Thumbnail
3 months ago
Jalan-Jalan Cari Makan di Kunjungan Keempat

ISHMAH BILQISZAIN FIRDAUSI

Kunjungan keempat KKM ke rumah Calon Jamaah Haji (CJH) sore itu sebenarnya berjalan seperti biasanya. Aku bersama teman-teman satu kelompok dan DPL menyusuri gang kecil menuju rumah beliau. Suasananya tenang, khas lingkungan perkampungan, dan terasa cukup akrab karena ini bukan kunjungan pertama kami. Setelah pemeriksaan dan obrolan seputar kesehatan selesai, suasana jadi jauh lebih santai. Di sela-sela percakapan, CJH tersenyum lalu berkata, “Ayo jalan-jalan cari makan.” Ucapannya terdengar sederhana, tapi justru terasa hangat dan membuat suasana semakin cair. Kami pun menerima ajakan itu. Bersama-sama, kami berjalan kaki menuju tempat soto yang letaknya tidak jauh dari rumah CJH. Perjalanan singkat tersebut diisi dengan obrolan ringan dan candaan kecil. Tidak terasa seperti sedang menjalankan tugas KKM, lebih seperti sedang bertamu ke rumah keluarga sendiri. Sepanjang jalan, CJH bercerita tentang kesehariannya serta persiapan menjelang ibadah haji. Kami mendengarkan sambil sesekali menanggapi, sementara DPL ikut berbincang dan menjaga suasana tetap nyaman. Tidak ada jarak antara kami sebagai pendamping dan CJH sebagai yang dikunjungi. Sesampainya di warung soto, kami duduk dan makan bersama. Tempatnya sederhana, tapi suasananya hangat. Makan bersama sore itu bukan hanya soal menikmati hidangan, melainkan tentang kebersamaan dan rasa saling percaya yang terbangun selama proses KKM. Kunjungan keempat tersebut menjadi salah satu momen yang paling aku ingat. Dari ajakan spontan “jalan-jalan cari makan”, berjalan kaki bersama kelompok dan DPL, hingga menikmati soto bersama, semuanya menyadarkanku bahwa KKM bukan hanya tentang tugas dan laporan, tetapi juga tentang hubungan kemanusiaan yang tumbuh dari hal-hal sederhana.

Thumbnail
3 months ago
Pertemuan Terakhir KKM Kelompok 15 FKIK UIN Malang: Menutup Pengabdian dengan Senyum dan Keberkahan

DINA AULIA RAHMA

Pertemuan terakhir KKM Kelompok 15 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi penutup rangkaian kegiatan bersama Calon Jamaah Haji. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian dan apresiasi atas kebersamaan yang telah terjalin selama pelaksanaan KKM.   Pada kesempatan ini, kelompok 15 KKM membagikan perlengkapan haji serta buah-buahan kepada Calon Jamaah Haji. Pembagian ini diharapkan dapat membantu persiapan ibadah sekaligus mendukung kesehatan menjelang keberangkatan. Momen tersebut disambut dengan antusias dan kebahagiaan, terutama dari cjh yang tampak sangat senang.   Bagi mahasiswa KKM Kelompok 15 FKIK UIN Malang, kegiatan ini menjadi penutup yang bermakna sekaligus ruang refleksi atas proses pengabdian yang telah dilalui. Kegiatan KKM tidak hanya memberikan pengalaman akademik, tetapi juga menumbuhkan empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial sebagai calon tenaga kesehatan.   Program telah usai, tetapi silaturahmi dan doa baik semoga terus berlanjut.

Thumbnail
3 months ago
Dari Aset ke Aksi : Membangun Desa Berdaya Melalui Pendekatan Asset Based Community Development

