NAHDLIYATUL ILMIYAH
Pendidikan karakter merupakan pilar utama dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan mental. Di tengah tantangan era digital yang penuh distraksi, pembinaan nilai-nilai keislaman dan kemampuan berbicara di depan umum menjadi kebutuhan mendesak bagi peserta didik usia remaja. Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, kelompok Asistensi Mengajar (AM) 59 Widya Arunika dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menginisiasi Program CAKRA (Cahaya Karakter Remaja) di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang yang kini telah berjalan. Program CAKRA lahir dari observasi mendalam terhadap dinamika kehidupan siswa SMP Laboratorium UM. Meskipun sekolah ini telah menerapkan rutinitas shalat Dhuha berjamaah secara konsisten, masih terdapat potensi besar untuk mengoptimalkan momen tersebut sebagai sarana pembentukan karakter. Fase remaja, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Pertama, merupakan periode kritis di mana peserta didik mengalami perkembangan pesat dalam hal identitas diri, kepercayaan diri, dan kemampuan komunikasi. Berdasarkan pengamatan kelompok Widya Arunika, banyak siswa yang memiliki potensi kepemimpinan dan pemahaman keislaman yang baik, namun terkendala oleh rasa malu dan kurangnya pengalaman berbicara di depan umum. Program CAKRA dirancang untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui pendekatan yang terintegrasi: menggabungkan pembiasaan ibadah dengan pelatihan public speaking Islami. Dengan tema "Menumbuhkan Karakter Islami dan Kepercayaan Diri Remaja melalui Ceramah Inspiratif Pra-Shalat Dhuha", program ini bertujuan menciptakan ekosistem pembelajaran keagamaan yang holistik dan berkelanjutan. Program CAKRA menerapkan sistem sederhana dengan perwakilan satu siswa dari setiap kelas VII, VIII, dan IX yang tampil secara bergiliran setiap minggu sebelum sholat Dhuha berjamaah di Masjid Baitul Ilmi SMP Laboratorium UM. Yang membedakan CAKRA dari kegiatan serupa adalah sistem pendampingan intensif oleh tim mahasiswa AM Widya Arunika. Setiap siswa menjalani pelatihan bertahap sebelum tampil, meliputi penentuan topik, pelatihan public speaking secara bertahap, serta pembimbingan konten ceramah. Pendekatan ini menjamin bahwa siswa tampil dengan persiapan matang dan percaya diri optimal, bukan dilepaskan begitu saja ke mimbar. Sejak berjalan, Program CAKRA telah menunjukkan transformasi nyata pada peserta. Perubahan karakter terlihat jelas dalam disiplin kehadiran pagi, tanggung jawab menyiapkan materi, dan peningkatan kepercayaan diri dalam interaksi sehari-hari. Program ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga wadah pembentukan karakter yang berkelanjutan. Keberhasilan CAKRA tidak lepas dari dukungan penuh Ibu Dra. Yayuk Prihatnawati, M.Pd. selaku Kepala SMP Laboratorium UM beserta jajaran dewan guru. Komitmen institusi tercermin dari penyediaan fasilitas optimal dan fleksibilitas jadwal pembelajaran. Tim pelaksana terdiri dari sembilan mahasiswa AM Widya Arunika dengan pembagian peran yang jelas. Setiap coach dipasangkan dengan satu siswa untuk pendampingan personal yang efektif, memastikan kualitas pelatihan dan komunikasi yang optimal dengan siswa dan pihak sekolah. Program CAKRA sejalan dengan arahan nasional pendidikan karakter yang ditekankan dalam Kurikulum Merdeka dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Dengan mengoptimalkan infrastruktur keagamaan yang sudah ada, CAKRA menawarkan solusi hemat biaya namun berdampak tinggi. Pendekatan bottom-up melalui keterlibatan siswa sebagai penceramah memperkuat paradigma pendidikan "belajar dari sesama" yang progresif. Sebagai penutup, Program CAKRA membuktikan bahwa transformasi karakter remaja dapat dicapai melalui pendekatan sederhana namun terstruktur. Setiap pagi di SMP Laboratorium UM, cahaya karakter remaja menyala terang sebelum fajar sholat Dhuha. Dengan pendampingan intensif dari kelompok Widya Arunika, satu siswa dari setiap kelas bergantian menjadi penceramah cilik yang menginspirasi ratusan teman sebayanya. Marilah kita dukung dan sebarkan inisiatif pendidikan karakter seperti CAKRA. Karena cahaya karakter yang dinyalakan hari ini akan menjadi penerang bangsa di masa depan.
