Udara sejuk Kota Batu menyelimuti kegiatan jalan sehat bersama calon jamaah haji, Bapak Husnul dan Ibu Siti. Dengan titik kumpul di Rumah Dinas Wali Kota Batu, kegiatan ini diselenggarakan oleh Kelompok 14 HIPE KKM Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai bentuk pendampingan kesehatan jamaah haji menjelang keberangkatan ke Tanah Suci. Meskipun dilakukan secara sederhana dan hanya diikuti oleh satu pasangan, kegiatan jalan sehat ini tetap berjalan dengan lancar dan penuh makna. Jalan sehat dipilih sebagai aktivitas fisik ringan yang aman dan mudah dilakukan dalam rangka persiapan kesehatan haji, terutama bagi calon jamaah yang membutuhkan kondisi fisik prima. Kegiatan jalan sehat calon jamaah haji Kota Batu ini dirancang dengan tempo santai dan rute yang disesuaikan dengan kemampuan peserta. Selama kegiatan berlangsung, Bapak Husnul dan Ibu Siti berjalan berdampingan, saling memberi dukungan, serta beristirahat secara berkala. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik sederhana dapat dilakukan dengan nyaman jika disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Sebagai bagian dari persiapan kesehatan jamaah haji, jalan sehat memiliki manfaat dalam menjaga kebugaran, meningkatkan daya tahan tubuh, serta membantu calon jamaah membiasakan aktivitas fisik rutin sebelum menjalani ibadah haji yang menuntut stamina optimal. Bagi kami sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar langsung di masyarakat. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga pada upaya promotif dan preventif. Melalui kegiatan jalan sehat, mahasiswa belajar menyampaikan edukasi kesehatan dengan pendekatan yang sederhana, komunikatif, dan empatik. Di sela kegiatan, kami mahasiswa KKM FKIK UIN Malang juga memberikan edukasi singkat terkait pentingnya aktivitas fisik, istirahat yang cukup, serta kesadaran akan istitha’ah kesehatan sebagai bagian penting dari persiapan ibadah haji. Kegiatan jalan sehat bersama calon jamaah haji di Kota Batu memberikan refleksi penting bahwa pengabdian kesehatan dapat dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Meski hanya diikuti satu pasangan, kegiatan ini menunjukkan bahwa pendampingan kesehatan jamaah haji tidak selalu harus dilakukan dalam skala besar untuk memberi dampak positif. Di akhir kegiatan, senyum dan rasa puas terlihat dari Bapak Husnul dan Ibu Siti. Bagi kami mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa peran tenaga kesehatan di masa depan bukan hanya sebagai pemberi layanan, tetapi juga sebagai pendamping masyarakat. Jalan sehat ini menjadi langkah awal dalam mewujudkan calon jamaah haji yang sehat, siap, dan optimal dalam menjalankan ibadah.
M.FIQRI RIZQI MA`ARIP
Program KKM unggulan fakultatif HIPE (Hajj Interprofessional Education) merupakan bentuk pengabdian mahasiswa yang menggabungkan dua profesi kesehatan, yaitu kedokteran dan farmasi, dalam satu kolaborasi nyata di masyarakat. Program ini dirancang khusus untuk mendukung kesiapan kesehatan calon jamaah haji melalui pendekatan interprofesional. Mengapa harus dua profesi? Karena dalam pelayanan kesehatan, terutama dalam persiapan kesehatan haji tidak hanya soal diagnosis penyakit yang dilakukan oleh dokter, tetapi juga terkait kepatuhan minum obat, serta pemahaman interaksi obat dan pengaruhnya pada pelaksanaan ibadah haji yang hal ini berhubungan dengan farmasi. Sinergi ini penting untuk mencapai satu tujuan utama, yaitu "istito’ah" yang berupa kemampuan fisik dan mental jamaah untuk menjalankan ibadah haji dengan aman. Kegiatan HIPE kali ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Puskesmas Beji, dengan sasaran pembinaan pada calon jamaah haji yang merupakan pasangan suami istri, yaitu Bapak Eko Kuncoro dan Ibu Sri Sondari. Kegiatan diawali dengan monitoring kesehatan, meliputi pengecekan kondisi umum serta diskusi riwayat penyakit dan terapi yang sedang dijalani. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan penyuluhan mengenai konsep istito’ah terutama dari aspek kesehatan seperti pentingnya kontrol rutin, kepatuhan minum obat, menjaga pola makan, dan manajemen aktivitas fisik menjelang keberangkatan haji. Edukasi ini membantu calon jamaah memahami bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari persiapan ibadah, bukan sekadar syarat formal. Kegiatan ditutup dengan pemberian souvenir berupa baju sebagai bentuk kenang-kenangan sekaligus simbol dukungan moral bagi Bapak Eko dan Ibu Sri dalam perjalanan spiritual mereka. Lebih dari sekadar kunjungan, interaksi ini menjadi pengalaman belajar bermakna bagi mahasiswa tentang pentingnya kolaborasi antarprofesi dan pendekatan humanis dalam pelayanan kesehatan.