MUSTOFA HADI

Dari Aset ke Aksi : Membangun Desa Berdaya Melalui Pendekatan Asset Based Community Development Pembangunan desa selama ini kerap dimaknai sebagai upaya mengatasi berbagai keterbatasan, mulai dari persoalan ekonomi, kesehatan, hingga kualitas sumber daya manusia. Cara pandang yang terlalu berfokus pada masalah sering kali menempatkan desa sebagai pihak yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Padahal, di balik berbagai tantangan tersebut, desa menyimpan kekuatan sosial, budaya, dan manusia yang jika dikenali dan dikelola dengan tepat, dapat menjadi modal utama pembangunan yang berkelanjutan. Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, merupakan salah satu contoh desa dengan potensi lokal yang kaya. Masyarakatnya memiliki tradisi gotong royong yang kuat, jaringan sosial yang aktif, serta berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan yang hidup dalam keseharian warga. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam satu kerangka pembangunan yang terarah. Di sisi lain, desa juga menghadapi tantangan nyata, seperti perlunya penguatan UMKM lokal, peningkatan literasi pemasaran digital, serta peningkatan kesadaran keluarga terhadap isu kesehatan, khususnya pencegahan stunting dan pola asuh anak. Dalam konteks tersebut, pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) menjadi relevan untuk digunakan sebagai kerangka berpikir dan bertindak. Pendekatan ini menekankan bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan berangkat dari pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki masyarakat, bukan semata-mata dari intervensi eksternal. Masyarakat diposisikan sebagai subjek pembangunan yang aktif, sementara pihak luar berperan sebagai fasilitator dan pendamping. Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman dan temuan lapangan dalam kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Kebobang, dengan tujuan memetakan aset desa, merumuskan mimpi kolektif warga, serta menyajikan praktik perancangan program berbasis potensi lokal. Melalui tulisan ini, diharapkan pembaca dapat melihat bahwa pembangunan desa bukan sekadar soal apa yang kurang, tetapi tentang bagaimana menggerakkan apa yang sudah ada agar memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Tahap Discovery: Mengungkap Aset yang Selama Ini Terabaikan Berdasarkan diskusi, survei aset, dan refleksi bersama masyarakat Desa Kebobang, teridentifikasi bahwa warga memiliki mimpi kolektif yang relatif selaras dan realistis dengan kondisi lokal. Mimpi tersebut tidak lahir dari keinginan abstrak, melainkan dari pengalaman sehari-hari warga dalam menghadapi dinamika sosial, ekonomi, dan keluarga. Mimpi utama warga mencakup terbentuknya posko bank sampah yang terkelola secara berkelanjutan sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi mikro. Selain itu, warga mengharapkan pembangunan tugu desa sebagai simbol identitas dan kebanggaan kolektif yang merepresentasikan nilai kebersamaan masyarakat Desa Kebobang. Di sektor ekonomi, warga memiliki harapan agar UMKM lokal dapat berkembang lebih terarah dan memiliki daya saing, terutama melalui peningkatan pengetahuan pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital. Sementara itu, pada aspek keluarga dan kesehatan, muncul kebutuhan kuat akan edukasi parenting dan pencegahan stunting yang berkelanjutan, khususnya bagi orang tua dan wali murid tingkat SD/MI. Mimpi-mimpi ini menunjukkan bahwa warga desa tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, tetapi juga menginginkan perubahan sosial yang berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Visi tersebut menjadi landasan penting dalam merancang program KKM yang relevan, kontekstual, dan berorientasi jangka panjang. Tahap Dream: Merumuskan Mimpi Kolektif Warga Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. Tahap Design: Merancang Strategi Berbasis Aset Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. Tahap Destiny: Implementasi dan Penguatan Keberlanjutan Implementasi program dirancang secara bertahap dan partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lokal. Kader PKK, guru PAUD, Karang Taruna, tokoh agama, serta perangkat desa berperan sebagai pelaksana utama, sementara mahasiswa KKM bertindak sebagai fasilitator dan pendamping program. Pemanfaatan aset yang telah tersedia, seperti balai desa, jaringan Dasa Wisma, lembaga pendidikan, dan kegiatan keagamaan, memungkinkan program dijalankan secara realistis dan efisien. Pendekatan ini juga meminimalkan ketergantungan pada bantuan eksternal serta mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola program. Selain itu, keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mendorong tumbuhnya kepemimpinan lokal dan rasa memiliki terhadap program. Dengan demikian, keberlanjutan kegiatan tidak berhenti pada masa KKM, tetapi berpotensi dilanjutkan oleh masyarakat desa secara mandiri. Tahap Refleksi: Dampak Awal dan Pembelajaran Refleksi awal terhadap pelaksanaan program menunjukkan beberapa pembelajaran penting. Pertama, warga mulai menyadari bahwa kekuatan desa tidak hanya terletak pada bantuan dari luar, tetapi juga pada aset sosial, manusia, dan budaya yang telah dimiliki. Kesadaran ini mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap pembangunan desa. Kedua, terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan, khususnya pada program yang menyentuh langsung kebutuhan keluarga dan ekonomi. Hal ini menunjukkan tumbuhnya rasa memiliki terhadap proses dan hasil program. Ketiga, muncul komitmen kolektif dari warga dan pemangku kepentingan lokal untuk melanjutkan pendekatan berbasis aset sebagai strategi pembangunan desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Penutup Pengalaman pemberdayaan masyarakat di Desa Kebobang menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari daftar kekurangan dan masalah. Melalui pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), masyarakat diajak untuk mengenali kembali kekuatan yang selama ini hadir dalam kehidupan mereka, namun sering kali luput disadari. Aset manusia, sosial, institusional, budaya, dan alam yang dimiliki desa terbukti menjadi fondasi penting dalam merancang program yang relevan dan berdaya guna. Pendekatan berbasis aset juga memperlihatkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap program pembangunan. Ketika warga, kader, pemuda, dan tokoh lokal diberi ruang untuk berperan, proses pembangunan tidak lagi dipandang sebagai agenda eksternal, melainkan sebagai bagian dari kebutuhan dan cita-cita bersama. Hal ini menjadi kunci bagi keberlanjutan program setelah kegiatan pendampingan, termasuk KKM, berakhir. Lebih dari sekadar metode, ABCD menawarkan perubahan cara pandang dalam pembangunan desa. Desa tidak diposisikan sebagai objek yang menunggu bantuan, tetapi sebagai komunitas yang memiliki kapasitas untuk bertumbuh dari dalam. Penguatan UMKM, edukasi parenting dan pencegahan stunting, moderasi beragama, serta penguatan kohesi sosial di Desa Kebobang menjadi contoh bagaimana aset lokal dapat dihubungkan untuk menjawab tantangan nyata masyarakat. Pada akhirnya, pembangunan desa yang berkelanjutan menuntut keberanian untuk berpindah dari pendekatan berbasis masalah menuju pendekatan berbasis kekuatan. Pengalaman di Desa Kebobang menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan sumber daya besar, melainkan kemauan untuk melihat, menggerakkan, dan merawat potensi yang sudah ada. Jika pendekatan ini terus dilanjutkan dan diperkuat, desa tidak hanya akan menjadi objek pembangunan, tetapi aktor utama dalam menentukan masa depannya sendiri.