FILA SUFATUL MUKARROMAH
Dua inisiatif pengabdian masyarakat melalui Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) telah berhasil diimplementasikan guna memberdayakan generasi muda melalui pendekatan yang inovatif dan partisipatif. Program pertama yang bertajuk "Sajadah Adhikara: Satu Langkah Sejuta Berkah" dilaksanakan selama kurun waktu 12 hari pada tahun 2026 di TPQ Griya Asumta. Inisiatif ini dirancang sebagai respons konkret terhadap berbagai kendala sistemik dalam pendidikan agama nonformal, di mana metode pembelajaran seringkali cenderung monoton dan berpusat pada hafalan. Keterbatasan media edukasi yang inovatif serta rendahnya sistem apresiasi yang terstruktur menyebabkan motivasi santri untuk hadir dan aktif menjadi berkurang secara konsisten. Untuk mengatasi tantangan tersebut, program "Sajadah Adhikara" mengintegrasikan tujuh kegiatan terstruktur yang menyasar penguatan literasi ibadah, kreativitas, dan karakter Islami. Pelaksanaannya memadukan berbagai strategi, mulai dari pendekatan multi-modalitas melalui pemutaran sinema religi dan bimbingan praktik wudhu serta shalat, hingga pengembangan kreativitas melalui pembuatan Kartu Ucapan Lebaran (KUL) dan pembatas Al-Qur'an dari stik es krim. Selain itu, program ini juga mengadopsi sistem gamifikasi edukatif berupa "Pohon Keaktifan" sebagai sistem penghargaan visual yang menciptakan iklim kompetisi positif. Secara keseluruhan, intervensi edukatif ini terbukti berdampak signifikan dalam meningkatkan kemandirian ibadah santri, menumbuhkan kebanggaan atas karya sendiri, sekaligus mendorong konsistensi partisipasi belajar mereka secara sehat dan menyenangkan. Sementara itu, inisiatif kedua yang bertajuk "Lentera Ramadhan: Langkah Terang Meraih Harapan" diselenggarakan bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadhan di Panti Asuhan Minhajul Abidin yang berlokasi di Janti, Jogoroto, Kabupaten Jombang. Program ini secara khusus difokuskan pada upaya mengatasi tantangan psikologis yang kerap membayangi anak-anak panti asuhan, seperti rendahnya kepercayaan diri akibat stigma sosial dan minimnya pendampingan yang berorientasi pada potensi. Ketiadaan ruang aman untuk berekspresi sering kali membuat anak-anak tersebut kesulitan dalam membangun narasi positif tentang masa depan mereka. Sebagai solusi, program ini menghadirkan sesi berbagi interaktif yang bertema "Step by Step: Merajut Mimpi Bareng Adhikara". Melalui fasilitas diskusi terbuka, intervensi ini diperkuat dengan mekanisme refleksi diri tertulis melalui pembuatan "Surat untuk Diri Sendiri". Dalam surat tersebut, peserta didorong untuk menuliskan kelebihan, kekurangan, cara mengatasi kekurangan, cita-cita masa depan, hingga janji personal, yang kemudian disimpan sendiri dalam amplop sebagai bentuk komitmen psikologis jangka panjang. Pendekatan partisipatif berbasis refleksi diri ini sukses mentransformasi peserta yang awalnya pasif menjadi jauh lebih berani tampil berekspresi, sekaligus membantu mereka merumuskan tujuan hidup yang konkret secara mandiri.
