LUTFIN NADHIROH
Pendidikan karakter merupakan pilar utama dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan mental. Di tengah tantangan era digital yang penuh distraksi, pembinaan nilai-nilai keislaman dan kemampuan berbicara di depan umum menjadi kebutuhan mendesak bagi peserta didik usia remaja. Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, kelompok Asistensi Mengajar (AM) 59 Widya Arunika dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menginisiasi Program CAKRA (Cahaya Karakter Remaja) di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang yang kini telah berjalan. Program CAKRA lahir dari observasi mendalam terhadap dinamika kehidupan siswa SMP Laboratorium UM. Meskipun sekolah ini telah menerapkan rutinitas shalat Dhuha berjamaah secara konsisten, masih terdapat potensi besar untuk mengoptimalkan momen tersebut sebagai sarana pembentukan karakter. Fase remaja, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Pertama, merupakan periode kritis di mana peserta didik mengalami perkembangan pesat dalam hal identitas diri, kepercayaan diri, dan kemampuan komunikasi. Berdasarkan pengamatan kelompok Widya Arunika, banyak siswa yang memiliki potensi kepemimpinan dan pemahaman keislaman yang baik, namun terkendala oleh rasa malu dan kurangnya pengalaman berbicara di depan umum. Program CAKRA dirancang untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui pendekatan yang terintegrasi: menggabungkan pembiasaan ibadah dengan pelatihan public speaking Islami. Dengan tema "Menumbuhkan Karakter Islami dan Kepercayaan Diri Remaja melalui Ceramah Inspiratif Pra-Shalat Dhuha", program ini bertujuan menciptakan ekosistem pembelajaran keagamaan yang holistik dan berkelanjutan. Program CAKRA menerapkan sistem sederhana dengan perwakilan satu siswa dari setiap kelas VII, VIII, dan IX yang tampil secara bergiliran setiap minggu sebelum sholat Dhuha berjamaah di Masjid Baitul Ilmi SMP Laboratorium UM. Yang membedakan CAKRA dari kegiatan serupa adalah sistem pendampingan intensif oleh tim mahasiswa AM Widya Arunika. Setiap siswa menjalani pelatihan bertahap sebelum tampil, meliputi penentuan topik yang sesuai dengan karakter dan usia mereka, pelatihan public speaking secara bertahap, serta pembimbingan konten ceramah. Pendekatan ini menjamin bahwa siswa tampil dengan persiapan matang dan percaya diri optimal, bukan dilepaskan begitu saja ke mimbar. Sejak berjalan, Program CAKRA telah menunjukkan transformasi nyata pada peserta. Perubahan karakter terlihat jelas dalam disiplin kehadiran pagi, tanggung jawab menyiapkan materi, dan peningkatan kepercayaan diri dalam interaksi sehari-hari. Program ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga wadah pembentukan karakter yang berkelanjutan. Keberhasilan CAKRA tidak lepas dari dukungan penuh Ibu Dra. Yayuk Prihatnawati, M.Pd. selaku Kepala SMP Laboratorium UM beserta jajaran dewan guru. Komitmen institusi tercermin dari penyediaan fasilitas optimal dan fleksibilitas jadwal pembelajaran. Tim pelaksana terdiri dari sembilan mahasiswa AM Widya Arunika dengan pembagian peran yang jelas. Setiap coach dipasangkan dengan satu siswa untuk pendampingan personal yang efektif, memastikan kualitas pelatihan dan komunikasi yang optimal dengan siswa dan pihak sekolah. Program CAKRA sejalan dengan arahan nasional pendidikan karakter yang ditekankan dalam Kurikulum Merdeka dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Dengan mengoptimalkan infrastruktur keagamaan yang sudah ada, CAKRA menawarkan solusi hemat biaya namun berdampak tinggi. Pendekatan bottom-up melalui keterlibatan siswa sebagai penceramah memperkuat paradigma pendidikan "belajar dari sesama" yang progresif. Sebagai penutup, Program CAKRA membuktikan bahwa transformasi karakter remaja dapat dicapai melalui pendekatan sederhana namun terstruktur. Setiap pagi di SMP Laboratorium UM, cahaya karakter remaja menyala terang sebelum fajar sholat Dhuha. Dengan pendampingan intensif dari kelompok Widya Arunika, satu siswa dari setiap kelas bergantian menjadi penceramah cilik yang menginspirasi ratusan teman sebayanya. Marilah kita dukung dan sebarkan inisiatif pendidikan karakter seperti CAKRA. Karena cahaya karakter yang dinyalakan hari ini akan menjadi penerang bangsa di masa depan.