RIZKI AMALIATSANI PUTRI
Hari pertama pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membawa pengalaman yang sangat berbeda. Berbeda dengan KKM pada umumnya, program kami bersifat fakultatif dengan fokus khusus pada Hajj Interprofessional Education (HIPE). Tujuannya tidak hanya melakukan pengabdian masyarakat, tetapi juga mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu kesehatan dalam satu pendekatan kolaboratif untuk mempersiapkan calon jamaah haji (CJH) secara holistik, baik dari aspek fisik, mental, maupun spiritual. Harapannya, CJH dapat menjalani ibadah haji dengan kondisi kesehatan yang optimal, lancar, dan penuh kekhusyukan, sehingga mampu meraih predikat haji yang mabrur. 9 Januari 2026, kami memulai kunjungan pertama dengan destinasi yang cukup jauh, lebih dari 70 km perjalanan pulang-pergi, menuju rumah seorang CJH yang sedang tinggal sementara di rumah keluarga besarnya karena orang tua yang sedang sakit. Perjalanan sore itu diwarnai dengan semangat untuk menjalankan misi HIPE, meski disertai sedikit kecemasan akan kesan pertama yang akan kami berikan. Sebelum berangkat, kami sempatkan membeli buah sebagai buah tangan dan penghormatan. Namun, alam sepertinya ingin menguji komitmen kami. Di tengah perjalanan, hujan turun cukup deras, membasahi jalan dan sedikit menguji semangat kami. Tapi, justru dalam perjalanan yang sedikit basah ini, kami merasa semakin solid sebagai tim interprofesi saling mendukung dan mengingatkan peran masing-masing dalam pendampingan kesehatan haji. Sampailah kami di tujuan dan semua lelah serta basah akibat hujan seketika terbayar lunas. Kami disambut bukan hanya dengan senyuman, tetapi dengan kehangatan yang luar biasa dari keluarga besar CJH. Segelas teh hangat dan biskuit yang disuguhkan terasa lebih bermakna dari hidangan mewah apa pun. Di sinilah kami menyadari bahwa pendekatan interprofesional dalam KKM HIPE bukan hanya tentang teknis medis, tetapi juga tentang membangun kepercayaam dan kedekatan emosional dengan CJH dan keluarganya. Kami pun berkenalan. Suasana cair seketika. Bapak Eko Purwanto, sang calon jamaah haji, dengan ramah berbagi cerita tentang persiapan spiritual dan fisiknya menuju Tanah Suci. Diskusi kami mengalir secara interprofesional: dari pemantauan tanda-tanda vital dan konsultasi kesehatan, edukasi gizi seimbang untuk persiapan haji, hingga penyuluhan mengenai manajemen stres dan pentingnya menjaga kebersihan diri di tanah suci. Tidak hanya menerima, Bapak Eko juga memberikan nasihat berharga tentang kesabaran, ketawakalan, dan makna ibadah yang sesungguhnya. Setiap kata-katanya menguatkan komitmen kami bahwa pendampingan kesehatan haji harus dilakukan dengan hati, tidak sekadar prosedur. Sepulang dari kunjungan itu, tubuh terasa lelah. Namun, hati ini dipenuhi dengan kepuasan dan kebahagiaan yang sulit diungkapkan. Sebagai bentuk apresiasi untuk tim kami sendiri, kami menyempatkan diri untuk makan malam bersama di sebuah restoran. Di sana, kami merefleksikan pelajaran hari itu bahwa kolaborasi antarprofesi kesehatan dalam KKM HIPE benar-benar membawa dampak yang lebih menyeluruh. Melalui intervensi kesehatan yang telah dan akan kami lakukan, kami berharap Bapak Eko dan seluruh CJH yang kami dampingi senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan. Semoga persiapan lahir dan batin mereka semakin matang, sehingga dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar, selamat, dan penuh keberkahan. Dan yang terpenting, semoga mereka menjadi haji yang mabrur yang kepergian dan kepulangannya membawa kebaikan bagi diri, keluarga, dan lingkungan. Perjalanan 70 km di hari pertama ini mengajarkan kami bahwa dalam pengabdian melalui HIPE, yang terpenting adalah kolaborasi, ketulusan, dan hubungan manusiawi yang hangat. Ini baru awal, dan kami siap melanjutkan langkah ini dengan semangat yang sama: mengabdi dengan ilmu, menguatkan dengan hati.