SYAHIDZA MAHILATUL AULIA
Fajar di Kota Malang selalu membawa embun yang menyejukkan, seolah menjadi pembuka lembaran baru penuh harapan. Di halaman MTsN 1 Malang, suara lantunan ayat suci Al-Qur'an bersahutan dengan derap langkah siswa yang berseragam rapi. Di antara kerumunan itu, ada dua sosok yang tak terpisahkan: AM, seorang pemikir tenang dengan mata yang selalu tajam menatap buku, dan KKM, sahabatnya yang energik, penuh ide, dan tak pernah kehabisan kata-kata penyemangat. Bagi AM, "KKM" adalah dua hal yang mendefinisikan masa remajanya di madrasah ini. Pertama, ia adalah Kriteria Ketuntasan Minimal, angka-angka dingin di atas kertas yang sering kali terasa seperti tembok tinggi yang mustahil didaki, terutama di mata pelajaran eksakta yang selalu menguji kesabarannya. Kedua, KKM adalah inisial sahabatnya sendiri, Kikan Kurniawan M., yang menjadi penopang semangatnya saat tembok itu terasa terlalu tinggi untuk dipanjat. Perjuangan mereka dimulai bukan di medan perang, melainkan di sudut perpustakaan MTsN 1 Malang yang hening, dan di bangku kelas selepas jam pelajaran usai. Saat banyak siswa lain telah pulang menikmati hangatnya wedang ronde khas Malang, AM dan KKM masih tertinggal. AM bergulat dengan rumus-rumus dan hafalan, keringat dingin kerap membasahi pelipisnya saat rasa frustrasi menyerang. "AM, ingat kenapa kita di sini," ucap KKM suatu sore, sambil menepuk bahu sahabatnya yang sedang menunduk lesu menatap nilai latihan yang belum memuaskan. "Kita bukan sekadar mengejar angka. Kita sedang melatih mujahadah (kesungguhan). Di MTsN ini, kita diajarkan bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil, dan Allah tidak mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubahnya sendiri." Kata-kata itu menjadi bahan bakar baru. Mereka menyusun strategi. KKM, dengan kemampuan organisasi dan komunikasi yang baik, membuatkan jadwal belajar terstruktur dan sering kali "memaksa" AM untuk beristirahat sejenak agar tidak burnout. Mereka belajar berdiskusi selepas shalat Dzuhur berjamaah di masjid sekolah, memanfaatkan waktu halaqah ilmiah untuk berdiskusi dengan guru-guru yang dengan sabar membimbing mereka. Tantangan terbesar datang saat pekan penilaian akhir semester. Tekanan terasa begitu nyata. Beban ekspektasi diri, keinginan membanggakan orang tua, dan kebanggaan terhadap almamater MTsN 1 Malang menjadi beban yang berat di pundak AM. Ada malam di mana AM ingin menyerah, merasa bahwa usahanya sia-sia dan target KKM akan tetap menjadi mimpi yang tak tergapai. Namun, KKM selalu ada. Ia datang ke rumah AM, membawa catatan rangkuman yang ia buat dengan tulisan tangannya yang khas, lengkap dengan stiker-stiker penyemangat. "Kita sudah berjuang bersama dari nol. Tidak ada alasan untuk berhenti di garis finis," tegas KKM. Hari penentuan tiba. Ruang ujian hening, hanya terdengar suara gesekan pena dan kertas. AM menarik napas dalam-dalam, mengingat setiap diskusi di perpustakaan, setiap nasihat guru, dan setiap dorongan semangat dari sahabatnya. Ia mengerjakan soal bukan dengan rasa takut, melainkan dengan ketenangan seorang pejuang yang telah memberikan segala yang ia miliki. Ketika hasil pengumuman ditempel di mading sekolah, kerumunan siswa segera memadati area tersebut. AM, dengan jantung berdebar, merangsek pelan. Matanya menelusuri deretan nama dan angka. Dan di sana, di samping namanya, terpampang angka yang bukan saja melewati batas Kriteria Ketuntasan Minimal, tetapi melampauinya dengan gemilang. KKM yang berdiri di sebelahnya langsung bersorak, memeluk erat sahabatnya. "Lihat, kan? Aku bilang juga apa! Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil!" Air mata haru menggenang di pelupuk mata AM. Ia menyadari bahwa perjuangan ini bukan hanya tentang menaklukkan angka di atas kertas. Ini adalah tentang kemenangan atas keraguan diri, tentang indahnya ukhuwah (persaudaraan) yang tulus, dan tentang bagaimana MTsN 1 Malang telah membentuknya menjadi pribadi yang tangguh, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara spiritual dan emosional. Perjuangan AM dan KKM di MTsN 1 Malang kemudian menjadi cerita kecil yang menginspirasi adik-adik kelasnya. Bahwa di balik setiap prestasi, ada keringat, air mata, dan sahabat yang tak pernah lelah berkata, "Ayo, kita bisa." Dan di sanalah, di bawah naungan ilmu dan iman, mereka tumbuh menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.