ADINDA DIAN ISTIQOMAH
Pendidikan karakter merupakan pilar utama dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan mental. Di tengah tantangan era digital yang penuh distraksi, pembinaan nilai-nilai keislaman dan kemampuan berbicara di depan umum menjadi kebutuhan mendesak bagi peserta didik usia remaja. Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, kelompok Asistensi Mengajar (AM) 59 Widya Arunika dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menginisiasi Program CAKRA (Cahaya Karakter Remaja) di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang yang kini telah berjalan. Program CAKRA lahir dari observasi mendalam terhadap dinamika kehidupan siswa SMP Laboratorium UM. Meskipun sekolah ini telah menerapkan rutinitas shalat Dhuha berjamaah secara konsisten, masih terdapat potensi besar untuk mengoptimalkan momen tersebut sebagai sarana pembentukan karakter. Fase remaja, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Pertama, merupakan periode kritis di mana peserta didik mengalami perkembangan pesat dalam hal identitas diri, kepercayaan diri, dan kemampuan komunikasi. Berdasarkan pengamatan kelompok Widya Arunika, banyak siswa yang memiliki potensi kepemimpinan dan pemahaman keislaman yang baik, namun terkendala oleh rasa malu dan kurangnya pengalaman berbicara di depan umum. Program CAKRA dirancang untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui pendekatan yang terintegrasi: menggabungkan pembiasaan ibadah dengan pelatihan public speaking Islami. Dengan tema "Menumbuhkan Karakter Islami dan Kepercayaan Diri Remaja melalui Ceramah Inspiratif Pra-Shalat Dhuha", program ini bertujuan menciptakan ekosistem pembelajaran keagamaan yang holistik dan berkelanjutan. Program CAKRA menerapkan sistem sederhana dengan perwakilan satu siswa dari setiap kelas VII, VIII, dan IX yang tampil secara bergiliran setiap minggu sebelum sholat Dhuha berjamaah di Masjid Baitul Ilmi SMP Laboratorium UM. Yang membedakan CAKRA dari kegiatan serupa adalah sistem pendampingan intensif oleh tim mahasiswa AM Widya Arunika. Setiap siswa menjalani pelatihan bertahap sebelum tampil, meliputi penentuan topik, pelatihan public speaking secara bertahap, serta pembimbingan konten ceramah. Pendekatan ini menjamin bahwa siswa tampil dengan persiapan matang dan percaya diri optimal, bukan dilepaskan begitu saja ke mimbar. Sejak berjalan, Program CAKRA telah menunjukkan transformasi nyata pada peserta. Perubahan karakter terlihat jelas dalam disiplin kehadiran pagi, tanggung jawab menyiapkan materi, dan peningkatan kepercayaan diri dalam interaksi sehari-hari. Program ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga wadah pembentukan karakter yang berkelanjutan. Keberhasilan CAKRA tidak lepas dari dukungan penuh Ibu Dra. Yayuk Prihatnawati, M.Pd. selaku Kepala SMP Laboratorium UM beserta jajaran dewan guru. Komitmen institusi tercermin dari penyediaan fasilitas optimal dan fleksibilitas jadwal pembelajaran. Tim pelaksana terdiri dari sembilan mahasiswa AM Widya Arunika dengan pembagian peran yang jelas. Setiap coach dipasangkan dengan satu siswa untuk pendampingan personal yang efektif, memastikan kualitas pelatihan dan komunikasi yang optimal dengan siswa dan pihak sekolah. Program CAKRA sejalan dengan arahan nasional pendidikan karakter yang ditekankan dalam Kurikulum Merdeka dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Dengan mengoptimalkan infrastruktur keagamaan yang sudah ada, CAKRA menawarkan solusi hemat biaya namun berdampak tinggi. Pendekatan bottom-up melalui keterlibatan siswa sebagai penceramah memperkuat paradigma pendidikan "belajar dari sesama" yang progresif.
