Thumbnail
1 month ago
Pemberdayaan ekosistem laut serta potensi pariwisata desa merak belantung

NAJMI HIBATUL AZIZ

Dalam rangka kuliah kerja mahasiswa atau yang biasa dikenal dengan kuliah kerja nyata, yang bertepatan di desa Merak Belantung, kecamatan Kalianda, kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Para mahasiswa yang terkhusus kan untuk para anggota kelompok KKN merak belantung merasa perlu ikut serta dan ikut berkontribusi dalam rangka menjaga serta melestarikan ekosistem laut khususnya ekosistem terumbu karang, yang di mana ekosistem terumbu karang memiliki banyak manfaat, dalam bentuk estetika mata atau bahkan yang lebih luas lagi yaitu menjadi rumah bagi mahkluk hidup laut yang utamanya menempati terumbu karang sebagai rumahnya.  Tak hanya ikut berkontribusi dalam pelestarian ekosistem laut, para mahasiswa KKN juga perlu ikut berkontribusi dalam pengembangan potensi pariwisata yang terdapat di desa Merak Belantung. Dimana desa yang geografis nya terletak di pesisir selatan pulau Sumatra memiliki banyak potensi untuk menjadi destinasi wisata masyarakat, terdapat kurang lebih nya 10 destinasi wisata berbentuk pantai salah satu di antaranya pantai Marina dan pantai Rio yang menjadi potensi besar guna menaikkan nilai desa serta nilai UMKM masyarakat desa Merak Belantung, dengan pembekalan serta penerapan ilmu yang disampaikan melalui bentuk sosialisasi terhadap masyarakat terkait pemberdayaan pariwisata, dimulai dari bagaimana menjaga adalah hal yang paling dasar dan utama sampai bagaimana pengembangan potensi wisata itu kedepannya, maka dapat salayaknya para wisatawan dapat menjaga serta melestarikan wisata yang terdapat di desa Merak Belantung. Dilihat dari bagaimana potensi pariwisata yang terdapat di desa Merak Belantung, bukan hal yang tidak mungkin beberapa tahun kedepannya destinasi wisata yang terdapat di desa ini menjadi go internasional atau bahkan seminimal nya menyentuh kanca nasional, tapi tentunya dengan bagaimana pengelolaan serta pemberdayaan pariwisata oleh para aparatur desa, serta instansi daerah, bahkan unsur yang terpenting nya sendiri adalah bagaimana para masyarakat desa Merak Belantung itu sendiri.

Thumbnail
1 month ago
Sosialisasi Anti Bullying di SDN Desa Srigading

FAUZY BAYAZID YILDRIM

Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan belajar yang aman dan nyaman, Kelompok Dharmayatra 106 melaksanakan program kerja berupa Sosialisasi Anti Bullying bagi siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Desa Srigading. Program ini bertujuan untuk menanamkan nilai saling menghargai sejak dini serta mencegah terjadinya perilaku perundungan di lingkungan sekolah. Sekolah merupakan tempat utama bagi anak-anak untuk belajar, berkembang, dan bersosialisasi. Namun, dalam proses tersebut masih terdapat potensi munculnya perilaku bullying, baik secara verbal, nonverbal, maupun sosial, yang dapat berdampak negatif terhadap perkembangan mental, kepercayaan diri, dan prestasi belajar siswa. Melihat pentingnya pencegahan sejak dini, Kelompok Dharmayatra 106 menggagas program sosialisasi anti bullying sebagai upaya edukatif untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai dampak buruk bullying serta membangun sikap empati dan toleransi di lingkungan sekolah. Program sosialisasi ini bertujuan untuk: - Memberikan pemahaman kepada siswa mengenai apa itu bullying dan bentuk-bentuknya. - Menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai antar sesama siswa. - Mendorong siswa untuk berani bersikap baik dan menolak perilaku perundungan. - Menciptakan lingkungan sekolah yang aman, ramah, dan inklusif. Sosialisasi anti bullying dilaksanakan secara interktif dengan melibatkan siswa-siswi SDN Desa Srigading. Materi disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak, disertai dengan contoh-contoh situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Metode penyampaian dilakukan melalui diskusi ringan, permainan edukatif, serta tanya jawab, sehingga siswa dapat berpartisipasi secara aktif. Pendekatan ini bertujuan agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu mengenali perilaku bullying dan memahami bahwa tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan. Sosialisasi ini juga membantu menumbuhkan rasa empati, kebersamaan, serta keberanian untuk saling mengingatkan dan melaporkan apabila terjadi perundungan di sekolah. Bagi pihak sekolah, program ini menjadi bentuk dukungan dalam menciptakan budaya sekolah yang positif dan kondusif bagi proses belajar mengajar. Program Sosialisasi Anti Bullying yang dilaksanakan oleh Kelompok Dharmayatra 106 merupakan salah satu upaya preventif dalam membangun karakter siswa sejak usia dini. Diharapkan, melalui kegiatan ini, lingkungan SDN Desa Srigading dapat menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang siswa secara optimal.