QONI LATHIFATUL HIDAYAH
Dua inisiatif pengabdian masyarakat melalui Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) telah berhasil diimplementasikan guna memberdayakan generasi muda melalui pendekatan yang inovatif dan partisipatif. Program pertama yang bertajuk "Sajadah Adhikara: Satu Langkah Sejuta Berkah" dilaksanakan selama kurun waktu 12 hari pada tahun 2026 di TPQ Griya Asumta. Inisiatif ini dirancang sebagai respons konkret terhadap berbagai kendala sistemik dalam pendidikan agama nonformal, di mana metode pembelajaran seringkali cenderung monoton dan berpusat pada hafalan. Keterbatasan media edukasi yang inovatif serta rendahnya sistem apresiasi yang terstruktur menyebabkan motivasi santri untuk hadir dan aktif menjadi berkurang secara konsisten. Untuk mengatasi tantangan tersebut, program "Sajadah Adhikara" mengintegrasikan tujuh kegiatan terstruktur yang menyasar penguatan literasi ibadah, kreativitas, dan karakter Islami. Pelaksanaannya memadukan berbagai strategi, mulai dari pendekatan multi-modalitas melalui pemutaran sinema religi dan bimbingan praktik wudhu serta shalat, hingga pengembangan kreativitas melalui pembuatan Kartu Ucapan Lebaran (KUL) dan pembatas Al-Qur'an dari stik es krim. Selain itu, program ini juga mengadopsi sistem gamifikasi edukatif berupa "Pohon Keaktifan" sebagai sistem penghargaan visual yang menciptakan iklim kompetisi positif. Secara keseluruhan, intervensi edukatif ini terbukti berdampak signifikan dalam meningkatkan kemandirian ibadah santri, menumbuhkan kebanggaan atas karya sendiri, sekaligus mendorong konsistensi partisipasi belajar mereka secara sehat dan menyenangkan. Sementara itu, inisiatif kedua yang bertajuk "Lentera Ramadhan: Langkah Terang Meraih Harapan" diselenggarakan bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadhan di Panti Asuhan Minhajul Abidin yang berlokasi di Janti, Jogoroto, Kabupaten Jombang. Program ini secara khusus difokuskan pada upaya mengatasi tantangan psikologis yang kerap membayangi anak-anak panti asuhan, seperti rendahnya kepercayaan diri akibat stigma sosial dan minimnya pendampingan yang berorientasi pada potensi. Ketiadaan ruang aman untuk berekspresi sering kali membuat anak-anak tersebut kesulitan dalam membangun narasi positif tentang masa depan mereka. Sebagai solusi, program ini menghadirkan sesi berbagi interaktif yang bertema "Step by Step: Merajut Mimpi Bareng Adhikara". Melalui fasilitas diskusi terbuka, intervensi ini diperkuat dengan mekanisme refleksi diri tertulis melalui pembuatan "Surat untuk Diri Sendiri". Dalam surat tersebut, peserta didorong untuk menuliskan kelebihan, kekurangan, cara mengatasi kekurangan, cita-cita masa depan, hingga janji personal, yang kemudian disimpan sendiri dalam amplop sebagai bentuk komitmen psikologis jangka panjang. Pendekatan partisipatif berbasis refleksi diri ini sukses mentransformasi peserta yang awalnya pasif menjadi jauh lebih berani tampil berekspresi, sekaligus membantu mereka merumuskan tujuan hidup yang konkret secara mandiri.
MUHAMMAD ARIEF ABHYASA
Dua inisiatif pengabdian masyarakat melalui Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) telah berhasil diimplementasikan guna memberdayakan generasi muda melalui pendekatan yang inovatif dan partisipatif. Program pertama yang bertajuk "Sajadah Adhikara: Satu Langkah Sejuta Berkah" dilaksanakan selama kurun waktu 12 hari pada tahun 2026 di TPQ Griya Asumta. Inisiatif ini dirancang sebagai respons konkret terhadap berbagai kendala sistemik dalam pendidikan agama nonformal, di mana metode pembelajaran seringkali cenderung monoton dan berpusat pada hafalan. Keterbatasan media edukasi yang inovatif serta rendahnya sistem apresiasi yang terstruktur menyebabkan motivasi santri untuk hadir dan aktif menjadi berkurang secara konsisten. Untuk mengatasi tantangan tersebut, program "Sajadah Adhikara" mengintegrasikan tujuh kegiatan terstruktur yang menyasar penguatan literasi ibadah, kreativitas, dan karakter Islami. Pelaksanaannya memadukan berbagai strategi, mulai dari pendekatan multi-modalitas melalui pemutaran sinema religi dan bimbingan praktik wudhu serta shalat, hingga pengembangan kreativitas melalui pembuatan Kartu Ucapan Lebaran (KUL) dan pembatas Al-Qur'an dari stik es krim. Selain itu, program ini juga mengadopsi sistem gamifikasi edukatif berupa "Pohon Keaktifan" sebagai sistem penghargaan visual yang menciptakan iklim kompetisi positif. Secara keseluruhan, intervensi edukatif ini terbukti berdampak signifikan dalam meningkatkan kemandirian ibadah santri, menumbuhkan kebanggaan atas karya sendiri, sekaligus mendorong konsistensi partisipasi belajar mereka secara sehat dan menyenangkan. Sementara itu, inisiatif kedua yang bertajuk "Lentera Ramadhan: Langkah Terang Meraih Harapan" diselenggarakan bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadhan di Panti Asuhan Minhajul Abidin yang berlokasi di Janti, Jogoroto, Kabupaten Jombang. Program ini secara khusus difokuskan pada upaya mengatasi tantangan psikologis yang kerap membayangi anak-anak panti asuhan, seperti rendahnya kepercayaan diri akibat stigma sosial dan minimnya pendampingan yang berorientasi pada potensi. Ketiadaan ruang aman untuk berekspresi sering kali membuat anak-anak tersebut kesulitan dalam membangun narasi positif tentang masa depan mereka. Sebagai solusi, program ini menghadirkan sesi berbagi interaktif yang bertema "Step by Step: Merajut Mimpi Bareng Adhikara". Melalui fasilitas diskusi terbuka, intervensi ini diperkuat dengan mekanisme refleksi diri tertulis melalui pembuatan "Surat untuk Diri Sendiri". Dalam surat tersebut, peserta didorong untuk menuliskan kelebihan, kekurangan, cara mengatasi kekurangan, cita-cita masa depan, hingga janji personal, yang kemudian disimpan sendiri dalam amplop sebagai bentuk komitmen psikologis jangka panjang. Pendekatan partisipatif berbasis refleksi diri ini sukses mentransformasi peserta yang awalnya pasif menjadi jauh lebih berani tampil berekspresi, sekaligus membantu mereka merumuskan tujuan hidup yang konkret secara mandiri.