FRENDI SOFIATUL ROMADHONI
Pendidikan karakter merupakan pilar utama dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan mental. Di tengah tantangan era digital yang penuh distraksi, pembinaan nilai-nilai keislaman dan kemampuan berbicara di depan umum menjadi kebutuhan mendesak bagi peserta didik usia remaja. Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, kelompok Asistensi Mengajar (AM) 59 Widya Arunika dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menginisiasi Program CAKRA (Cahaya Karakter Remaja) di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang yang kini telah berjalan. Program CAKRA lahir dari observasi mendalam terhadap dinamika kehidupan siswa SMP Laboratorium UM. Meskipun sekolah ini telah menerapkan rutinitas shalat Dhuha berjamaah secara konsisten, masih terdapat potensi besar untuk mengoptimalkan momen tersebut sebagai sarana pembentukan karakter. Fase remaja, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Pertama, merupakan periode kritis di mana peserta didik mengalami perkembangan pesat dalam hal identitas diri, kepercayaan diri, dan kemampuan komunikasi. Berdasarkan pengamatan kelompok Widya Arunika, banyak siswa yang memiliki potensi kepemimpinan dan pemahaman keislaman yang baik, namun terkendala oleh rasa malu dan kurangnya pengalaman berbicara di depan umum. Program CAKRA dirancang untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui pendekatan yang terintegrasi: menggabungkan pembiasaan ibadah dengan pelatihan public speaking Islami. Dengan tema "Menumbuhkan Karakter Islami dan Kepercayaan Diri Remaja melalui Ceramah Inspiratif Pra-Shalat Dhuha", program ini bertujuan menciptakan ekosistem pembelajaran keagamaan yang holistik dan berkelanjutan. Program CAKRA menerapkan sistem sederhana dengan perwakilan satu siswa dari setiap kelas VII, VIII, dan IX yang tampil secara bergiliran setiap minggu sebelum sholat Dhuha berjamaah di Masjid Baitul Ilmi SMP Laboratorium UM. Yang membedakan CAKRA dari kegiatan serupa adalah sistem pendampingan intensif oleh tim mahasiswa AM Widya Arunika. Setiap siswa menjalani pelatihan bertahap sebelum tampil, meliputi penentuan topik, pelatihan public speaking secara bertahap, serta pembimbingan konten ceramah. Pendekatan ini menjamin bahwa siswa tampil dengan persiapan matang dan percaya diri optimal, bukan dilepaskan begitu saja ke mimbar. Sejak berjalan, Program CAKRA telah menunjukkan transformasi nyata pada peserta. Perubahan karakter terlihat jelas dalam disiplin kehadiran pagi, tanggung jawab menyiapkan materi, dan peningkatan kepercayaan diri dalam interaksi sehari-hari. Program ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga wadah pembentukan karakter yang berkelanjutan. Keberhasilan CAKRA tidak lepas dari dukungan penuh Ibu Dra. Yayuk Prihatnawati, M.Pd. selaku Kepala SMP Laboratorium UM beserta jajaran dewan guru. Komitmen institusi tercermin dari penyediaan fasilitas optimal dan fleksibilitas jadwal pembelajaran. Tim pelaksana terdiri dari sembilan mahasiswa AM Widya Arunika dengan pembagian peran yang jelas. Setiap coach dipasangkan dengan satu siswa untuk pendampingan personal yang efektif, memastikan kualitas pelatihan dan komunikasi yang optimal dengan siswa dan pihak sekolah. Program CAKRA sejalan dengan arahan nasional pendidikan karakter yang ditekankan dalam Kurikulum Merdeka dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Dengan mengoptimalkan infrastruktur keagamaan yang sudah ada, CAKRA menawarkan solusi hemat biaya namun berdampak tinggi. Pendekatan bottom-up melalui keterlibatan siswa sebagai penceramah memperkuat paradigma pendidikan "belajar dari sesama" yang progresif. Sebagai penutup, Program CAKRA membuktikan bahwa transformasi karakter remaja dapat dicapai melalui pendekatan sederhana namun terstruktur. Setiap pagi di SMP Laboratorium UM, cahaya karakter remaja menyala terang sebelum fajar sholat Dhuha. Dengan pendampingan intensif dari kelompok Widya Arunika, satu siswa dari setiap kelas bergantian menjadi penceramah cilik yang menginspirasi ratusan teman sebayanya. Marilah kita dukung dan sebarkan inisiatif pendidikan karakter seperti CAKRA. Karena cahaya karakter yang dinyalakan hari ini akan menjadi penerang bangsa di masa depan.