Thumbnail
3 months ago
“Edukasi dari Ruang Tamu: Ketika KKN Mengajarkan Arti Pengabdian yang Nyata”

AULIA PUTRI ALFIANISA

Salah satu momen paling bermakna selama kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya terjadi bukan di aula besar atau balai desa, melainkan di ruang tamu sederhana milik warga. Pada hari itu, kami melakukan kunjungan edukasi kesehatan keluarga dengan pendekatan personal, membawa poster edukatif dan media promosi kesehatan yang telah kami siapkan sebelumnya. Suasananya hangat, santai, dan jauh dari kesan formal, sehingga komunikasi terasa lebih efektif dan terbuka. Bersama tim, kami menyampaikan materi mengenai pola hidup sehat, pemilihan makanan bergizi, serta pencegahan penyakit melalui media visual agar mudah dipahami semua usia. Poster yang kami bawa menjadi alat bantu utama untuk menjelaskan konsep kesehatan secara sederhana. Menariknya, diskusi berlangsung dua arah. Keluarga tuan rumah aktif bertanya, berbagi pengalaman, bahkan menceritakan kebiasaan sehari-hari mereka. Dari situ kami menyadari bahwa edukasi kesehatan tidak hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga mendengarkan kebutuhan masyarakat. Momen kebersamaan saat berfoto bersama setelah sesi edukasi terasa sangat spesial. Senyum mereka memberi kesan bahwa kehadiran kami benar-benar diterima dan bermanfaat. Interaksi tersebut mengubah cara pandang saya tentang pengabdian masyarakat. Ternyata, dampak terbesar justru lahir dari pendekatan sederhana, dekat, dan humanis. Kegiatan ini juga melatih saya bekerja dalam tim, membagi peran, menyusun strategi komunikasi, serta menyesuaikan bahasa agar mudah dipahami. Secara pribadi, saya belajar bahwa kompetensi akademik saja tidak cukup; empati, kemampuan komunikasi, dan kepekaan sosial sama pentingnya dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Pengalaman di ruang tamu kecil itu menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak selalu membutuhkan fasilitas besar. Dengan niat tulus dan pendekatan yang tepat, edukasi kesehatan dapat dimulai dari mana saja—bahkan dari rumah warga. Dari situlah saya merasakan esensi sebenarnya dari KKN: hadir, mendengar, dan memberi manfaat secara nyata.