Thumbnail
1 month ago
UMKM Mendol Crispy D’Lely: Olahan Khas Desa Karangrejo yang Terus Berkembang

MOH. ISA MALIK IBROHIM

UMKM Mendol Crispy D’Lely merupakan salah satu usaha kuliner rumahan yang berkembang di Dusun Karangrejo, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Usaha ini dikelola oleh Ibu Laily Rahmawati dan telah berjalan selama kurang lebih enam hingga tujuh tahun sejak berdiri pada tahun 2019.   Dengan mengangkat olahan khas berbahan dasar tempe dan singkong, UMKM ini berhasil mempertahankan eksistensinya hingga kini dan menjadi salah satu potensi ekonomi lokal desa.   Identitas UMKM Nama Usaha : Mendol Crispy D’Lely Pemilik : Ibu Laily Rahmawati Jenis Usaha : Olahan makanan (mendol dan sambal) Tahun Berdiri : 2019 Alamat : Jl. A. Yani No. 9, Dusun Karangrejo, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65155 Kordinat Lokasi :  Garis Lintang : -7.972094614261478,  Garis Bujur : 112.76522530886385 Kontak Person : 0815-5583-2503 Profil Singkat Usaha UMKM Mendol Crispy D’Lely merupakan salah satu usaha kuliner lokal Desa Sukopuro yang menunjukkan perkembangan cukup konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Usaha ini dikelola sebagai usaha rumahan dengan manajemen mandiri, namun dalam proses produksinya telah melibatkan beberapa karyawan untuk mendukung kelancaran operasional.   Produksi dan penjualan dilakukan setiap hari dengan sistem menyesuaikan jumlah pesanan konsumen. Dalam satu minggu, UMKM Mendol Crispy D’Lely mampu memproduksi sekitar 700 pcs produk, menunjukkan kapasitas produksi yang stabil dan permintaan pasar yang terus berjalan.     Didukung oleh variasi produk yang beragam serta upaya pemasaran yang terus dikembangkan, UMKM ini memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan memperluas jangkauan pasarnya. Mahasiswa KKM Reguler Kelompok 53 Sasana Bhakti berharap dokumentasi ini dapat menjadi bahan referensi sekaligus bentuk dukungan terhadap pengembangan UMKM lokal di Desa Sukopuro.   Produk yang Dihasilkan Produk yang ditawarkan oleh UMKM Mendol Crispy D’Lely cukup beragam, antara lain:   Mendol crispy   Sambal bawang   Sambal geprek   Rengginang singkong   Seluruh produk dipasarkan dengan brand “D’Lely” dan dikenal memiliki cita rasa khas serta kualitas yang konsisten.             Harga Produk Harga produk yang ditawarkan relatif terjangkau dan bersaing, antara lain:   Sambal: Rp17.000 – Rp20.000 per satuan   Mendol crispy: Rp10.000 – Rp12.000 per satuan   Harga dapat menyesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah pesanan konsumen.   Sistem Pemasaran Pemasaran produk dilakukan secara offline dan online. Secara offline, produk UMKM ini telah dipasarkan melalui toko oleh-oleh serta beberapa instansi dan lembaga, seperti tingkat kecamatan, Dispora, dan MTs Islamiyah.   Selain itu, pemasaran online mulai dirintis melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok, meskipun masih dalam tahap pengembangan dan perlu optimalisasi lebih lanjut.   Kendala dan Tantangan Usaha Salah satu kendala yang dihadapi UMKM Mendol Crispy D’Lely adalah kualitas bahan baku, khususnya untuk produk sambal. Terkadang bahan baku yang tersedia di pasaran kurang sesuai dengan standar kualitas yang diharapkan. Namun, untuk produk mendol crispy, kendala produksi relatif tidak ditemukan.   Selain itu, pemasaran produk juga mengalami pasang surut tergantung pada kondisi permintaan pasar.

Thumbnail
1 month ago
Belajar Saling Menjaga, Bukan Saling Menyakiti: Cerita Hangat Sosialisasi Anti Bullying di Gadingkulon Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Belajar Saling Menjaga, Bukan Saling Menyakiti: Cerita Hangat Sosialisasi Anti Bullying di Ga

NURUL AZMI NAFILAH

Pagi itu, suasana Balai Desa Gadingkulon dipenuhi suara anak-anak berseragam merah putih. Mereka duduk berkelompok sambil bercanda, namun sesekali menatap ke depan dengan rasa penasaran. Di hari yang berbeda, suasana serupa juga terasa di salah satu ruang kelas SD 2 Gadingkulon. Bukan untuk pelajaran biasa, melainkan untuk mengikuti sosialisasi anti bullying bersama mahasiswa KKM Mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan kegiatan ini di dua tempat terpisah. Sosialisasi pertama dilaksanakan pada tanggal 24 Januari di Balai Desa Gadingkulon untuk siswa SD 1, sementara kegiatan kedua berlangsung pada tanggal 28 Januari di ruang kelas SD 2. Meski lokasinya berbeda, tujuan keduanya sama, yaitu mengajak anak-anak memahami pentingnya saling menghargai dan menghentikan perilaku perundungan di sekolah.    

Thumbnail
2 months ago
Ubah Sampah Jadi Berkah! Mahasiswa KKN 09 UIN Malang Sulap Galon Bekas Jadi Taman Hijau di Area Masjid

BERNIKA RAHMASARI

MALANG (03-01/2026) - Kreativitas tanpa batas ditunjukkan oleh mahasiswa KKN 09-Karsa Nawasena UIN Malang. Alih-alih menggunakan pot mahal, tim KKN berhasil menyulap puluhan galon plastik bekas milik warga menjadi media tanam yang estetik untuk menghijaukan area masjid An-Nur menjadi taman "Apotek Hidup" yang tertata rapi. Langkah ini diambil sebagai solusi atas permasalahan sampah plastik sekaligus upaya mempercantik ruang publik dengan konsep yang ekonomis dan bermanfaat.  Proses pengerjaan program ini dilakukan secara bertahap dan terencana selama kurang lebih lima hari. Mahasiswa KKN mengawali kegiatan dengan mengumpulkan galon bekas dari rumah-rumah warga selama satu hari penuh. Setelah bahan terkumpul, tahap berikutnya adalah proses desain dan pengecatan yang memakan waktu dua hari untuk memastikan media tanam tampil menarik dan estetik. Mahasiswa KKN berharap melalui visual pot yang menarik seperti gambar hewan dan bunga, masyarakat terutama anak-anak menjadi lebih tertarik untuk berkunjung ke masjid dan belajar mengenai pentingnya menanam tanaman herbal. Tahap akhir ditutup dengan proses penanaman selama dua hari hingga seluruh bibit tertata rapi di lahan yang telah disiapkan. Kualitas media tanam menjadi perhatian utama dalam program ini. Mahasiswa KKN memanfaatkan tanah subur yang diambil langsung dari lapangan sekitar komplek, lalu mencampurnya dengan pupuk berkualitas tinggi yang dibeli secara khusus. Tim KKN melakukan pengadaan bibit langsung dari wilayah Kepanjen. Berbagai bibit tanaman obat yang dipilih meliputi pandan, sereh, cabai, terong, dsb. Pemilihan jenis tanaman ini disesuaikan dengan kebutuhan warga komplek, baik untuk keperluan kesehatan herbal maupun sebagai bumbu dapur alami yang bisa diambil manfaatnya sewaktu-waktu.  Inisiatif ini pun mendapat tanggapan positif karena dinilai mampu membuka wawasan warga mengenai pentingnya kembali ke alam. Pak Supadi, salah satu selaku ketua RT menekankan pentingnya kehadiran tanaman obat ini di lingkungan masjid. "Sekarang orang hanya tahu obat medis, padahal kita punya obat herbal yang luar biasa manfaatnya. Coba search di Google apa saja manfaat obat herbal itu, sangat banyak," ujar Pak Supadi saat meninjau lokasi taman galon tersebut. Melalui aksi nyata ini, mahasiswa KKN 09 UIN Malang membuktikan bahwa dengan dedikasi dan kreativitas, barang bekas dapat diubah menjadi aset hijau yang bermanfaat bagi orang banyak.