AULIYA ZUHRIN
Pendidikan karakter merupakan pilar utama dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan mental. Di tengah tantangan era digital yang penuh distraksi, pembinaan nilai-nilai keislaman dan kemampuan berbicara di depan umum menjadi kebutuhan mendesak bagi peserta didik usia remaja. Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, kelompok Asistensi Mengajar (AM) 59 Widya Arunika dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menginisiasi Program CAKRA (Cahaya Karakter Remaja) di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang yang kini telah berjalan. Program CAKRA lahir dari observasi mendalam terhadap dinamika kehidupan siswa SMP Laboratorium UM. Meskipun sekolah ini telah menerapkan rutinitas shalat Dhuha berjamaah secara konsisten, masih terdapat potensi besar untuk mengoptimalkan momen tersebut sebagai sarana pembentukan karakter. Fase remaja, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Pertama, merupakan periode kritis di mana peserta didik mengalami perkembangan pesat dalam hal identitas diri, kepercayaan diri, dan kemampuan komunikasi. Berdasarkan pengamatan kelompok Widya Arunika, banyak siswa yang memiliki potensi kepemimpinan dan pemahaman keislaman yang baik, namun terkendala oleh rasa malu dan kurangnya pengalaman berbicara di depan umum. Program CAKRA dirancang untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui pendekatan yang terintegrasi: menggabungkan pembiasaan ibadah dengan pelatihan public speaking Islami. Dengan tema "Menumbuhkan Karakter Islami dan Kepercayaan Diri Remaja melalui Ceramah Inspiratif Pra-Shalat Dhuha", program ini bertujuan menciptakan ekosistem pembelajaran keagamaan yang holistik dan berkelanjutan. ADVERTISEMENT Program CAKRA menerapkan sistem sederhana dengan perwakilan satu siswa dari setiap kelas VII, VIII, dan IX yang tampil secara bergiliran setiap minggu sebelum sholat Dhuha berjamaah di Masjid Baitul Ilmi SMP Laboratorium UM. Yang membedakan CAKRA dari kegiatan serupa adalah sistem pendampingan intensif oleh tim mahasiswa AM Widya Arunika. Setiap siswa menjalani pelatihan bertahap sebelum tampil, meliputi penentuan topik, pelatihan public speaking secara bertahap, serta pembimbingan konten ceramah. Pendekatan ini menjamin bahwa siswa tampil dengan persiapan matang dan percaya diri optimal, bukan dilepaskan begitu saja ke mimbar. Pelaksanaan kegiatan CAKRA oleh salah satu siswa SMP LAB UM. Sejak berjalan, Program CAKRA telah menunjukkan transformasi nyata pada peserta. Perubahan karakter terlihat jelas dalam disiplin kehadiran pagi, tanggung jawab menyiapkan materi, dan peningkatan kepercayaan diri dalam interaksi sehari-hari. Program ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga wadah pembentukan karakter yang berkelanjutan. Keberhasilan CAKRA tidak lepas dari dukungan penuh Ibu Dra. Yayuk Prihatnawati, M.Pd. selaku Kepala SMP Laboratorium UM beserta jajaran dewan guru. Komitmen institusi tercermin dari penyediaan fasilitas optimal dan fleksibilitas jadwal pembelajaran. Tim pelaksana terdiri dari sembilan mahasiswa AM Widya Arunika dengan pembagian peran yang jelas. Setiap coach dipasangkan dengan satu siswa untuk pendampingan personal yang efektif, memastikan kualitas pelatihan dan komunikasi yang optimal dengan siswa dan pihak sekolah. Program CAKRA sejalan dengan arahan nasional pendidikan karakter yang ditekankan dalam Kurikulum Merdeka dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Dengan mengoptimalkan infrastruktur keagamaan yang sudah ada, CAKRA menawarkan solusi hemat biaya namun berdampak tinggi. Pendekatan bottom-up melalui keterlibatan siswa sebagai penceramah memperkuat paradigma pendidikan "belajar dari sesama" yang progresif.