AHMAD FATHUR ROZI
Ada yang unik di MTsN 1 Malang pekan ini. Halaman masjid yang biasanya dipakai utuk kegiatan keagamaan, mendadak berubah jadi panggung gembira. Spanduk bertuliskan "Pulang Kampung: Mengaji, Berbahasa, Berbudaya" terpampang besar. Di bawahnya, mikrofon, rebana, dan puluhan siswa berseragam rapi siap tampil.Inilah Pekan Pulang Kampung, program kolaborasi antara MTsN 1 Malang dengan Mahasiswa Asistensi Mengajar dari Akademi Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Konsepnya sederhana tapi ngena: mahasiswa UIN "pulang kampung" ke madrasah, membawa suasana pesantren kampus ke adik-adik MTs-nya. Dan menu utamanya hari ini: Lomba Ghina' Araby. Lomba nyanyi berbahasa Arab.Bahasa Arab Tidak Kaku, Tapi Merdu“Siapa bilang Bahasa Arab itu susah dan serem?” sapa [Nashfah Maslahatul Diniyah], salah satu mahasiswa AM UIN Malang, membuka acara. “Hari ini kita buktiin, Bahasa Arab itu bisa dinyanyiin, bisa dinikmati, dan bisa bikin hati adem.”Satu per satu grup tampil. Ada yang membawakan Thola’al Badru ‘Alaina dengan aransemen modern. Ada yang menyanyikan lagu Man Ana dengan vokal merdu sampai bikin merinding. Ada juga yang berani bikin lirik sendiri tentang semangat belajar di madrasah.Tujuannya jelas. Mahasiswa AM UIN Malang ingin menghapus stigma kalau Bahasa Arab cuma ada di kitab kuning dan nahwu-shorof. “Bahasa Arab itu bahasa surga, bahasa Al-Quran. Kalau cara ngenalinnya lewat seni, lewat ghina', anak-anak jadi cinta duluan sebelum paham,” ujar salah satu mahasiswa pendamping. Pulang Kampung, Pulang ke Jati Diri Kenapa namanya "Pulang Kampung"? Karena sejatinya, mahasiswa UIN Malang banyak yang alumnus madrasah dan pesantren. Kembali ke MTsN 1 ini adalah napak tilas. “Kami pulang bukan cuma bawa lomba,” kata salah satu mahasiswi. “Kami pulang bawa cerita, bawa pengalaman, bawa semangat bahwa anak madrasah bisa mendunia tanpa kehilangan jati diri.”Para siswa MTsN 1 pun antusias. “Seru banget, Kak. Ternyata Bahasa Arab bisa keren kayak gini. Nggak ngebosenin,” kata Zahra, siswi kelas 8, sambil memegang piala juara 2.Kepala MTsN 1 Kota Malang, [Drs. Nashrulloh, M.Pd.I], mengapresiasi penuh. “Kolaborasi ini yang kami mau. Madrasah tidak boleh menutup diri. Mahasiswa UIN Malang ini adalah kakak, sekaligus inspirasi. Mereka bukti bahwa Bahasa Arab, seni, dan prestasi akademik bisa jalan bareng.”Acara ditutup dengan penampilan kolaborasi: mahasiswa dan siswa menyanyikan Ya Badrotim bersama-sama. Suaranya mungkin ada yang fals. Tapi semangatnya: satu frekuensi. Frekuensi cinta Bahasa Arab, cinta madrasah, cinta pesantren.Pulang Kampung kali ini bukan soal mudik ke rumah. Tapi soal pulang ke akar. Pulang ke bahasa Al-Quran. Pulang ke identitas sebagai santri. Dan pulangnya, bawa oleh-oleh paling mahal: semangat untuk terus belajar.Karena sejatinya, dari madrasah inilah, generasi penjaga bahasa langit akan lahir.