AHMAD HAMDAN DHOFIRI
Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 13 Dharmasena melaksanakan kegiatan sosialisasi bullying di MI Nurul Huda 1 Kedungkandang. Kegiatan ini ditujukan khusus untuk siswa kelas 6 sebagai upaya pencegahan perundungan di lingkungan sekolah. Sosialisasi dilaksanakan di dalam kelas dengan suasana yang tertib dan kondusif. Para siswa mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian sejak awal hingga akhir. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja bidang pendidikan dan sosial mahasiswa KKM. Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pemahaman tentang bullying dan dampaknya. Mahasiswa KKM berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi siswa. Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa KKM menjelaskan pengertian bullying secara sederhana dan mudah dipahami. Bentuk-bentuk bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah juga disampaikan kepada siswa. Mahasiswa menjelaskan bahwa bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga verbal dan sosial. Dampak negatif bullying terhadap korban turut dijelaskan secara rinci. Siswa diajak untuk memahami perasaan korban bullying. Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa yang komunikatif. Hal ini bertujuan agar siswa dapat menyerap materi dengan baik. Selain penyampaian materi, mahasiswa KKM juga mengadakan sesi interaktif bersama siswa. Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan pendapat mereka. Beberapa siswa tampak antusias saat menjawab pertanyaan dari pemateri. Interaksi ini membuat suasana kelas menjadi lebih hidup. Mahasiswa KKM memberikan contoh situasi bullying yang sering terjadi di sekolah. Siswa diajak untuk menilai apakah contoh tersebut termasuk tindakan bullying atau tidak. Metode ini membantu siswa memahami materi secara lebih konkret. Mahasiswa KKM juga menekankan pentingnya sikap saling menghormati antar teman. Siswa diajak untuk membangun rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Mahasiswa menyampaikan bahwa setiap siswa memiliki hak untuk merasa aman di sekolah. Selain itu, siswa diimbau untuk tidak ragu melapor kepada guru jika melihat tindakan bullying. Pesan moral disampaikan agar siswa berani bersikap tegas terhadap perundungan. Mahasiswa KKM menegaskan bahwa melapor bukan berarti mengadu. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya bullying secara berkelanjutan. Kegiatan sosialisasi ini mendapat respon positif dari siswa kelas 6 MI Nurul Huda 1 Kedungkandang. Para siswa terlihat aktif dan bersemangat selama kegiatan berlangsung. Mereka mengikuti arahan dan materi yang disampaikan dengan baik. Mahasiswa KKM merasa senang dapat berbagi pengetahuan dengan siswa. Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa KKM. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat berkontribusi nyata di bidang pendidikan. Kerja sama antara pihak sekolah dan mahasiswa KKM berjalan dengan lancar. Melalui kegiatan sosialisasi bullying ini, mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 13 Dharmasena berharap siswa memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bullying. Siswa diharapkan mampu menghindari dan mencegah tindakan perundungan di sekolah. Kegiatan ini juga bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Mahasiswa KKM berharap nilai-nilai yang disampaikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sosialisasi ini menjadi langkah awal dalam membangun karakter siswa. Dengan adanya kegiatan ini, kesadaran siswa terhadap bullying diharapkan meningkat. Kegiatan ditutup dengan pesan motivasi agar siswa selalu berperilaku baik dan saling menghargai.