NAJWA ADIBAH HANUM
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Cakrawala Vidya UIN Malang tengah melaksanakan program kerja di MINU Tratee Putera Gresik dengan menyelenggarakan seminar bertema Anti-Bullying dan Mental Health pada Selasa (05/05/2026). Kegiatan ini dilaksanakan di aula sekolah dan diikuti oleh seluruh siswa kelas V dari program ICP, Tahfidz, dan Literasi. Seminar ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penanaman nilai-nilai karakter sejak dini, khususnya dalam membangun kesadaran siswa terkait perilaku bullying yang masih kerap terjadi di lingkungan sekolah. Selain itu, kesehatan mental menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan, mengingat kondisi psikologis siswa sangat berpengaruh terhadap proses belajar dan perkembangan sosial mereka. Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Kepala Madrasah MINU Tratee Putera Gresik yang menyampaikan apresiasi mengenai terselenggarahnya acara seminar bertema Anti-Bullying dan Mental Health yang sangat cocok disampaikan kepada anak-anak, dimana madrasah ini khusus siswa putra sehingga masalah seperti itu sudah sangat umum dikalangan mereka. Adapun tujuan pelaksanaan seminar, yaitu untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bentuk-bentuk bullying, dampak yang ditimbulkan, serta upaya pencegahan yang dapat dilakukan secara bersama-sama. Siswa juga diajak untuk lebih peduli terhadap kondisi diri sendiri maupun teman di sekitarnya. Seminar ini menghadirkan pemateri, yang bernama Muhammad Nur Haqqul Mubarok, yang merupakan mahasiswa dari Universitas Sunan Drajat (UNSUDA). Dalam penyampaian materinya, ia menjelaskan berbagai jenis bullying, seperti bullying verbal, fisik, maupun sosial, yang sering kali terjadi tanpa disadari. Ia juga menekankan bahwa tindakan sederhana seperti mengejek atau mengucilkan teman dapat memberikan dampak yang cukup serius terhadap kesehatan mental seseorang. Mengenai lebih lanjut, pemateri juga memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental dengan cara berpikir positif, mengelola emosi, serta berani berbicara apabila mengalami atau menyaksikan tindakan bullying. Siswa diarahkan untuk tidak takut melapor kepada guru atau orang dewasa yang dapat dipercaya sebagai bentuk perlindungan diri. Kegiatan berlangsung dengan suasana yang interaktif dan komunikatif. Para siswa tampak antusias mengikuti jalannya seminar, terutama saat sesi tanya jawab. Beberapa siswa aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman mereka terkait perundungan di lingkungan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa materi yang disampaikan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Selain penyampaian materi, kegiatan juga diselingi dengan ice breaking dan contoh kasus sederhana yang memudahkan siswa dalam memahami konsep yang dijelaskan. Dengan metode penyampaian yang menarik, siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu merefleksikan sikap dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan seminar ini, diharapkan seluruh siswa MINU Tratee Putera Gresik dapat lebih memahami pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai. Mahasiswa KKM UIN Malang juga berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan dalam membentuk karakter siswa yang peduli, empatik, dan berakhlak baik.
SITI KHODIJAH AL BISHRI
Kelompok KKM Adhikara Aksara melaksanakan berbagai program pengabdian di MI Almaarif 02 Singosari melalui kegiatan Pondok Ramadhan dan Seminar Inklusi. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya mendukung pembelajaran religius siswa selama bulan Ramadhan sekaligus meningkatkan pemahaman guru dan tenaga kependidikan mengenai pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) secara tepat dan inklusif. MI Almaarif 02 Singosari sendiri telah memiliki pembiasaan religius yang cukup baik bagi peserta didik. Oleh karena itu, mahasiswa KKM berupaya menyemarakkan kegiatan religius tersebut melalui program Pondok Ramadhan yang dikemas secara edukatif dan interaktif. Selain itu, mahasiswa KKM juga menghadirkan Seminar Inklusi sebagai ruang berbagi wawasan bagi guru dan staf sekolah mengenai pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan nyaman bagi seluruh peserta didik tanpa diskriminasi. Pondok Ramadhan dan khataman Malang, 27-28 Februari 2026 - Kegiatan ini adalah sebuah program kerja dari Mahasiswa Asistensi Mengajar Adhikara Aksara yang diselenggarakan pada bulan Ramadhan. Program kerja ini terdiri dari berbagai macam rangkaian acara yang sudah dilaksanakan, diantaranya yaitu penyampaian materi yang berhubungan dengan amaliah pada bulan Ramadhan, pelaksanaan beberapa cabang lomba, dan khataman al-Quran yang dilakukan