Thumbnail
3 months ago
KKM Kelompok 33 Turut Berkontribusi Mewujudkan Tempat Wudhu di Musholla Baiturrohim

JULIAN MUHAMMAD BAGASKARA

  Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang tidak melulu berisi rangkaian kegiatan formal yang tersusun rapi. Di sela agenda utama seperti mengajar, sosialisasi, dan pendampingan masyarakat, terdapat aktivitas-aktivitas sederhana yang justru menghadirkan pengalaman berkesan. Salah satunya adalah keikutsertaan kami dalam kerja bakti pembangunan tempat wudhu serta kegiatan bersih-bersih di Musholla Baiturrohim, Dusun Lesti, Desa Dawuhan, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Kegiatan ini melibatkan beberapa mahasiswa KKM yang memiliki waktu luang di luar program inti. Sejak pagi, kami bersama warga berkumpul di sekitar musholla. Tanpa pembagian peran yang kaku, setiap orang langsung bergerak sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang membersihkan bagian dalam musholla, merapikan halaman, mengangkat pasir dan batu, hingga membantu proses pembangunan fasilitas tempat wudhu. Suasana kerja bakti berlangsung hangat dan penuh keakraban. Gurauan ringan di sela-sela aktivitas membuat pekerjaan terasa lebih ringan, meskipun membutuhkan tenaga yang cukup besar. Dari kebersamaan ini, kami merasakan betapa kerja kolektif mampu menumbuhkan rasa solidaritas, bahkan dengan masyarakat yang sebelumnya belum begitu kami kenal. Bagi kami, keterlibatan dalam kegiatan ini tidak hanya bermakna sebagai bantuan tenaga semata. Lebih jauh, kerja bakti ini menjadi sarana pembelajaran langsung mengenai nilai gotong royong yang masih terjaga kuat di lingkungan pedesaan. Musholla tidak sekadar berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan juga menjadi pusat aktivitas sosial dan keagamaan warga. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan dan kelayakan fasilitasnya merupakan tanggung jawab bersama. Selama kegiatan berlangsung, interaksi dengan warga terjalin secara natural. Obrolan santai seputar keseharian, kebiasaan masyarakat, hingga cerita tentang desa memberikan pengalaman yang sangat berharga. Melalui percakapan-percakapan sederhana tersebut, kami mulai mengenal karakter masyarakat Desa Dawuhan dengan lebih dekat, tanpa sekat antara mahasiswa dan warga. Kerja bakti ini menyadarkan kami bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu harus diwujudkan melalui program besar dan formal. Kehadiran untuk membantu membersihkan musholla, mengangkut material bangunan, serta bekerja bersama warga justru sering kali memberikan dampak yang lebih nyata dan langsung dirasakan. Melalui partisipasi dalam pembangunan tempat wudhu, kami semakin memahami pentingnya fasilitas sederhana dalam menunjang kenyamanan beribadah. Setiap usaha kecil yang kami lakukan menjadi bagian dari kontribusi kami selama menjalani KKM. Di akhir kegiatan, rasa lelah terbayar dengan kepuasan. Musholla terlihat lebih bersih dan tertata, sementara pembangunan tempat wudhu menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Lebih dari itu, kami pulang dengan perasaan diterima sebagai bagian dari masyarakat. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan, kepedulian, dan keikhlasan merupakan esensi utama dalam pengabdian yang sesungguhnya.

Thumbnail
3 months ago
KKM HIPE 16 Perkuat Kesehatan Calon Jamaah Haji melalui Program FITRAH (Fisik Tangguh, Ibadah Berkah)

MUHAMMAD HARRIS SUKMA DEMOKRAT

Program KKM HIPE 16 FKIK UIN Malang melaksanakan pendampingan kesehatan bagi calon jamaah haji di Sisir, Batu melalui empat kali kunjungan dengan pendekatan terpadu yang mencakup latihan kebugaran, pemeriksaan kesehatan berkala, edukasi kesehatan, serta pengembangan media monitoring kesehatan. Intervensi utama berupa latihan jalan kaki bertahap bertujuan meningkatkan kebugaran jantung dan pernapasan serta membantu kontrol tekanan darah, kolesterol, dan gula darah, yang didukung hasil pemeriksaan rutin yang menunjukkan perbaikan kondisi kesehatan secara bertahap. Edukasi kesehatan diberikan melalui poster, MiniFlash, StepVid, serta booklet journaling terintegrasi dan pill box untuk mendukung kepatuhan obat, pengaturan pola makan, dan monitoring kesehatan mandiri, sehingga meningkatkan pengetahuan, kesadaran batas normal kesehatan, serta perubahan perilaku hidup sehat pada calon jamaah haji