Thumbnail
2 months ago
Masjid sebagai Pusat Literasi Keluarga: Ikhtiar Mahasiswa KKM 09 UIN Malang Menghidupkan Family Corner melalui Pojok Baca An-Nur

MUHAMMAD BAIHAQY ASH SHIDDIQI

Masjid sejak masa Rasulullah ﷺ tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pembinaan umat, dan ruang interaksi sosial masyarakat. Namun dalam realitas hari ini, fungsi masjid di banyak tempat cenderung menyempit hanya sebagai ruang ritual keagamaan. Aktivitas ibadah berlangsung, tetapi interaksi edukatif keluarga di lingkungan masjid masih sangat minim. Berangkat dari realitas tersebut, mahasiswa KKM 09 UIN Malang melihat adanya potensi besar Masjid An-Nur untuk dikembangkan bukan hanya sebagai tempat shalat berjamaah, tetapi sebagai pusat literasi keluarga. Ide ini kemudian diwujudkan melalui pengembangan Family Corner, yaitu ruang di masjid yang dirancang sebagai tempat interaksi edukatif antara orang tua, anak, dan remaja melalui budaya membaca. Sebagai langkah awal menghidupkan Family Corner tersebut, mahasiswa KKM menginisiasi pembentukan Pojok Baca An-Nur. Melalui gerakan donasi buku yang melibatkan berbagai pihak, berhasil dihimpun sebanyak 290 buku bacaan yang terdiri dari buku anak, pengetahuan umum, kisah islami, dan bacaan edukatif lainnya. Buku-buku ini kemudian ditata di sudut masjid yang mudah dijangkau oleh anak-anak dan jamaah. Menariknya, tim KKM menerapkan konsep "jemput bola" dengan mendatangi langsung rumah-rumah warga untuk mengambil buku yang didonasikan, sehingga memudahkan masyarakat dalam berkontribusi sekaligus mempererat tali silaturahmi antara mahasiswa dan penduduk sekitar. "Kami ingin memastikan bahwa akses berbagi itu mudah. Dengan mendatangi warga satu per satu, kami juga bisa menjalin silaturahmi yang lebih erat sekaligus menjelaskan manfaat dari hadirnya Pojok Baca ini di Masjid An-Nur," ujar ketua KKN Karsanawasena Namun, Pojok Baca ini bukan sekadar rak buku yang diletakkan di sudut masjid. Ia dirancang sebagai embrio Family Corner — ruang yang mendorong terjadinya interaksi literasi di lingkungan masjid. Anak-anak yang datang mengaji dapat membaca sebelum atau sesudah kegiatan, orang tua yang menunggu dapat ikut membaca atau mendampingi anaknya, dan remaja masjid memiliki ruang alternatif kegiatan positif. Literasi yang dibangun bukan hanya bertujuan meningkatkan minat baca anak, tetapi menciptakan kebiasaan literasi dalam keluarga. Masjid menjadi titik temu di mana aktivitas ibadah bertemu dengan aktivitas edukasi keluarga. Orang tua tidak hanya mengantar anak mengaji, tetapi ikut terlibat dalam ekosistem belajar yang tercipta di masjid. Konsep Family Corner ini memperlihatkan bahwa masjid memiliki potensi besar sebagai pusat pembinaan keluarga berbasis komunitas. Dengan adanya Pojok Baca, masjid perlahan dikembalikan pada fungsi peradabannya: tempat ibadah, tempat belajar, dan tempat tumbuhnya budaya ilmu di tengah masyarakat. Inisiatif sederhana ini menunjukkan bahwa penguatan fungsi masjid tidak selalu membutuhkan program besar, tetapi dapat dimulai dari langkah kecil yang berdampak, seperti menyediakan ruang literasi keluarga. Pojok Baca An-Nur menjadi bukti bahwa ketika masjid diberi ruang untuk menjalankan fungsi edukatifnya, maka ia mampu menjadi pusat pembinaan keluarga di lingkungan masyarakat Melalui program ini, mahasiswa KKM 09 UIN Malang berharap Family Corner di Masjid An-Nur dapat terus dikembangkan dan dikelola oleh takmir masjid serta masyarakat setempat, sehingga budaya literasi keluarga di lingkungan masjid dapat terus tumbuh secara berkelanjutan. Karena pada akhirnya, masjid yang hidup bukan hanya masjid yang ramai oleh jamaah shalat, tetapi juga masjid yang ramai oleh aktivitas belajar, membaca, dan tumbuhnya budaya ilmu di tengah keluarga-keluarga muslim.