oleh Mahasiswa. Kegiatan Pondok Ramadhan ini bertujuan untuk mengisi bulan suci Ramadhan dengan aktivitas yang edukatif, religius, dan menyenangkan bagi peserta didik. Melalui berbagai rangkaian kegiatan, seperti penyampaian materi keagamaan, perlombaan Islami, serta khataman Al-Qur'an, siswa diharapkan dapat meningkatkan pemahaman agama, membiasakan diri dalam beribadah, serta menumbuhkan semangat belajar, kreativitas, dan rasa percaya diri. Selain itu, khataman oleh mahasiswa Asistensi Mengajar menjadi bentuk dukungan dalam menyemarakkan kegiatan Ramadhan di lingkungan sekolah Kegiatan Pondok Ramadhan di MI Almaarif 02 Singosari berlangsung selama enam hari dengan suasana yang penuh semangat, religius, dan menyenangkan. Empat hari awal, kegiatan diisi dengan penyampaian materi Pondok Ramadhan yang alokasi waktunya menyesuaikan dengan jadwal Bil Qolam pada setiap jenjang kelas. Pada hari keenam, Jumat 27 Februari 2026, kegiatan diawali dengan penyampaian materi Pondok Ramadhan di kelas masing-masing bersama wali kelas.Dalam kegiatan ini, siswa mendapatkan pembelajaran tentang pentingnya ibadah, akhlak mulia, serta makna bulan Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah waktu istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan perlombaan yang dipandu oleh mahasiswa Asistensi Mengajar (AM) sebagai panitia pelaksana kegiatan . Selanjutnya, siswa mengikuti lomba cerdas cermat untuk kelas 4--6 dan lomba mewarnai islami untuk kelas 1--3. Kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan mampu menumbuhkan semangat belajar serta kreativitas siswa. Pada hari kedua, Sabtu 28 Februari 2026, kegiatan dimulai dengan pembukaan lomba yang dilanjutkan dengan pelaksanaan lomba tartil Juz 30 bagi siswa kelas 4--6. Setelah itu, dilaksanakan final lomba cerdas cermat yang berlangsung seru dan penuh antusias. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan khotmil Qur'an yang diikuti siswa secara khidmat dan tertib sehingga menciptakan suasana religius yang hangat dan penuh kebersamaan. Sebagai penutup, panitia mengumumkan para pemenang lomba sekaligus membagikan hadiah kepada siswa yang berprestasi. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, siswa kembali ke kelas masing-masing untuk pembagian kartu ujian dan persiapan pulang. Selama pelaksanaan Pondok Ramadhan di MI Almaarif 02 Singosari, siswa menunjukkan antusiasme yang sangat baik dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari penyampaian materi keagamaan, lomba islami, hingga khotmil Qur'an. Siswa terlihat aktif, tertib, dan bersemangat dalam setiap kegiatan sehingga suasana Pondok Ramadhan berlangsung meriah, hangat, dan penuh kebersamaan serta memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa. Peningkatan Kesadaran Pendidik dan Tenaga Kependidikan terhadap Anak Berkebutuhan Khusus Malang, 18 Maret 2026 --- Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) menyelenggarakan seminar pendidikan inklusi bertema "Peningkatan Kesadaran Pendidik dan Tenaga Kependidikan terhadap Anak Berkebutuhan Khusus". Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah, setara, dan mendukung seluruh peserta didik tanpa diskriminasi. Pendidikan inklusi merupakan sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik untuk belajar bersama tanpa membedakan kondisi fisik, intelektual, sosial, maupun emosional. Dalam pelaksanaannya, peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) masih menghadapi berbagai tantangan seperti kurangnya pemahaman mengenai karakteristik ABK, keterbatasan pendampingan, hingga masih adanya stigma di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, seminar ini diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman pendidik dan tenaga kependidikan mengenai konsep pendidikan inklusi, menumbuhkan kesadaran untuk menghargai perbedaan, serta meningkatkan empati dan kepedulian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus agar tercipta lingkungan sekolah yang lebih ramah dan inklusif. Kegiatan seminar diikuti oleh sekitar 30 pendidik dan 2 tenaga kependidikan sekolah. Acara dilaksanakan di ruang kelas 2C dan 1A mulai pukul 11.00 hingga 13.30 WIB. Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, pembukaan oleh MC, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan ketua panitia, sambutan kepala sekolah sekaligus pembukaan kegiatan, pembacaan CV pemateri, penyampaian materi seminar oleh Dr. Fathul Lubabin Nuqul, M.Si, sesi diskusi dan tanya jawab, hingga penutup dan dokumentasi kegiatan. Dalam sesi diskusi, peserta seminar terlihat aktif menyampaikan pertanyaan dan berbagi pengalaman terkait tantangan menghadapi peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah.